Prajurit SMA

Prajurit SMA
143. Mata dibayar mata


__ADS_3

Setiap prajurit memang dilatih untuk bertahan di tengah situasi hidup dan mati, seperti sekarang. Pikiran yang hanya tertuju pada pertarungan, hidup dan mati seperti inilah yang mereka inginkan dari menjadi seorang prajurit.


Dengan Pasukan Aliansi yang sudah berantakan, pihak pasukan bantuan memiliki kemenangan yang sudah dapat dipastikan. Pasukan bantuan tidak bisa membiarkan seorang musuh yang sudah melukai teman mereka untuk kabur, sehingga dapat berperang lagi suatu hari nanti. Dan melihat kondisi prajurit Aliansi sekarang, tidak alasan bagi pasukan bantuan untuk menahan diri.


Sementara itu, salah satu jendral Aliansi, Maslac, tidak dapat membuang-buang waktu untuk membangun kembali garis pertahanan saat alur pertempuran diambil alih pasukan bantuan. Sebagai pasukan yang mengandalkan kerja sama, Maslac tetap memerintahkan bawahannya untuk mencari celah dalam pertahanan musuh. Menyadari bahwa nasib Aliansi berada di pundaknya ketika para pahlawan tiba-tiba berubah menjadi pengecut, mereka tidak dapat membiarkan pasukan bantuan menguasai pertarungan. Oleh karenanya, Maslac terus meneriaki bawahannya untuk terus berjuang, dan mencari titik kelemahan pasukan bantuan.


Maslac bersama sisa pasukannya dengan jumlah 40.000 membentuk formasi untuk melawan infanteri pasukan bantuan. Pada waktu yang bersamaan, infanteri TNI yang berada di depan mereka melakukan manuver yang membingungkan dan seperti memutari formasi yang disusun pasukan Maslac.


Lalu, suara tembakan dari senapan serbu dan mesin dari infanteri membuat Maslac dan pasukannya panik. Suara kebingungan dari anak buah Maslac berisi keterkejutan mereka akan serangan infanteri TNI.


Maslac berada dalam posisi kebingungan, dan memerintahkan beberapa kompi untuk kembali ke dalam area benteng. Dimana pertempuran hanya dikuasai oleh para ‘capung besi’, dan prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela yang tengah melawan prajurit Aliansi yang mencoba melarikan diri.


Ia yakin jumlah besar pasukannya merupakan keuntungan, dan merasa keunggulan masih berada di tangan mereka. Maslac memarahi prajurit Aliansi yang mencoba menyelamatkan diri tanpa perlawanan, dan memerintahkan mereka untuk bergabung bersamanya untuk membalas serangan pasukan bantuan dan Pasukan Ekspedisi yang sudah kelelahan.


Langsung saja, kompi-kompi Maslac berpencar untuk melakukan pertempuran jarak dekat dengan infanteri dan Pasukan Ekspdisi serta sukarela. Misi mereka adalah memenangkan perang ini, dan merebut kembali Tanah Suci. Musuh mereka yang ngotot ini harusnya sudah kehabisan tenaga ketika pertempuran sebelumnya. Jika Maslac dan pasukannya berhasil membunuh beberapa prajurit musuh, mereka akan sangat bangga dan pulang dengan kehormatan.


Namun, yang tejadi setelahnya tidak bisa diduga oleh siapapun, disaat semua prajurit Maslac berpikir akan sangat mudah untuk menghabisi musuh yang sudah kelelahan tersebut.


Rentetan tembakan senapan serbu dan pertarungan jarak dekat yang dilakukan prajurit TNI dan sukarela seperti tidak ada batasnya. Potongan timah panas yang ditembakkan infanteri dengan mudah menembus zirah logam kokoh prajurit Aliansi. Serta, setiap gerakan bela diri yang dikhususkan untuk pertempuran jarak dekat melumpuhkan prajurit Aliansi yang masih yakin dapat meraih kemenangan.


Seorang manusia yang bernama Nio maju tanpa mengurangi kecepatannya, dan dengan entengnya bertarung dengan kombinasi gerakan silat dan senjatanya yang berupa sekop. Berdasarkan firasat prajurit Aliansi, prajurit yang melawan mereka dengan senjata sekop bukanlah manusia, dan merasa hal buruk akan terjadi jika prajurit yang bersenjatakan sekop tersebut menyerang mereka.


Meski semaju apapun peradaban, manusia tetap tidak bisa menghilangkan insting bertahan hidup ala binatang. Nio seperti manusia purba yang melawan hewan buas yang hendak memangsanya dengan senjata tumpul, bedanya senjata yang digunakan Nio adalah benda modern yang disebut ‘sekop’.


“Rapatkan formasi! Tahan prajurit buas itu!” Maslac dengan paniknya mencoba mengatur kembali pasukannya.


Nio dan seluruh prajurit TNI telah melakukan pertarungan yang terbaik. Mereka benar-benar seperti gerombolan orang gila, tapi mereka bertarung sambil mengerahkan sisa tenaga mereka. Seharusnya mereka bisa bangga dengan pertarungan serius yang mereka berikan kepada musuh.


Dalam hitungan menit, infanteri melumpuhkan beberapa prajurit Aliansi dengan peluru mereka, dan memberikan celah bagi Nio dan yang lainnya untuk bertarung. Dengan kerja sama pertarungan jarak jauh dan jarak dekat yang mereka berikan, prajurit Aliansi benar-benar merubah pandangannya terhadap mereka. Prajurit menilai jika negeri asal pasukan yang bernama TNI tersebut hanya berisi dengan orang barbar.


