
Setelah satu minggu pertempuran melawan raja naga angin, seluruh prajurit Pasukan Ekspedisi menjalankan tugas mereka dengan normal. Pada saat setelah pertempuran, Nio, Sigiz dan Zariv segera diinterogasi, beberapa penyihir juga terlibat.
Menurut kesaksian pengungsi penyihir, mereka mengatakan jika setelah membentuk Pasukan Aliansi, Kekaisaran bergegas mengumpulkan penyihir dari seluruh negara. Dan mereka juga dipanggil ke ibukota untuk alasan tersebut. Kesaksian mereka mengejutkan interogator. Jika cerita itu benar, maka pasukan ini akan segera bertindak.
Para penyihir yang diinterogasi juga menambahkan jika tujuan pengumpulan para penyihir sebagai perantara ‘pemanggilan pahlawan’. Mengenai ‘pahlawan’ yang disebutkan, hal itu langsung mengegerkan Kerajaan Arevelk dan Negara Yekirnovo.
Nio juga diwawancarai sebelum lukanya sembuh, dimana dia juga melaporkan adanya korban penculikan yang masih ditahan musuh. Markas Pusat menanggapi pernyataan Nio dengan serius, sebagian karena adanya seorang tawanan yang berhasil dibawa bernama Sonia.
Setelah menjalani wawancara selama berjam-jam, Sonia dibawa ke pusat kesehatan prajurit dan menghabiskan beberapa waktu untuk perawatan, atau karena akan merepotkan jika media mengendus keberadaan Sonia.
**
“Pertempuran tempo hari memperjelas jika musuh tidak memiliki niat untuk berdamai. Mereka melakukan segala cara untuk perang ini.”
Sucipto mengatakan itu dengan ekspresi pahit, dan nampak tidak menyukai pertempuran melawan raja naga angin. Meski menang, pertempuran di Kota Aibu dianggap sebagai hasil memalukan bagi Pasukan Ekspedisi Dunia Lain.
“Banyak prajurit berbakat terbunuh, mereka benar-benar musuh yang biadab!”
“Maafkan saya, semua karena saya tertangkap oleh musuh.”
Sucipto menoleh ke arah Nio yang berdiri di depannya dengan beberapa bagian tubuh tertutupi dengan perban dan berkata, “Ini bukan salah mu.”
Kemudian, Sucipto memandang Radit yang bisa diselamatkan saat pertempuran di Kota Aibu.
“Ya. Itu pertempuran yang buruk dan tidak terduga.”
Ekspresi wajah Radit nampak biasa saja, atau tepatnya dia menahan marah atas musuh yang nampak semakin kuat.
Nio tidak mengucapkan sepatah kata pun pada ucapan Radit, yang duta besar itu katakan dengan wajah getir. Pasukan Aliansi telah kehilangan ratusan prajuritnya ketika pertempuran di Kota Aibu. Meski begitu, Kekaisaran telah memperingatkan aliansinya bahwa pasukan hijau memiliki kekuatan yang luar biasa dibanding pasukan gabungan mereka.
Apa mereka berpikir Pasukan Aliansi bisa mengalahkan Pasukan Ekspedisi? Mereka cukup bodoh untuk berani menyerang negara dengan tingkat teknologi yang terpaut ribuan tahun.
Nio tiba-tiba teringat dengan banyak keluarga yang berdiri di depan monumen peringatan yang dibangun pasca insiden penyerangan dengan ratapan sedih. Dan musuh-musuh yang dia bunuh, mungkin mereka memiliki keluarga yang sedang menunggu kepulangannya.
Bahkan di Indonesia, “Asosiasi Korban Perang dan Insiden Penyerangan Karanganyar” yang didirikan setelah pengiriman Pasukan Ekspedisi, telah menjadi kelompok terkuat yang menyerukan balas dendam pada musuh. Jika demikian, tidak aneh situasi serupa terjadi di negara-negara musuh yang tentaranya telah dihabisi oleh pasukan Indonesia.
