
Hari pertama liburan yang damai, katanya.
**
Prajurit berdoa di atas segalanya untuk perdamaian, karena prajuritlah yang harus menderita dan menanggung luka dan bekas luka yang paling dalam.
Nio tiba-tiba akrab dengan kehidupan di medan perang yang telah ia lalui selama hampir 6 tahun ini.
Dia mungkin memilik mimpi yang sama dengan para prajurit lain. Sebagai salah satu prajurit yang bertugas dalam perang besar, kehidupan damai seakan-akan ada di dalam mimpi saja. Tetapi, di medan perang-lah Nio ditempa, hingga tidak lagi menjadi remaja dengan masa depan suram.
Walau dia dan Tim Ke-12 – dengan tambahan beberapa gadis dari dunia lain – telah menginjakkan kaki di Indonesia, pikiran Nio kembali ke medan perang yang penuh kenangan. Bahkan setelah dia mendapatkan kesempatan tidak berada dalam pertempuran selama satu bulan, pikirannya pada perang belum menghilang. Dia akan mendapatkan masa bebas selama satu bulan, tetapi dunia perang sangat jelas di ingatannya. Medan perang itu adalah hal paling mengerikan yang diciptakan manusia, tempat di mana darah dan mayat berkuasa.
Nio dan rekan-rekannya telah melewati Gerbang tak sempurna, kembali dari tugas yang mendekati simulasi kehidupan di neraka.
Dengan kata lain, Tim Ke-12 hanya sementara kembali ke kehidupan normal sebelum kembali ke ‘kehidupan prajurit yang sesungguhnya’. Dengan kata lain, mereka mendapatkan waktu istirahat singat sebelum kembali ke medan perang yang kacau dan berdarah.
Suara tembakan dan teriakkan tentara musuh yang terbunuh tidak ada lagi, sebagai gantinya mereka mendengar suara sejumlah anggota TNI dan Polri yang saling berbincang santai di fasilitas dalam Area Terlarang. Tidak ada lagi musuh yang menembaki, monster yang menyerang tiba-tiba, dan asap pertempuran. Di kehidupan damai ini, mereka melihat orang-orang yang menikmatinya dengan wajah tenang.
Tim Ke-12 ingat betapa kerasnya mereka berjuang dengan senapan dan granat, tanpa bantuan senjata berat. Mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk menikmati hari-hari damai, kecuali hari setelah musuh melancarkan serangan sia-sia. Bahkan tentara yang menikmati hari-hari damai mungkin tidak akan bertahan selama satu bulan jika harus hidup bersama Tim Ke-12 di dalam benteng atau parit.
Tim Ke-12 ingat bahwa sepanjang mata memandang, hanya ada pasukan musuh yang melancarkan serangan agresif. Mereka malakukan segala upaya agar hari-hari yang damai ini dapat bertahan selama mungkin.
Dunia lain adalah gambaran dari dunia yang tidak bisa dipahami kecuali seseorang pernah berjuang di sana. Intinya, kamu hanya bisa mengerti dengan berjuang di sana.
“Mereka sedang menikmati hari-hari damai dengan biasa, aku sangat iri.”
“Mereka sepertinya jarang bertempur pada perang sebelumnya.”
“Tapi, bukankah mereka adalah bagian pasukan tambahan yang akan berangkat satu bulan lagi?”
Hassan, Yogi, dan Agus saling berbincang seperti di atas. Mereka iri dengan anggota TNI dan TRIP, serta Polri yang dapat berbicara satu sama lain tanpa rasa gelisah. Tetapi, obrolan mereka mengingatkan Tim Ke-12 bahwa itulah kehidupan setelah perang yang diimpikan. Yang membuat Tim Ke-12 tidak menyukai obrolan calon pasukan tambahan adalah mereka terlalu meremehkan musuh. Para petinggi militer Indonesia tampaknya yakin kontingen TNI di dunia lain dapat mengalahkan musuh hanya dengan senapan serbu dan pistol, dengan memanfaatkan para prajurit yang katanya ‘rela berkorban’.
