
Pada saat ini, beberapa bangsawan pemerintahan dan daerah Kerajaan Arevelk menyambut kedatangan bangsawan fraksi perdamaian Kekaisaran Luan. Setelah itu, puncak pesta untuk merayakan upacara Pergantian Tahun sebentar lagi dimulai.
Bangsawan fraksi perdamaian Kekaisaran Luan yang mencari perlindungan hingga Ke Kerajaan Arevelk sebagian merupakan bangsawan pemerintahan, meski diantara mereka terdapat bangsawan militer meski hanya berjumlah sedikit. Ketika menerima undangan pesta, mereka membawa istri dan anak sebagai bentuk formalitas. Sangat jarang seorang bangsawan menghadiri sebuah acara tanpa didampingi pasangan atau semacamnya. Bisa dikatakan mereka akan malu jika menghadiri suatu acara penting ketika diri mereka belum memiliki pasangan.
Asal para bangsawan fraksi perdamaian, Kekaisaran Luan, memiliki prosedur untuk menyambut tamu dari negara asing secara resmi terlepas apakah negara mereka sedang berperang satu sama lain. Jika tidak, pembicaraan mengenai perdamaian dan menghentikan perang secara total todak akan diakui secara resmi. Karena itu adalah bagian paling penting dari proses menghentikan perang dengan ‘dunia lain’, beberapa bangsawan fraksi perdamaian mendekati beberapa prajurit Indonesia – Tim Ke-12 – dan mengucapkan beberapa kata yang terdengar manis. Mereka tahu, jika Indonesia adalah musuh utama Kekaisaran Luan dalam perang ini, jadi mereka berusaha berbaur dengan prajurit Indonesia yang menghadiri pesta di Kerajaan Arevelk malam ini, dengan tujuan dapat meyakinkan pihak Indonesia untuk menghentikan perang.
Nio meminta beberapa bangsawan fraksi perdamaian yang mengelilingi anggotanya untuk ditanyai atau diajak berbicara mengenai sesuatu. Dia menjadikan alasan masalah komunikasi agar bangsawan fraksi perdamaian tidak membuat anggotanya tidak nyaman. Sayangnya, terget mereka selanjutnya adalah dirinya.
“Apakah Anda tahu jalan untuk mencapai perdamaian antara negara kita selain perang? Kekaisaran – Aliansi sepertinya sudah memilih jalan yang membuat mereka mengalami kerugian jika terus berperang dengan negara Anda.”
Nio dikelilingi sekitar dua puluh orang bangsawan fraksi perdamaian Kekaisaran Luan, dan yang memberi pertanyaan padanya barusan adalah bangsawan militer yang mencari perlindungan ke Kerajaan Arevelk. Nio memandang wajah para bangsawan yang mengelilingi dirinya, dan mereka terlihat sangat berharap menerima jawaban yang memuaskan darinya.
“Maaf, mengenai hal itu, memang benar yang memulai perang adalah Kekaisaran Luan. Kami menginjakkan kaki di dunia ini bukan untuk berperang dan membalas semua perbuatan pasukan Kekaisaran, namun melindungi Indonesia dari sini. Kami tidak pernah menyerang Kekaisaran, merekalah yang menyerang kami terlebih dahulu. Parahnya, mereka membentuk koalisi yang dinamakan Aliansi, dan menyerang kami dengan jumlah sangat besar... ”
Wajah bangsawan fraksi perdamaian benar-benar berubah setelah Nio mengatakan kalimat tersebut. Dimulai dengan kepala tertunduk lesu, lalu Nio merasa jika perasaan mereka seperti tidak puas dengan jawabannya, seperti wartawan yang diabaikan oleh orang yang ingin diliputnya. Dia merasa telah memberikan jawaban se-sopan mungkin – tetapi belum melengkapi kalimatnya.
“Mengenai perdamaian antara Aliansi dengan Indonesia, itu bukan wewenang saya untuk memulainya. Para pemimpin negara kedua belah pihak adalah pihak yang paling berhak untuk memutuskan apakah akan berdamai atau malah melanjutkan perang. Tugas prajurit seperti saya adalah melindungi negara dan berjuang dari medan perang.”
Kemudian, seorang bangsawan fraksi perdamaian Kekaisaran Luan bertanya padanya, “Apakah Aliansi akan tetap melanjutkan perang dengan negara Anda?”
Jelas-jelas wajah bangsawan itu gugup ketika bertanya pada Nio, mengingat negara asal mereka adalah anggota Aliansi yang memutuskan perang dengan Indonesia dan sekutunya.
