
3 Juni 2321, pukul 08.05 WIB.
**
Di seluruh Indonesia....
Dimasa perang seperti saat ini, berita baik seperti barang langka. Hal yang diharapkan banyak orang, tidak selalu ada. Namun pencari berita baik tidak akan menyerah begitu saja, demi masyarakat yang menginginkan berita baik.
Seminggu sekali, tidak, bahkan sebulan sekali belum tentu ada berita baik untuk disebarkan. Tanpa kabar baik, masyarakat seakan sudah menyerah dan putus asa begitu saja. Namun prajurit TNI tidak akan menyerah, dan tetap akan melakukan perebutan wilayah yang dikuasai pasukan dunia lain meski hasil akhir tidak memuaskan.
Namun masyarakat yang mendengarkan, membaca dan melihat berita selalu banyak karena ingin tahu perkembangan perang ini.
Seperti berita yang disebarkan pada hari ini, namun kebanyakan berita merupakan kabar buruk dan tidak diharapkan seluruh warga negara Indonesia yang tinggal di pulau Jawa.
Untuk sementara warga negara Indonesia di luar pulau Jawa dapat merasa aman.
Berita yang disebarkan di seluruh media dan disebarkan seluruh Indonesia adalah berita yang mengejutkan banyak orang. Satu lagi, berita itu tidak akan diharapkan oleh seluruh orang karena isinya.
Ada banyak orang yang berkerumun di sekitar televisi publik untuk melihat berita yang dibacakan oleh pembawa berita dan disiarkan melalui TV nasional. TV nasional adalah satu-satunya saluran TV yang tersisa di Indonesia. Karena pemancar TV milik perusahaan TV swasta semuanya hancur dan tidak mungkin di kembalikan karena masalah dana.
Mari beralih ke pembawa berita yang merupakan seorang perempuan yang masih terlihat muda namun sebenarnya sudah berumur 35 tahun....
Bahkan pembawa berita itu sendiri berekspresi pucat dan sangat lemas saat membacakan berita. Dia membaca berita dengan tanpa ekspresi, tidak seperti membacakan berita tentang ekonomi dunia yang tidak tumbuh sejak perang yang ia bacakan sebelumnya.
Kerena berita itu adalah Gerbang yang sekarang telah berjarak kira-kira 50 km dari pesisir Utara pulau Jawa. Itu lebih dekat dari perkiraan sebelumnya yang diperkirakan sejauh 100 km pada hari ini.
Berita mengenai perkirakan jarak Gerbang yang meleset itu sudah terlanjur disebarkan pada hari sebelumnya, pada hari itu para warga masih bisa bernafas lega dan tidak terburu-buru untuk bersiap mengungsi.
Namun pada hari ini, seluruh orang merasa kecewa dengan Satuan TNI yang bertugas mengawasi pergerakan Gerbang.
Seluruh orang yang mendengar berita itu bergumam dengan orang lain yang mereka kenal dengan pembicaraan yang meragukan kinerja TNI seluruh angkatan.
Mereka juga membicarakan tentang pembentukan Tentara Pelajar yang mereka nilai tidak berguna sama sekali dan hanya membuang-buang nyawa generasi muda Indonesia.
Namun di Indonesia masih terlihat lebih wajar, karena pada usia 17-25 tahun semangat juang lebih tinggi dan saat ini generasi muda Indonesia merupakan pengisi setengah populasi Indonesia.
Mari bandingkan dengan negara lain, atau yang lebih dekat dengan Indonesia adalah negara Timor Leste. Anak usia 6-15 merupakan populasi terbesar negeri itu pada masa ini. Itulah penyebab pejuang kebanyakan negara itu adalah anak-anak.
Bahkan senjata yang mereka gunakan bukalah senapan atau semacamnya, namun senjata tradisional seperti parang dan sejenisnya. Itulah penyebab anak-anak sangat mudah terbunuh karena tidak dilengkapi dengan pelindung yang kuat.
Meski PBB sudah menghimbau Timor Leste agar tidak melibatkan anak-anak dalam perang, namun masih tidak diindahkan oleh petinggi militer negara itu.
Pasukan dunia lain mungkin saja tidak memiliki hukum perang internasional, dan dalam aksinya dengan bebasnya membunuh orang-orang. Tidak peduli tua-muda, pria-wanita, dan berbagai kalangan menjadi korban dari penyerangan pasukan dunia lain di Timor Leste.
