
“Putuskan Nio. Kamu tidak perlu lagi berbohong bernasib sama dengannya. Kami masih keluargamu.”
Kata-kata yang keluar dari Supardi penuh dengan tekanan, wajahnya menunjukkan bahwa perkataannya harus dipatuhi oleh Arunika.
Sejak perang dimulai hingga berakhir, terdapat kasus ribuan perceraian yang dialami prajurit tamtama hingga perwira. Kebanyakan perceraian diinginkan oleh istri, karena khawatir suami mereka yang berperang akan mati, atau tidak akan kembali.
Sebelum perang, banyak perempuan yang mendambakan pendamping hidup seorang prajurit atau ‘abdi negara’. Tatapi, bahkan setelah perang berakhir, hanya sebagian kecil dari keseluruhan tentara yang dapat menjalin hubungan. Lalu, dari seluruh prajurit yang menjalin hubungan, sebagian besar gagal bertahan hingga tingkat pernikahan, alias berhenti di tengah jalan.
Para perempuan takut jika perang akan kembali terjadi, dan merenggut nyawa para tentara. Menjadi janda di usia dini, atau patah hati yang membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkannya, menjadikan para perempuan muda dan wanita memilih mencari pasangan diluar kalangan angkatan bersenjata.
Lima belas tahun lalu, ayah Nio menikah dengan ibu Arunika tanpa tahu bahwa mereka berasal dari keluarga ‘bangsawan’. Di sisi lain, keluarga Supardi tahu jika masa lalu ayah Nio adalah perwira tinggi TNI, yang belum lama mengundurkan diri dari posisi panglima. Sebenarnya, Supardi sendiri merupakan pensiunan TNI berpangkat akhir Pembantu Letnan Satu.
Semua hal yang berhubungan dengan nasib buruk akan menimpa seorang wanita jika berhubungan tentara dianggap sebagai mitos, namun terlanjur menyebar luas dan dipercaya sebagai hal yang kemungkinan terjadi sangat besar.
Pendapat Supardi diambil dari kematian kedua istrinya. Yang kemudian ia takutkan akan terjadi pada Arunika jika tetap menjalin hubungan dengan Nio.
“Tanpa maksud memutus hubungan keluarga kita dengan Nio, aku ingin kamu melakukan itu. Apa yang terjadi jika kemalangan yang menimpa ibumu terjadi padamu. Nio baru berpangkat Letnan Satu, dan di saat perang dimulai kau hampir mati. Apa yang terjadi jika Nio telah menjadi perwira tinggi?”
Meskipun Arunika tetap mengingat kejadian di awal perang, namun itu merupakan kesalahan musuh, karena posisi Nio yang merupakan korban sama seperti dirinya. Bahkan di awal perang, Nio belumlah seorang tentara, dan masih warga sipil.
Asisten rumah tangga yang mendengar hanya menatap mereka berdua yang duduk di ruang tamu dengan sembunyi-sembunyi, lalu melanjutkan pekerjaan masing-masing bersama robot pembantu. Di sisi lain, mereka juga menyayangkan sikap Supardi yang sepihak, tanpa memikirkan apa yang Arunika rasakan.
Arunika tidak pernah membayangkan bahwa kebahagiaan yang ia dapatkan akan mendapatkan halangan seperti itu. Dia juga memahami ‘rasa sakit’ jika Nio mendengar perkataan kakeknya, karena pria itu telah melalui rasa sakit panjang yang menguras mental bernama perang.
Karena perang yang belum menemukan jalan keluar untuk mengakhirinya, dia dan Nio terpaksa jarang menghabiskan watu bersama. Meskipun Arunika tidak merasa cemas tidak terus-menerus di dekat Nio karena mereka sudah berpacaran, ada beberapa hal yang perlu ia rasa wajib dikhawatirkan.
“Apa Anda tidak ingin membiarkan Nio mengenal keluarga kita? Saya yakin, dia pasti belum melihat wajah Anda, Paman, dan Bibi, bahkan pembantu-pembantu di sini. Nio masih menganggap saya satu-satunya keluarga yang dia miliki,” ucap Arunika, berusaha membuat Supardi menarik kata-katanya.
