
5 Februari 2321, pukul 00.14 WIB.
**
Di ruangan Penelitian Gerbang.
Sepertinya tempat ini tidak pernah sepi dan selalu ada tim yang memantau Gerbang yang hari ini bergerak 70 km dari tempat asalnya.
Meski beberapa personil terlihat tertidur di meja kerja masing-masing dengan keadaan yang beragam, namun sepertinya beberapa orang tidak akan membiarkan tempat ini sepi.
Mereka yang masih terjaga dengan mata yang memerah dan kantung mata yang muncul masih mengendalikan pesawat tanpa awak untuk memantau pergerakan Gerbang dan pasukan yang mengawalnya.
Bahkan Komandan tempat ini juga masih terlihat terjaga dengan 10 gelas kertas ada di atas meja kerjanya. Panggil saja dia Kopral Yanto, Komandan tim Penelitian Gerbang.
Namun asupan kopi yang berlebihan yang dia minum sepertinya tidak dapat mengalahkan rasa kantuknya. Sesekali dia tersentak karena mencoba untuk tertidur namun tubuhnya menolak untuk melakukannya.
“Komandan, lebih baik kau tidur saja kalau ngantukmu sudah tak tertahankan,” ucap salah satu bawahan Yanto.
“Tidak mungkin, bisa saja kalian meninggalkan pekerjaan untuk bermain game di komputer masing-masing,” jawab Yanto sambil membenarkan posisi duduknya.
“Yah, gagal mabar deh,” keluh bawahannya yang lain.
Anggota tim yang masih terjaga tertawa kecil karena beberapa anggota tim yang berencana bermain game bersama harus gagal karena si Komandan yang masih terjaga.
“Eh, ada apa?” ucap anggota yang tadinya tertidur dan kemudian tiba-tiba terbangun karena suara tawa rekannya.
“Tidak ada apa-apa kok, lanjutkan saja tidurmu. Subuh masih lama,” jawab rekannya yang duduk di sampingnya.
“Kalau sudah waktunya bangunkan aku ya?”
“Siap.”
Kemudian dia kembali meletakkan kepalanya di atas meja kerja dan kembali melanjutkan tidur.
Rekannya yang tadinya tertawa mulai kembali ke ekspersi awal yang tegang dan cemas. Karena candaan yang tadi terdengar mulai tergantikan dengan layar monitor yang menampilkan spiral ungu raksasa yang bergerak ke arah Pulau Jawa.
Beberapa saat kemudian seorang anggota tim perempuan membawa nampan berisi penuh dengan gelas kertas dan sebuah teko yang pastinya asupan kopi saat ini.
Dia kemudian meletakkannya di meja yang dapat dijangkau seluruh anggota tim.
Anggota tim yang masih terjaga berebut untuk menambah asupan kopi mereka. Meski mata mereka sudah memerah dan hampir tertutup, namun tugas meneliti dan mengawasi pergerakan Gerbang merupakan tugas yang bisa dibilang sangat penting.
Karena tanpa mereka tidak mungkin seluruh warga Indonesia mendapatkan kabar terkini tentang pergerakan Gerbang, kecuali warga yang wilayahnya dikuasai pasukan dunia lain.
**
Di tempat pelatihan calon PPK.
__ADS_1
Para prajurit calon PKK malam ini dapat tidur dengan tenang dan nyeyak karena tes yang akan mereka hadapi nanti tidak seberat tes yang sudah mereka lakukan sebelumnya.
Tes yang akan mereka hadapi nanti adalah tes bela diri.
Terutama di barak prajurit laki-laki, semuanya tertidur dengan posenya masing-masing. Meski beberapa ada yang tidur sambil mendengkur dan itu mengganggu prajurit yang lain.
Sementara itu Nio terlihat tertidur dengan mulut terbuka dan tangan menutupi perut yang tak tertutupi kaosnya.
Sesekali dia menggaruk-garuk perutnya saat masih dalam keadaan tertidur.
Namun saat seluruh orang sedang tertidur, terlihat sebuah bola putih bercahaya putih terbang mengelilingi ruangan ini.
Sesekali dia menabrak ranjang tingkat yang membuat orang yang menempati terkejut dan terbangun. Benda putih itu menghilang dan muncul kembali saat orang yang terbangun kembali tidur.
Benda putih itu terbang seperti mencari seseorang yang berada di ruangan ini. Karena benda itu berhenti seperti memeriksa orang yang sedang tertidur.
Tapi benda itu ‘hinggap’ di atas tubuh Nio yang membuatnya mengerang seperti bermimpi sesuatu.
