Prajurit SMA

Prajurit SMA
Perang batin: memburu


__ADS_3

Saat dia meninggalkan markas Kompi 406-32, ponsel Nio berdering. Nomor yang menghubunginya dari nomor tak dikenal.


“Halo, apakah dengan saudara Nio Candranala?” ucap lawan bicara Nio setelah dia menerima panggilan itu.


Dari nada bicara yang tegas, Nio bisa tahu dari pihak mana pemilik suara itu.


“Benar. Ada apa?”


“Saya petugas patroli Polres Karanganyar. Ada seorang perempuan asing yang mencari-cari Anda. Setelah saya mengirimkan titik lokasi, bisakah Anda datang?”


**


Pada saat Nio berkendara 3 kilometer dari markas kompi, dia berhenti ke lokasi kejadian. Sebuah kerumunan kecil tercipta di depan sebuah SMK, menyebabkan siswa yang mengikuti kegiatan sekolah ‘langsung pulang’ terganggu. Orang-orang yang berkerumun membentuk lingkaran, dengan pusat dua orang yang sedang bertengkar.


Tiga siswa SMK melewati Nio.


“Hei, ada apa?”


Agak terkejut saat melihat Nio yang datang entah dari mana dengan penampilan serba gelap, salah satu siswa menjawab pertanyaan Nio, “Katanya ada bule kesasar, tapi seseorang tiba-tiba mau menyerang dia.”


Merasa gelisah, Nio merasa panas dan menurunkan penutup kepala pada hoodie-nya saat dia bergegas memecah kerumunan orang. Sebelumnya, dia tidak mendengar apa yang mereka pertengkaran, tapi dia bisa mendengar suara keras dari dua orang. Tapi, yang terjadi benar-benar mengenai masalah pribadi salah satu pihak.


Ketika seseorang yang memiliki suara seperti pria remaja berteriak, kerumunan di sekitar bersorak memberi dukungan. Tetapi, saat gadis yang membalas perkataannya, yang dia dapatkan hanyalah kesunyian dan tatapan dingin, membuatnya merasa terpojok.


Saat Nio menyadari bahwa salah satu orang yang bertengkar adalah Zefanya, dia merasa ingin berteriak untuk membubarkan kerumunan, tapi dia menggigit bibir bawahnya untuk menahannya. Dia tidak tahu apa masalah orang-orang terhadap Zefanya. Tapi, saat dia mendengar beberapa orang saling bergumam, Nio menemukan jawabannya.


“Ah, kenapa TNI masih bekerja sama dengan pengikut ko*munis itu? Bukannya Rusia mengirimkan pasukan besar, tapi kenapa mereka belum juga mengakhiri perang?”


“Lihat wajah orang itu. Beruntung banget kita tidak jadi tentara.”


“Lebih baik Rusia menarik semua pasukannya dari dunia lain dan Indonesia. Bisa saja mereka membuat dunia lain dan Indonesia jadi Ukraina kedua. Kenapa Suroso membuat masa pemerintahannya seperti Soekarno yang membuka pintu untuk Blok Timur.”


Apanya yang ko*munis? Menurutmu, tanpa bantuan mereka apa kita bisa bertahan sampai hari ini? Nio dipenuhi keinginan untuk meneriakkan kalimat tersebut. Nio menarik ke belakang kerah baju semua orang yang menghalanginya, tanpa mempedulikan kata-kata yang keluar dari mulut mereka setelah dia melakukan itu. Melihat ekspresi tanpa rasa penyesalan orang-orang, Nio telah menyiapkan tinjunya. Sebagian besar orang yang berkerumun memiliki potensi sebagai penyebar informasi dan gosip yang ‘berbahaya’, tetapi ada beberapa wajah yang menunjukkan ekspresi takut saat melihat wajah Zefanya. Jika mereka membaca berita pada situs yang tidak memihak sisi tertentu, mereka akan tahu bahwa tidak mudah bagi Indonesia untuk memegang prinsip ‘bebas dan aktif’. Mampu bertahan hingga usia peradaban hampir 400 tahun merupakan hasil antara keberuntungan, kemurahan hati Tuhan, dan usaha berbagai rezim dengan beragam cara menjalankan pemerintahan dan melindungi persatuan.


