Prajurit SMA

Prajurit SMA
Target 4: tawaran


__ADS_3

“Dia benar- benar paling bodoh dari yang terbodoh di dunia. Apa yang Komandan pikirkan?!”


Hassan mengerang saat perintah menyerang ia dapatkan dari Candranala – yang memulai pertarungan melawan Pahlawan Amarah – dan kembali terpisah saat Tim Ke-12, Pembunuh Senyap, dan para gadis menghadapi ribuan bawahan Rio. Di sisi lain, gelombang serangan Aliansi yang lain tengah dihadapi pasukan tambahan.


Walau hari sudah berubah malam, dan di dalam hutan sangat gelap serta suram, serbuan musuh menambah kesan mencekam. Hassan tidak bisa mengabaikan perintah asal-asalan Candranala, dia tak akan membiarkan perjalanan tim ini berakhir di hutan kematian ini. Tidak seperti yang dialami Pasukan Ekspedisi TNI kurang dari 2 tahun lalu.


Candranala mengatakan bahwa dia akan menjaga para bawahan barunya – Tim Ke-12 – dari hal yang menimpa unitnya sebelumnya, dan Hassan berpendapat itu bukanlah tugas ringan. Tidak ada cara untuk membantu Candranala, atau dia dan bawahannya akan berakhir seperti seorang rekan Candranala di Regu Penjelajah 1, menurut Hassan pribadi. Jadi, tidak ada yang lain, yang paling bisa dia lakukan adalah berjuang bersama anggota tim, para gadis-gadis Candranala, Pembunuh Senyap, dan peleton khusus Arevelk, memastikan perjuangan para prajurit muda berlangsung lebih lama dan menghancurkan semua halangan. Hanya itu yang bisa berikan pada Candranala dan negeri yang ingin dilindunginya


Inilah perjuangan heroik yang akhirnya Tim Ke-12 peroleh.


“Apa maksudmu Tuan Candranala tolol? Dia hanya melakukan tugasnya, sebagai atasan yang baik,” Sigiz menanggapi perkataan Hassan ketika sedang mengumpulkan energi magis. Dia cukup lama melakukan hal penting tersebut, aliran energi magis di area hutan ini sangat tipis.


“Maksudku, karena dia terlalu nekat, mungkin akan berimbas pada kami. Lihatlah, lawan-lawan sialan yang mengepung kita, seharusnya dia membantu kami terlebih dulu, kan?”


“Oh, menurutmu akan lebih baik kalau Tuan Candranala membiarkan Pahlawan Amarah – pengkhianat dari negara Indonesia – berkeliaran di medan tempur, membunuh banyak prajurit-prajurit berharga? Apa yang kau pikirkan tentang itu?”


Jawaban Hevaz membungkam Hassan, dan membuat para anggota Tim Ke-12 menunduk, membayangkan kemungkinan terburuk musuh terbesar Persekutuan dengan leluasa membantai rekan-rekan mereka. Hal itu semakin membebani otak, sehingga mereka dengan singkat memikirkan apa yang akan dilakukan Candranala jika dia ada di antara mereka. Dia telah memberikan para bawahannya arahan jika menghadapi suatu hal, termasuk pertempuran. Itu adalah hasil dari prediksi, dan membayangkan tindakan yang cocok untuk digunakan untuk unit tempur muda seperti Tim Ke-12.


Bentakan Hevaz dan Sigiz seperti bendahara kelas yang menagih uang kas kepada para anak laki-laki yang belum dibayar selama satu tahun.


“Berdoalah pada Tuhan yang kalian percayai, dan aku tidak peduli jika taktik Tuan Candranala akan gagal! Apa yang akan para atasan katakan jika dia gagal? Kalian tidak akan terbunuh hanya karena kesalahannya! Kami, para gadis Tuan Candranala akan berjuang bersama kalian, jadi jangan khawatir!”


Teriakan Edera membuat para anggota pria Tim Ke-12 runtuh kepercayaan dirinya, membuat mereka iri dan bersemangat. Begitu pula dengan para gadis, khususnya Zefanya.


