
“Selamatkan pasukan ini… tolong kami semua, Nio!” Lux memohon ke langit, namun tidak ada yang mendengarnya. Tidak ada suara selain dentingan dua senjata yang beradu, dan teriakkan prajurit yang menemui ajal.
Senyum Ofra semakin lebar saat melihat ‘si Pedang Gila’ untuk pertama kalinya meratap ke langit, tampak seperti sudah putus asa.
**
“Mereka masih punya trik lain? Heh, mereka bukan pemberontak biasa!” Nio mengigit bibirnya, menatap jalan buntu di depannya dengan wajah muram.
Dia tahu, Arevelk tidak diisi oleh jenderal yang bodoh, salah satunya Ofra. Untuk menghindari pasukan berkuda terampil, garis depan pemberontak memilih bertahan, sambil menembakkan panah dari belakang, dan unit gerobak yang terus maju dijadikan pasukan pendobrak.
Sedikit demi sedikit, Pasukan Penumpas Pemberontak mulai menderita korban jiwa. Jelas, bahkan jika mereka mampu menyebabkan musuh menderita lebih banyak korban, jika Pasukan Penumpas Pemberontak terus menerima kerusakan seperti ini, mereka akan dirugikan secara perlahan.
“Tuan Nio, pasukan sayap kiri kita sedang diserang oleh pasukan yang berada di gerobak!” Ebal melapor, tubuhnya dinodai oleh sayatan dan darah musuh yang telah ia bunuh.
“Sepertinya mereka menemukan titik terlemah kita,” Nio mengerang.
“Titik terlemah, maksudmu?!” Sigiz bertanya dengan wajah terkejut.
Nio paham, gerobak yang dimaksud bukanlah ‘Chariot’ atau kereta perang yang hanya diisi dua orang dan ditarik dua kuda. Saat ini dia melihat puluhan tentara infanteri bertombak panjang dan pemanah pemberontak berdiri di gerobak yang ditarik kurang dari dua puluh kuda, artinya jauh lebih mematikan dari kereta perang Romawi.
Nio turun dari kuda, dan tersenyum. Ia memuji kecepatan berpikir komandan pemberontak, mereka telah melihat titik lemah bahwa kavaleri ringan yang dipimpin Lux tidak memiliki proteksi sebaik pasukan berkuda bersenjata lengkap lain ataupun kavaleri berat. Kemampuan untuk menyusun strategi kembali di tengah kekacauan benar-benar menganggumkan, itulah yang membuat Nio tersenyum tanpa sadar.
Nio hanya bisa membantu sebisanya, tetapi memuji komandan musuh luar biasa. Walau tidak memiliki senapan tua, senjata pengepungan, penyihir perang, Wyvern, dan monster, Ofra benar-benar lawan yang sulit untuk dilawan.
“Tapi, dalam permainan taktik ini, sepertinya kami adalah pemenangnya. Ya, karena aku menggunakan cara curang,” ucap Nio, mengubah sudut mulutnya menjadi seringai.
Selain taktik perang modern, setelah terhubung dengan dunia yang memiliki taktik perang unik, Nio membaca buku taktik peperangan masa lalu yang disusun tokoh sejarah terkenal atau taktik tempur tertentu milik negara terkuat di masa lalu di dunia asalnya.
Salah satunya adalah ungkapan yang ditulis Sun Tzu, “Dengan memberikan keuntungan pada musuh, maka musuh akan mendekat atas kemauannya sendiri.”
Dengan kata lain, kau dapat membuat musuh mendekatimu sesuai keinginan mereka, persis seperti keinginanmu, selama kau memiliki strategi lain untuk membodohi musuh dengan berpikir mereka mendapatkan momentum atas kekacauan pasukanmu yang sudah direncanakan.
Setelah menghadapi ancaman pasukan berkuda terampil dan unit pendobrak dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa, musuh pasti sudah menemukan titik lemahnya. Akhirnya, komandan musuh tetap akan menggunakan jumlah besar mereka dan taktik tak terduga yang ditemukan dalam waktu singkat, pasukan gerobak.
