Prajurit SMA

Prajurit SMA
110. Bukan orang abadi


__ADS_3

Saat ini sedang dilaksanakan pertemuan para pemimpin negara anggota G20, dan beberapa pemimpin negara bukan anggota organisasi tersebut menjadi tamu undangan istimewa. Suroso juga mengikuti pertemuan yang dilaksanakan secara virtual ini, tetapi perkataan pemimpin negara lain membuat kesabarannya mendidih.


Tanpa perlu penerjemah untuk mengetahui makna perkataan pemimpin negara yang fasih berbahasa Inggris itu, Suroso mencoba mendinginkan kepalanya setelah pembicaraannya terkesan tidak dipedulikan.


Suroso menghela napas saat Presiden AS berbicara kepadanya. Seluruh pemimpin negara ditemani dengan Menteri Luar negeri mereka, termasuk Suroso, meski tugas utama mereka adalah menerjemahkan, namun presiden muda ini tidak memerlukannya.


“Kami tidak bisa menerima permintaan seperti itu. Kami tidak bisa menerima permintaan penempatan pasukan asing tanpa syarat di sana. Belum lagi, Indonesia masih belum bisa mempercayai Amerika Serikat setelah penyerangan pasukan anda di Irak baru baru ini.”


Suroso membalas perkataan Presiden AS dengan bahasa Inggris yang fasih. Dia mengambil kesempatan saat Presiden AS membalas perkataannya untuk meminum sebotol air mineral di depannya. Saat minum, Suroso hanya mendengarkan perkataan Presiden AS dengan ekspresi kosong.


Lalu, dengan wajah yang berwarna merah padam, Presiden AS menjawab perkataan Suroso dengan disaksikan puluhan pemimpin negara lainnya.


Jika diterjemahkan, pesannya akan seperti berikut:


“Kami tidak akan mentolerir fitnah jahat anda atas negara kami. Tindakan negara saya di Iraq untuk melindungi dunia ini dari perang nuklir! Menurut laporan pasukan AS disana, mereka menemukan puluhan hulu ledak nuklir yang siap diluncurkan ke negara kami! Tindakan militer kami di sana adalah perbuatan yang benar, dan kami tidak menerima kritik yang menjelekan kami seperti itu!”


Sambil tersenyum, Suroso berkata dengan tatapan ‘mengejek’, “Aku sedang bercanda,” dan Menteri Luar Negeri menoleh kearahnya. Dengan kata lain, perkataan Suroso benar-benar sedang mengejek lawan bicaranya saat ini, yakni Presiden Amerika Serikat.


“Tapi, ratusan hulu ledak nuklir ada di Amerika Serikat, itu hampir setengah dari hulu ledak nuklir di dunia ini. Dunia, khususnya Iraq bahkan tidak memiliki waktu untuk menyerang AS yang memiliki jauh lebih banyak senjata nuklir dari negara manapun.”


Perkataan Suroso disertai dengan nada yang agresif, yang membuat presiden AS memukul meja dan bangkit dengan kedua telinga berwarna merah.


“Itu adalah kebohongan media Barat!”


“Menyaksikan secara langsung dengan mata sendiri itu sulit dipalsukan, Tuan Presiden Amerika yang terhormat. Karena itu, kami dengan santai bisa menolak kerja sama pembangunan kapal induk dengan militer negara anda.”


Presiden Amerika Serikat memelototi pemimpin negara lain setelah Suroso selesai berbicara. Wajah ragu puluhan pemimpin negara membuat orang nomor satu di negara AS mengepalkan tangannya.


KTT G20 dan pertemuan bersama beberapa pemimpin negara lainnya ini diadakan untuk membahas ekonomi pasca-perang dan politik. Tentu saja, Gerbang yang muncul di Karanganyar, provinsi Jawa Tengah, Indonesia menjadi salah satu topik pembicaraan.