Menurut orang-orang yang sedang menikmati hari-hari damai ini, berapa banyak nyawa yang melayang di medan perang berlumpur dunia lain?
Berkat orang-orang yang menginginkan perdamaian, Nio dan kawan-kawan dihujani tembakan dan sihir pertempuran dari pasukan musuh. Namun, ada beberapa kelompok yang mengatakan kontingen TNI di dunia lain tidak cukup berjuang dengan bukti perang yang belum juga usai setelah berlangsung bertahun-tahun. Nio dan kawan-kawan hanya bisa tersenyum ramah ketika memikirkan kelompok yang mengatakan hal tersebut tanpa rasa terimakasih, terus memperlakukan para pejuang remaja seperti peluru hidup dengan stok tak terbatas.
Agenda selanjutnya setelah hasil pemeriksaan Tim Ke-12 dan para gadis dari dunia lain keluar adalah membiarkan mereka untuk berkeliling kota. Selain Tim Ke-12, Hevaz, Edera, Huvu, Zariv, Lux, dan Ebal yang kembali dari dunia lain, ada beberapa orang lagi yang berkunjung ke Indonesia atas ijin kontingen TNI. Mereka menyatakan diri berasal dari Kerajaan Yekirnovo, dan berkunjung sebagai penyihir cadangan bagi penyihir yang bertugas di Garnisun Karanganyar sebagai Penghubung dan pembuka Gerbang dari dunia ini ke dunia lain. Jubah yang memiliki tudung menutupi wajah membuat Nio agak curiga terhadap penyihir baru tersebut, dan mereka membawa kotak cukup besar yang isinya tidak ia ketahui.
Area Terlarang tetap di bawah yuridiksi TNI dan Kementerian Pertahanan, sehingga hampir tidak ada kendaraan warga sipil yang melintasi seluruh jalan di area itu. Para gadis dari dunia lain mau tak mau harus tetap menatap kagum pada pemandangan baru yang jarang mereka lihat dengan kemungkinan dapat melihatnya lagi sekali seumur hidup. Namun bagi Hevaz dan Edera, ini adalah kali kedua mereka berada di dunia ini.
Ketika semua orang melewati Area Terlarang, pusat Kota Karanganyar tampak bersih dari ingatan perang walau beberapa poster berunsur propaganda tertempel di sisi dinding. Jalan-jalan tetap dipenuhi kendaraan, dan pejalan kaki serta pedagang kaki lima memadati trotoar.
“Sekarang, kalian mau langsung ke stasiun dan bandara atau berkeliling kota ini dulu?”
Pertanyaan itu datang dari Nio yang melihat para bawahannya tengah berusaha beradaptasi kembali dengan udara perkotaan yang tercemar.
“Untuk anggota yang tinggal di luar Pulau Jawa akan langsung ke bandara, dan langsung ke stasiun untuk anggota yang tinggal di Pulau Jawa,” jawab Hassan.
Tapi, salah satu anggota Tim ke-12 tampak tidak peduli dengan jadwal penerbangan atau keberangkatan kereta yang semakin dekat. Wajah Zefanya menunjukkan ekspresi tenang, dan tidak terburu-buru ketika anggota tim yang lain dengan cepat memasuki bus pengantar ke bandara dan stasiun.
Setelah berjanji akan bertemu di Area Terlarang satu hari sebelum kembali ke dunia lain, seluruh anggota Tim Ke-12 – kecuali Nio dan Zefanya – melambaikan tangan disertai ekspresi bahagia saat bus bergerak ke tujuan masing-masing penumpang.
Reaksi para bawahannya yang hendak kembali ke kampung halaman masing-masing sangat berlebihan dan menimbulkan masalah pribadi bagi Nio.
“Zefanya, apa kamu masih mau berkeliling kota ini? Kalau iya, aku akan menemanimu…”
“Tolong tahan!” Hevaz tiba-tiba menanggapi perkataan Nio untuk Zefanya seperti itu dengan nada tinggi. Tentu saja beberapa orang mengenali Nio dan beberapa gadis pada rombongan pria itu, tetapi mereka memilih melanjutkan langkah demi menghindari kesalahan kecil yang berpotensi menimbulkan konflik tidak diperlukan.