Beberapa kali negara itu meminta bantuan kepada Indonesia, namun selalu menerima penolakan karena Indonesia saja sangat kerepotan untuk menghentikan pasukan dunia lain yang seakan tidak ada habisnya.
**
Di wilayah Indonesia yang tidak terjangkau oleh pemancar TV nasional, itulah waktunya pembawa berita yang secara sukarela menyiarkan berita dengan berbagai cara.
Ada yang menggunakan pengeras suara tempat ibadah, ada pula yang menyiarkan dengan berteriak di atas mobil yang melaju.
Para pembawa berita dengan cara ini tidak dibayar oleh pemerintah dengan uang, namun perlindungan mereka dijamin dan makanan yang cukup setiap hari.
Orang-orang yang melakukan pekerjaan ini ada di seluruh Indonesia, kebanyakan dari mereka adalah anak muda yang tidak bergabung dengan pasukan sukarela maupun Tentara Pelajar dan anak kecil. Kebanyakan dari mereka adalah yatim-piatu korban perang, dan melakukan ini agar tetap dapat melanjutkan hidup.
Alasan anak muda bergabung dengan pasukan sukarela dan Tentara Pelajar adalah menginginkan kebebasan dan mengulangi sejarah pada tahun 1945, serta menginginkan kehidupan yang baik dengan memanfaatkan fasilitas yang didapatkan dari bergabung dengan dua kesatuan itu.
**
Di kota bawah tanah Kota Karanganyar....
Nike dengan ekspresi malasnya mencoba untuk bangkit dari tempat tidur. Dia kemudian meraba-raba meja untuk mencari kacamatanya yang ia taruh disitu.
"Iya..., tunggu sebentar...," katanya sambil mengusap-usap matanya dan berjalan pelan menuju arah suara ketukan pintu kamarnya.
Fasilitas yang didapatkan Nike merupakan khusus untuk diluar militer, itu sebabnya ada banyak kamar dan ruangan di bangunan ini dibandingkan dengan asrama yang Nio huni.
Kamar-kamar di fasilitas ini juga lebih kecil dibandingkan dengan yang didapatkan oleh prajurit, namun masih terlihat nyaman.
Nike tidak sekamar dengan kakaknya, Surya. Itu karena kakaknya mendapatkan fasilitas sendiri karena merupakan seorang perwira pertama yang berpangkat Kapten.
Nike kemudian membuka pintu dengan pelan dan memperlihatkan seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Bukan Surya yang dia lihat setelah membuka pintu, namun Rika yang sudah menganggu tidurnya.
"Kenapa masih tidur?. Apa kau tidak ingat hari ini?" tanya Rika yang seketika membuat Nike segar kembali.
"Eh?, ah..., ya aku kelupaan...," jawab Nike sambil menggaruk kepalanya yang berambut pendek sebahu itu.
__ADS_1
"Cepat bersiap, Regunya Nio kayaknya bentar lagi mau berangkat."
"Ya..., aku ganti baju dulu."
Tugas Satuan Perlengkapan Tempur adalah menyiapkan peralatan tempur maupun perlengkapannya yang lain.
Seperti kendaraan angkut personel, kendaraan taktis serta persenjataan milik prajurit dan perlengkapannya.
Hari ini adalah awal bagi sebuah operasi yang akan dilakukan setelah misi yang dilakukan Regu Nio selesai.
Rika memasuki kamar Nike tanpa ijin penghuninya, karena dia memang sering melakukan ini saat mampir ke kamar nya Nike.
Kamarnya Nike memang tidak banyak barang yang mengisi ruangan ini, karena terbatasnya ruang jadi Nike harus sepintar mungkin mengaturnya.
Rika memang bukan orang yang tidak waspada, namun dia sering melakukan kecerobohan kecil. Seperti sekarang, dia tidak sengaja menyenggol sebuah benda yang diletakkan di atas meja kecil milik Nike.
Benda itu adalah sebuah buku diary milik Nike. Kertas pada buku itu tidak saling menyatu hingga menyebabkan seluruh kertasnya berserakan di lantai.
"Ada apa Rika...?" tanya Nike yang mengganti pakaian dibalik tirai yang membatasi ruang tidur dan ganti pakaian.
"Eh, tidak ada apa-apa kok...," jawab Rika sambil mengambil lagi kertas yang berceceran.
Sesekali Rika mengintip tulisan yang ada di kertas yang ia pungut. Isinya hanya berupa catatan keseharian sehari-hari dan kejadian yang terjadi hari itu. Namun masih ada beberapa kertas yang belum Rika intip isinya.
