
Prajurit Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo tidak memerlukan jaket untuk melindungi diri dari udara dingin di akhir musim dingin bulan ini. Biasanya, akan ada festival di akhir musim dingin untuk merayakan berakhirnya hawa yang menusuk tulang tersebut. Orang-orang di Benua Andzrev akan memulai masa bercocok tanam beberapa minggu setelah musim dingin, dan masa itu akan berlangsung selama sembilan bulan. Ini adalah musim dingin tersingkat sepanjang sejarah, dan sedikit menguntungkan prajurit ‘dunia lain’ yang hidup di negara beriklim tropis.
Sepanjang musim dingin mereka di dunia ini, kontingen Indonesia telah merasakan apa yang disebut ‘medan beku’ sesungguhnya. Mereka berharap tidak pernah merasakan penyiksaan yang berupa berlatih di tengah suhu beku, meski mereka dapat memakan es serut gratis sepuasnya yang berasal dari salju yang menumpuk di seluruh benteng. Hal itu memang terkesan seperti perbuatan bocah, namun itu adalah salah satu cara bagi mereka untuk sedikit mengurangi rasa kesal terhadap musim dingin pertama yang menyiksa raga dan jiwa.
Menurut beberapa tentara Indonesia yang terlibat dalam pembuatan es serut berjumlah besar dengan memanfaatkan salju yang menumpuk mengaku jika rasa salju dunia ini cukup berbeda. Meski tanpa tambahan perisa berupa sirup berperisa cocopandan dari merek terkenal, salju dunia ini terasa manis. Mereka tidak mempedulikan omelan para atasan yang memperingatkan mereka agar tidak bermain-main, sayangnya mayoritas prajurit yang dikirim ke dunia ini masih berada dalam fase dewasa awal, dan aura remaja yang menginginkan kebebasan masih terdapat pada diri mereka.
Selain itu, akhir musim dingin membuat suhu sedikit menghangat, meski dalam pelaksanaan misi pasukan tetap diharuskan mengenakan jaket. Semua itu demi keselamatan dan menjaga kesehatan prajurit TNI yang mayoritas baru pertama kali merasakan musim dingin. Alat penghangat mulai disimpan kembali di gudang, karena para prajurit seharusnya dapat bertahan di suhu sembilan derajat celcius pada siang hari ini.
“Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu.”
Sigiz – yang baru tiba di benteng Pasukan Perdamaian untuk merapatkan suatu hal dengan beberapa perwira Persekutuan. Dia berada di tempat ini ditemani Ilhiya dan beberapa prajurit pasukan angkatan udara elit Kerajaan Arevelk yang dia banggakan, meski tidak sebanding dengan jet tempur milik kontingen ‘dunia lain’.
“Seperti akan ada penyerangan dalam waktu dekat, dan mereka bersiap untuk menghadapi musuh.”
“Penyerangan?” ekspresi Sigiz berubah setelah mendengar pendapat Ilhiya, yakni berada antara kesal dan gelisah. Teknologi pasukannya hanya sebatas peningkatan pada perisai yang terbuat dari material ‘baja magis’ yang mampu menahan lesatan peluru senapan serbu dari jarak seratus meter. Meski memiliki cukup banyak meriam, namun itu tidak membuat militer negara tersebut lebih kuat dari Kerajaan Yekirnovo.
Meski masih sebuah negara baru yang belum genap berusia satu setengah tahun, Yekirnovo dengan cepat mampu menyamai kekuatan militer Arevelk. Itu karena mereka terus mengembangkan teknologi yang bernama senapan sundut yang disebut sebagai ‘meriam tangan’ sejak masih berupa wilayah bawahan Kekaisaran Luan. Meski dampak yang dihasilkan sedikit lebih lemah dari peluru meriam, jika menghadapi musuh menggunakan senapan sundut dalam jumlah besar dampak yang dihasilkan dipercaya melebihi meriam itu sendiri.
Itulah yang menyebabkan Arevelk tertarik dengan senapan sundut produksi Yekirnovo. Sayangnya, sama seperti Kementerian Pertahanan Indonesia yang menolak kerjasama dalam pembelian beberapa pucuk SS20 G2, Yekirnovo menolak untuk menjual senapan sundut mereka kepada pihak Arevelk setelah melakukan pertemuan beberapa minggu lalu.
