Prajurit SMA

Prajurit SMA
Mengambil kesempatan


__ADS_3

Saat ini jam 9 malam, namun suasana di Markas Besar Tentara Pelajar masih sangat ramai dengan para tamu undangan dan prajurit.


Seharusnya acara sudah selesai setelah Suroso mengatakan hal-hal mengenai perjuangan Pasukan Ekspedisi di dunia lain. Namun, sebagian besar hadirin masih berada di tempat ini, menikmati hidangan yang disediakan, atau sekedar berkumpul untuk membahas hal-hal tertentu. Sehingga, ada beberapa tamu dan prajurit yang membentuk grup dan melakukan pembahasan hal-hal tertentu, terutama menceritakan suasana dunia lain.


Sejauh ini, belum ada lagi laki-laki yang mencoba mendekati kakaknya dan Lisa setelah aksinya sebelumnya. Serta, gadis-gadis dunia lain duduk mengelilingi Nio, mereka terlihat tidak memperhatikan jika ada beberapa pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan heran.


Sebagian tamu atau staf TNI masih ingin melakukan pembicaraan mengenai beberapa hal dengan Sigiz dan Sheyn, yang berhubungan dengan kelanjutan rencana pengiriman Pasukan Perdamaian. Tapi, mereka memilih untuk melakukan pembicaraan itu di tempat ini lagi pada pertemuan berikutnya, karena dua hari lagi akan ada rapat bersama Presiden mengenai hal tersebut, sehingga pembicaraan bisa lebih rahasia.


Sukarelawan telah meninggalkan tempat ini, dan negara telah menyediakan bagi mereka hotel atau penginapan sebagai tempat tinggal mereka selama berada di Indonesia. Tapi, demi keamanan orang-orang dunia lain, seluruh hotel dan penginapan harus tetap berada di dalam wilayah Karanganyar.


Pasukan gabungan TNI-Polri dengan jumlah 2.200 personel disebar untuk menjaga wilayah Karanganyar dari segala hal yang mengancam para tamu dari dunia lain. Lalu, ratusan prajurit khusus TNI ditugaskan untuk menjaga seluruh tempat yang digunakan para tamu dari dunia lain. Selain itu, pasukan anti mata-mata disebar untuk mencegah usaha sabotase dari negara lain. Hal itu dilakukan demi keamanan dan kenyamanan para tamu dari dunia lain selama berada di Indonesia hingga kembali ke dunia lain.


Sementara itu, meski telah diperintahkan oleh ratu mereka, perwakilan pasukan Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo tetap berada di Markas Besar Tentara Pelajar, dan berjaga di sekitar tempat ini dengan pakaian tempur lengkap.


Para wartawan yang tertarik dengan perwakilan pasukan Arevelk dan Yekirnovo mencoba mewawancarai beberapa dari mereka, dengan bantuan beberapa penerjemah yang disediakan negara untuk pertemuan ini. Beberapa foto prajurit Arevelk dan Yekirnovo yang sedang menunggang kuda dan membawa tombak panjang mereka adalah hal yang menakjubkan, dan akan menjadi arsip paling berharga dan tidak akan disebar ke khalayak umum.


Memang, sebelumnya beberapa prajurit khusus yang berjaga di tempat ini tidak mengijinkan para wartawan untuk mengambil foto yang berhubungan dengan tamu dari dunia lain, itu termasuk prajurit perwakilan Arevelk dan Yekirnovo. Namun, mereka (prajurit Arevelk dan Yekirnovo) sendiri tidak keberatan dengan permintaan para wartawan yang ingin mengambil foto mereka, sekaligus merasa penasaran dengan alat yang bisa mengabadikan sebuah momen dengan sangat mudah.


(olog note: wajar juga sih, karena untuk mengabadikan sebuah momen, dunia lain sering menggunakan jasa pelukis, namun itu membutuhkan biaya mahal dan hanya bangsawan saja yang bisa melakukan hal semacam ‘berfoto’)


Beberapa prajurit khusus yang sebelumnya melarang para wartawan untuk mengambil foto prajurit Arevelk dan Yekirnovo justru meminta agar bisa berfoto bersama mereka. Mereka meminta tolong teman atau bantuan wartawan untuk memotret diri mereka bersama prajurit dunia lain tersebut.