Jadi, itu akan menjadi waktu dan tempat yang tepat untuk membuat jebakan.
Dalam perang, menurunkan moral musuh sangatlah penting. Sebuah pasukan harus menghancurkan apa yang paling berharga milik musuh sampai tidak ada yang tersisa. Intinya, serangan mental sangat penting.
Jika musuh kehilangan sinar harapan terakhir mereka, bahkan pasukan berjumlah ratusan ribu akan sangat mudah kehilangan kekuatannya. Dan jika itu terjadi, maka gerombolan pemberontak tidak lagi menjadi musuh Pasukan Penumpas Pemberontak.
“Lari, strategimu sudah bekerja sangat baik!” hati Nio berkata seperti itu. “Hancurkan musuh, selamatkan tentara pinjamanmu!”
Pasukan utama yang Nio pimpin bersama Sigiz sangat mudah menangani perlawanan musuh, dan membuat mereka tampak kehilangan semangat juang. Nio bisa memerintahkan sebagian peleton untuk membantu pasukan sayap kiri setelah menangani tugas utama mereka.
Seluruh pasukan pendobrak juga sudah mundur dalam keadaan hampir kelelahan, namun masih memiliki semangat bertarung sangat besar.
“Mm, jadi supaya adil, aku tidak akan menggunakan senapan dan pistol,” Nio berbicara dengan rokok yang belum dihidupkan di mulutnya.
Nio mengamati medan perang sayap kiri, dan memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.
“Sigiz, tolong pimpin pasukan utama. Aku akan membantu sayap kiri, mereka terlihat sangat kesulitan. Kita sangat beruntung memiliki Pembunuh Senyap di pihak kita. Aku harap Arevelk dan Yekirnovo membentuk unit serupa!”
Sigiz memiringkan kepalanya, namun tetap paham inti dari ucapan Nio.
Nio mengatakan hal itu, sambil menyelempangkan kembali senapannya di belakang punggungnya. Tangan kanannya menggenggam erat karambit, dengan rokok mati masih di mulut.
“Serahkan padaku. Ini akan menjadi pertempuran terakhir, kan?” jawab Sigiz.
“Semoga saja!”
Unit pendobrak yang bertarung dengan cepat cukup diandalkan Nio dalam pertempuran saat ini. Walau pertempuran pagi, siang, hingga malam sangat memberatkan mereka, namun tenaga mereka tampak belum habis.
Selain itu, strategi yang para komandan dan Nio rencanakan sangat bergantung pada kecepatan, jadi mereka harus bertindak hingga pertarungan berakhir.
Semangat juang para petarung Demihuman adalah tuan yang baik dan makanan yang layak. Hanya dengan memberikan mereka biskuit keras yang mampu membuat tentara kenyang seharian, itu sudah cukup. Nio tidak paham dengan sifat makhluk fantasi tersebut. Namun dia beruntung membawa cukup banyak biskuit tempur, walau sangat keras.
**
“Ohh, sepertinya mereka memang berhasil menemukan kelemahan kami,” seru Nio saat berlari dengan wajah kagum.
Jika pasukan musuh mendapatkan keuntungan atas taktik brilian dan kekuatan mereka, maka Nio akan memberikannya rasa hormat dan pertarungan yang pantas. Itulah yang dipikirkan Nio sebagai penyusun taktik dan komandan tamu yang membantu Arevelk menangani pemberontak.
Tetap saja, yang Nio bisa lakukan hanyalah mendecakkan lidah dengan kesal, “Memanfaatkan gerobak dalam perang cukup brilian dan unik. Sayang sekali, mereka malah menjadi pemberontak.”
Senyum menghina muncul dari bibir Nio yang menghisap rokok mati.
“Unit pendobrak, tolong berikan tenaga kalian. Kekuatan kalian sangat diperlukan saat ini! Maju!”
Hevaz yang terbang di atas Nio tersenyum. Wajah para Demihuman, termasuk Edera, Huvu, dan Ebal tampak menunjukkan rasa lelah. Namun, setelah mendengar teriakkan Nio yang berlari cepat di depan mereka, para Pembunuh Senyap kembali dalam mode tempur, semangat juang tiba-tiba berkobar di mata, dan senjata mereka siap menjadi alat pencabut nyawa musuh.
