Prajurit SMA

Prajurit SMA
Agen ganda


__ADS_3

Informan atau agen, baik bekerja pada situasi aman atau di tengah peperangan, atau bahkan bekerja untuk dua atau lebih organisasi dituntut untuk secara akurat membawa pesan bagi pihak yang membayar jasa mereka. Dengan kata lain, menjadi seorang agen yang mencari informasi membutuhkan keahlian untuk menyampaikan kata-kata sesuai apa yang dia dapat selama melaksanakan tugas, dan tidak mengubah informasi tersebut.


Arevelk adalah negara yang pertama kali membentuk pasukan yang bertugas sebagai agen dan menyusup ke wilayah musuh. Sebagian besar anggota pasukan khusus tersebut berisi penyihir maupun tentara bayaran yang memiliki kemampuan berpindah tempat sangat cepat. Mereka dituntut untuk menguasai kemampuan tersebut, meski tidak diharuskan menguasai sihir teleportasi yang membutuhkan energi magis besar. Ilhiya adalah salah satu perwira penyihir Arevelk yang menjadi anggota pasukan khusus Arevelk tersebut, disamping tugasnya sebagai komandan salah satu batalyon penyihir.


Persekutuan mengandalkan Regu Penjelajah yang dibentuk kembali sebagai unit pengintai dan pencari informasi di sekitar wilayah musuh. Meski tidak memasuki wilayah musuh, mereka dibekali dengan drone berkamera seukuran lalat untuk memantau pergerakan musuh di area kecil seperti pangkalan perbatasan maupun tempat yang berpotensi menjadi basis kecil musuh di perbatasan. Di masa perang yang ‘damai’ ini, sebagian besar Regu Penjelajah merasa tugas mereka mendekati patroli alih-alih mengintai.


Sementara itu, ada ribuan tentara Aliansi, baik tentara rendah maupun perwira yang menjadi POW, dan menjalani masa hukuman di benteng Persekutuan yang kokoh. Sebagian dari mereka secara sukarela mengajukan diri sebagai informan serta agen ganda. Tentu saja pemilik utama mereka adalah Persekutuan selama Aliansi belum menyetujui syarat-syarat yang diajukan jika empat puluh ribu tentara mereka ingin dikembalikan.


Tentu saja para agen ganda tetap mendapatkan bayaran sesuai pekerjaan dan resiko yang dihadapi ketika melaksanakan misi. Alih-alih menderita karena tuntutan pekerjaan yang tak masuk akal dari staf intel Persekutuan, para POW yang mengajukan diri menjadi agen ganda justru puas dengan pekerjaan mereka. Tentu saja karena mereka mendapatkan uang dengan jumlah yang sesuai dengan tingkat kesulitan ketika mencari informasi.


Selain itu, para POW yang direkrut secara sukarela dapat dimanfaatkan sebagai pengirim disinformasi atau sebagai bagian penyusup operasi kontra spionase. Mereka benar-benar mendapatkan kepercayaan dari pengendali mereka, yakni Persekutuan, meski mereka juga dibayar oleh sasaran, alias Aliansi, untuk mencari informasi tentang Persekutuan dan Pasukan Perdamaian.


Salah satu agen ganda yang berasal dari kalangan POW dan mendapatkan posisi khusus di staf intel Persekutuan sebagai ketua intelejen yang berasal dari kalangan POW adalah salah satu perwira tinggi Aliansi yang bernama Tam. Dia berasal dari Kekaisaran Duiwel dan menjabat sebagai salah satu komandan batalyon penyihir negara tersebut bagi Aliansi. Hampir dua ratus bawahannya menjadi tawanan Persekutuan, namun Tam dan bawahan serta tentara Aliansi lainnya menjalani kehidupan dengan layak sebagai tawanan perang, dan hampir mendekati kehidupan biasa ketika tertawan di sini.