Pemandangan prajurit TNI yang berfoto bersama prajurit Arevelk dan Yekirnovo terlihat menakjubkan. Prajurit perwakilan kedua negara dunia lain tersebut sama sekali tidak ragu untuk mendekati prajurit Indonesia, berbeda ketika pertama kali melihat TNI di dunia lain ketika mengunjungi negara mereka.


Hal pertama yang mereka pikirkan tentang pasukan yang bernama TNI adalah ‘sangat kuat’ dan ‘sangat kuat’. Beberapa dari mereka melihat sendiri pertarungan prajurit negara ini ketika berhadapan dengan musuh meski hanya dengan tangan kosong. Lalu, mereka juga mendengar rumor mengenai orang yang diramalkan adalah prajurit yang sangat kuat. Meski mereka belum melihat sendiri kebenaran itu karena belum jelas siapa yang menjadi orang yang diramalkan, tapi hal itu sudah jelas karena orang yang diramalkan pasti adalah seseorang yang sangat kuat.


Tujuan selanjutnya prajurit kedua negara dunia lain tersebut dengan senang hati berfoto bersama prajurit TNI adalah ingin memperlihatkan jika mereka tak kalah gagah dengan para prajurit negara ini. Menurut mereka, meski prajurit negara ini hanya mengenakan pakaian lapangan tanpa pelindung logam, tapi hal tersebut sama sekali tidak memperlihatkan jika prajurit Indonesia lemah.


“Aku penasaran, kenapa mereka bisa bertarung tanpa mengenakan zirah seperti kita?”


“Entahlah, tapi tanpa zirah logam seperti yang kita kenakan, mereka sepertinya tidak bisa dilukai dengan mudah.”


Zirah logam adalah perlengkapan standar bagi pasukan kavaleri, selain tombak panjang dan pedang baja. Selain prajurit, kuda yang menjadi tunggangan pasukan kavaleri terkadang juga dilapisi dengan pelindung logam pada bagian-bagian tertentu, misalnya kepala dan perut.


Semakin kuat zirah logam yang dikenakan dan semakin bagus kemampuan bertempur prajurit pasukan kavaleri, bisa dipastikan negara yang memiliki pasukan dengan syarat-syarat tersebut memiliki kekuatan militer yang sangat kuat. Ditambah jika pasukan kavaleri sebuah negara memiliki jumlah besar, itu adalah kekuatan yang sempurna. Karena pasukan kavaleri memiliki tugas yang cukup penting dalam pertempuran, karena mereka akan bertugas mendobrak pertahanan musuh dan melakukan serangan kejutan untuk membuka jalan bagi pasukan infanteri, dan pasukan kavaleri memiliki mobilitas yang unggul.


Sementara itu, prajurit TNI yang berfoto dengan prajurit perwakilan Arevelk dan Yekirnovo juga memiliki pertanyaan, seperti:


“Apa zirah logam yang mereka kenakan tidak berat?”


“Apa mereka selalu mengenakan zirah logam? Sepertinya itu sangat berat?”


“Aku penasaran rasanya mengenakan zirah logam seperti itu dan memegang tombak panjang itu…”


“Sepertinya zirah logam yang menutupi hampir seluruh tubuh itu menghambat pergerakan saat bertarung…”


Setelah berfoto, prajurit TNI berjabat tangan dengan prajurit Arevelk dan Yekirnovo yang mereka ajak befoto bersama. Sebagian prajurit perwakilan kedua negara tersebut menganggap jika jabat tangan tersebut merupakan simbol persahabatan dan hubungan yang erat. Padahal itu hanyalah simbol keakraban dengan orang baru, dan pemilihan jabat tangan adalah sebagai ganti ucapan ‘terimakasih sudah berfoto dengan kami’, karena beberapa prajurit TNI belum terlalu mempelajari bahasa dunia lain.


Inilah hasil dari pertempuran besar sebelumnya, terlihat prajurit TNI dan prajurit perwakilan dari dua negara tersebut menciptakan suasana yang nampak bersahabat meski masih ada banyak masalah. Dan masalah terbesar pasukan kedua dunia adalah bahasa.


