
Yang ‘mereka’ inginkan hanyalah kebanggan dan kehormatan, dengan cara mengorbankan orang lain untuk mendapatkannya.
**
Sebuah unit campuran kavaleri dan infanteri sebesar kompi Pasukan Perdamaian yang ditempatkan di salah satu Zona Hitam di Kerajaan Yekirnovo dalam kondisi berantakan, hampir hancur.
“Komandan kompi ke seluruh prajurit … atau semua orang yang mendengar permintaan ini…!”
Komandan unit memegang radio komunikasinya dan gemetar saat berbicara, dengan seorang bawahannya yang terpenggal di sampingnya. Meski begitu, dia berhasil membalaskan kematian bawahannya dengan menembak mati seorang tentara Aliansi dengan senapan anti-material yang seharusnya digunakan untuk membunuh tank tempur utama.
Serbuan pasukan kavaleri Aliansi yang bersenjatakan senapan SP-1, ditambah infanteri yang bertarung menggunakan tombak panjang 5 meter dan pedang biasa, dengan total kekuatan 80.000 prajurit menghancurkan pos yang diperjuangkan oleh kompi gabungan Pasukan Perdamaian. Bantuan dari Yekirnovo dipastikan akan tiba sangat lambat, sehingga mereka berharap Markas Pusat mengerahkan pasukan penyelamat.
Bantuan dari pusat adalah satu-satunya harapan jika mereka tetap ingin berjuang.
Bunker senapan mesin dan senjata tempur infanteri, serta tank ringan, dihancurkan dengan brutal oleh monster-monster dan infanteri musuh yang bertempur dengan gila. Hal itu adalah kejutan yang mengerikan. Komandan kompi menyeret tubuh bawahannya yang sekarat, dan membaringkannya di balik sebuah batu. Dirinya mengintip dari balik batu pertarungan brutal yang dilakukan musuh.
Dengan bersandar di batu bersama bawahannya yang sekarat, komandan kompi berusaha membiarkan matanya tetap terbuka dengan menderita. Teriakkan bawahan, dan bawahan yang terbunuh harus disaksikan dengan penuh kesadaran olehnya. Darah yang mengalir dan menggenang menciptakan warna merah gelap, yang bahkan tetap terlihat dalam malam yang kelam dan gelap. Musuh yang dipanggang menggunakan senjata penyembur api menciptakan aroma busuk, dan pemandangan mengerikan tubuh gosong tentara musuh yang terbakar.
“Disini komandan kompi gabungan garnisun Yekirnovo 3, harap berikan jawaban!”
Sebagian besar prajurit terbunuh dalam pertempuran sekarang, dia tidak tahu apakah saluran radio komunikasinya diterima prajurit atau unit lain yang berada dekat dari medan perang. Kompi yang dia pimpin benar-benar dihancurkan, di tangan musuh yang masih menggunakan taktik dan senjata primitif.
Aliansi yang semakin kuat bukanlah kebohongan, dan pemimpin mereka justru membual jika satu kompi infanteri mampu menguasai sebuah benteng musuh dalam waktu lima menit. Pos yang diperjuangkan oleh sebuah kompi gabungan tiba-tiba diserbu oleh pasukan musuh dengan kekuatan jauh lebih besar dari mereka. Walau dibekali senjata modern yang mematikan, unit kecil seperti mereka tidak memiliki kesempatan. Para prajurit wajib terus berjuang meski di belakang mereka bukanlah tanah air atau keluarga. Semangat juang yang rendah membuat mereka tetap bertarung meski berakhir sebagai mayat.
“Hah… berakhir sudah…”
Komandan kompi yang berasal dari kontingen Indonesia mematikan saluran komunikasi radionya dan membuang helm-nya. Dia mengambil remote kontrol seukuran ponsel pintar dengan tangan kanannya yang terluka parah.
