
Kehidupan sebelum perang dengan bangsa dunia lain pecah adalah masa-masa yang damai, meski untuk beberapa hal ‘damai adalah hal yang kurang tepat, politik dan saling pamer kekuatan pertahanan misalnya. Namun, dunia lain yang terhubung dengan fenomena ‘Gerbang’ adalah medan perang, dan prajurit serta utusan dari seluruh kontingen bangga dengan peran mereka di Persekutuan dan Pasukan Perdamaian.
Para prajurit saling menceritakan pengalaman mereka ketika melawan musuh dari dunia lain, disaat peluru 5,56mm belum mampu menembus zirah logam pasukan dunia lain, sehingga diciptakan Senapan Serbu 20 dengan peluru 7,62mm yang akhirnya bisa menembus pertahanan logam yang melapisi tubuh musuh. Korea Utara adalah negara dengan dampak perang tidak separah Indonesia, sehingga prajurit kontingan mereka tidak memiliki pengalaman tempur terlalu banyak ketika masa perang melawan pasukan dunia lain. Sementara Rusia yang merupakan salah satu lokasi terbukanya Gerbang, kontingen mereka dengan semangat membahas bersama kontingen Indonesia mengenai ketegangan dan perasaan ketika berperang dengan musuh yang berzirah logam dan bersenjatakan pedang besar yang tajam.
Di sisi lain, para pekerja dan sukarelawan yang dibantu beberapa prajurit Pasukan Perdamaian yang tidak mau menganggur membantu para pekerja membangun kembali jalan, parit pertahanan, dan tembok, yang membuat seragam mereka ternoda lumpur.
Sementara itu, ketika para staf yang bertugas mengoperasikan pesawat tanpa awak untuk misi pengintaian perbatasan mengetahui adanya pertempuran di Zona Perbatasan Ke-21, hati para komandan lapangan terasa terpelintir karena didepan mereka ada medan perang yang telah ditunggu-tunggu. Sebagian komandan Regu penjelajah maupun anggota Korps Pengintaian dan Pertempuran menyaksikan tayangan yang dikirim on time dari pesawat tanpa awak yang diterbangkan di Zona Perbatasan Ke-21, dan melihat Tim Ke-12 bersiap untuk melakukan pertempuran melawan ratusan pasukan berkuda Aliansi.
Jarak tempat mereka berada dengan Zona Perbatasan Ke-21 sekitar 200 kilometer, dan membutuhkan waktu tiga hari perjalanan dengan kendaraan darat namun hanya 6 jam menggunakan jalur udara. Para komandan lapangan hatinya mulai menginginkan medan tempur tersebut, namun mereka tahu jika yang cocok dengan misi ini adalah pasukan lintas udara.
Namun, belum ada pesan dari Mayat Hidup (Nio) untuk mereka agar mengirimkan bantuan. Dan rekaman menunjukkan ketiga kendaraan berada di posisi masing-masing untuk melakukan pertempuran, dengan salah satu kendaraan taktis berada di depan garis perbatasan.
“Apa mungkin mereka akan menjadi umpan, lalu kendaraan kedua dan ketiga yang akan melakukan serangan?”
Seorang perwira lapangan yang memimpin Regu penjelajah 1 menunjuk kendaraan yang ditumpangi Nio. Dia merasa itu bukanlah taktik yang bisa dilakukan hanya dengan sebuah tim beranggotakan 13 orang dan dilengkapi tiga unit kendaraan taktis dengan senjata otomatis senapan mesin berat 12,7mm.
Personel yang mengetahui adanya pertempuran ini sangat gembira, dan tentu saja kembali muram ketika Tim Ke-12 mulai di posisi tempur masing-masing karena taktik yang mereka gunakan bisa saja melumpuhkan sebagian dari ratusan musuh yang sebentar lagi mendekati garis perbatasan.
“Ya, bisa saja dia akan melakukan taktik itu. Dengan satu kendaraan sebagai umpan, dan kendaraan lainnya yang bersembunyi bertugas menyerang musuh, ditambah kemampuan tempur seluruh anggota tim, mereka bisa mengurangi sebagian besar musuh… mungkin.”
Perwira lapangan yang mempimpin Tim Ke-8 Korps Pengintaian dan Pertempuran mencoba menebak taktik Tim Ke-12 dari posisi kendaraan mereka.
