Prajurit SMA

Prajurit SMA
109. Adik masa depan


__ADS_3

Apa yang dilakukan Edera mengguncang seluruh kamp pengungsian dan markas pusat. Meskipun kamp pengungsi adalah desa yang berkembang, tapi para polisi militer didatangkan untuk menyelidiki kamar Edera di pengungsian.


Setelah itu, semua orang mulai berspekulasi, “Sepertinya Edera melakukan sesuatu,” dan beberapa orang yang mengetahui hal ini berkata, “Bos Nio dan Edera dibawa ke rumah sakit, mereka berlumuran darah, dan tangan Bos Nio putus!” informasi ini menyebar dengan sangat cepat seperti api.


Penemuan sebuah surat perintah untuk membunuh Nio dan duta besar di kamar Edera membuat salah satu bangsawan negara baru dicurigai sebagai pelaku utama, karena Edera hanyalah orang suruhan. Surat tersebut ditulis menggunakan alat tulis yang hanya dimiliki para bangsawan, dan Edera diperintahkan untuk membunuh Nio dan duta besar.


Itu benar-benar konyol, tetapi tidak ada orang yang tertawa.


Sang duta besar selamat tanpa luka sedikit pun, meski kejadian tangan Nio yang putus masih membayangi pikirannya. Dia hampir terkena serangan mental saat prajurit yang melindunginya kehilangan satu tangannya. Sementara Nio, hingga sekarang dia masih belum sadar, begitu pula dengan Edera, dan tinggal menunggu nasib mengenai tangan kanannya.


Di wilayah khusus TNI ini, meninggalkan bukti tertulis tentang perintah pembunuhan adalah puncak kebodohan. Keterlibatan satu bangsawan negara baru tidak akan membuat negara ini runtuh.


Setelah melakukan penyelidikan selama berhari-hari, tidak ada bangsawan yang ditetapkan menjadi tersangka, karena pasti ada pihak yang memalsukan identitas dalam surat tersebut. Ada beberapa jejak yang mengarah salah satu orang terpenting negara baru, yakni Ragh, tetapi penyelidikan berakhir dengan jalan buntu.


Mempertahankan ketenangan seseorang dalam keadaan kebingungan.


Untuk menghentikan insiden seperti ini terjadi lagi, mereka harus lebih cepat dari musuh. Nio, adalah pihak yang mencegah pembunuhan Radit, dan pemuda itu secara kebetulan juga ada di sana.


Siapa musuh Pasukan Ekspedisi sebenarnya? Itulah pertanyaan yang memiliki sangat banyak jawaban. Karena pastinya ada sangat banyak negara di dunia ini, dan beberapa mungkin memutuskan untuk memusuhi TNI, selain Kekaisaran Luan dan Kerajaan Hrabro tentunya.


Pasukan Ekspedisi juga perlu merencanakan serangan balasan terhadap musuh, begitu mereka mengetahui musuh sebenarnya mereka.


Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan memiliki daftar bangsawan fraksi militer yang didapatkan dari duta besar di Kekaisaran. Ada puluhan orang yang dicurigai di daftar ini, tapi mereka tidak bisa menyimpulkannya begitu saja.


Tapi, fakta jika Nio masih hidup meski kehilangan tangan dan banyak darah, adalah hal yang mengejutkan dan melegakan beberapa pihak.


**


Itu tidak mungkin, Nio tidak akan mati semudah itu! Bahkan ada banyak kabar burung yang tersebar di kota bawah tanah, tempat Arunika tinggal untuk sementara. Ribuan prajurit Garnisun Karanganyar membicarakan berita ini, bahkan percobaan pembunuhan salah satu duta besar untuk dunia lain menjadi berita utama dan halaman depan pada koran.


Tidak ada cara bagi Arunika untuk menghentikan Nio agar dia tidak bergabung dengan militer, pemuda itu seharusnya tidak keras kepala. Setelah kehilangan kedua orang tua, Nio hampir saja meninggalkannya sendirian juga.

__ADS_1


Nio melewati masa kritis setelah kehilangan sangat banyak darah, namun dia belum juga membuka matanya untuk melihat orang-orang yang mengawalnya.


Seluruh anggota Regu penjelajah 1 merupakan pengawal yang Nio miliki.


Membayangkan Nio yang hampir meninggalkan dirinya, Arunika akan sangat marah dengan Nio, karena dia belum menjawab perasaannya. Di luar ruang perawatan, Arunika memohon agar Nio segera membuka mata.


Ya, rumah sakit tempat Nio dirawat bukanlah rumah sakit biasa. Tempat ini dibangun di Garnisun Karanganyar, dan khusus digunakan bagi prajurit Pasukan Ekspedisi jika mengalami kecelakan kerja atau semacamnya.


Arunika bisa melihat pasien mengobrol satu sama lain di sepanjang lorong rumah sakit. Sebagian mereka bukan menderita sakit fisik berat, karena mereka hanyalah prajurit yang terluka ringan dan diijinkan beristirahat selama beberapa jam sebelum kembali ke markas Pasukan Ekspedisi.


**


Dahulunya, tempat pertemuan para bangsawan adalah bangunan dengan besar setara istana Kaisar. Tetapi, tempat ini sekarang hanya menjadi puing dan bangunan hancur.