Taktik sia-sia mampu melipatgandakan kelelahan seorang prajurit, tetapi mendengar perintah ‘sopan’ dari tuan, para Demihuman kehilangan rasa lelah mereka. Itu terbukti dari upaya pasukan pendobrak telah membuahkan hasil dan semangat mereka melonjak setelah Nio memimpin langsung mereka.
Hati Nio menghangat setelah menyadari begitu banyak orang yang mempercayainya, para Demihuman sangat bisa diandalkan, “Mari tunjukkan pada pemberontak kekuatan kalian! Ini adalah pertarungan awal kalian sebelum memerangi Aliansi, musuh utama kita!”
“Yeaaaaaaaahhhhh!!!”
Demihuman mengangkat senjata dan tangan bercakar tajam masing-masing, lalu melompat menerjang musuh.
Nio tersenyum. Saat ini, Edera melihat senyuman Nio sama saat penyerangan besar-besaran pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi. Pertempuran ini memang tidak lebih mematikan daripada perang besar pertama TNI melawan Aliansi.
Benar, yang Nio tawarkan atas bantuannya untuk sekutu Indonesia dan negerinya sendiri adalah kemampuan berpikir dan bertarungnya. Di masa damai, Nio hanyalah remaja ‘masa depan suram’ yang tidak memiliki tujuan hidup jelas, harga diri rendah, dan hobi ‘senam lima jari’ meski hingga saat ini dia masih melakukannya. Sekarang, dia telah melayani rakyat Indonesia dan sekutunya dalam perang ini, dan merupakan kesempatan sempurna untuk memperbaiki hidupnya.
“Jangan biarkan mereka lolos!”
Bersamaan dengan seruannya, Nio menyayat kedua mata seorang prajurit pemberontak menggunakan karambitnya. Melihat musuhnya sangat menderita, Nio langsung meminta Hevaz untuk mengakhiri penderitaannya. Dengan senang hati, gadis Utusan tersebut memenggal kepala tentara pemberontak, dan mengakhiri penderitaannya dalam waktu singkat.
Para Pembunuh Senyap mengikuti di belakangnya. Gelombang serangan ganas unit khusus Demihuman yang berjumlah 30 orang meledak, dan dengan cepat mendekat bagian belakang pasukan gerobak.
Para Demihuman melompat setinggi yang mereka bisa, mendarat di sejumlah gerobak, lalu menendang dada tentara musuh.
__ADS_1
“Sial, para setengah binatang kotor itu lagi?!” Ofra mengeluh dengan wajah jijik.
Seperti proyektil yang tak bisa ditahan dengan perisai biasa, serangan para Demihuman sangat cepat. Beladiri mereka seperti hewan, dan sangat sulit diprediksi. Dengan mudah, cakar pada Demihuman kucing mematahkan tombak panjang pemberontak, belati para pejuang kelinci melukai wajah musuh, dan pertarungan cepat diberikan para Demihuman rakun dan serigala untuk lawan mereka.
Melihat pertarungan sengit Demihuman yang kelelahan, Ofra merasakan hal itu adalah aib.
Ofra, orang yang memiliki perasaan benci khusus terhadap ras Demihuman, ‘mendidih’.
Pasukan gerobak pemberontak tak dapat berkutik ketika para Demihuman melompat ke beberapa kereta terbuka. Mereka telah dikuasai oleh musuh yang jauh lebih sedikit. Kebencian yang Ofra dan pasukannya rasakan menembus hati dan tulang.
“Wakil Komandan, tangani para setengah binatang itu! Aku akan menangani pasukan yang dipimpin Luhe (Lux)!”
Meninggalkan baris belakang pasukan gerobak yang diawasi wakil komandan, Ofra mengendalikan sepuluh kuda yang menarik gerobak yang ia tumpangi saat ini, dan semakin dekat dengan Lux yang bertarung secara putus asa.
