
29 November 2321, pukul 11.13 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, siang hari.
**
Berita tentang bagaimana pemerintah Indonesia mengundang tamu-tamu dari dunia lain, dan membahas masa depan bersama Kerajaan Arevelk yang dipimpin Sigiz, itu mengundang kericuhan di dunia intelejen dunia, dan mereka menginginkan para tamu untuk ke negara mereka.
Ada banyak negara yang cemburu dengan Indonesia, setelah pemerintah berhasil menjalin kerjasama dengan salah satu negara di dunia lain. Lagipula pemerintah Indonesia juga bertindak secara rahasia untuk mendatangkan para gadis dunia lain, sehingga mereka perlu bertindak secara keras jika ada agen dari negara luar.
Nio hanya menganggap jika AS diberitakan telah mengirimkan pasukan khusus mereka sebagai sebuah lelucon, dan cara berpikir tentara Indonesia berbeda dengan pasukan AS. Hal yang membuat AS menjadi ‘badut’ bukan hanya orang Amerika yang menganggap negara mereka adalah pusat dunia. Setelah mengetahui jika ada satu tentara khusus yang mengawal para tamu, seketika tidak ada lagi agen dari negara luar yang bertindak, mereka diperintahkan untuk mundur.
Jika agen negara luar mengambil tindakan dalam celah yang lebar, mereka bisa melakukannya dari tadi. Namun, ada puluhan penembak runduk yang tersebar di beberapa atap gedung tertinggi di Jakarta, dan mereka semua mengawasi hal yang mencurigakan dan mengancam para tamu dari dunia lain.
Drone militer diterbangkan dalam misi patroli, itu cukup untuk membuat negara luar yang telah mengirimkan agen mereka geram.
Nio beberapa kali bertatap mata dengan orang yang dia curigai sebagai agen negara luar, tapi tatapan yang mereka lakukan seperti saling tatap dengan orang bodoh. Beberapa jam sekali puluhan polisi patroli juga melintas di jalanan.
**
Di hotel, semua orang sudah mengepak barang-barang mereka sebelum meninggalkan kota ini. Ketika para agen sedang berkelahi dengan pemimpin mereka, Nio tidak begitu naif untuk berpikir jika mereka akan menyerah begitu saja.
Mobil yang sudah disewa akan menjadi kendaraan untuk kembali ke Garnisun Karanganyar. Pastinya Nio akan sangat kebingungan untuk mengembalikan mobil sewaan ini saat dia harus kembali ke dunia lain.
Untuk pertama kalinya, para gadis dari dunia lain terengah-engah di Indonesia. Kecepatan mereka sebenarnya tidak terlalu diperlukan, tapi keamanan para gadis dunia lain adalah prioritas.
Liburan ini cukup payah, dimana mereka hanya mengalami sabotase tanpa mengunjungi tempat wisata. Seluruh gadis menuntut Nio untuk mengganti liburan yang sudah rusak ini.
Sigiz menyadari mengapa Nio terlihat khawatir tentang keselamatan mereka. Di dunia ini, ada beberapa pihak yang tidak menyetujui perdamaian dengan dunia lain, dan pihak yang bersikap sebaliknya, dan mendukung berdamai dengan dunia lain dan segera menghentikan perang.
Itu memang tidak salah, apalagi salah satu gadis adalah seorang Ratu dari sebuah negara di dunia lain, pasti dia akan berpikir jauh kedepan kemungkinan apa yang akan terjadi jika Indonesia melakukan kerja sama dengan negara di dunia lain.
**
Saat ini, pukul 04.21 WIB di sebuah rute rahasia untuk kembali ke kota kembali ke Karanganyar. Para gadis sudah tertidur, sementara ketiga pemuda masih terjaga dan mengawasi mobil yang berada dalam mode auto pilot.
Mereka sudah memasuki wilayah provinsi Jawa Tengah, dan beberapa puluh kilometer lagi akan memasuki wilayah kota Karanganyar.
Untuk melindungi para tamu dan bawahannya dari musuh-musuh mereka, Nio meminta bantuan dari atasannya saat masih berada dalam Kompi 406. Tidak akan ada musuh yang mau berada di antara ratusan tentara yang akan mengawal para tamu kembali memasuki Gerbang. Tentu saja masih ada kemungkinan musuh akan menerobos, tapi para musuh tersebut pastinya akan berpikir dua kali jika diantara mereka adalah ratusan tentara dan ribuan warga sipil yang ingin melihat para gadis dari dunia lain.
Setelah penayangan siaran Pertemuan Nasional, ada banyak warga yang ingin melihat langsung para gadis dunia lain. Pastinya akan ada banyak orang yang akan mengunjungi kota Karanganyar.