Sigiz memang merasa sedih setelah mendapatkan hasil yang tidak memuaskannya. Namun, sang ratu Yekirnovo, Sheyn, menyetujui kerjasama pertukaran teknologi antara kedua negara. Arevelk memiliki banyak pengrajin senjata dan semacamnya, sedangkan Yekirnovo tengah kekurangan tenaga untuk memproduksi senapan sundut. Sheyn, selaku ratu serta panglima tertinggi militer negara tersebut merasa perlu menyebarluaskan senjata tersebut ke seluruh pasukan sehingga kekuatan pertahanan mereka sebanding dengan Aliansi. Kesepakatan itu termasuk pengiriman modal untuk memproduksi senapan sundut berskala besar.
“Jika itu benar, dan Tuan Nio berada dalam bahaya, kita harus segera bertemu dengan para perwira.”
Setelah Sigiz dan Ilhiya berjalan ke ruang rapat yang telah ditentukan, satu batalyon artileri yang dikirim sebagai bantuan bergerak ke titik yang ditunjuk sebagai titik pertemuan. Jarak benteng ke titik yang dimaksud hanya akan memakan waktu setengah hari jika pasukan bergerak tanpa henti dalam kondisi bahan bakar penuh. Selain satu batalyon artileri, pasukan juga mengirimkan satu batalyon perbekalan sebagai pelengkap.
Pasukan bantuan keluar dari gerbang utara benteng, dan rombongan Shyen melihat itu. Puluhan artileri derek dan swagerak terlihat seperti dibawa ke suatu tempat, dengan para prajurit mengenakan peralatan tempur lengkap. Tentu saja itu membuat Sheyn ingin cepat-cepat menghadiri rapat untuk mempertanyakan apa yang terjadi.
Dia didampingi Kambana, Jonathan, Uto dan Gozoa. Sementara Seish harus mengurus sesuatu di kamp kontingen Yekirnovo.
“Aku merasa akan ada pertempuran,” gumam Jonathan yang terlalu keras hingga Kambana dapat mendengarnya.
“Jangan khawatir, percayalah pada mereka dapat meraih kemenangan jika pertempuran benar-benar terjadi.”
Jonathan tersenyum kecil setelah mendengar kata-kata yang menenangkan dari Kambana. Itu dapat mengurangi beban pikirannya yang terus teringat dengan Nio yang seakan-akan memiliki sisi lain jika berhadapan dengan musuh. Sedangkan Uto dan Gozoa menatap mereka dengan ekspresi datar, namun di dalam hati tetap merasakan iri.
**
Para perwira ‘dunia lain’ mulai berkomunikasi menggunakan bahasa dunia ini, meski mereka masih memerlukan kamus karena mereka belum benar-benar fasih. Setidaknya, menggunakan beberapa kalimat sehari-hari menggunakan bahasa dunia ini memudahkan pekerjaan mereka serta berkomunikasi dengan perwira kontingen Kerajaan Yekirnovo dan Arevelk. Itu sebabnya mereka dapat melaksanakan rapat dengan lancar, meski seorang penerjemah masih diperlukan untuk berjaga-jaga.
Rapat siang hari ini adalah tindak lanjut dari informasi yang dikirimkan Tim Ke-12 mengenai bergeraknya puluhan ribu pasukan Aliansi menuju Benteng Hitam.
“Mereka tidak berbohong. Skuadron UAV kita juga memantau adanya perkemahan di dekat kota yang menjadi tempat Tim Ke-12 melaksanakan misi penyusupan dan pengintaian,” ucap Mayor Teguh.
(olog note: UAV bisa disamakan dengan pesawat tanpa awak. Pasukan Perdamaian di cerita ini menggunakan UAV untuk operasi patroli, atau bisa juga sebagai pesawat pengebom dalam misi beresiko sangat tinggi)
“Mereka benar-benar sesuatu, selain tidak memiliki niat untuk berdamai dengan kita,” salah satu perwira Rusia menyambung.
Ini bukan pertama kali Angga berada dalam situasi yang membuat pasukannya berada dibawah ancaman musuh. Setidaknya, saat perang melawan bangsa dunia lain sebelumnya, pria ini pernah memenangkan perang melawan musuh yang menguasai Pulau Bangka.
“Apa pasukan yang mempertahankan Benteng Hitam telah menyusun rencana untuk menghadapi mereka?”
Untuk menanggap pertanyaan Angga, Deska mencari sebuah halaman di tumpukan laporannya tentang situasi yang sedang mereka hadapi. Sebagai personel staf komunikasi, Deska dipercaya untuk tetap terhubung dengan seluruh pasukan yang ditempatkan pada beberapa wilayah, termasuk Benteng Hitam dan beberapa wilayah di perbatasan.