Dalam kedipan mata, seorang prajurit dengan bekas luka di wajahnya telah berada tepat di depan barisan pasukan Maslac. Tiba-tiba, Nio menampar sangat kuat tubuh musuhnya dengan sekop menggunakan sisa tenaganya. Lalu dalam satu gerakan tendangan memutar, Nio menjatuhkan seorang prajurit Aliansi di depannya. Lalu, sebagai serangan terakhir, Liben melakukan serangan penutup dengan menusuk leher musuh dengan pedangnya.


“Makhluk apa mereka itu!?”


Maslac yang duduk di atas kudanya masih sulit mempercayai apa yang dia lihat. Dia sebelumnya menilai jika TNI adalah pasukan pengecut yang hanya bisa bertempur dari kejauhan. Namun, dia melihat dengan kedua matanya sendiri kemampuan bertempur jarak dekat prajurit TNI yang jauh mematikan dari beladiri pasukan elit Kekaisaran Luan.


Pada setiap pertempuran, pasukan yang dipimpin Maslac akan dengan mudah meraih kemenangan. Tapi, pada hari ini mereka dibantai oleh pasukan yang berasal dari sebuah negara yang bernama Indonesia dan sekutunya.


Dia berbicara begitu lirih, “Tidak mungkin. Kekaisaran Luan dan Aliansi tidak akan kalah… tapi…”


Ketika Maslac bangkit dari ratapannya, prajurit yang ia pimpin nyaris habis. Satu per satu dibunuh oleh infanteri dan prajurit TNI yang melakukan pertempuran jarak dekat dengan sekop dan pedang.


Tak mungkin Maslac hanya berdiam diri melihat anak buahnya dalam masalah. Ia memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk bersatu dan membentuk kembali formasi. Ia memerintahkan sisa prajuritnya untuk melawan.


Namun, di dalam hatinya, Maslac tak henti-hentinya bertanya, “Bagaimana bisa? Padahal jumlah kami jauh lebih banyak dari mereka. Apakah pernah ada pertarungan segila ini?” ia pernah mendengar jika pasukan Indonesia sama sekali tidak memiliki penyihir, namun daya tempur mereka setara dengan ksatria penyihir elit.


Akan tetapi, monster yang satu ini sepertinya lebih mengerikan lagi, dan monster tersebut begitu handalnya dalam pertarungan jarak dekat dengan ‘senjata anehnya’ itu. Bagi seseorang yang mampu mengalahkan satu peleton dalam pertarungan jarak dekat, itu adalah hal yang sulit dibayangkan.


“Musuh sudah semakin dekat!”


Namun,sebagai seorang komandan pasukan, Maslac tidak punya waktu untuk terus memikirkan hal itu. Musuh-musuhnya sudah berada dalam jangkauan. Seluruh pertanyaan di pikirannya tentang pasukan Indonesia tidak ada hubungannya dengan pertarungan, sehingga dia mengalihkan pikiran dan memerintahkan petarung terbaiknya untuk bertarung melawan prajurit TNI.


Musuh mereka pastinya sadar akan rencana mereka dan mulai bergerak menghindar, yang memang merupakan keputusan tepat. Namun, ada satu hal yang mengganjal. Maslac merasa jika petarung jarak dekat TNI bergerak maju hanya untuk menjalankan suatu taktik.


Namun, menyerang semuanya dengan jumlah besar mereka adalah perintah Maslac terhadap pasukannya. Namun, yang paling sulit dipercaya… tidak… tepatnya sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan…


… adalah dimana infanteri yang mengarahkan ujung laras senapan mereka ke arah petarung terbaik Maslac. Ternyata petarung jarak dekat tadi hanya digunakan sebagai umpan saja oleh para penembak.


Jarak musuh yang dekat dengan para penembak akan menambah akurasi tembakan, mereka juga melemparkan beberapa granat di tengah barisan rapat pasukan Maslac. Meskipun mereka berlindung di balik perisai kuat, peluru 7,62mm yang melesat dengan kecepatan 900 meter per detik menembus dengan mudah pertahanan rapat mereka.


Granat membutuhkan waktu beberapa menit sebelum meledak. Salah satu prajurit Maslac mengambil sebuah granat yang melayang dan mengenai kepalanya, dan dia tidak tahu jika benda yang dia pegang adalah sebuah senjata yang memiliki daya ledak besar. Beberapa detik kemudian, granat yang dipegang prajurit malang tersebut meledak dan membunuhnya serta beberapa rekan-rekannya. Rentetan ledakan yang dihasilkan beberapa granat yang dilemparkan juga meledak, dan membuat kerusakan yang jauh lebih besar.


Lalu, Nio dan prajurit Pasukan Ekspedisi dan sukarela yang keluar dari asap hasil ledakan granat, dan disertai dengan tembakan perlindungan yang dilakukan infanteri. Maslac tak henti-hentinya merasa keheranan.


Maslac merasa tidak akan meraih hasil yang berarti bila hanya mengandalkan serangan dengan taktik biasa, oleh karena itu dia maju dengan pedangnya di tangannya. Tentu saja, selama pertempuran yang Maslac lalui, belum ada musuh yang bertahan dalam pertarungan melawannya. Apalagi Maslac sedikit menguasai sihir, yang sekaligus menambah daya rusak dari pedangnya.


Lalu, Maslac memimpin dalam formasi menyerang, sebuah formasi yang dianggap Kekaisaran Luan sebagai formasi pamungkas mereka. Pasukan pendukung berupa petarung kuat, dan tidak ada satu pun pemanah. Maslac yakin jika serangan dengan menggunakan formasi ini bisa mengalahkan para petarung jarak dekat TNI… seharusnya.


Para petarung jarak dekat masih bergerak cepat ke arah pasukan Maslac, dengan membawa berbagai senjata di tangan mereka.