Selain bekerja untuk Persekutuan, dia berhasil kembali ke Aliansi sebagai ‘tawanan yang dilepaskan tanpa syarat’, meski kedok asli dari ‘pembebasan’ tersebut adalah agar Tam dapat leluasa dalam bekerja. Salah satu tugas Tam adalah memberikan informasi pada Aliansi bahwa ‘orang yang diramalkan’ telah muncul diantara tentara Persekutuan. Itu adalah informasi benar-benar dipercayai oleh petinggi Aliansi, dan segera membentuk pasukan untuk mengobarkan perang lebih luas untuk mendapatkan ‘orang yang diramalkan’ tersebut.


Sayangnya, Persekutuan tidak terlalu mempedulikan informasi tersebut, dan hanya menginginkan reaksi Aliansi atas informasi tersebut. Pada akhirnya mereka mendapatkan apa yang diinginkan, dan berhasil memancing Aliansi untuk menunjukkan salah satu tujuan mereka selain merebut kembali Tanah Suci dan mengusir kontingen ‘dunia lain’.


(olog note: POW atau Prisoner Of War adalah kata keren dari ‘tawanan perang’. Intinya, penulis nggunain kata ‘POW’ biar keren dan sok ‘enggres’ aja, padahal dia nggak bisa bahasa enggres:v wkwkwkw, ampun thor…)


Lagipula Persekutuan tidak terlalu membutuhkan informasi tentang munculnya ‘orang yang diramalkan’ diantara prajurit mereka. Karena Nio cukup dikenal oleh para perwira tinggi Pasukan Perdamaian, maka mereka tahu mengapa Nio secara tiba-tiba dianggap sebagai sosok tersebut.


“Mereka benar-benar bergerak untuk merebut ‘orang yang diramalkan’, ya?”


Angga benar-benar dalam kondisi tidak memahami tentang dunia ini, khususnya mengenai status Nio sebagai ‘orang yang diramalkan’ di dunia ini, dia belum sepenuhnya memahami hal itu sampai sekarang.


Tam kemudian berkata, “Selain itu, seperti perkiraan jumlah tentara Aliansi yang Anda berikan pada para agen, Aliansi benar-benar memiliki tentara berjumlah tiga juta personel, termasuk penyihir dan pasukan cadangan.”


“Itu adalah prediksi dari orang yang kalian sebut ‘orang yang diramalkan’. Entah apa yang dia lakukan hingga prediksinya tentang jumlah tentara Aliansi cukup akurat.”


Apapun yang Angga pikirkan, dia masih tidak paham mengapa prajurit berpotensi seperti Nio hanya menduduki posisi perwira Tentara Pelajar – yang tidak terlalu sering dilibatkan dalam pertempuran besar. Di luar masih dalam kondisi gerimis, sehingga udara sedikit sejuk dan dapat mendinginkan kepala Angga yang hampir panas karena terlalu memikirkan hal tersebut.


Tam benar-benar menunjukkan ekspresi wajah yang dimaksudkan untuk pihak yang memilikinya, berbicara sesuai perintah pemiliknya, dan mengucapkan kata-kata yang diinginkan oleh pemiliknya. Saat ini dia berhadapan dengan pemilik komando tertinggi Pasukan Perdamaian serta salah satu sosok penting Persekutuan. Tidak adanya politisi di Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru membuat Angga dianggap sebagai pemimpin wilayah yang mencangkup sebagian Tanah Suci oleh beberapa bangsawan Arevelk dan Yekirnovo.


Tam tetap menunjukkan wajah tegas seorang perwira yang penuh harga diri – meski seorang tawanan – dan kedudukannya tak jauh berbeda dengan penjahat kecil. Jendral Angga tetap memberi perhatian khusus terhadap dirinya, dan Tam menyadari hal itu. Pria tersebut telah berjanji untuk tetap melayani Persekutuan, meski dia bertugas sebagai agen ganda.


“Pak Tam, apa yang kamu pikirkan tentang Aliansi di perang ini. Aku menginginkan jawaban dari sudut pandang seorang perwira Aliansi.”


“Maksud Anda bagaimana perang ini menurut saya, Tuan Angga?”


“Benar.”