Malam itu gelap, beberapa bulan setelah serangan yang menghancurkan istana Kaisar. Sebuah guncangan dan ledakan yang terasa seperti akan memecah gendang telinga, terjadi saat tengah malam sesaat setelah penyerangan yang melukai Nio.


Dua jet tempur menebas langit, dan masing-masing menembakkan tiga roket. Keenam roket melesat dan terbang sangat cepat untuk menghantam gedung pertemuan para bangsawan. Ini merupakan bagian dari peringatan Pasukan Ekspedisi bagi Kekaisaran, agar tidak melukai prajurit mereka lagi.


Ini adalah misi pemboman yang dilakukan Grup Tempur 5. Namun, orang-orang yang tidak mengetahu hal ini, hanya menganggapnya sebagai pertunjukan dewa yang murka setelah gempa bumi. Karena dicekam rasa takut, orang-orang mulai menyebarkan desas-desus jika Kaisar pasti telah melakukan sesuatu yang menyinggung para dewa.


**


Nio adalah prajurit yang disenangi para pengungsi, dan kabar Nio telah dilukai membuat mereka cemas dan takut jika Nio mati atau lebih buruk dari itu. Jika Nio dirawat dengan teknologi pengobatan dunia lain, dapat dipastikan Nio sudah mati sebelum di baringkan di tempat tidur.


Beruntung, petugas medis memberikan pertolongan pertama kepada Nio agar darah yang keluar tidak terus berlanjut.


“Apa maksudmu dengan Tuan Nio yang terluka?”


Sigiz secara kebetulan sedang berada di ibukota negara baru, dan dengan cepat mendapatkan kabar jika Nio dilukai seseorang hingga kehilangan satu tangannya.


Sigiz merasa cukup baik setelah meninggalkan pekerjaannya demi melihat keadaan Nio sekarang, beruntung dia tidak mendengar jika Nio menjadi mayat. Jika Nio tidak disenangi banyak orang, tidak mungkin ada 500 orang yang menunggang kuda dengan tujuan menjenguk Nio berdatangan di benteng kura-kura. Apalagi sebagian besar dari mereka adalah bangsawan, yang sudah melihat Nio dan Regunya melakukan hal yang menakjubkan menggunakan senapan mereka.

__ADS_1


Setiap tindakan pastinya akan ada balasannya, jika Kekaisaran memang pelaku yang mengirimkan pembunuh bayaran yang mencoba membunuh tentara Pasukan Ekspedisi, bisa dipastikan seluruh wilayah Kekaisaran Luan menjadi bagian dari RI.


“Kakak, sudah berapa lama Tuan Nio tidak sadarkan diri?”


Arunika masih tidak menyukai Sigiz yang memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’, meski dia menilai jika Sigiz seumuran dengan dia. Dia dan Sigiz serta Lux melihat Nio yang masih tertidur dari balik jendela kaca. Tangan kanan Nio dipasangi alat agar lukanya mengering dengan cepat, dan mengurangi pendarahan.


Pertolongan pertama bagi anggota tubuh yang terpotong memang melilitkan kain pada bagian tubuh yang terpotong, namun itu tidak menghentikan pendarahan. Sementara Nio, dia hampir tewas saat tangannya yang terpotong hanya dililit menggunakan dasi milik Radit.


“Kira-kira sudah 3 hari Nio belum terbangun.”


“Kita harus menunggu dia sampai bangun berapapun lamanya, begitu?”


Arunika mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Lux yang juga nampak sedih, meski wajahnya terkesan datar dalam situasi seperti ini.


Sertifikat penghargaan dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan, serta beberapa hadiah dari orang-orang pemerintahan terus berdatangan, dengan harapan Nio segera sadar dan terbangun dengan selamat.


Tidak mungkin Nio hanya mendapatkan perawatan dan operasi gratis setelah menyelamatkan nyawa seseorang, ada sebuah hadiah yang akan mengejutkan Nio setelah dia terbangun nanti. Hadiah itu sangat mengejutkan Arunika, dan uang tabungan gabungan yang dia miliki dan milik Nio tidak akan bisa untuk membeli hadiah ini.


Mungkin benda ini bisa untuk membeli sebuah rumah dengan tanah seluas 10.000 meter persegi, jika Nio sadar dia akan lebih memilih rumah dan tanah tersebut daripada hadiah itu.


Arunika sangat kebingungan saat orang suruhan Presiden mendatanginya, dan menyuruh Arunika menandatangani sebuah ‘paket’ yang akan diterima Nio.


Hadiah ini akan siap dalam waktu beberapa hari kedepan, dan Nio diperkirakan akan sadar dua hari kedepan.


Kemenlu dan Kemenhan sepakat memberikan sedikit uang anggaran mereka untuk membuatkan tangan bionik militer untuk pengganti tangan kanan Nio.


“Jika kakak membutuhkan uang, saya siap memberikan sedikit uang saya.”


“Eh? Kalau itu tidak perlu.”


Arunika hanya bisa tersenyum kecut saat Sigiz membicarakan masalah uang dengan entengnya. Meski Arunika tahu jika Sigiz adalah seorang ratu, dan pastinya memiliki harta yang banyak, seharusnya Sigiz tidak berbicara seperti itu.

__ADS_1


Karena yang dibutuhkan Arunika terhadap Sigiz hanya satu, “Tolong jangan panggil aku kakak.”


“Tidak mau, saya sangat ingin menjadi adik anda di masa depan nanti.”


__ADS_2