“Mereka mulai bergerak ke zona oranye, mengikuti strategi yang disusun Letnan Nio. Satu batalyon artileri medan juga sudah bersiap bergerak ke titik yang telah ditentukan.”
Sigiz menyambung percakapan, “Apakah akan baik-baik saja pertempuran dilakukan di zona oranye? Bukankah lebih baik mereka tetap bertempur sambil mempertahankan Benteng Hitam?”
“Yang Mulia Sigiz, musuh selalu menyerang dengan jumlah besar. Mereka selalu memanfaatkan keuntungan tersebut, dan kita harus memanfaatkan apa yang dapat memberikan kita kemenangan,” jelas Angga, serta mengatakan beberapa usulan yang dikatakan Nio jika musuh menyerang sewaktu-waktu. Salah satunya memang memerintahkan pasukan yang menempati Benteng Hitam untuk mundur ke zona oranye, lalu mengirimkan pasukan di benteng untuk menyusul dan membantu mereka.
Itu akan membuat waktu pengiriman bantuan dapat lebih cepat, yang berarti bahan bakar serta tenaga yang dikeluarkan tidak terlalu banyak. Pasukan dapat beristirahat sambil menyusun taktik selama menunggu musuh, atau bahkan mereka dapat menyerang musuh tanpa harus menunggu mereka menyerang terlebih dulu. Artileri mampu menempuh jarak paling pendek sepuluh kilometer dan paling panjang seratus kilometer. Sedangkan musuh diperkirakan berjarak sekitar sembilan puluh kilometer dari Benteng Hitam.
“Sepertinya itu taktik yang bagus, namun tidak memberikan pasukan kami kesempatan untuk menunjukkan kekuatan mereka,” keluh Sheyn yang disetujui oleh Sigiz.
“Yang diperlukan dalam perang ini adalah menyelesaikannya dengan cepat, sehingga kamilah yang cocok dalam operasi ini. Namun, kontingen Arevelk dan Yekirnovo dapat bertugas sebagai pengawas atau pertahanan terakhir,” jawab Baek-Ho yang membuat kedua ratu tersebut semakin murung, dan membuatnya tidak paham apakah ada yang salah dengan ucapannya tersebut.
“Saya paham. Jadi kalian ingin menyelesaikan perang ini dengan cepat, dan memutuskan tidak memperpanjang konflik dengan Aliansi, begitu?”
“Bukan begitu, bagaimanapun kami akan terus berjuang hingga musuh mau berdamai dengan kita. Setiap mereka menyerang, kami akan melayani mereka dengan senang hati, itulah yang diinginkan rakyat negara kami.”
Para rakyat membayar pajak, dan pasukan di dunia ini hanya menggunakan dana tersebut sebaik mungkin. Rakyat juga perlu perlindungan, dan Aliansi adalah musuh yang nyata dan pantas untuk diperangi. Itu adalah dasar mereka untuk dapat terus berjuang melindungi dunia dan negara masing-masing melalui dunia ini.
Namun, bukan hal utama yang ingin Sigiz dan Sheyn ingin dengar.
“Omong-omong, di mana Tuan Nio melaksanakan misinya?” tanya Sheyn dengan penasaran. Biasanya, perwira lapangan seperti Nio akan diperintahkan mengikuti rapat seperti yang dilakukan saat ini. Keberadaan Nio sama sekali tidak terlihat, dan seperti dugaan Sheyn…
“… Dia sedang melakukan misi penyusupan dan pengintaian di Kota Tanoe, wilayah Kekaisaran Luan. Dia dan timnya akan kembali dua hari, lebih cepat setelah mereka mengetahui jika musuh sedang berkumpul di sana,” jawab Lee Baek-Ho yang membuat Sigiz dan Sheyn terlihat gelisah.
Musuh yang merencanakan penyerangan tidak dapat dihindari, meski itu berarti harus mengeluarkan uang rakyat untuk mencegah musuh melanjutkan aksinya sesuai rencana mereka. Pasukan Perdamaian dan Persekutuan telah menyatakan diri akan mengakhiri perang secepat mungkin, meski itu harus mengorbankan banyak hal. Pasukan ketiga negara menerima dengan lapang dada fakta bahwa terdapat banyak pihak yang membenci mereka karena dana yang dikeluarkan pemerintah cukup banyak untuk membekali mereka. Pihak-pihak tersebut berkata bahwa Indonesia, Korea Utara, dan Rusia akan membuat negara miskin secara perlahan jika mereka terus melanjutkan perang. Jadi, mereka memutuskan untuk sangat berhati-hati dalam memutuskan sesuatu.
