Prajurit SMA

Prajurit SMA
Prajurit istimewa


__ADS_3

Nio telah menerima laporan bahwa regu patroli dan pengintai armada TNI AL melihat ratusan kapal perang musuh sebesar 200 meter bersenjatakan ratusan meriam dan ketapel raksasa. Armada kapal perang lawan sedang melakukan pelayaran ke arah Teluk Tanduk, yang merupakan ancaman nyata bagi para pelaut TNI AL, khususnya para pelaut amatir.


Armada TNI AL telah diberikan ijin untuk menenggelamkan dan menembak jatuh apapun yang mengancam. Hal tersebut merupakan keuntungan yang membuat ketegangan besar bagi para awak kapal. Siswa taruna yang mengoperasikan fregat latih Kelas Ki Hajar Dewantara memiliki semangat besar begitu tahu armada laut Aliansi sedang dalam perjalanan sebagai sasaran tembak nyata untuk mereka.


Sepertinya, para taruna yang ingin segera bertempur menciptakan masalah khusus bagi para instruktur, membuat para pengajar sakit kepala.


“Lettu Nio, armada kapal perang TNI AL tengah bersiap menghadang kapal-kapal Aliansi. Permintaan mereka bagi kita adalah mendukung mereka dengan mencegah serangan dari darat yang membahayakan armada.”


Sersan Hassan menjelaskan kembali apa yang ia dengar dari Nio setelah rapat bersama para komandan kapal.


Menghambat kompi infanteri atau kavaleri ringan bukanlah masalah bagi Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap, namun mereka akan mundur jika lawan yang dihadapi berjumlah 4 resimen gabungan kavaleri, infanteri, dan penyihir tempur.


Memberikan tugas seperti itu kepada Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap seolah-olah mereka sangat berpengalaman dalam menangani pasukan reguler Aliansi. Dan, karena seluruh petarung TNI di dunia ini sama-sama dibayar dengan nominal berbeda – tergantung pangkat – jadi Nio dengan senang hati menerima saran untuk mengawal armada TNI AL dari darat.


“Kita akan bergerak ke arah selatan, dan menunggu musuh datang ke titik pertemuan yang telah diperkirakan. Tim yang telah terbagi tidak akan ada perubahan,” kata Nio.


“Dimengerti,” jawab seluruh bawahannya serentak.


“Menurut informasi, infanteri dan kavaleri berkuda Aliansi telah dibekali senapan panjang kaliber 5,56mm hingga 7,62mm, mereka juga memiliki penyihir tempur. Misi kita tetap melakukan pertempuran dan mengurangi ancaman bagi armada TNI AL, tapi prioritas kita adalah melakukan pengintaian,” lanjut Nio.


Walaupun perintah ‘bertempur’ tetap dilakukan jika musuh melepaskan tembakan terlebih dulu, mereka hanya diperintahkan untuk melakukan penyusupan dan pengintaian rahasia untuk menemukan posisi utama musuh di Kerajaan Salodki.


Nio berkata, “Semua orang berkumpul lagi di depan tenda komando dalam setengah jam. Ada pertanyaan?”


Tanpa mengajukan pertanyaan seperti biasa, semua orang berlari ke tenda, mengenakan perlengkapan tempur masing-masing. Mereka adalah bawahan yang telah terbiasa dengan perang. Mereka masih dipenuhi perjuangan.


**


Setengah jam kemudian, Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap bergerak ke arah selatan, menjauhi area pantai Teluk Tanduk yang dipertahankan oleh salah satu kompi Batalyon Amfibi.


Mereka bergerak dalam satu kesatuan, dan akan berpencar jika terjadi pertempuran.


Pasukan bergerak di tengah hujan lebat, menyebabkan lensa kamera luar pada helm masing-masing anggota Tim Ke-12 basah, menghalangi tampilan terkini pada layar holo di dalam helm yang menyebabkan jangkauan pandang berkurang.


Nio satu-satunya anggota Tim Ke-12 yang tidak mengenakan helm yang menutupi seluruh bagian kepala seperti rekan-rekannya tersebut. Sementara itu, anggota Pembunuh Senyap melompat-lompat pada dahan pohon sambil mengawasi sekitar dari atas, dibantu Hevaz yang memiliki kemampuan terbang sehingga pasukan bisa dikatakan memiliki mata tambahan yang terbang.