“Untuk apa? Agar dia bisa melanjutkan ‘kemalangan’ yang dimiliki ayahnya, lalu membuat kita tertimpa juga? Jika kamu bersikeras tidak paham apa yang aku katakan, ibumu mati karena ayah Nio, begitu juga dengan istri pertamanya. Nio mewarisi ‘kutukan’ ayahnya.”
“Tapi itu bisa saja hanya kebetulan, kan? Tidak ada yang tahu takdir mati seseorang,” Arunika membalas.
Kakek yang ia cintai di dunia meludahkan kata-kata seperti itu, dan membuat Arunika merasakan sesak di hatinya. Dan yang terburuk, Arunika merasa kakeknya menganggap Nio memiliki kutukan yang sama sekali ia tidak pahami artinya.
Perkataan seseorang yang berusaha menghancurkan impian Arunika: mendukung ksatria-nya, berharap suatu hari dapat berdiri di sampingnya dan melayaninya setelah perang berakhir, ternyata adalah keluarganya sendiri.
Arunika kemudian berkata, “Anda juga tentara, kan? Lalu, kenapa Anda tidak menganggap diri Anda juga memiliki kemalangan seperti tentara-tentara lainnya, seperti Nio yang Anda katakan mewarisi kutukan dari ayahnya?”
Supardi langsung membantah ucapan Arunika, “Apa yang kau katakan?! Kau menganggap aku sama seperti dia, yang membawa anakku mati bersamanya?!”
“Lalu apa pujian untuk Nio dan ayahnya yang kau lontarkan saat kita makan bersama?” Arunika bergumam di dalam hati dengan wajah sedih dan perasaan kesal bercampur gelisah.
“Meskipun memiliki pahlawan seperti Nio sebagai pasangan hidup dan keluarga, tidak akan membawakan mu kebahagiaan. Gadis sepertimu seharusnya dimiliki pria yang selalu ada untukmu, dan menganggapmu ada. Apa kau tahu yang dilakukan Nio di Dunia Lain? Dia mungkin sedang bersama wanita-wanita di sana, melupakanmu. Tidak berjuang seperti yang dikatakan olehnya di surat.”
Arunika tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Bukan hanya marah dan sedih, dia juga takut untuk melawan perkataan kakeknya, yang entah bagaimana telah mengatakan kalimat-kalimat tersebut.
Arunika menjawab disertai air mata yang menetes seperti permata, “Itu, apakah Anda melihat apa yang Nio lakukan di sana? Dia bukan orang yang dengan sangat mudah termakan godaan wanita lain.”
“Aku sudah menemukan pria yang pantas untukmu. Lebih baik putuskan Nio, yang tidak peduli denganmu.”
Saat protesnya tidak didengarkan oleh Supardi, kata-kata pria tua itu merobek hati Arunika. Perkataan tidak terduga dari pria itu, yang Arunika anggap sebagai kakek paling ia sayang di dunia, membuat badannya kaku, dan matanya menunjukkan tatapan tak percaya.
**
Dua minggu kemudian, setelah perayaan kekalahan pemberontak.
Sebuah kendaraan taktis melintasi dataran rumput luas, di bawah sinar matahari siang yang cerah.
Di dalam kendaraan, seorang perwira muda menghisap rokoknya yang sudah hampir habis, lalu memasukkan filternya ke dalam asbak portabel. Lagu diputar dalam volume maksimal, Nio berusaha membuat dirinya santai dalam perjalanan panjang ini. Jarak Kota Tohora dengan Benteng Girinhi sekitar 100 kilometer.
“Oh, kenapa mereka ada di sini?”
Sebuah helikopter kecil yang dipiloti seorang prajurit TNI melayang-layang di atas kendaraan taktis. Nio dengan tatapan bingung melihat ke atas, lalu berteriak di komunikasi radio:
“Pusat mengirimkan pesanan untukmu. Tidak perlu menandatangani paket, tapi bawakan kami sedikit oleh-oleh! Sampai jumpa!”
Suara dari speaker radio berasal dari pilot helikopter. Tak lama setelah ia menjatuhkan kotak plastik yang berisi paket untuk Nio, pilot helikopter terbang ke arah Tanah Suci berada.
