
26 September 2321, pukul 18.42 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, malam hari.
**
Musuh yang dikalahkan setelah perang, harus siap untuk menanggung apa yang akan dilakukan pihak pemenang terhadap mereka. Termasuk meletakkan kepala Rantz yang telah dipisahkan dari tubuhnya di depan istana Kekaisaran.
Mengirimkan kepala Rantz memiliki fungsi yang lain, karena sekaligus sebagai pesan kepada Kekaisaran agar tidak sembrono dalam memilih lawan perang. Namun sayangnya, tidak ada satupun orang yang berani mengambil kepala dengan mata yang masih terbuka itu, bahkan keluarga Rantz sendiri.
Ini adalah penghinaan, sekaligus kabar duka bagi keluarga Kaisar. Anak kedua, sekaligus Komandan pasukan yang dikirim berperang melawan Kerajaan Arevelk, mati di tangan ratu kerajaan tersebut dengan cara yang mengenaskan.
Beberapa pihak mengatakan jika Rantz memang pantas mati dengan cara seperti itu, karena berperang dengan pasukan yang sangat kuat. Kematian Rantz bisa saja mengancam Kekaisaran, karena dapat menyulut peperangan selanjutnya.
Tidak ada cara untuk mengalahkan pasukan hijau yang menguasai Gerbang.
Sebenarnya kekuatan penuh pasukan penguasa Gerbang dapat memusnahkan pasukan Kekaisaran dalam hitungan detik, jadi tidak ada yang tahu mengapa mereka hanya mengirimkan bagian kecil untuk melawan pasukan pimpinan Rantz tersebut.
Itulah yang membuat Sheyn khawatir, dia bertanya-tanya dalam pikirannya agar Kekaisaran dapat berdamai dengan negeri asal pasukan hijau tersebut.
Dia sama sekali tidak sedih setelah kematian adiknya, dia bahkan enggan mendekati kepala Rantz yang masih tergeletak di depan istana hingga dikerumuni serangga. Beberapa warga yang melintas mungkin merasa sedih dengan kematian Rantz, tetapi pihak yang senang atas kematiannya jauh lebih banyak.
Sheyn menyatakan jika kepemimpinan ayahnya adalah yang paling “bodoh”, “tolol” dan kata-kata semacam itu di perasaannya.
Pasukan yang kuat dengan strategi yang hebat sekalipun tidak akan berguna jika tidak memahami lawan. Yang bisa dilakukan untuk melemahkan musuh, adalah membuat senjata andalan musuh hancur. Namun, semua senjata yang dimiliki pasukan hijau terlalu kuat, bahkan para prajuritnya dikatakan dapat membunuh monster dengan waktu singkat.
Sheyn bersedia bernegosiasi dengan pasukan hijau karena dia melihat pasukan yang kembali dari Tanah Suci terkena serangan mental yang parah, sebagian dari mereka sudah terjun ke jurang kegilaan.
Meski ini sudah tengah malam, namun Sheyn tidak pergi tidur, tetapi tenggelam untuk memikirkan masa depan Kekaisaran. Tidak mungkin dia bisa tidur jika situasinya memburuk seperti ini.
Frustasi dan kekhawatiran mengacaukan hatinya ketika Sheyn memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Sekalipun pasukan hijau meminta bayaran yang mahal karena Kekaisaran ingin berdamai dengan mereka, tidak mungkin pihak Kekaisaran menolak tuntutan yang dibuat oleh pasukan hijau yang memiliki kekuatan tempur luar biasa dan kemampuan yang sangat menghancurkan.
Namun, wewenang Sheyn membatasi dirinya untuk menjadi pembatas jika penandatanganan perdamaian benar-baner terjadi. Bisakah para bangsawan memahami kekuatan pasukan hijau ini? akankah Kaisar dan para penasihatnya mengerti?
Kekaisaran tahu kekuatan lawan yang mereka hadapi, namun mereka seakan-akan lebih memilih untuk menutup mata.
