
“Hei, hei! Mau ke mana kamu, Nio?”
Nio mendongak kaget saat mendengar suara seorang perempuan, yang baru saja turun dari mobil operasional salah satu stasiun TV swasta. Dua orang rekan Sonia ikut turun, dan wajah anggota tim jurnalis tersebut tampak siap melakukan kerja sama dengan Nio dalam rangka menemukan informasi mengenai sejumlah kasus.
Pria yang bertugas sebagai juru kamera, pengemudi, dan operator komunikasi serta komputer tim bernama Buyung. Sedangkan perempuan berperan menyusun jadwal, asisten juru kamera, dan asisten ketua tim, Sonia, dia bernama Upik. Kedua rekan Sonia menunjukkan ekspresi pada Nio bahwa tentara yang akan bekerja sama dengan mereka seperti preman pasar. Tetapi, mereka tahu jika di balik maskernya, Nio menunjukkan wajah tersenyum dan memiliki kesan baik pada tim jurnalis yang dibenci sejumlah pihak.
“Apa kita akan melakukannya sekarang?”
Tim jurnalis menatap rumah di samping dengan Nio yang keluar dari dalam rumah dalam suasana tidak enak, dan Sonia bertanya, “Tapi, kamu sepertinya punya hal lain yang harus dilakukan, ya?”
“Tidak ada, tapi aku perlu menyusul Nike dan Kak Tania. Mereka berbelanja bersama para gadis dari dunia lain,” jawab Nio.
Sonia menanggapi perkataan Nio, “Kamu khawatir? Bukannya Kompi 406-32 setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, ada di setiap sudut kota ini?”
Mata Nio setengah menyipit, seolah-olah dia merasa gelisah terhadap daya belanja para gadis. Dia menelan ludah hingga jakunnya bergerak naik turun, khawatir jika tiba-tiba pihak bank mengirimkan tagihan padanya dalam jumlah mustahil untuk ia bayar dengan keuangannya saat ini.
“Kamu tidak perlu khawatir. Jika kasus ini kita pecahkan, lalu disebarluaskan, dan menjadi berita besar, kami akan membagi royalti denganmu,” ucap Sonia dengan wajah tanpa ragu, begitu pula dengan Buyung dan Upik.
Royalti? Bahkan Nio sendiri ragu jika jurnalis lebih menyukai cara bersih dalam mendapatkan uang. Antara uang yang dijanjikan dan kasus yang akan diselidiki, Nio was-was dengan keselamatan dirinya, orang-orang terdekat, dan tim Sonia jika kasus yang akan diperiksa memiliki risiko tinggi. Sering kali, ada beberapa kelompok yang tidak menyukai kebenaran terbongkar dan disebarluaskan demi mempertahankan kekuasaan mereka di suatu organisasi, bahkan pemerintahan negara sekalipun.
Gadis yang tidak pernah ia ajak bicara sebelum Nio membebaskan Sonia dari negara musuh yang menawannya, tiba-tiba meminta tolong padanya. Nio yakin, dalam menjalankan seluruh tugasnya, Sonia juga melakukan pencarian terhadap adiknya, Indah.
Nio menuruti permintaan Sonia untuk mempercayakan keamanan para gadis pada kompi pengaman Garnisun Karanganyar tersebut, “Yah, kita tidak akan membicarakan pekerjaan di sini kan? Bawa mobil kalian masuk, kita rapatnya di rumahku saja.”
“Woke!” Buyung mengacungkan jempolnya, dan langsung melompat ke mobil operasional untuk diparkirkan di halaman rumah Nio. Sedangkan Upik dan Sonia berjalan di belakang Nio.
Nio masih ragu jika kasus yang ingin dipecahkan kelompok jurnalis tersebut bukanlah masalah sepele, seperti anak mencuri uang ibunya untuk bermain di warnet atau rental PS. Sesuatu mengatakan padanya bahwa mundur bukanlah pilihan yang baik saat ini.
Dia menggelengkan kepalanya. Jika dia berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Indah, Nio merasa tidak enak dengan Sonia. Namun, jika gadis itu mengetahui jika adiknya menjadi musuh Indonesia, Nio tidak bisa membayangkan reaksi yang ditunjukkan Sonia.