Nio menutup ponselnya setelah mendapat persetujuan dari Herlina untuk mengerahkan seluruh pasukan Kompi 406-32, ditambah di Garnisun Karanganyar terdapat satu batalyon tambahan.
“Sudah sampai?”
Yang berkata tadi adalah Arunika yang tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena harus berbagi kursi untuk para gadis lainnya.
Saat ini telah memasuki pukul 5 pagi, dan rombongan telah berada di wilayah Boyolali, kebanyakan orang masih tertidur pastinya.
Nio mengendalikan SUV di parkiran sebuah minimarket, pagi ini cuaca cukup dingin, dan kabut mulai turun.
“Kita akan sarapan di sini.”
Chandra dan Liben turun dari mobil untuk membeli beberapa makanan dari sebuah minimarket 24 jam. Beberapa gadis yang sudah terbangun meminta untuk ikut ke dalam minimarket, tidak ada orang yang bisa menghentikan mereka.
Ada dua plastik besar yang berisi makanan dan minuman yang akan membuat mereka kenyang lebih lama.
__ADS_1
“Bagaimana, apa rekan mu sudah bergerak?”
Nio memeriksa kembali ponselnya setelah Liben menanyakan tentang persiapan Kompi 406-32. Sambil mengunyah sepotong roti berselai cokelat, dia membaca pesan yang dikirimkan Herlina dan Surya. Beberapa foto juga dikirimkan, dan terlihat sudah ada sangat banyak orang di beberapa titik di kota Karanganyar, jumlahnya mencapai ribuan.
Tentu saja, untuk rencana ini berjalan, Nio mengacungkan dua jempol.
“Apa kau akan kembali bertugas?”
Keheningan terjadi setelah Arunika menanyakan hal itu kepada Nio. Nio hanya mendengus dan mengatakan jika kakaknya mulai sekarang bisa selalu mengiriminya pesan.
**
Mata Sigiz yang perlahan-lahan terbuka, melihat Nio dan Arunika sedang membicarakan sesuatu di luar mobil.
Mereka berdua seharusnya sepasang saudara, tetapi mereka berdua tidak terlihat seperti itu. Dari dalam mobil, Sigiz tidak bisa mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. Tapi. Melihat Nio yang begitu akrab dengan perempuan lain adalah hal yang ‘meresahkan’ baginya. Tapi, mungkin saja Nio dan Arunika hanya mendiskusikan sesuatu yang penting.
Nio dan Arunika kembali memasuki mobil, seluruh orang tidak memiliki niat untuk menanyakan apa yang dibicarakan mereka berdua.
Situasi di pemerintahan Indonesia sudah terlihat jelas, tapi setelah mendengar terdapat beberapa negara yang lebih besar dari Indonesia cukup membuat Sigiz terkejut. Sigiz perlu memahami apa itu Amerika Serikat, Cina, Jepang dan Uni Eropa. Dia juga perlu memahami hubungan Indonesia dengan negara-negara tersebut.
Tapi yang terpenting adalah, dia harus mendapatkan pemuda yang sedang mengunyah roti cokelat itu.
**
Hari ini, TV menyiarkan beberapa berita khusus, terutama sebuah drone yang ditembak jatuh. Wartawan dan penyiar berita mengerumuni markas polisi di Jakarta setelah personel mereka berhasil mencari asal dan pemilik drone burung ini.
Karanganyar bukanlah sebuah kota yang sibuk, jadi cukup mudah untuk wartawan menanyai setiap pejalan kaki yang lewat. Ada sesuatu yang aneh dengan orang-orang hari ini, yang tentunya ada hubungannya dengan para tamu dari dunia lain yang akan segera kembali ke dunia mereka.
Kebanyakan orang yang ditanyai adalah perempuan dan pria pekerja yang berjalan kaki ke tempat kerja.
“Dari ketujuh orang yang akan kembali ke dunia lain, siapa yang paling ingin anda lihat?”
Itulah pertanyaan yang para wartawan tanyakan kepada para warga. Tapi, siapa tentara yang selalu memakai masker yang dimaksud?
Di Garnisun Karanganyar, hanya ada sebuah jalur untuk bisa mencapai Gerbang. Setiap jalan yang menuju ke Gerbang akan ditutup dengan pembatas jalan beton setinggi 2 meter.
Di depan Gerbang itu, ada sebuah tugu setinggi 6 meter untuk mengenang para korban perang dan penyerangan kota Karanganyar saat perayaan ulang tahun kemerdekaan. Hingga hari ini, masih ada banyak orang yang meletakkan bunga di depan tugu tersebut.