Meski mereka bergerak di area hutan pesisir yang lebat, namun Nio yakin dengan kemampuan bawahannya untuk bergerak dalam formasi. Namun, kabut tipis mungkin mengganggu mereka, dengan kemungkinan saling terpisah masih ada. Nio tidak mengijinkan adanya anggota tanpa arah dan tanpa harapan di unitnya, yang dapat menyebabkan seluruh anggota regu tersesat.


Perangkat Sistem Menajemen Medan Perang pada helm tempur Hassan menerima pesan dari Departemen Dek kapal induk helikopter, alias kapal bendera armada TNI AL di dunia ini.


“Komandan, mereka menanyakan laporan lapangan kita,” ucap Hassan.


“Katakan saja kita sedang hujan-hujanan. Tanyakan pada mereka laporan cuaca dua jam ke depan.”


Nio muak dengan Departemen Dek kapal bendera yang sering menanyakan hal sepele yang jawabannya bisa dilihat di depan mata. Paling tidak, mereka tidak mengirimkan pesan bahwa musuh memulai kontak tembak, sehingga Nio dan pasukannya dapat terus maju.


“Laporan cuaca dari kapal bendera; sepertinya hujan lebat tidak akan lama. Para pelaut itu pasti tidak akan tahan kalau harus hujan-hujanan seperti kita,” ucap Hassan.


Hassan kemudian melanjutkan, “Tambahan, dua helikopter intai telah lepas landas untuk misi pengintaian ke titik lain yang berjauhan dengan kita.”


“Itu lebih baik daripada hanya kita yang diperintahkan melakukan pengintaian,” gerutu Nio.


Setidaknya, Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap harus bersabar hingga mereka mendapatkan sesuatu yang berguna.


Karena terbang pada ketinggian 20 meter di atas tanah, Hevaz dapat melihat area laut dengan beberapa petir yang menyambar.


Beberapa petir yang menyambar laut menciptakan suara menggelegar. Itulah yang Hevaz dengar sebelum bunyi ledakan yang lebih besar terdengar. Tidak hanya dia, seluruh orang juga mendengarnya.


“Ini Nio. Hevaz. Apa yang kau lihat? Darimana asal ledakan?” Nio berbicara dengan Hevaz melalui Handsfree masing-masing.


Hevaz menjawab, “Ijinkan saya untuk mengamatinya terlebih dulu, Tuan Nio.”


Beberapa kilometer dari pantai, ledakan dan beberapa raungan meriam reaksi cepat dari kapal perang TNI AL menarik perhatian seluruh pasukan Nio.


Ledakan dari bawah permukaan, yang mungkin berasal dari deep charge atau torpedo menyebabkan gelombang setinggi dua meter. Gelombang yang berasal dari gelembung raksasa akibat ledakan hampir merobohkan tenda-tenda Tim Ke-12, Pembunuh Senyap, dan pasukan amfibi.


Saat berikutnya, Hevaz berusaha membuka mata meski air hujan menyakiti kedua matanya. Yang terlihat adalah air laut yang memerah, seperti darah korban serangan ikan pemangsa.


Bom bawah air alias deep charge biasanya ditembakkan untuk melawan kapal selam. Sejauh yang Nio tahu, Aliansi bahkan tidak memiliki teknologi yang memungkinkan mereka menciptakan kapal selam, kecuali salah satu Pahlawan mereka yang menciptakannya menggunakan kekuatannya.


Atau mungkin Aliansi berhasil menjinakkan monster laut sebagai senjata lawan-kapal permukaan?


Para pelaut bersorak karena berhasil membunuh senjata ‘hidup’ Aliansi yang berpotensi membahayakan armada. Jika target yang mereka hancurkan menggunakan bom bawah air dan torpedo hanya binatang laut raksasa biasa, perbuatan tersebut akan menjadi tindakan membuang-buang anggaran untuk membunuh hewan langka, ancamannya adalah skors atau membayar denda, lebih parah gaji dipotong.


Daging-daging mentah berukuran besar dengan kulit bersisik berwarna merah mengambang di permukaan laut, membuat para pelaut bertanya-tanya jenis hewan raksasa yang terbunuh. Beberapa saat kemudian, kepala binatang mirip kadal muncul dari dalam laut, besarnya sekitar satu meter.