Memimpin jalan bagi tim pencari berita, Nio mendorong pintu ruang tamu yang sudah sepi. Dia melihat Arunika duduk di sofa, menatap sedih surat dari kedua orang tua mereka yang beberapa tahun lalu sempat merubah hubungan mereka berdua. Begitu Arunika menyadari keberadaan Nio dan tiga tamu baru, dia bangkit dan mendekati mereka.
Nio melihat surat yang digenggam Arunika, dengan kemungkinan didapatkan dengan menyelinap ke kamarnya. Nio tidak tahan dengan perasaan sesak di dadanya akibat semua pembicaraannya dengan Arunika beberapa menit lalu, dan mengatakan pada Arunika, “Aku punya tamu. Mereka akan mendiskusikan beberapa hal denganku.”
Namun, reaksi yang ditunjukkan Arunika tidak dipahami Nio. Gadis itu menunduk, seolah ingin melanjutkan pembicaraan tadi yang akan menambah sakit pada perasaan Nio.
Untuk beberapa hal, Nio tidak bisa menahan luka di hatinya. Luka akibat membunuh tentara musuh, melihat kesengsaraan warga sipil negara musuh, penyiksaan musuh terhadap tawanan dari Indonesia dapat sembuh seiring berjalannya waktu. Lalu, bagaimana dengan menyembuhkan luka pada hati dan mental jika penderita telah mencapai tahap ‘hampir’ tak tertolong?
Sonia merasa ada kecanggungan antara Nio dan Arunika, sehingga dia bertanya, “Anu… maaf, apa kami datang di waktu yang tidak pas?”
Arunika menggelengkan kepalanya sebelum Nio yang menjawab pertanyaan Sonia, “Tidak, tidak sama sekali. Aku Arunika, kakak Nio.”
Sapa dari Arunika terdengar biasa saja, dan gadis itu mengulurkan tangan pada kelompok pencari berita. Mereka agak terkejut dengan reaksi Arunika, dan menerima perkenalan itu dengan sedikit ragu.
“Eh, ya, kami tim jurnalis dari TV Satu. Saya Sonia. Rekan laki-laki saya namanya Buyung, dan yang perempuan Upik.”
“Silakan masuk. Maaf agak berantakan…” Arunika menekan tombol pada remote yang diletakkan di atas meja. Robot pembersih lantai berbentuk bundar tiba-tiba muncul, dan menyedot debu pada seluruh permukaan lantai.
Penyambutan ramah Arunika tidak lain adalah perilaku yang dia perlihatkan ketika menerima tamu atau berhadapan dengan orang lain.
“Maaf, sebentar lagi akan dirapihkan…” kata Arunika.
__ADS_1
“Oh, tidak perlu. Sebenarnya…” Sonia berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya,
“Sebenarnya, kami akan melakukan pembicaraan tentang sebuah pekerjaan hanya dengan Nio. Maaf jika tidak sesuai perkiraan mu.”
Nio dan Arunika bertukar pandang, dan Nio diam-diam mengisyaratkan Arunika untuk keluar. Permintaan itu membingungkan bagi Arunika, tapi dia tidak bisa menolak permintaan orang yang tampaknya akan melakukan pekerjaan besar. Dia mengangguk setuju pada permintaan Sonia.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan berkunjung ke rumah Nike,” ucap Arunika.
“Terimakasih atas kerjasamanya…” ucap kelompok wartawan serempak.
Begitu dia yakin Arunika benar-benar menuju rumah Nike, dia mempersilakan tim pemburu berita. Mereka duduk dengan nyaman pada sofa begitu Nio meminta mereka bersikap santai.
“Dia pernah menjadi guru Indah, kan? Aku tidak menyangka dia kakakmu. Tapi, kalau kulihat dari wajahnya, dia mirip dengan cucu pemilik perusahaan amunisi swasta terbesar di Indonesia.”
Nio membenarkan perkataan Sonia.
