
17 September 2321, pukul 09.53 WIB/ tahun 1914 Kerajaan Arevelk, pagi hari.
**
Di sebuah bukit, dekat perbatasan antara Kerajaan Arevelk dengan Kekaisaran Luan. Di kaki bukit, ratusan ribu prajurit sedang melakukan aktivitas sebelum berangkat menuju medan perang. Itu sebabnya berdiri ratusan tenda sebagai tempat tinggal sementara para prajurit.
Sekarang adalah waktu makan siang, seorang pelayan perempuan yang masih muda memasuki tenda yang hanya dihuni oleh Sigiz. Dia melihat Ratunya masih tertidur pulas di tempat tidur, dengan keadaan setengah telanjang. Itu sudah jelas, karena dia sudah berada di tempat ini pagi tadi, dan belum sempat tertidur selama seharian.
Tempat ini setidaknya tidak terlalu sempit untuk meletakkan sebuah kasur. Selain itu, ada sebuah meja berbentuk bundar dengan fungsi serbaguna. Selain digunakan sebagai meja makan, meja ini bisa digunakan sebagai meja perundingan.
Ratusan ribu prajurit berbaris di depan tungku memasak yang berjumlah ratusan. Panci terisi dengan sup yang mengenyangkan dan uap yang melayang ke atas, dan juru masak bertugas membagikan makanan kepada masing-masing prajurit yang memegang sebuah mangkuk kayu.
Jika bertanya di mana Nio setelah mengantarkan Sigiz, dia berada di tempat yang memungkinkan untuknya mencium aroma kotoran kuda.
Tepatnya, Nio beristirahat di dalam kendaraan taktis yang diparkirkan di dekat kandang kuda perang milik pasukan kavaleri. Dia terlihat masih bisa tertidur pulas di tempat duduk belakang kendaraan, tanpa menghiraukan aroma kotoran. Musik masih terdengar dari speaker yang terhubung dengan smartphone milik Nio.
Entah bagaimana dia bisa sampai di tempat ini, namun seorang jendral pasukan ini sengaja menyuruh Nio untuk memakirkan kendaraannya di sini, beserta orangnya.
Tanpa sepengetahuan Sigiz, salah satu jendral itu memaksa Nio untuk berada di dekat kandang kuda hingga keberangkatan pasukan ini.
Apakah itu jendral ataupun prajurit bawahan, mereka semua tidak menyukai keberadaan Nio disini. Alasannya sangat sederhana, karena Nio terlalu banyak berada di dekat Ratu mereka.
Mengingat Nio adalah prajurit bawahan juga, jadi para jendral merasa jika mereka bebas memerintahkan Nio untuk beristirahat di mana saja, termasuk di dekat kandang kuda.
Ketika seluruh prajurit sedang memakan jatah makanan mereka siang ini, Nio terbangun karena alat komunikasi jarak jauhnya berbunyi, menandakan jika dia harus melapor.
Yang Nio lakukan hanyalah menyebutkan lokasi terkininya, setelah itu dia tidak bisa melanjutkan tidur karena merasa lapar. Tidak ada satu orang pun di dalam mobil selain dirinya, Nio berpikir jika dia bisa melakukan apa saja saat sedang sendirian seperti sekarang.
Tidak ada hiburan selain musik yang masih diputar, Nio mengeluarkan satu paket ransum nasi goreng dari ranselnya dan sebotol air mineral. Setidaknya tidak ada gangguan saat ini, kecuali suara kuda yang melengking dan aroma kotorannya.
Nio keluar dari kendaraan sambil membawa sebuah kompor lipat dan jatah makan siangnya. Setidaknya di luar cuaca tidak terlalu panas, sehingga dia tidak perlu repot-repot mendirikan tenda kecil.
Kandang kuda berada cukup jauh dari perkemahan prajurit, hal ini menyebabkan Nio merasa sangat kesepian. Bahkan beberapa prajurit yang melihatnya hanya mengatakan beberapa perkataan yang kasar.