Dia melihat sebuah pasukan besar berkuda bergerak cepat ke arah pos yang diperjuangkan unit-nya. Tidak salah lagi, pasukan musuh yang menyerang pasukannya bukanlah kekuatan sebenarnya, kavaleri berat musuh yang sedang bergerak adalah kekuatan utama musuh.
Ketika komandan kompi menyeringai mempersiapkan diri untuk bunuh diri menggunakan peledak yang tertanam di bawah tanah pos, seorang prajurit berlari cepat melewatinya tanpa menggunakan helm tempur, sehingga dia bisa melihat sebagian wajah prajurit tersebut yang dililit perban.
Suara menderu helikopter serbu dan kendaraan tempur terdengar, namun belum bisa melepaskan komandan kompi dari keputusasaan. Dengan pasukan berjumlah ratusan ribu, pasukan berkekuatan dua atau tiga kompi bisa dihancurkan sekali serang.
Namun, setelah melihat bendera kecil yang terikat pada antena transmisi radio salah satu prajurit yang baru saja datang, komandan kompi seketika menyadari siapa yang menjadi pasukan penyelamatnya.
**
Terlepas dari kenyataan bahwa fisiknya sekarang telah berubah drastis, namun kewajibannya sebagai prajurit perang tidak pernah selesai. Setidaknya begitu yang Nio yakini, dan dia sekarang tengah dalam perjalanan menuju Benteng Girinhi. Kesehatan fisik dan mentalnya belum sepenuhnya pulih, namun para atasan memberinya perintah itu.
Penumpang helikopter angkut berjumlah 20 prajurit – yang dikirim sebagai pasukan tambahan bagi Kompi Bantuan 002 – menatap takut Nio. Sebagian wajahnya yang ditutupi perban membuat mereka penasaran dengan luka di baliknya, meski dapat dipastikan mereka akan langsung merinding jika melihatnya.
Yang mengawal helikopter angkut adalah tiga helikopter serbu. Helikopter angkut yang Nio tumpangi membawa sebuah howitzer 230mm dengan cara digantung, lengkap dengan beberapa amunisinya.
Layar hologram besar yang diatur untuk tujuan pengarahan dihidupkan di dalam kabin helikopter, menerangi kabin yang remang-remang. Ketika prajurit ketiga kontingen lain dengan tenang melihat sejumlah titik berada di sebuah garnisun di luar Kerajaan Arevelk, Nio menatapnya dengan mata kiri yang tajam.
Nio merasakan kengerian di tempat tersebut, meski jumlah sebenarnya musuh yang menyerang belum bisa dipastikan.
“Apa itu? Sebuah pasukan yang siap untuk dibantai? Mantap.”
Seorang prajurit kontingen Indonesia mengatakan hal itu dengan tenang dan mantap, dan ditanggapi oleh teman-temannya dengan wajah yakin juga.
Nio sebenarnya ingin menegur seorang kopral dua TNI tersebut, namun tatapan jijik yang sebelumnya kedua puluh prajurit tambahan tujukan padanya membuatnya mengurungkan niat melakukan hal itu. Nio merasa mereka menganggap dirinya adalah perwira lemah, yang tidak bisa melakukan apapun kecuali menjadi beban di pertarungan karena luka yang ia derita.
Karena tidak ada hal lain yang dia lakukan selain memoles senapannya yang sudah selesai, Nio sekarang beralih ke pedang pemberian salah satu Pahlawan milik Aliansi.
Saat Nio akan mengambil pedang beserta sarungnya dari rompi angkut, penerbang helikopter melihat adanya masalah yang diawali dengan radar pencari radiasi panas berkedip berkali-kali.
“Pancaran inframerah terlihat di radar, yang berasal dari sepuluh objek,” kata penerbang helikopter melalui pengeras suara yang terdengar di kabin.
Sepuluh ekor Wyvern liar dengan bentang sayap 5 meter terlihat. Tiga helikopter serang melakukan formasi berbentuk anak panah untuk melindungi helikopter angkut.
