Prajurit SMA

Prajurit SMA
Kesetiaan sialan


__ADS_3

Di dalam area terbuka Benteng Girinhi, suara tawa terdengar di tenda yang ditempati anggota pria Tim Ke-12. Tapi, sesaat kemudian, suasana kembali agak tenang.


“Apa?”


“Sanksi yang kau dapatkan tidak boleh kembali ke Indonesia sebelum masa penugasan di dunia ini berakhir?”


Pada awalnya, Bayu dan Ferdi tidak bisa mengerti apa yang baru saja dikatakan Nio. “Berapa lama masa penugasan di dunia ini?” pertanyaan itu tertanam di benak seluruh pria bawahan Nio.


“Letnan, hasil kerja kerasmu bersama pasukan Arevelk hanya itu?!” Hassan berkata dengan nada keras.


Tapi, tiba-tiba Hassan sadar, Nio memang pergi ke medan perang bersama Arevelk dan Yekirnovo untuk menangani pemberontak, namun hanya berbekal ijin darurat dan bukannya ijin resmi dari atasan. Hal yang sama pasti diberikan kepada komandan yang meninggalkan tugas utamanya, meski alasan yang digunakan adalah membantu sekutu yang kesulitan. Tetapi, bahkan jika yang Nio lakukan menyelamatkan Persekutuan dan Pasukan Perdamaian, lalu mendapatkan luka serius pada fisik dan mentalnya, apa atasan harus memberikan Nio sanksi seperti itu?


“Lalu, berapa lama masa penugasan kita di dunia ini?” tanya Arif.


“Di surat perintah, tidak dicantumkan lama penugasan kita di sini,” sambung Kaikoa.


Mungkin bagi mereka untuk menerima perintah berjuang di dunia ini bersama sekutu, namun ketidakjelasan tersebut membuat perasaan mereka resah. Negeri tempat mereka tumbuh dan berjuang, tidak peduli sekuat apakah negeri tersebut, apakah ‘mereka’ masih memiliki rasa kepedulian terhadap pejuang?


“Yah, kita tidak bisa merengek, memohon pada atasan untuk memberikan kejelasan lama penugasan kita di dunia ini.”


Nio menanggapi setelah menghela napas. Bukan untuk menenangkan bawahannya yang gelisah, namun sebagai bentuk simpati pahit.


Bima lalu menjawab, “Oke, itu mungkin. Tapi bagaimana denganmu, Komandan?”


“Maksudmu perintah tugas sebelum luka ku pulih? Santai, aku sudah terlalu banyak mengeluh tentang perintah tidak masuk akal para atasan, jadi aku tidak ingin merengek lebih banyak lagi.”


“Mereka memberi kita surat perintah untuk menjadi bagian Pasukan Perdamaian dan Persekutuan. Tapi, ‘mereka’ memanfaatkan tenaga kita tanpa memberi tahu akhir perang yang pasti. Tidak ada yang lebih rendah dari ‘mereka’.”


Nio memegang kepalanya, dan menggeleng karena panasnya situasi ini, bawahannya terlalu banyak berkata buruk tentang pemerintah dan militer. Dia masih bisa menerima perkataan bawahannya, namun menjaga moralitas diri sendiri dan bawahan jauh lebih penting. Beberapa hari lagi tim ini bersama Kompi Bantuan 002 akan dikirim untuk menjadi pasukan bantuan sementara di salah satu pos Pasukan Perdamaian di wilayah Garnisun Yekirnovo.


“Kita tidak bisa terus menyalahkan ‘mereka’. Sejak perang ini dimulai, apa mereka pernah tidak memberi kita senjata dan perbekalan jauh dari kata cukup? Setidaknya, kalian harus berpikir jika ‘mereka’ juga memikirkan perut dan keamanan kita, meski untuk beberapa hal tidak terlalu diperhatikan,” kata Nio.