Bisa dikatakan, kedudukan Tam sebelum berakhir menjadi agen ganda bagi Persekutuan setara dengan jendral. Namun, dia sedang berdiri di hadapan seseorang yang menurutnya jabatannya jauh lebih tinggi dari jendral menurut tingkatan pangkat militer dunia ini. Apalagi keberadaan seseorang yang bernama Letnan Satu (Tentara Pelajar) Nio Candranala yang sekaligus sebagai ‘orang yang diramalkan’, mungkin dapat menjadi sosok yang menduduki jabatan lebih tinggi dari Angga. Jadi, Tam akan menguatkan diri untuk berbicara dengan hati-hati, selain karena dia sedang berada di dalam kandang prajurit yang sangat kuat meski memiliki prajurit sedikit. “Saya akan menyampaikan apa yang saya pikirkan tentang perang ini, terutama menurut sudut pandang Aliansi.”


Tam kemudian melanjutkan perkataannya, “Aliansi sangat percaya diri dengan kekuatan besar, serta senjata mereka yang disebut ‘pahlawan’. Mereka mulai menciptakan senjata baru yang disebut ‘senapan’, dan akan membuat senjata baru lainnya dengan memanfaatkan pengetahuan kesembilan pahlawan. Dengan begitu, mereka sangat yakin dapat memenangkan perang ini.”


Angga berhenti bereaksi untuk beberapa saat setelah mendengar ‘senjata baru’ dari ucapan Tam, lalu melayangkan sebuah pertanyaan kepada Tam.


“Lalu, apa inti dari perkataan mu, Pak Tam?”


“Mereka akan maka kotoran.”


“Tepatnya?” Angga tidak mengerti dengan perkataan Tam, seolah-olah itu adalah istilah khusus bagi militer dunia ini.


“Tentu saja mereka akan kalah, lalu membentuk pasukan lagi untuk membalas kekalahan. Bukankah itu tidak berbeda dengan rencana kotor? Memanfaatkan pemuda atau orang yang mampu mengangkat senjata, lalu memaksa mereka untuk berperang dengan senjata mengerikan pasukan Indonesia, Korea Utara, dan Rusia. Menurut saya, Aliansi benar-benar lebih rendah dari apapun di dunia ini. Dan mereka tidak akan berhenti melakukan hal itu sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan.”


Dikirimkan ke dunia ini untuk mencari dalang perang besar yang melibatkan seluruh negara di dunia mereka, dan mencapai perdamaian – yaitu untuk mengakhiri perang termahal dalam sejarah sejak berdirinya Republik Indonesia.


Sejak perang dimulai, militer dengan terpaksa membangkitkan kembali Tentara Republik Indonesia Pelajar demi memperkuat pasukan militer dalam menghadapi invasi musuh yang terus keluar dari Gerbang-Gerbang yang terbuka di berbagai belahan dunia. Namun, Angga merasa jika TRIP tidak didirikan kembali, mungkin Nio tidak akan berada di tempat ini dan melihat berbagai aksi perwira remaja tersebut.

__ADS_1


“Oh, itu balasan Anda untuk Aliansi yang telah menyebabkan banyak keluarga kehilangan anak dan kepala keluarga mereka akibat perang ini?”


“Terus terang, apa yang mereka lakukan demi kemenangan jauh lebih buruk dari itu.”


Angga merasa Tam mengatakannya dengan kesadaran penuh, dia mungkin melihat seorang tawanan yang bersedia memberikan informasi sepenting apapun tentang Aliansi. Angga tahu jika wajahnya tidak mengancam, karena tugasnya sebagian besar berada di dalam ruangan, tidak seperti perwira lapangan yang terjun langsung ke medan pertarungan.


Tam sepenuhnya sadar jika yang dia lakukan hampir mendekati tindakan seorang penjilat. Tanpa sadar, dia telah melakukan hal demi mendapatkan keselamatan,pujian, dan kehidupan yang layak selama menjadi tawanan Persekutuan.