Penerbang beserta asisten ketiga helikopter serang tidak ingin segera menembak Wyvern tanpa pawang, atau mereka akan mendapatkan sanksi karena membunuh binatang langka tanpa sebab yang jelas. Mereka akan menyerang jika puluhan kadal terbang tersebut memperlihatkan ancaman yang membahayakan seluruh prajurit.
“Helikopter Satu ke Helikopter Dua dan Tiga, objek terbang pada jarak 100 meter … 90 meter … mereka terbang cukup lambat.”
“Diterima. Kami akan bersiap jika objek memperlihatkan ancaman.”
“Diterima. Siapkan senjata!”
Wyvern terbang lebih cepat dari naga karena tubuh yang lebih ramping dan kecil, dan sama-sama binatang karnivora yang memburu binatang di darat dan udara. Ketika para Wyvern melihat burung besar di udara, mereka akan memburunya, atau pada kasus yang langka mereka membentuk kelompok sebagai sebuah kawanan untuk memburu seekor anak naga.
Helikopter yang mengeluarkan suara dan pancaran panas membuat sepuluh ekor Wyvern terbang ke arah sasaran mereka, dipimpin oleh seekor Wyvern berukuran agak besar dari sembilan kadal terbang lainnya.
Pergerakan objek-objek terdeteksi namun tak diketahui wujud sebenarnya yang mengkhawatirkan membuat para penerbang helikopter serang dan angkut gelisah, dan harus mempersiapkan senjata.
Wyvern-Wyvern semakin mendekat, hingga kini wujud objek yang dimaksud terlihat jelas. Namun, para penerbang melihat ada yang tidak beres dengan sekawanan Wyvern tersebut. Karena saat perang, mereka selalu melihat Wyvern dan naga yang ditunggangi satu hingga dua prajurit.
__ADS_1
“Sepuluh Wyvern terkonfirmasi! Tapi, mereka tidak disertai prajurit yang menunggangi!”
“Mereka terus mendekat, apa kita harus membunuh kadal-kadal terbang liar itu jika terpaksa?”
Seperti burung yang dihancurkan oleh mesin jet pesawat penumpang sipil yang menyebabkan kerusakan dan membahayakan penerbangan, Wyvern dapat dipastikan akan menyebabkan dampak jauh lebih parah.
Rahang para Wyvern terbuka, memperlihatkan taring-taring tajam mereka yang berfungsi mengintimidasi lawan atau mangsa. Penerbang helikopter serang paling depan memiringkan tongkat kendali ke bawah, untuk menghindari Wyvern besar yang ingin menerkam helikopternya.
Namun, Wyvern tersebut terbang lurus ke arah helikopter angkut, membuat pilot dan penerbangnya berusaha menghindari tabrakan. Keduanya memiringkan tongkat kendali, dan helikopter angkut terbang ke samping kiri dalam kemiringan ekstrem.
Baru-baru ini, pasukan menerima amunisi khusus untuk menghadapi binatang liar yang membahayakan. Peluru istimewa yang hanya akan melumpuhkan target daripada membunuhnya. Namun, amunisi biasa dengan atau tanpa peledak tetap digunakan untuk membunuh binatang perang milik musuh.
Para petugas di dunia lain tidak ingin perbuatan mereka membuat populasi binatang setempat berkurang karena senjata mematikan yang seharusnya digunakan untuk melumpuhkan kendaraan tempur.
“Helikopter 1 ke seluruh helikopter, semua kadal terbang terlihat sangat jelas.”
Asisten penerbang helikopter 2 menjawab, “Diterima, mulai susun formasi.”
Ketiga helikopter serang mulai menyusun formasi untuk melindungi helikopter angkut dari serangan. Posisi yang ketiga helikopter serang susun seolah-olah yang mereka lawan adalah helikopter serang milik musuh alih-alih binatang fantasi.