Tentara Republik Indonesia Pelajar tidak memiliki batas masa bakti, dan akan diangkat sebagai prajurit TNI setelah 8 tahun mengabdi sebagai imbalan atas perjuangan mereka. Bahkan jika prajurit TRIP mati, keluarga akan menerima jaminan dan penganugerahan atas perjuangan prajurit yang gugur tersebut. Lalu, bagi prajurit yang ditugaskan di luar Indonesia, paling lama mereka akan pulang dalam waktu 1 tahun. Nio sudah lebih 1 tahun berjuang di dunia ini terhitung sejak pengerahan Pasukan Ekspedisi TNI.


Bagaimana dengan bawahannya? Begitu dia menyadari apa yang membuat para bawahannya berkata seperti itu, Nio merasakan sakit hingga ke seluruh tubuhnya.


Bawahan Nio yang sekarang tidak berjuang bersamanya ketika insiden Gerbang yang sempat tertutup, ketika serbuan tanpa henti Aliansi melelahkan fisik dan menguras mentalnya. Kebanyakan prajurit remaja TRIP tetap hidup hingga masa damai, namun menderita tekanan mental akibat perang. Dari sudut prajurit, seluruh tentara yang berjuang adalah pahlawan. Para prajurit muda itu cukup pintar menghindari bahaya untuk tetap hidup hingga akhir yang pahit.


Sempat terlintas pada pikiran Nio jika dunia ini adalah tempat pembuangan akhir, dengan dalih menjaga tanah air dari dunia ini alih-alih diperintahkan berjuang dari dunia asal. Dipaksa bertarung hingga kelelahan dan mati, dan mengirimkan bantuan dengan sangat terlambat.


Penyimpangan dari pikirannya itu membuat Nio menyesal, membuat kepalanya berputar. Dia berjuang untuk mempertahankan sesuatu, alih-alih berjuang dengan alasan dia tahu akan mati saat bertarung. Dia dan bawahannya di sini bukan untuk memenuhi bagian dari wajib militer yang bisa dilakukan secara terpaksa, tetapi perintah sebagai prajurit sesungguhnya.


Di sisi lain, pria-pria Tim Ke-12 menatap Nio kagum secara diam-diam. Mereka memiliki perasaan khusus terhadap atasan mereka, layaknya seorang maniak menyukai tokoh fiksinya. Seluruh bawahan Nio merasa gelar prajurit elit mereka tidak ada apa-apanya, karena Nio melebihi julukan tersebut, menurut mereka. Menjaga moral dan mental tetap stabil adalah hal yang sulit bagi mereka jika berada di posisi Nio. Mereka ingin mendengar cara Nio mencegah perang membuatnya gila.


“Pemerintah tidak pernah menepati janji mereka, kita semua tahu itu.”


Nio berkata dengan wajah yang tidak biasa. Bukan karena kondisi fisiknya sekarang, tetapi ekspresi yang tidak jelas menunjukkan ekspresi senang, marah, gelisah, menyesal, sedih, ataupun benci.


“Hanya terus berjuang demi sesuatu yang ingin dilindungi membuat kita bisa hidup hingga sekarang. Kita tidak bisa lari, bahkan memendam perasaan balas dendam terhadap musuh atas perbuatan mereka. Menolak perintah terdengar seperti ide yang bagus, tapi kita dilatih untuk tidak melakukan perbuatan hina itu.”


Hassan berkata dengan mata memejam dan mulut tersenyum.


Jika ini adalah masa ketika Indonesia hampir berperang melawan FPDA, perjuangan para remaja itu mungkin tidak seberat sekarang. Seluruh bawahan Nio memiliki tujuan yang sama sehingga menerima tugas berjuang di dunia ini, yakni menjaga keselamatan dan kehormatan keluarga, orang tersayang untuk dapat hidup layak dengan tenang. Para petarung muda itu tidak memiliki pilihan selain berpegang teguh pada kata-kata manis negara yang hanya berupa propaganda.


Semua orang tahu jika perbuatan tercela oknum-oknum tertentu di pemerintahan bersinar paling terang. Orang-orang tahu jika yang mereka lakukan hanyalah memberi makan ego busuk ‘mereka’.