Kemudian, beberapa saat kemudian suara pintu masuk ruangan kerja Angga terdengar terketuk. Angga mengijinkan orang yang mengetuk pintu ruang kerjanya, lalu masuklah empat orang yang menjabat posisi tertinggi di masing-masing kontingen. Namun, kontingen Arevelk dan Yekirnovo benar-benar diwakili oleh jendral besar mereka, yakni Zvail dan Ragh.


“Oh, ternyata ada pembelot rupanya,” ucap Zvail dengan wajah sinis. Dia belum sepenuhnya percaya dengan unit intlejen khusus yang anggotanya berasal dari kalangan tawanan yang berpangkat tinggi setingkat perwira menengah atau lebih tinggi.


Mempertimbangkan posisinya di antara keempat orang dengan pangkat tertinggi dari masing-masing kontingen, Tam merasa dirinya tak lebih dari sekedar alat yang dapat dibuang kapan saja jika pemiliknya sudah tidak membutuhkannya lagi.


Komandan kontingen Rusia untuk Pasukan Perdamaian serta salah satu utusan Republik Federasi Rusia bagi Persekutuan, Letnan Jendral Nikita Leon, serta komandan tertinggi kontingen serta salah satu utusan Korea Utara untuk Persekutuan, Letnan Jendral Kim Chin-Hwa duduk di tempat yang di sediakan. Zvail dan Ragh kemudian mengikuti, lalu menatap Tam dengan tatapa yang menusuk.


“Jendral Angga, apa yang agen ganda ini berikan untuk kita?” tanya Chin-Hwa.


“Seperti yang kita duga, mereka menyerang Benteng Hitam sebagai awal serangan-serangan selanjutnya,” jawab Angga.


“Mengenai rencana Aliansi mengirimkan pasukan besar untuk merebut Tanah Suci dan ‘orang yang diramalkan’, dan rencana untuk mengusir kami dengan kekuatan militer, seluruh prajurit telah siap untuk menghadapi seluruh peperangan. Tidak, sebenarnya mereka telah menunggu hal ini setelah tidak mendapatkan kesempatan menunjukkan kekuatan pada musuh.”


Leon terlihat mengatakan hal itu dengan wajah percaya diri, mengingat pasukan yang dia pimpin membawa senjata-senjata kebanggan mereka, seperti ‘Dewa Baja’. Sebelumnya, dia telah menerima pesan dari presidennya bahwa dia harus menunjukkan pada musuh bahwa kekuatan Angkatan Bersenjata Federasi Rusia adalah yang terkuat, dan siap menghancurkan semua musuh yang membahayakan Rusia serta sekutunya. Mungkin karena hal tersebut Leon dapat berbicara seperti itu, seolah-olah Rusia datang ke dunia ini untuk menghadapi musuh dengan senjata yang mereka banggakan juga.


“Letjen Leon, saya harap Anda juga tidak melupakan bahwa Kekaisaran Luan memanfaatkan perang ini untuk menguasai kembali Kerajaan Yekirnovo.”


“Saya tidak melupakannya, Letnan Jendral Chin-Hwa. Presiden kami telah menyatakan Yekirnovo juga termasuk sekutu Rusia, kami siap melakukan apapun untuk melindungi negara muda tersebut.”


“Itu menggambarkan bahwa betapa pentingnya militer di masa sekarang.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Ragh pastinya telah tahu dan menyadari mengapa negara sebesar Rusia bersedia membantu negeri muda yang dia layani. Dia menyadari Yekirnovo tetap dapat ditaklukan dengan sangat mudah tanpa adanya Persekutuan dan Pasukan Perdamaian di sini. Dia tidak tahu cara apa yang digunakan Sheyn sehingga Persekutuan mau menerima Yekirnovo sebagai anggotanya.


“Tenang Letjen Leon, kita harus melakukannya dengan perlahan. Selain menggunakan jalur kekerasan, negara pasti juga menginginkan keajaiban seperti mengalahkan musuh tanpa menyentuh mereka.”