“Akhirnya kamu bangun.”
Nio mendengar suara yang terdengar tanpa nada, sangat datar. Setelah itu Nio melihat sesuatu yang datar lagi, itu adalah dada prajurit yang berbicara kepadanya.
Perempuan itu berjalan mendekati Nio dengan tatapan dan kata-kata yang dingin. Nio terlihat kebingungan dan mencoba menyapanya sambil memperhatikan api di kompor lipatnya.
“Se-selamat pagi.”
“Ini sudah siang, prajurit yang bangun terlambat adalah kegagalan.”
Nio mengalihkan pandangannya dari perempuan itu sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
Dia jelas perempuan cantik, Nio menilai kekurangan perempuan itu hanya pada bagian dadanya yang terlalu rata bagi kebanyakan perempuan. Tetapi ekspresi dinginnya membuat wataknya nampak keras, atau tidak ramah.
Perempuan itu melihat sekeliling tempat Nio beristirahat, dan pandangannya terhenti saat melihat sebuah gerobak besi dengan warna hijau gelap.
Nio melirik perempuan itu berjalan mendekati kendaraan taktis dengan melirik bagian-bagian kendaraan itu. Nio merasa jika perempuan itu hanya akan melakukan sebatas melihat-lihat saja, tidak lebih.
Namun, perempuan itu menebaskan pedangnya ke badan kendaraan taktis sekuat yang dia bisa, dan menyebabkan bunyi yang sangat mengganggu. Suara benturan kedua benda logam itu bisa didengar hingga jarak 20 meter.
Badan kendaraan taktis yang terkena tebasan pedang perempuan itu terlihat tergores, dan hanya itu kerusakan yang didapatkan kendaraan itu. Sementara pada pedang milik perempuan itu, senjatanya hampir patah dan nampak serpihan besi di tanah.
“Apa yang kamu lakukan hah!?”
Tentu saja ini masalah bagi Nio. Meski kendaraan taktis dirancang dengan kekuatan diatas rata-rata kendaraan sejenis, tetapi hal ini adalah masalah tersendiri bagi Nio.
Sementara perempuan itu nampak menahan kekesalan karena pedang miliknya hampir hancur karena berbenturan dengan badan kendaraan
“Apa-apaan gerobak ini, kenapa badannya sangat keras. Apa kamu memasangkan besi pada gerobak ini?”
“Ni cewek waras kagak ‘njir?”
Namun kekesalan perempuan itu hanya sesaat, setelah itu terlihat wajah kagum darinya. Itu hanya membuat sudut mata Nio berkedut karena menahan kekesalan.
Saking kesalnya, Nio mengaktifkan senapannya ke mode otomatis penuh, jika perempuan itu berulah lagi dia akan melepaskan tembakan peringatan. Selain itu, dia juga menyiapkan amunisi pada pistolnya.
**
Sigiz berjalan di tengah perkemahan para prajurit untuk mencari sesosok Nio, namun hingga tenda terakhir dia tidak menemukan batang hidungnya.
__ADS_1
Saat mendengar suara seperti dua logam yang beradu, seluruh prajurit berdiri dan bersiaga sambil menggenggam erat senjata masing-masing.
“Ratu, saya melihat orang yang mengantar anda bersama Jendral Lux. Dan Jendral Lux nampak berusaha menebas kendaraan milik orang itu.”
Sigiz seketika mematung setelah mendengar laporan salah satu prajurit yang kebetulan berada di dekat mereka berdua berada. Meski pakaian yang dia kenakan cocok untuk cuaca yang sedikit terik, namun keringat dingin keluar banyak dari dahinya.
“Dimana tuan Nio berada?”
“Salah satu jendral memerintahkan orang itu untuk beristirahat di dekat kandang kuda.”
Perasaan Sigiz mulai tidak karuan, itu semua karena ulah para bawahannya yang mungkin membuat Nio merencanakan balas dendam.