Meskipun ragu-ragu jika paket untuknya berisi barang yang berguna, Nio mengubah arah laju kendaraan taktis ke tempat mendaratnya kotak.
**
“Sanksi dipotong gaji sebanyak 60 persen, membayar denda setara satu bulan gaji …” ucap Nio di dalam hati.
(olog note: mampus gak tuh si Nio:v)
(Nio: gak tuh, gw kan masih punya hadiah, kalau dirupiahkan bisa buat beli pulau Madura:v)
(olog: njir)
Nio menerima dokumen yang ditulis oleh Lee Baek-Ho, komandan seluruh tim penjelajah. Dia menurunkan bahunya, menghela napas saat membaca selembar kertas di dalam kendaraan taktis yang ia kemudikan dalam mode ‘pintar’, tanpa perlu memegang setir kemudi. Ia sedang dalam perjalanan menuju Benteng Girinhi, tempat seluruh bawahannya berada.
Meskipun dia sudah siap menerima segala bentuk hukuman, sebenarnya menerima panggilan militer karena membantu sekutu tanpa ijin yang jelas cukup menyedihkan. Untungnya, Nio tidak melihat tanda-tanda bahwa dia akan diadili karena usahanya yang membantu Arevelk menangani pemberontak.
“Dan juga, aku tidak diijinkan mengambil cuti hingga masa penugasan di Dunia Lain berakhir. Jenderal bajingan!”
__ADS_1
Untungnya, tidak ada prajurit TNI lain di tanah gersang yang dilalui kendaraan taktis Nio, sehingga umpatan pria itu tidak didengar siapapun. Jika tidak, bisa dipastikan ia akan mendapatkan sanksi disipliner yang mendekati pemecatan.
Hukuman di atas masih cukup ringan, mengingat Nio meninggalkan bawahannya, dan menuju medan perang lain meski telah mendapatkan ijin darurat. Hukuman yang seharusnya Nio dapatkan adalah dirinya diberhentikan menjadi komandan Tim Ke-12, skors selama satu minggu atau sedikit lebih lama, hingga hukuman dari mahkamah militer.
Selesai membaca salah satu lembar dokumen, Nio mengambil satu kertas lainnya yang entah apa isinya.
Di kertas tersebut tertulis [Letnan Satu ‘Tentara Pelajar’ Nio Candranala, atas upaya Anda dalam membantu sekutu dari perang yang membahayakan dan berpotensi menyebabkan perang lebih panjang dan besar, Menteri Pertahanan telah memberi Anda penghargaan khusus, ‘Pahlawan Sekutu’. Lalu, pujian, ucapan terimakasih, dan penghargaan dari Kerajaan Arevelk serta Yekirnovo; Anda telah dinyatakan sebagai bangsawan tinggi kedua negara tersebut. Pangkat ‘Jenderal Tamu’ yang diberikan Kerajaan Arevelk kepada Anda tetap dipertahankan. Selanjutnya, karena perdagangan manusia di Indonesia adalah hal yang sangat dilarang, Anda mendapatkan hak untuk merawat sejumlah gadis]
Masih ada sepuluh lembar kertas yang berisi ucapan terimakasih, pujian, dan penghargaan dari sejumlah suku, daerah di wilayah kedua negara yang memberikan Nio gelar bangsawan tinggi dan semacamnya.
Lalu, ada beberapa surat yang berisi dokumen bahwa Nio memiliki hak untuk memiliki dan merawat beberapa gadis. Itu karena perdagangan budak di dunia ini adalah hal yang wajar, sehingga Nio perlu bukti kepemilikan yang sah.
**
Di salah satu kamar pada barak No-2 yang dihuni perwira Pasukan Perdamaian, salah satunya Nio.
“Apa yang dilakukan orang itu?!”
“Barang-barang berharga ini, apa dia membelinya di toko online?!”
“Itu, itu semua barang-barang mewah dan mahal kan?! Bagaimana dia bisa mendapatkannya?!”