Pasukan sayap kiri yang dipimpin Lux sudah dari tadi kehilangan semangat juang, mereka bukanlah ancaman menurut Ofra.
“Pedang Gila! Aku akan melenyapkanmu dan para tentaramu, dan seluruh pasukan hijau!” Ofra berteriak dengan wajah ‘super’ percaya diri. Nio mendengarnya, namun saat ini ia tengah dikepung sepuluh tentara pemberontak.
Pasukan berkuda terampil dengan kemampuan dan taktik tempur tinggi masih berupa ancaman, tetapi dengan mobilitas pasukan gerobak, semuanya sudah berubah. dengan pengalaman militer bertahun-tahun yang dimiliki Ofra, nalurinya mengatakan jika pasukan berkuda dan komandannya adalah ancaman nyata yang harus dikalahakan.
Tombak panjang kavaleri ringan dan berat Pasukan Penumpas Pemberontak menghantam roda satu persatu gerobak. Hal itu mengganggu gerakan roda, mematahkan jari-jari roda, dan melemparkan prajurit yang berada di gerobak terbuka.
Prajurit pemberontak yang terlempar dari beberapa gerobak ditusuk dengan tombak atau diinjak hingga mati oleh kaki kuda yang melaju.
Melihat kekacauan yang dihasilkan musuh, Ofra mendengar seseorang memanggil namanya.
“Prajurit pemberontak sepertimu akan berakhir dengan hina. Kepalamu akan menjadi milikku!” seorang komandan kontingen Arevelk berteriak sambil menyiapkan tombaknya untuk menyerang Ofra.
“Coba saja kalau kau bisa…” gumam Ofra.
Mereka berdua sebelumnya adalah kawan. Ofra tahu apa yang akan dilakukan mantan rekannya saat menyiapkan senjatanya. Ofra merasa bahwa komandan musuh tersebut adalah petarung yang berbakat, namun tidak kurang dan tidak lebih. Medan perang adalah tempat semua kemungkinan dapat terjadi.
“Ambil itu!” tombak seorang komandan kontingen Arevelk mengarah ke salah satu dari empat roda gerobak terbuka yang dinaiki Ofra.
Tapi, Ofra dapat memperkirakan serangan itu akan terjadi.
Suara dentingan tercipta saat pedang Ofra dan mata tombak komandan kontingen Arevelk beradu.
“Dasar tidak bisa berpikir panjang!” seru Ofra. “Seharusnya kau dan seluruh komandan Arevelk tahu jika Aliansi adalah pihak yang paling benar dan menguntungkan. Aku akan memenangkan pertempuran ini, dan bergabung dengan Aliansi setelah menjadi raja selanjutnya. Saat itu terjadi, negeri yang bernama Indonesia bukan apa-apa selain abu dan lautan darah!”
Ofra memusatkan kekuatan kedua lengannya pada ayunan pedangnya. Dia mengayunkan pedangnya ke atas sekuat tenaga, dan melemparkan tombak komandan kontingen Arevelk ke atas dengan kekuatan tak masuk akal. Kemudian, dia melayangkan tebasan selanjutnya untuk memotong leher komandan Arevelk tersebut.
Leher tanpa kepala memuncratkan banyak darah, sementara itu kepala komandan Arevelk menggelinding di tanah seperti kelapa.
“Kau pasti bajingan bernama Ofra?!” setelah berhasil membunuh seorang komandan musuh, seorang prajurit berpakaian hijau bercorak aneh tanpa zirah logam berlari ke arahnya sambil melawan infanteri pemberontak dengan bela diri unik.
Dia muda, dengan rambut berantakan berwarna hitam, dan tatapan tajam. Walau tanpa pedang panjang dan pelindung logam, dan dengan rokok mati di mulut, Nio jauh lebih buas dari pasukan kavaleri yang melayangkan tombak mereka kepada Nio. Jika kau mendekati Nio tanpa persiapan, dia akan mencabikmu sampai potongan terkecil, itulah rumor yang tersebar di telinga sejumlah komandan kontingen Arevelk dan Yekirnovo.