“Ada apa? Padahal Letnan Nio punya maksud baik untuk mengenalkan aku pada kampung halamannya. Kemudian, demi menghemat uang milikku, aku meminta ijin pada Letnan Nio untuk tinggal di rumahnya hingga liburan berakhir,” jawab Zefanya dengan nada menantang, menimbulkan percikan permusuhan kecil di antara kedua gadis tersebut.
“Tidak! Permintaanmu kutolak!” jawaban Nio bahkan tidak didengar oleh Zefanya yang masih berselisih dengan Hevaz.
Berkat pertikaian kecil itu, para gadis selain Zefanya dan Hevaz mengambil kesempatan ketika mereka berdua sedang berkonflik kecil. Pandangan pengendara dan para pedestrian (pejalan kaki) terhadap Nio yang dikelilingi banyak gadis seperti dipenuhi aura permusuhan untuk Nio.
Nio tidak memakai seragam lapangan yang jarang dicuci, sehingga Nio mirip dengan pria biasa bertubuh tinggi. Tapi, buff yang menutupi setengah wajah Nio membuat orang-orang berpikir, “Siapa orang ini?”. Hoodie abu-abu yang dia kenakan tidak menutupi tubuh atletisnya, dan buff yang menutupi wajahnya berarti menutupi identitas Nio, sehingga orang-orang menganggap Nio layaknya kriminal yang menculik banyak gadis untuk dipekerjakan di hiburan malam atau semacamnya. Itu adalah kesimpulan termudah yang banyak digunakan warga internet Indonesia, yang menyebabkan kabar burung sangat digemari.
Identitas yang sangat dirahasiakan menyulitkan Nio untuk mengatakan, “Para gadis ini adalah teman saya,” atau “Mereka adalah saudara saya” karena para gadis jelas-jelas tidak berasal dari Indonesia. Mungkin Nio bisa mengatakan, “Mereka semua pacarku, yang akan menghiburku sepanjang malam”, tapi Nio bukan orang yang akan dengan santai mengatakan jawaban seperti itu atau polisi dan organisasi pelindung perempuan akan menggerebek rumahnya beberapa jam setelah dia mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
Jika orang-orang menatap dirinya seperti pelaku penculikan, Nio bisa berpura-pura menjadi pemandu wisata bagi para gadis. Namun, sangat tidak mungkin ada wisatawan yang memeluk tangan dan menempelkan tubuh mereka pada pemandu wisata mereka. Tapi, dengan begitu setidaknya kecurigaan orang-orang terhadap Nio berkurang.
Ketika Nio memimpin jalan para gadis, para pejalan kaki menatapnya dengan tatapan ingin tahu.
Para pria ingin mengetahui cara Nio didekati banyak perempuan, sementara para perempuan ingin tahu rahasia kecantikan para gadis kecuali Zefanya. Tidak ada perempuan yang dengan percaya diri berkeliling kota dengan beberapa bagian tubuh dililit perban seperti Zefanya.
Nio memakai hoodie abu-abu, celana kargo, dan sepatu lapangan yang belum dicuci selama enam bulan, memakai masker buff berwarna hitam, dan dia berjalan dengan tubuh tegak sehingga memancarkan aura misterius apakah dia remaja biasa yang memakai masker untuk menghindari virus atau anggota organisasi rahasia yang menyamar. Pakaian yang dikenakan Zefanya tak jauh berbeda dengan Nio, namun dia mengenakan mantel yang seharusnya dipakai ketika musim dingin dan sepatu kets. Sebaliknya, para gadis dari dunia memakai pakaian sehari-hari yang cukup ‘aneh’ bagi orang yang pertama kali melihatnya.
“Seharusnya yang bersama Tuan Nio hanya aku, tapi kalian mengancam perwira Indonesia untuk ikut!”
“Hah? Kenapa kalian membuat masalah sampai sebegitunya?!”