Dengan kata lain, ini adalah kesempatan bagi mereka untuk melihat kemampuan kapten tim tersebut saat melawan ratusan musuh. Lagi pula, tim itu tidak harus melawan pemanah musuh, dan hanya melawan prajurit berkuda yang bisa dilawan dari jarak jauh dengan senapan dan pistol mereka. Anggota tim tidak harus turun dari kendaraan untuk melakukan pertarungan jarak dekat, kecuali mereka masih bisa berbuat nekat untuk melakukannya.
Sebagian komandan lapangan telah memerintahkan wakil mereka untuk menyapkan personel ketika menyaksikan pertempuran antara Tim Ke-12 dengan pasukan berkuda Aliansi. Namun, itu adalah hal yang merepotkan, karena mereka belum tentu akan dikirimkan namun peralatan dan personel telah dalam persiapan penuh. Tapi sekali lagi, jika Tim Ke-12 membutuhkan bantuan, yang diperlukan adalah pasukan yang bisa melakukan operasi lintas udara. Jika yang dikirimkan adalah pasukan darat waktu yang dibutuhkan terlalu lama, dan pertempuran mungkin telah usai dan mereka tidak mendapatkan jatahnya.
“Biar aku saja yang pergi.”
Pintu ruangan terbuka dengan tiba-tiba, dan seluruh komandan lapangan mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk.
Hevaz melangkah memasuki ruangan, dan membuat seluruh komandan lapangan yang sebagian besar telah memiliki istri terfokus ke satu titik di tubuh gadis itu. Karena bagian dada yang cukup terbuka, tentu saja membuat perasaan mereka hampir goyah jika tidak memikirkan wajah marah istri mereka ketika mengetahui mereka berselingkuh saat bertugas di dunia lain.
Pasukan Perdamaian dan Persekutuan mengenal Hevaz berasal dari kontingen sukarelawan, karena informasi tentang gadis itu yang sangat terbatas. Bisa dikatakan Hevaz adalah orang yang tiba-tiba datang begitu saja, dan menyatakan diri sebagai ‘pelayan pribadi' Nio. Berkat pernyataan dari Hevaz tersebut, pria-pria yang iri dengan Nio semakin banyak dan berharap pemuda itu benar-benar menjadi mayat hidup.
Selain tubuhnya yang menggoda, Unit Udara pasukan yang bersisi jet tempur yang bisa terbang dengan kecepatan maksimal mach 2,7 (lebih dari 3.000 kilometer per jam) menganggap Hevaz sebagai ‘Dewi Terbang’. Faktanya, Hevaz ‘tanpa sengaja’ pernah terbang jauh lebih cepat dengan jet tempur yang melaju dengan kecepatan maksimalnya. Namun, ketika diteliti, struktur sayap Hevaz mirip dengan sayap jenis burung alap-alap kawah, namun dia tetap memiliki tubuh manusia biasa… dengan bagian dada yang tak biasa.
Namun, inilah dunia lain yang dipenuhi dengan hal-hal tak masuk akal. Bahkan adanya manusia bersayap yang bisa terbang jauh lebih cepat dari jet tempur adalah hal yang belum bisa dijelaskan mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi karena penelitian yang belum dilakukan dengan maksimal, dan terpaksa dihubung-hubungkan dengan adanya ‘sihir’ di dunia ini.
__ADS_1
Meski informasi tentang Hevaz telah diketahui sebagian besar personel pasukan, namun dia belum menunjukkan kekuatannya.
Meski begitu, pasukan tidak bisa membiarkan Tim Ke-12 hanya menerima bantuan seseorang saja, dan memutuskan mengirim dua helikopter serang. Selain menjadi bantuan serangan, kedua helikopter serang juga akan bertugas mengirim logistik tambahan untuk mereka, seperti amunisi, sandang, dan pangan.
Hevaz dengan senyum menyeringai yang membuat seluruh pria di tempat ini terpesona keluar dari ruangan. Pada akhirnya dia mendapartkan kesempatan untuk memperlihatkan kemampuannya pada ‘tuannya’.
Setelah Hevaz lepas landas, Sigiz langsung menuju ke tempat para komandan lapangan setelah mendapatkan kabar jika Aliansi mengirimkan ratusan berkuda mereka untuk menyerang tim yang dipimpin Nio.
“Oh, Anda tidak perlu mengirimkan pasukan untuk membantu Letnan Nio, Ratu. Gadis yang bernama Hevaz dan dua capung besi (helikopter) kami dikirimkan untuk membantu Tim Ke-12.