“Kalian seharusnya memahami sesuatu,” ucap Nio.


“Apa itu, Letnan?” jawab Ferdi mewakili seluruh anggota pria Tim Ke-12 di tenda ini.


“Perang ini bukan balas dendam sampai salah satu pihak menyesali semua perbuatannya, sampai salah satu pihak bertekuk lutut dan meminta maaf. Memang, ‘mereka’ tidak tahu malu mengatakan jika perjuangan kita mulia, dan memanfaatkan kata ‘mulia’ itu untuk menaikan nama ‘mereka’. Persetan dengan apa yang terjadi di perang ini, kita harus membuat ‘mereka’ menyesal memanfaatkan kita.”


Nio yang tumbuh dengan baik dan bodoh, membuatnya tidak pernah memikirkan atau ingin membalas dendam. Balas dendam bukanlah hal sederhana, dan tidak akan selesai bahkan jika kau mengalahkan semua orang yang kau benci.


Nada suara Nio agak keras tanpa ia sadari, dan membangkitkan suatu pemikiran di kepala seluruh bawahan laki-laki-nya. Mereka sadar, jika perjuangan di sini harus mereka selesaikan, disaat ‘mereka’ memejamkan mata dan menutup telinga dengan apa yang terjadi di medan perang ini.


“Yah, selalu berprasangka jika semua orang di pemerintahan dan militer diisi orang-orang busuk, hanya menambah dosa,” ‘Tukang Martabak’ alias Yandi menyambung, sambil tersenyum tajam.


“Apa kita yang membunuh musuh tidak berdosa?” Yogi bertanya.


Yandi menatap ‘Pengajar’ alias Ferdi, dengan tatapan mata seolah-olah mengatakan, “Jawab pertanyaan itu! Aku tidak punya ilmu yang cukup untuk menjelaskan.”


Dengan terpaksa, Ferdi melayani permintaan Yandi, “Kupikir tidak. Karena, pada dasarnya berperang sama seperti memperjuangkan sesuatu, negara, harta benda, dan keluarga misalnya. Melawan musuh untuk mempertahankan sesuatu, hingga musuh terbunuh bukanlah perbuatan dosa. Yang merupakan perbuatan dosa adalah prajurit membunuh warga sipil tak bersenjata maupun non-kombatan, merusak dengan berbagai cara rumah ibadah dan properti milik sipil dan umum tanpa sebab. Malah, jika kita terbunuh karena mempertahankan dan memperjuangkan sesuatu dapat masuk surga.”

__ADS_1


Tatapan tenang satu-satunya mata Nio cocok dengan dirinya. Para anggota pria Tim Ke-12 melihat jika dia lebih gigih dari mereka.


**


Tim Ke-12 dan Kompi Bantuan 002 menerima pemberitahuan tentang misi khusus untuk membantu operasi patroli salah satu unit Pasukan Perdamaian di Garnisun Yekirnovo, dan mereka memulai persiapan dengan sungguh-sungguh. Menerima dan mengatur perlengkapan yang dikirimkan markas pusat untuk operasi, adalah tugas penting. Inspeksi rumit dari seluruh anggota tim dan persenjataan adalah tugas terakhir sebelum maju ke medan perang potensial.


Howitzer berat pesanan Kompi Bantuan 002 membuat sebagian besar prajurit Arevelk tercengang. Panjang laras yang melebihi tinggi tembok benteng, sekitar 20 meter, membuat para tentara membayangkan dampak yang dihasilkan jika senjata itu meledak.


Tugas mengecek persiapan tim dan perlengkapan dikerjakan oleh komandan masing-masing unit. Nio tidak bisa bekerja dengan leluasa, para gadis mengawasinya dengan sangat ketat sejak kedatangan mereka di sini begitu mengetahui dia telah kembali.


Hassan mengambil alih tugas dengan sukarela, berdiri di depan helikopter angkut besar untuk mengawasi pemuatan persediaan, dan melihat dengan tatapan iri komandannya yang diperhatikan banyak gadis cantik.