Korea Utara, Indonesia, dan Rusia membawa ribuan tentara mereka yang memperkenalkan ide dan hal-hal baru ke Arevelk dan Yekirnovo. Jadi, mereka dapat menunjukkan jika tujuan dan tugas mereka tidak hanya bertahan dan melayani setiap tantangan musuh.
__ADS_1
“Kita hanya dapat berharap jika taktik yang dibuat Letnan Nio membuahkan kemenangan bagi kita.”
“Jendral Angga, dari perkataan Anda, sepertinya Tuan Nio memang sesuatu, ya?”
“Dengan kata lain, dia salah satu prajurit yang kami harapkan dapat memberikan kemampuannya bagi Persekutuan, Yang Mulia Sigiz”
Seluruh perwira kontingen Rusia, Indonesia, dan Korea Utara mengangguk menyetujui perkataan Angga. Sebagai salah satu veteran yang berhasil bertahan hidup dari penyerangan besar pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi, pria itu berharap orang-orang Pasukan Perdamaian dapat mengambil contoh baik dari Nio.
Nio pernah bertahan ditengah pertempuran yang menakutkan selama penyerangan tiga ratus ribu tentara manusia dan monster Pasukan Aliansi. Begitu mengetahui perang selama satu minggu itu menelan banyak korban di pihak TNI, seluruh prajurit Persekutuan dengan cepat jatuh ke dalam kegelisahan.
“Para Dewata ternyata tidak salah dalam menunjuk ‘orang yang diramalkan’.”
“Yang Mulia Sigiz, apa yang Anda maksud dengan ‘orang yang diramalkan’?”
“Jendral Angga, singkatnya dia akan merubah perang ini sendirian di masa depan dengan kekuatannya sendiri.”
Memang dunia ini dipenuhi dengan berbagai hal yang hanya ada di novel bertema fantasi atau pindah ke dunia lain, tetapi mayoritas perwira Indonesia, Korea Utara, dan Rusia berusia lebih dari tiga puluh tahun tanpa pernah membaca komik dan novel fantasi. Sebagian dari mereka mungkin pernah membacakan dongen untuk anak masing-masing, namun itu hanyalah hasil dari imajinasi orang-orang dunia asal mereka. Sayangnya, mereka sedang berjuang di dunia imajinasi tersebut, bedanya segala sesuatu yang terdapat di dunia ini adalah imajinasi yang menjadi nyata.
Di sisi lain, mereka pernah mendengar tentang beberapa ramalan, dan beberapa ramalan itu telah menjadi nyata. Salah satunya berisi tentang adanya pasukan besar dari ‘dunia lain’ yang akan membantu salah satu golongan dunia ini untuk memerangi golongan lain yang berencana memerangi ‘dunia lain’ tersebut.
Mereka menyimpulkan bahwa Aliansi adalah golongan yang diramalkan memiliki rencana untuk memerangi dunia asal kontingen ‘dunia lain’. Namun, sebagian lagi hanya beranggapan jika itu hanyalah sekedar ramalan, dan kenyataan adanya pasukan kuat (kontingen Indonesia, Korea Utara, dan Rusia) di dunia ini adalah kebetulan saja.
“ ‘orang yang diramalkan’ ditunjuk langsung oleh para Dewata. Itu berarti akan benar-benar ada peristiwa besar di masa depan yang akan melibatkan dia.”
“Yang Mulia Sigiz, ramalan itu hanya menggambarkan jika kita akan terus berperang dengan Aliansi hingga waktu yang belum ditentukan. Negara kami tidak ingin perang ini berlangsung hingga bertahun-tahun.”
“Para Dewata mengatakan melalui ramalan yang mereka turunkan jika dunia ini akan memasuki ‘Periode Perang Besar’. Apakah Anda tidak menyadari sesuatu, Jendral Angga?”
Angga ‘terpaksa’ berpikir jika ramalan itu mungkin akan benar-benar terjadi, namun dalam waktu yang belum diketahui… karena ini dunia fantasi. Di sisi lain, meski dia mengaku perwira yang belum pernah menempuh pendidikan perwira, Nio memang memiliki potensi dan karir militer yang cemerlang. Jika keadaan di masa depan tetap penuh dengan konflik bersenjata, Angga berencana akan memanfaatkan setiap taktik yang Nio susun.