Namun ada sebuah kertas yang terlihat seperti dipotong dari koran dan sengaja disimpan oleh Nike, itu membuat Rika semakin penasaran. Potongan koran ada sebanyak 2 lembar yang belum diketahui isinya oleh Rika. Hanya tulisan yang terpotong dan berisi tidak jelas, namun bukan itu tujuan yang membuat Nike mengumpulkan potongan koran itu.
Rika kemudian mengambil kedua potongan koran itu dan melihat hal yang membuat Nike menyimpan benda itu.
Sambil menyeringai Rika berkata, "Oh..., jadi ini yang dia simpan."
terlihat foto Nio saat masih menjalani pelatihan menjadi pasukan khusus, dan kertas yang satunya lagi adalah Nio saat menghadiri upacara kenaikan pangkat. Dibawah foto berisi kata-kata yang memuat pencapaian Nio sehingga dia dapat naik pangkat di usia muda. Kebanyakan kata bersifat menyemangati pihak lain dan bertujuan membuat semangat orang yang membaca berita yang memuat Nio itu.
"Eh, eh...," Rika kebingungan saat benda yang dia pegang tiba-tiba direbut oleh pemiliknya.
Dengan wajah yang terlihat memerah dan alis yang menurun, menandakan jika Nike merasa kesal dan malu saat Rika melihat potongan koran miliknya itu. Nike juga segera merebut buku diary miliknya yang masih tergeletak di lantai dengan kertas yang masih berserakan juga. Rika terlalu fokus saat melihat potongan koran itu sehingga belum menyelesaikan merapikan buku millik Nike yang masih berantakan.
"Keluar...!" Teriak Nike kepada Rika dengan teriakan yang sama sekali tidak seperti teriakan.
Karena saat berbicara saja Nike terdengar sangat lembut dan pelan, jadi mungkin itu membuatnya tidak dapat berteriak dengan benar.
"Iya, iya. Maaf, aku sudah melihat beberapa catatan mu" ucap Rika dengan nada memohon yang sungguh-sungguh.
Namun Nike terlihat tidak menghiraukan perkataan Rika yang memang sudah terlihat menyesal itu. Namun bukan berarti Rika tidak mengulangi perbuatanya yang tadi.
Tanpa berkata apapun, Nike keluar dari kamarnya dan berjalan kearah tempat kerjanya. Rika yang ditinggal, terpaksa mengunci ruangan yang dihuni Nike itu.
**
51 orang anggota Regu yang akan melaksanakan misi telah berbaris di dekat pintu keluar kota bawah tanah. Mereka masih menunggu peralatan dan perlengkapan yang masih disiapkan dan menyelesaikan perbaikannya. Komandan Regu Satuan Topografi ini adalah Nio dengan wakil Komandan Sima.
Prajurit yang berpangkat tinggi dapat mengatur sebuah Regu atau Kompi. Jika dalam sebuah pertempuran si komandan gugur, dia akan digantikan oleh bawahan yang berpangkat lebih tinggi dari lainnya dan berlaku seterusnya.
Para anggota Regu terlihat masih menyelesaikan pemakaian pakaian tempur lengkap mereka. Karena misi ini termasuk kategori 'berbahaya', jadi Nio ingin anggotanya yang mengikuti misi ini menggunakan perlindungan yang kuat.
"Kenapa mereka berdua?" gumam Nio saat melihat Rika yang memohon sesuatu kepada Nike yang juga terlihat masih kesal.
Nio kemudian mendekati mereka berdua karena penasaran dengan yang terjadi.
"Hei, sedang apa kalian?. Kami sebentar lagi mau berangkat loh, dan perlengkapannya masih belum selesai disiapkan," ucap Nio yang membuat Nike seperti seseorang yang baru teringat sesuatu yang sangat penting.
"Ma- maaf, aku akan segera bekerja," kata Nike sambil berlari menuju tempat kerjanya yang sudah banyak yang menunggunya.
Nio melirik kearah Rika yang juga sama-sama kebingungan seperti dia.
"Kenapa dia. Apa kau melakukan sesuatu padanya?" tanya Nio terhadap Rika.
Sambil senyum masam Rika menjawab, "Tidak, hanya saja mungkin kau akan terkejut saat aku menjawabnya."
Sambil senyum menggoda, Rika berlari menuju tempat bekerjanya yang sudah ada Nike di sana.
Sedangkan Nio yang masih penasaran hanya bisa kembali ke Regunya sambil menahan hasrat itu.