“Oh, karena komandan kami bertarung seperti orang gila, tolong tambahkan beberapa senapan dan amunisi tambahan, dan jangan lupa senjata tajam juga,” ucap Hassan.


“Hmmm, apa Letnan Nio sering merusak senapannya?” jawab salah satu personel kontingen Indonesia Kompi Bantuan 002.


“Tidak, hanya untuk jaga-jaga. Dia lebih sering bertarung menggunakan pedang dan pisau tarung. “


Prajurit tersebut menanggapi sungguh-sungguh jawaban Hassan, dan menyayangkan tindakan Nio yang tidak bisa memanfaatkan teknologi dengan benar. Bertarung dengan semua kemampuan dan senjata yang ada adalah kunci untuk terus hidup.


Di sisi lain, para gadis yang membuat anggota perempuan Tim Ke-12 iri menatap sedih Nio.


Edera menatap sedih Nio, dan berkata, “Berjanjilah, Tuan Nio. Bahkan jika kau berbohong, katakan padaku jika Anda harus tetap hidup hingga akhir semua perang selesai,”


“Maaf, tapi aku merasa tidak ada perang yang menjadi penutup semua perang.”


“Aku bersumpah pada Dewa Perang, Tuan Nio. Akhir Periode Perang Besar adalah perang terakhir di kedua dunia,” sambung Hevaz.


“Karena kau telah menjadi Prajurit Langit, kamu bisa memberiku perintah apapun, Tuan Nio,” kata Sigiz.


“Yah, kau adalah ratu, aku tidak bisa memintamu melakukan sesuatu tanpa perjanjian yang jelas,” jawab Nio.


“Aku menerima perintah untuk melayanimu mulai sekarang, Nio.”


“Kami yakin, kamu bisa memberi kami perintah yang menghasilkan kemenangan.”


Kedua perkataan dari Lux dan Zariv membuat Nio agak kebingungan, dan merasakan sedikit rasa gelisah. Dia menggaruk rambutnya yang belum dicuci selama satu minggu sebagai tanggapan jika dia sedang kebingungan.


“Tidak masalah apapun perintah Anda, kami, para Pembunuh Senyap akan menjadi prajurit setia Anda, Tuan Nio,” perkataan Huvu terdengar sangat meyakinkan, meski itu adalah fakta.


30 Pembunuh Senyap, termasuk Edera, Ebal, dan Huvu menundukkan kepala, dengan telapak tangan berada di depan dada, dan sebagian lagi memilih berlutut.


Nio sebenarnya sangat ingin mencegah mereka mengatakan semua hal yang membuatnya seperti raja sekarang.


Namun, bagi para gadis tersebut, mereka tidak memiliki cara lain sebagai permintaan maaf untuk luka yang diderita Nio sekarang. Rasa bersalah terbesar dimiliki Zariv dan Sigiz, karena mereka tidak waspada dan hanya fokus dengan lawan masing-masing, sehingga menyebabkan Nio terluka akibat Wyvern yang gagal terbunuh.


Pasti, sumpah setia yang mereka katakan tidak terbatas pada keinginan untuk berjuang bersama. Ada banyak hal yang ingin mereka sampaikan, tapi kesempatan belum berpihak pada mereka. Biarlah, karena akan tiba waktu yang lebih baik dan tepat untuk mengatakannya, menurut mereka.


Nio menghela napas, dan berjalan masuk ke dalam kabin helikopter angkut besar dengan diikuti seluruh bawahannya dan para gadis. Dia merenung, dan tidak dapat menghadapi pernyataan para gadis dengan jawaban yang ia miliki sekarang yang belum cukup.


Pemeriksaan terakhir selesai, dan penerbang helikopter angkut besar, serta tiga helikopter serang menghidupkan mesin kendaraan masing-masing. Begitu seluruh helikopter lepas landas, seluruh prajurit Tim Ke-12 dan Kompi Bantuan 002 menuju wilayah baru untuk membantu teman di sana.