Itu sudah jelas, karena pendidikan bahasa dunia lain dikalangan TNI hanya dikhususkan bagi prajurit yang tergabung dalam pasukan yang akan dikirimkan ke dunia lain. Itu sebabnya, sebagian prajurit Indonesia sama sekali tidak mengerti bahasa dunia lain.


(olog note: dunia lain di cerita ini hanya menggunakan satu bahasa yang digunakan secara universal)


Senjata utama untuk membangun sebuah hubungan adalah menjalin pertemanan, seperti yang dilakukan prajurit perwakilan kedua negara itu bersama prajurit Indonesia. Mereka juga melakukan hal ini setelah mengetahui rencana negara masing-masing yang akan mempererat hubungan untuk suatu tujuan besar.


Meski terkendala bahasa, suara tawa yang dihasilkan dari prajurit kedua dunia membuat suasana di luar Markas Besar Tentara Pelajar tak kalah ramai dengan suasana di dalam gedung.


**


Sebagian hadirin telah meninggalkan tempat ini untuk pulang atau beristirahat di hotel yang telah disediakan khusus untuk tamu undangan dan prajurit.

__ADS_1


Sementara itu, Nio harus menjalankan dua misi setelah acara selesai, yaitu menemui keluarga dua orang prajurit yang gugur. Orang pertama yang akan menjadi tujuan Nio adalah teman sekaligus adik dari Surya. Sementara keluarga Sucipto, mereka masih berbicara bersama Presiden di salah satu tempat bagi tamu.


Sementara itu, gadis-gadis dunia lain telah menuju ke penginapan, lalu Arunika dan Lisa menuju tempat tinggal mereka.


Arunika dan Lisa memutuskan untuk menyewa sebuah kamar kost yang dihuni mereka berdua. Untuk masalah dana, Nio ‘memaksa’ mereka berdua untuk menggunakan uangnya untuk membayar biaya hidup harian ketika pemuda itu sedang bertugas. Nio melakukan hal itu karena dia tak tahu berapa banyak jatah cuti yang didapatkan. Sementara Lisa dan Arunika sama-sama telah mendapatkan pekerjaan sambilan sebagai staf sebuah rumah pengasuhan anak-anak.


Selain itu, Nio tidak membatasi mereka berdua dalam menggunakan uangnya. Dia tidak peduli jika mereka berdua mengeluarkan uang untuk hal-hal tida berguna. Lagipula, Nio yakin jika seluruh uang yang ada di tabungannya cukup untuk membeli beberapa rumah kontainer.


Karena itu, Arunika dan Lisa sama-sama takut jika harus menggunakan uang Nio hanya untuk pengeluaran sehari-hari selama pemuda itu bertugas, dan memilih menggunakan uang yang mereka hasilkan sendiri. Memang, pada awalnya mereka berdua terkejut ketika melihat nominal uang dalam tabungan Nio.


Nio merasa dia harus membayar apa yang pernah Arunika lakukan sejak kematian kedua orang tua mereka, dan membayar semua bantuan Lisa untuknya dan kakaknya. Nio merasa melindungi mereka berdua masih tidak cukup untuk membayar apa yang pernah dia terima dari mereka. Jika perlu, Nio berencana akan membeli rumah agar mereka berdua tidak lagi memikirkan masalah membayar kost, dan bisa meninggalkan mereka berdua untuk bertugas dengan tenang.


Setelah memeriksa kantung jasnya untuk meyakinkan diri jika dirinya tidak melupakan surat yang ditulis Surya, Nio berjalan untuk mencari Nike. Dia yakin jika gadis itu masih berada di tempat ini, dan mulai berkeliling tempat ini hingga akhirnya dia menemukan gadis berkacamata itu.


Nio melihat Nike berdiri di salah satu sudut ruangan dengan wajah memerah dengan daerah sekitar mata yang lebih mereka karena terlalu banyak menangis. Gadis itu membawa foto kakaknya, dan membawa Bintang Kartika Eka Paksi dan tanda pangkat Mayor yang Surya terima atas segala bentuk pengabdiannya selama menjadi prajurit. Sebagai satu-satunya keluarga yang dimiliki Surya, Nike diijinkan untuk menghadiri upacara ini, sekaligus sebagai penerima penghargaan yang kakaknya terima.


