Prajurit SMA

Prajurit SMA
53. Pertemuan


__ADS_3

13 Juni 2321, pukul 02.10 WIB.


**


Saat pasukan Kerajaan Luan sedang melarikan diri, sekelompok pasukan penunggan naga dan wyvern melintas diatas mereka. Seketika hal itu membuat wajah mereka seperti menemukan secercah harapan.


Harapan yang mereka miliki sebelumnya hanyalah pasukan pemegang bendera. Karena selama bendera yang mereka pegang belum jatuh dan digantikan bendera perang milik musuh, mereka belum dinyatakan kalah.


Namun sayangnya, TNI tidak menganut sistem seperti itu. Atau lebih tepatnya tidak mengenal jika pasukan bendera jatuh, makan pasukan tersebut akan kalah.


Saat ini, seluruh satuan TNI yang bertugas menjalankan operasi militer hanya terfokus pada satu tujuan. Yaitu membebaskan wilayah yang dikuasai pasukan musuh, serta jika memungkinkan sekaligus melakukan pembersihan pasukan musuh dari wilayah tersebut.


Pasukan kerajaan Luan terus memanggil para pasukan penunggang naga yang terbang tinggi dari permukaan tanah.


Namun mereka mengira jika pasukan penunggan naga akan mendarat dan menjemput mereka. Pesukan penunggang naga melaju begitu saja, seperti tidak memperhatikan mereka.


Seluruh prajurit bergumam semacam, “Akhirnya ada bantuan….”


Namun salah satu prajurit menyadari ada keanehan pada pasukan penunggan naga.


Ya, terdapat seekor naga yang bewarna keperakan dan berukuran sedikit lebih besar dari naga dan wyvern di belakangnya.


Seluruh prajurit sepakat menyebut jika naga berwarna keperakan itu adalah naga angin. Itu membuat mereka semakin percaya diri jika pasukan itu adalah bantuan dan akan menyerang pasukan musuh.


Namun sebenarnya tebakkan mereka sangat salah. Karena pasukan penunggang naga itu adalah pasukan milik kerajaan Arevelk, bukan pasukan bantuan dari kerajaan Luan, tempat asal mereka.


Hal itu terlihat selas dari zirah besi yang dikenakan prajurit yang berbeda dengan pasukan kerajaan Luan. Juga bendera perang dan negara yang dibawa pasukan penunggang naga sangat jauh berbeda dengan yang mereka miliki.


Sigiz menoleh kebawah, asal suara seperti panggilan terhadap pasukan yang ia bawa. Namun ia tidak mempedulikan mereka.


Sigiz sama sekali tidak berniat menolong pasukan kerajaan Luan, karena dia bertujuan untuk menemui orang yang diramalkan.


Pasukan yang dibawa Sigiz juga terlihat tidak peduli dengan pasukan kerajaan Luan yang terus memanggil agar mendarat. Sigiz tidak memerintahkan mereka untuk mendarat, itulah sebabnya mereka juga tidak peduli dengan pasukan kerajaan Luan.


“Kenapa mereka tidak mendarat?”


Sambil tersenyum yakin rekannya menjawab, “Mungkin mereka akan menghabisi pasukan musuh terlebih dulu, setelah itu menjemput kita.”


**


Pasukan penunggan naga yang Sigiz bawa tiba diatas pasukan tim 2 yang berisap untuk bertempur lagi.


Seluruh prajurit tim 2 menempati posisi serang masing-masing, terutama penembak jitu yang berada di atas atap rumah yang memliki dua lantai.


“Kenapa mereka terlihat sangat waspada dengan kita?” gumam Sigiz yang membonceng Ilhiya dibelakangnya.


“Mereka mungkin menganggap kita sebagai musuh, lebih baik kita turun untuk menenangkan mereka dan mengatakan tujuan anda,” jawab Iilhiya sambil memberi perintah bagi Ivy yang dibonceng salah satu prajurit untuk melepaskan sihir yang membuatnya tidak terlihat.