Tidak peduli seberapa lama mereka bertugas di dunia ini, para prajurit memiliki kesetiaan sialan pada negeri masing-masing.


**


“Ini lelucon, kan?”


“Tapi, ini benar-benar nomor milik Nio…”


Ekspresi Lisa menjadi tercengang ketika melihat pesan yang diterima Arunika dari nomor telepon yang sama dengan milik Nio. Isi pesan yang buruk membuat kedua gadis tersebut curiga, meski mereka tahu jika Nio telah memasuki usia yang bisa melakukan aktivitas sek*sual.


“Lisa, tolong bantu aku. Sepertinya Nio sudah pulang, tapi pesan yang dia kirimkan sangat mencurigakan. Ini sama sekali tidak mengandung unsur kejutan. Dia tidak mungkin mengirim pesan seperti ini.”


Mata Lisa menatap dengan ekspresi simpati ke arah Arunika yang gelisah.


“Apa yang harus aku lakukan? Menemanimu ke hotel melati seperti yang ditulis Nio pada pesan itu?”


Jawaban Lisa terdengar sangat blak-blakan, seperti berusaha memancing Arunika untuk melakukan sesuatu.


“Aku tahu dia menyimpan banyak film dan gambar por*no. Tapi, dia tidak mungkin mengajakku melakukan hal itu secepat ini!”


Lisa menghela napas, berkata di dalam hatinya, “Apa dia menganggap semua hotel melati sarang asu*sila?”

__ADS_1


“Dan kau meminta bantuanku seakan-akan aku berpengalaman pada bidang itu?” kata Lisa.


“Anu…” Arunika seketika terdiam.


“Jangan anggap Nio mengajakmu ke hotel melati untuk melakukan kegiatan esek-esek.”


Lisa berkata dengan wajah kesal. Arunika menelan ludah karena terkejut.


Arunika ingin melakukan banyak hal bersama Nio jika pria itu kembali dari tugasnya, namun perkataan kakeknya meruntuhkan rasa percaya dirinya.


Nio belum mengirimi Arunika surat jika ia akan kembali, tetapi pesan yang ia terima adalah pertanda jika Nio sudah pulang. Dan, karena Nio sudah dewasa, Arunika merasa wajar jika Nio mengiriminya pesan singkat seperti itu, meski secara terpaksa harus mempercayainya. Itu lebih baik jika terus berpikir Nio berkencan dengan banyak gadis di negara tempatnya bertugas.


“Kamu akan membenci Nio jika dia akan melakukan ‘itu’ denganmu sebelum tiba waktunya?” suara lirih Lisa menggema di pikiran Arunika yang hampir kosong.


Setelah itu, wajah Arunika perlahan memerah, membayangkan kegiatan apa saja yang akan dia lakukan dan kekasihnya di hotel melati. Sayangnya, semua kegiatan yang Arunika bayangkan mengarah ke adegan dewasa, dan terlalu berbahaya untuk ditulis.


“Aku hanya perlu menemuinya kan? Aku akan menyerahkan semuanya kepada Nio, untuk bukti jika aku benar-benar mencintainya.”


Napas Lisa tersangkut di tenggorokannya, dan dadanya merasakan sesak akibat perkataan Arunika. Dia ingin mengatakan “Tidak”, namun karena dia menginginkan persaingan yang sehat, Lisa terpaksa melepas Arunika untuk melakukan yang dia inginkan.


Mereka berdua membuang gelas plastik kosong yang sebelumnya berisi minuman susu dengan tambahan bola-bola kenyal manis.


(olog note: author lupa nama makanan yang dibuat dari tepung tapioka dan gula merah itu)


Lisa memutuskan menemani Arunika ke tempat pertemuan yang tertulis.


Namun saat mereka baru beberapa langkah berjalan ke arah tempat tujuan, sebuah mobil berhenti.