Orang-orang mengatakan bahwa sangat mudah mengalahkan 5.000 orang dengan senjata pisau dan pedang biasa, dengan pasukan sebanyak 40.000 prajurit… namun pada hari ini ungkapan tersebut hanyalah kebohongan.


Maslac dan prajurit-prajuritnya tidak mengira ini akan menjadi pertarungan yang sangat sulit. Jadi pilihan satu-satunya adalah memerintahkan seluruh prajuritnya untuk terus bertarung, meski hasil akhir sudah terlihat.


Satu demi satu anak buah Maslac terbunuh dengan gerakan cepat petarung jarak dekat, yang dibantu dengan penembak di sekeliling mereka. Ini adalah pekerjaan yang sulit bagi para penembak infanteri, mereka harus berusaha keras agar tembakan tidak mengenai para petarung jarak dekat.


Ia kesulitan memaafkan rasa marahnya saat melihat anak buahnya terbunuh, namun dia paham situasinya saat ini. Pasukannya baru saja menghadapi sekumpulan monster yang berwujud manusia, yang dipimpin oleh monster yang cukup kuat… seorang monster yang mata kanannya Maslac rebut. Prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela mungkin terluka, tetapi mereka melakukan pertarungan yang jauh lebih baik dibandingkan prajurit Aliansi.


Nio akhirnya berhadapan dengan orang yang mengambil mata kanannya, dan membuang sekopnya untuk digantikan dengan pedang milik prajurit Aliansi yang dia habisi. Mata Maslac menangkap pandangan penuh ambisi untuk bertarung dari Nio. Tapi, Maslac kemudian turun dari kudanya, dan menyalurkan energi sihir ke pedangnya hingga menyala berwarna kemerahan.


Nio semakin menguatkan genggamannya pada pedangnya, dan berusaha tidak gugup untuk melawan Maslac. Nio hanya berharap tidak mati ketika berhadapan dengan pedang sihir tersebut, dan membayangkan jika dia juga memiliki sihir juga… yang merupakan hal mustahil.


Pasukan yang mengandalkan teknologi yang sedang melawan pasukan dengan kekuatan sihir, mengandalkan keberanian di dalam dada, dan tekad untuk menang. Nio berharap untuk menang dalam pertarungan melawan Maslac, dan mencapai sesuatu yang ingin dicapai setelah semua ini berakhir.


“Apa kau ingin mati? Kalau begitu, kau ingin mati dengan cara apa?”


Nio berkata di dalam hati dengan nada kesal, “Nih orang masih sempet-sempetnya ngomong gitu pas mau gelut!”


“Mudah saja, aku akan terus hidup, dan mati pada waktunya. Takdir matiku tidak ada di tanganmu, brengsek!”


Ekspresi tidak percaya muncul di wajah Maslac setelah Nio mengumpatinya seperti itu.


Nio dan Maslac sama-sama berlari, dan kemudian suara logam yang beradu terdengar di telinga Nio. Tangan bionik Nio yang cukup kuat untuk menahan serangan senjata tajam, menahan tebasan pedang Maslac yang menyasar pinggangnya.


Keduanya menyeringai, bahkan ditengah pertarungan mereka berdua. Mereka tidak kehilangan semangat tempur meski sama-sama menghadapi hal buruk, Nio dan Maslac sama-sama pernah berada di bawan tekanan perang.


Dengan cepat Nio melakukan tendangan menyamping, yang mengarah pada pinggul Maslac. Meski sedikit merasa sakit ketika kaki kanannya menghantam pinggul Maslac yang dilindungi zirah rantai, Nio berhasil membuat Maslac tersungkur.


Maslac yang tergeletak setelah serangan tersebut mencoba bangkit sambil memegangi pinggulnya, dia berdiri dengan bantuan pedangnya. Tapi dia melihat Nio berlari cepat ke arahnya dengan tatapan membunuh. Setengah kekuatannya telah turun selama peperangan besar ini, dan sedikit kesulitan ketika bangkit untuk kembali melawan Nio.


Nio semakin dekat dengan Maslac, dan pemuda tersebut mengayunkan pedangnya ke arah leher Maslac yang berdiri dengan bantuan pedangnya. Suara dentingan logam kembali terdengar ketika kedua prajurit tersebut saling beradu pedang, dengan ilmu pedang masing-masing keduanya saling bertarung. Hanya saja, Nio bertarung dengan menggunakan seluruh sisa tenaganya, sedangkan energi Maslac hanya digunakan untuk melawan Nio.


Beberapa prajurit Maslac mencoba menyerang Nio, dengan tujuan membantu komandan mereka. Tapi, petarung jarak dekat dan para penembak tidak membiarkan mereka mendekati Nio, dan bertarung dengan berani melawan prajurit Maslac. Sisa-sisa prajurit sukarela terus bertarung bersama sisa Pasukan Ekspedisi dan bantuan. Mereka mungkin hanya sekumpulan tentara bayaran dan pria tanpa pengalaman tempur, tetapi kemampuan mereka bisa diadu dengan prajurit Aliansi.


Percikan api tercipta ketika tangan logam Nio beradu dengan pedang baja Maslac. Tetapi material yang digunakan untuk menciptakan tangan bionik milik Nio sangat kuat, dan mampu dijadikan tameng dadakan untuk melindungi dirinya dari serangan Maslac. Hal itu tentu saja mengejutkan Maslac, dan tak menyangka jika Nio menahan serangannya hanya dengan tangan logam. Selama peperangannya, Maslac bisa dengan mudah membelah perisai musuh dengan pedangnya, tapi kini serangannya tak berguna bila dihadapkan dengan tangan bionik milik Nio.