Nio menatap Hevaz dengan wajah tercengang ketika gadis itu masih mendebatkan sesuatu dengan para gadis.
Hevaz kemudian mengatakan, “Yang pertama meminta ijin untuk ikut pulang bersama Anda adalah saya, tapi mereka mengikuti langkah saya dengan mengatakan kata-kata yang mengancam atasan Anda.”
“Tidak, aku tidak mengancam atasan Tuan Nio. Aku hanya berkata jika kami tidak diijinkan ikut bersama Tuan Nio, dia mungkin akan menghadapi kesulitan yang mengganggu liburannya,” yang menjawab adalah Zariv, dan para gadis dunia lain kecuali Hevaz menanggapinya dengan anggukan.
“Kukira kalian benar-benar mengancam para perwira,” Nio menanggapi dengan wajah tenang, walau dia membayangkan wajah para atasan dan tindakan mereka bagi Nio jika hal tersebut benar-benar terjadi.
Ketika dia melihat wajah gelisah Nio, Hevaz berpikir untuk menakutinya, tetapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya demi menghindari amarah semua orang.
Toko-toko di tepi trotoar yang dilalui Nio dan rombongan menjual berbagai barang elektronik, DVD, dan barang hiburan lainnya. Ketika perang, dulunya tempat ini ramai oleh pedagang kaki lima dan remaja-remaja yang bersenang-senang, tetapi sekarang keramaian itu tidak ada lagi sejak Area Terlarang didirikan. Jalan ke arah utara menuju Taman Pancasila seharusnya dipadati oleh toko-toko kelontong dan minimarket, dan orang akan dengan mudah menemukan segala macam kebutuhan di sana.
Beberapa orang mungkin akan mengatakan jika Area Terlarang seharusnya didirikan di kota yang lebih besar, dibanding Karanganyar yang ditetapkan sebagai kota kurang dari lima puluh tahun lalu. Jawabannya adalah “Tidak. Ini karena seseorang yang berpengaruh dalam hubungan Indonesia dengan bangsa dunia lain tinggal di Karanganyar. Lagipula, sulit bagi penyihir untuk membangun kembali Penghubung ke tempat lain, karena itu akan membutuhkan energi magis besar. Karanganyar relatif aman, walau sejak kedatangan kontingen dunia lain terjadi beberapa ancaman dari negara luar.”
Ancaman agen luar negeri jauh lebih merepotkan dari serbuan pasukan monster Aliansi, menurut Nio. Sehingga, ada anggapan bahwa zona perang jauh lebih aman dari dunia yang damai ini.
**
“Apa ada sesuatu yang menarik di sini?” tanya seorang pria yang membawa kamera besar di pundaknya.
“Sepertinya sulit menemukan hal bagus di kota kecil ini,” jawab seorang perempuan muda yang mengikuti jalan seorang pria dan perempuan di belakangnya.
Hari ini, salah satu tim pencari berita dari sebuah perusahaan TV swasta berkeliling di pusat Kota Karanganyar. Tiga orang yang terdiri dari juru kamera, asisten kameramen, dan wartawan perempuan. Mereka berkeliling meminta orang-orang yang ditemui untuk mengatakan tentang sejumlah ancaman kecil dari agen luar negeri, sehingga membuat kontingen dunia lain tidak nyaman. Namun, hampir semua tanggapan orang sama.
Sebagian besar orang yang diwawancarai oleh si wartawan akan menjawab, “Lebih baik serahkan masalah itu pada TNI”, tetapi berita membutuhkan jawaban lebih dari superioritas yang dimiliki organisasi militer tersebut. Materi yang disajikan harus meninggalkan kesan baik pada pemirsa, namun masyarakat mayoritas ingin mengetahui kegiatan TNI di dunia lain.
Walau banyak kasus yang bisa dijadikan berita hangat satu bulan berturut-turut, bahkan berpotensi menyebar hingga keluar negeri, sayangnya Sonia tidak memiliki ‘kekuatan’ dan ‘kekuasaan’ untuk membuat laporan tentang kasus besar dalam negeri.