“Entahlah… tapi jika itu mau mereka, kami hanya bertugas untuk melayani saja.”
Alasannya adalah karena kedua belah pihak sudah melakukan pertempuran, dan ingatan pertempuran besar pertama Aliansi melawan Pasukan Ekspedisi dengan hasil kemenangan besar di pihak Indonesia dan kekalahan telak Aliansi tidak pernah dilupakan. Selain itu, kemarahan pihak Indonesia memuncak ketika Pasukan Aliansi menggunakan pasukan tawanan perang yang sebagian merupakan rakyat Indonesia dalam perang melawan Pasukan Ekspedisi. Tentu saja hal itu hampir menurunkan moral Pasukan Ekspedisi ketika terpaksa harus menembaki warga Indonesia yang menjadi tawanan perang di Kekaisaran Luan.
Mengenai hal itu, Nio merasa jika perdamaian dengan Aliansi tidak akan datang pada waktu dekat. Dia merasa masih banyak warga Indonesia yang ditawan musuh, dan mungkin saja sedang menjalani perlakukan tidak pantas dari pihak yang menawan mereka. Itulah salah satu tugas kontingen Indonesia, menyelamatkan warga Indonesia hingga tidak ada lagi yang menjadi tawanan musuh.
Itu juga termasuk menuntut musuh untuk berdamai dan menghentikan perang. Meskipun perang adalah tentang merebut dan mempertahankan sesuatu, termasuk menghentikan konflik. Jika salah satu dari kedua pihak hanya melibatkan reputasi, tradisi, dan harga diri diantara tujuan utama, itu membuat perdamaian antara ‘dunia lain’ dengan Aliansi semakin jauh dan menyusahkan. Faktanya, Aliansi tidak akan menghentikan perang dan berdamai dengan Indonesia sebelum merebut kembali seluruh wilayah Tanah Suci, serta mengalahkan Indonesia serta sekutunya dalam konflik bersenjata. Aliansi sangat ingin mengalahkan suatu bangsa yang kuat, karena dengan begitu reputasi dan harga diri mereka akan melambung tinggi.
Memikirkan hal itu membuat Nio berpikir jika dirinya pasti akan semakin lama di dunia ini kalau perang dengan Aliansi tidak segera dihentikan. Itu artinya, dia akan semakin lama berpisah dengan pacarnya, dan harus tidur bersama senapan di tengah ancaman musuh. Ada yang mengatakan jika senjata adalah istri pertama seorang prajurit, tapi Nio ingin menghajar seseorang yang telah menciptakan ungkapan seperti itu. Dia dapat dengan tenang berpisah dengan senapan, namun tidak jika harus berpisah dengan kekasihnya selama berbulan-bulan atau kemungkinan terburuknya bertahun-tahun. Dia tidak khawatir senapan miliknya di ambil orang lain, tapi berbeda cerita jika itu adalah kekasihnya.
“Kenapa kau masih di sini, Tuan Nio?”
Khayalan Nio berakhir setelah kedatangan Sigiz di sampingnya, dan skenario buruk jika dia terlalu lama di dunia ini menghilang.
“… Hanya memikirkan sesuatu.”
“Kalau begitu, cepatlah berdansa dengan Ratu Sheyn.”
Setelah tamu undangan perwakilan kontingen Indonesia membuat suasana pesta menjadi sangat heboh – setelah melihat Sigiz mengenakan seragam SMA lengkap dengan dasi dan rok abu-abunya, Sigiz memutuskan untuk mengganti pakaiannya yang sangat mencolok. Tetapi, menurut anggota pria Tim Ke-12 setelah melihat Sigiz mengenakan seragam SMA, mereka merasa jika Sigiz sangat cocok mengenakan pakaian itu, meski terdapat masalah pada bagian dada. Itu membuat Sigiz seperti beberapa gadis SMA yang sering memodifikasi seragam mereka hingga terlihat sangat ketat dan memperlihatkan lekuk tubuh dengan jelas.
Tetapi, seragam yang Sigiz kenakan memang tidak cocok dengan ukuran dadanya yang tidak masuk akal, meski pada bagian rok masih dapat ditoleransi. Bahkan Nio khawatir jika kancing pada bagian dada terlepas dan melesat dengan kecepatan tinggi, lalu mengenai mata seseorang. Untungnya, hal itu tidak terjadi pada orang lain, tetapi terjadi pada dirinya sendiri.