“Ya, tentu saja, Jendral Angga,” Leon mengangguk mengerti, dan berharap seluruh orang di ruangan ini melupakan apa yang dia katakan beberapa detik lalu. Ia tetap memiliki rasa hormat dan berusaha menerima perintah dari Angga selaku komandan tertinggi Pasukan Perdamaian, serta salah satu orang penting dalam Persekutuan. Selama dia tidak mendapatkan perintah untuk bergerak, dia akan berusaha menerimanya meski keadaan semakin mendesak. Leon dan seluruh prajurit tahu jika tugas mereka di dunia ini bukanlah berperang, namun melindungi dan mempertahankan apa yang perlu dipertahankan.


Dan, berakhirnya perang ini hanya masalah waktu sampai seluruh pasukan digerakkan untuk menanggapi Aliansi yang terus memperlihatkan ancaman.


Di sisi lain, Zvail dan Ragh menyadari jika Pasukan Perdamaian menggerakkan seluruh kekuatan mereka untuk membalas perbuatan Aliansi, dapat dipastikan Periode Perang Besar benar-benar terjadi pada masa ini. Sementara itu,masing-masing pemimpin negara mereka telah menerima surat dari beberapa pemimpin negara di luar Benua Andzrev yang berisi tentang situasi perang ini, serta pihak-pihak yang terlibat dalam konflik ini. Bisa dibilang, melawan Aliansi hanyalah awal yang kecil sebelum Periode Perang Besar yang sesungguhnya tiba.


Jika negara-negara di luar Benua Andzrev terlibat dalam perang ini – setelah mengetahui Tanah Suci yang mereka keramatkan dinodai oleh perang, tidak mengubah kemungkinan mereka akan bergabung dengan Persekutuan atau Aliansi, bahkan membentuk pasukan sendiri untuk menyelesaikan perang yang telah menodai Tanah Suci mereka.


“Para pemimpin dari negara tetangga mulai menanyakan tentang perang ini, mungkin mereka memiliki rencana bergabung dengan Persekutuan,” ucap Ragh.


“Bahkan Raja Kerajaan Hayvan tengah dalam perjalanan ke Kerajaan Arevelk,” sambung Zvail.


“Seperti dugaan para jendral Persekutuan yang terhormat, Aliansi juga telah menerima surat dari beberapa pemimpin negara di benua tetangga.”


“Pembelot, maaf, maksudku Tam, apakah kau mau memberikan informasi tentang hal yang kita bicarakan pada Aliansi? Kau juga boleh menambahkan bumbu pemanis agar mereka terpancing.”


“Akan saya laksanakan sesuai perintah Anda, Jendral Angga.”


Pada akhirnya, yang dikhawatirkan telah ada di depan mata, dan beberapa ramalan satu persatu menjadi kenyataan. Seluruh komandan masing-masing kontingen tidak dapat menyembunyikan ekspresi pahit setelah menyadari situasi mereka saat ini. Mungkin itu wajar, karena mereka tahu jika Aliansi tidak dapat bekerja sama untuk menghentikan perang ini melalui meja negosiasi. Jika hal tersebut terjadi, maka para ahli negosiasi dari masing-masing negara anggota Persekutuan hanya akan terus menerima gaji buta.


Ada saat-saat Pasukan Perdamaian khawatir dengan Persekutuan yang memiliki dua anggota dengan kekuatan jauh di belakang mereka, yakni Kerajaan Yekirnovo dan Arevelk. Meski begitu, mereka tetap tidak dapat meremehkan kekuatan kedua negara tersebut, karena mereka menyumbang sebagian besar pasukan dibanding Pasukan Perdamaian yang hanya mengirimkan tiga puluh ribu tentara dengan semangat dan persenjataan yang mereka andalkan dan banggakan.


Selain itu, para prajurit kontingen Arevelk dan Yekirnovo memiliki semangat yang besar untuk mendekati kekuatan prajurit Indonesia, Korea Utara, dan Rusia. Meski mereka tidak dipersenjatai dengan senjata api, tetapi kemampuan bertarung jarak dekat mereka hampir menyamai prajurit reguler ketiga kontingen tersebut, tetapi berada beberapa tingkat dibawah prajurit elit ketiga negara ‘dunia lain’.