Seluruh pasukan tim 2 sangat kacau saat puluhan naga terbang diatas mereka. Seharusnya malam ini mereka dapat berisitirahat untuk mengisi kembali tenaga sebelum melanjutkan perjalanan. Namun sepertinya hal itu harus ditunda untuk sementara.


Ujung laras peluncur roket diarahkan ke kawanan naga-naga itu, namun prajurit yang bertugas belum meluncurkan roket karena belum ada perintah dari Herlina. Namun mereka sudah bersiap menembak jika sewaktu-waktu Herlina memerintahkan mereka untuk meluncurkan roket.


“Pasukan, mendarat perlahan…!!!” perintah Sigiz yang kemudian mengendalikan naganya untuk terbang kebawah secara perlahan.


Pasukan semakin waspada saat pasukan naga terbang semakin rendah secara perlahan, beberapa dari mereka bahkan terlihat cemas, terutama Arista dan Tania.


Angin dari kepakan sayap hewan itu menerbangkan dedaunan kering disekitar tempat istirahat tim 2. Apalagi pekikan dari naga yang terdengar sangat menggetarkan hati para prajurit tim 2. Beruntung tidak ada pemukiman penduduk disekitar, jika ada maka akan terjadi kekacauan yang mungkin akan menimbulkan korban.


Ujung laras senapan mesin berat dan ringan diarahkan keatas untuk mengantisipasi jika pasukan naga menyerang. Peluru yang digunakan pada senapan mesin setidaknya dapat melukai kulit naga yang keras. Jika tidak cukup, masih ada beberapa roket yang dimiliki tim 2.


Pasukan tidak dapat melepaskan tembakkan, karena amunisi yang terbatas. Logistik terdapat pada tim 1, sehingga untuk mendapatkan amunisi tambahan mereka harus menuju tempat mereka berada.


Apalagi peluru biasa yang terdapat pada senapan serbu hanya akan terepental jika mengenai kulit naga, sehingga hanya melakukan serangan yang sia-sia. Namun jika dapat mengenai pawangnya, mungkin akan berbeda cerita namun tidak semudah melawan pasukan musuh sebelumnya.


“Nio, kau tidak melaporkan kalau pasukan musuh tidak memiliki pasukan naga…!” ucap Herlina dengan nada marah kepada Nio.


Nio juga tidak menduga jika hal ini akan terjadi.

__ADS_1


“Aku berani sumpah, pasukan penunggang naga musuh sudah dihancurkan saat penyelamatan sandera,” jawab Nio dengan wajah yang sungguh-sungguh.


Herlina terdiam setelah mendengar jawaban dari Nio, dan dia tidak ingin menyalahkan Nio lebih jauh lagi. Itu hanya akan membuat semangat pasukan menurun.


Namun Nio sudah mempersiapkan rencana jika hal ini memang terjadi. Itu artinya dia sudah memperkirakan jika pasukan musuh masih memiliki pasukan naga cadangan.


Pasukan penunggang naga berhasil mendarat di dekat tempat peristirahatan tim 2. Itu membuat debu dan daun kering yang berterbangan semakin banyak.


“Bendera mereka kenapa berbeda?” gumam Nio yang membuat Herlina menatapnya dengan bingung.


“Apa maksudmu?” tanya Herlina yang ingin tahu arti perkataan Nio.


“Bendera mereka berbeda dengan pasukan musuh yang kita hadapi sebelumnya. Sial, satu musuh saja sudah menyulitkan, apalagi dua!”


Naga yang paling besar dan berwarna keperakan mengkilap kulitnya saat lampu kendaraan lapis baja diarahkan padanya. Itu membuat naga tersebut terkejut dan memberontak. Sontak, membuat seleruh pasukan tim 2 semakin waspada.


Namun pawang naga tersebut menenagkan naganya dengan santai hingga kembali tenang. Kemudian penunggang naga yang terlihat seorang perempuan itu turun sambil membawa tongkat yang terpasang bendera. Orang yang dia bonceng juga turun dari naga sambil membuka cadar yang menutup sebagian wajahnya yang putih.


Perempuan yang satu lagi juga turun dari naga yang dipawangi seorang prajurit juga turun kemudian menyusul dua perempuan yang berjalan mendekati pasukan tim 2.