Senapan dan pistol yang dibawa Nio terasa sangat sia-sia saat ia memilih bertarung menggunakan pedang pemberian Sakuya di tangan kanan dan karambit standar di tangan kiri. Dia dengan ekspresi waspada menghindari satu persatu tombak yang dilayangkan ke arah kepalanya. Kali ini, Ofra melihat cara bertarung prajurit ‘dunia lain’ dari jarak 20 meter. Prajurit hijau itu jelas lebih kuat dari kavaleri terbaik.
Nio menyayat leher seorang tentara infanteri pemberontak menggunakan karambit-nya, lalu berteriak, “Jadi kau brengsek yang membuat Sigiz kesulitan?!”
“Memang! Aku adalah Ofra, orang yang akan menjadi raja selanjutnya. Aku akan membuat Arevelk berjuang bersama Aliansi! Aku melihat jika kau sendiri seorang pejuang liar. Biarkan aku mengetahui siapa namamu!”
“Anjing sepertimu seharusnya sudah tahu namaku. Aku adalah orang yang sudah membuat sekarat Pahlawan Amarah. Seorang perwira TRIP dan komandan Tim Ke-12. Nio!”
“Ohh, kalau begitu ucapkan salam perpisahan untuk bawahanmu dan keluargamu, karena aku akan membunuhmu!”
Mulut Nio yang masih mengapit rokok mati tersenyum, lalu berkata, “Lakukan kalau kau bisa, anjing!” dia berteriak dengan ganas.
“Persiapkan dirimu, Babi Hijau!” teriak Ofra.
“Hmm, itu julukan yang menarik,” Nio memasang wajah seperti seorang jenius berpikir.
Tapi, Nio benar-benar berpikir bahwa itu adalah julukan yang sangat menarik, setelah melihat bagaimana cara para elit memperlakukan prajurit.
Tinggi Ofra saat berdiri pada gerobak terbuka menjadi tiga meter. Dengan sepuluh kuda dan dinding gerobak yang mampu menahan lesatan anak panah, hal itu menjadikan pertahanan Ofra sangat sulit dilawan.
Ofra maju terlebih dulu. Saat Nio menghindari laju gerobaknya yang ditarik sepuluh kuda, dia melihat pria tersebut melompat dan berdiri di belakangnya. Berbeda dengan pasukan infanteri biasa, Nio jauh lebih cepat. Kemampuannya melebihi infanteri biasa, yang mungkin bisa disebut ‘elit’.
Lalu, dentingan bernada tinggu terdengar saat pedang keduanya berbenturan.
Nio tahu bahwa pria di depannya memiliki tinggi dan kekuatan melebihi dirinya.
Rata-rata tinggi tentara Arevelk dan Yekirnovo sekitar 180 hingga 190 centimeter, dengan tinggi rata-rata pria 175 centimeter. Nio memilih melawan Ofra dengan kekuatan dan kecepatan. Ada perbedaan besar dengan kecepatan prajurit setinggi 178 centimeter melawan pria bertubuh besar dengan zirah logam kuat yang melindungi tubuh setinggi 193 centimeter. Kecepatan itu memengaruhi momentum dan dampak serangan.
Nio melayangkan beberapa tebasan yang menyulitkan Ofra untuk menangkisnya karena cepat dan cukup kuat. “Apa ini?!” Ofra menganggap jika prajurit Indonesia hanya dapat bertarung dari jarak jauh seperti pengecut, sangat terkejut dan hanya bisa memegang senjata tanpa menjatuhkanya saat menahan serangan bertubi-tubi Nio.
Yang lebih mengejutkan adalah bagaimana Nio menggunakan senjata kecil dalam pertarungan cepatnya. Beberapa bagian tubuh Ofra terluka karena pisau kecil Nio.
Ofra terpikat oleh keahliannya menggunakan senjata kecil. Jika mereka berdua tida dalam situasi seperti ini, dia pasti akan segera mengundang Nio untuk menjadi bawahannya.
Tetap saja ini adalah medan perang. Tidak ada waktu untuk bayangan seperti itu.