Antara pertemuannya dengan orang-orang dan organisasi terkenal di Indonesia, Sonia cukup tertarik dengan keluarga Supardi yang berhasil menjadi perusahaan pertahanan swasta terbesar di negara ini. Berdiri di depan cucu salah satu orang terkaya selalu memalukan bagi rakyat jelata seperti Sonia sehingga sering membuat napasnya terengah-engah saat melihat jumlah kekayaan keluarga tersebut. Dan menurut rumor, Arunika akan membahas lamaran pernikahan dengan anak mantan Menteri Pertahanan. Walau hal tersebut dapat dijadikan berita terkini dengan mewawancarai Arunika secara langsung, namun dia tidak ingin menunda pekerjaan utama.
Nio menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya dari masalah yang mengganggu bernama lamaran pernikahan Darsono pada Arunika.
“Jadi, kasus apa yang ingin kita pecahkan?”
Seolah-olah dia adalah agen negara, Nio bertanya seperti itu.
Sonia dan Upik mengeluarkan sejumlah dokumen dari tas masing-masing, sementara Buyung menyiapkan laptop miliknya di atas meja. Mereka tampak penuh persiapan, dan berencana menemukan berita besar bagi negara ini.
“Kau tahu beberapa kasus besar pada masa perang seperti proyek ‘Obat Kuat’ yang melibatkan Menteri Pertahanan masa itu, Desa Bacem, dan pembantaian tentara musuh yang sudah menyerah?”
Mendengar ucapan Sonia “Pembantaian tentara musuh yang sudah menyerah”, Nio memegangki keningnya dan berkata, “Ya. Itu semua kasus yang bahkan pemerintahan sekarang belum dapat memecahkannya.”
Setelah dia membunuh tentara musuh dengan ragu dan takut, diperparah sejumlah rekan seperjuangan yang mati dengan perlahan dan menyakitkan akibat proyek untuk menjadikan TNI mesin perang tanpa kenal takut dan lelah, Nio harus hidup dengan kenangan kelam yang terlalu menyakitkan untuk diingat lagi hari ini. Cara dia mampu menyembunyikan tekanan mental akibat melihat rekan mati, kehilangan tangan dan mata kanan, terpanggang oleh semburan api Wyvern pasukan musuh adalah hal misterius yang membuat peneliti nasional penasaran.
“Katanya, tidak ada yang bisa mendekati Desa Bacem. Kudengar, polisi dan intelejen yang dikirimkan ke sana tidak pernah kembali. Tapi, desa itu memang diisi manusia biadab," kata Nio.
“Kamu tahu tentang rumor Desa Bacem?” tanya Upik setelah dia menyadari Nio mengatakan seolah-olah pria itu mengetahui rahasia kasus tersebut.
Jawaban Nio hanya dua anggukan pelan.
Empat orang rekan Nio dibujuk dengan kata-kata manis bahwa mereka akan menjadi ‘tentara super’, sehingga dapat mengalahkan banyak musuh dari dunia lain lalu berakhir sebagai pahlawan. Akhirnya, mereka jatuh ke takdir yang tragis. Begitu proyek Obat Kuat dimulai, sejumlah tikus percobaan bertarung seperti tentara Jerman masa Perang Dunia 2 setelah mengkonsumsi Pervitin. Setelah bertarung sebagai manusia super selama beberapa hari, efek samping Obat Kuat akhirnya muncul sebagai bencana.
Namun, tidak ada pihak yang bersedia menolong para tentara muda setelah mereka dibodohi ‘pemilik’ mereka. Orang-orang yang dilindungi para prajurit diharapkan membuka tangan dan membantu mereka. Sayangnya, rakyat yang dimintai tolong menutup pintu rapat-rapat, melempari para ‘tentara super dadakan’ dengan batu, menghujani mereka dengan kata-kata kotor dan penolakan kasar. Akhirnya, senjata yang seharusnya digunakan para pejuang untuk melindungi negara dan mempertahankan diri, digunakan sebagai alat mengakhiri hidup daripada menderita akibat kepercayaan terlalu tinggi mereka terhadap atasan.
“Kami dipaksa oleh ‘dia’ untuk tutup mulut, walau aku tidak tahu alasan dia memaksa kami melakukan itu.” kata Nio dengan nada mendalam. “Karena itulah, aku memiliki kebencian khusus terhadap Mayor Darsono.”
“Kau membenci dia?” tanya Buyung dengan wajah terkejut, walau dengan pengakuan Nio ada beberapa jalan keluar untuk sejumlah kasus.