Kemampuan bertarung Maslac bisa diimbangi dengan mudah oleh Nio, dan mereka berdua bertarung hampir sama kuatnya. Sebelumnya, tidak ada prajurit yang mampu menandingi Maslac, kecuali mantan panglima Kekaisaran Luan yang kini memihak militer Yekirnovo, Ragh.


Maslac memang mengenakan zirah logam yang kuat dan kokoh. Tapi tendangan dan pukulan Nio mampu membuat Maslac kewalahan, dan hanya mampu bertahan sambil berharap jika lawannya kelelahan. Tapi, Nio sama sekali nampak tidak kelelahan, dan terus menghujani Maslac dengan tendangan dan tebasan pedang. Dengan putus asa, Maslac bertahan dalam pertarungan dengan Nio, dan menatap wajah pemuda tersebut yang menunjukkan ekspresi dingin yang menusuk.

__ADS_1


“Kembalikan mata kanan ku, bajingan!”


Mata dibayar dengan mata, itulah ungkapan yang pantas bagi tujuan Nio di pertarungannya melawan Maslac. Dia ingin mengambil kembali miliknya yang berharga dari Maslac, meski dia harus bertarung mati-matian.


Jujur saja, Maslac merasa jika pertarungannya melawan Nio adalah yang tersulit dalam perjalannya menjadi prajurit. Sementara itu, Nio merasa jika Maslac adalah musuh yang merepotkan juga, tapi tak lebih merepotkan dari Herlina. Dimana Nio sering kalah dengan Herlina ketika latih tanding dalam pertarungan pedang. Meski begitu, Nio menang dalam beberapa hal dari Herlina. Lalu, pertahanan Maslac memang kokoh, tetapi gerakan pria tersebut menurut Nio tidak selincah Lux saat bertarung dengannya beberapa waktu lalu.


“Mata kananmu ya… sepertinya sudah kuberikan pada babi…”


Maslac berharap jika semangat juang Nio turun ketika dia mengatakan hal itu… semoga saja.


Tapi, yang terjadi pada Nio justru sebaliknya, dan sama sekali tidak diharapkan oleh Maslac.


Maslac merasa montser di depannya, alias Nio, mengeluarkan aura yang sangat dingin. Ini adalah aura terdingin yang bisa dirasakan penyihir, bahkan penyihir lemah seperti Maslac gemetar ketika merasakan aura yang dikeluarkan Nio.


Keringat dingin membasahi punggung dan dahi Maslac ketika Nio hanya diam beridiri di tengah pertempuran.


Lalu, dalam hitungan detik Nio telah berada di depan Maslac dan mengayunakan pedangnya dengan kuat ke arah leher Maslac. Maslac berhasil menangkis serangan Nio dan mempertahankan kepalanya di tempatnya, tapi serangan mendadak tersebut membuat pegangan Maslac melemah dan pedangnya terpental akibat tebasan pedang Nio.


Nio memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan serangan terakhir untuk membalas perbuatan Maslac terhadapnya. Sementara itu, prajurit-prajurit Maslac sudah tinggal sedikit hanya untuk sekedar melindunginya, mereka juga dalam kondisi yang sama dengan Maslac, yakni kelelahan dan pasrah.


Nio berdiri di depan Maslac yang kelelahan dengan tatapan membunuh yang kuat. Tatapan Nio membuat Maslac lemas, tapi niat untuk menyerah sama sekali tidak ada di perasaan Maslac.


Kemudian Nio mengarahkan ujung pedang ke bagian depan leher Maslac, dan memberikan pria itu pertanyaan untuk mengakhiri pertarungan mereka berdua.


“Sebagai formalitas antar prajurit, aku menawarkan dua hal padamu. Menyerah, atau kau lebih memilih kucabut nyawamu?”


Tapi, mulut Maslac menyeringai saat mendengar pertanyaan Nio.


“Aku tidak akan menyerah dengan orang seperti mu. Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa di perang ini, kecuali pembalasan kami di masa depan…”


“Kalau begitu…”


Nio menempelkan ujung pedangnya ke leher Maslac, lalu menekannya dengan kuat hingga menembus lehernya. Darah mengalir deras ketika Nio menusuk leher Maslac, dan membuat prajurit pria itu kehilangan semangat. Untuk sesaat Maslac mencoba bangkit, dan berdiri sambil memegangi pedang Nio. Tapi dia sudah kehilangan cukup banyak darah, dan Nio menusukkan pedangnya di area vital.


Saat Nio mencabut lagi pedangnya dari leher Maslac, cipratan darah mengenai wajah dan seragam lapangan Nio. Maslac kemudian terbaring di tanah, dengan darah keluar dari lehernya seperti air mancur.


Suara sorakan dari seluruh prajurit terdengar sangat keras setelah Nio mengalahkan komandan musuh.


**


Suara mendesis dari beberapa benda yang terbang di udara terdengar di medan perang, dan beberapa detik kemudian puluhan tubuh prajurit Aliansi melayang setelah terkena dampak ledakan mortir. Gelombang kejut yang dihasilkan hanya menghamburkan prajurit Aliansi ke belakang. Itu adalah pemboman yang kuat, dan menjadi celah bagi infanteri pasukan bantuan untuk memasuki area dalam benteng.


Langit sore yang cerah, kemudian berubah menjadi gelap ketika segerombolan kendaraan lapis baja turun ke medan perang. Seluruh pengemudi kendaraan mengejar Pasukan Aliansi, dan para penembak menembaki mereka dengan akurat sesuai target yang telah ditentukan. Setiap peluru tank dan peluru meriam otomatis yang ditembakkan melaju dengan kecepatan hingga 3.000 meter per detik, dan menghujani tubuh musuh dengan pecahan peluru tanpa ampun.