Kuda yang menarik gerobak tiba-tiba berbelok, membuat Nio miring dan hampir terlempar.
“Persiapkan dirimu!” Ofra mengangkat pedangnya di atas kepala, melihat kesempatan untuk mengambil kepala Nio.
“Persiapkan diri untuk apa?!” Nio membalas berteriak.
Dengan ayunan yang dirasa cukup untuk membelah tubuh manusia, Ofra tersenyum saat membayangkan menjadikan kepala Nio oleh-oleh.
Mata Nio menunjukkan keterkejutan. Dia tidak mengharapkan bertemu lagi dengan pedang besar seperti itu.
Nio mampu menahan tebasan Ofra, dan melanjutkan saling tukar serangan kilat di atas gerobak terbuka yang melaju.
“Ternyata tentara sepertimu juga mempelajari ilmu berpedang?!” Ofra bertanya dengan wajah mengejek.
“Kalian bukan satu-satunya pasukan yang bisa menggunakan pedang!”
__ADS_1
Yang pasti, sejak terhubungnya kedua dunia, cara bertempur kedua dunia juga berbeda. Sebagai personel pasukan elit, Nio dituntut mengeluarkan seluruh kemampuan terpendamnya, termasuk seni bertarung menggunakan senjata maupun tangan kosong. Senapan masih memiliki beberapa kelemahan yang tidak dimiliki pedang atau senjata tajam lainnya.
Setelah itu, kedua prajurit tersebut melanjutkan kembali pertarungan cepat mereka.
Karena ganasnya pertempuran mereka, tentara kedua pasukan tidak berani mendekat untuk membantu. Tanpa kemampuan yang terampil, kemungkinan mati sia-sia di tengah pertarungan dua prajurit yang mengamuk sangat besar.
Adu pedang Nio dan Ofra di atas gerobak terbuka yang melaju berlangsung cukup lama, membuat keduanya lelah, pegangan di gagang senjata masing-masing mulai melemah, dan hasil yang terlihat mungkin imbang.
Kecepatan mereka berdua hampir sama. Tetapi ada perbedaan yang mencolok dalam kekuatan fisik mereka.
Memiliki senjata yang lebih berat menambah bobot serangan, ditambah proteksi yang baik. mempertimbangkan hal itu, keduanya sangat sebanding. Di sisi lain, Nio masing memiliki senjata andalan yang masih diistirahatkan.
Seiring berjalannya pertarungan,Nio semakin kewalahan menghadapi serangan kuat dari pedang besar Ofra. Ketika dia harus menangkis tebasan horizontal dari Ofra, Nio memusatkan kekuatannya pada lengannya. Ofra telah melayangkan lebih banyak serangan hingga saat ini, membuatnya semakin percaya diri.
Saat bertarung di atas gerobak yang melaju, Nio semakin kesulitan menjaga keseimbangannya, ditambah harus menahan setiap serangan Ofra. Dia jatuh ke lantai gerobak, kehilangan keseimbangan.
Ofra tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia mengumpulkan seluruh kekuatan untuk serangan terakhir, dan menggunakan Nio yang kehilangan keseimbangan sebagai kesempatan untuk mengakhiri pertarungan.
“Whaa?!” Nio terkejut.
“Haah!!” Ofra mengayunkan pedang besarnya, bersiap membelah tubuh Nio.
Reaksi yang diperlihatkan Nio lebih mendekati pada upaya yang nekat. Dia melompat dari gerobak, dan pedang Ofra yang terayun menghancurkan lantai gerobak tempat Nio sebelumnya berada. Serpihan yang terbang ke segala arah membuat Nio bergidik saat ia melayang di udara.
Nio berguling beberapa meter, lalu menancapkan pedangnya untuk menghentikan tubuhnya yang berputar. Itu bukanlah hal yang dipikirkan Nio. Meski masih muda, dia hanya mengikuti insting yang berkembang dari begitu banyak pengalaman di medan perang.
“Njing!” umpat Nio.