Sigiz berjalan cepat ke arah kandang kuda, dia juga berharap jika Jendral perempuan itu tidak menantang Nio bertarung, karena itu kebiasaan Lux ketika bertemu dengan orang yang terlihat kuat.
“Ayo kita latih tanding!”
Lux mengarahkan pedangnya yang rusak ke arah Nio yang terlihat tidak mempedulikannya, dan memilih untuk memasukan sesuap nasi ke mulutnya.
“Mau berantem ? Tunggu sampai aku selesai makan dulu ya?”
Saking kesalnya, Nio berbicara tidak menggunakan bahasa dunia ini. Lux tentu saja tidak tahu apa yang di ucapkan Nio, namun itu membuatnya semakin yakin jika Nio adalah salah satu prajurit dunia lain.
“Udah ngerusak barang orang lain, nih cewek malah nantang berantem. Maunya apa sih nih orang?”
Nio melahap makan siangnya sambil menatap heran ke arah Lux yang melihatnya dengan wajah serius, yang menandakan jika perempuan itu serius menantang Nio.
Nio tidak menanyakan alasan Lux menantang dirinya, karena ini adalah salah satu adegan ‘pasaran’ di novel fantasi. Dimana si tokoh utama ditantang bertarung oleh tokoh lain karena suatu alasan.
Nio menerima tugas untuk mengantar Sigiz kembali ke perbatasan, seharunya hanya itu. Namun, mau tidak mau Nio terjebak di sebelah kandang kuda untuk sementara, setelah itu ditantang seorang perempuan yang sudah merusak kendaraan taktis yang bukan miliknya.
Selesai makan, dia membereskan semua peralatan dan memasukannya lagi kedalam kendaraan. Saat hendak menutup pintu kendaraan, Lux tiba-tiba berada di sebelah Nio dengan wajah kagum.
“Jelas, ini sihir dari dunia mu kan?”
“Bukan.”
Setelah menjawab dengan nada kesal, Nio menutup pintu kendaraan taktis saat Lux masih ingin melihat bagian dalamnya.
Sambil menenteng senapan yang telah menjadi sebuah tanda kebesaran, Nio berjalan mendekati Lux untuk menerima tantangannya.
“Akhirnya aku menemukan mu. Jendral Lux, apa yang kau lakukan pada tuan Nio?”
“Maaf? Tuan? Anda barusan memanggil orang ini dengan sebutan ‘tuan’?”
“Memangnya kenapa kalau aku memanggil dia seperti itu? Satu lagi, kau pasti yang memerintahkan tuan Nio untuk berada di dekat kandang kuda?”
Lux hanya mematung dan memandang ke arah seorang pemuda yang juga menunggu dia mengatakan hal yang sebenarnya.
Sigiz hanya mengkhawatirkan jika Nio akan melaporkan hal ini kepada atasannya, karena hal ini bisa dikatakan sebagai sebuah ‘penghinaan’. Setelah itu, sebuah pasukan yang hampir menghancurkan pasukan gabungan lima negara akan bergerak, dan menyerang Kerajaan Arevelk hanya karena laporan seorang prajurit.
“Ratu Sigiz, kenapa anda memanggil prajurit lemah ini dengan sebutan tuan?”
Nio mengangkat tangan kanannya untuk menengahi perdebatan antara atasan dan bawahan ini. Sekaligus, dia merasa tersinggung karena disebut ‘lemah oleh perempuan ini, meski Nio mengakui jika dirinya juga masih lemah.
“Sebelumnya, bisa sebutkan nama anda, nona?”
“Lux, namaku Lux”
“Nona Lux, bisa kita mulai pertarungan yang anda bicarakan?”
“Ber-bertarung?”
Sigiz semakin tidak mengerti dengan ulah salah satu jendralnya ini, dia benar-benar telah merasa malu karena ulah Lux.