Ketika Sigiz belum menyadari jika pakaian yang dia kenakan membuat kehebohan yang luar biasa dari Tim Ke-12, dia mendekati Nio dengan tujuan ingin mendengar penilaian pemuda itu mengenai penampilannya. Bagian baju seragam yang berwarna putih memang membuat seluruh bangsawan tertarik dengan pakaian tersebut hingga ingin memiliknya, tetapi hal itu justru dianggap anggota Tim Ke-12 sebagai lelucon yang disengaja dilakukan oleh Sigiz. Bahkan Sigiz mengenakan perhiasan mewah ketika mengenakan seragam SMA-nya, dan itu yang membuat penampilan Sigiz sangat mencolok.
Nio mengamati bagian dada baju seragam – dengan kancing yang berusaha keras menahan agar bagian dada Sigiz tidak terlihat. Dia khawatir jika kancing pada bagian dada terlempar dan melukai seseorang. Tetapi, melihat wajah penuh harapan yang ditunjukkan Sigiz padanya membuat Nio mengurungkan niatnya untuk menegur dan malah memuji penampilan gadis itu meski dengan nada ragu-ragu.
“Ratu Sigiz… itu… sangat cocok untukmu.”
Dengan wajah memerah perlahan, Sigiz menjawab sambil memegangi kedua pipinya, “Ah… terimakasih, Tuan Nio. Itu membuatku malu… dan senang.”
Justru aku yang malu tahu!
Nio ingin meneriakkan kata-kata itu kepada Sigiz, tetapi hati dan otaknya menyuruhnya untuk tetap sabar, demi menjaga hati seorang ratu yang memiliki wewenang tertinggi di tempat pesta ini. Dia tidak tahu apakah dunia atau negara di dunia ini memiliki hukum yang mengatur kritik tentang pemimpin suatu negara, jadi dia lebih memilih jalur aman dibandingkan terkena hukuman setelah mengatakan sesuatu yang sifatnya mengkritik penampilan seorang pemimpin negara.
Bagian dada baju yang berusaha keras menutupi bagian tersebut adalah sebuah pelecehan menurut Nio. Karena dia merasa tidak ada gadis SMA yang memiliki dada dengan ukuran tak masuk akal seperti milik Sigiz. Bahkan jika ada, jumlah gadis SMA yang memiliki ukuran dada besar pasti berjumlah 1 banding 10 juta, dan itupun tidak sebesar milik bintang film dewasa yang pernah Nio tonton– yang masih kalah dengan ukuran milik Sigiz.
Nio merasa jika pakaian putih yang akan dikenakan Sigiz adalah gaun pengantin, yang jauh lebih elegan dan cocok untuk pesta ini, dan bukannya seragam sekolah. Dia merasa Sigiz akan lebih cocok menggunakan jenis pakaian tersebut, daripada mengenakan seragam yang tidak menutupi bagian tubuhnya dengan maksimal. Nio kecewa dengan dirinya yang terlalu berharap, dan malah mendapatkan hasil yang tidak sesuai ekspetasinya.
Omong-omong, Sigiz berniat hanya membeli sebuah gaun berwarna putih yang dibeli ketika dia mengunjungi salah satu toko pakaian saat dia masih berada di Karanganyar. Tetapi, dia melihat ada sebuah patung – alias manekin – yang mengenakan pakaian putih dengan rok abu-abu dengan aksesoris potongan kain yang dipasang pada bagian kerah baju. Dia memandang beberapa saat untuk mengagumi model pakaian yang dipasangkan pada manekin tersebut.
Pada awalnya penjaga toko yang didatangi Sigiz menyarankan Sigiz untuk mencari pakaian yang lain, mengingat dia berasal dari dunia lain yang bisa saja sistem pendidikannya berbeda dengan Indonesia. Tetapi, mereka segera menyiapkan apa yang Sigiz inginkan, setelah mendengar rengekan gadis itu yang membuat toko mereka dimasuki sepuluh prajurit elit bersenjata lengkap Kerajaan Arevelk. Tetapi, ada banyak orang yang sengaja memasuki dalam toko hanya untuk melihat kedatangan prajurit elit dunia lain tersebut, meski ada beberapa juga yang membeli pakaian yang dijual toko tersebut sebagai kedok untuk melihat sosok Sigiz dan pasukannya dari jarak dekat.
Kedatangan banyak orang di toko yang dikunjungi Sigiz membuat penjualan harian toko tersebut meningkat dibanding hari biasa. Sigiz ingin membeli setelan lengkap seragam SMA, termasuk rok dan dasinya. Tetapi, rok dan dasi seragam tidak perlu dibayar oleh Sigiz, karena dia dan pasukannya yang memasuki toko dengan tiba-tiba membawa banyak pengunjung. Gaun putih yang dibeli Sigiz juga dikenai potongan harga tiga puluh persen.