Hal itu membuat mata Hevaz terbuka. Yang dia lihat adalah potongan tubuh Naga Laut.


Pemandangan itu cukup membuat para pelaut TNI AL tidak bisa menutup mulut mereka.

__ADS_1


Naga Laut mampu tumbuh hingga panjang 65 meter, atau sama dengan kapal selam ringan. Kemampuan utama Naga Laut sama dengan naga-naga pada umumnya, dengan kekuatan mampu membakar habis kapal kayu raksasa.


Sebuah torpedo ditambah beberapa bom bawah laut benar-benar mencincang tubuh Naga Laut. Para pelaut keheranan, namun di saat yang sama mereka merasa kagum.


Seekor naga yang dibunuh tidak akan menyebabkan populasi naga di dunia ini punah, tergantung berapa rudal dan torpedo yang ditembakkan demi ‘mempertahankan diri’ dari ancaman para kadal fantasi raksasa tersebut. Mata Naga Laut yang masih terbuka seperti menatap penuh kebencian kepada kapal-kapal baja dari Dunia Lain yang mencemooh kekuatannya, dan dengan mudahnya membunuh dirinya menggunakan ‘belut besi’ (torpedo).


Hevaz menatap datar ke arah kapal induk helikopter yang berusaha mengangkat kepala Naga Laut. Dengan keberadaan baja-baja mengambang milik Indonesia, Utusan seperti dirinya percaya perang akan sangat menghancurkan.


Torpedo yang membunuh target diluncurkan untuk pertama kali di dunia ini.


**


Tiga ekor Naga Laut yang baru saja mereka lepaskan dipercaya mampu membuat gentar armada kapal baja Persekutuan. Namun, seekor Naga Laut dibunuh dengan sangat mudah oleh lawan, sisanya dalam pengejaran untuk dibunuh atau dijauhkan dari wilayah laut yang dikuasai armada kapal perang Indonesia.


Bagi Aliansi, satu Naga Laut yang mati tidak ada artinya. Itu karena mereka bisa melihat kemampuan sebenarnya dari kapal perang Indonesia yang tambak hanya seperti baja mengambang.


Ledakan yang dihasilkan senjata pada kapal perang Indonesia membuat batalyon pimpinan Gurion kebingungan. Bahkan pikiran sang Pahlawan Penyesalan membeku saat dia tidak menyangka jika pasukan Indonesia tidak menahan diri meski hanya pada ancaman kadal laut raksasa.


Gemuruh mesin kapal perang Indonesia yang dikirim untuk mengejar dua Naga Laut yang selamat seakan-akan menjadi cemoohan untuknya, dan Aliansi yang hanya memiliki ribuan kapal perang besar dari kayu.


Gurion sendiri tak ingin mati karena kegagalan yang begitu bodoh, dengan begitu dia mengirimkan Naga Laut untuk tujuan mengurangi aset senjata armada kapal perang pasukan Indonesia.


Meski sebenarnya pengiriman tiga Naga Laut hanya membuat TNI AL menembakkan sebuah torpedo dan beberapa deep charge saja. Akibatnya, Gurion tidak puas dengan hasilnya.


Bagi Gurion yang menyadari bahwa TNI benar-benar berniat untuk berperang melawan Aliansi tetap menganggap perang ini tidak adil. Jika perang ini berlangsung dengan lawan TNI pada masa tahun 2022, maka Aliansi tidak menderita kerugian besar seperti saat ini dan masih mampu melakukan perlawanan hebat. Perang ini berlangsung pada masa yang salah dan paling buruk untuk pasukan Aliansi.


“Para keparat itu, mereka memiliki sihir ledakan dahsyat ternyata.”


Para bawahan Gurion mempertanyakan sihir ‘ledakan’ yang selalu digunakan pasukan Indonesia dan sekutunya dari Dunia Lain dalam perang ini.


Batalyon campuran yang dipimpin Gurion dikirim untuk mengusir pasukan Indonesia yang menguasai pantai Teluk Tanduk, dan membuat kapal-kapal perang mereka kembali ke pangkalan. Tapi, serangan pertama bukan berasal dari mereka.


Seorang komandan mati dengan kepala hampir hancur, sepertinya akibat dari lesatan peluru dengan daya ledak rendah. Namun, pasukan tak mampu melihat asal tembakan karena kabut yang menutupi. Sehingga Gurion menganggap serangan itu dari penembak jitu pasukan ‘Pahlawan Harapan’.