Nio tidak langsung mendekati gadis itu, dan memilih duduk sambil memperhatikan beberapa orang yang mendekati Nike.


Sesekali Nike mendapatkan ungkapan bela sungkawa dari tamu undangan atau dari sesama anggota keluarga prajurit yang gugur. Nio tidak tahu apakah hal itu akan membuat hati Nike membaik atau sebaliknya, tapi dia melihat Nike menjawab ungkapan orang-orang untuknya dengan senyum sedih.


Nio berpikir dirinya merasakan apa yang dirasakan Nike ketika kehilangan Surya, tapi dia merasa apa yang dirasakan Nike jauh lebih menyedihkan. Nio sendiri tidak bisa membayangkan jika dia berada di posisi Nike.


Nio berjalan mendekati Nike setelah waktunya pas, dan tidak ada lagi orang-orang yang akan mendekati Nike. Nio merasa ragu jika surat yang ditulis Surya akan diterima oleh gadis berkacamata itu, kemungkinan buruknya Nio akan menerima perkataan buruk dari Nike.


Tapi itu hanyalah pemikiran Nio saja, dan terlambat bagi Nio jika dia harus memikirkan itu sekarang. Dia telah berdiri di depan Nike, dan dia melihat dengan jelas kesedihan yang Nike rasakan. Seakan-akan dia juga akan ikut menangis, Nio menekan perasaan tersebut dan memberanikan diri untuk berbicara.


“Nio… apa perjuangan kalian sesulit itu? Apa musuh sekuat yang kupikirkan?”


Nio diam setelah tidak menyangka jika yang akan berbicara terlebih dulu adalah Nike, dan dirinya terkejut setelah menerima pertanyaan seperti itu.


“Lakukan ini Nio…” Nio menyemangati dirinya sendiri.


Eksperesi Nio menggelap saat melihat senyum Nike yang sama sekali tidak menyembunyikan rasa sedih luar biasanya. Apa yang harus kulakukan, apa dia akan menerima realita? Otak Nio dipenuhi oleh pikirannya yang saling berdebat tentang langkah yang tepat untuk berbicara dengan Nike.


“Nike maaf, kakak-… salah… maksudku Mayor Surya memerintahkan ku untuk memberikan ini untukmu.”


Akhirnya Nio mengatakannya, dan mengmbil surat dari kantung jas dan memberikannya kepada Nike. Karena tubuh pemuda itu jauh lebih tinggi darinya yang setinggi 155 centimeter, kepala gadis itu harus mendongak ke atas untuk melihat wajah Nio yang terlihat gugup. Itu memang tidak salah, karena Nio sekuat tenaga mengumpulkan keberanian untuk memberikan surat ini untuk Nike.


“Aku akan membacanya.”


Nio beralih memegangi foto Surya yang mengenakan seragam lapangan, dengan lengan kiri seragam, tepatnya dibawah lambang bendera merah putih mengenakan ikat lengan berlambang Tentara Pelajar. Nio memandang 2 detik wajah Surya dalam foto, dan berpikir jika pemuda itu memang telah siap untuk memerangi musuh.


“Ada apa?”


Nio mundur beberapa langkah setelah mendengar suara tawa kecil dari Nike, dan itu membuatnya merinding.


Tapi, senyuman yang dipasang Nike bertahan cukup lama, sehingga membuat Nio merasa jika suasana hati Nike mulai membaik.


Nio semakin mengerutkan kening ketika Nike kembali tertawa kecil setelah melanjutkan membaca surat dari kakaknya. Dengan kata lain, mungkin Surya berpikir jika ada akhir menyedihkan dari perjuangannya, dan memilih menulis surat ini dengan kalimat yang humoris.


“Eh…?”


Wajah Nio penuh dengan tanda tanya setelah tiba-tiba Nike terlihat terkejut, dan sedikit demi sedikit pipinya merona.


“Ini… bacalah…”


Nike menyerahkan kembali suratnya kepada Nio, dan pemuda itu menerimanya dengan wajah kebingungan karena Nike terlihat gugup dengan Nio. Padahal dia baru saja selesai membaca surat terakhir dari kakaknya, namun wajah gugup Nike terlalu jelas dan membuat Nio semakin penasara dengan isi surat.