Ribuan orang yang memadati wilayah terlarang yang kini telah dibuka untuk umum, berdesakan di jalur pejalan kaki hingga meluber ke jalan raya dan menghalangi laju mobil militer.
Kemacetan besar di beberapa titik membuat mobil polisi tidak bisa bergerak. Sekilas, ribuan orang yang ada disini seperti demonstran. Orang-orang memenuhi jalur pejalan kaki hingga tumpah ke jalan, sepertinya mereka menunggu sesuatu.
Ratusan prajurit bersenjata lengkap berjaga di depan Gerbang, dua helikopter serang sesekali melintas di atas bangunan fantasi ini.
**
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Nio ada di kursi pengemudi dan dia khawatir karena kerumunan semakin besar, dan menyebabkan kemacetan yang membuat mobil tidak bisa bergerak. Para pengemudi yang frustasi terus membunyikan klakson, dan beberapa pengemudi mengumpat satu sama lain karena bunyi klakson. Petugas polisi mati-matian mengatur lalu lintas. Tapi, kerumunan orang datang dengan tiba-tiba, sehingga mereka tidak punya cukup personel untuk menangani situasi.
Informasi tentang para gadis dunia lain yang akan kembali ke asal mereka telah menyebar ke telinga warga wilayah Soloraya dan wilayah terdekat. Orang-orang telah berkumpul dari seluruh Indonesia untuk melihat mereka, perkiraan awal jumlah mereka sekitar 40.000 orang ditambah ratusan prajurit Kompi 406-32 dan satu batalyon.
“Apa mereka berkumpul untuk merencanakan perang?”
Sigiz dan Lux menampakan ekspresi cemas di wajah mereka, sementara Edera, dia sudah menangis karena banyaknya orang di dekat mobil yang dia tumpangi. Pedang milik Lux masih dibawa oleh Chandra dan baru akan dikembalikan jika mereka sudah menginjakan kaki di dunia lain.
__ADS_1
Bisa saja Nio dan kedua bawahannya membatu para polisi untuk membubarkan kerumunan, tentu saja dengan tembakan peringatan dari pistol mereka. Tapi, hal itu akan membuat kepanikan masal, dan situasi akan semakin tidak terkendali.
**
Ada beberapa kelompok di dunia ini yang meninggalkan akal dan membiarkan emosi memerintah mereka. Misalnya, sekelompok orang yang membunuh pemuka agama atau orang yang sedang beribadah, hanya karena mereka kaum minoritas atau apalah. Lalu, ada kelompok yang bahkan mengarahkan pedang dan tombak mereka ke arah warga sipil.
Namun, para gadis dari dunia lain hanyalah tamu dari dunia lain, dan mereka tidak memiliki hubungan dengan negara yang berperang dengan Indonesia. Jadi, warga yang kehilangan keluarga saat insiden penyerangan, tidak berhak menyalahkan para gadis tersebut.
Jika ada yang mencoba menyakiti gadis-gadis itu, Chandra dan Liben akan menembak mereka. ini bukan ‘izin’ yang Nio berikan kepada mereka berdua, tetapi ini adalah ‘perintah’. Liben dan Chandra telah mengajukan diri untuk menjadi pengawal para gadis dunia lain ini.
Setelah Nio memerintahkan mereka, Liben dan Chandra memasang magasin pada pistol dan memasang peredam suara. Tentu saja, mereka tidak akan secara terbuka membawa senjata mereka, itu akan menakuti orang-orang. Sebagai gantinya, mereka memasukkan senjata ke kantong celana, tetapi dengan pengaman agar mereka bisa menembak kapan saja.
Sepintas, Nio dan kedua bawahannya terlihat seperti remaja biasa pada umumnya. Chandra yang jangkung itu berotot, tubuhnya menyerupai atlet atletik profesional. Sementara Liben, tingginya hampir sama dengan Nio, dengan kulit yang eksotis khas orang Papua, wajahnya tegas dan jenggot tipis pada dagunya dicukur, jadi Liben akan nampak garang.
Nio, yang lebih tinggi dari pria-pria yang berkerumun, nampak seperti mahasiswa berusia 19 tahunan, memang itu usia sebenarnya. Dengan wajah yang dipakaikan masker berwarna abu-abu, dia menatap sekeliling setajam mata burung elang. Hoodie yang ia kenakan nampak kusam, tapi setidaknya dia beraroma wangi. Dia menyembunyikan pistol di kantong hoodie nya.
Maka, mereka bertiga beralih ke mode pertempuran yang serius. Arunika seketika tersentak saat adiknya tiba-tiba berubah ke mode ‘komandan’.