Terengah-engah karena membayangkan komandannya mendapatkan kenikmatan dari gadis-gadis dunia lain di depannya, Hendra untuk pertama kalinya berteriak yang belum didengar sebelumnya.


“Markas pusat dan pemerintah tidak akan paham sulitnya mendapatkan akal sehat dalam pertempuran. Kita tidak punya waktu bertempur sesuai aturan mereka, dan para brengsek itu boleh mengkritik taktik aneh dari Letnan Candranala yang berbuah kemenangan … kita seharusnya dari awal melakukan hal ‘itu’.”


Suaranya dipenuhi rasa percaya diri khas remaja yang penuh kebebasan, dan penyesalan sesaat setelah terlalu lama memikirkan kondisi komandannya. Hendra tahu Candranala tidak akan kalah, sekuat apapun musuhnya. Mengesampingkan keterkejutan teman-temannya yang pertama kali mendengarnya mengomel dengan memasang wajah gentar, Hendra melepas rompi pelindung-nya.


“Kau benar, Hendra. Jika kekuatan sebesar ini mengalahkan pertahanan kita, seluruh anggota Persekutuan akan berada dalam bahaya. Kita bertarung karena melindungi kehidupan tercinta, negara, dan keluarga.”


Menyampaikan perkataan itu dengan nada lembut, Zefanya tersenyum di malam suram ini. Rekan-rekannya tidak melihat kekurangan pada fisiknya, yang tampak hanya ekspresi gadis muda yang ingin berjuang layaknya putri di dongeng.


Huvu melompat dari salah satu pohon, menyampaikan hasil patrolinya, “Maaf mengganggu, tapi aku melihat seratus infateri berat Aliansi yang didukung kavaleri senapan dengan jumlah sama mendekati kita. Tenaga para Pembunuh Senyap tidak akan cukup, dan tak akan menjamin membuat lawan mundur agar kalian melepaskan tembakan pembersihan, jadi jangan harap akan ada bantuan. Maaf, tapi kalian mungkin harus menghadapi sebagian besar pasukan bawahan Pahlawan Amarah itu.”


Mata para Demihuman ras kucing memiliki kualitas pandangan jauh lebih baik dari prajurit terlatih yang bahkan memakai kacamata penglihatan malam paling bagus.


“Setelah para Pembunuh Senyap bergerak menghadapi kavaleri senapan Aliansi, peleton khusus Ratu Sigiz akan menahan para infanteri berat. Kami akan berpencar ke segala arah, memberikan tembakan pendukung untuk menghancurkan unit terkuat lawan.”


“Ya, itu tidak masalah, wakil Tuan Candranala. Itu seperti tugas biasa bagi kami,” ucap salah satu tentara elit Arevelk menanggapi usulan Hassan.


‘Mayat Hidup’ masih dalam usaha menghindari tembakan tanpa henti Pahlawan Amarah, membuat mata para bawahannya menatap penuh harapan tanpa tanggapan. Yang seluruh orang rasakan hanyalah aura dingin dan semangat juang ganas dari pria itu.


**


Candranala mengintip dari balik sebuah pohon besar, berjuang agar menemukan kesempatan untuk mendaratkan satu atau dua tembakan balasan ketika Rio melepaskan tembakan tanpa henti Peluru Abadi-nya yang membuat Candranala gelisah.


Kesadaran Candranala hanya terfokus pada satu-satunya lawan di hadapannya, yakni mantan sahabatnya, melupakan garis antara hidup dan mati yang hampir menghilang, dan membayangkan kematian yang tidak pernah salah. Dia tidak bisa melihat apapun kecuali musuhnya, dan tidak bisa mendengar apapun selain suara tembakan dan teriakkan pertempuran, membuat Candranala tidak menyadari waktu sudah mendekati tengah malam.


Rio mengarahkan tembakannya ke segala arah, tanpa peduli Peluru Abadi dan proyektil dari SS2 banyangannya mungkin akan menghanguskan sebagian hutan ini. Tujuannya adalah menemukan Candranala yang bersembunyi entah di mana. Dia tidak memiliki dendam pada siapapun, namun kekuatan yang didapatkan membuat Rio merasa dapat melakukan semua hal yang dia inginkan, meski itu membuat banyak orang menyimpan dendam padanya.