Sigiz takjub dengan harga pakaian di Indonesia yang menurutnya cukup murah – bagi orang-orang yang memiliki status dan uang berlebihan seperti dirinya. Dia merasa jika pilihannya untuk mengunjungi salah satu toko pakaian mewah di Karanganyar adalah pilihan yang tepat.
**
Nio berdiri di samping Sheyn dengan mata tertuju pada beberapa bangsawan yang sedang berdansa dengan pasangan mereka. Para bangsawan perempuan dan anak gadis mereka mengenakan gaun dengan berbagai warna, kecuali warna putih, yang membuat hamparan dengan nuansa yang mempesona, dan suara tawa serta obrolan menyaingi musik yang keras.
Gaun yang dikenakan Sheyn memberikan rasa martabat dan penghormatan untuk statusnya sebagai ratu dan ksatria terkuat di negara yang dia pimpin. Rambut hitamnya telah ditata menjadi beberapa kepangan dengan tanpa hiasan berlebihan seperti gadis-gadis bangsawan pada pesta ini, sementara leher rampingnya dihiasi dengan kalung bertatahkan batu permata – yang tidak sanggup Nio beli dengan uang tabungannya saat ini menurutnya. Kain gaun itu memamerkan lengkungan ramping dari anggota tubuhnya ketika Nio melirik ke samping, ke arah Sheyn.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Nio mengulurkan tangannya. Sheyn mengulurkan tangan padanya dan menerima uluran tangan Nio. Nio menggenggam lembut tangan Sheyn secara naluriah.
Tangan Sheyn yang halus menempel di telapak tangannya yang mengeras akibat bekas kapalan karena terlalu sering menggenggam pistol grip senapan dan pisau tarung. Mereka terlihat seperti pasangan yang sempurna, dan begitu jari-jari mereka bertautan, seolah-olah mereka tidak akan pernah berpisah lagi.
“Tuan Nio, pegang tangannya….!”
Mereka berpegangan tangan – atas dorongan seseorang, biasanya Nio terlalu malu untuk melakukan hal semacam itu. Tetapi, pada saat ini ada banyak orang yang melihatnya, dan Nio berusaha untuk tidak terlihat malu. Sheyn merasa telah diambil oleh orang di depannya.
Setelan yang dikenakan Nio menunjukkan pakaian yang dikenakan prajurit tetapi tetap memberikan kesan berani dan mulia. Ini berfungsi sebagai pengingat bahwa meskipun pemakai menghabiskan waktu begitu lama di medan perang, pemakai masih memiliki darah pejuang muda dengan ambisi yang sedang memberontak. Melihat penampilan Nio sekarang, Sheyn berpikir bahwa penjahit yang mendesain pakaian itu pasti memikirkan pemakainya.
Saat Nio menyadarinya, mereka berdua berdiri dengan kaku seperti papan, meski dengan kedua tangan saling bergandengan.
“Tahun depan, pada upacara Pergantian Tahun selanjutnya, aku akan mengirimkan pakaian prajurit Yekirnovo, pasti kau sangat cocok mengenakan itu.”
“Kenapa?” Nio bertanya dengan ekspresi bingung.
“Tidak ada alasan khusus.”
Gadis itu memalingkan wajahnya sambil cemberut. Nio bisa melihat ekspresi kekanakan gadis itu yang hanya membuatnya bingung. Tetapi, seumur hidup Nio belum pernah menerima hadiah dari gadis selain keluarganya. Dan jika dia menerima hadiah dari perempuan… menurutnya itu adalah hal yang memalukan.
Ketika Sheyn memalingkan wajah dari Nio, dia merasakan wajahnya memanas… dan mungkin memerah.
Aku benar-benar mencintainya…
Bahkan jika Nio terlahir di dunia ini dan menjadi ksatria negaranya, dan dia bahkan tidak bermaksud memiliki perasaan seperti itu, Sheyn harus rela jika ada kehadiran gadis lain pada Nio. Merasa seperti itu, selama dia dapat terus bersama Nio atau minimal setiap hari melihat wajahnya, Sheyn akan melakukan segalanya, meski itu harus membuatnya gadis kedua di hati Nio. Setiap melihat wajah Nio, dia merasa senang dan semakin menyukainya.
Tetap saja, Nio adalah perwira muda yang berasal dari sebuah negara ‘dunia lain’, prajurit dari sebuah pasukan bernama TNI, dan seorang kapten dari sebuah tim pasukan khusus, dan Sheyn adalah seorang ratu dan komandan tertinggi pasukan elit Kerajaan Yekirnovo. Meski dia tidak menyukainya, Sheyn harus paham jika Nio tidak dapat berada di dunianya selamanya.