Sampai saat ini, mereka bertiga bersikap santai, tetapi tampaknya ada aura bahaya di sekitar mereka, dan mereka bertiga memperlihatkan tatapan setajam katana ke arah orang-orang yang terlihat mencurigakan. Ini berbeda dengan suasana intimidasi yang dimiliki mafia maupun preman. Tatapan mereka bertiga yang sangat tajam, membuat orang-orang gelisah dan tidak nyaman. Namun, mereka hanya bersikap seperti ini untuk beberapa saat, setelah itu kembali ke diri mereka yang biasanya.
“Maaf kak, kau harus kembali ke kota bawah tanah. Maaf, di liburan yang singkat ini, aku hanya membelikanmu satu baju baru, dan melibatkan mu di masalah kami.”
Arunika melemaskan bahunya, dan tersenyum untuk Nio. Lalu, dia melingkarkan kedua tangannya di leher Nio, dan memeluk erat-erat adiknya. Nio tidak bisa membalas pelukan ini, karena ada enam pasang mata yang menyaksikan dengan tatapan tajam.
“Mau bagaimana lagi, lakukan sesukamu di medan perang, lalu kembali lah hidup-hidup. Aku akan selalu menunggumu.”
Setelah iklan melintas di saluran TV selama 3 menit, saatnya berita utama yang disiarkan langsung ditayangkan. Iklan yang ditayangkan hanya berupa tentang kosmetik, makanan, dan popok untuk perempuan remaja, atau pembalut.
Yang dilihat pemirsa adalah Sigiz, seorang ratu dari Kerajaan Arevelk dengan rambut kecoklatan tergerai, berjalan di jalur pejalan kaki dan bermandikan cahaya dari kamera milik kameraman. Dia memancarkan keindahan yang sangat besar, Sigiz nampak lebih cantik dari model iklan sabun dan sampo.
Lalu, ada Lux dan Ivy yang bermata tenang, mereka berdua berjalan di belakang Sigiz sambil membawa barang bawaan mereka.
Dibelakang mereka ada Edera, dengan pakaian khas remaja perempuan, dengan ekspresi cemasnya.
Empat tamu dari dunia lain disambut hangat oleh orang-orang. Sebagai tokoh yang sebelumnya diyakini hanya ada di imajinasi orang, Edera adalah yang paling populer di antara mereka.
Sementara itu, Nio dipaksa untuk membuka maskernya sebelum memasuki pos penjagaan. Beberapa perempuan remaja langsung mengerumuni Nio dan meminta agar bisa berfoto bersama.
Semua reporter memuji kecantikan milik seluruh gadis dunia lain, tapi seseorang pernah berkata jika tidak baik menanyakan usia pada seorang perempuan. Namun, dapat dipastikan orang-orang akan terkejut jika Sigiz membeberkan tentang usia sebenarnya, pasti perempuan Indonesia yang berusia sama dengannya akan sangat iri.
**
Jadi, Nio dan lainnya bisa kembali dengan aman dengan sedikit tekanan mental, tetapi mereka berhasil melewati sisi lain Gerbang.
Sebelum melewati Gerbang, mereka harus menjalani inspeksi para penjaga, seperti di bandara. Setelah itu, petugas keamanan akan memeriksa sidik jari, pemindaian retina dan mengukur denyut nadi dan pemeriksaan lainnya. Setelah melewati seluruh prosedur pemeriksaan, baru mereka bisa melewati Gerbang.
Para prajurit wanita akan menangani pemeriksaan para gadis, itu juga berlaku sebaliknya. Tidak mungkin para prajurit pria memeriksa tubuh dan barang bawaan para gadis.
Dan kemudian, tiga orang prajurit penjaga menarik sebuah pistol dari saku mereka bertiga dengan berkata, “Apa ini!?”
“Ah, kami lupa mengembalikannya.”
Nio dan ketiga bawahannya hanya tersenyum kecut saat pistol milik mereka disita sambil berkata, “Kami membawanya untuk berjaga-jaga.”
Pada akhirnya, senjata milik mereka bertiga dimasukkan kedalam gudang senjata Pasukan Ekspedisi.
__ADS_1
**
Funfact#3: pada hari kedua di hotel, Ivy hampir mengajak Liben untuk melakukan mantap-mantap, tapi Chandra segera memergoki mereka berdua. Lalu Chandra melaporkan hal ini kepada Nio dengan tuduhan percobaan pemerkosaan. Setelah mendengarkan penjelasan Ivy, tuduhan Chandra tidak terbukti. Karena Ivy berkata hanya ingin melakukan ciuman dengan Liben.