Beberapa bulan sejak menghilangnya Indah, namun banyak informasi tentang keberadaan gadis itu yang tidak dapat Sonia gunakan. Dia kenal seseorang dari TRIP, sekaligus penyelamatnya ketika ditawan pasukan Kekaisaran Luan. Perwira remaja yang bernama Nio Candranala pernah mengatakan bahwa Indah baik-baik saja, yang membuat Sonia menganggap pria itu mengetahui keberadaan Indah.
Lagipula, wartawan bisa melakukan berbagai pekerjaan sekaligus selain mencari berita untuk ditayangkan. Sonia memutuskan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menghasilkan informasi terkini, sekaligus kabar tentang Indah. Dia mempertimbangkan jika suatu hari Nio kembali dari penugasannya di dunia lain, maka dia akan berusaha keras membuat Nio mengatakan semua tentang keberadaan Indah walau itu hal yang sulit.
Sonia dan kedua rekannya terus berjalan, mencari orang yang tampak peduli dengan ancaman agen luar negeri terhadap kontingen dunia lain.
“Lihat, kerumunan apa itu?” rekan perempuan Sonia menunjuk sekelompok remaja laki-laki yang berkerumun, dan menggumamkan sesuatu.
Remaja laki-laki yang berkumpul masih mengenakan seragam putih abu-abu mereka. Sejumlah pejalan kaki yang seharusnya berjalan santai juga tampak memperhatikan sesuatu dengan serius. Pedagang cilok berusaha keras membuat kerumunan membeli dagangannya, namun orang-orang lebih memperhatikan suatu hal yang tampak penting dibanding membeli makanan untuk mengisi perut dan melarisi cilok seorang pedagang.
“Apa ada agen yang tertangkap di Area Terlarang?” tanya si juru kamera.
“Kameramen, tolong terus rekam,” pinta Sonia.
Ketika Sonia dan kedua rekannya berjalan mendekati kerumunan, kumpulan orang-orang itu terbelah dan seorang pria dengan beberapa gadis berjalan di belakangnya terlihat.
Rencana awal Nio adalah membeli makanan kecil untuk mengurangi rasa laparnya, dan menutup mulut para gadis agar tidak membuat masalah nantinya. Jika bus datang sesuai jadwal, dia tidak perlu berakting sebagai pengawal para gadis itu, sehingga membuatnya memaksa kerumunan untuk menjauhi para gadis.
“Tolong berdiri di jarak 2 meter dari masing-masing gadis ya. Jangan berkerumun dan mendesak para gadis seperti penagih utang.”
Jika hanya Nio yang mengawal para gadis, tentu saja tidak ada yang mempedulikannya. Kompi 402-32 pasti sedang melaksanakan tugas, sehingga hampir tidak mungkin akan membantu Nio mengamankan para gadis dari kerumunan pria yang mungkin sebagian dari mereka adalah penjahat kelamin akut yang belum berhasil diringkus polisi.
Dulu dia pernah menerima misi untuk mengawal Ratu Sigiz dan rombongan dari dunia lain, sehingga ijin menembak orang yang mengancam keselamatan target diijinkan. Tentu saja Nio memilii senjata pribadi yang disembunyikan di tempat rahasia. Tentu saja dia tidak akan secara terbuka mengancam kerumunan menggunakan senjata miliknya. Sebagai gantinya, dia membuka sebagian masker buff yang menutupi sebagian wajahnya yang terluka parah, sehingga beberapa orang menjadi takut atau tidak nyaman dengan luka di wajahnya.
Nio bisa menggunakan luka parah di wajahnya dibanding pistol ‘asli’ miliknya untuk melawan kerumunan.
Setelah memastikan jika gadis-gadis dibelakang Nio berasal dari dunia lain, tim Sonia melakukan rekaman laporan mereka. Berita yang mereka dapatkan berpotensi ditayangkan pada segmen khusus selama satu jam, karena kedatangan kontingen dunia lain cukup langka.
