
Tidak memiliki energi untuk menahan rasa kesal yang mendekati rasa marah akan menyebabkan seseorang sangat mudah menjadi pemarah, ditambah jika orang itu kekurangan waktu istirahat khususnya waktu untuk tidur. Untuk menghilangkan luapan amarah akibat kelelahan adalah dengan istirahat yang cukup, namun sayangnya Nio seperti tidak mendapatkan hal itu setelah dia tiba di benteng nanti.
Panggilan untuk menghadiri rapat Staf Strategi membuat emosi tertentu pada diri Nio muncul, dan membuat hatinya dipenuhi rasa kesal yang menjadi-jadi. Sayangnya, setelah menghadiri pertemuan untuk para Staf Strategi dan komandan masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan tepat waktu. Setelah satu minggu bertarung dengan monster kuat di Labirin milik Kekaisaran Duiwel, lalu memimpin Tim Ke-12 menjadi pasukan bantuan tembakan ketika penyerangan Aliansi kurang dari sepuluh jam lalu, hal tersebut lebih dari cukup untuk membuat seorang prajurit paling sabar sekalipun merasakan marah yang menjadi-jadi.
Namun, Nio tidak tahu harus meluapkan rasa marahnya terhadap apa atau kepada siapa. Ini bukan pekerjaan seperti pada hari kerja biasa dan sebelum dia dengan ‘tidak sengaja’ dipindahkan oleh musuh ke Labirin.
Dia tetap membiarkan darah yang keluar dari dahinya sebelumnya tidak dibersihkan, dan ‘Perawat’ alias Gita sama sekali tidak memiliki keberanian untuk sekedar mendekati Nio dan meminta ijin untuk membersihkan lukanya. Darah akibat luka sayatan di dahi Nio yang mengalir melewati penutup mata kanannya membuat pemandangan bertambah horor saat mata kiri pria itu melotot.
Keadaan Nio saat ini seperti seorang prajurit pada masa Perang Dunia Kedua. Seragam kamuflase saljunya dinodai oleh cipratan lumpur dan darah musuhnya, dan tercampur dengan aroma tembakau meski dia belum merokok untuk hari ini.
“Tuan, apa Anda benar-benar baik-baik saja? Menurutku lebih baik lukamu dibersihkan, lalu pakaianmu yang kotor diganti dengan yang bersih.”
“Begitu? Ya, kau benar, Edera.”
Sementara itu, gadis yang menumpang panser, yakni Gita dan Zefanya merasa mereka mungkin harus memiliki keberanian seperti Edera setelah gadis itu berani mengatakan hal yang tidak mereka berdua berani katakan kepada Nio. Dan Gita serta Zefanya merasa jika mereka melakukan itu akan membuat Nio semakin memperhatikan mereka berdua daripada kedua gadis dunia ini yang lebih lama bersama Nio, yakni Edera dan Hevaz.
Dua kendaraan taktis dan satu kendaraan lapis baja pengangkut personel Tim Ke-12 memimpin rombongan batalyon artileri dan Kompi Bantuan serta perbekalan kembali ke benteng. Seluruh prajurit unit-unit tersebut terlihat puas setelah mengalahkan lawan mereka, lagi. Kali ini tidak ada satupun prajurit Aliansi yang dibawa untuk dijadikan tawanan, atau kamp tawanan lama kelamaan akan penuh.
Benar-benar tidak ada hal selain pertarungan untuk membangkitkan semangat prajurit kontingen Rusia, Indonesia, dan Korea Utara. Di lain sisi, pertempuran menjadi lebih menjengkelkan jika mereka tidak segera berhadapan dengan pasukan yang dipimpin dalang pertempuran yang melibatkan hampir seluruh dunia lima tahun lalu.
Perang yang mahal itu mungkin jauh lebih mahal dibandingkan dana perang yang dikeluarkan Amerika untuk berperang di Afghanistan. Namun, sebelum Persekutuan menemukan dalang perang yang melibatkan mereka melawan Aliansi, perjuangan mereka di sini tidak akan selesai sebelum tujuan terpenuhi.
“Apa mereka serius berperang dengan kita?”
“Menurutku seharusnya mereka menyerah daripada terus menjadi target menembak kita.”
“Aku justru kasihan dengan mereka – yang harus menghadapi artileri dan rudal-rudal kita.”
“Ya, itu benar.”