Gurion memerintahkan pasukannya bergegas menuju pesisir untuk merebut kembali artileri dan pantai. Hutan pantai yang gelap akibat kabut dan hujan membuat suasana mencekam, namun ancaman dari penembak jitu lawan menambah ketakutan.


Ketika pasukannya gentar, saat itulah serangan dari berbagai sisi terjadi.


Bayangan hitam dalam jumlah puluhan melompat ke segala arah, lalu menebaskan senjata masing-masing yang menciptakan kilatan. Akibat kilatan cahaya dari senjata bayangan hitam, sejumlah kepala menggelinding, membuat prajurit Aliansi yang melihatnya semakin gentar.


Serangan pemenggal kepala belum berakhir. Kilatan cahaya dan bunyi tembakan terjadi dalam waktu bersamaan, membuat beberapa prajurit Gurion tumbang dengan berbagai kondisi, namun sama-sama mengenaskan.


Sebagian tentara berhasil menyelamatkan diri dengan berlindung di balik pohon atau batu, termasuk Gurion. Yang tak sempat berlindung harus mati dengan kepala berlubang atau bagian tubuh saling terpisah.


Tetap saja, yang bisa dilakukan Gurion untuk mempertahankan Kerajaan Salodki hanyalah bertahan. Jika tidak, benih kemenangan di masa depan dan bekalnya untuk kembali ke tanah air akan mati.


Namun, musuh menyerang dari berbagai sisi, dan jauh lebih cepat dari mereka. Walau pasukan Aliansi yang dipimpin Gurion jauh lebih memahami medan, namun manuver musuh seperti jauh lebih mengenal arena pertempuran ini, menciptakan keputusasaan yang diperburuk tembakan balasan tanpa arah dari bawahannya.


Faktanya, serangan mendadak yang membunuh banyak prajurit Aliansi berasal dari Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap yang mengalami kepanikan. Komandan mereka, Nio, memutar otak untuk membuat unitnya tidak terpisah dan terhindar dari kepanikan.


Pertempuran dengan pasukan musuh sebesar satu batalyon memang tak terduga, tetapi semua orang berhasil melakukan serangan sebagai refleks.


“Jangan berpencar terlalu jauh, pertahankan posisi masing-masing! Bersiap untuk lakukan serangan utama dan mundur!”


Setelah membuat keputusan dalam sepersekian detik agar pasukannya tenang, Nio menyelinap cepat untuk menemukan setiap prajurit lawan yang bersembunyi. Dia sangat berpengalaman dalam pertempuran di berbagai medan, salah satunya hutan lebat berkabut. Alasannya adalah fungsi Pasukan Pelajar Khusus sebagai kekuatan pendukung bagi pasukan khusus dan elit utama TNI.


Seluruh anggota Tim Ke-12 hanya bisa melakukan tindakan sesuai latihan, dan kebiasaan serta pengalaman bertarung yang panjang untuk Pembunuh Senyap.


Nio menyelinap di antara infanteri senapan lawan, menembak setiap prajurit musuh yang ia temui, dan menghindari serangan balasan. Sementara itu, semua bawahannya menyerbu, membunuh semua lawan yang mulai kacau. Ini adalah pertarungan yang dilakukan berdasarkan taktik yang Nio teriakkan beberapa menit lalu. Tidak ada yang tahu apakah pertempuran ini menghasilkan kemenangan di pihak mereka atau lawan, kecuali mereka mengujinya dengan darah dan nyawa sendiri.


Serangan utama lawan berasal dari sang komandan, Pahlawan Penyesalan. Kemampuannya untuk melihat jelas dalam keterbatasan, ditambah persediaan amunisi tanpa batas, membuat Gurion memiliki daya tembak paling besar dalam pertempuran ini. Sayangnya, energi magis yang ada di area pesisir Teluk Tanduk sangat lemah, yang membuat Gurion tak mampu mengeluarkan kemampuan istimewanya.


Dengan begitu, pertempuran ini menjadi ‘cukup’ seimbang, walau pihak Indonesia diperkuat oleh Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang.


“Untuk semua orang, jangan berkumpul! Pastikan kalian tidak menembak atau mengganggu kawan! Jangan terganggu oleh kabut, tetap bedakan kawan dan lawan!”