__ADS_1
**
Di Tanah Suci, kini ada sangat banyak bukit kecil yang memenuhi tanah datar ini. Itulah kuburan bagi prajurit kedua pasukan.
Sigiz kemudian mengeluarkan selembar kertas yang terbuat dari kulit pohon, dan mulai menulis laporan bagi ayahnya yang kini memegang kekuasaan untuk sementara selama Sigiz di luar negeri. Dia menulis bahwa musuh memiliki kekuatan yang besar, namun bisa di kalahkan dengan mudah oleh TNI yang memiliki kemampuan bertarung menakutkan, dan menggambarkan semua yang dia lihat dan dengar tentang mereka.
Sigiz memutuskan untuk tidak khawatir dengan laporannya, meskipun ini akan membuat militer negaranya sangat terguncang. Di Benua Andzrev, militer Kerajaan Arevelk adalah yang terkuat sebelum kedatangan TNI.
Dia sudah memikirkan jika ini keputusan yang baik dan sempurna, karena perdamaian dengan TNI telah di depan mata. Itu artinya, Kerajaan Arevelk telah mendapatkan sekutu yang sangat kuat.
Pertempuran pertamanya kemarin memang menghasilkan kemenangan, namun korban di pihak pasukannya sekitar ratusan gugur dan ribuan luka ringan hingga berat.
Sigiz juga menuliskan jika TNI mengendarai naga besi dengan sayap berputar dan sayap besi yang tajam, dan memegang tongkat sihir di tangan mereka dan membuat medan pertempuran menjadi tidak seimbang, bahkan hampir seperti neraka.
Jika kita merubah sudut pandang, bayangkan kalau TNI akan berperang dengan Kerajaan Arevelk. Jika hal itu terjadi, bisa dipastikan jika Sigiz dan para wanita menjadi pemuas, dan negara diambil alih oleh musuh.
Bagaimana dengan para penduduk Kerajaan? Apakah mereka akan menolak jika TNI mengambil alih Kerajaan Arevelk?
Tidak, mereka akan menyambut TNI dengan tangan terbuka. Rakyat biasa yang sederhana dan tidak paham mengenai pemerintahan akan menerima TNI, mereka hanya mengambil apapun yang bermanfaat bagi mereka, bahkan jika itu hanya bersifat sementara.
“Jika mereka berperang dengan Kerajaan, aku mungkin harus berlutut di depan mereka dan memohon belas kasihan.”
Sigiz dengan takut keluar dari tanda, dan menatap langsung benteng yang menjadi pertahanan TNI. Di luar, ada banyak pasukan medis dari TNI yang membantu mengobati prajurit Kerajaan yang terluka.
Dia menilai, jika TNI telah berperang dengan cara paling manusiawi yang mereka bisa.
Semua prajurit hijau dengan tanda palang merah di lengan kanan seragam lapangan, mereka bekerja keras untuk mengobati prajurit Kerajaan, yang terluka akibat sayatan pedang maupun terkena anak panah.
Tabib yang dibawa pasukannya seperti tidak ada gunanya. Dengan pengobatan yang ala kadarnya, membuat waktu penyembuhan prajurit akan lama. Tidak ada sihir penyembuhan yang dikuasai para tabib, hanya orang-orang khusus saja yang menguasai sihir tersebut, contohnya seperti pahlawan.
“Selamat siang, Ratu.”
Suara seorang pemuda yang dia rindukan terdengar dari arah kanan sisinya. Beberapa bagian tubuh Nio terlilit perban karena terkena serpihan artileri maupun tersandung saat berlari. Namun, luka itu akan sembuh dalam waktu dekat, itu sebabnya Nio masih bisa tersenyum ke arah Sigiz.
Dia tidak berpikir jika Nio bisa mati di pertempuran kemarin, karena dia membawa senjata tongkat baja hitam panjang yang sangat kuat. Tentu saja Nio akan mengalahkan banyak musuh dengan senjata seperti itu.