Beberapa prajurit yang pulang setelah menghadapi Aliansi saling berbicara dengan topik seperti itu. Perang yang mahal mungkin tidak terlalu mengejutkan, karena tidak ada perang tanpa uang. Ketika mereka tidak menyadari jika perang ini tidak sebatas menghentikan aksi Aliansi yang terus memperlihatkan ancaman, ada ratusan juta jiwa yang mengharapkan mereka membawakan kemenangan bagi negara.
“Sial, apa pertemuan itu tidak bisa ditunda?!” Nio berbicara lirih dengan wajah yang benar-benar diliputi kekesalan yang membeludak hingga tatapannya menjadi gelap. Dia sangat ingin menikmati waktu istirahat meski hanya beberapa jam, daripada duduk di ruang pertemuan dan membahas hal yang memberatkan pikiran.
“Tuan, apa yang membuat Anda merasa kesal? Apa perlu saya menyembelih orang yang sudah membuat Anda marah?”
Karena orang yang berkomunikasi dengan Nio sebelumnya adalah salah satu perwira Staf Strategi – yang sangat dekat dengan Jendral Angga, tentu saja Nio harus menghentikan niat Hevaz yang mengerikan itu.
“Lebih baik kau memperlihatkan ancaman hanya di medan perang dan jangan di markas nanti, atau aku tidak mendapatkan waktu istirahat.”
“Tapi orang itu sepertinya telah membuat Anda benar-benar sangat marah,” Hevaz berkata seakan-akan dirinya sudah tidak sabar untuk menjalankan niatnya.
“Hevaz, aku serius, jangan buat aku mendapatkan masalah, atau gajiku tidak akan dibayarkan.”
Itu adalah kesalahan Hevaz, karena telah mengira bahwa orang yang berbicara melalui perangkat komunikasi beberapa saat lalu adalah orang yang membuat Nio nampak seperti orang depresi. Alasan gadis itu terus menekan Nio adalah untuk menunjukkan bahwa dia dapat ‘berguna’ untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak disukai Nio.
Sayangnya, hampir tidak ada perwira yang Nio sukai, tentu saja dalam beberapa hal. Dia masih menghormati perwira ketiga kontingen yang telah berjasa mengatasi ancaman Aliansi. Namun, tentang dirinya yang terlalu sering dilibatkan dalam rapat yang seharusnya hanya dihadiri oleh perwira yang pernah menempuh pendidikan perwira membuat Nio memendam perasaan khusus terhadap mereka.
Namun, yang dibutuhkan Persekutuan adalah prajurit yang berpengalaman tentang taktik dan strategi, meski prajurit tersebut hanya setingkat Tamtama, Bintara, maupun Perwira Pertama yang mendapatkan kenaikan pangkat melalui jalur prestasi – seperti Nio.
“Kita sudah sampai? Kenapa perjalanan pulang selalu lebih cepat daripada perjalanan saat berangkat?”
Nio belum sempat mengganti pakaiannya yang berlumuran lumpur dan darah musuh-musuhnya, namun rombongan telah memasuki garis pertahanan terdepan yang berupa puluhan parit dan sistem pertahanan turret yang dikendalikan dari jarak jauh. Beberapa menit kemudian, kendaraan yang ditumpangi Nio memasuki benteng dari gerbang timur.
“Karena kau terlalu sering mengomel sendiri, Let.”
“Hmmm… kapan aku mengomel sendiri?” Nio menjawab perkataan Gita dengan wajah polos sambil memegang dagunya yang telah ditumbuhi jenggot tipis. Tapi, Nio adalah tipe orang yang tidak terlalu memperhatikan penampilan, dan hanya mengenakan pakaian secara rapi ketika menghadiri acara tertentu. Kemungkinan besar dia akan membiarkan jenggot dan kumis tumbuh, dan akan mencukurnya jika orang itu ingat.
Ketika kendaraan melaju di antara regu atau kompi yang sedang berlatih atau sekedar berkumpul menunggu mendapatkan misi, Tim Ke-12 merasa ada yang aneh dengan tatapan orang-orang yang tidak sering mendapatkan tugas di lapangan dan menghadapi musuh secara langsung. Secara umum, tugas beberapa regu yang berada di bawah komando sebuah kompi atau batalyon memang hanya menjaga benteng, kamp pengungsi, perumahan sukarelawan, dan kamp tawanan, serta wilayah yang rawan dilewati pasukan musuh tanpa ijin.