Kamar Nio dipenuhi oleh tumpukan sertifikat penghargaan, medali kehormatan, beberapa berlian mentah seukuran bayi dan logam mulia yang tidak ada di dunia asal, setumpuk surat berharga, dan semua barang lainnya yang terlalu banyak untuk ditulis.
Masih ada puluhan gerobak terbuka yang antre untuk menurunkan beberapa barang mewah, dan tentu saja untuk salah satu prajurit TNI. Oleh karena itu, barang-barang tersebut harus diletakkan di depan pintu masuk ruangan Nio, akibat kecilnya ruangan yang dihuni pria tersebut.
Beberapa prajurit menenteng senjata pelontar api, siap untuk memusnahkan hadiah-hadiah yang menghalangi jalan. Sayangnya, sejumlah penyihir terbaik Arevelk serta Yekirnovo disiagakan untuk mengawal barang-barang mewah yang terlalu mewah untuk seorang perwira biasa tersebut.
**
Kemudian, Nio melanjutkan membaca lembar surat terakhir, [ … Dan itulah semua hadiah yang Anda terima. Jika kami hanya memberikan Anda hukuman, kami akan terlihat memperlakukan prajurit baik dengan buruk.]
“Lebih baik aku diperlakukan dengan buruk, daripada diperlakukan baik tapi banyak orang yang tidak suka dengan apa yang aku lakukan, walau hasil akhirnya jelas di depan mata dan mereka nikmati” keluh Nio.
Nio bisa membayangkan, jika dia menerima hadiah-hadiah tersebut di markas pusat, maka Jenderal Angga tengah menepuk pundaknya, dan mengatakan semua hal itu dengan wajah ringan. Lalu, dia akan melihat staf-staf yang menatapnya dengan mata cemburu, dan mengumpati Nio di dalam hati.
Nio melihat pemandangan di luar tanpa perlu mengendalikan kendaraan taktisnya, lalu menghela napas agak panjang.
Pemandangan menuju Benteng Girinhi cukup bagus, dan terdiri dari tanah tandus dan perkebunan. Itu karena wilayah sekitar Kota Tohora adalah salah satu daerah utama pertanian Kerajaan Arevelk, dan memasok berbagai komoditas ke seluruh negeri.
Saat perang berlangsung, sebagian hasil pertanian diberikan ke militer, dengan tanpa melupakan hak milik warga sipil.
Ada beberapa petani yang melambaikan tangan ke arah gerobak baja yang ditumpangi Nio. Mereka tampak sudah terbiasa dengan barang aneh dari ‘dunia lain’, karena bendera berwarna merah dan putih yang terpasang pada kendaraan. Nio membalas lambaian tangan dan senyum hangat mereka.
“Tuan prajurit hijau…!”
Beberapa anak-anak dan orang dewasa menghadang laju gerobak baja, dan membuat Nio harus menginjak pedal rem sangat kuat. Kendaraan taktis menyebabkan dampak sangat parah daripada gerobak terbuka yang ditarik kuda jika menabrak seseorang atau sesuatu. Alasannya sudah jelas.
(olog: kayaknya author males nulis alesannya)
Nio turun dari pintu pengemudi, dan menggaruk bagian belakang kepalanya karena tidak tahu maksud mereka berdiri di tengah jalan saat kendaraan taktis melaju dalam kecepatan sedang.
“Maaf, kenapa kalian berdiri di tengah jalan dengan tenangnya? Jika dihantam oleh gerobak baja itu, kalian tidak hanya patah tulang, tahu,” kata Nio.
Lalu, seorang anak perempuan membalas, “Jika tidak, Anda mungkin tidak akan berhenti.”
“Kami ingin memberikan sedikit hasil panen, Anda pasti akan kembali ke Benteng Girinhi, bukan? Semoga saja semua itu cukup untuk teman-teman Anda,” seorang pria dewasa menunjuk gerobak besar penuh dengan sayuran lokal dan buah-buahan.
Nio senang dengan semua pemberian para petani tersebut, tapi Nio juga ragu jika mereka memiliki hasil panen sisa untuk dijual atau dikonsumsi sendiri. Lahan pertanian di wilayah ini memang sangat luas, namun kurang subur, walau hasil panen selalu dapat memenuhi kebutuhan Kerajaan. Sayangnya, beberapa orang dewasa dan anak-anak tersenyum, dan berharap Nio menerima pemberian mereka.