Mungkin Candranala memiliki perasaan itu, namun Rio sama sekali tidak peduli.


Mengalahkan Candranala, membawanya ke hadapan petinggi Aliansi, mencuci otak dan memberinya identitas baru, memanfaatkannya sebagai senjata untuk perang besar di masa depan, semua itu adalah tugas Pahlawan dengan imbalan kehormatan dan kembali ke dunia asal.


Candranala bahkan tidak percaya Rio benar-benar mendukung Aliansi daripada negerinya, walau kedua belah pihak sama-sama menderita kerugian tak terhitung akibat perang.

__ADS_1


Melihat Rio hanya berjarak 60 meter dari tempatnya, Candranala menekuk lutut kirinya, lalu melompat miring dengan senapan diarahkan kepada Pahlawan Amarah tersebut. Empat tembakan dilepaskan, dan langsung disadari Rio, membuat si Pahlawan mengarahkan telapak tangan kirinya pada Candranala.


Di depan telapak tangannya muncul lingkaran sihir berwarna putih dengan pola rumit, lalu sebuah jalur cahaya muncul dari situ setelah Rio mengucapkan mantra singkat.


Candranala sengaja tergelincir saat mendarat, demi menghindari sebuah jalur cahaya berbentuk lembing dari Rio. Sihir tersebut pecah dan membakar semak dengan percikan cahaya itu, membuat Candranala tersadar dia sedang berjuang di dunia fantasi. Jika ini di dunia asal, serangan itu memiliki efek setara bom fosfor yang terkena tubuh manusia dalam jumlah besar.


(olog note: bom fosfor adalah senjata kimia yang biasa terdapat pada produk pembersih, dan racun tikus. Fosfor mampu menyebabkan luka bakar jika bersentuhan dengan kulit terbuka, dan serangan bom fosfor dalam jumlah besar akan mengakibatkan kematian)


Jika Candranala menghindari serangan dengan gerakan terarah, Candranala tidak hanya akan ditembaki dengan senapan sihir Rio, tetapi juga oleh sihir pertempuran yang Pahlawan Amarah itu kuasai.


Rio menembakkan senapannya, melepaskan sepuluh Peluru Abadi. Proyektil magis itu nyaris tidak mengenai Candranala. Saat melihat seluruh serangannya meleset, lingkaran sihir di telapak tangan kirinya mengeluarkan dua lembing cahaya. Dua tangan bayangan masih membidikkan senapan masing-masing ke arah Candranala yang berlari cepat dan tidak terarah. Ketika pertarungan melawan Candranala dimulai, kedua tangan bayangan itu dan bayangan berbentuk SS2-nya sama sekali belum menunjukkan fungsinya.


Walau jurang dangkal sangat minim tempat persembunyian, namun Candranala yang hebat dalam melarikan diri dan bersembunyi berhasil menghindari seluruh serangan Rio, dengan mengorbankan bahu kirinya tergores lesatan sebuah Peluru Abadi, menciptakan bekas luka berbentuk petir. Dia sengaja memilih jurang dangkal bukan hanya untuk menghindari tembakan dan mengurangi daya tembak Rio, juga menarik dirinya untuk menemukan jalan lain untuk membalas serangan.


Setelah dia kembali ke permukaan, Rio segera menemukan dirinya. Di belakang Pahlawan Amarah terdapat sekitar sepuluh infanteri berat Aliansi, dan berlari bersama tuannya. Melihat Rio mengarahkan senapannya pada dirinya, Candranala segera menembakkan beberapa proyektil ke arah pria itu tanpa perlu membidik. Dia lebih cepat beberapa milidetik dari Rio dalam menembak.


Dua peluru menghantam zirah kokoh dua prajurit infanteri berat Aliansi yang kebetulan berada di belakang Rio yang terlambat memerintahkan bawahannya menghindar, dan langsung membunuh mereka.


Rio segera bangkit setelah hampir gagal menghindari tembakan Candranala, bahkan dia harus melindungi dirinya sendiri dengan Sihir Perisai. Pelidung transparan berwarna merah perlahan menghilang saat dia membidik Candranala yang akan melarikan diri kembali. Saat sosok Candranala menghilang di antara semak lebat, Rio menurunkan senapannya.