Penyebab beberapa orang menatap pasukan yang baru saja tiba dari menghadapi dua puluh ribu tentara Aliansi di zona hitam utara sudah jelas. Setiap prajurit yang dikirimkan dan mendapatkan tugas khusus di dunia ini memang telah mempersiapkan diri menghadapi pertempuran yang intens. Namun, mereka terpaksa menggunakan kemampuan tempur yang dimiliki ketika perang dengan bangsa dunia lain yang berakhir beberapa tahun lalu. Mereka menyadari dunia ini bukan Timur Tengah atau negara yang dilanda perang saudara, sehingga tugas Pasukan Perdamaian versi Indonesia, Rusia, dan Korea Utara jauh berbeda dengan Pasukan Perdamaian bentukan PBB.
“Kupikir mereka terlalu pemberani, apalagi adanya Nio yang memimpin tim itu.”
“Apa gunanya kita dipersiapkan untuk pertempuran jika tidak ada pertarungan yang menginginkan kita?”
“Paling tidak, cewek-cewek di sini pada cantik-cantik. Apalagi ksatria wanita Kerajaan Yekirnovo.”
__ADS_1
“Jangan lupakan ratu dari Arevelk itu…”
Mendengar ada beberapa prajurit yang mengeluh, Nio yang sebelumnya berniat hanya melewati sebuah regu yang para anggotanya sedang berbincang-bincang satu sama lain berhenti setelah mendengar salah satu dari mereka mulai membicarakan ratu Kerajaan Arevelk. Untungnya, dia tidak mendengar perkataan mereka sebelumnya yang membicarakan dirinya.
Dia berhenti sejenak untuk mendengarkan lebih lanjut pembicaraan para anggota regu tersebut,hingga dia mendengar jika Sigiz hanya disukai mereka karena keindahan bentuk tubuhnya. Nio yang awalnya menyetujui fakta tersebut akhirnya memiliki pemikiran jika ada hal buruk yang bisa saja menimpa Sigiz karena bentuk tubuhnya. Namun, Nio segera menyingkirkan bayangan tersebut mengingat betapa tidak masuk akalnya kekuatan para perempuan di dunia ini yang pernah dia temui, khususnya Sigiz.
**
“Nio, kupikir kau tidak harus mengatakan hal tersebut. Jangan berpikir Yang Mulia Sigiz mengkhianati perasaannya.”
Nio menceritakan semua hal yang dia lalui kepada Zvail, setelah pria itu meminta menceritakan semuanya yang dia alami setelah kembali dari menjalankan misi penyusupan dan pengintaian di Kota Tanoe, Kekaisaran Luan.
Namun, yang diceritakan Nio sangat detail, seolah-olah dia ingin Zvail mengetahui apa yang dia lalui setelah tugas yang melelahkan. Apalagi dia menceritakan adanya sebuah regu yang membicarakan tentang keindahan yang dimiliki Sigiz, itu merupakan informasi tidak berguna yang bahkan Zvail sendiri tidak ingin mendengarnya.
Omong-omong, sebelum menjalani pembicaraan empat mata bersama Zvail, Nio telah mengganti pakaiannya dengan seragam dinas harian, lengkap dengan ban lengan berlambang Tentara Republik Indonesia Pelajar yang terpasang di bawah bendera merah putih di lengan kanan seragam sebagai tanda jika dia berasal dari kontingen Indonesia. Luka pada dahinya juga telah diobati, sehingga hanya menyisakan bekas luka sayatan benda tajam yang akan hilang jika dia mengoleskan salep khusus.
“Tapi, apa kau baik-baik saja, Nio. Aku bisa melihat dari wajahmu kalau kau sangat lelah,” tatapan Nio yang nampak lesu ditambah nada berbicaranya yang sedikit bernada tinggi menurut Zvail menandakan pria itu mengalami kelelahan, meski ‘orang yang diramalkan’ dikatakan memiliki energi magis sangat besar.
“Tuan Zvail, apapun akan saya lakukan, termasuk menghadiri pertemuan meski tubuh terasa mau meledak.”
“Ini bukan waktunya terlihat keren, Nio. Tapi, aku mohon agar kau tidak memanggilku dengan awalan ‘tuan’. Prajurit yang mendapatkan gelar ‘Lariq Sodur’ tidak pantas memanggilku dengan ‘tuan’. Panggil saja aku dengan namaku.”
“Omong-omong, apa itu gelar ‘Lariq Sodur’? Sepertinya itu gelar yang sangat dihormati.”