“Cantik, apa kamu yang bernama Arunika?” pintu penumpang depan terbuka, dan memperlihatkan pengemudinya yang bertanya dengan wajah tersenyum.


Wajah pria itu bersih, tanpa bekas luka satupun, dan tampak dirawat dengan rutin sehingga lebih cerah dari prajurit lapangan biasa. Dia mengenakan pakaian dinas lapangan TNI AD, berpangkat Mayor, dan sedang tersenyum manis ke arah Arunika.


Arunika memperhatikan pria yang terlihat sedikit lebih tua dari Nio, dan merasa pernah melihat wajahnya. Dia telah melihat sejumlah foto pria yang ingin dipasangkan oleh kakeknya dengannya, dan semuanya adalah pria kaya. Jujur saja, Nio yang sekarang tidak lebih sempurna dari para pria yang diperkenalkan kakeknya padanya, jika dilihat dari fisiknya.


Hal keterlaluan yang bernama ‘penjodohan’ ternyata masih merupakan tradisi yang tampaknya harus terus ditegakkan, tanpa gangguan dari pihak manapun yang berpotensi menghalangi.


“Iya,” jawab Arunika singkat.


“Pesan dariku sudah kamu baca, kan?” tanya pria itu lagi.


“Jadi, kamu yang membuat Arunika gelisah hanya arena pesan ambigu itu?!” Lisa menyela, dan berbicara dengan nada tinggi serta wajah menakutkan.


Pria itu hanya mendengarkan kata-kata Lisa dengan tersenyum, dan membuka mulutnya untuk berkata:


“Apa nomor teleponku sama dengan milik orang lain?”


“Beneran, nih cowok nyebelinnya melebihi Nio! Gak bilang maaf enggak ngenalin diri pas ngirim SMS, atau apa kek!” Lisa berkata di dalam hati jengkel.


“Ya,” Arunika menjawab singkat, karena sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Kalau gitu, mau berangkat sekarang?”


“Emoh! (enggak mau!)”


Arunika menjawab dengan wajah jijik terhadap pria itu. Namun, perwira tersebut keluar dari mobilnya, dan berjalan ke arah Arunika, berdiri di depannya dalam jarak sangat dekat, lalu berkata, “Apa yang kamu katakan? Kakekmu sudah mengijinkanku memaksamu kalau menolak ajakanku.”


Wajah mengancam perwira tersebut memang membuat Arunika gentar, namun dia harus yakin jika itu hanyalah gertakan, layaknya suara kosong yang menyebalkan dari orang bodoh yang suka memaksakan kehendaknya.


“Kamu tahu, prajurit yang sekarat di dunia lain adalah Letnan Satu Nio. Mungkin sebentar lagi dia akan mati. Sebentar lagi, dia akan menjadi mantan pacarmu.”


Tanpa pikir panjang, telapak tangan Arunika melesat ke pipi perwira tersebut dalam kecepatan yang tidak bisa diantisipasi oleh pria itu. Bekas telapak tangan berwarna merah tercipta, membuat Lisa gemetar dan pria itu terdiam.


Mata Arunika menunjukkan ekspresi jijik lagi, itu karena kekesalan terhadap pria di depannya atas perkataan tanpa dasar yang tentu saja tidak akan dia percayai begitu saja.


“Kamu tidak punya rasa malu dan usaha untuk mendapatkan sesuatu. Kau hanyalah pengecut yang mengambil kesempatan ini,” kata Arunika.


“Heh, memangnya siapa si Nio itu?! Dia cuma prajurit bawahan yang mendapatkan perintah dari perwira atasan sepertiku.”


“Wajah dan perkataanmu menjijikkan, pergi dar sini,” perintah singkat dan datar Arunika membuat pria itu semakin kesal, dan menggenggam lalu menarik tangan gadis itu secara kasar.


“Yah, bagaimanapun, aku akan mendapatkan dirimu dari dia.”


**

__ADS_1


Tanpa perlu dijelaskan, pembaca seharusnya sudah paham arah kata 'mereka'.


__ADS_2