Itulah awal kekecewaan Sigiz kepada Hevaz yang mendahulinya untuk membantu Nio, dan tidak rela jika yang akan mendapatkan pujian nantinya adalah gadis itu dan bukan dirinya.
**
Tim Ke-12 dengan bantuan Edera dan Hevaz telah mengukirkan perasaan takut ke hati prajurit Aliansi. Mereka telah tidak menahan diri untuk menunjukkan kekuatan bertarung, dan berhasil membuat sebagian besar musuh lari ke wilayah mereka setelah berperang ke dalam wilayah Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru. Dengan begitu, Nio berhasil memenangkan pertempuran pertama dengan bawahan barunya.
“Senang bertemu dengan Anda lagi, Tuanku.”
Edera melakukan salam seperti seorang pelayan terhadap tuannya, dan membuat Nio mendapatkan tatapan tajam dari seluruh bawahannya, termasuk Edera.
Pada saat ini belum terjadi apa-apa, dan Nio masih mendapatkan tatapan kebencian dari anggota prianya.
Lalu, sebuah benda terbang dengan ekor api dan asap di belakangnya melintas di atas Tim Ke-12, dan menghancurkan musuh yang telah mundur namun sebenarnya sedang menyusun kembali formasi untuk membalas Tim Ke-12. Lalu, suara gemuruh terdengar di udara.
**
Helikopter serang kontingen Indonesia dan Korea Utara terbang bersampingan, dengan mengangkut berbagai senjata, dan terbang melalui langit yang cerah.
Mereka lima menit lagi mendekat ke sasaran, yakni pasukan berkuda Aliansi yang sebelumnya bertarung dengan Tim Ke-12.
Kedua helikopter serang kemudian terbang di atas wilayah darat Kekaisaran Luan, alias negara anggota Aliansi. Di bawah mereka adalah ratusan prajurit yang tersisa dan berencana melanjutkan serangan terhadap tim tersebut.
Apa yang datang bukan hanya sabit kematian milik gadis yang bernama Hevaz, namun juga capung besi yang akan membawakan kematian selanjutnya untuk mereka.
Meskipun tidak ada rudal anti pesawat yang mengarah ke mereka, helikopter tetap meluncurkan suar. Nyala api ini turun akibat tarikan gravitasi dan lusinan jalur asap yang suar-suar itu ciptakan menyerupai sayap malaikat.
Ketika pasukan berkuda Aliansi melihatnya, mereka pasti gemetar ketakutan pada datangnya capung besi.
__ADS_1
Kedua helikopter serang menembakkan roket mereka, dan mengubah tanah wilayah Luan menjadi lautan api dan asap hitam.
Dari atas, peluru senapan serbu dan mesin menghujani mereka. Prajurit bahkan tidak perlu turun, dan mereka menembaki musuh dari tempat bertengger mereka di helikopter.
Formasi dua helikopter tersebut menyapu prajurit berkuda Aliansi yang berantakan. Beberapa prajurit melemparkan granat ke tengah-tengah barisan musuh, seolah-olah memberikan hadiah untuk mereka. Serangan itu terus datang seperti tidak ada hentinya layaknya hujan tembakan tak berujung yang membunuh siapapun yang mencoba melawan.
Prajurit berkuda Aliansi itu menyebar seperti semut yang melarikan diri, namun mereka tidak bisa melarikan diri dari serangan dari pasukan yang menunggangi capung besi. Seorang prajurit Aliansi pemberani sebenarnya berhasil melemparkan tombak 4 meternya pada salah satu capung besi, tetapi dia dibunuh dengan mudah oleh peluru meriam otomatis 20mm pada capung besi satunya.
Prajurit yang memiliki zirah logam lengkap dicabik-cabik dengan dihiasi sinar matahari senja. Suara kematian dari capung besi adalah suara yang lebih keras daripada teriakan mereka. beberapa peluru lebih dulu menghantam tanah sebelum mengenai tubuh prajurit musuh, dan menciptakan kepulan debu tebal.
Nio berdiri di tempat yang cukup jauh dari pertempuran menatap dengan datar tragedi yang sedang berlangsung di depannya. Dia menyaksikan pasukan berkuda musuh yang tidak bisa membalas serangan yang datang dari kedua helikopter serang, dan itu membuatnya agak sedih dengan perbandingan kekuatan antar kedua pasukan. Namun, mereka juga telah membunuh banyak prajurit-prajurit pemberani Pasukan Ekspedisi, namun Nio tidak berpikir musuh pantas mendapatkan balasan sebrutal ini.