Jelas bagi Zvail bahwa perintah dari ratunya tidak akan pernah dia langgar, meski dia berhadapan dengan prajurit terkuat sekalipun. Namun, dihadapannya bukanlah prajurit terkuat, namun ‘orang yang diramalkan’ sudah jelas merupakan orang yang sangat kuat.
Sementara itu, sangat mudah bagi Zvail untuk tetap tutup mulut meski dia dipaksa mengatakan rahasia Kerajaan Arevelk. Meski dihadapannya adalah ‘orang yang diramalkan’, dia telah mendapatkan perintah dari Sigiz untuk tetap tutup mulut tentang gelar ‘Lariq Sodur’ yang gadis itu berikan kepada Nio setelah berhasil menangani musuh yang tiba-tiba menyerang ibukota kerajaan tersebut.
Cara termudah untuk tetap tutup mulut jika dia terus dipaksa untuk mengatakan informasi sangat penting adalah dengan meminum racun yang sangat mematikan. Setiap orang yang mendapatkan posisi di pemerintahan, baik itu Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo, seperti komandan militer, bangsawan daerah, bangsawan pemerintahan, kepala suku, bahkan pelayan dan penjaga istana harus meminum racun yang dibuat dari tanaman paling berbahaya yang tumbuh di kedua negara jika mereka tertangkap musuh dan dipaksa mengatakan informasi negara.
Hanya dengan satu tetes, racun akan segera menghilangkan nyawa orang yang mengkonsumsinya dalam waktu kurang dari setengah milidetik. Namun, cara itu dianggap sebagai cara termudah dan menunjukkan kesetiaan terhadap negara karena telah menyatakan diri terhadap musuh jika mereka tidak akan memberi informasi negara terhadap musuh.
Kemudian, Zvail tersenyum, namun Nio menganggapnya jika pria itu akan menjawab pertanyaannya mengenai ‘Lariq Sodur’.
Sesaat kemudian Zvail berkata, “Anda akan mengetahuinya jika waktunya sudah tiba.”
Nio langsung meninju meja di depannya setelah Zvail mengatakan jawaban tidak sesuai harapannya. Sambil berkata, “Anjir!”. Dan itu bukanlah masalah jika dia tidak tahu gelar tersebut, karena dia memang hanya menginginkan tugas yang dapat dijalankan dengan damai, tanpa hati yang dongkol di bawah perintah atasan yang tidak terlalu banyak meminta pendapat dari perwira rendahan seperti dirinya.
Tidak peduli apa yang dia pikirkan tentang Nio, dia tetap harus memasang wajah sopan meski pemuda di depannya cukup ‘liar’ untuk saat ini. Dia tahu Nio sama sekali belum istirahat dengan benar, meski Nio berusaha untuk menyembunyikan fakta tersebut.
“Mengenai langkah menempatkan pasukan di seluruh benteng pada garis perbatasan, apa yang kau pikirkan tentang itu, Nio?”
Menghadapi sang komandan tertinggi pasukan kerajaan Arevelk yang menginginkan jawaban atas ‘tololnya’ langkah Zvail untuk menempatkan pasukan di sepanjang garis perbatasan Kerajaan Arevelk dengan Kekaisaran Luan, Nio menarik napas dalam-dalam agar dapat berbicara dengan pikiran jernih. Mengingat hal itu, Nio memasukkan perbuatannya berkata kasar di hadapan perwira tinggi ke dalam daftar perbuatan paling memalukan sepanjang karirnya menjadi prajurit TNI (TRIP).
Nio sadar apa yang dia katakan beberapa saat lalu cukup kasar, ditambah dia mengatakannya di depan komandan tertinggi kelima kontingen. Apa yang dia katakan memang tidak pantas dilakukan seorang Letnan Satu sekalipun. Jadi dia menguatkan diri dan berbicara dengan wajah serius. “Pertama, di mana pasukan utama Kerajaan Arevelk ditempatkan?”
Zvail meminum es jeruk – kesukaannya sejak kedatangan pasukan Indonesia di dunia ini, lalu pria itu menarik napas setelah meletakkan gelas kaca berisi es jeruk tersebut di atas meja lagi.
“Apa itu ada hubungannya dengan ‘tololnya’ penempatan pasukan di sepanjang garis perbatasan dengan Kekaisaran Luan dan desas-desus perang saudara?”