Kabut dan hujan deras tetap mengurangi jarak pandang dalam tingkatan sangat parah. Perintah dengan nada keras dari Nio diterima oleh seluruh orang, dan mulai menyadari kalau keuntungan menyertai mereka. Musuh yang melancarkan serangan balik tanpa arah adalah hal tak terduga, karena sebelumnya Tim Ke-12 dan para Pembunuh Senyap mengira musuh sangat terlatih dan sangat mengenal medan pertempuran.


Misi adalah pengintaian tempur. Pasukan Nio akan melawan semua musuh jika situasi memaksa mereka melakukan hal tersebut, baik itu penyihir tempur, senapan mesin, meriam, bahkan angkatan udara Aliansi. Meski begitu, Nio berharap pasukannya tidak terlibat dalam pertempuran walau semua orang pasti sudah mempersiapkan diri melakukan pertarungan. Di sisi lain, kemampuan menembak lawan yang tak sehebat tentara Komando Pasukan Cadangan maupun sukarela Indonesia memberi mereka keuntungan.


Semua bawahan Nio adalah petarung yang berbakat, dan memiliki pemahaman tentang situasi. Tetapi, komandan yang baru menyusun strategi ketika pertempuran berlangsung perlu dipertanyakan waras atau gila. Jadi, mereka memiliki hak untuk menegur atau menggerutu atas perintah dadakan dari Nio.


“Cuaca memang buruk. Jangan berpencar terlalu jauh, dan jangan lupa kita ada di hutan! Lawan tampak tidak terlalu mengenal medan, pertahankan posisi! Dan untuk Pembunuh Senyap, bertarunglah sesuka hati, namun tetap memperhatikan keselamatan diri dan kawan!”


“Tuan Nio! Serangan balik lawan mengarah pada kami,” ucap Bamlag yang melompat ke segala arah untuk menghindari rentetan tembakan dari dua tentara Aliansi.


“Kelompok 1 akan segera ke tempat Kelompok 2! Sial, kukira mereka masih menggunakan pedang atau tombak saat berperang!” balas Hassan dengan nada agak kesal.


Nio membiarkan setiap kelompok bertindak secara individual, termasuk dirinya yang bertempur sendirian menghadapi sejumlah infanteri senapan dan penyihir tempur lawan. Tapi, Nio tetap meminta seluruh anggota menjaga disiplin demi keluar dari pertempuran.

__ADS_1


Kelompok 2 alias para Pembunuh Senyap dalam kondisi terdesak ketika Hevaz menangani para penyihir tempur yang memanfaatkan air hujan sebagai ‘peluru’ dan lembing es, sehingga Kelompok 1 bergegas membantu.


Selama Nio bertempur sendirian, dia ingin memancing beberapa lawan ke arahnya, sementara dia berharap unitnya menangani sisanya. Dia membuat beberapa perhitungan dalam waktu singkat, dan memutuskan untuk menyesuaikan beberapa hal. Kebiasaan buruk untuk membuat keputusan saat konflik masih berlangsung tidak bisa dia hilangkan.


“Nio kepada Hevaz! Apa kau bisa menangani beberapa penyihir yang mengepungku?! Dan untuk Kelompok 1, kalian tetap membantu Kelompok 2 menekan musuh! Buat mereka sibuk!”


“Siap!” jawab Hassan.


Hevaz menanggapi perintah Nio, “Sesuai perintah Anda, Tuan Nio!”


Walau tanpa sadar Nio menjadikan dirinya sebagai umpan, sebenarnya dia sangat membenci tugas tersebut. Penyihir adalah ancaman bagi unitnya, sehingga dia memasang badan untuk menghadapi mereka. Mungkin mayoritas bawahannya tidak menyukai tindakannya, tepatnya semua bawahan Nio tidak ingin terlibat dalam pertempuran tak seimbang dalam hal jumlah tentara.


Dalam hal itu, meningkatkan jumlah umpan mungkin akan memberikan hasil terbaik. Dari sudut pandang Aliansi, jumlah kecil pasukan Indonesia tak ada bedanya dengan pasukan umpan.


Nio telah meminta bawahannya melakukan pertempuran berbahaya melawan infanteri dan kavaleri senapan yang diperkuat penyihir tempur Aliansi, dan Nio yang bertugas mengacaukan usaha lawan.