“Tapi, setelah pernyataan para penyihir, satu demi satu bukti ditemukan untuk mendukung pernyataan mereka. Beberapa penyihir terkenal dan terkuat menghilang dari seluruh negara Pasukan Aliansi, itu juga sebelum terjadinya perisitiwa pemanggilan pahlawan.”
Baik Sucipto maupun Nio tidak cukup yakin bahwa semua itu kebetulan.
“Tidak diragukan lagi, musuh mungkin memanggil ‘pahlawan’ tersebut sebagai senjata pemusnah masal yang menggunakan sihir.”
“Jadi, apa menurutmu ‘pahlawan’ itu adalah benda mati?”
Radit menelan lagi kata-katanya setelah jawaban menohok dari Nio. Jika kata-kata Radit benar, bisa dipastikan perang akan berlangsung lebih lama dan sangat menghancurkan.
“Tanah Suci ini telah disetujui sebagai wilayah Indonesia. Dengan begitu, semua pergerakan Pasukan Ekspedisi di sini bisa dikatakan sebagai ‘pembelaan’. Kita diperintahkan oleh Presiden untuk melindungi Republik dari ancaman seluruh musuh potensial, dan melakukan penjelajahan terhadap dunia ini. Dengan kata lain, pertempuran yang kita lakukan tidak boleh ada yang menentangnya selama mendapatkan ijin dari Presiden, dan pertempuran itu bersifat pembelaan diri.”
Dengan kata lain, ini bukanlah perang dengan negara musuh, tetapi aktivitas penjagaan keamanan negeri. Namun, keberadaan ‘pahlawan’ yang dimaksud masih merupakan tanda tanya yang besar, dan hanya orang-orang tertentu di dunia ini yang mengetahui mengenai ‘pahlawan’ itu.
__ADS_1
**
Setelah perang selesai, perasaan Fariz dan gadis-gadis Regu penjelajah 1 sangat tidak karuan. Ada banyak prajurit Pasukan Ekspedisi yang gugur, dan dua rekan mereka menjadi orang dalam daftar tersebut.
Jadi, para gadis tersebut daripada depresi di dalam barak, Nio memerintahkan mereka untuk mengajak Zariv, Sheyn dan Sigiz untuk membeli pakaian baru karena pakaian mereka yang rusak setelah pertempuran.
Seluruh gadis Regu penjelajah 1 menemani gadis-gadis dunia lain itu berjalan-jalan di ‘kota pengungsian’ yang telah berdiri banyak toko yang menjual barang dari Indonesia.
Para gadis Regu penjelajah 1 yang pergi ke area pengungsian setelah sekian lama, kagum dengan perubahan ini.
Ketika mereka melangkah di jalanan pengungsian yang hampir menjadi kota kecil ini, yang para gadis itu ingat adalah perumahan sementara yang diisi puluhan orang, dan belum tertata terlalu rapi.
Jika media meliput area ini, mereka pasti akan menyebutkan sebagai ‘kamp konsentrasi tawanan perang’. Untungnya, setelah insiden gugurnya Chandra yang diakibatkan sebuah kelompok jurnalis, Pasukan Ekspedisi tidak lagi mengijinkan media untuk memasuki Gerbang.
Suasana pengungsian berangsur-angsur membaik. Jumlah rumah bagi pengungsi meningkat, dan fasilitas umum seperti kamar mandi umum, sistem pengolah sampah, saluran drainase dan pengolah air bersih menjadi lebih baik.
Itu belum semuanya, para pengungsi mendapatkan pekerjaan dari toko-toko yang didirikan Pasukan Ekspedisi dan menjual produk dari Indonesia. Ekspresi mereka cukup cerah terhadap prajurit Pasukan Ekspedisi, meski mereka mengetahui fakta jika ada banyak prajurit yang terbunuh ketika pertempuran dengan raja naga angin.
Sekilas, area pengungsian telah berubah menjadi sebuah kota.
**
Setelah para gadis Regu penjelajah 1 mengantarkan ketiga gadis dunia lain itu memesan pakaian untuk mereka, Dinda menyarankan untuk pergi mencari makan. Ada sebuah warung makan yang menjual makanan favorit semua orang.