“Terus terang, jika memang ada satu atau sekelompok yang berasal dari militer kerajaan Anda merencanakan pemberontakan dan memicu perang saudara, itu menjadikan penempatan pasukan di garis perbatasan menjadi sangat beresiko.”
Zvail saat ini melihat seorang prajurit muda yang berasal dari kontingen Indonesia – sekutu pertama Arevelk dari ‘dunia lain’ berbicara seolah-olah dia memiliki ilmu setara jendral besar. Zvail tahu jika Nio cukup dikenal oleh beberapa perwira menengah Persekutuan. Karena itulah dia akan terus mendengar perkataan dan saran maupun kritik yang akan dikatakan Nio pada pembicaraan ini.
Mereka berdua melakukan pembicaraan di salah satu meja di kantin, dan tempat ini cukup sepi karena hampir seluruh prajurit melaksanakan latihan atau misi. Hanya ada beberapa prajurit Bintara dan Perwira Pertama hingga menengah di kantin, serta pelayan yang berasal dari pengungsi maupun Staf Gizi.
Di lain sisi, Nio merasa dirinya tidak memiliki hak untuk menyarankan penempatan pasukan atau semacamnya, apalagi di depannya merupakan komandan tertinggi militer Arevelk yang cukup berpengaruh di negara tersebut. Sedangkan dirinya? Prajurit biasa? Remaja laki-laki yang memiliki hobi seperti remaja laki-laki pada umumnya? Hanya Nio sendiri yang mampu menilai seperti apa dirinya, dia hanya menerima saran orang lain mengenai dirinya.
“Kami menempatkan pasukan di sepanjang garis perbatasan untuk menanggapi ancaman Aliansi yang terus memperlihatkan pergerakan di beberapa titik di perbatasan. Kerajaan telah menyerukan perang dengan Aliansi, dan kami telah mempersiapkan semuanya untuk berperang dengan mereka.”
“Musuh akan memanfaatkan pemberontakan jika hal itu benar-benar akan terjadi. Karena itu, saya bertanya di mana Anda menempatkan pasukan utama.”
Zvail pasti menyadari Nio berkata seperti itu setelah mengetahui betapa terbelakangnya Arevelk mengenai taktik militer. Melawan dengan cara biasa memang tidak akan menghasilkan apapun, setelah melihat Aliansi telah memiliki senjata baru. Mendengarkan perkataan, saran, dan kritik dari Nio karena pria itu telah dia anggap memiliki pengalaman tidak peduli dia tidak pernah menjalani pendidikan perwira.
“Nio, apa aku boleh tahu kedua orang tuamu?”
“Hm? Kenapa Anda bertanya seperti itu?”
__ADS_1
“Yah, aku hanya penasaran dengan asal-usul mu.”
“Ayah dan ibu tiri saya hanya pekerja biasa, itu yang saya tahu. Sedangkan saya tidak tahu pekerjaan ibu kandung saya karena dia meninggal saat saya masih kecil, begitu pula ayah dan ibu tiri saya.”
“Ah,” Zvail merasa sangat bersalah telah menanyakan hal sensitif kepada Nio, “Maafkan atas ketidaktahuanku. Aku sungguh malu dengan diriku sendiri.”
Nio hanya tersenyum sedih, namun bagi Zvail senyum itu hanyalah ejekan baginya. Dia tidak datang sebagai komandan tertinggi militer Kerajaan Arevelk, tetapi sebagai orang yang ingin menambah pengalaman. Karena itu, dia tetap memaksakan wajahnya memasang ekspresi tenang.
“Saya hanya sering membaca buku taktik, strategi, serta kemungkinan di dalam peperangan yang ditulis oleh prajurit terbaik negeri saya.”
“Aku yakin pasti kau memiliki hubungan dengan prajurit terbaik itu.”
“Hahahah, jangan berkata seperti itu, Tuan Zvail. Saya adalah orang pertama di keluarga saya yang menjadi prajurit. Yah, tapi siapa yang tahu?”
Zvail sudah menerima perannya bahwa perannya hanya sebagai pendengar dan pemberi pertanyaan.
“Baiklah, kembali ke topik utama. Di mana Anda menempatkan pasukan utama?”
“Pasukan utama pertama ditempatkan di dekat Kota Iztok, dengan kekuatan total seratus ribu prajurit, dua ratus diantaranya angkatan udara. Lalu, pasukan utama kedua kami tempatkan di wilayah suku Demihuman dan manusia setengah monster, dengan kekuatan dua ratus ribu prajurit, lima ribu diantaranya prajurit Demihuman dan manusia setengah monster.”