Hujan peluru mengenai barisan prajurit manusia dan monster Aliansi yang mengenakan zirah logam yang kokoh, dan telah menghancurkan setengah dari kekuatan Aliansi semenjak kedatangan pasukan bantuan.


Nio terdiam untuk beberapa waktu ketika melihat ledakan besar yang disebabkan serangan korps lapis baja. Dia belum pernah melihat serangan sebesar itu dalam operasi, tetapi dia tahu jika itu adalah serangan pembersihan. Saat dia bertarung di antara garis hidup dan mati, Nio hanya terfokus pada lawan di depannya. Dia tidak bisa mendengar apapun kecuali suaranya, dan dia tidak bisa melihat apapun kecuali musuhnya.


Wajah Nio dipenuhi oleh rasa lelah dan sakit, tetapi dia tidak memiliki waktu untuk memperbaiki penampilannya sekarang. Dia menyerahkan tugas pembersihan kepada pasukan bantuan, dan berdiri dengan tangan kanan masih memegang pedang, rambut yang acak-acakan dan kusut, dan seragam lapangannya yang robek di banyak tempat dan nampak usang. Wajahnya ditutupi debu hitam dan daerah sekitar mata yang menghitam, membuat Nio tampak lebih mirip mayat. Hanya mata hitamnya yang masih bersinar dengan cahaya langit sore.


Nio kemudian tersenyum, setelah memastikan kemenangan atas musuh telah didapatkan. Tapi senyuman yang Nio tunjukkan dalam kondisinya yang sekarang hanya membuat dia terlihat menakutkan dan kejam.


“Teman, ini kemenangan untuk kalian,” Nio mengatakan itu untuk seluruh rekan-rekan Pasukan Ekspedisi yang gugur mendahulinya.


Dia tersenyum seperti setan… hampir sama seperti malaikat maut. Dia juga berpikir mengapa suara ayahnya yang telah meninggal terlintas di pikirannya, dan terasa seakan-akan ayahnya mengawasinya. Tetapi saat dia memikirkan hal itu, Nio yakin jika ayahnya memang mengawasinya dari tempat yang indah di akhirat.


Musuh yang telah menyerah dilucuti perlengkapannya, termasuk zirah logam mereka, tapi tidak membiarkan mereka benar-benar telanjang. Sebagian prajurit Aliansi yang ditawan mengenakan pakaian dalam, bahkan beberapa hanya mengenakan ****** *****.


Nio menyatakan jika pertempuran ini telah selesai, tapi pertempuran belum benar-benar usai. Pasukan bantuan di luar benteng masih melakukan serangan pembersihan, dan infanteri mengumpulkan prajurit Aliansi yang menyerah. Jika ada hal yang akan Nio lakukan, dia akan terlebih dahulu membanggakan diri di depan satu-satunya Sang Merah Putih karena berjuang mati-matian untuk mempertahankannya, lalu bergabung dengan prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela yang telah bernapas lega.


Kemenangan pada perang ini adalah penghargaan yang mereka dapatkan, tapi perjuangan mereka bisa dipastikan tidak berhenti sampai sini saja.


Kemenangan yang pada akhirnya mereka dapatkan, setelah sekian waktu hati mereka dicemari dengan rasa ragu jika ada bantuan bagi mereka. Perjuangan tidak bisa membiarkan mereka berakhir di tempat ini.


“Persetan dengan mereka (Pasukan Aliansi). Kemenangan sudah kami raih, dan itu tidak bisa diganggu gugat.”


Suara Herlina dipenuhi dengan kekesalan, dan mengakhiri omelannya terhadap musuh yang sudah menyerang dengan dengusan angkuh. Mengesampingkan sikap sombong yang diperlihatkan Herlina, Nio tersenyum miring melihat perilaku gadis 27 tahun tersebut.


“Kau benar-benar sombong, Herlina.”


“Aku melakukan ini karena kita sudah berjuang sangat keras, dan akhirnya bisa melihat musuh menyerah setelah tidak mampu membuat kita menyerah.”


Herlina menyampaikan kalimat itu dengan suara yang keras, dan membuat Nio akhirnya tersenyum. Menurut Herlina, dia merasa ini adalah pertama kalinya Nio tersenyum dengan jelas, setelah sebelumnya cukup jarang tersenyum.


Lalu, tiga gadis dunia lain, yakni Edera, Lux, dan Zariv berjalan perlahan ke arah Nio yang berbaring di bawah tiang bendera bersama prajurit lainnya. Mereka bertiga telah selesai melakukan tugas mengumpulkan prajurit musuh yang telah menyerah, dan memberi tahu jika Arevelk dan Yekirnovo ikut membantu.


Melihat ketiga gadis dunia lain yang mendekati Nio, Herlina segera bertindak cepat untuk mengamankan posisinya. Dia bergerak tanpa mempedulikan rasa lelah pada tubuhnya, dan ikut berbaring di sebelah Nio. Hal itu tentu mengejutkan pemuda tersebut, dan Nio sedikit menggeser tubuhnya agar tidak terlalu bersentuhan dengan Herlina.


Tingkah Herlina ternyata mampu membuat Lux dan Zariv kesal, tapi hanya mampu memendam perasaan itu di dalam hati dan duduk di sebelah Nio. Sementara itu, Edera hanya sedikit pasrah ketika melihat Herlina ikut berbaring di sebelah Nio. Dia kemudian bergabung bersama Lux dan Zariv duduk di dekat Nio sambil menunggu pasukan yang akan mengevakuasi mereka.


