
25 Agustus 2321, pukul 10.07 WIB.
**
Waktunya telah tiba, pengiriman pasukan gelombang pertama ke tempat yang orang-orang menyebutnya dengan ‘dunia lain’.
Indonesia secara resmi tidak memiliki bendera perang, sebagai gantinya beberapa prajurit membawa bendera merah putih dan TNI kesatuan AD. AU belum mendapatkan perintah untuk berangkat ke balik Gerbang.
Pasukan pimpinan Ratu Sigiz telah kembali ke asalnya beberapa jam yang lalu.
Ribuan prajurit berpakaian tempur lengkap berbaris rapi dan mengular sepanjang lebih dari 1 km di jalan provinsi Kota Karanganyar, di depan mereka terdapat benda yang menghubungkan dunia satu dengan dunia yang lain. Orang-orang menyebut benda itu sebagai ‘Gerbang’.
Jumlah pasukan yang berbaris di depan Gerbang bisa mencapai 2 Brigade dengan jumlah prajurit dalam satu Brigade sebanyak 5.000 orang. Jadi pasukan gelombang pertama yang dikirimkan ke dunia lain sebanyak 10.000 orang. Seluruh pasukan yang berbaris termasuk kedalam pasukan Infanteri.
Di depan Gerbang, berdiri sebuah monumen yang dibangun untuk memperingati hari penyerangan pada ulang tahun Republik Indonesia.
Di depan monumen, berjajar rapi kendaraan tempur berbagai jenis yang akan digunakan pasukan ini. Jika kondisi sekarang masih dalam keadaan perang, pasukan sebanyak ini bisa untuk menghancurkan musuh dari dunia lain dalam waktu 1 bulan saja, tentu saja dengan persenjataan terbaru milik TNI.
20 tank tempur utama, 40 tank medium, 120 kendaraan lapis baja pengangkut personel, 20 artileri anti-personel dengan sistem gerak sendiri, dan ratusan truk pengangkut, itulah kendaraan tempur yang dibawa pasukan yang akan segera memasuki Gerbang.
Menurut tim petualang yang telah kembali, bagian dalam Gerbang memang gelap dengan jalan bagian dalamnya terasa seperti terbuat dari batu.
Nio berbaris di barisan paling depan, bersama para perwira yang juga akan dikirim ke tempat di balik Gerbang. Sebelumnya, Nio berada di barisan belakang, namun seseorang menariknya dan menyuruhnya untuk menempati barisan depan.
Mestinya tidak ada prajurit yang ingin menempati baris terdepan, karena jika terjadi pertempuran sesaat setalah keluar dari Gerbang, merekalah yang paling diharapkan.
Ada sangat banyak warga yang berada di tempat ini, beberapa bertujuan untuk melihat tugu peringatan yang diletakkan sangat banyak bunga. Banyak warga yang menangis saat keluarga mereka menjadi korban penyerangan, baik korban tewas maupun korban hilang. Menurut informasi, warga sipil yang tewas berada diangka 122 jiwa, sedangkan korban hilang lebih banyak yakni 214 orang. Kemungkinan, korban hilang ini diculik oleh pasukan musuh dan dibawa ketempat mereka berasal.
Jika musuh memiliki hukum perang internasional yang mengatur keamanan tawanan perang, itu adalah berita baik bagi keluarga yang kehilangan. Sayangnya, pasukan dunia lain dianggap berperang tanpa etika dan merampas segalanya.
Nio sedikit melirik kearah seorang gadis yang terlihat sedang menangis sangat keras, hingga beberapa teman-temannya harus menenagkan dirinya. Dia adalah Indah, seluruh keluarganya adalah korban tewas pada peristiwa penyerangan. Kini tidak ada keluarga yang akan menemaninya, atau dengan artian dia hampir sama seperti Nio.
Setelah meletakkan bunga di depan tugu peringatan, Indah melihat Nio berada di barisan terdepan para pasukan yang masih menunggu waktu untuk diberangkatkan.
Area sekitar mata dan matanya sendiri sudah berwarna merah karena terlalu lama menangis, Indah kemudian menarik napas panjang untuk bersiap berteriak.
“Nio…!!! Hancurkan keparat dunia lain itu untukku…!!!” Indah berteriak tanpa malu dan menyebut nama Nio.
Saat seseorang menyebut nama Nio, banyak orang yang mencoba mencari sosok yang memiliki nama tersebut. Meski mereka harus mencarinya satu persatu diantara puluhan ribu prajurit.