“Ayo pergi makan.”
Seluruh gadis duduk di sebuah warung makan yang menjual bakso dan mi ayam. Aroma harum dari kuah bakso membuat Zariv dan Sheyn terlihat penasaran dan sangat penasaran dengan makanan yang di sebut bakso tersebut.
“Pak, pesan mi ayamnya 10 dan baksonya 7!”
“Siap!”
Penjual mi ayam merupakan staf kantin Pasukan Ekspedisi yang dipindahkan ke warung ini, dia juga dibantu beberapa pengungsi laki-laki Demihuman remaja. Seluruh pegawai warung ini nampak ceria saat melayani pengunjung, lalu beberapa saat kemudian Nio memasuki warung ini bersama kakaknya dan disambut pemilik warung dan seluruh pegawainya.
Dia dan Arunika duduk di tempat yang terpisah dengan para gadis, dan memesan mi ayam dan es jeruk manis. Mereka berdua menikmati makanan pesanan dengan tenang sambil diawasi oleh para gadis yang menunjukkan tatapan iri.
“Agak asin, tapi ini enak!”
Ketika Zariv memasukan sebuah bola bakso ke mulutnya, dia sangat menikmati bola daging itu dan diikuti oleh Sheyn yang juga memperlihatkan reaksi yang sama.
Nio, Arunika, dan para gadis Regu penjelajah 1 tertawa kecil. “Kalian juga harus mencoba mi ayam ini!” Nio menunjukkan semangkuk mi ayam yang baru ia makan beberapa suap saja.
Saat Nio mengatakan itu, pemilik warung tertawa bahagia dan menarik perhatian orang-orang yang berjalan.
“Terimakasih, bos Nio! Ini semua karena bantuan seluruh pegawai ku juga.”
Lalu, Nio bertanya pada seluruh pegawai Demihuman, “Apa kalian menikmati pekerjaan ini?”
“Awalnya, kupikir ‘apa itu pekerjaan pelayan warung?’, tapi ternyata pekerjaan ini sangat menyenangkan, bos Nio. Selama kami tinggal di sini, tidak ada peraturan aneh seperti di Kekaisaran, dan membuat kami bekerja dengan tenang. Tempat ini sangat menyenangkan!”
__ADS_1
Bagaimanapun, kehidupan seluruh pengungsi dan pendatang berubah drastis daripada sebelum mereka masih berada di Kekaisaran.
Suasana dikelilingi oleh udara ketenangan. Melalui pertukaran budaya antar dunia dan ras, Nio merasakan kembali kehangatan kota yang dibangun Pasukan Ekspedisi ini.
Baru-baru ini, rapat pembahasan anggaran bagi Pasukan Ekspedisi menyetujui dukungan anggaran tambahan untuk pembangunan pengungsian, dan persediaan logistik telah ditingkatkan.
Hubungan dengan pedagang dari Kerajaan Arevelk dan Negara Yekirnovo telah ditingkatkan, dengan kerjasama yang dilakukan Pasukan Ekspedisi dan masing-masing pemimpin negara. Dengan mendistribusikan pasokan barang dari Indonesia dan kedua negara tersebut, dan membentuk satuan pengawas dan pengaman, area pengungsian telah menjadi kota yang makmur.
Wajah orang-orang penuh dengan senyuman ramah, dan memiliki lebih banyak ruang untuk satu sama lain. Mereka juga secara bertahap berinteraksi dengan prajurit Pasukan Ekspedisi, dan beberapa bahkan menemukan jodoh di sini.
Nio berpikir dia bisa melupakan sejenak kebrutalan perang seminggu yang lalu dengan melihat pemandangan ini, dan menegaskan kembali posisinya sebagai penanggung jawab pengungsi.
Meski terluka, baik luka fisik dan mental, selama ada kakaknya di dekatnya, Nio merasa semua hal buruk akan baik-baik saja. Namun, dia tidak bisa selalu menomor satukan kakaknya, karena Nio sendiri juga memilki seorang kekasih.