“Tuan Zvail dan Tuan Ragh, semoga Anda dapat memahami niat baik Indonesia, Rusia, dan Korea Utara di sini,” kata Angga.

__ADS_1


“Ya, anggap saja keberadaan kami di sini adalah keuntungan,” sambung Leon.


“Arevelk tidak ingin mengambil keuntungan dengan keberadaan pasukan kuat seperti ketiga kontingen dari ‘dunia lain’. Kami akan melindungi Arevelk dengan kekuatan sendiri, dan tetap menerima bantuan jika kalian bersedia memberikannya. Jika tidak mendapatkan bantuan, Yang Mulia Sigiz mengatakan itu bukan masalah, karena Arevelk memiliki pasukan yang setia.”


Jelas bagi Zvail untuk tidak mengatakan kelemahan negara yang dia layani, sementara kesempatan jelas-jelas terbuka sangat lebar dan dekat di depan matanya, di sisi lain tawaran bantuan dari Indonesia, Korea Utara, dan Rusia terlalu menguntungkan. Dan masalah keamanan negara ketika Aliansi terus memperlihatkan pergerakan adalah dilema bagi petinggi Arevelk, khususnya militer negara tersebut. Para bangswan pemerintahan, bangsawan daerah, kepala suku, serta petinggi militer tidak ingin rakyat jatuh dalam kekacauan, atau hal itu akan menyebabkan Arevelk memiliki masalah baru yang cukup berat untuk ditangani.


Jika Arevelk harus menghadapi musuh tanpa bantuan, maka mereka akan melakukannya dengan berani hingga pertarungan berakhir. Jujur saja, bagi Zvail Aliansi adalah rintangan terbesar bagi perdamaian yang sangat ingin didapatkan.


Setelah mendengar ucapan Zvail mengenai pasukan Arevelk yang setia, Tam teringai dengan ucapan Otsoa mengenai keadaan negeri tersebut. Bahkan perasanaannya mengatakan sesuatu ketika Zvail begitu percaya dengan pasukannya yang setia terhadap Arevelk, tepatnya sesuatu yang mungkin akan membuat Zvail membeku dan tidak tahu harus menanggapi apa perkataannya nanti.


“Saya juga memiliki informasi yang ‘tidak sengaja’ saya dapatkan, ini tentang situasi Kerajaan Arevelk.”


“Aku ingin informasi itu akurat dan tanpa kebohongan sedikitpun,” Zvail berkata dengan wajah dan nada mengancam, namun itu tidak membuat Tam gentar sedikitpun.


Alasan Tam harus mengatakan informasi tersebut adalah pekerjaannya sebagai agen ganda, dengan pemilik utamanya adalah Persekutuan. Mengatakan sesuatu adalah hal yang sangat sederhana, namun Tam tetap tidak tahu resiko yang akan dia hadapi setelah mengatakannya.


“Ada seseorang dalam militer Arevelk yang kecewa terhadap pemerintahan yang memutuskan berperang bersama Persekutuan, sehingga orang tersebut merencanakan kudeta. Orang itu menginginkan Arevelk berperang bersama Aliansi dan mengusir orang-orang ‘dunia lain’ dari Tanah Suci.”


“Kami memang mencurigai adanya seseorang yang merencakan hal buruk seperti itu, tapi aku tidak menyangka jika hal itu benar-benar terjadi.”


“Menemukan pelaku perencanaan kudeta pasti sangat menyulitkan,” keluh Chung-Hwa.


“Sangat buruk. Saya tidak pernah berpikir situasi di negara kami akan seburuk itu. Jika kami menyadarinya sejak awal, pasti perang saudara tidak akan terjadi dalam waktu dekat.”


“Tapi, Tuan Zvail, perang saudara tidak akan terjadi jika Arevelk melakukan penyelidikan. Jadi, jangan Anda berpikir Arevelk akan terluka dengan perang saudara.”


Satu-satunya hal yang Angga bisa lakukan hanya menenangkan Zvail yang benar-benar terlihat kebingunan setelah mengetahui informasi yang diberikan Tam.