“Nio… Nike adalah orang yang pemalu. Jika aku mati, dia pasti akan kebingungan, dan kemungkinan buruk dia akan kehilangan arah dalam hidupnya…”


Nio membaca surat dengan ekspresi kecut ketika Surya menulis sendiri ramalan kematiannya. Nio menyalahkan Surya, “Seharusnya dia tidak menulis ini jika dia berpikir akan gugur setelah membantukami…”

__ADS_1


“… Hanya kau satu-satunya orang yang bisa kupercaya, dan aku yakin kau tidak akan menolak Nike. Nio, apa kau mau menjaga adikku, paling tidak sampai dia menemukan kebahagiaanya. Ini adalah perintahku sebagai prajurit yang berpangkat lebih tinggi dari mu.”


**


Sebuah mobil melaju di jalan sepi Area Terlarang, hingga keluar wilayah tersebut dengan menjaga kecepatannya. Di dalamnya, ada seorang pengemudi laki-laki dan seorang penumpang perempuan. Keduanya hanya saling mendiamkan diri sejak mobil melaju, dan suasana terasa sangat canggung.


Mobil hanya melaju dalam kecepatan 60 kilometer per jam, dan ada beberapa sepeda motor dan mobil-mobil lain yang mendahuli. Jalan provinisi yang dilalui mobil ini sedikit ramai oleh pegawai yang baru pulang dari kerja lembur, atau remaja baru pulang nongkrong.


Penerangan cukup bagus, sehingga menyebabkan tingkat kecelakaan di jalur ini sangat kecil ketika malam hari. Sekelompok penduduk yang melakukan ronda malam, warung dan angkringan pinggir jalan, dan sekelompok remaja yang masih nongkrong adalah pemandangan malam khas wilayah ini. Setidaknya, hal itu disertai dengan tingkat kejahatan yang rendah, kecuali maling ayam dan ternak lainnya.


Siaran radio terdengar di dalam mobil dengan volume sedang, dan memecah kecanggungan antara Nio dan Nike sejak tadi. Wajah Nio nampak sangat fokus dengan jalanan, tapi ekspresi yang dia tunjukkan memperlihatkan ketidak percayaannya dengan surat yang dia baca tadi. Sementara Nike, gadis ini hanya berharap jika surat yang ditulis kakaknya tidak termasuk dosa, dan berharap jika Nio tidak menanggap jika isi surat tersebut dengan serius. Wajah gadis berkacamata dan berambut pendek tersebut masih memerah, dan hanya bisa memandang keluar jendela di sampingnya tanpa menoleh sediktipun ke arah Nio.


Mereka berdua sedikit lagi tiba di rumah Nike, yang merupakan pemberian Surya. Nio sesekali menguap panjang dan menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan tangan kirinya. Area sekitar mata yang masih menghitam hampir sama warnanya dengan rambut hitamnya. Menurut Nike, mata Nio terlihat tajam dari kebanyakan remaja lainnya. Nike tersipu, menyadari jika dirinya mencuri sedikit lirikan dan Nio menyadarinya. Nio kembali mengarahkan pandangan ke depan menyadari pandangan mata yang anggun dari Nike.


Mereka berdua kembali mendiamkan satu sama lain, hingga mobil berhenti ke tempat tujuan.


Rumah yang dibeli Surya dengan uang tabungan ditambah gaji yang dia kumpulkan terlihat gelap, dan hanya lampu jalanan saja yang menerangi teras rumah tersebut. Nio berjalan di belakang Nike menuju pintu depan rumah gadis itu.


“Ka-kau boleh duduk…” setelah itu, Nike berjalan ke arah kamar.


“Terimakasih.”


Ruang tamu tidak terlalu besar, kira-kira seluas 2 meter. Dinding dihiasi beberapa foto Nike dan Surya ketika masih berada di kota bawah tanah, dan mereka berdua nampak bahagia di foto tersebut. Lampu yang menyala bersinar tidak terlalu terang, dan terkesan remang-remang. Lalu, ada pajangan senapan serbu palsu yang bisa dibeli di toko online.