**
Pasukan Aliansi telah memobilisasi seluruh penyihir yang mereka miliki, dan demi tujuan perang. Kadang-kadang, demi memenangkan sebuah pertempuran saja, hati nurani dan akal tidak lagi digunakan.
Itu sebabnya, mereka memaksa 9 pahlawan yang mereka panggil dari dunia yang sama dengan penjajah mereka untuk bertarung demi mereka, dengan membawa nama Dewa Perang.
Pada akhirnya, 9 orang yang terpanggil setuju untuk membantu Pasukan Aliansi dalam perang ini. Hanya dua orang dari mereka yang benar-benar apa artinya perang itu, yakni Rio dan tentara Israel. Sisanya? Mereka mencoba tidak ingin untuk memahami apa itu perang. Mereka hanya mencoba untuk selamat hingga dikembalikan ke dunia asal setelah mengakhiri perang.
Tapi, pada kenyataannya, memihak Pasukan Aliansi yang sedang berperang dengan Pasukan Indonesia adalah demi menjaga kewarasan mereka. Meski itu artinya mereka nantinya harus berhadapan dengan militer terkuat ke-7 di dunia mereka.
Rio sedang mempertimbangkan semua faktor saat mengamati Salul dari sudut matanya. Ketika memimpin pertemuan hari ini, Salul memperlihatkan senyuman puas di wajahnya, yang mungkin menandakan suatu hal.
Salul diam-diam memantau Baron dan orang Thailand saat menjelaskan rencana perang kedepannya. Baron dan orang Thailand yang memiliki rasa benci terhadap musuh Pasukan Aliansi, membuat Salul memastikan mereka berdua tetap berpihak padanya.
Lagipula, Salul telah mengetahui kepribadian mereka berdua. Dia telah menyadari di antar kesembilan orang ini yang paling membenci musuh Pasukan Aliansi.
Terlepas dari itu, karena mereka telah memilih untuk membantu pasukan ini dalam perang mereka, mereka perlu belajar cara bertarung. Tidak peduli ada dua prajurit di antara mereka, ketujuh orang yang lainnya hanya orang-orang biasa yang tinggal di negara masing-masing yang damai setelah perang. Tidak mungkin bagi mereka untuk mulai bertaring melawan senjata biadab tanpa pelatihan apapun.
Salul sudah menyiapkan nama-nama bagi pahlawan di depannya, dia akan menjelaskan hal itu nanti.
“Para pahlawan sekalian, silahkan untuk berdiri di depan saya.”
Pria tua itu nampak merapalkan mantra panjang dengan cepat, dan lingkaran sihir mulai muncul dengan memancarkan cahaya menyilaukan di depan kesembilan orang yang berdiri di depan Salul. Tampak mantra yang diucapkan Salul bernada, seperti nyanyian.
Indah merasakan perasaan yang tidak enak ketika lingkaran sihir di depannya memunculkan sebuah benda. Dia menyingkirkan pikiran yang tidak menyedihkan tentang Nio, dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia harus melakukan apa yang dia bisa untuk saat ini.
Rasa tidak nyaman Indah terus meningkat, dan benda yang muncul di depannya akhirnya menunjukkan wujudnya.
Sebuah busur panah berwarna biru tua dengan ukiran yang indah melayang, dan berhenti di depan wajah Indah seakan-akan menyuruh gadis itu untuk segera memegangnya. Kedelapan orang yang lain juga mendapatkan senjata ‘sihir’ masing-masing, dan yang terunik adalah milik Rio.
“Kenapa aku mendapatkan senapan milikku sendiri?”
Ya, senjata sihir yang Rio dapatkan adalah Senapan Serbu 20 generasi pertama miliknya. Seluruh orang terdengar iri dengan senjata yang didapatkan Rio. Tapi, mereka tidak bisa menukar senjata yang didapatkan dengan pahlawan lain.
Mereka tidak memiliki waktu untuk memandangi keindahan senjata masing-masing, karena latihan dimulai keesokan harinya pagi-pagi sekali.
__ADS_1