__ADS_1
“Sejumlah perempuan dari dunia lain disambut hangat oleh orang-orang. Pria yang menyertai mereka merupakan salah satu perwira terkenal dari TRIP, Letnan Satu Nio. Entah apa yang dia lakukan saat ini bersama para perempuan dunia lain, tapi tampaknya dia memiliki tugas khusus.”
Sonia mengabaikan sekelompok siswa SMA yang ‘numpang narsis’ pada rekaman laporannya. Dia telah mencoba yang terbaik untuk mendapatkan informasi yang berguna, walau rekaman tentang Rapat Nasional beberapa tahun lalu sering disirakan ulang oleh sejumlah stasiun TV nasional dan swasta. Di belakang Sonia, tampak sejumlah orang melakukan beberapa pose yang mengganggu.
“Mbak Sonia…”
Tanpa sepengetahuan Sonia, seluruh orang yang berkerumun mulai menyebar dan melanjutkan kegiatan masing-masing. Namun, tetap ada pegawai toko yang mengambil foto tanpa ijin para gadis dan Nio.
“Mbak Sonia, apa kamu mendengarku?”
Sebenarnya, Nio berdiri di belakang Sonia. Tapi hawa kehadirannya yang tipis tidak disadari gadis itu, dan kode dari kedua rekannya dia anggap sebagai lelucon. Wujud Nio seakan-akan kalah oleh para gadis dari dunia lain yang menjadi bintang di laporan Sonia.
“Sonia!”
Nio menegur dengan nada keras sambil menepuk pundak kanan gadis itu. Setelah dia menyadari seseorang mengganggunya, Sonia buru-buru menoleh ke belakang.
Sonia mengeluarkan suara dengan senyum gelisah, “Oh, Letnan Nio…”
“Sedang apa Mbak Sonia di sini? Tapi maaf, aku tidak bisa mengijnkanmu merekam para gadis tanpa ijin mereka,” kata Nio.
“Ah, ya… kami tiba-tiba melihatmu dan para gadis dunia lain. Para gadis yang sedang membeli cilok bukannya bakal jadi berita populer, seperti salah satu selebriti yang tidak bisa mengupas kulit salak.”
Zariv melihat Nio sedang berbicara dengan seorang perempun, dan mereka berdua tampak saling mengenal. Begitu juga dengan para gadis, mereka melepaskan aura mengancam jika Nio tidak segera menjauhi perempuan itu.
“Kita sudah punya pesaing berat, kenapa harus ada tambahan orang?”
“Berapa banyak wanita yang harus menyukai Tuan Nio?”
“Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya Tuan Nio suka jika ada banyak perempuan di dekatnya.”
Nio sama sekali tidak mendengar percakapan antara Hevaz, Ebal, dan Edera. Meski begitu, dia tetap memperhatikan sekitar dengan kewaspadaan maksimal. Dia harus bekerja ekstra untuk mengawal para gadis dari dunia lain karena dia hanya sendirian, dan Zefanya mungkin tidak bisa membantu banyak tanpa senapan penembak jitunya.
“Tuan Nio… Tuan Nio…! Apa saya boleh memakan makanan kenyal pedas ini lagi?”
Tentu saja makanan kenyal yang Huvu katakan adalah cilok yang Nio belikan sebelumnya, sehingga membuat penjualnya menunjukkan senyum bahagia. Tentu saja, mendapatkan pembeli cantik dari dunia lain, dan langsung menyukai cilok buatannya dalam gigitan pertama adalah keberuntungan tingkat legendaris.
Karena Nio membawa uang cukup, dia membiarkan para gadis dunia lain dan Zefanya membeli jajanan hingga puas.
“Lihat, mereka langsung menyukai makanan lokal walau baru pertama kali mencobanya,” Sonia melihat para gadis dunia lain yang mengunjungi satu persatu pedagang jajanan kaki lima dengan senang, yang menandakan kemenangannya.
“Lalu, apa aku harus menuruti permintaanmu agar kamu bisa mewawancarai mereka semua?” tanya Nio.
Keinginan para gadis untuk merasakan makanan lokal pasti semacam perilaku wisatawan ‘norak’ setelah sekian lama tidak merasakan makanan unik.