Nio melepas jasnya, dan meletakkan bokongnya di sofa yang nampak sangat empuk. Dia meletakkan jasnya di pundank tanpa melipatnya terlebih dulu, dan menunggu Nike kembali. Sesekali Nio memeriksa ponselnya, dan hanya menerima notifikasi pesan dari kakak dan beberapa bawahannya di Regu penjelajah 1.


“Maaf, hanya ini yang ka- maksudku, hanya ini yang aku punya.”


Nio yakin jika Nike sebelumnya ingin mengatakan kata ‘kami’, tapi dia mencoba tidak terlalu berpikir.


“Tidak usah repot-repot… tapi terimakasih.”


Nio menerima sebuah cangkir yang berisi teh manis panas, lalu Nike duduk di kursi depan Nio sambil meletakkan sebuah toples yang berisi biskuit kering yang bisa dibeli di warung-warung terdekat.


“Nio, apa berjuang di medan perang dunia lain sangat berat?”


Nio terkejut jika Nike akan membuka topik tersebut secepan ini. Dia lalu meletakkan cangkir setelah menyeruput sedikit isinya.


“Kau lihat sendiri kan? Kami bisa pulang ke Indonesia, berkat perjuangan kami, dan berakhir dengan gugurnya banyak teman kami. Itu menandakan jika dunia lain yang terhubung dengan kita tidak seperti di novel yang memperlihatkan dunia fantasi yang damai. Di dunia lain, ada banyak hal yang belum terungkap.”


“Apalagi dengan adanya pahlawan yang memiliki kekuatan tidak masuk akal, mereka bisa saja menghancurkan Pasukan Ekspedisi jika tidak ada pasukan bantuan.”


“Pahlawan? Seperti apa mereka?”


“Tunggu dulu, apa kau akan percaya dengan semua yang kukatakan? Dunia lain ada sihir seperti di dunia fantasi di novel-novel.”


Nike mengangguk dengan wajah yakin, dia cukup penasaran dengan dunia lain yang terhubung dengan Indonesia. Sementara itu, Nio mengira kalau Nike menganggap perkataannya tadi mengambil referensi dari novel-novel fantasi yang banyak terjual di pasaran.


“Yah… katanya para pahlawan adalah manusia yang punya kekuatan besar. Mereka adalah penyebab gugurnya banyak prajurit Pasukan Ekspedisi, dan membuat kami hampir putus asa.”


Nike bisa membayangkan jika perjuangan Pasukan Ekspedisi ketika berhadapan dengan musuh yang berkekuatan sangat besar. Dia bisa melihat akibat berjuang di dunia lain melalui mata kanan Nio yang sudah tidak ada dan tangan kanannya yang telah diganti dengan tangan bionik. Nike menyimpulkan jika dunia lain benar-benar berbahaya, dan tidak seperti sedang berjuang dengan dunia yang tingkat peradabannya ribuan tahun.


Dunia lain yang terhubung dengan dunia ini adalah dunia yang sangat berbahaya, dan berjuang di sana tidak akan mudah.


“Mungkin kakakku terbunuh oleh pasukan sialan itu. Mereka lebih rendah dari apapun.”


“Yah… jujur saja, aku merasa sangat beruntung masih hidup sekarang. Aku tidak tahu cara membayar perjuangan kakakmu.”


Setelah mendengar perkataan Nio, gadis tersebut seperti telah menemukan sebuah kesempatan. Rika pernah mengatakan padanya jika dia harus berani mengambil semua kesempatan di depan mata.


Kesempatan Nike adalah pesan terakhir kakaknya yang menyatakan jika Nio adalah orang yang sangat dipercayai oleh kakaknya. Dan dari yang Nike tahu, prajurit dengan tingkat Letnan seperti Nio tidak bisa menolak perintah dari prajurit tingkat Mayor seperti kakaknya.

__ADS_1


“Kamu… kamu bisa membayar perjuangan kakaku dengan menjagaku…!”


Nio menanggapi hal itu sambil tersenyum dan berkata di dalam hati, “Anjir, nih cewek pinter banget manfaatin kesempatan…”


__ADS_2