**


Pertempuran selesai sebelum pukul 21.00, dan pasukan bisa melihat langit malam yang dipenuhi dengan bintang. Seluruh kendaraan tempur telah diistirahatkan, dan beberapa prajurit bersandar di tubuh kendaraan.


Beberapa kendaraan lapis baja memang hanya mengalami kerusakan kecil, dan karusakan itu hanya berupa body yang lecet akibat musuh yang berusaha menghancurkan lapisan baja tebal kendaraan lapis baja menggunakan pedang dan pentungan. Mengingat hal itu, para prajurit hanya bisa tertawa di dalam hati.


"Apa kau lihat tadi? Mereka mencoba melawan tank dengan pedang dan tombak..."


Dalam pertempuran, contohnya seperti sekarang, pasukan bantuan yang datang mungkin terlihat seperti cahaya korek di tengah kegelapan. Tapi Nio sudah terlalu paham, baik dari pengalaman pribadi maupun sejarah bahwa bantuan lebih sering datang terlambat.


Lalu, terlihat beberapa regu menggiring prajurit Aliansi yang telah menyerah ke tempat para tawanan diamankan. Sementara tawanan yang berupa sekawanan monster dikumpulkan di tempat yang terpisah, karena belum tahu harus diapakan mereka. Para monster memang memiliki wujud seperti hewan buas, tetapi mereka memiliki akal pikiran setara dengan anak usia 5 tahun.


Lalu, ada ungkapan yang berbunyi “Kemenangan itu seperti narkoba”, entah dari siapa dan era kapan ungkapan itu tercipta.


Kemengangan terhadap suatu pertempuran membawa pemenang kecanduan terhadap kemenangan, karena itu adalah suatu hal yang indah bagi negeri asal pemenang. Karena itu, ketika orang mabuk kemenangan, mereka hanya berpikir untuk mendapatkan lagi kemenangan yang lain.


Tapi, kekalahan yang Aliansi dapatkan harus dibayar dengan kematian yang tak terhitung dari prajurtinya, dan mereka hanya mendapatkan hasil ‘hampir menang’. Setidaknya mereka tidak disebut dengan prajurit pengecut, dan prajurit pasukan bantuan memuji perjuangan mereka.


Beberapa saat setelah pertempuran, akhirnya Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela dievakuasi. Lalu, malam ini ternyata ada hujan meteor, dan membuat prajurit bantuan merasa takjub dengan pemandangan ini. Memang, pemandangan langit tanpa polusi cahaya adalah yang terbaik, dan pemandangan tersebut cukup sulit ditemukan di Indonesia, mengingat banyaknya penduduk di negeri tersebut yang menyebabkan polusi cahaya.


Beberapa prajurit TNI, Rusia, dan Korea Utara menyusuri area benteng yang hampir rata dengan tanah. Helikopter serang membantu pekerjaan mereka, dan menerangi area dengan lampu besar yang terpasang. Mereka sangat prihatin dengan keadaan benteng yang hancur, dan takut jika mereka yang menjalani pertempuran tersebut.


Pasukan bantuan tidak bisa membayangkan keras dan mematikannya pertempuran yang dijalani Pasukan Ekspedisi dan sukarela, disaat pasokan amunisi dan perbekalan sangat terbatas. Pasukan bantuan hanya bisa bangga dengan prajurit-prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela yang berkorban mempertahankan sebuah bendera yang berkibar di tiangnya, di saat bendera-bendera yang lain telah digantikan dengan bendera musuh.


Tapi, perjuangan Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela harus dibayar dengan sangat mahal, selain hancurnya benteng dan persenjataan. Terdapat ribuan kantong jenazah berwarna hitam yang diletakkan di tanah. Kantong-kantong jenazah berisi jasad prajurit Pasukan Ekspedisi yang berhasil ditemukan gugur dengan berbagai keadaan. Sebagian lagi adalah jasad prajurit pasukan sukarela, dan jasad mereka akan dikuburkan di Tanah Suci. Kebanyakan dari prajurit sukarela adalah mantan budak yang dipekerjakan Pasukan Ekspedisi, jadi mereka tidak memiliki kampung halaman.


Alasan ribuan prajurit gugur di perang ini sudah bisa ditebak, mereka terus bertarung dengan berani di saat musuh melakukan serangan besar-besaran. Jumlah yang tak seimbang, banyaknya persenjataan yang rusak, dan kondisi prajurit yang kelelahan membuat korban di pihak Pasukan Ekspedisi dan sukarela cukup banyak.


Belum ada jumlah pasti dari seluruh prajurit yang gugur, tapi bisa dipastikan jika jumlah prajurit yang gugur lebih dari 2.500 prajurit, jumlah tersebut termasuk prajurit sukarela yang bertarung bersama prajurit Pasukan Ekspedisi.

__ADS_1


Secepatnya, jasad-jasad prajurit Pasukan Ekspedisi akan dipulangkan setelah masalah di sini selesai. Pemandangan ribuan kantong jenazah, membuat kemenangan ini tidak seperti meraih surga.


Di tempat yang terpisah, ada 20 tenda darurat berukuran 20x30 meter yang didirikan sebagai tempat perawatan darurat bagi prajurit Pasukan Ekspedisi dan sukarela, serta pasukan bantuan dari Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo. Ada sangat banyak prajurit yang menderita berbagai jenis luka, mulai luka ringan hingga sedang, untungnya tidak ada prajurit yang menderita luka berat. Lalu, tempat tidur di tempat ini bukanlah ranjang yang biasa dijumpai di rumah sakit, tetapi tempat tidur berupa matras lapangan. Setidaknya itu bisa melindung tubuh dari kerasnya tanah.