Di sisi lain, Nio juga kebingungan untuk membawa seluruh barang.
“Yah, sebelumnya terimakasih dengan pemberian kalian. Tapi – “
Setiap hari, penduduk terbiasa dengan angkatan udara Persekutuan yang terdiri dari naga, Wyvern, dan burung besi ‘dunia lain’ yang berpatroli di langit. Namun, kali ini terasa ada yang berbeda.
Sebelum Nio menyelesaikan perkataannya, dia melihat Gerbang tak sempurna terbuka di samping kiri kendaraan taktis, dan mengeluarkan beberapa gadis dan para Pembunuh Senyap.
Beberapa saat kemudian, dari atas terdengar bunyi pekikan dan kibasan sayap Wyvern berukuran besar yang terbang ke arah Benteng Girinhi dalam kecepatan maksimum. Namun, ada keanehan pada tombak yang dibawa para pawang Wyvern, tepatnya bendera yang terikat pada gagang tongkat tombak.
“Mereka membawa bendera yang mirip dengan milik pemberontak!”
Teriakan Nio hanya membuat para petani kebingungan, lalu terkejut setelah sejumlah orang mengerumuni mereka.
“Ada pertempuran! Ada pertempuran! Mereka bukan angkatan udara Persekutuan!”
“Mereka bagian dari pemberontak yang tersisa!”
Yang berteriak adalah dua Demihuman bertelinga kucing dan kelinci yang berlari sambil berteriak. Nio tampak tidak asing dengan mereka.
“Tuan, mereka bagian dari pemberontak, dan berencana menyerang Benteng Girinhi,” ucap Hevaz.
Satu minggu yang damai setelah menangani pemberontak, ternyata kembali membuat Nio mengerang karena dihadapkan lagi dengan musuh.
Begitu mereka mendengar peringatan tersebut, seluruh orang di ladang berlari dalam kecepatan tinggi, menyelamatkan diri. Mereka melalui jalan tanah yang tidak rata seperti orang gila, hingga beberapa petani tersandung dan terjatuh.
__ADS_1
Nio menolong seorang anak perempuan yang terjatuh di depannya, lalu menyuruhnya berlari menyelamatkan diri ke tempat yang paling aman.
Dua puluh pasukan Wyvern adalah kekuatan yang cukup untuk menghancurkan pasukan yang mempertahankan sebuah benteng.
“Apa mereka membawa pasukan darat?” tanya Nio, berharap mendapatkan beberapa informasi.
“Tidak, hanya pasukan penunggang Wyvern. Mereka cukup untuk menghancurkan pasukan di benteng,” entah kenapa Sigiz menjawab dengan wajah gelisah, sementara dia tahu jika sejumlah tentara ‘dunia lain’ ditempatkan di Benteng Girinhi.
Ketika mereka berdua berbicara, suara hantaman di udara terdengar, dan puing-puing turun dari langit seperti hujan. Namun, itu bukanlah puing biasa.
Ketika sebuah benda lembek jatuh di kepalanya, Nio segera melemparkannya begitu tahu jika itu adalah daging yang masih hangat. Bisa dipastikan, satu penunggang Wyvern pemberontak telah dijatuhkan, tersisa sembilan belas penunggang Wyvern.
“Tuanku baru beristirahat beberapa hari. Jangan buat dia membuang tenaganya sia-sia dengan bertarung melawan kalian!”
Hevaz berteriak, sayap berbulu hitamnya mengepak dengan indah. Sabit gadis itu meneteskan darah, dan seluruh penunggang Wyvern menghentikan tunggangan mereka. Karena dia Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang, Hevaz mampu bertarung dengan kekuatan melebihi manusia biasa dan memberikan kematian cepat bagi lawannya.
“Itu si Pelahap Jiwa!”
“Mari lihat apa dia mampu melawan kita!”
Teriakkan prajurit pemberontak terdengar seperti letusan pistol bagi Hevaz, kedua matanya menyala merah dengan tatapan mengerikan yang membekukan jiwa.