“Ikuti aku!” Rio langsung berlari ke arah yang sama dengan Candranala setelah memberikan perintah itu kepada tiga tentara infanteri yang tersisa.


Ketiga prajurit tampak diam tanpa merespon, lalu salah satunya berkata, “Apa dia benar-benar Pahlawan? Kenapa dia tidak melindungi kita dengan Sihir Perisai-nya?”


Dua rekannya mengangguk setuju, lalu menatap dua rekan mereka yang tewas akibat gagal menghindari tembakan lawan. Selain kelalaian pribadi, ketiga prajurit merasa hal ini salah Pahlawan Amarah juga.


Setelah saling melontarkan gerutuan, ketiga tentara Aliansi itu segera menyusul Rio mengejar targetnya.


**


Candranala memanfaatkan tempatnya sekarang yang ditumbuhi semak lebat untuk menyergap Rio. Candranala membidik dengan cara tubuh tengkurap, menyangga senapannya menggunakan tangan kirinya. Dia merubah ketinggian arah bidikan saat mendengar suara langkah kaki yang bisa dipastikan milik Rio. Dia mengarahkan pandangan ke atas, membidik kepala Rio.


Candranala berharap amunisi yang tersisa 60 butir mampu menembus pertahanan Rio dan bawahannya. Kemudian, pilihan terbaik setelah mengalahkan para bawahan Pahlawam Amarah tersebut adalah terus menyerang, berharap Rio mundur karena terdesak – seperti pertarungan di ibukota Kerajaan Arevelk setengah tahun lalu.


Candranala menekan pelatuknya, dan laras senapan melesatkan proyektil 7,62mm yang akan meledak ketika menembus armor tebal infanteri berat Aliansi. Satu-satunya mata yang ia miliki membuatnya payah dalam pertempuran malam, sehingga memaksa Candranala melancarkan serangan sembunyi-sembunyi dengan tingkat akurasi rendah. Hanya keberuntungan yang Candranala harapkan, selain mengeluarkan seluruh kemampuan tempurnya untuk melawan Rio.


Tapi, salah satu tangan bayangan di punggung Rio berubah bentuk menjadi perisai, menangkis proyektil yang ditembakkan Candranala, layaknya tameng logam yang nyata.


“Ap-“ Candranala segera menutup mulutnya, hampir mengeluarkan suara yang membuatnya dapat ditemukan oleh Rio dan bawahannya.


Mata kiri Candranala melotot melihat kemampuan sihir Rio, seperti sedang menyaksikan mimpi buruk nyata. Tangan bayangan itu tidak menderita efek apapun dari tembakan tersebut, lalu kembali membentuk SS2 dan mengarahkannya ke tempat Candranala berada.


Candranala bisa merasakan kedua tangan bayangan Rio sedang membidik dirinya. Candranala melompat mundur, dan semak tempatnya bersembunyi sebelumnya terbakar akibat lesatan beberapa peluru dari senapan bayangan dan lembing cahaya Pahlawan Amarah.


Rentetan tembakan kedua datang, lalu yang ketiga yang berasal dari Peluru Abadi Rio. Candranala dapat menghindari seluruh serangan yang dilepaskan Pahlawan Amarah, namun membuat dirinya di luar jangkauan menyerang. Rio dengan percaya diri berjalan ke arah Candranala, setelah menghujani tempat persembunyian Candranala hingga hangus.


Rio terpaksa menggunakan sebagian besar energi magis-nya untuk bertarung melawan Candranala pada operasi menghancurkan Benteng Girinhi agar dapat menguasai wilayah sekitarnya. Hal itu dilakukan olehnya supaya Candranala tak dapat membalas serangan, sehingga terus berlari lalu terpojok. Di sepanjang perbatasan dengan Benteng Girinhi, Aliansi telah menyiapkan 50.000 tentara dan berbagai senjata pengepungan untuk menghancurkan benteng Arevelk tersebut, dan mengepung Candranala jika pria itu melewati garis perbatasan tanpa sadar.