Didalam hatinya Nio berkata, "Penasaran yang berlebihan juga tidak baik."
Menurut dari perkataan Nio itu, ada ungkapan lain yang semacam.
Rasa penasaran yang berlebihan tidak baik untuk keselamatan dirimu dan sangat membahayakan, seperti itu ungkapannya.
**
__ADS_1
"Nio, tunggu...!" kata seseorang dengan suara yang lirih namun nada perintahnya yang jelas.
Itu adalah Tania yang berlari kecil sambil menenteng senapan runduk nya di punggungnya.
"Mau kemana kau bawa senapan runduk segala?" tanya Nio yang sedang mengatur barisan yang hampir siap untuk diberangkatkan.
"Aku diperintahkan Kapten Herlina untuk membantumu," ucap Tania dengan senyum kecilnya yang cukup memperlihatkan rasa girangnya.
"Hah...!?"
Sesaat kemudian Herlina tiba bersama Surya untuk melepas keberangkatan Satuan Topografi yang dipimpin Nio.
"Nggak apa-apa kan? Lagipula di Regu mu cuma ada dua sniper," ucap Herlina dengan ringannya tanpa menghiraukan ekspresi kesal Nio yang cukup membuat satu Regu bergidik.
"Ya, nggak apa-apa sih," jawab Nio.
Kemudian dengan tegasnya Nio memerintahkan Tania untuk bergabung dengan barisan. Suara keras dari Nio itu cukup untuk membuat Tania dan Herlina terkejut.
Nio memang jarang terlihat tegas terhadap rekan-rekannya yang berpangkat lebih rendah, tapi jika harus tegas dia akan terlihat seperti sekarang.
Anggota Regu yang bertugas mengemudikan kendaraan sudah tiba dan segera bergabung dengan barisan sebelum kena marah dari Nio. Prajurit yang ingin mengemudikan kendaraan militer dengan jenis tertentu akan mendapatkan pelatihan. Setelah masa pelatihan itu selesai, mereka akan mendapatkan brevet tanda mahir mengemudi ranpur (kendaraan tempur).
Nio juga telah mendapatkan satu brevet sejenis karena sempat mengikuti pelatihan mengemudikan kendaraan angkut personel.
Sebelum berangkat menjalankan misi, Nio memimpin doa para prajurit. Prajurit yang tidak menjalani misi menyaksikan itu dengan tenang agar tidak mengganggu.
Seluruh prajurit berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing dengan khidmat.
"Selesai!. Mari kita jalani misi ini dengan cepat, tenang dan berani...!" ucap Nio dengan tegasnya.
Dengan serentak seluruh anggotanya menjawab, "Siap...!"
Setelah itu, seluruh anggota Regu menaiki kendaraan angkut yang juga sudah berisi persediaan logistik untuk memperlancar misi ini.
Ransum, amunisi, dan senjata merupakan bagian dari logistik yang dibawa. Ransum yang dibawa memang terbatas, karena prajurit dapat mencari bahan makanan di daerah pelaksanaan misi mereka. Apalagi di Regu itu juga ada Nio dan Sima, serta anggota lain yang sempat mengikuti pelatihan menjadi pasukan khusus. Mempelajari bahan makanan yang dapat dimakan dan tidak adalah hal yang mudah bagi mereka.
Nio duduk di mobil yang bagian dalamnya ada banyak barang elektronik seperti monitor dan pengendali drone berkamera dan drone serbu.
Menggunakan alat komunikasi yang dia bawa Nio berkata, "Berangkat...!"
Alat komunikasi adalah alat yang wajib dibawa oleh prajurit. Jika alat komunikasi yang prajurit bawa rusak, mereka dapat berkomunikasi dengan mengirimkan sandi yang telah dipelajari. Sandi tersebut dapat berupa gerakan tubuh, dan memanfaatkan alat yang disediakan alam.
Seluruh kendaraan melaju dengan kecepatan sedang dan melewati gerbang keluar kota bawah tanah. Prajurit yang menjaga gerbang masuk memberi hormat pada kendaraan yang melaju hingga kendaraan terakhir. Yang mereka beri hormat sebenarnya hanya Nio seorang.
**
Ilustrasi peralatan dan perlengkapan yang dibawa:
Drone serbu/serang.
drone berkamera.
Kendaraan angkut personel dan kendaraan taktis.
Tameng, berfungsi sebagai penahan serangan musuh yang berupa Hujaman anak panah dan serangan lainnya.
Persenjataan.
Peluncur roket.
Panah otomatis.
__ADS_1
pedang.