Nio melihat remaja yang bertengkar dengan Zefanya. Wajah dan gaya rambutnya menunjukkan dia adalah orang terpelajar, namun sekarang wajahnya memerah dan menekan Zefanya dengan suara tinggi, “Bantuan tidak berguna kalian membuat kakakku mati di dunia lain! Orang tuaku selalu memukuliku sejak hari itu! Itu karena kalian tidak ada gunannya di sana!”


Zefanya menggelengkan kepalanya, berusaha membela diri dengan ekspresi gentar, “Tidak! Aku tidak tahu masalah itu. Aku membantu sekuat tenaga di sana bersama TNI!”

__ADS_1


“Omong kosong! Bagaimana kau bisa berpura-pura berguna di sana!”


“A-aku membantu…”


“Jangan bicara apapun lagi, penjajah!”


“Rusia bukan penjajah, itu hanya masa lalu yang tidak ada hubungannya dengan perang ini!”


“Diam!”


Nio ingin bertindak menuruti nalurinya, namun dia hanya bisa menahan kebenciannya. Yang dia lihat bukanlah perkelahian atau adu mulut, pria itu meneriakkan masalah pribadinya pada pihak tak yang tidak tahu apapun.


Peristiwa itu kembali mengingat Nio tentang perkataan Darsono, “Tidak peduli seberapa keras kau bekerja, orang-orang hanya akan memanfaatkan dan mengkhianatimu.”


Dan yang dikatakan orang itu menjadi adegan nyata yang disaksikan Nio, dengan pihak yang hanya dapat mematuhi perintah dan melaksanakan tugas sebagai alat negara.


“Minggir!”


Meski tidak terlalu keras, suara Nio didengar orang-orang di dekatnya. Ada tekanan besar saat Nio berjalan, sehingga membuat orang-orang yang berkerumun bekurang jumlahnya. Beberapa orang memilih memberi Nio jalan, membuatnya semakin dekat dengan Zefanya. Ada


Saat Zefanya mendengar suara seseorang, dia menoleh ke sumber suara dan kedua matanya terbuka lebar. Gadis itu mundur selangkah, dan tampak memeluk koper panjang berwarna hitam yang Nio dapat menebak apa isi di dalamnya.


Menyadari adanya orang yang mengenal orang asing yang menyulut perkelahian, orang-orang hening dan memutuskan memisahkan diri dari kerumunan. Setelah itu, ada keheningan saat Nio semakin dekat dengan Zefanya.


Nio berjalan dengan langkah berat dan sorot mata yang membuat orang-orang merasa tertekan. Pria yang menyerang Zefanya secara verbal terkejut, dan berkata dengan nada gentar, “Ma-mau apa kau? Ini bukan urusanmu.” Pria itu tampak berusaha terlihat tangguh.


Setelah melihat wajah pria yang tampak terdidik dengan baik itu, Nio meletakkan tangan kirinya ke pundak kanannya dengan ‘sedikit’ meremasnya. “Maaf” kata itu keluar dari mulut Nio, namun tidak membuat pria tersebut puas. Sebaliknya, dia merasakan cengkraman Nio pada bahunya seperti bahaya yang membuatnya menunjukkan ekspresi takut.


Setelah pria itu memutuskan meninggalkan tempat kejadian, Nio berjalan dua langkah dan memeluk Zefanya. Nio memejamkan mata, dan berbicara perlahan dengan nada berat, “Zefanya, maaf tidak mengingatkanmu jika ada sekelompok orang yang masih tidak menyukai tentara asing dan keterlibatannya dalam perang ini.”


Dalam pelukan Nio, Zefanya mencengkram punggung pakaian kekasihnya. Tubuh dingin Zefanya bergetar saat air matanya yang hangat membasahi bahu hoodie Nio, “Itu… itu bukan salahmu… aku juga ingin melindungi mereka…”


“Mereka hanya orang yang tidak diajari mengucapkan kata terimakasih…” jawab Nio dingin.