Karena mendarat dengan benar, dampak yang Nio terima dapat diminimalisir, namun bukan berarti tida ada dampaknya. Wajah Nio menunjukkan ekspresi kesakitan. Jika dia mendarat dengan cara yang salah, dapat dipastikan Nio akan menerima cedera parah. Tetap saja, situasi yang Nio dapatkan masih tidak menguntungkan.
“Kurasa, ini artinya aku menang,” sudut mulut Ofra terangkat saat ia mengganti senjatanya ke tombak sepanjang lima meter, dan mengarahkannya ke Nio.
“Aku memberimu julukan Pahlawan Babi Hijau! Kau benar-benar memiliki keterampilan bertarung yang unik! Jika kau lahir di dunia ini, kita mungkin akan menjadi rekan akrab.”
Ofra memuji Nio setinggi mungkin. Bagaimanapun, walau dia cukup arogan, Ofra menganggap Nio memiliki kemampuan untuk benar-benar mengalahkan Pahlawan.
Nio menatap Ofra dalam diam. Ada ribuan orang yang berharap padanya. Meskipun situasi yang ia hadapi tidak menguntungkan, Nio tidak kehilangan semangat juangnya.
Nio menenangkan diri. Meski begitu, pengalaman yang ia miliki tidak sebanding dengan Ofra. Dan perbedaan kekuatan infanteri dengan prajurit yang berada di gerobak sangat besar.
Lebih dari segala keunggulan senapan, Nio tidak ingin selalu mengandalkan teknologi tersebut. Dia ingin meningkatkan kemampuan dan pengalaman bertarung tanpa senjata api. Dia tahu, tidak peduli seberapa banyak pertarungan melelahkan yang telah dilalui, mendapatkan pujian dari musuh, Nio tidak bisa membiarkan kelalaian menguasainya.
Babi hutan liar yang terluka, telah menjadi lebih ganas. Nio meminta maaf kepada senapan dan pistolnya karena tidak terlalu terlibat dalam pertempuran ini.
Ofra berterak, “Ini adalah pertarungan paling berkesan selama aku hidup! Apakah kau ingin menjadi bawahanku setelah kekalahanmu?!”
Ofra menyerang Nio dari atas gerobaknya.
Ofra masih memegang etiket prajurit untuk mengakhiri penderitaan prajurit lain. Ofra mengayunkan tombaknya sekuat tenaga ke arah jantung Nio.
“Apa?!”
Saat selanjutnya, sesuatu yang terjadi pada Ofra sangat mengejutkannya. Pemandangan yang ia lihat membuat Ofra meragukan apakah itu asli.
Di sisi lain, Hevaz dan Sigiz merasakan aura yang aneh milik seseorang. Aura yang mencekam, dan dipenuhi rasa haus darah hanya dimiliki oleh penyihir tempur terbaik.
“Tanpa ujian yang seharusnya beliau lalui, sepertinya Berkah Dewa untuk Pahlawan Harapan sudah diterima Tuan Nio,” ucap Hevaz setelah memenggal kepala musuh.
Pola pada pedang Nio bercahaya berwarna kebiruan, membuat mata tombak Ofra terbelah dengan mudah seperti memotong tahu saat Nio berniat menahan serangannya. Mata tombak yang terpotong menggores dahi Nio, menciptakan luka baru.
“Memang, kekuatan yang Pahlawan Harapan dapatkan bukanlah kekuatan sihir kuat seperti Pahlawan lainnya. Namun, ketika ia merasakan sesuatu yang membuat perasaannya terganggu, mereka akan bertarung seperti Dewa Perang. Kekuatan sebenarnya Pahlawan Harapan akan muncul setelah Periode Perang Besar mencapai tahap akhir.”
Hevaz bertarung semakin serius saat menggumamkan hal itu.
“Haaaaa!” dengan seruan keras dan serak, Nio menghentakkan alas sepatu bot-nya dan melompat ke udara. Dia memegang pedang pemberian Pahlawan milik Aliansi itu tinggi-tinggi di atas kepalanya, lalu mengayunkannya ke bawah.