“Ya. Tapi, aku tidak bisa apa-apa setelah tahu kakakku akan menikah dengan dia. Aku yakin kalian tahu alasannya. Aku tidak memiliki kekuasaan cukup untuk menentang mantan Menteri Pertahanan dan salah satu orang terkaya se-Indonesia. Walau melawan diperlukan, rasanya tanpa uang dan jabatan tinggi orang biasa sepertiku tidak bisa melakukan apa-apa.”
Setelah Nio selesai berbicara, Sonia dan kedua rekannya mengangguk lemah menyetujui perkataannya.
Hanya dengan kata-kata Nio, berita tentang orang-orang terkenal mendapatkan kebebasan atau potongan masa hukuman yang tak masuk akal setelah melakukan pelanggaran hukum membuat para pencari berita di rumah Nio mengernyit. Tragedi semacam itu seolah-olah terus berlanjut seperti lingkaran setan, hingga seluruh manusia memiliki uang untuk mempermainkan hukum yang mereka buat sendiri.
__ADS_1
“Kalian tahu kalau semua kasus itu memiliki risiko tinggi?” tanya Nio, dan dijawab anggukan pelan oleh mereka bertiga.
“Karena itu, aku pikir meminta bantuan orang militer sepertimu pilihan yang tepat,” Sonia menanggapi dengan nada penuh harap kepada Nio.
Nio berjalan ke arah kamarnya, membuat ketiga pemburu berita saling memandang untuk menemukan jawaban. Tentu saja Sonia dan kedua rekannya hanya menggeleng sebagai tanggapan tatapan penuh tanda tanya mereka, dan jawaban mungkin akan didapatkan setelah Nio membuka sebuah koper hitam yang belum diketahui isinya.
“Kalau kalian tetap ingin melanjutkan perburuan berita tentang kasus-kasus itu…”
Nio membuka koper hitamnya, dan memperlihatkan isinya yang membuat mereka terpesona. Dua buah pistol 9mm beserta 6 magasin cadangan, sebuah pistol mitraliur 9mm dengan 3 magasin, dan sebuah senapan serbu karabin 5,56mm dan 3 magasin cadangan. Jelas barang-barang tersebut sangat dibatasi peredarannya, bahkan dikalangan militer sekalipun.
Masyarakat umum tidak diijinkan membawa senjata pertahanan diri walau di masa perang. Hanya tentara dan penegak hukum yang diijinkan berjalan-jalan di depan umum sambil menenteng senjata api ketika sedang bertugas, dan akan kembali disimpan dalam gudang ketika libur atau tidak dalam keadaan mendesak.
“Ini semua senjata ilegal,” ucap Nio ketika dia mengambil sebuah pistol, memasukkan magasin ke dalam gagang, lalu mengokangnya sehingga pistol siap digunakan sebagai senjata pembunuh.
“Nio, jadi kau pernah terlibat dalam pasar gelap?”
Nio menanggapi pertanyaan Sonia dengan senyuman tanpa rasa berdosa. Nio mengetuk beberapa kali layar di ponselnya, dan memperlihatkan pesan bahwa ‘pesanan’ tambahan akan segera tiba. Nomor yang tertera diberi nama ‘mbak olshop’, namun tidak jelas pesanan yang dimaksud. Mata Nio menunjukkan bahwa dia sangat tenang bertransaksi di dalam perdagangan ilegal.
“Kamu berasal dari Kompi 406-32, kan? Kenapa tidak meminta kompi-mu mengirimkan senjata daripada membelinya di pasar gelap?” Sonia bertanya lagi.
Nio memperhatikan keheranan para pencari berita tersebut, walau mereka mengangkat senjata pilihan masing-masing dengan mata berbinar. Sebagai tentara yang melakukan transaksi di pasar gelap, dia dengan bangga mengatakan, “Walau sedikit lebih mahal daripada harga normal, aku memesan supaya senjata-senjata itu memiliki spesifikasi di atas militer. Mereka benar-benar tampan, kan? Maksudku, senjata-senjata itu bisa digunakan oleh warga sipil tanpa latihan khusus.”