Nio menganggap jika pesta yang terdapat acara berdansa adalah medan perang baginya, dia mengakui jika dirinya sendiri tidak mengerti gerakan dansa. Dia menganggap jika gerakan dansa lebih sulit daripada gerakan bela diri. Itulah mengapa dia hanya bisa menggandeng tangan Sheyn sambil berdiri diam, layaknya rekan gandengan pada acara tertentu, sambil melihat bangsawan lain berdansa dengan pasangan pilihan mereka. Bahkan, tamu undangan perwakilan kontingen Rusia dengan lancar berdansa bersama bangsawan-bangsawan lainnya.
Sementara itu, Nio menganggap jika pesta ini adalah ujian etika bagi prajurit seperti dirinya yang sering berada di medan perang – sebagai bentuk untuk mengendalikan perilaku dan emosi.
Tetapi, bahkan jika pesta ini terjadi di rumah masing-masing dari mereka berdua, Nio dan Sheyn tidak bisa menghabiskan malam pesta bersama. Maka mereka berdua berpisah sebentar, dan pergi untuk berbicara dengan orang lain.
Sebenarnya, Sheyn ingin melakukan dansa dengannya, tetapi dia merasa jika mereka berdua melakukan hal itu, dia semakin tidak ingin melepaskannya.
Nio berbaur bersama anggota laki-laki timnya yang sedang melakukan obrolan dengan bangsawan daerah Arevelk, sedangkan Sheyn mendapatkan tawaran untuk berdansa bersama dari seorang bangsawan pemerintahan. Melakukan hal itu bersama pria lain – disaat dia memiliki banyak kesempatan dengan Nio, membuat Sheyn membenci dirinya sendiri karena mengacaukan rencana yang telah ia susun sebelumnya. Meskipun bangsawan itu hanya ingin berdansa bersama seorang ratu agar statusnya meningkat, pria bangsawan itu tetap memberi salam dan berusaha untuk berbicara bersama Nio sebelum memutuskan mengajak Sheyn berdansa.
Melihat kepanikan Sheyn saat gadis itu menyadari bahwa Nio memandang dirinya dengan ekspresi datar membuat bangsawan tersebut tersenyum hangat.
Desas-desus seperti itu membuat prajurit kontingen Indonesia dipandang seperti sekawanan monster, yang akan menghadapi musuh di depan mereka tanpa kenal ampun. Sebagian bangsawan Arevelk menganggap mereka seperti itu pada akhirnya malu. Pasukan Indonesia yang pulang setelah menghadapi Pasukan Aliansi yang berjumlah 300.000, termasuk Nio, juga bukanlah pahlawan. Prajurit muda seperti Tim Ke-12 adalah sekumpulan remaja, yang masih memiliki sifat polos tertentu.
“Apa kita tidak berdansa dengan Nio, Yang Mulia?” tanya Lux kepada Sigiz.
“Kita akan memberikan kesempatan untuk Ratu Sheyn terlebih dahulu. Kesempatan untuk dekat dengan Tuan Nio tidak hanya ada pada acara seperti ini saja. Bahkan, setelah memberikan kesempatan Ratu Sheyn di pesta ini, kesempatan kita untuk dekat dengan Tuan Nio akan terbuka lebar setelah acara ini selesai.”
“Yah, berganti pasangan dansa adalah hal yang wajar bukan? Yang terpenting jangan biarkan dia melepaskan Tuan Nio. Karena setelah dia adalah giliranku untuk mendapatkan Beliau,” ucap Hevaz dengan ekspresi penuh keyakinan.
Para gadis tidak bisa menyangkal pernyataan Hevaz – setelah mengetahui fakta jika gadis itu selain ‘pelayan pribadi’ Nio, belum lama ini mereka mengetahui jika Hevaz adalah utusan Dewa Perang dan Dewi Kematian untuk melayani ‘orang yang diramalkan’. Mereka ingin tahu seperti apa reaksi Hevaz jika mereka melarang gadis itu untuk mencoba merebut hati Nio pada giliran ketiga – setelah Sheyn, kemungkinan buruknya mereka mungkin harus bertarung dengan si Pelahap Jiwa.