Setelah teriakkan percaya diri dua prajurit penunggang Wyvern pemberontak, sebuah proyektil menembus kapala seorang prajurit musuh. Prajurit pemberontak tanpa kepala yang terbunuh terjun bebas, dan bagian-bagian tubuhnya dan darah berceceran begitu menghantam tanah. Fakta bahwa Nio menembak jatuh prajurit musuh yang terbang di ketinggian lima puluh meter adalah keajaiban, yang tampaknya menjadi bukti bahwa kemampuan menembak Nio meningkat, di sisi lain ia mendapatkan Berkah Dewata.
Yang Nio gunakan untuk menembak bukanlah senapan serbu, tetapi senapan mesin berat yang menembakkan proyektil kaliber 12,7mm dengan peledak kecil yang akan membuat serpihan menyebar di tubuh musuh begitu meledak. Dia mengoperasikan senapan mesin secara manual.
Tiba-tiba, Nio merasa udara sekitarnya terasa dingin, meski ia saat ini sedang berada di wilayah dataran rendah. Ia melihat Zariv dan Sigiz merapalkan mantra bersamaan, lalu kristal-kristal es serta tanah yang bersatu membentuk semacam lembing. Sigiz menggunakan sihir khusus yang membuatnya mampu membuat senjata dari air yang memadat, alias es. Sedangkan Zariv menggunakan sihir yang belum lama ia pelajari, dan membuatnya dapat membuat senjata dari tanah.
“Hal pertama yang dipelajari para penyihir tempur adalah sihir pertahanan. Oleh karena itu, mereka belajar sihir yang mampu menghasilkan dampak serangan yang sangat tinggi dan pertahanan yang kuat. Sigiz adalah yang terhebat dalam sihir pertempuran, lalu Zariv yang tak kalah kuat.”
Pawang Wyvern memerintahkan tunggangannya untuk menyemburkan api, untuk melelehkan lembing es. Sementara itu, pawang yang lain mengendalikan Wyvern mereka menghindari lembing tanah yang melesat ke arah mereka dalam kecepatan tak masuk akal.
“Tidak akan sempat!”
“Sihir pertempuran apa itu?!”
Beberapa lembing es dan tanah meleset. Lima pawang Wyvern terjun bebas ke tanah setelah beberapa lembing es dan tanah menembus tubuh mereka, menyisakan Wyvern tanpa tuan yang nampak kebingungan. Seolah-olah mewarisi tekad perjuangan tuan mereka, lima Wyvern yang kehilangan pawangnya terbang turun ke arah Sigiz dan Zariv berada.
Ledakan terdengar beberapa kali, dan sejumlah proyektil ditembakkan dari senapan mesin. Proyektil dengan peledak kecil merusak sisik Wyvern, namun tidak memberikan luka serius pada mereka. Nio, selaku operator senapan mesin berat kesal, dan terus menembaki lima Wyvern yang semakin dekat dengan Sigiz dan Zariv. Alisnya mengerut, dan ragu jika senapan mesin mampu membunuh kadal terbang fantasi.
Ketika keraguan memasuki perasaan Nio, seekor Wyvern tanpa pawang terbang ke arahnya. “Woy, woy,woy! Kenapa kalian malah ke sini?!” Nio tampak tegang, dan menembak Wyvern tersebut dengan gelisah.
Sejumlah proyektil menghantam sisik yang melindungi kepala Wyvern, namun ledakan kecil yang dihasilkan tidak berpengaruh apapun pada sisik kadal terbang tersebut. Hingga pada akhirnya, sebuah proyektil mengoyak selaput yang melindungi mata kanan Wyvern, dan ledakan menghancurkan mata binatang tersebut. Serpihan proyektil mungkin menyebar di dalam kepala Wyvern, dan mengenai daerah vital.
Wyvern yang telah menyatakan Nio sebagai musuhnya terbang tak terkendali, lalu mendarat secara kasar dan berhenti di dekat kendaraan taktis Nio.
“Mungkin serpihan proyektil merusak otaknya, dan membuat kadal terbang ini lumpuh. Atau sudah mati?” kata Nio.