Arunika tidak perlu bersusah payah untuk menemukan Nio, karena dia berada di tempat khusus yang membuat dirinya bisa terus memantau Nio. Dia masih merasa khawatir dengan adiknya itu, karena dia akan menuju tempat yang sangat berbahaya, dan Nio masih belum menjawab perasaannya.
__ADS_1
Pemberangkatan pasukan akan dilakukan oleh Presiden, dia sekarang sudah berdiri di mimbar yang telah disediakan. Sorot kamera wartawan dan reporter yang sebelumnya berfokus kepada pasukan, sekarang dialihkan kearah Suroso yang akan melakukan pidato.
“Operasi yang akan dilakukan para prajurit pemberani ini, telah disetujui banyak pihak. Dan sekarang, pasukan TNI yang terpilih akan segera diberangkatkan ke dunia lain. Para prajurit sekalian, misi yang kalian emban sangatlah berat. “
Setelah Suroso yang selesai berpidato, sekarang berdiri seorang perwira laki-laki yang akan menjadi Komandan pasukan yang dikirim ke dunia lain.
“Aku Sucipto, komandan kalian. Sudah banyak penjelajah yang memasuki Gerbang beberapa waktu lalu. Tapi,belum ada yang tahu apa yang terjadi di sana. Maka dari itu, kalian harus siap siaga untuk bertempur setelah keluar dari Gerbang. Kita akan segera memasuki Gerbang!”
Sesaat setelah perintah untuk segera berangkat, seluruh prajurit memasang magasin pada senapan serbu masing-masing, penembak pada kendaraan tempur juga menyiapkan diri dan persenjataan.
Seluruh prajurit kemudian memasuki kendaraan pengangkut personil yang sudah disediakan. Mereka yang berada di dalam kendaraan tidak mengenal satu sama lain, karena penyusunan pasukan baru akan dilakukan setelah keluar dari Gerbang.
Yang pertama berangkat adalah kendaraan tempur, suara mesin kendaraan mulai terdengar kemudian dilanjutkan suara gemuruh dari roda rantai tank dan roda besar kendaraan lapis baja yang melaju. Tanah disekitar terasa bergetar saat ratusan kendaraan lapis baja itu melaju dan memasuki Gerbang satu persatu.
Seluruh prajurit tentu saja merasa gugup saat memasuki tempat yang baru, dan mungkin sangat berbahaya.
“Ah, saya sangat senang bisa satu kendaraan dengan anda, Peltu Nio,” seseorang yang duduk disamping Nio terlihat senang saat orang disampingnya adalah prajurit yang cukup terkenal.
Seluruh penumpang juga nampak seperti itu, dan membuat Nio semakin gugup saat mesin kendaraan lapis baja yang ia tumpangi dinyalakan oleh pengemudi kendaraan.
Pintu Gerbang yang berukuran besar dapat dimasuki dua buah tank tempur utama jika dijejerkan, dan satu jet tempur jika memasuki Gerbang.
Bagian dalam gerbang benar-benar sangat gelap dan jalannya sangat kasar, sehingga membuat prajurit yang berada di dalam kendaraan menjadi kurang nyaman karena guncangan.
Seluruh lampu yang terpasang pada kendaraan tempur dinyalakan untuk menerangi jalan yang sangat gelap, gelapnya tempat ini seperti tidak ada sinar matahari yang dapat menembus tempat ini.
Lagi pula, tidak ada yang tahu mengapa Gerbang terasa sangat panjang dan jauh, sementara panjang Gerbang yang muncul hanya 20 meter. Inilah yang beberapa pihak menyebutnya sebagai fenomena ‘fantasi’. Karena dunia yang akan mereka datangi kemungkinan akan banyak fenomena fantasi, para prajurit dibekali dengan novel dan komik yang bergenre fantasi. Itu mengapa, saat sebelum keberangkatan, toko buku yang menjual novel dan komik selalu antri oleh prajurit yang akan membeli kedua barang itu.
Hawa dingin mulai dirasakan para prajurit, hingga mulut mereka ketika berbicara mengeluarkan asap.
Sebentar lagi, pasukan TNI akan segera keluar dari sebuah fenomena fantasi yang menghubungkan satu dunia ke dunia yang lain, mereka menyebutnya sebagai, Gerbang!
**
Langit pagi-pagi buta yang masih gelap, diterangi oleh suar yang terbang turun dengan lambat.
Ratusan ribu pasukan kavaleri pasukan gabungan lima negara telah menyambut para prajurit TNI yang sudah tak sabar ingin melemaskan otot mereka yang kaku akibat dari perang yang sudah usai. Diatas mereka terdapat suar yang menyala dengan terang.