“Jenis Wyvern liar berbeda dengan Wyvern tempur, mereka mahir dalam pertempuran udara. Mereka seharusnya tidak akan menyerang langsung setelah lawan yang akan dihadapi berukuran lebih besar.”
“Letnan Nio, apa maksud perkataanmu?”
Letnan satu penerbang helikopter bertanya pada Nio setelah mendengar perkataannya dari radio komunikasi. Komandan Tim Ke-12 tersebut hanya mengatakan apa yang ia amati selama di dunia ini, khususnya apa yang menurutnya berguna dalam situasi seperti sekarang.
Tatapan para prajurit di kabin belum berubah, Nio merasa mereka merasa jijik pada kondisinya sekarang walau dia tidak melepas perban yang melilit tubuhnya. Bahkan setelah ia mengatakan hal tersebut, mereka justru meragukannya.
“Wyvern tempur dilatih untuk pertarungan yang dikehendaki pawangnya, sehingga pertarungan yang mereka lakukan terbatas pada keinginan pawang. Wyvern liar bertarung menuruti insting alami, sehingga sulit ditebak.”
Sebagian besar prajurit tertawa kecil meragukan, tapi sebagian kecil memasang wajah yakin jika yang dikatakan Nio ada benarnya, termasuk pilot keempat helikopter.
“Apa perlu kami menembaki para Wyvern dengan meriam atau roket?” tanya pilot helikopter serang 3 yang dikejar 3 ekor Wyvern liar.
“Anda punya nyali membunuh kadal terbang dengan roket dan meriam. Tapi, jangan menggerutu kalau usaha kalian ternyata tidak sesuai harapan.”
Pilot dan asisten ketiga helikopter serang merasa ada ejekan pada perkataan Nio, sehingga mereka hanya tersenyum kecut. Namun, adanya ketenangan dalam transmisi radio mereka dengan milik Nio membuat para penunggang capung besi harus memutar otak untuk menemukan cara lain demi menghindari sepuluh Wyvern liar yang mengancam.
“Asisten Penerbang Helikopter 2 kepada Letnan Satu Nio. Menurut perkataan Anda, para Wyvern liar memiliki refleks yang baik daripada Wyvern tempur karena tidak ada yang mengendalikan?” letnan dua asisten penerbang helikopter 2 bertanya.
Nio tersenyum saat menjawab “Ya”, namun sebagian prajurit di dalam kabin helikopter angkut menganggap jika itu sebuah senyuman penderita gangguan mental.
Yang mengatakan jika Wyvern adalah binatang fantasi yang bisa dibunuh dengan sekali bidik, sepertinya harus melihat langsung ke dunia ini. Tiga ekor Wyvern liar terbang mengelilingi helikopter serang nomor 2 milik Penerbangan Angkatan Darat TNI, seolah-olah mengamati karakteristik capung besi tersebut.
Penerbang helikopter nomor dua bergumam dengan wajah gelisah, “Apa yang kadal-kada terbang itu lakukan?”
Wyvern dengan pawang sudah sangat merepotkan, tapi mereka kini berhadapan dengan Wyvern liar yang menurut Nio lebih ganas dari Wyvern militer.
“Menghindar!” asisten helikopter nomor 2 berteriak saat melihat seekor Wyvern liar terbang mendekat, mengejutkan rekannya yang tiba-tiba memiringkan tongkat kendali ke kanan, dan membuat helikopter terbang sangat miring serta merusak formasi.
Ketiga Wyvern yang sebelumnya hanya terbang mengeliling helikopter serang nomor 2, kini segera terbang mengejar. Namun, sulit bagi kadal terbang yang mampu melaju dalam kecepatan 100 kilometer perjam melawan capung besi yang dapat terbang dengan kecepatan 800 kilometer perjam.