Memang perang merupakan hal yang tak terduga, dimana bukan hanya ada pertempuran dan pertumpahan darah antar musuh yang menyertai sebuah peperangan. Bahkan sesama teman dapat saling menyakiti ketika perang sedang terjadi, dan hal tersebut biasanya akan memperburuk situasi negara yang dilanda bencana yang bernama ‘perang saudara’. Zvail benar-benar menginginkan hal tersebut dicegah, bagaimanapun caranya dan apapun yang diperlukan demi terhindarnya Arevelk dan perang saudara.


“Apa kita perlu menempatkan pasukan di sepanjang garis perbatasan Kerajaan Arevel dengan Kekaisaran Luan, begitu pula dengan Kerajaan Yekirnovo, serta beberapa kota penting kedua negara tersebut?”


Jelas bagi Angga untuk menanggapi saran Leon dengan jawaban “Tidak mungkin”. Sayangnya, hal itu jauh lebih sulit dilakukan dari yang dia bayangkan. Dan itu adalah dilema terbesarnya sebagai pemimpin Pasukan Perdamaian, tepatnya adalah sebuah fakta jika Angga tidak dapat menolak permintaan sekutu Indonesia, baik dari dunia asal maupun sekutu dari dunia ini.


“Arevelk memiliki lima benteng di sepanjang perbatasan dengan Kekaisaran Luan, kami telah menempatkan cukup banyak pasukan di sana.”


Apa yang dibutuhkan Persekutuan adalah taktik dan sesuatu untuk mengakhiri perang dengan Aliansi sebelum Periode Perang Besar tiba. Itu sebabnya pasukan harus dengan tanpa kompromi melakukan hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, seperti menempatkan hampir dua ratus ribu tentara Arevelk di sepanjang garis perbatasan dengan Kekaisaran Luan.


“Tuan Zvail, apakah langkah itu dapat efektif mengurangi pergerakan Aliansi di perbatasan? Sebagai sekutu Anda, saya merasa harus mengkhawatirkan langkah tersebut.”


“Anda tidak perlu khawatir, Tuan Angga.”


“Oh, meski pasukan Arevelk diharuskan berperang di bawah tekanan Aliansi yang terus berkembang?”


“Mungkin tidak, tetapi,” Zvail melanjutkan dengan senyum lemah,” Kami telah – “


Sebelum Zvail menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba seseorang membuka pintu dengan keras tanpa peringatan sama sekali. Mereka berlima merasa pertempuran mempertahankan Benteng Hitam seharusnya sudah selesai, dan berakhir tanpa masalah.


“Letnan Nio! Akhirnya kau kembali juga,” Angga berbicara dengan wajah bahagia.


Sayangnya, Nio tidak tertarik untuk menanggapi perkataan Angga. Dia berjalan mendekati Zvail dengan tatapan yang mengintimidasi menggunakan satu-satunya matanya. Dia terlihat sangat kelelahan, setelah harus membantu menghadapi dua puluh ribu pasukan Aliansi yang berhasil dikalahkan. Bahkan Nio belum sempat membersihkan noda lumpur dan darah yang menempel di seragam kamuflase salju-nya.


“Tuan Zvail, jika rencana kudeta benar-benar terjadi, maka menempatkan pasukan di sepanjang garis perbatasan adalah tindakan yang sangat tolol!”


Itu adalah serangan kejutan yang diterima Zvail, dan tentu saja reaksi kelima periwira tinggi Persekutuan serta Tam sudah jelas. Mereka berenam sangat terkejut dengan Nio yang berbicata tanpa adab terhadap orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi darinya, dan tentu saja lebih tua dari Nio.


Sayangnya, Nio sama sekali tidak menganggap tindakannya sebuah kesalahan.


“Aku berharap kau memiliki alasan yang masuk akal atas perkataanmu, Nio,” Zvail berkata dengan nada tenang meski Nio memberinya tatapan mengancam.

__ADS_1


“Baiklah, saya akan berbicara… empat mata dengan Anda, Tuan Zvail.”


__ADS_2