Sigiz mendekati Nio dengan wajah yang memelas, menempelkan tubuhnya ke tubuh Nio dengan tujuan agar Nio tidak bertarung dengan Lux.
Satu hal lagi, karena malam nanti pasukan ini akan berangkat. Pertarungan yang dilakukan oleh Lux dan Nio mungkin saja akan membuat perjalanan pasukan ini menjadi terlambat.
Meski Sigiz adalah seorang ratu, namun mereka berdua sama sekali tidak mendengarkan rengekan Sigiz.
“Persiapkan dirimu, dan kita akan bertarung sekuat tenaga!”
“Siap!”
__ADS_1
**
Nio sama sekali tidak peduli jika lawan di depannya adalah seorang perempuan yang menjadi salah satu jendral pasukan ini. Yang dia pedulikan hanyalah ingin segera mengakhiri semua ini, dan segera tidur di kasur barak yang cukup keras.
Semua prajurit sudah selesai berkemas, dan mereka siap untuk melanjutkan perjalanan menuju ibukota Kekaisaran Luan. Namun, salah satu jendral mereka ternyata membuat ulah dan memperlambat keberangkatan.
Nio mengakui jika Lux adalah perempuan yang cantik, namun agak menyebalkan.
Nio mengenakan seragam lapangannya, tanpa rompi dan pelindung lainnya. Hanya pakaian dengan warna hijau loreng yang bagian lengannya sudah digulung, dan persiapan yang kurang matang.
Lux menggunakan pedang baru, namun pedang itu memang hanya di desain untuk prajurit perempuan. Pedang itu tidak lebar seperti milik prajurit laki-laki, namun memiliki tingkat ketajaman yang sama atau bahkan lebih.
Sedangkan Nio, dia hanya menggunakan dua buah pisau tarung berjenis karambit. Karena itu, banyak prajurit yang meremehkan Nio karena menggunakan senjata kecil seperti karambit. Bahkan Nio tidak melengkapi diri dengan pelindung badan.
“Apa kau serius menggunakan senjata seperti itu? Kalau kau tidak punya pedang aku bisa meminjamkannya padamu.”
“Tidak perlu, aku hanya ingin segera menyelesaikan masalah ini.”
Lux hanya tersenyum kecut dan wajah yang kaku setelah mendengar perkataan Nio yang seakan-akan meremehkan dirinya.
Tidak ada orang yang mengajukan diri untuk menjadi wasit di pertarungan ini. Lalu Sigiz berjalan dan berdiri di tengah Nio dan Lux, dia dengan sukarela menjadi wasit antara mereka berdua.
“Kalian berdua sudah mendapatkan ijinku untuk bertarung. Pertarungan ini akan berakhir saat salah satu dari kalian menyatakan menyerah.”
Nio dan Lux mengangguk tanda mengerti dari ucapan Sigiz barusan. Setelah itu, mereka berdua melakukan awalan dengan gaya bertarung masing-masing.
Lux mengangkat pedangnya di sisi pipinya, disertai dengan kuda-kuda yang akan membuatnya dapat melompat jauh. Sedangkan Nio, dia memasang kuda-kuda dari salah satu cabang silat yang dia pelajari.
Nio mempelajari gerakan dari beberapa perguruan silat di Indonesia, dan mengambil beberapa gerakan yang tidak membutuhkan banyak tenaga. Namun, gerakan serangan yang mudah dan mematikan milik Nio adalah ciri khas gaya bertarungnya.
“Mulai!”
Nio tersentak karena mendengar Sigiz berteriak, dan melihat wajah seorang perempuan di depannya. Lux melompat dari jarak yang cukup jauh, hingga mencapai tempat Nio.
Nio menunduk untuk menghindari tebasan mendatar Lux yang akan membuat kepalanya terlepas dari tempatnya jika terkena tebasan itu. Kemudian dia berguling kebelakang dan menyiapkan kuda-kuda lagi.