Seluruh pasukan tim 2 mengarahkan senapan mereka kearah ketiga perempuan itu. Namun Herlina mencegah mereka untuk menembak, karena ketiga perempuan itu tidak menunjukkan perlawanan.


Meski perempuan yang membawa bendera mengenakan baju perang, namun dia tidak membawa senjata, bahkan sebuah jarum sekalipun. Namun kedua perempuan yang bersamanya membawa tongkat yang panjangnya sama dengan tinggi tubuh mereka.


Saat mereka cukup dekat dengan pasukan tim 2, seekor kucing melintas tanpa permisi.


“Kucing dunia lain…,” ucap salah satu perempuan.


Dia kemudian menangkap kucing tersebut sebelum berlari menjauhinya. Dia memeluk dengan erat kucing yang memiliki bulu berwarna mayoritas putih dengan sedikit warna hitam.


Kedua perempuan yang lain hanya menatap heran perempuan yang memeluk erat kucing yang ia temukan.


“Aku berhasil mendapatkan kucing dunia lain…,” katanya dengan menggosok-gosokan wajahnya pada tubuh kucing tersebut.


Meski kucing itu liar, namun bulunya terlihat bersih, seperti terawat. Bahkan kucing itu terlihat sangat tenang saat perempuan itu memegangnya, seperti kucing peliharaan yang terlatih.


Bahkan Arista dan Nio serentak menepuk jidat mereka karena kelakuan orang dunia lain itu.


Namun Nio merasa tidak asing dengan salah satu perempuan yang bersama dua perempuan yang lain. Dia mencoba mengamati lebih lanjut dan tidak menghiraukan pasukan yang bergumam atas kekonyolan orang dunia lain itu.


“Ivy…!” seru Nio saat sudah selesai melakukan pengamatan.


“Ya, Nio. Kita bertemu lagi…,” jawab Ivy sambil melangkah maju mencoba mendekati Nio.


Namun beberapa prajurit mengarahkan ujung laras senapan serbu mereka kearah Ivy, hal itu membuat Ivy diam mematung dan sangat terkejut.


Badannya gemetar saat puluhan laras senapan yang diaktifkan ke mode otomatis penuh diarahkan padanya. Ivy hampir menangis sebelum Nio memerintahkan seleruh prajurit untuk menurunkan senapan mereka.


“Dia bukan musuh, aku berani jamin itu,” ucap Nio sambil berjalan mendekati Ivy.


Seluruh prajurit menggumamkan apa yang dilakukan Nio terhadap orang dunia lain itu. Bahkan Arista, Tania dan Herlina hanya bisa diam seribu bahasa.


“Apa yang kau lakukan disini. Dan kenapa mereka bisa melihatmu?” tanya Nio.


“Aku sudah menghilangkan sihir yang membuat tubuhku hanya bisa dilihat olehmu. Aku kesini dengan Ratu karena dia ingin bertemu denganmu,” jawab Ivy sambil menunjuk ke arah perempuan yang mengenakan baju tempur.


Nio menoleh kearah perempuan yang ditunjuk Ivy. Baju tempur yang dikenakan perempuan itu tentu saja membuat Nio harus waspada.


“Akhirnya kita bisa bertemu, orang yang diramalkan,” ucap perempuan itu dengan nada sopan.


Apa yang dikatakan oleh perempuan itu membuat Nio tidak paham apa yang dikatakannya.


“Dia bilang, akhirnya dia bertemu denganmu, orang yang diramalkan,” ucap Ivy seakan menerjemahkan perkataan perempuan itu.


“Maaf, orang yang diramalkan?. Aku?” ucap Nio sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Ya, bukankah aku sudah menanyakan beberapa hal kepadamu?”

__ADS_1


Nio terlihat mengingat-ingat sesuatu sambil memegangi kepalanya.


“Hah, tidak mungkin aku orang yang ada diramalan mu. Ramalan itu Cuma cerita khayalan saja,” ucap Nio seakan meremehkan ramalan mengenai dirinya.


“Tapi, dunia lain bukankah khayalan juga?” balas Ivy yang membuat Nio seketika diam dan tidak bisa menjawab.