“Apa musuh memiliki sihir cahaya?” seluruh prajurit musuh berteriak seperti itu.
Di depan pasukan TNI, ada kavaleri berat, dan pasukan monster yang tersisa, dengan beberapa makhluk fantasi lainnya yang berada di belakang pasukan dan memenuhi wilayah yang mereka menyebutnya sebagai ‘Tanah Suci’.
__ADS_1
Di langit, ada puluhan pawang yang mengendalikan naga dan jenis kadal terbang lainnya.
Jumlah pasukan ini ratusan ribu, itu hanya perkiraan saja karena tidak mungkin untuk dihitung satu persatu.
Pengintai dari TNI telah memberikan perintah untuk prajurit bergegas menuju pos dan menyiapkan senjata untuk menghalau pasukan musuh yang akan menyerang pasukan utama.
Petugas TNI melakukan banyak upaya untuk mengatur pasukan ‘ekspedisi’ ini. TNI akan menghadapi musuh dengan perbedaan teknologi yang sangat besar.
Musuh yang akan prajurit TNI adalah musuh dengan zirah besi yang terbuat dari lempengan logam kuat, makhluk fantasi, dan sihir yang belum pernah diketahui TNI sebelumnya.
Maka mereka mencari informasi dari novel dan komik, serta film fantasi.
Jajaran Komandan berkisar antara Kapten hingga Sersan, serta prajurit Bintara yang berada pangkat Kopral.
Presiden telah menjelaskan ‘tanah yang belum dipetakan di luar Gerbang, tugas Komandan adalah menilai siapa kawan dan musuh’, tapi semua orang tahu jika pekerjaan itu tidak sesederhana yang dipikirkan.
Tank tempur utama yang dibawa sebenarnya telah berusia tua, hanya beberapa kendaraan lapis baja yang merupakan keluaran terbaru. Senapan serbu yang digunakan prajurit juga merupakan keluaran terbaru, dan masih terus dikembangkan hingga tipe ke-21.
Seharusnya, tank tempur utama yang dikirimkan sudah dipensiunkan. Namun demi menghemat anggaran, Kementrian Pertahanan mau tidak mau harus mengirimkan tank tempur tua itu. Meski sudah tua, tetapi tank tempur utama buatan dalam negeri itu masih bisa diperhitungkan dengan tank tempur utama baru milik negara tetangga.
Senapan serbu tipe-20 telah disebarkan ke seluruh prajurit TNI. Senapan serbu tipe-19 sudah tidak digunakan karena tidak berguna untuk menembus zirah besi musuh.
Mengirimkan peralatan tempur yang sudah tua adalah bagian dari mempertimbangkan peralatan tempur saat keadaan darurat, maka lebih baik menggunakan peralatan tempur yang lama daripada menggunakan senjata baru yang telah menghabiskan banyak uang.
Untuk pertahanan dari pasukan penunggang naga musuh, senjata yang digunakan adalah meriam dengan tipe gatling enam laras yang dapat mengeluarkan peluru dengan diameter 20 mm. Operator senjata sedang mengarahkan senjata ke arah kadal-kadal terbang dan pawangnya itu.
Prajurit menyiapkan senapan ke mode otomatis penuh. Komandan mereka dari pengeras suara terdengar memberi arahan.
“Jangan panik, tahan tembakan kalian,” Nio juga memimpin sebuah Regu dan mengatakan hal yang sama kepada anggotanya.
Meski beberapa prajurit masih terlihat belum terbiasa, tapi ini bukan kali pertama mereka melakukan pertempuran.
Prajurit TNI masih dapat menahan diri dan menunggu perintah hingga musuh mendekati mereka.
Musuh hampir berhasil dihancurkan oleh satu negara saja, bahkan pasukan yang mereka kirim belum lama ini hampir dimusnahkan.
Senjata standar di dunia ini adalah pedang baja, tombak, dan panah. Strategi mereka adalah membentuk barisan dan bertempur bersama. Peralatan tempur mereka berupa balista dan ketapel dengan artileri batu raksasa. Tetapi jangkauan mereka terbatas dan jumlahnya sedikit, dan bukan merupakan ancaman.
Karena itu, tidak peduli seberapa banyak pasukan mereka, mereka bukanlah tandingan TNI yang dilengkapi dengan senjata modern.
Tembakkan dari meriam railgun yang terpasang pada tank tempur utama dan senapan serbu serta mesin merupakan salam pembuka TNI bagi dunia lain.
__ADS_1