“Mengacaukan konsentrasi musuh adalah langkah berani! Komandan, ijinkan kami membantumu!” teriak Hendra, yang membuat seluruh anggota Tim Ke-12 terkejut.


Nio menyukai semangat bawahannya, tapi dia tidak bisa menerima permintaan ‘Penyendiri’ alias Hendra.


“Tidak bisa. Aku akan kembali memimpin,” jawab Nio.


Saat ini adalah waktunya membuat bawahan percaya jika komandan harus memimpin pasukan ke jalan kemenangan. Tapi, bukan berarti Nio ingin membiarkan dirinya kembali sebagai umpan. Orang dengan akal sehat yang masih berfungsi tak akan berkorban tanpa alasan.


Menjadi komandan yang berani di garis depan adalah keharusan. Dalam perang, keputusan untuk bertahan atau menyerang ditentukan seberapa takutnya komandan. Sementara itu, Nio berada di antara pemberani dan pengecut, jadi dia meminta pasukannya untuk bergerak perlahan sambil menyerang.


Namun, karena rasa penasaran telah mengalahkan rasa takut Nio, dia memilih mengekspos dirinya pada musuh. Akibatnya, sejumlah tentara musuh mulai menembakinya. Namun, hal itu membuat Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap mengetahui posisi lawan.


Sebagian penyihir dan kavaleri senapan musuh mengejar Nio yang menjauhi baku tembak. Namun, satu persatu peluru dari penembak jitu menembus kepala beberapa pengejar, membuat Nio dapat melepaskan tembakan balasan.


Ketika Nio bergerak menjauhi kejaran musuh, dia tidak merasa khawatir. Tidak perlu dikatakan lagi, Tim Ke-12 memiliki penembak jitu ‘impor’ yang sangat diandalkan. Posisi ‘Mata Biru’ alias Zefanya yang lebih tinggi dan tidak terjangkau dari medan perang membuatnya memiliki jangkauan lebih luas.


Semakin banyak korban yang dari tempat yang tak diketahui, pasukan Aliansi mulai menjuluki penembak jitu sebagai ‘pengecut’.


Walau perang ini merubah sejumlah pihak menjadi maniak pertempuran, namun keberadaan penembak jitu merubah segalanya. Kebencian Aliansi terhadap penembak jitu mungkin telah dimulai pada hari ini.


Penembak jitu begitu diandalkan dan sangat dilindungi lawan, namun dibenci oleh mereka. Penembak jitu menghancurkan moral walau tidak membunuh target, terkadang hanya melukainya. Mengapa penembak jitu tidak langsung membunuh target? Prajurit yang berteriak, mengerang kesakitan hingga menunjukkan wajah menderita namun tetap hidup mampu mengurangi moral rekan-rekannya.


Infanteri biasa saling menembak tanpa pandang bulu dan diskriminasi. Namun, penembak jitu akan menembak setelah menentukan target yang akan dikirim ke akhirat, sehingga sasaran dipilih secara acak dan tak terduga.


Tapi, semua itu tidak penting bagi penembak jitu. Satu-satunya hal terpenting bagi prajurit ‘istimewa’ tersebut adalah menyelesaikan pertempuran dan kembali ke pangkalan untuk mendapatkan perintah selanjutnya.


Zefanya bahkan tidak ingin berhenti menembak walau dia memilih posisi persembunyian yang ceroboh dan persediaan peluru yang menipis. Ada banyak lawan yang perlu dibimbing ke alam baka, walau nantinya rekan-rekannya akan menjulukinya pencabut nyawa atau semacamnya. Lagipula, pengeluarannya dalam menembak jauh lebih sedikit dari rekan-rekannya, dengan akurasi 100%. Artinya, setiap peluru yang ia tembakan mengenai sasaran yang kebanyakan adalah bahu atau kepala prajurit lawan.


“Mayat Hidup kepada semua orang. Semuanya siapkan serangan terbaik masing-masing. Aku ingin mengakhiri pertempuran ini sebelum gelap!”


“Dimengerti!!!” seluruh orang menjawab bersamaan.


Setelah memberi perintah, Nio segera berlari ketika tiga prajurit Aliansi menembakinya. Setelah berlindung di balik sebuah pohon, ketiga tentara Aliansi tumbang dengan bahu berlubang. Sudah jelas itu ulah Zefanya, namun membuat Nio sangat berterimakasih.