Selain itu, bisa saja ucapan Nio tentang ‘Perang Dunia Pertama’ yang sesungguhnya benar-benar sedang terjadi. Itu berarti, ‘Perang Dunia’ yang melibatkan kekuatan militer di kedua dunia sedang berlangsung ketika rapat ini berlangsung. Memikirkan hal itu, hampir seluruh perwira menggumamkan hal tersebut dengan ekspresi gelisah disertai keringat dingin di dahi meski ruangan ini dilengkapi AC.
“Apa itu berarti akan ada kekuatan selain Persekutuan dan Aliansi yang terlibat di perang yang Anda maksud, Yang Mulia Sigiz.”
Sheyn kemudian menyambung, “Kemungkinan besarnya, iya. Selain kita, pasti di masa depan akan lebih banyak negara yang terlibat di perang ini. Karena Periode Perang Besar akan mengembalikan kedua dunia seperti awal peradaban, dan itu adalah hal yang mutlak akan terjadi di masa depan.”
“Yang dikatakan Ratu Sheyn seluruhnya benar,” ucap Sigiz.
“Itu seperti perang akhir jaman saja,” ucap Angga dengan nada gelisah meski berekspresi tenang penuh martabat seorang jendral.
“Kenapa kita terlibat dengan perang ini?! Kenapa kita tidak langsung menyerang mereka dengan kekuatan penuh sampai menyerah, daripada terlibat di Periode Perang Besar atau apalah itu?!”
“Jika itu ramalan yang nyata, kenapa dewa dan dewi kalian tidak turun untuk membantu pasukan baik seperti kita?”
“Kami ditugaskan ke dunia ini untuk mencari dalang yang memulai perang, lalu mengakhiri perang ini secepat mungkin. Ramalan itu mungkin hanya buatan seseorang yang berfantasi sebagai dewa atau dewi!”
Sigiz terlihat menunjukkan ekspresi tidak percaya dengan apa yang dia dengar atas perkataan keempat perwira tersebut. Dia tidak dapat menyusun kata-kata yang pas benar untuk membalas perkataan mereka, namun suara tangan yang menampar meja terdengar menggema di seluruh ruangan dan mengejutkan seluruh orang. Ketika terjebak dalam situasi yang membuatnya seperti terpojok, Sigiz tidak dapat berbicara dengan benar dan memilih diam untuk saat ini.
Tiba-tiba Sheyn berbicara dengan nada tinggi seperti keempat perwira sebelumnya, “Jangan berbicara seolah para Dewata adalah sosok yang akan membodohi umat manusia! Kalian memang memiliki senjata yang mampu menghancurkan musuh dalam hitungan menit. Dan para Dewata menciptakan Periode Perang Besar agar kedua dunia memiliki kekuatan yang seimbang. Selain itu, memangnya apa yang berbeda dengan perang dan politik? Bukankah kedua hal tersebut pada dasarnya adalah sama, dimana beberapa orang atau kelompok bersaing untuk memperebutkan sesuatu?”
“Selain itu, ‘orang yang diramalkan’ benar-benar turun diantara pasukan Indonesia, yakni seorang prajurit terbaik kalian yang bernama Nio. Saya dapat menjamin jika dia dapat mengakhiri perang ini dengan kekuatan yang dimilikinya, dan Karya Dewata akan membantunya mencapai tujuannya. Jika ramalan itu hanyalah cerita yang dibuat khayalan seseorang, Arevelk akan menjadi jaminannya dan dapat kalian miliki jika semua itu adalah kebohongan,” Sigiz akhirnya dapat berbicara meski dengan perasaan gugup. Dengan begitu, mereka berdua dapat membuat orang-orang yang meragukan ramalan tentang ‘Periode Perang Besar’ tercengang, dan ‘terpaksa’ mempercayai hal yang tidak rasional di dunia mereka namun dipercayai orang-orang di dunia ini. Perkataan Sigiz dan Sheyn menegaskan pada Indonesia, Rusia, dan Korea Utara jika mereka harus bersiap pada kemungkinan terburuk perang ini.
Sambil mencoba menahan rasa malu dan kesal mereka setelah mendapatkan jawaban tak terduga dari Sheyn dan Sigiz, keempat perwira tersebut memohon diri untuk keluar dari ruang rapat dengan alasan akan mengerjakan tugas yang harus diserahkan dalam waktu secepatnya. Mereka tidak menyangka dalam rapat ini telah terjadi sebuah perdebatan.