Ketika Nio mengamati Wyvern besar di dekatnya, suara hantaman bercampur pekikan Wyvern terdengar. Bilah-bilah udara padat yang tajam terus menerus melesat di udara, dilepaskan oleh penyihir tempur Zariv dan Sigiz. Tombak dan belati mereka yang berfungsi sebagai ‘tongkat sihir’ bercahaya dan melepaskan serangan untuk melawan empat Wyvern tanpa pawang, dan merontokkan beberapa sisik Wyvern.
“Kenapa musuh seperti ini terus ada. Apa yang salah dengan kepemimpinanku?!”
“Apa serangan kita tidak merobek sisik keras mereka?! Yang Mulia, jika Anda berkata seperti itu, Anda hanya akan terlihat tidak melakukan apapun pada Kerajaan!”
Setelah itu, Sigiz dan Zariv meningkatkan jumlah bilah angin yang menambah daya tembak mereka. Selain bilah udara yang tajam seperti pisau, sejumlah peluru cahaya ikut dilepaskan. Peluru cahaya membakar sisik Wyvern, dan membuat luka yang menjadi jalan terbuka bagi bilah-bilah udara tajam untuk mengoyak daging para kadal terbang.
Dan kemudian, seperti tak ingin kalah, Nio menembakkan sejumlah proyektil ke arah beberapa Wyvern. Dia tahu, menggunakan senapan mesin berat 12,7mm tidak mampu dengan mudah menembus sisik Wyvern sekalipun, namun mencoba sambil bertaruh tidak ada salah menurutnya.
“Apa ini yang mereka sebut senjata dunia lain?! Sialan...”
Sebelum seorang prajurit pemberontak selesai mengatakan ucapannya, proyektil yang ditembakkan Nio berhasil melubangi kepalanya dan membuatnya terjun bebas ke bawah.
Pertarungan ini hanya dilakukan oleh Nio, Hevaz, Sigiz, dan Zariv. Sisanya hanya bisa bertarung di darat, dan saat ini hanya menonton.
Dalam situasi ini, Nio merasa sudah waktunya mencoba menghentikan dan mengakhiri pertarungan ini. Saat ini, tersisa sepuluh Wyvern beserta pawangnya yang masih terbang. Fakta bahwa para pemberontak telah bertarung hingga sekarang adalah bukti dari benturan kekuatan melawan kekuatan dan kemauan melawan keinginan.
“Sigiz, apa yang harus kita lakukan sekarang? Saya pikir tekad mereka akan mendorong pertarungan ini ke tahap berbahaya…” Nio berkata seperti itu setelah peluru pada senapan mesinnya hampir habis.
“Tuan Nio, kamu benar, tapi akan lebih baik menunggu sedikit lagi, sampai kemenangan untuk kita terlihat. Kalau tidak, keinginan para pemberontak akan terwujud, dan Persekutuan dalam bahaya.”
Ucapan Sigiz ada benarnya, namun Nio berpikir apakah itu langkah yang tepat.
Namun, ketika Nio hendak membidik seekor pawang Wyvern, seekor Wyvern di dekatnya tiba-tiba bangkit.
Nio menoleh ke samping, dan melihat Wyvern yang seharusnya sudah mati tersebut membuka mulut, siap menyemburkan api ke arahnya.
“Brengsek!”
Nio segera melompat turun untuk menghindari semburan api. Tapi sekarang, semburan api dari Wyvern mengenai wajah Nio.
Kendaraan taktis yang dikemudikan Nio diubah menjadi api unggun, dengan Nio sendiri berguling-guling di tanah sambil berteriak keras dengan memegangi wajah sebelah kanannya. Sebagian seragam lapangan Nio terbakar, mengakibatkan luka pada kulitnya selain akibat semburan langsung dari Wyvern.
Para prajurit pemberontak berteriak setelah melihat seorang prajurit musuh terpanggang di bawah, dan memastikan kemenangan dapat mereka raih.
Nio – yang sebagian wajahnya terpanggang, berdiri terhuyung-huyung, memperlihatkan wajahnya yang berdarah akibat luka bakar cukup parah, sebelum akhirnya ambruk ke tanah lagi.
__ADS_1