Nio benar-benar tenang walau ada risiko besar jika transaksi gelap-nya diketahui. Mereke bertiga bekerja tanpa perlindungan pengawal, sehingga memburu berita tentang kasus besar memerlukan pengamanan pihak tertentu, misalnya Nio dari militer. Intinya, keselamatan dan pembongkaran kasus tergantung pada bantuan Nio.
“Apa kamu membeli semua ini jika sewaktu-waktu kamu diperintahkan melakukan misi tertentu?” tanya Upik yang memegang pistol mitraliur.
“Tidak. Aku membeli senjata-senjata itu untuk pertahanan diri. Apa masalahnya, selain harga yang sedikit mahal dibanding membelinya di pasar resmi?”
Kemudian, setelah jeda beberapa detik, Nio menunjukkan ekspresi serius dan mengatakan, “Untuk memecahkan kasus-kasus yang kalian ajukan, ada banyak pihak yang berusaha menghalangi bahkan tak segan-segan menghabisi siapapun yang berpotensi membongkar rahasia mereka. Kalian ingin bantuanku, kan? Tapi, aku tidak jamin akan melakukan pekerjaan tanpa meninggalkan noda.”
Nio tetap memikirkan keselamatan dirinya dan semua orang yang mengenal dirinya. Sekelompok warga sipil yang meminta bantuan tentara, membuat kondisi tersebut tampak seperti permintaan klien terhadap perusahaan tentara bayaran. Sering kali tentara bayaran yang disewa akan mendapatkan masalah yang tidak dibicarakan oleh penyewa. Tetapi, meskipun Nio tahu dia akan berhadapan pihak-pihak berkuasa, Nio merasa membantu menangani berita besar untuk disebarluaskan kepada publik, walau berita tersebut terkesan memperlihatkan sisi buruk pemerintahan sebelumnya bahkan terkesan gelap.
“Aku tidak akan bertanya lagi tentang sumber senjata-senjata ini. Sekarang, mari kita bicara tentang pekerjaan,” ucap Sonia.
Nio mengembalikan seluruh senjatanya, dan memperhatikan setiap permintaan Sonia dan rekan-rekannya.
“Jadi Nio, kamu pernah menjadi ‘kelinci percobaan’ untuk proyek anggota tubuh buatan bagi TNI, kan?”
Pertanyaan itu merupakan kejutan bagi Nio yang telah kehilangan tangan buatan, dan membuat dirinya tersadar walau perangkat tersebut hanya prototipe.
“Kenapa dia tahu?” Nio bertanya-tanya di dalam hati. Mungkin karena militer dan pemerintah sengaja menyebarkan berita bahwa uji coba pemasangan anggota tubuh buatan bagi tentara yang kehilangan organ sukses, walau terdapat sejumlah kekurangan yang masih disempurnakan.
“Apa pemerintah berencana membuat proyek baru untuk TNI?” tanya Nio, karena pembicaraan pasti akan mengarah pada hal itu.
Sonia menjawab, “Entahlah. Tapi, setelah proyek ‘Obat Kuat’ gagal, ada informasi yang bocor dan beruntung aku yang mendengarnya, tentang proyek penciptaan tentara super selanjutnya.”
“Penciptaan tentara super selajutnya?” Nio menganggap jika proyek itu tentang pembuatan obat khusus hasil penyempurnaan dari ‘Obat Kuat’ yang telah menyebabkan banyak korban.
Lalu, Buyung memperlihatkan pada Nio layar laptop miliknya, dan tampak artikel yang membahas mengenai proyek lanjutan untuk menciptakan tentara super, “Katanya, proyek lanjutan itu tidak dipegang perusahaan BUMN, tapi perusahaan pertahanan swasta terbesar di negara ini,” kata Buyung.
“Perusahaan milik keluarga Arunika?” tanya Nio.
__ADS_1
Upik menanggapi Nio yang bertanya-tanya, “Bukan. Perusahaan keluarga Supardi khusus membuat berbagai jenis amunisi. Ada perusahaan pertahanan swasta yang jauh lebih besar, dan berpotensi menyaingi perusahaan pertahanan BUMN dan luar negeri.”
Nio mengangguk dengan ekspresi muram. Seperti dugaannya, kasus-kasus yang ingin dipecahkan Sonia dan rekan-rekannya pasti akan menyebar hingga hal yang belum Nio ketahui.