Di antara salah satu prajurit yang tengah melakukan perawatan pada lukanya, Nio mendapatkan perawatan ‘khusus’ dari Dina.


Sebelumnya, Nio terkejut dengan keberadaan Dina di pasukan bantuan. Pemuda tersebut hanya khawatir terhadap Dina jika gadis yang lebih tua dari kakaknya tersebut terlibat dalam pertarungan, meski kekhawatiran Nio terhadap Dina justru mampu membuat gadis tersebut senang.


Nio sebelumnya sudah memakan obat yang berfungsi sebagai obat anastesi, alias obat penghilang rasa sakit ketika akan melakukan operasi. Itu sebabnya Dina bisa dengan tenang menjahit luka yang ada di tubuh Nio, disertai dengan beberapa percakapan.


Melihat tubuh Nio yang terdapat cukup banyak luka yang didominasi luka sayatan benda tajam, membuat Dina berpikir jika pemuda ini sudah melalui pertarungan yang mengerikan. Hal itu membuat Dina ingin terus bersama Nio, dan merawat luka pemuda yang dia obati.


Sementara itu, Nio memperhatikan Dina menjahit lukanya dengan tenang, dan melihat gadis itu sesekali mencuri pandangan padanya. Setelah menelan obat penghilang rasa sakit, Nio hanya merasa geli ketika jarum menembus kulinya dan menutup lukanya dengan benang khusus.


“Terimaksih, Dokter Dina…”


“Seharusnya aku yang bilang seperti itu. Dan siapa yang menyuruhmu memanggilku dengan sebutan seperti itu? Kamu bisa memanggilku Dina saja.”


Nio tersenyum kecut sebagai tanggapan atas jawaban Dina dari ungkapan terimakasihnya.


Sebagian besar prajurit laki-laki yang dirawat di tenda ini hanya bisa menahan rasa iri mereka terhadap Nio. Mereka berpikir “mengapa hanya Nio yang mendapatkan perawatan khusus?”, sementara mereka mendapatkan perawatan biasa. Yah, itu karena mereka hanya menderita sedikit luka, dan luka mereka bisa sembuh hanya dengan alkohol dan obat merah.


Liben hanya menerima ‘perawatan khusus’ dari kekasihnya, Ivy, dengan senang, dan mengabaikan sebagian prajurit lainnya yang iri dengan komandannya. Sementara itu, Sidik dan Fariz saling mengobati luka satu sama lain dengan obat yang disediakan, dan melakukan hal layaknya sepasang kekasih prajurit setelah melakukan pertempuran.


(olog note: yang dilakukan Sidik dan Fariz bukan mantap-mantap ya…)


Sesaat setelah Dina selesai menutup semua luka Nio dengan total lebih dari 100 jahitan, gadis tersebut membereskan semua peralatannya, dan segera menuju ke tempat Nio lagi. Tapi, Dina melihat jika Herlina sudah mendahuluinya, dan melihat gadis itu bersikap ‘romantis’ dengan Nio.


Dina dengan senyap berdiri di belakang Herlina yang menyuapi Nio dengan nasi opor dari paket ransum. Nio yang lemah belum mampu memakan biskuit ‘anti lapar’ yang cukup keras. Nio yang menyadari hal mengerikan muncul dari belakang Herlina ketika dia menikmati suapan nasi dari gadis itu, merinding dan menatap Dina dengan senyum kecut.


Di luar tenda, Sigiz dan Sheyn berpapasan ketika mereka berdua akan mengunjungi Nio yang dirawat di tenda ini. Mereka berdua sama-sama menunjukkan ekspresi sinis, dan saling mendahului untuk masuk ke dalam tenda dan bertemu Nio.


Sementara itu, Lux, Zariv, dan Ilhiya hanya geleng-geleng dengan perilaku ratu mereka. Sementara itu, Kambana tidak tahu harus merespon dengan hal apa atas perilaku kakaknya. Sementara Edera, dia hanya sedih jika ‘kalah’ dengan gadis-gadis yang mengincar Nio.


Di dalam tenda, hampir seluruh pandangan mengarah pada gadis-gadis dunia lain yang berebut ingin menemui Nio. Ilhiya dan Kambana yang berjalan di belakang mereka hanya bisa memintakan maaf atas keributan yang diciptakan mereka. Sementara Edera hanya berharap jika Nio tidak melupakan dirinya, dan tetap menyadari keberadaanya saat adanya gadis-gadis cantik di dekatnya.


Sheyn dan Sigiz berhenti ketika Nio terlihat akrab dengan seseorang, jauh lebih akrab dibandingkan dengan mereka. Untungnya, Nio hanya terlihat akrab dengan seorang prajurit laki-laki, dan bukannya dengan perempuan. Meski begitu, ada dua gadis lainnya di dekat Nio.


Herlina dan Dina hanya bisa menggumamkan sesuatu ketika Nio akhirnya bertemu dengan Jonathan. Pertemuan kedua sahabat tersebut terlihat seperti reuni setelah sekian lama terpisah. Meski begitu, Nio tidak benar-benar mengabaikan Dina dan Herlina, dan tetap menyadari jika ada gadis-gadis dunia lain di tenda ini.


Dina dan Herlina kembali memunculkan tatapan tajam ke gadis-gadis dunia lain, tapi mereka tidak bisa mengalangi mereka untuk bertemu Nio, mengingat stastus diantara mereka. Sigiz dan Sheyn adalah pemimpin suatu negara, Lux merupakan salah jendral pasukan Kerajaan Arevelk, Zariv adalah pengawal pribadi Sigiz, dan Edera menganggap dirinya sebagai ‘pelayan pribadi Nio’. Sementara itu, Herlina dan Dina merasa jika Kambana dan Ilhiya tidak memiliki perasaan yang sama seperti gadis-gadis dunia lain yang lainnya.