__ADS_1
Sigiz dengan hati-hati memilih kata-katanya agar keadaan tetap nyaman. Setelah peperangan ini, perjanjian perdamaian seperti apa yang bisa dia buat?
Namun, wajah Sigiz terlihat pucat dan terkejut saat seorang perempuan memeluk Nio dari belakang. Nio yang tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya hampir terjatuh kebelakang, dia dengan susah payah menyeimbangkan tubuhnya.
Berat badan Lux sebenarnya berada pada rata-rata berat badan perempuan pada umumnya. Tetapi pelindung badan yang terbuat dari logam menambah berat badannya.
Nio tidak merasakan sesuatu yang mengganjal dan terasa lembut seperti milik Sigiz saat memeluknya dulu. Itu karena dada Lux yang lebih kecil dari milik Sigiz yang berada di atas rata-rata.
Dengan perilaku Lux sekarang, Sigiz bisa menyimpulkan jika Lux memang benar-benar menyukai Nio. Tidak ada istilah yang pas untuk situasi ini, karena Sigiz sendiri belum membuat sebuah hubungan dengan Nio.
Tetapi, Sigiz lah yang memerintahkan Lux untuk mendatangi tendanya. Ada sebuah tugas bagi Lux yang berhubungan dengan penandatanganan perdamaian. Dia berharap jika kedatangan Lux tidak hanya untuk menemui Nio. Sigiz berdehem dengan keras, dan Lux melepaskan pelukannya dari Nio yang mulai tidak kuat menghadapi gadis ini.
Lux kemudian berlutut di depan Sigiz yang terlihat membawa sebuah gulungan kertas berwarna kecoklatan.
“Maafkan sikap saya Ratu. Saya siap untuk melaksanakan perintah dari anda.”
“Bawa laporan ini ke ayahku. Jika bisa, dia harus bisa membaca laporan ini secepatnya.”
Lux menerima gulungan kertas tersebut dengan kedua tangannya, dan akan melaksanakan perintah dengan sungguh-sungguh.
Lux adalah penunggang kuda terbaik di Kerajaan Arevelk, itu juga karena kuda miliknya yang berbeda dengan kuda-kuda yang lain. Karena kuda miliknya bisa berlari seharian penuh dengan sedikit waktu istirahat.
Lux berjalan melewati Nio, tidak lupa dia menunjukkan senyuman manis yang sangat jarang dia perlihatkan pada orang lain. Yang dilakukan Lux ternyata mampu untuk membuat Sigiz kesal, namun dia tidak bisa menghalangi bawahannya memiliki perasaan terhadap orang lain.
Tetapi Sigiz tidak rela jika Nio memiliki pengalaman pertama dengan orang selain dirinya, meskipun dia melakukan ciuman pertama dengan Nio, dan Nio ternyata tidak menyadari hal itu. Namun, pengalaman pertama yang dimaksud adalah hal yang hanya boleh dilakukan orang berusia dewasa dan telah menikah.
Sigiz teringat dengan sosok kakak Nio, itulah hal yang paling dia khawatirkan jika ingin membuat sebuah hubungan dengan pemuda ini.
Sigiz kemudian mengajak Nio untuk memasuki tendanya, karena tidak ada penjaga di tempat ini, pikiran Sigiz dan Nio menjadi berantakan dan hanya terpikirkan hal yang penuh nafsu.
Insting remaja Nio menilai jika tubuh Sigiz sangat bagus, apalagi dua buah buah dada yang besar. Dia teringat beberapa bintang film dewasa, Nio menilai jika dada mereka tidak sebesar milik Sigiz.
Beberapa prajurit memang melihat ratu mereka mengajak seorang prajurit hijau masuk kedalam tendanya, namun mereka berpendapat jika mereka berdua hanya melakukan diskusi mengenai perdamaian. Tapi siapa yang tahu?
Hal pertama yang Nio dapatkan adalah, perkataan Sigiz sangat jauh dari hal yang berhubungan dengan seksual.
__ADS_1
"Saat penandatanganan perdamaian, kau harus ikut!"
"Heh?"