Beberapa orang merasa aneh dengan gaya bertarung Nio, mereka merasa jika gerakan Nio terlalu lucu untuk digunakan dalam pertarungan.
Nio menarik beberap napas, mencoba fokus dengan lawan di depannya yang merupakan seorang perempuan. Dia menggenggam erat kedua karambit di tangannya, dan melakukan pose siap menyerang.
Nio berlari zig-zag yang membuat Lux tidak tahu dari arah mana dia akan menyerang. Setelah mencapai di depannya, Nio mengangkat kaki kanannya dan melakukan tendangan berputar. Lux bisa menangkis tendangan memutar Nio dengan pedangnya, namun itu membuatnya terjatuh ke tanah.
Saat Lux mencoba berdiri, Nio kembali berlari zig-zag dengan cepat dan melepaskan pukulan tebasan dengan cepat. Karambit yang dia gunakan menambah dampak kerusakan saat bertarung, berkali-kali dia berhasil membuat beberapa helai rambut Lux yang berwarna keperakan terjatuh ke tanah.
Lux dengan susah payah menangkis setiap serangan dari Nio, namun gerakan Nio terlalu cepat dan tidak bisa ditebak arahnya.
“Gerakannya sangat aneh dan tidak bisa ditebak, beladiri apa yang dia gunakan?”
Lux tidak bisa berpikir dengan cepat saat lawannya melakukan serangan cepat juga. Namun, Nio harus bisa berpikir dengan cermat dan cepat saat bertempur. Berpikir sambil bertarung adalah hal mudah bagi Nio, dan seluruh prajurit TNI.
Sesekali Nio melayangkan tendangan yang mengarah ke pinggul Lux, dan beberapa kali pula mengenai sasaran. Lux memegangi pinggulnya yang terkena tendangan Nio, namun dia tidak di beri waktu istirahat sedetikpun dari Nio.
“Jangan remehkan silat, nona!”
Semua orang tidak mengerti dengan ucapan Nio, yang mereka pahami hanyalah gaya bertarung Nio sangat mematikan, meski gerakannya sederhana.
Nio kembali menyerang, kali ini dia menggunakan senjatanya. Nio mencoba tidak mengenai organ vital Lux, meski seharusnya seperti itu.
Nio melakukan gerakan tebasan dengan punggung pisau yang tajam, namun Lux bisa menangkisnya meski beberapa tubuhnya tergores dan terasa pedih.
Gerakan Nio terlalu cepat untuk dia hindari, tidak hanya tebasan, beberapa kali Nio melepaskan tendangan ke arah perut dan pinggul Lux. Kedua serangan itu membuat Lux terjatuh dan terseret ke tanah, membuat seluruh orang yang melihatnya bergidik.
“Aku, yang dijuluki ‘si Pedang Gila’ kalah dengan ahli beladiri seperti dia?”
Lux berdiri dengan menggunakan pedangnya sebagai tumpuan, karena kakinya yang terkena beberapa sayatan dari senjata Nio. Keringat yang mengalir dan mengenai tempat yang terluka, menambah penderitaannya.
Nio berlari cepat ke arah Lux yang sudah terlihat lemas, dia berdiri di debelakang Lux dan mengarahkan ujung salah satu karambitnya di leher Lux.
Lux melirik ke belakang, dia melihat Nio memasang wajah datar, seperti tidak tertarik pada pertarungan ini.
Sigiz mengangkat tangan kanannya, dan menyebutkan nama pemenangnya.
Ini adalah kekalahan yang menyedihkan bagi Lux, dia dikalahkan oleh orang yang hanya menggunakan bela diri dan senjata kecil.
__ADS_1
Nio mengulurkan tangannya untuk membantu Lux berdiri, dia juga berkeringat seperti Lux.
Lux menerima uluran tangan Nio, dan menatap wajah Nio dengan perasaan takut dan kagum dengan pemuda di hadapannya.