Jonathan mengalihkan pandangannya ke arah gadis-gadis dunia lain, dan menganggap mereka semua pacar Nio. Tentu saja Nio menyangkal hal itu, tapi tetap saja membuat Jonathan iri dengan sahabatnya yang dikelilingi banyak perempuan.


“Se-senang melihatmu tetap dalam keadaan hidup, Tuan Nio…”


Jonathan tidak terlalu mempelajari bahasa dunia ini, jadi dia tidak tahu apa yang diucapkan Sigiz kepada Nio. Tapi, sebagian prajurit yang sedikit mempelajari bahasa dunia ini sangat heran dengan Sigiz yang menyebut Nio dengan ‘tuan’.


Nio hanya tersenyum kecut saat hampir seluruh penghuni tenda membicarakan dirinya dan gadis-gadis dunia lain.


“Saya akan sangat senang jika kamu baik-baik saja, Nio…”


“Terimakasih Yang Mulia Sheyn dan Sigiz. Dan terimakasih atas semua bantuan anda terhadap kami.”


Sigiz dan Sheyn telah mendapatkan ucapan terimakasih dari panglima TNI secara langsung atas seluruh bantuan mereka di perang ini. Jadi, ucapan terimakasih yang diberikan Nio hanya membuat mereka berdua bangga dan tersipu.


“Aku juga berterimakasih kepada Edera, Lux, dan Zariv yang sudah membantu Pasukan Ekpedisi dan sukarela dalam perang ini.”


Ucapan Nio membuat jantung Edera berdegup kencang, dan dirinya merasa senang karena Nio tidak mengabaikan keberadaannya dari gadis-gadis yang lain. Sementara Lux dan Zariv, mereka hanya tersenyum kecil dengan wajah merona.


Tiba-tiba, senyuman Lux luntur saat melihat Dina dan Herlina di dekat tempat Nio. Perubahan kepribadian Lux yang tiba-tiba membuat Nio merasa hawa di tempat ini mencekam.


Meski dia tidak ingin ditemui siapapun, ada beberapa pihak yang sangat ingin melihat sosok Nio, tapi mereka didahului oleh gadis-gadis dunia lain ini.


“Nio, apa semua gadis-gadis ini milikmu?”


“Hah!? Tentu saja tidak-“


Ucapan Nio diputus oleh Sigiz yang mengatakan, “Tentu saja kami belum menjadi milik Tuan Nio…”


“Belum? Itu berarti mereka akan menjadi milikmu?” Jonathan terlihat sangat putus asa ketika mendengar ucapan Sigiz. Tapi Nio hanya bisa menunjukkan wajah pucat, dan tidak bisa mengatakan apapun mengenai hal itu. Lalu, Herlina dan Dina ingin penjelasan lebih lanjut mengenai masalah ini ketika Nio benar-benar pulih.


Sheyn yang melihat Jonathan ‘patah hati’, menarik lengan Kambana dan mempelihatkan wujud adiknya ke hadapan Jo.


(olog note: Nio lebih suka memanggil Jonathan dengan sebutan Jo)


“Kakak, apa yang kau lakukan!?” Kambana terlihat tidak nyaman dengan Sheyn yang tiba-tiba menarik tangannya.


“Tuan temannya Nio…”


“Ah… orang ini namanya Jonathan, panggil saja dia Jo.”


“Baiklah, Tuan Jo, maukah kamu menerima adikku?”


Nio tersenyum miring setelah mendengar fakta jika Sheyn ingin ‘memberikan’ Kambana kepada Jo. Dia harus menerjemahkan kalimat Sheyn untuk Jo agar sahabatnya tahu apa yang dikatakannya. Setelah Nio selesai menerjemahkan, wajah Jo sedikit memerah dan membuat Nio menahan tawa.


Prajurit di tempat ini yang tidak tahu arti ucapan Sheyn hanya diam saja, dan kemudian bersorak ketika seseorang menerjemahkan kata-kata Sheyn. Suara sorakan yang keras memenuhi tenda ini, dan membuat orang-orang diluar terkejut.


Sementara itu, Shyen tahu jika Kambana terus memperhatikan Jo sejak mereka memasuki tenda ini. Itu cukup untuk membukitkan jika Kambana tertarik dengan Jo.


Ketika kakaknya mengatakan hal tersebut dengan tiba-tiba, Kambana merasakan wajahnya memanas dan jantungnya terpacu dengan cepat. Dia sudah memperisiapkan diri untuk menerima jawaban dari pemuda yang membuatnya tertarik tersebut.


Baik Nio, Herlina, Dina, gadis-gadis dunia lain, dan penghuni tenda menunggu jawaban yang akan diberikan Jo.


“Yah… mungkin saja kita tidak akan sering bertemu…”


“Aku tahu… masa tugas prajurit pasti cukup lama…”


Tanpa diduga, ternyata Kambana menguasai bahasa Indonesia meski belum terlalu fasih. Kemudian, keduanya kembali terdiam dan membuat orang-orang penasaran dengan kelanjutannya.


Tekanan orang-orang yang terus memperhatikannya membuat Jo menjawab dengan tiba-tiba, “Ya, a-aku akan menerima gadis ini…”


**


funfact#11: chapter ini berjumlah 5325 kata, termasuk kata-kata dalam funfact ini. Sebenarnya chapter ini gabungan dari dua chapter, tapi saya jadikan satu karena kesalahan kecil...



(ilustrasi Sheyn, tapi di cerita rambutnya berwarna hitam. Sumber gambar pinterest)

__ADS_1


__ADS_2