Kemudian, sisa perwira yang masih setia menunggu hasil rapat dari Angga menatap dengan ekspresi penasaran Sigiz dan Sheyn yang mengatakan jika di masa depan akan terjadi peristiwa yang akan merubah kedua dunia. Mereka berharap peristiwa itu tidak terjadi pada waktu dekat, dan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan terlebih dahulu masalah dengan Aliansi. Itu berarti, mereka merasa penasaran jika ‘orang yang diramalkan’ adalah sosok yang nyata.
Sementara itu, meski terlihat masih muda, Sheyn dan Sigiz sama-sama memiliki aura pemimpin yang memiliki harga diri tinggi layaknya raja laki-laki. Mereka berdua memang layak dihormati, tetapi nampak menyimpan sesuatu.
Suguhan pada rapat ini berupa air mineral dengan ph sempurna, dan beberapa makanan ringan. Seluruh perwira Pasukan Perdamaian melihat kedua ratu tersebut melahap setiap suguhan yang tersedia, dan mereka terlihat senang karena kedua ratu tersebut nampak biasa saja saat memakan semua suguhan tersebut. Sementara itu, Angga menyimpan sebuah pertanyaan yang membuatnya merasa sangat penasaran.
“Maaf jika pertanyaan ini kurang sopan, Yang Mulia Sigiz dan Yang Mulia Sheyn. Menurut saya, kalian berdua sepertinya dekat dengan Nio.”
Mereka berdua menyemburkan air secara bersamaan – dengan wajah yang memerah – dan membuat Angga dan seluruh hadirin terkejut.
**
“(Bersin sepuluh kali), sepertinya ada yang membicarakan ku.”
Nio bergumam sambil menghindari setiap serangan monster berkepala kambing yang namanya belum diketahui. Ini pertama kali baginya melawan jenis monster berkepala hewan selain minotaur atau orc, dan berharap pertarungan kali ini tidak terlalu menyusahkan. Dia merasa benar-benar ada beberapa orang di luar Labirin yang membicarakan dirinya, baik itu hal baik atau hal buruk tentangnya.
“Tuan, aku senang kau masih hidup…!” Hevaz terbang dengan kecepatan tinggi ke arahnya, dan mendarat lalu berlari sangat cepat ke arahnya lalu menerjang dirinya hingga terjatuh ke belakang dengan keras.
Aksi Hevaz terhadap Nio membuat beberapa gadis menatap mereka berdua dengan ekspresi dingin yang menusuk, dan membiarkan Hassan berjuang sendirian menghadapi serbuan puluhan monster berkepala kambing yang seperti tidak ada habisnya. Pria itu berpikir jika jumlah monster-monster tersebut jauh lebih banyak dari bilangan puluhan, mungkin ratusan. Itu adalah kemungkinan terburuk, namun yang lebih buruk adalah Nio yang tidak berkutik dengan pelukan mematikan dari Hevaz.
Setelah merasa Nio tidak meronta-ronta lagi, Hevaz melepaskan pelukannya lalu duduk di sebelah tubuh Nio. Namun, Nio terlihat tidak bergerak untuk sesaat, tetapi kedua matanya terbuka dengan tatapan kosong.
“Letnan, aku harap kau tidak mati sekarang!”
“Siapa yang bilang kalau aku sudah mati, hah?!” Nio tiba-tiba menanggapi perkataan Hassan dengan teriakan juga, lalu berdiri dengan beberapa bagian tubuh sakit setelah menerima pelukan hangat yang menyakitkan dari Hevaz.
Nio segera mengeluarkan beberapa mata sumpit dari kantung rompinya, lalu memasukkannya ke dalam rongga tumbuhan semacam bambu tersebut. Karena tumbuhan tersebut memiliki karakteristik seperti bambu di dunianya, Nio menganggapnya tetap sebagai bambu daripada berdebat dengan dirinya sendiri mengenai penyebutan tumbuhan tersebut. Dia harus mengeluarkan peluru sedikit mungkin, meski dirinya telah mendapatkan bantuan. Namun, itu bukan berarti dia dapat kembali bersama Hevaz dan Hassan sekarang.
__ADS_1
Karena…
“… Maaf Tuan, aku tidak dapat menggunakan sihir teleportasi untuk sekarang. Aku memerlukan waktu sekitar satu hari hingga energi magis-ku terisi penuh.”
Nio tidak tega dengan Hevaz yang berbicara dengan wajah memelas yang menggemaskan. Saat dia melihat wajah imut Hevaz – yang usianya tidak ingin dia ketahui, Nio melihat seekor monster berkepala kambing berlari cepat ke arah mereka. Dengan cepat Nio mengangkat laras sumpitnya, lalu sebuah anak sumpit melesat dengan kecepatan tinggi setelah Nio meniup sekuat yang dia bisa.