“Awas!” penerbang helikopter nomor 1 asal kontingen Korea Utara berteriak pada transimisi radionya dengan penerbang helikopter nomor 2.
Ketika tiga Wyvern mengejar helikopter nomor 2, Wyvern yang lebih besar tiba-tiba muncul di belakang helikopter. Mulut penuh gigi taring tajam terbuka, siap melahap baling-baling ekor. Jika kadal terbang tersebut berhasil menghancurkan baling-baling ekor helikopter, maka akan berakibat fatal.
Kepala Wyvern besar tersebut seketika terbelah menjadi dua, dan darah serta daging turun ke tanah seperti hujan. Meski begitu, dia berhasil mengganggu stabilitas penerbangan helikopter.
Untungnya baling-baling utama yang berjumlah dua, atau disebut sebagai baling-baling koaksial memperbaiki posisi helikopter yang sebelumnya sempat berputar dengan liar di udara.
Seluruh operator helikopter menghembuskan napas lega setelah helikopter serang nomor 2 selamat, meski baling-baling ekor hancur dan membunuh Wyvern paling besar.
Sementara itu, seekor Wyvern terbang di tempat dengan menatap helikopter serang nomor 3 yang dipiloti oleh penerbang asal kontingen Rusia. Matanya yang menatap tajam ke arah capung besi tersebut seolah-olah mengatakan, “Kalau begitu, aku yang akan menghancurkanmu!”
Berkat hambatan udara yang kecil saat terbang turun, Wyvern tersebut melesat lebih cepat saat terbang mendatar.
Helikopter yang dia targetkan justru terbang ke arahnya dalam kecepatan tinggi. Asisten helikopter serang nomor 3 memegang tongkat kendali meriam otomatis, dan membidik secara otomatis melalui helm-nya.
Namun, penerbang helikopter serang nomor 3 tiba-tiba merubah posisi sebelum moncong helikopter menghantam kepala Wyvern. Hal itu menyebabkan sayap Wyvern tersebut tercabik-cabik, dan baling-baling utama membelah tubuh Wyvern menjadi dua. Darahnya menyembur ke udara seperti busa deterjen.
Wyvern yang tersisa terbang dengan pola mengepung yang rumit, dan membingungkan seluruh operator helikopter. Nio melihat hal tersebut dari kokpit penerbang helikopter angkut, dan mengejutkan kedua operatornya.
“Lettu, ada pesan dari helikopter serang nomor 2 untuk Anda,” Letda asisten penerbang memberikan handsfree komunikasi kepada Nio.
Setelah memasang handsfree ke telinga kirinya, Nio berkata, “Di sini Letnan Nio. Apa masalahnya?”
Letnan dua asisten penerbang helikopter serang nomor 2 menjawab panggilan Nio, “Siap! Saya pikir, kita tidak bisa memukul mereka secara langsung! Kita mungkin harus menyerang para Wyvern dari samping, atas, atau bawah!”
__ADS_1
Setelah mendengar perkataan prajurit yang lebih berpengalaman dalam dogfight menghadapi kadal terbang fantasi, Nio menyetujui saran tersebut setelah memperkirakan jika saran itu akan berhasil jika dicoba terlebih dahulu.
Dogfight yang melibatkan helikopter serang dan Wyvern lebih seperti kucing yang mengejar cicak .
(olog note: dogfight sama saja dengan pertempuran di udara. Contohnya seperti jet tempur melawan jet tempur, atau helikopter melawan helikopter, atau jet tempur melawan pesawat nirawak)
Meriam otomatis 20mm dengan peluru pelumpuh belum membunuh satupun Wyvern liar yang tersisa.
Helikopter mampu melakukan aksi terbang yang tidak bisa dilakukan pesawat bersayap tetap. Terbang naik turun, tiba-tiba berputar di tempat, dan kemudian menembak target dengan meriam otomatis kaliber 20mm berpeluru pelumpuh hanya bisa dilakukan oleh pesawat bersayap putar. Mesin helikopter menderu dan baling-baling menebas udara, lalu dengan paksa melepaskan diri dari kejaran Wyvern lalu mencegat mereka untuk melancarkan serangan.