“Tentu saja aku harus mengikuti setiap prosedur darimu agar bisa mewawancarai para gadis dari dunia lain itu.”
“Tuan Nio, berhenti bicara dengan perempuan itu, dan katakan makanan berwarna merah muda apa ini?!” Ebal menunjuk pedagang penjual permen kapas.
“Kamu pasti suka makanan ringan manis itu. Kalian semua boleh mengambilnya.”
Para gadis dunia lain bahagia dengan jawaban Sonia dan sifat mereka berubah ketika sebelumnya membenci Sonia, Zefanya juga ingin merasakannya. Ada Nio yang menanggung semua biaya para gadis dunia lain selama di Indonesia, sehingga membuat Nio harus memeriksa isi dompetnya dengan wajah resah.
“Kalau kau mau mengurus setiap prosedur agar bisa meliput para gadis, ayo pindah ke rumahku saja.”
Nio teringat jika berita langka seperti kemunculan gadis dari dunia lain akan diburu banyak wartawan. Sebelum hal itu terjadi, dia harus memberi Sonia dan rekan-rekannya beberapa syarat agar tidak mengundang kegaduhan di dalam dan luar negeri tentang kedatangan para gadis dari dunia lain, atau ancaman dari agen luar negeri terulang dan mengganggu masa liburan Nio yang berharga.
Setelah mendapat persetujuan dari Nio, kelompok Sonia mengikuti Nio setelah para gadis dunia lain dan Zefanya puas merasakan semua jajanan kaki lima, dan menghabiskan hampir semua uang di dompet Nio. Untungnya, pria itu masih memiliki banyak simpanan di tabungannya yang dapat memberi jajan para gadis selama satu tahun penuh. Sebagai pria, Nio memiliki insting bahwa berbelanja bersama gadis hanya akan membawa nasib buruk jika dia tidak memiliki pengalaman akan hal itu.
Untuk masalah Sonia, Nio menatap kakak Indah tersebut dengan tenang walau hatinya tidak. Perasaannya memberitahunya bahwa mungkin Sonia akan menanyakan keberadaan Indah padanya, sehingga membuat Nio kebingungan. Seperti yang dilakukannya dalam menghadapi pertempuran, Nio telah mempersiapkan semuanya walau tidak semua rencana akan sesuai dengan kenyataan yang terjadi nanti.
Saat melihat ada beberapa siswa tingkat SMA dan SMK atau sederajat pulang, Nio merasa jika Arunika juga sudah kembali dari tempat mengajarnya. Dia tahu tempat di mana Arunika pergi setelah bekerja bersama Tania. Dia memimpin rombongan ke halte bus, karena tebakannya mengatakan di sana Arunika berada. Nio yakin, kepulangannya yang tanpa kabar akan membuat Arunika terkejut dan terharu. Nio sudah membayangkan reaksi Arunika dan yang lain saat dia pulang tanpa memberi tahu sebelumnya.
Di medan perang, di mana tidak ada yang tahu apakah besok masih bernyawa atau tidak membuat para pejuang di dunia lain gelisah tidak dapat bertemu orang-orang tersayang. Ditambah terbatasnya komunikasi antara Indonesia dan dunia lain, yang membuat orang-orang hanya dapat membayangkan kemungkinan buruk yang dihadapi prajurit TNI di dunia lain.
Tapi, bagi keluarga prajurit, kabar jika pejuang tersebut masih hidup adalah yang paling membahagiakan, walau tidak menutup kemungkinan besok harinya akan ada kabar duka.
Setelah melihat dirinya yang berhasil kembali dari pertempuran walau dalam kondisi terluka, Nio membayangkan Arunika pada awalnya akan kebingungan tanpa bisa berkata-kata, membeku di tempatnya berdiri, lalu berlari dan memeluknya dengan erat layaknya pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh selama bertahun-tahun.
__ADS_1
Tapi, Nio kehilangan keyakinannya saat melihat hal tak terduga di depan matanya.
“Siapa orang itu?”