Di saat yang sama, Nio sedang melakukan obrolan dan menanggapi beberapa pujian yang dilontarkan beberapa bangsawan pemerintahan dan tamu undangan perwakilan kontingen Korea Utara. Selain itu, kekurangannya yang berupa tidak dapat menari dansa khas dunia ini membuat Nio hanya dapat menatap Sheyn yang sedang berdansa dengan bangsawan lain. Mungkin di dunia ini seorang perwira pasukan, apalagi mendapatkan posisi perwira dalam usia muda adalah posisi setara dengan bangsawan rendah. Tetapi, bahkan jika dia terlahir dan hidup di dunia ini dengan takdir tetap menjadi seorang prajurit yang melayani suatu bangsa, Nio tidak ingin mendapatkan status sebagai bangsawan, meski itu bangsawan rendah. Karena dia akan diberikan tanggung jawab yang melebihi tugasnya sebagai prajurit dan alat negara.
Sheyn adalah ratu negara anggota Persekutuan, jadi ada beberapa bangsawan yang tertarik untuk berdansa berpasangan dengannya. Dan sebelum dia menyadarinya, acara dansa mendekati akhirnya. Alunan musik berakhir, dan Sheyn menundukkan kepalanya ke arah bangsawan yang menjadi pasangan dansanya, lalu berbalik untuk mencari Nio.
Tapi saat gadis itu berbalik, sepatunya seperti menginjak alas kaki milik seseorang, dan ketika melihat pemilik sepatu matanya membelalak. Aroma parfum yang digunakan Nio yang sudah dia kenali – meski dia belum tahu jika Nio menggunakan pengharum badan berharga murah, tetapi wangi yang dihasilkan terasa menambah martabat pemakainya. Dia mendongak ke atas, dan kedua matanya terpusat pada sebuah pupil mata berwarna hitam milik Nio, dan bagian mata kanan yang ditutupi penutup mata. Nio memiliki tinggi badan lebih tinggi dua kepala dari Sheyn.
Sigiz, Hevaz, Lux, Edera, Zariv… mereka semua dengan santai memberikan Sheyn urutan pertama dalam usaha merebut hati Nio. Setelah pesta ini berakhir, atau setelah Sheyn berhasil menyatakan perasaannya dan mendapatkan tempat di hati Nio, adalah giliran mereka.
Merupakan kewajiban pria pada kesempatan seperti itu untuk mendekati perempuan mana pun yang tanpa pasangan, dan memulai percakapan atau menawarkan diri sebagai pasangan dansa. Tetapi, gadis-gadis tersebut malah menolak ajakan pria lain untuk berdansa mentah-mentah dan mengabaikan mereka dengan dingin.
Bisa dikatakan, sebagian besar pria kontingen ‘dunia lain’ masih muda dan pemalu, termasuk anggota pria Tim Ke-12 kecuali Hassan dan Arif yang telah memiliki pasangan di Indonesia. Jadi, Nio selaku kapten mereka, harus memimpin dengan memberi contoh – meski dia juga telah memiliki pasangan di Indonesia. Dia mungkin lebih berkewajiban untuk menawarkan diri sebagai pasangan dansa pada Sheyn, perempuan yang ada di dekatnya saat ini.
“Bolehkah saya mengajak Anda berdansa bersama?” Nio tanpa sadar mengatakannya dengan ucapan yang sopan.
“Y-ya,” Sheyn dengan cepat meraih tangan Nio yang belum terulur kepadanya.
Tangan kanan bionik Nio kasar, besar , dingin dan sepertinya kokoh. Mereka saling membungkuk, seperti prosedur berdansa dunia ini, dan Nio meletakkan tangan kirinya di pinggang Sheyn setelah melihat bangsawan pria melakukan awalan dansa yang serupa. Nio dengan cepat kehilangan ketenangannya setelah Sheyn tiba-tiba menempelkan tubuhnya padanya. Paling tidak, Nio telah mengamati para bangsawan berdansa saat dia tidak melakukan apapun beberapa saat lalu.
Irama musik kembali terdengar, dan Nio mengambil langkah pertama. Mereka bergerak lembut sesuai dengan melodi. Nio hanya memiliki modal berdansa bersama Sheyn dari mengamati pria-pria bangsawan berdansa bersama pasangannya, dan itu hanya mencangkup dasar-dasarnya. Tapi, dia dapat dengan mudah meniru langkah-langkah sederhana yang telah dia amati. Dan meskipun berdansa tidak hanya membutuhkan gerakan mengikuti irama musik pengiring tetapi juga harmoni antar pasangan, Nio dan Sheyn telah beberapa kali bekerja sama melawan musuh.
Sheyn yang lebih berpengalaman justru terlihat goyah dan beberapa kali tersandung.
Itu karena jantungnya berdetak puluhan kali per menit dan dadanya membara setelah berhasil berdansa berpasangan dengan Nio. Gadis itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah Nio bisa mendengar jantungnya berdebar kencang, tetapi dia juga gugup untuk menatap matanya.