Suara yang dihasilkan sayap capung besi yang berputar adalah simfoni yang mengakibatkan kematian bagi musuh-musuh di bawahnya. Suara itu bergemuruh melintasi medan perang dengan volume yang luar biasa, dan baling-baling yang berputar menciptakan downwash yang mengakibatkan badai debu di tengah-tengah pasukan berkuda Aliansi.
“Napad ino, tiplati za sve sra rade! (serang mereka, balas semua perbuatan mereka terhadapmu!)”
Itu adalah nyanyian dari suara merdu Hevaz, namun Edera dan Nio yang mengerti maknanya bergidik dan menjauh beberapa langkah dari gadis itu yang masih bersenandung.
Nio masih tidak mengerti tentang Hevaz, terutama asal dan tujuannya menjadi ‘pelayan pribadi’ untuknya.
Lirik dari senandung Hevaz berisi pembalasan perang dan prajurit yang akan mendapatkan kehormatan setelah membalas semua yang diperbuat musuh-musuhnya terhadap rekan-rekannya. Apa yang ada di dalam hati Hevaz adalah rasa hormat terhadap prajurit-prajurit yang kuat dan setia dengan negaranya, dan tidak akan mengampuni prajurit yang berkhianat dengan teman dan negaranya.
Dia sangat gembira jika dunia ini terhubung dengan dunia tempat adanya negeri-negeri dengan pasukan dan tentara yang sangat kuat. Itu artinya, ‘Perang Dunia’ yang diramalkan dimana perang itu melibatkan dua dunia yang memiliki pasukan besar benar-benar telah terjadi, dan itu adalah waktu bagi Hevaz ‘diutus’ untuk melayani seorang prajurit terkuat dari pasukan dari dunia lain (bumi) yang disebut ‘orang yang diramalkan’.
Tanpa peduli dengan keadaan musuh yang hanya bersenjatakan tombak dan pedang, meriam otomatis 20mm dan senapan mesin serta serbuh dari helikopter kontingen Indonesia terus menembaki mereka. Tidak peduli seberapa banyak jumlah musuh yang terbunuh, kebencian mereka terhadap musuh yang sudah membunuh sangat banyak prajurit TNI yang berjuang di perang sebelumnya membuat perasaan itu terukir di dalam hati prajurit kontingen Indonesia untuk Pasukan Perdamaian dan Persekutuan.
Rasa hormat mereka terhadap negara dan rekan-rekan yang sudah gugur sama besarnya dengan kebencian terhadap Aliansi, medan perang ini menjadi ajang balas dendam mereka untuk membalas apa yang dibuat Aliansi di perang sebelumnya. Memang, mereka juga menjadikan perang sebagai motivasi untuk berjuang di tanah dunia lain, selain melindungi Indonesia dengan berjuang dari dunia lain. Perang ini bisa dikatakan sebagai ‘perang pribadi’ yang bisa memuaskan hasrat balas dendam mereka. Lagipula, tidak ada atasan yang mengawasi semua yang mereka lakukan, dan pesawat tanpa awak untuk pengintaian sebelumnya telah ditarik mundur setelah mereka diperintahkan ke tempat ini.
Mereka pasti ingin mengeluarkan kebencian dan frustasi yang mereka rasakan karena tidak mampu menyelamatkan seluruh prajurit Pasukan Ekspedisi di perang sebelumnya, dan mengakibatkan TNI kehilangan lebih dari 2.000 prajuritnya.
Ini adalah perang, yang tidak ada tokoh baik didalamnya, semua perang dilakukan untuk beberapa tujuan, seperti; balas dendam, persahabatan, kekeluargaan, dan meraih kemenangan untuk kehormatan bangsa, keluarga, dan diri sendiri.
Tubuh prajurit musuh menjadi pengorbanan untuk nyala api perang yang mereka sulut, yang berkobar dengan cerah. Kedua capung besi membawa badai pembantaian sepihak, dan menjadi kebrutalan besar.
Tak lama kemudian, tembakan dari kedua helikopter serang berhenti, dan di telinga hanya terdengar suara baling-baling… dan tumpukan mayat.
Dengan datangnya dua helikopter itu, pertempuran di dekat perbatasan benar-benar berbeda dari bagaimana Tim Ke-12 membayangkannya, dan rencana untuk mengklaim sendiri kemenangan atas musuh runtuh setelah kedatangan kedua helikopter serang itu.
__ADS_1