Anak sumpit menancap di bahu seekor monster berkepala kambing yang akan menyerang Hevaz dari belakang, dan membuat monster tersebut terdengar sangat kesakitan. Dia mencengkram anak sumpit sepanjang dua puluh centimeter tersebut, dan berusaha mencabutnya. Ketika dia hampir berhasil mencabut anak sumpit yang menancap di tubuhnya, Kardas menebas dua kali tubuh monster tersebut. Gadis itu melakukannya dengan perasaan takut, namun dia berhasil menekan perasaan tersebut.
Sepertinya, mereka memasuki lantai sepuluh semakin dalam, dan membuat mereka bertemu dengan monster berkepala kambing tersebut.
“Kenapa para kabrit ini tidak ada habisnya?”
“Kabrit? Monster-monster ini bernama kabrit?” Nio menanggapi perkataan Nefe sambil sedikit tersenyum.
“Itu nama yang lucu tahu!” Hassan yang mendengarnya sedikit tertawa sambil terus melumpuhkan satu per satu kabrit yang berusaha menyerangnya.
“Tanduk mereka cukup mahal kalau dijual,” ucap Sayf sambil menebas seekor kabrit yang tertancap anak sumpit dari Nio di tubuhnya.
Kemampuan bertarung ras monster bernama kabrit itu setara dengan seorang prajurit biasa, dan itu yang membuat ‘kepala’ mereka cukup berharga. Karena tanduk para kabrit dipercaya mampu menambah stamina para prajurit, dan membuat mereka mampu bertarung cukup lama ketika berperang. Namun, karena harganya cukup mahal, hanya ksatria atau prajurit bangsawan yang mampu membelinya.
Seperti gelombang serangan tiga kali sehari Aliansi yang menyerbu benteng Pasukan Ekspedisi, para kabrit menerjang mereka tanpa henti.
Sabole dan Nefe berlari ke atas sebuah batu untuk melepaskan sihir mereka untuk mengurangi jumlah kabrit yang benar-benar berjumlah ratusan dan bukan puluhan. Dari atas batu setinggi empat meter, mereka berdua dapat melihat Sakuya menebas setiap kabrit hingga mereka berubah menjadi abu. Katana gadis itu berwarna merah membara dengan sedikit percikan api, lalu setiap tebasan membuat setiap kabrit kembali menjadi abu dan terbang tertiup angin yang disebabkan langkah kakinya.
Meski suara tembakan cukup mengganggu pendengaran, Sabole dan Nefe dengan tenang merangkai kata-kata mantra sihir yang akan mereka lepaskan. Mereka membidik puluhan ekor kabrit yang berlari mendekati medan pertarungan, mereka akan menghujani para monster tersebut dengan sihir api spesialis mereka.
Tapi.
“?!”
“Apa?!”
Ketika Nefe dan Sabole hampir menyelesaikan mantra mereka, sebuah anak sumpit melesat di atas kepala mereka berdua. Tubuh tak bernyawa seekor kabrit terjatuh di belakang mereka, dengan anak sumpit menancap tepat pada bagian matanya. Seekor kabrit tersebut sebelumnya melompat untuk menyerang mereka berdua, namun jangkauan penglihatan Nio yang lebih luas membuatnya dapat mencegah mereka berdua terluka.
“Maaf!”
Nio meminta maaf atas serangan mendadak darinya.
Sesaat kemudian, lingkaran yang dihiasi pola geometris muncul di atas beberapa ekor kabrit, lalu panah api menghujani mereka hingga menimbulkan aroma gosong yang mengganggu penciuman. Itu adalah serangan hasil kerjasama Nefe dan Sabole untuk pertama kalinya sejak mereka menjadi Penjelajah, dan efek yang dihasilkan melebihi harapan. Puluhan kabrit mampu mereka habisi dalam sekali serang, namun itu tidak menghentikan monster-monster tersebut menyerang mereka.
Hevaz terbang rendah di atas puluhan kabrit dan membiarkan beberapa dari mereka bergerak maju menuju Sakuya. Lalu, dia memulai pembantaian terhadap monster-monster tersebut dengan mudah. Seperti tidak memiliki berat sama sekali, Hevaz terlihat sangat mudah mengayunkan sabit besarnya untuk membelah setiap tubuh kabrit. Entah apa tubuh kabrit yang mudah untuk dibelah atau sabit Hevaz yang tidak pernah tumpul, bahkan Nio tidak dapat berkedip ketika Hevaz melakukan setiap aksinya.