“Jadi semuanya ditempatkan jauh dari garis perbatasan.”
Jelas itu adalah masalah, jika rencana kudeta benar-benar terjadi. Selain itu, kerajaan secara terang-terangan menempatkan pasukan besar di titik yang dirasa sangat penting, daripada wilayah yang berpotensi diserang musuh atau zona perang potensial.
“Apa Anda mencurigai seseorang tentang rencana kudeta tersebut?”
“Benar, ada satu orang yang sangat aku curigai. Terus terang, aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi orang itu cukup penting di militer kami.”
Zvail bahkan tidak berusaha menyembunyikan ekspresi pahit di wajahnya ketika mengatakan hal itu. Mungkin itu wajar, karena masih ada seseorang di Kerajaan Arevelk yang tidak ingin memanfaatkan kesempatan bersekutu dengan negara kuat. Bekerja sama dengan negara kuat bukan berarti Arevelk telah menjadi lemah, namun hanya memanfaatkan kesempatan yang tidak datang dua kali.
Tapi, Nio benar-benar tidak ingin menghancurkan usaha Zvail yang membantu Sigiz mempertahankan negara tersebut.
“Jika kudeta terjadi dan pasukan yang dipimpin orang yang Anda curigai mulai melakukan tindakan desersi, maka pasukan yang ditempatkan di garis perbatasan akan menjadi sasaran empuk.”
“Tidak ada ruang gerak sama sekali? Aku betul kan, Nio?”
“Jika Anda menyadarinya, kenapa Anda tetap menempatkan pasukan besar di sepanjang garis perbatasan?”
Nio mengatakan hal itu bukan berarti dia tidak percaya dan yakin bahwa strategi Zvail dan bawahannya akan berhasil. Dia tahu pria itu dan orang-orangnya telah berpikir keras untuk menyusun rencana menghadapi kekuatan musuh yang terus memperlihatkan ancaman.
“Yah, sebenarnya aku masih belum mengerti dengan perkataanku. Jadi, apa intinya.”
“Intinya, pasukan pemberontak dan Aliansi akan sama-sama menyasar pasukan di perbatasan. Karena mobilitas pasukan bantuan memerlukan waktu lama, mereka akan menjadi sangat mudah dikalahkan, dan musuh serta pemberontak bisa saja bersatu untuk melawan Arevelk. Itu adalah kemungkinan terburuk yang bisa saya bayangkan.”
Ada saat-saat Arevelk merasakan kecemasan dan ketakutan, meski mereka sebuah negeri yang besar. Namun, luasnya wilayah yang membentuk negara tersebut justru menjadi masalah tersendiri, khususnya untuk pengiriman pasukan bantuan jika sewaktu-waktu Aliansi mulai melancarkan serangan ke Arevelk.
Jelas bagi Zvail untuk mengatakan jika sangat tidak mudah menggerakkan bantuan yang telah ditempatkan ke titik tertentu ke titik yang lain, dan itu menjadi dilema baginya setelah mendengar perkataan Nio. Tetapi, fakta jika dia tengah berbicara dengan orang yang pertama kali menyadari kesalahannya menempatkan pasukan di garis perbatasan membuat Zvail memutuskan untuk mendengarkan perkataan Nio lagi.
Tapi, Nio yang belum mengetahui medan di garis perbatasan adalah keuntungan bagi Zvail untuk mengatakan pendapatnya.
“Apa kau ingin melihat-lihat benteng yang ditempati pasukan yang ku tempatkan di sana?”
“Untuk apa?”
“Agar kau bisa menentukan strategi yang cocok bagi pasukan ku jika mereka diserang musuh sewaktu-waktu.”
“Tunggu, kenapa pembicaraan tiba-tiba melebar sampai aku yang tiba-tiba diminta menyusun strategi untuk kalian?”
**
Kasih semua vote-nya ke sini woy!
Bonus:
Sorry kalo gambarannya jelek, ane buat sendiri soalnya, tapi masih butuh referensi. Di atas adalah ilustrasi Nio saat ini, tentunya setelah dia kehilangan mata kanan.
__ADS_1
Pembaca: "Thor, kenapa si Nio keliatan tua, emang berapa umurnya?"
olog: "Dia udah 20 tahun. Tapi, kebanyakan remaja Indonesia udah kumisan ama jenggotan kan?"