__ADS_1
Sementara itu, satu-satunya mata Nio – mata kirinya menatap lurus ke arah wajah Sheyn. Dia melihat jika gadis itu benar-benar manis jika berasa dalam kondisi gugup. Berkat bantuan bawahan perempuan Nio yang dengan sukarela merias gadis itu, bekas luka pada wajah Sheyn tidak terlalu terlihat meski masih terlihat walau samar-samar. Walau begitu, Nio merasa jika kecantikan Sheyn tidak tertutupi oleh bekas luka di wajahnya. Dan merasa jika mereka berdua memiliki beberapa kesamaan, meski itu berada pada hal kekurangan fisik, seperti hanya bisa melihat dengan satu mata.
Sheyn tidak menatap langsung ke wajah Nio. Tapi, meski agak tidak jelas pasangan dansanya memiliki ekspresi tulus dan tenang ketika berpasangan dengannya.
Ketika musik pengiring berakhir, ketegangan antara mereka berdua mencari begitu saja. Menurut protokol, pasangan dansa harus membungkuk, menjauh satu sama lain, dan mencari pasangan dansa baru. Tetapi, bahkan setelah membungkuk, Sheyn tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan kanan logam Nio meski pegangan tangan pemuda itu sudah melonggar.
Sheyn tidak ingin melepaskannya, dan dia memandang wajah Nio yang mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin berpisah. Namun, seharusnya ada jeda singkat pada musik pengiring untuk memberikan kesempatan orang-orang untuk mencari pasangan dansa baru, namun suasana benar-benar hening. Sementara itu, Sheyn tetap menggenggam tangan tangan logam Nio.
Setelah beberapa saat suasana yang hening ini memenuhi ruangan pesta, berjalan seorang wanita tua dan seorang pria yang terlihat berusia pertengahan 45 tahun-an. Semua orang tiba-tiba memberikan hormat kepada kedua orang tersebut, dan Sheyn terpaksa melepaskan genggaman tangannya untuk memberikan hormat kepada kedua orang yang baru datang itu. Tentu saja itu membuat Nio dan kontingen ‘dunia lain’ lainnya hanya bisa berdiri dan menatap dengan heran tanpa tahu apa yang harus dilakukan ketika berada di tengah situasi seperti ini. Sementara itu, Hevaz terlihat seperti sengaja tidak melakukan hormat seperti lainnya.
“Ratu Sheyn, siapa mereka berdua?”
Setelah seluruh orang memberikan hormat, Nio memutuskan untuk bertanya mengenai identitas mereka berdua.
“Heh? Bukannya seharusnya kau sudah tahu? Mereka adalah sang Penyihir Agung dan raja Kerajaan Arevelk sebelumnya, alias ayah dari Ratu Sigiz.”
Mereka berdua melirik ke seluruh penjuru ruangan, seperti sedang mencari seseorang di antara para tamu yang hadir di pesta ini. Bersamaan ketika Sigiz dan gadis lainnya mendekati Hin dan Penyihir Agung, mereka berdua menemukan seorang yang dimaksud. Pandangan mereka tertuju pada seorang pemuda berpakaian militer ‘dunia lain’ dan sedang berdiri bersama seorang gadis dengan bekas luka di wajahnya.
Tapi sebelum itu, ketika Hevaz menunjukkan wujudnya di hadapan Hin dan Penyihir Agung, kedua orang itu langsung memberikan hormat dengan berlutut dan menundukkan kepala di hadapan Hevaz. Melihat itu, kebingungan Nio dan kontingen ‘dunia lain’ lainnya semakin bertambah.
“Bukannya Hevaz lebih muda dari mereka berdua? Kenapa mereka memberi hormat ke Hevaz?”
Jelas, itu adalah pertanyaan dari seorang yang memiliki sangat banyak pertanyaan untuk rahasia dunia ini. Sheyn merasa jika pertanyaan Nio yang dia dengar barusan sangat wajar, mengingat Hevaz sama sekali belum memberi tahu identitas sesungguhnya pada Nio.
Sheyn menggandeng tangan Nio dan berjalan ke tempat Hin dan Penyihir Agung tanpa menjawab pertanyaan Nio. Seluruh orang juga melakukan hal yang sama, termasuk Tim Ke-12 yang penasaran dengan alasan kapten mereka mendekati Hin dan Penyihir Agung.
“Yang Mulia Hevaz, senang bertemu dengan Anda setelah membawa kabar besar itu.”
“Penyihir Agung, tidak salah aku memberimu panggilan itu. Aku juga senang kau menjaga ramalan itu hingga ‘orang yang diramalkan’ datang ke dunia ini.”