Seluruh pasukan tim 2 terlihat hanya bisa diam saat Nio bisa berbicara dengan santai dengan orang dunia lain.


“Apa dia bisa bahasa orang dunia lain?” gumam Herlina.


Perempuan yang mengenakan baju perang berjalan mendekati Nio. Itu membuat Nio menyiagakan pistolnya.


Wajah Nio seketika memerah saat dia melihat wajah perempuan itu dari dekat. Dia merasa jika perempuan adalah yang tercantik dari semua perempuan yang ia temui.


Nio merasa jika perempuan itu berumur tak jauh dari kakaknya, atau malah seumuran. Tapi hanya penduduk negara asal perempuan itu yang mengetahui usia aslinya.


“Saya ingin bertemu dengan pemimpin anda,” ucap perempuan itu dengan wajah serius.


“Dia bilang ingin bertemu dengan pimpinan mu,” ucap Ivy yang menerjemahkan perkataan perempuan itu untuknya.


Nio melirik Herlina yang masih terlihat keheranan, atau mungkin dia melamun.


Nio segera berlari kearah Herlina dan berkata keinginan perempuan itu.


“Untuk apa dia ingin menemui dia?” tanya Herlina.


“Entahlah, tapi sepertinya sangat serius,” jawab Nio untuk meyakinkan Herlina.


Herlina diam sejenak untuk memikirkan keputusannya. Itu cukup lama hingga beberapa prajurit dapat tertidur.


“Baiklah, aku akan menemui dia. Temui aku di kendaraan komando,” jawab Herlina.


“Siap…!”


Nio kemudian kembali ke menemui Ivy dan dua perempuan lainnya yang dengan sabarnya menunggu. Mereka tidak menunjukkan wajah kesal karena dibuat menunggu oleh Herlina yang terlalu lama memikirkan keputusannya.


Herlina memasuki kendaraan komando untuk menyiapkan pertemuan yang dimaksud Nio.


“Ikuti aku untuk menemui pimpinan kami,” ucap Nio.


Ivy berbicara kepada kedua perempuan itu dengan bahasa yang tidak Nio mengerti. Tapi intinya, Ivy mengajak mereka berdua untuk mengikuti Nio.


Perempuan yang mengenakan baju perang kemudian berlari mendekati Nio, kemudian dia mengatakan kata yang lagi-lagi tidak Nio mengerti sambil tersenyum.


“Dia ingin berkenalan denganmu, Ratu kami bernama Sigiz. Kau bisa mengenalkan dirimu,” ucap Ivy.


Nio kemudian menjabat tangan Sigiz dan meberitahu namanya. Tapi saat Nio meraih tangan, wajah Sigiz seketika terlihat memerah.


Ilhiya kemudian juga mengenalkan diri kepada Nio.


Nio berjalan didepan ketiga perempuan itu, dia menoleh kebelakang saat ketiga perempuan itu terdengar sedang bercanda. Namun dia tetap tidak mengerti apa perkataan mereka.


“Ratu, apa anda benar-benar tertarik dengannya?” tanya Ilhiya dengan nada menggoda Sigiz.


Sigiz tidak menjawab apapun dan mempercepat langkahnya. Dia terlihat senang telah menemui orang yang ingin dia temui meski masih belum diketahu apakah dia orang yang diramalkan atau bukan.


**


Tim 1 menyambut pasukan sukarela Kota Sragen yang tidak melaksanakan operasi militer seperti mereka.


Namun mereka belum melihat tanda-tanda pertempuran di tempat ini. Hanya pertahanan yang ditempati prajurit yang sudah bersiap untuk menghadapi musuh.


Pemimpin kelompok ini mendatangi Surya untuk menanyakan situasi.


“Tim 2 sudah berhadapan dengan pasukan musuh, dan seharusnya musuh tiba disini dari tadi,” jawab Surya dengan keheranan.


Rekaman dari drone berkamera masih memperlihatkan pasukan musuh yang belum melakukan pergerakan.

__ADS_1


“Sebenarnya, apa yang dilakukan mereka?”


__ADS_2