Namun, seperti perkiraan Nio. Para Wyvern liar memiliki refleks menghindar yang jauh lebih hebat dari Wyvern militer. Mereka tidak bisa dikalahkan dengan mudah.
Setelah menghindari serbuan proyektil meriam yang akan membuat mereka lumpuh selama beberapa jam, para Wyvern yang tersisa melayang-layang di udara, dan sayap masing-masing mengepak untuk menstabilkan posisi.
Para Wyvern liar memanfaatkan tubuh dan ekor mereka yang fleksibel, merubah arah terbang dan sudut serangan secara tak terduga dan dengan lihai menghindari serangan meriam otomatis dari helikopter serang.
Salah satu Wyvern terbang ke arah helikopter serang nomor 3, berputar menghindari hujan peluru seperti pemain sirkus, dan kemudian beberapa proyektil meriam menembus tubuhnya melalui perut bagian atas. Karena mengandung bahan yang berperan ganda sebagai pelumpuh dan penyembuh, penembak pada helikopter serang tidak perlu merasa bersalah karena target akan sadar dalam beberapa jam lagi.
Wyvern yang dilumpuhkan menghantam tanah dengan lembut setelah diperlambat oleh pepohonan.
Semua mangsa pasti memiliki kelemahan. Wyvern tidak akan mendapatkan mangsa tanpa ada yang memulai serangan. Di sisi lain, Wyvern bukanlah binatang pemberani seperti musang madu. Jika dalam kondisi sendirian, Wyvern akan menghindari mangsa lebih besar. Kawanan Wyvern yang tersisa 6 ekor masih membuat mereka yakin mendapatkan capung besi sasaran mereka.
Karena masih berjumlah lebih banyak dari tiga capung besi aneh, para Wyvern mengeluarkan pekikan lalu terbang ke arah helikopter serang. Saat itu juga, laras meriam otomatis menyambut mereka dengan tembakan. Namun, tidak semua proyektil mengenai sasaran.
Salah satu Wyvern berhasil mendapatkan satu proyektil yang menembus sisik tebalnya. Namun, itu tidak membuatnya lumpuh lalu pingsan. Wyvern tersebut masih bisa terbang dan menatap marah capung besi yang menyerangnya.
Melihat Wyvern yang terluka terbang ke arahnya, penerbang helikopter serang nomor 3 menarik tongkat kendali terlalu kiat untuk menghindar. Helikopter tersebut kehilangan keseimbangan, dan baling-baling utama menghancurkan kepala Wyvern tersebut.
Melihat kekuatan mangsa yang melebihi perkiraan, para Wyvern liar terbang ditempat dengan bingung. Hanya ada tiga capung besi, namun kekuatan mereka setara naga.
Wyvern yang masih hidup terbang menjauh dari capung besi yang gagal menjadi mangsa, membuat keenam operator helikopter serang bersorak kegirangan.
“Lettu Nio, perkataanmu ternyata sesuai dengan kenyataan. Sepertinya pasukan penunggang Wyvern musuh tidak ada apa-apanya daripada Wyvern liar,” ucap asisten penerbang helikopter serang nomor 2.
“Betapa beruntungnya kita, mungkin tanpa arahan dari Letnan Nio, pertarungan ini akan berjalan lama!” sambung penerbang helikopter nomor 1.
Nio – yang masih menahan sakit di tubuhnya – menghela napas lega. Beruntung, karena Wyvern yang dilawan tadi tidak memiliki kemampuan menyemburkan api.
“Lebih baik kita mempersiapkan diri untuk pertempuran nanti,” ucapnya
Empat capung besi terbang ke arah Benteng Girinhi dalam kecepatan sedang setelah memastikan tidak ada lagi ancaman.