Candranala takut, dan sekujur tubuhnya kelelahan, tetapi wajahnya menunjukkan keyakinan.


Seluruh bawahan Rio yang tersisa mungkin menganggap Candranala yang terpojok seperti anak tikus yang lemah, namun si Pahlawan Amarah menyuruh mereka bergabung dengan pasukan utama, dan melaporkan jalannya pertempuran padanya, seolah-oleh mereka kini dilarang untuk ikut campur.


Pemandangan Rio dan bawahannya yang sedang adu mulut membuat Candranala tersenyum di tempat perlindungannya.


Kata-kata Rio saat bertemu kembali pada pertempuran ini, membuat Candranala merasakan kematian selalu mengejarnya, bersikeras membawanya pada Aliansi, namun dia bisa juga membunuhnya jika perlu.


Candranala bergumam di dalam hatinya, “Aku akan melakukan hal yang sama padamu, Rio…”

__ADS_1


Di sisi lain, Rio tidak tahu apa tujuannya berjuang, bahkan saat hari pertamanya bertempur sebagai Tentara Pelajar. Begitu pendaftaran sebagai prajurit TRIP dibuka, dia hanya mengikuti Candranala dan Jonathan mengumpulkan berkas pendataan, tanpa tahu apa yang ingin dia lindungi setelah lulus sebagai prajurit amatir. Menurutnya, berjuang bersama teman untuk pihak yang tertindas adalah pertarungan menegangkan dan mulia (pada saat itu Indonesia merupakan pihak yang diperangi).


Segalanya berubah setelah perang di dunia asal selesai, lalu Rio dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan.


Kekuatan besar yang didapatkan sebagai Pahlawan Amarah membuatnya merasa dapat melakukan apa saja dengan leluasa, dan mengancam siapapun yang berusaha mencegahnya menggunakan kekuatan. Sayangnya, dia tetap menderita setelah bertarung melawan Candranala saat misi penyerangan ibukota Arevelk.


Lalu, saat melihat gadis yang disukainya mewujudkan mimpi yakni menjalin hubungan dengan sahabatnya, Rio semakin tidak memiliki tujuan sebagai prajurit, kecuali tugas inti yang diberikan atasan padanya. Dia tidak tahu apa perbedaan dirinya dengan Candranala, dan apapun itu tidak akan membuat perubahan. Lalu, tiba saatnya dia mendapatkan kesempatan kedua sebagai prajurit terkuat di Aliansi. Itu bagus, dan kini dia merasa sangat perkasa, hanya itu yang penting.


Langit malam dihiasi hujan meteor yang indah.


Setelah beberapa saat mencari, Rio akhirnya menemukan Candranala tanpa bantuan bawahannya. Dia tahu betul Candranala sangat pintar dalam hal bersembunyi. Rio bisa merasakan hawa keberadaan Candranala melalui aura yang dipancarkan pria itu, namun bercampur dengan aura suram prajurit yang mati dalam pertempuran, memecahkan konsentrasi Rio.


Walau dia pernah kalah dalam pertarungan sebelumnya, Rio tetap memiliki keinginan bertemu dengan Candranala lagi, bertarung, dan kemudian mengalahkannya untuk pertama kali.


Mereka berdua lalu menatap langit dengan hujan bintang jatuh, tanpa melupakan tujuan masing-masing.


Meskipun sahabatnya sudah jauh lebih kuat, namun Candranala sekarang merasa sesuatu semacam tekad mengalir deras dalam tubuhnya. Dia tahu, begitu Rio datang di medan perang, Pahlawan Amarah itu akan membunuhnya dengan sukacita.


Lalu, Candranala mendengar teriakkan Rio yang mengatakan, “Kalau kau berjuang bersama Aliansi, kau tak perlu bertarung demi brengsek-brengsek buncit itu! Tinggalkan pihak-pihak yang tidak akan memujimu setelah mendapatkan kemenangan! Aku dan Aliansi akan melindungimu, dan akan memberkan semua yang kau mau. Kau senang perempuan tipe kakak-kakak yang cantik, kan? Kakakmu dan Indah akan selalu bersamamu, dan kami akan membuat kalian aman! Jadi, bergabunglah dengan Aliansi, Candranala.”