Kemudian, dia melompat dan berguling untuk menghindari tembakan selanjutnya. Gerakannya yang teratur merupakan hasil dari latihannya. Dia kemudian membuat catatan bahwa unitnya mungkin memerlukan latihan tambahan untuk menghindari tembakan ketika perlindungan yang disediakan sangat minim.


Hevaz mendarat, kemudian berputar saat delapan tentara Aliansi berlari dengan bayonet mengarah padanya. Sabit yang ikut berputar membelah tubuh seluruh lawan, membuat Zefanya tampak mustahil tersentuh.


Tapi, beberapa saat kemudian sisa pasukan Aliansi menghujani seluruh orang dengan sisa peluru. Tembakan beruntun tanpa arah ternyata membuat seluruh bawahan Nio lambat bereaksi. Lawan cukup berani untuk melakukan serangan tanpa kompromi seperti itu.


Saat Nio ikut berlindung, dia melihat salah satu tentara musuh yang memegang senjata paling ‘bagus’ di antara bawahannya. Senjata yang digunakan pernah Nio lihat di video sejarah, senapan serbu asal Israel yakni TAR-21.


Mungkin dia hanya komandan musuh, yang sengaja diberi senjata dengan desain bagus untuk menambah moral, begitu pikir Nio.


Tapi membunuh musuh tanpa rasa penyesalan jauh lebih baik seburuk apapun tindakan yang dilakukan lawan. Intinya, Nio baru akan merasa lega setelah menembak atau membunuhnya.


Nio memutuskan mengalihkan perhatiannya ke ‘komandan’ lawan, dan bersiap menyerang dengan pedangnya. Menembak dengan senapan? Itu hanya tindakan yang membuat Nio dikepung lebih banyak musuh. Membunuh komandan lawan dengan granat? Itu hanya dilakukan oleh pengecut yang tidak ada bedanya melecehkan lawan.


Sehingga Nio memilih menggunakan pedang pemberian Sakuya. Yang dia perlu lakukan hanya menebas kepala atau menusuk tepat pada jantungnya dengan mata pedang yang tajam.


Nio kini tepat di belakang komandan lawan, dan semakin dekat dengan langkah senyap tanpa suara sama sekali. Kabut yang semakin tebal dan hari yang mulai gelap membuat Nio hampir tak terlihat dan terdeteksi. Mata komandan musuh menatap bingung ke segala arah, ke pertempuran yang tak masuk akal, namun dia tidak menoleh ke belakang.


Nio mengarahkan ujung pedangnya ke punggung kiri lawannya, dan mendorongnya dengan kecepatan penuh hingga menembus dada. Tusukan pedang atau pisau tarung dikatakan memiliki dampak yang lebih mematikan dari peluru standar senapan serbu.


Dia memutar mata pedangnya, sehingga komandan lawan berteriak kesakitan. Tubuh pria tersebut tampak mengeluarkan cahaya merah, namun meredup lalu menghilang sepenuhnya setelah berhenti meraung kesakitan.


“Oh, sepertinya aku gagal mengenai jantungnya,” ucap Nio


Di sisi lain, Gurion tak percaya dengan sesuatu yang menusuk menembus dadanya, dan hampir mengenai jantungnya. Dia mengernyit, lalu berteriak sekuat mungkin akibat rasa sakit yang dihasilkan. Dia berusaha mengaktifkan Sihir Tameng untuk melindungi diri dari serangan selanjutnya, tapi energi magis yang dimilikinya hampir habis.


Mata Gurion menoleh kebelakang, lalu melebar hingga mungkin kedua bola matanya dapat melompat keluar.


“Ka… Kau…”

__ADS_1


Gurion tak ingin mempercayai apa yang dia lihat, tapi luka yang parah membuatnya tak mampu melanjutkan perkataannya. Dia berpikir akan berhasil membawa ‘Pahlawan Harapan’, namun justru dia yang dikalahkan oleh target utama Aliansi tersebut.


Dia berusaha keras mengangkat senapannya untuk membalas Pahlawan Harapan, namun prajurit TNI tersebut segera mencabut pedangnya dan menendang punggungnya. Tubuhnya berguling-gulung menuruni bukit, dengan mulut mengutuk sang Pahlawan Harapan.


__ADS_2