“Dengan senang hati saya terima pujian dari Anda, Yang Mulia Hevaz.”
Kebingungan Nio hampir memuncak setelah mendengar percakapan Hevaz dengan wanita tua tersebut dengan santai, seakan-akan Hevaz lebih tua dan telah pantas dihormati daripada Hin dan Penyihir Agung.
Setelah itu, wajah Penyihir Agung dan Hin terangkat lagi untuk melihat wajah Nio. Mereka berdua kemudian berdiri dan berjalan mendekatinya yang masih dalam keadaan kebingungan.
“Ooh… Saya sangat senang dapat bertemu dengan Anda, ‘orang yang diramalkan’…”
Nio berkedip beberapa kali dengan ekspresi kebingungan yang luar biasa setelah mendengar ucapan Penyihir Agung yang telah berusia lanjut berbicara dengan sopan kepadanya.
“Seperti yang dikatakan Sigiz, Anda kehilangan tangan dan mata kanan, tetapi masih terlihat memiliki keberanian yang sangat besar,” ucap Hin dengan Sigiz yang berdiri di sampingnya.
Di lain sisi, seluruh bawahan dan kontingen Korea Utara serta Rusia di pesta ini tidak mengerti ucapan mereka berdua, dan itu membut Nio bersyukur. Tetapi, mata seluruh bangsawan dan tamu undangan lainnya menatap lurus ke arahnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Seluruh bawahan dan kontingen ‘dunia lain’ bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, dan berpikir jika Nio menjadi topik pembicaraan yang sangat penting sekarang.
Tetapi, sejak dia pertama kali datang ke Kerajaan Arevelk, Nio selalu bertanya-tanya mengenai istilah ‘orang yang diramalkan’ yang dia dapatkan.
“Mohon maaf sebelumnya, bisa dijelaskan mengapa saya disebut sebagai orang yang akan menjadi ‘orang yang diramalkan’?”
Penyihir Agung berjalan beberapa langkah ke tempatnya dengan bantuan tongkatnya, dan Nio memutuskan untuk membantu wanita tua itu yang sepertinya ingin mendekatinya.
“Terimakasih atas kemurahan hati Anda, ‘orang yang diramalkan’.”
Wajah Nio kembali menunjukkan jumlah tanda tanya yang sangat banyak, dan berbicara di dalam hati, “Kenapa dia begitu hormat kepadaku?”
“Biar saya yang akan menjelaskan, Tuan Nio,” ucap Hevaz.
Tetapi, seluruh bawahan dan tamu undangan perwakilan kontingen ‘dunia lain’ sangat penasaran dengan pembicaraan yang tiba-tiba ini, dan mengakibatkan pesta berhenti sejak kedatangan Penyihir Agung dan Hin.
Sigit berusaha bertanya pada Nio apa yang terjadi, namun dia dihalangi oleh Sigiz dan Edera dan memperingati lainnya agar tidak menganggu pembicaraan penting yang akan segera berlangsung. Nada dan ucapan Sigiz yang meyakinkan membuat mereka mengurungkan niat untuk mencari tahu kebenarannya. Bawahannya yang dilarang untuk mengganggu pembicaraan merupakan tanda tanya tersendiri bagi Nio, seakan-akan dia telah menjadi subjek paling penting dan berharga di sini.
Namun, sebelum Hevaz mengatakan sebuah huruf pembuka pada penjelasannya, seorang prajurit elit Arevelk memasuki ruangan pesta, dan terlihat seperti ada berita serius yang akan disampaikan. Prajurit itu mendekati Sigiz, dan membisikkan sesuatu yang tentu saja membuat seluruh orang yang melihatnya penasaran.
“Tamu utama kita sudah hadir, Ayah.”
“Bagus, aku juga ingin segera bertemu dengan mereka.”
Dilihat dari reaksi yang diberkan Sigiz dan Hin setelah informasi yang diberikan prajurit tadi, Nio merasa jika itu adalah kabar baik.
“Tamu utama?” Nio bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya.
Nio tidak berpikir jika pihak tuan rumah akan mengundang musuh untuk menghadiri pesta di sini juga, meski itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi, tapi kemungkinannya untuk terjadi tetap ada di dunia ini.
__ADS_1
Kemudian, sepuluh prajurit elit Arevelk bersenjata lengkap memasuki ruangan pesta, dan dibelakangnya merupakan tamu penting yang dimaksud.
Setelah tamu penting diperlihatkan, mata semua orang tidak bisa berkedip untuk beberapa detik setelah melihat salah satu tamu utama tersebut.