**
“Letnan Nio?”
Sebelas mata pasang mata menatap ke arah Nio yang baru saja turun dari helikopter pengangkut. Tatapan yang mereka berikan menunjukkan ekspresi bingung, takut, dan terkejut dengan apa yang terjadi pada Nio, bukan apa yang membuat Nio terlambat kembali ke benteng milik Arevelk ini.
Perbedaan tatapan paling mencolok berasal dari Zefanya, dan dia langsung berlari dalam kecepatan yang mengejutkan. Ketika Zefanya berlari ke arah Nio, anggota Tim Ke-12 lainnya langsung menyusul, membuat personel lain kebingungan.
Nio melihat Zefanya yang berlari dengan anggota tim lainnya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
“Letnan Nioooooooooooooo!” teriak Zefanya, membuat Nio mundur beberapa langkah lalu berlari untuk menjauhi para bawahannya.
“Kau tidak bisa lari, Letnan Nio!”
“Semuanya, tangkap dia! Tidak peduli keadaannya, letnan kita sangat kuat!”
“Seharusnya kau menyapa kita setelah setengah bulan tidak bertemu!”
Teriakan para anggota Tim Ke-12 yang mengejar Nio di dalam area luas di Benteng Girinhi membuat orang-orang menjadikan hal itu sebagai pertunjukan gratis. Meski memprihatinkan, namun Nio yang terluka sedang dikejar para bawahannya cukup menghibur.
‘Parkour’, alias Herman berlari di atap barak prajurit Arevelk dengan lincah, dan melompat satu atap ke atap yang lain demi mendahului laju lari Nio yang cepat. Nio tersenyum melihat para anggotanya yang berusaha menangkapnya dengan berbagai cara.
Kali ini Nio hampir mencapai gerbang utama benteng, namun Herman telah menunggunya di sana. Pria itu berdiri dengan tangan disilangkan di depan dada, menatap Nio dengan disertai senyuman mengejek.
Karena kecerobohan Nio yang berhenti sejenak hanya karena jalan keluarnya dihalangi Herman, seluruh anggota Tim Ke-12 berhasil mengepung Nio. Setiap anggotanya sangat cakap dalam bidangnya masing-masing, dan insting Nio mengatakan jika mereka sangat mengancam. Nio merasa mereka cukup kejam, membuatnya berlari dengan tubuh dalam kondisi masih terluka.
Zefanya melihat tubuh Nio yang seperti dirinya, dililit perban di setengah bagian tubuhnya. Setengah wajah Nio tertutupi kain putih, meski sedikit memperlihatkan luka bakar yang membekas, dan tampak parah serta menyakitkan. Zefanya bisa membayangkan apa yang Nio rasakan, karena dia pernah mengalami hal yang sama ketika negaranya masih berperang dengan musuh dari dunia ini.
Bahkan prajurit muda yang melalui banyak pertempuran berat akan tidak tahan dengan luka yang ia dapatkan. Kurangnya dukungan orang terdekat, ditambah tekanan tugas dari atasan, membuat Nio merasa tubuhnya lebih baik menjadi abu saat itu.
Namun, hidup dan mati seperti inilah yang prajurit inginkan. Dikeliling rekan-rekan yang sangat dipercaya daripada dipaksa mempercayai pemerintahan yang dicemari orang-orang ‘sakit’, menciptakan perasaan khusus di benak Nio.
“Pimpinan Tim Ke-12, aku ambil alih lagi. Terimakasih untuk komandan pengganti atas pekerjaannya,” ucapnya.
Tentu saja Hassan tersenyum sombong setelah mendengar ucapan dari Nio.
__ADS_1
Seluruh anggota Tim Ke-12 sekarang tahu jika Nio masih merasakan sakit, namun tekad mereka sudah bulat, yakni memberikan komandan mereka salam selamat datang.