“Ah…, jangan disitu. Ya, ya lanjutkan. Itu… sangat enak kok…, ah…, jangan bagian bolanya” ucap Nio yang masih dalam keadaan tertidur sambil menunjukkan wajah ‘kenikmatan’.
Di tengah Nio merasakan ‘kenikmatan’ itu, benda putih tersebut tiba-tiba berubah wujud menjadi sesosok perempuan yang juga serba putih.
Mulai dari rambut, pakaian dan kulit yang terlihat putih. Tapi pada bagian rambut dari pada putuh mungkin lebih tepat berwarna perak. Namun pada matanya memiliki warna yang berbeda, yaitu merah.
Pakaian yang ia kenakan merupakan ‘style’ yang para ibu-ibu biasa mengenalnya dengan sebutan ‘daster’.
Dia duduk di atas Nio tanpa membangunkannya, bahkan Nio terlihat masih bisa bergumam sesuatu tentang mimpinya seperti tidak merasakan jika ada seorang perempuan yang duduk diatasnya.
“Apa benar dia orang yang dimaksud?” ucap perempuan ini dengan bukan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa yang ada di dunia ini.
Bahkan jika orang Indonesia berbicara dengan bahasa yang digunakan perempuan ini bisa dipastikan akan terjadi hujan yang keluar dari mulut.
Lupakan tentang hal itu….
Perempuan itu mendekatkan wajahnya ke wajah Nio hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
“Ah, jangan dekat-dekat…, aku masih sensitif tahu…,” ucao Nio dengan tiba-tiba yang mengejutkan perempuan ini.
Saking terkejutnya perempuan ini langsung menampar pipi Nio. Meski terdengar suara tamparan yang cukup keras namun hal itu belum cukup membuat Nio terbangun.
Namun yang terjadi sebaliknya, Nio terlihat tersenyum penuh kenikmatan.
“Pasti Tuan salah memilih orang. Kenapa dia harus memilih orang yang seperti ini ?” kata perempuan ini dengan menunjukkan wajah jijik kepada Nio yang masih terlihat ‘kenikmatan’.
Dari perkataannya, perempuan ini seperti memiliki tujuan tertentu pada Nio. Tapi siapa yang tahu.
“Siapa kau…?” kata Nio dengan lemas dan mata yang terbuka sedikit.
__ADS_1
“Ku- kuntilanak…!” teriak Nio yang seketika membangunkan seluruh orang.
Seseorang menghidupkan lampu setelah terbangun karena teriakan Nio. Seluruh orang memusatkan pandangan kearah Nio yang masih terkejut.
“Kenapa kau?” tanya Rio dengan nada lemas.
“Ta-tadi ada orang yang duduk diatasku, seorang perempuan,” jawab Nio dengan ketakutan dan keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya.
Perempuan itu sayangnya sudah tidak ada di tempat sebelumnya. Dan seluruh orang mengira jika yang dikatakan Nio hanya bohong saja.
“Ketindihan mungkin dia,” ucap salah satu orang yang kemudian kembali membungkus dirinya dengan selimut.
Rio juga akan melanjutkan tidurnya karena hari yang masih dini hari. Namun dia tiba-tiba terkejut dengan keadaan Nio sekarang.
Terkejut mungkin bukan kata yang pas karena Rio juga terlihat tersenyum.
“Kau ngompol…?” tanya Rio sambil menunjuk bagian bawah Nio.
“Hah!?” jawab Nio dengan terkejut sambil memeriksa celananya.
Bukan hanya celananya saja yang basah, tapi kasur dan selimut yang dia gunakan juga sebagian basah.
Nio mencium selimut yang dia gunakan untuk memasikan baunya. Namun bukan bau pesing yang ia cium, melainkan hal yang ‘lain’.
“Bukan pipis kayaknya,” kata Nio dengan wajah cemas.
“Lalu apa kalau bukan kencing?” tanya balik Rio.
“Kayaknya aku mimpi basah.”
**
Sementara itu, perempuan yang tadi mengganggu Nio tidur berada di tempat lain, tepatnya bukan di Bumi. Di tempat ini juga ada seorang perempuan yang juga serba putih, kecuali bagian matanya.
Namun perempuan yang satu ini terlihat lebih ‘dewasa’ dibanding perempuan yang satunya. Bisa dibilang dia terlihat seperti seumuran anak SMP.
“Apa benar dia orang yang kita cari tuan?” kata perempuan yang tadi mengganggu Nio.
“Ya, karena aura yang dia miliki berbeda dengan yang lain,” jawab ‘atasan’ perempuan ini.
“Tapi dia sepertinya bukan orang yang normal.”
“Karena itu memang benar.”
“Maksudku dia seperti orang cabul atau semacam itu.”
“Kalau itu biar kita lihat dulu.”
__ADS_1