Serangan kilat Hevaz membunuh setiap kabrit tanpa rasa sakit dan tanpa memberikan kesempatan bagi mereka untuk membalas.
Hevaz tersenyum setengah hati ketika mengetahui jika dia harus bekerja sama dengan Pahlawan Kesedihan dan Penjelajah Labirin yang berasal dari Kekaisaran Duiwel. Dia merasa tidak dapat menyerahkan sepenuhnya pertarungan ini pada pihak musuh.
Para kabrit berteriak saat Kardas dan Sayf menebas tubuh mereka dalam pertarungan mudah. Kedua gadis Penjelajah kelas petarung tersebut terus maju ke depan dan menyerang setiap kabrit yang menghalangi mereka.
Mereka terus bergerak dalam formasi berantakan, dan dibunuh dengan mudah oleh manusia yang mereka lawan. Monster biasanya tidak memiliki konsep pemimpin, dan akan menyerang siapapun yang menurut mereka adalah lawan yang lebih lemah. Sayangnya, para kabrit bukanlah lawan yang sebanding bagi prajurit manusia seperti Nio. seekor kabrit menghantam batang pohon dengan sangat keras setelah Nio menendangnya dengan sangat kuat.
Dia menggenggam laras sumpit di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menggenggam karambit untuk menghadapi setiap kabrit yang menantangnya. Dia menghindari setiap serangan horizontal dan vertikal dari para kabrit yang bersenjatakan kapak logam dan batu. Nio masih belum paham mengapa monster seperti mereka mampu membuat senjata seperti itu, namun dia berpikir jika yang perlu dilakukan sekarang adalah terus melawan hingga monster-monster itu mundur.
Dia menyayat leher seekor kabrit dengan mata karambit-nya yang tajam, dan air mancur darah tercipta dari daerah sayatan. Dia melakukan hal yang sama terhadap beberapa ekor kabrit, disertai dengan tendangan untuk menyingkirkan tubuh musuh yang menghalanginya.
Tidak mungkin Nio tidak belajar dari pengalaman berharganya bersama Pasukan Ekspedisi.
Nio sedikit tersenyum saat mengingat pertarungannya melawan pasukan monster yang dilibatkan pada penyerangan pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi.
Mereka adalah lawan yang membuat Nio merasakan pertarungan yang memuaskan dan belum pernah dia lakukan sebelumnya. Meski hanya melawan kabrit, Nio merasa mereka memiliki kemampuan bertarung seperti monster yang terlatih.
Untuk lawan yang berjarak beberapa meter darinya, Nio melumpuhkan mereka dengan mata sumpitnya. Meski tidak menimbulkan kematian bagi beberapa kabrit yang terkena serangannya, Nio menyerahkan serangan terakhir pada Sayf dan Kardas. Sedangkan Hassan melindunginya dengan menembaki setiap kabrit yang tidak dalam jangkauannya.
“Aaaaaaaaaaaarrrrrgggghh!”
Terdengar suara teriakan lagi yang membuat mereka menghentikan apa yang mereka lakukan, dan teriakan tersebut kembali terdengar. Nio tetap berdiri di tempatnya setelah mendengar teriakkan yang membuat perasaan tidak nyaman, namun seekor kabrit merebut dengan cepat laras sumpit dari tangannya dan mematahkannya di depannya. Nio tidak bisa menanggapi provokasi dari mereka, dan menebak-nebak sumber suara teriakan yang didengarnya.
Sesaat kemudian, suara langkah kaki yang berat membuat tanah yang mereka pijaki bergetar. Mereka yakin sesuatu yang besar sedang mendekat, seperti monster berukuran besar atau semacamnya. Para kabrit terlihat melarikan diri dan medan pertarungan dan bergerak ke arah bunyi teriakan.
“?!”
Baik Nio dan Hassan – yang berasal dari dunia lain – terlalu terkejut untuk mengucapkan sepatah kata pun setelah melihat apa yang muncul di dekat mereka. Sedangkan para gadis bereaksi dengan memasang ekspresi ketakutan yang jelas, kecuali Sakuya dan Hevaz.
“Monster apa itu?” Nio bertanya dengan suara lirih.
“Raja minotaur,” ucap Nefe, Kardas, Sabole, dan Sayf bersamaan dengan wajah ketakutan.
“Sepertinya dia agak kuat untuk dihadapi,” Nio berkata dengan nada bercanda sambil menatap lurus ke arah minotaur setinggi dua meter setengah yang muncul.
**
__ADS_1
(artileri swagerak, sumber gambar pinterest)