“Sial!!” Ofra segera meraih pedang miliknya untuk menahan serangan Nio. Namun, bahkan pedang besar miliknya itu tidak cukup untuk menghentikan pedang milik musuhnya yang bercahaya. Dan dengan kekuatan tidak masuk akal dari Nio, dia pedang milik Ofra dengan mudah terbelah lalu menancap di bahunya.
Lalu, suara daging terpotong yang mengerikan terdengar.
Lengan kanan Ofra tergeletak di tanah, dengan darah mengalir deras dari tempat pemotongan. Lalu, terlihat wajah Nio jauh berbeda dari sebelumnya.
“Aku tidak peduli julukan apa yang kau berikan pada orang ini! Jika aku sudah berkehendak, perang ini akan menjadi penutup semua peperangan!”
Suara Nio berubah dengan tiba-tiba, dan semakin berat dari sebelumnya. Bisa dipastikan, Nio saat ini dikendalikan oleh sesuatu, atau mungkin seseorang?
“He! Tuan Ofra sudah terbunuh!” seorang prajurit pemberontak berteriak.
“Tidak mungkin! Tuan Ofra, dia dikalahkan oleh prajurit hijau itu?!”
“Mundur, kita tidak mungkin bisa memenangkan pertarungan ini!”
Pasukan pemberontak mengeluarkan ratapan menyedihkan. Mereka terlempar pada kekacauan saat kematian komandan yang mereka hormati, yang dipuji sebagai komandan terbaik.
Prajurit pemberontak yang masih tersisa mundur dan melesat pergi.
“Aaa … aduh!” Nio tiba-tiba terjatuh, dan menyangga tubuhnya dengan pedangnya dan berpose berlutut. Dia mengerutkan wajahnya karena pusing yang luar biasa, lalu memasang ekspresi bingung saat seluruh prajurit Pasukan Penumpas Pemberontak bersorak.
“Hmph! Jadi aku tidak bisa membuat Arevelk berjuang bersama Aliansi, dan menghancurkan Persekutuan, ya. Sial, aku sangat ingin melihat kemenangan di masa depan yang akan kuraih bersama Aliansi! Tapi, mati di tangan pejuang seperti dia, ini bukanlah kegagalan yang hina.”
“Seharusnya memang seperti itu. Kau harus senang bisa bertarung dengan Dewa Perang yang memberikan sedikit kekuatannya pada Tuan Nio.” ucap Hevaz yang mendarat di sisi tubuh lemah Ofra, dan menatap Nio yang kebingungan dengan apa yang terjadi.
“Artinya, dia benar-benar Pahlawan Harapan yang dijanjikan?” Ofra tersenyum, lalu menutup matanya untuk selama-lamanya.
Nio melihat Hevaz yang berdiri di samping Ofra yang terbaring, dan tampak tidak bergerak walau musuh di dekatnya. Nio merasa Ofra sudah mati, dengan bukti pedang yang masih terdapat noda darah. Dia masih tidak mengerti dengan sorakan bahagia para prajurit, dan Ofra yang sudah mati.
Kemudian, Sigiz mendekati Nio dan berkata, “Angkat pedang mu, Tuan Nio. Itu sebagai simbol jika kita berhasil menangani masalah ini.”
Nio telah menganggap Ofra adalah musuh yang perkasa, dengan rencana awal adalah membawa komandan pemberontak tersebut hidup-hidup agar selanjutnya diadili oleh Sigiz. Tetapi pada akhirnya, Nio menyadari bahwa ada sesuatu pada dirinya yang mampu membuat Ofra terbunuh dengan mudah. Karena tidak mungkin dengan kekuatan miliknya sendiri, Ofra terbunuh dalam waktu singkat.
__ADS_1
Setelah berdoa dalam hati untuk seluruh prajurit yang telah bertarung untuk memperjuangkan apa yang ingin mereka perjuangkan, Nio mengangkat pedangnya.
Lux yang sebelumnya bertarung dengan putus asa, berlutut dengan pedang sebagai penyangga tubuhnya. Dia tersenyum melihat Nio mengangkat pedang miliknya, menandakan kemenangan diraih pihak yang benar, menurutnya.