Zefanya semakin terisak, lalu berkata, “Apa sesulit itu mendapatkan kepercayaan orang lain saat dirimu adalah tentara asing yang ikut mempertaruhkan nyawa demi orang asing lain?”


“Butuh waktu lama sebelum otak mereka siap menerima kenyataan bahwa jasamu lebih besar dari yang dibayangkan.”

__ADS_1


“Artinya, kita harus terus berjuang?”


“Ya,” kata Nio sambil menghapus air mata yang membasahi kedua pipi Zefanya dengan lengan kiri hoodie-nya.


Mereka berdua melepas pelukan, saling bertatapan saat Zefanya menangis sebentar.


Nio berkata, “Sekarang, kau harus kembali berjalan dengan kepala tegak seperti biasanya.”


“Tapi… aku membawa ini,” Zefanya menunjukkan koper panjang miliknya saat mengatakannya.


“Apa isinya penting?”


“Tidak! Kamu benar Nio!” Zefanya menyeka matanya dengan lengan bajunya dan mulai bertindak biasa.


Nio membalas senyuman Zefanya meski dihalangi masker buff hitam.


Setelah itu, ponsel Nio bergetar. Dia berpikir untuk mengabaikannya, tapi setelah melihat nama penelpon, dia menekan tombol untuk menerima panggilan.


“Nio, kami tahu di mana kelompok Pelindung Desa Bacem beraksi,” yang menelpon Nio adalah Sonia. “Mereka ada di dekat kota mati.”


“Mereka cukup jauh dari tempatku saat ini. Bagaimana caraku ke sana sebelum mereka membuat kerusuhan?”


“Dengar Nio, aku mendapatkan bantuan dari komandan Kompi 406-32, dan dia dengan senang hati meminta bantuan skuadron helikopter. Dia mengatakan ingin membantu mengungkap kebenaran.”


Nio berpikir dirinya salah dengar saat Herlina membantu dia dengan meminta bantuan pada skuadron helikopter, namun penjelasan berikutnya dari Sonia membuatnya percaya dengan apa yang dia dengar.


“Dengar Nio, aku mendapatkan informasi jika Pelindung Desa Bacem menggunakan semacam pesawat udara tanpa awak bersenjata.”


“Apa yang mereka rencanakan dengan senjata di kota mati? Kak Sonia, apa kau memiliki informasi lain?”


“Nio, kau harus pergi cepat ke tempat target berada. Polisi segera bergerak saat pergerakan Pelindung Desa Bacem terdeteksi, tapi akan kupastikan kau akan sampai di sana lebih dulu. Bantuan yang didapatkan Herlina benar-benar luar biasa, jadi kejar mereka. Jika kau mendapatkat informasi yang menunjukkan rahasia Desa Bacem dan kasus-kasus besar lainnya, aku akan memberimu royalti 2 kali lipat dari perjanjian awal. Oh, nilai royalti akan jauh lebih besar kalau kau menemukan tanda-tanda keberadaan Indah. Apa kau mengerti? Jadi, lakukan yang terbaik, “ kata Sonia dengan nada bicara bersemangat yang mendekati tindakan pemaksaan.


“Hah? Tunggu, Kak Sonia?” mendengar bahwa panggilan telah berakhir, Nio menghela napas dan menyimpan kembali ponselnya di saku celana.


Beberapa saat kemudian, dia mendengar suara keributan dan sejumlah mobil lapis baja Kompi 406-32 menutup jalan dengan tujuan tertentu. Tak lama kemudian, Nio bisa melihat sesuatu yang semakin besar dengan suara menderu. Suara gemuruh rotor helikopter yang memutar baling-baling terdengar sangat jelas, dan hembusan angin menerbangkan debu dan sampah pinggir jalan.


Nio menyipitkan mata kirinya dan melihat ke atas. Ada sebuah helikopter milik Skadron 11/Serbu dari Garnisun Semarang. Seperti yang diharapkan para pembela kebenaran yang akan melakukan segalanya tanpa mempedulikan apapun, Nio meringis atas tindakan komandan Kompi 406-32.

__ADS_1


“Bukannya terlalu pelit mengirimkan helikopter serbaguna untuk memburu penjahat kelas kakap?”


__ADS_2