Kedua lengan bayangan di punggung Rio mengarahkan senjatanya ke tempat perlindungan Candranala, membidik pohon-pohon di sekitarnya alih-alih menargetkan pemuda tersebut. SS2 bayangan berubah menjadi kepala naga bayangan, dan tengah membuka rahangnya seperti hendak menyemburkan api dari mulutnya.


Setelah mendengar ocehan si Pahlawan Amarah, Candranala membalas dengan meludah ke samping kirinya.


“Jadi Aliansi memiliki banyak tujuan pada perang ini. Tapi, kenapa salah satu tujuan mereka adalah aku?”


Meskipun dia merupakan mesin perang hidup, namun dia tidak ingin dimanfaatkan secara berlebihan. Seluruh omongan Rio sangat manis, hingga Candranala terkejut saat Pahlawan Amarah itu mengatakan tipe perempuan favoritnya. Tawaran itu sangat menggiurkan, tapi itu tidak terlalu penting daripada mencapai tujuan walau itu berarti dia akan berjuang seperti mesin.


Dan sekarang, akhirnya, Candranala berhadap-hadapan lagi dengan Rio.


Candranala melihat sahabatnya memakai pakaian kamuflase hutan versi dirinya sendiri, dengan tambahan lambang Aliansi di dada kirinya alih-alih salah satu dari 3 matra TNI. Pahlawan tersebut menenteng SS-19 yang telah berubah ke versi magis, dengan amunisi Peluru Abadi yang tak akan pernah habis. Kedua lengan bayangan di punggung Rio kembali membentuk SS2, dan mengarah pada Candranala.


Lalu, Rio menatap Candranala yang dicari-cari oleh Aliansi setelah pengumuman pengangkatan seorang prajurit Indonesia sebagai Pahlawan Harapan tersebar. Pria itu berdiri tegap, dengan setengah bagian wajah dililit perban, dan matanya menatap dingin padanya. Pelindung diri yang dikenakan Candranala sangat rapuh, walau mampu menahan lesatan anak panah yang ditembakkan dari jarak 10 meter.


Rio meletakkan ujung jari telunjuknya pada pelatuk, dengan posisi tubuh siap menembak.


Lalu, Candranala berlari ke arah timur, namun kedua tangan bayangan Rio memanjang – untuk menangkap Candranala – tanpa Candranala duga.


Tetapi, laju lari Candranala lebih cepat dari pengamatan kedua mata Rio, dan dia menghujani Candranala dengan Peluru Abadi untuk menghentikan targetnya.


Rio menembak tanpa membidik daerah vital. Dia mencoba peruntungan, berharap satu atau dia Peluru Abadi-nya mengenai Candranala. Dia bisa saja menembak disertai mengeluarkan lembing cahaya yang akan menghasilkan efek mirim bom fosfor. Candranala tidak akan bisa menghindari serpihan yang melesat ke segala arah setelah lembing cahaya meledak, dan akan segera lumpuh jika serpihan mengenainya.


Apakah Rio sedang mempermainkan Candranala?


Tidak, Rio tidak ingin Candranala mati, atau Aliansi akan mengutuknya. Tangan-tangan bayangan Rio terus memanjang untuk meraih Candranala, menggeliat menghindari batang-batang pohon yang menghalangi.


Melihat kedua tangan bayangan Rio mengejar dirinya, Candranala berlari ke segala arah melewati pepohonan lebat. Banyaknya pohon besar di hutan ini menguntungkannya, dan jaraknya dengan kedua lengan bayangan Rio membuatnya tak akan dengan mudah di tangkap. Sesekali Candranala melepaskan dua tembakan ke arah Rio yang ikut mengejarnya, berharap serangan itu meruntuhkan moral lawannya.


Candranala segera merubah arah ketika kedua lengan bayangan Rio berubah bentuk menjadi pentungan berduri raksasa, dan terayun ke arahnya.


“Apa?!”


Serangan itu menghantam Candranala dari belakang, membuat Candranala terpental dan tak sadarkan diri setelah punggungnya menghantam batang pohon.


**


__ADS_1


(ilustrasi Rio, sumber gambar pinterest)


__ADS_2