Insiden setelah perang selesai itu terjadi di Indonesia, jadi Gerbang seharusnya menjadi masalah Indonesia. Serta, mengelola Gerbang harus menjadi tanggung jawab Indonesia.


Namun, begitu negara lain mengetahui tentang sumber daya besar yang tersembunyi di dunia lain, negara lain mengabaikan dampak yang di bawa Gerbang, dengan kata lain perang, dan berfokus pada manfaatnya.


Setiap negara pada dasarnya mengatakan hal yang sama, “Jangan makan semua sendirian, berbagilah dengan kami!” Selain negara anggota G20, ada negara lain yang tertarik dengan Gerbang, seperti Asean, Liga Arab, Israel, negara-negara Oceania, dan lainnya.


Tentu saja, Indonesia tidak bisa menggelar karpet merah untuk negara-negara tersebut. Negara-negara tersebut tidak bisa menginjak-injak rumah orang lain dengan sepatu bot dan roda rantai berlumpur. Mereka harus mengatakan apa yang diinginkan, dan siap untuk menerima penolakan.


Sekarang, giliran Suroso untuk berbicara lagi.


“Insiden baru-baru ini, membuat seorang prajurit kami terluka dan kehilangan tangan kanannya. Kami mencurigai pihak yang membuat prajurit kami terluka, negara yang terus mengirimkan ancaman terhadap Pasukan Ekspedisi TNI, yakni Kekaisaran Luan. Semua yang militer kami lakukan di dunia lain penuh dengan resiko yang sangat besar. Itulah mengapa kami menolak permintaan tuan-tuan sekalian untuk ikut mengekspedisi dunia lain bersama TNI. Mohon ingatlah itu.”


Itu perkataan yang hampir mirip dengan yang dikatakan Presiden Korea Selatan, dan Suroso berharap tidak ada pihak yang tersinggung dengan perkataannya.


Lalu, dia melanjutkan perkataannya dengan waktu yang diberikan selama 10 menit.


“Sejak kami memutuskan mengirimkan 10.000 tentara ke dunia lain pasca penyerangan hari kemerdekaan, kami mencoba tidak melakukan kekejaman seperti penindasan militer terhadap warga dunia lain, seperti yang dialami warga Uighur dan Palestina. Faktanya, Indonesia telah mendatangkan pemimpin negara salah satu negara dunia lain, yang kini menjadi sekutu Indonesia, dan dia memberikan kesaksian jika yang dilakukan TNI di sana merupakan tidakan yang lurus. Kami sebenarnya mengijinkan negara manapun yang ingin mengunjungi dunia lain, namun dengan persyaratan yang harus dipenuhi.”


Itu adalah poin utama dari beberapa poin yang ditentukan untuk berbagai negara.


“pertama-tama, karena Gerbang tersebut berdiri di tengah Kota Karanganyar, setiap perjalanan ke dunia lain harus melewati Karanganyar. Namun, tidak ada negara yang mengijinkan militer asing bergerak di kota penting mereka, kami harap tuan-tuan sekalian mengetahui fakta itu.


Selain itu, saat memasuki wilayah Indonesia, tentara dari negara manapun harus mematuhi hukum negara kami. Indonesia memiliki hukum yang mengatur kepemilikan senjata api, senjata tajam. Pelanggar akan dihukum sesuai dengan hukum Indonesia.


Jika kami menemukan tentara negara asing di Karanganyar, mereka akan dianggap sebagai pelanggar, dan akan ditembaki oleh pasukan TNI, dan kendaraan yang mengangkut personel militer asing akan dihancurkan. Selain itu, kami akan mengenakan denda terhadap negara asal tentara yang melakukan pelanggaran, hingga 1 miliar rupiah per orang, jika terdapat bangunan atau fasilitas lain yang dirusak, denda akan bertambah sesuai dengan kerugian. “

__ADS_1


Saat suroso mengatakan poin-poin tersebut, wajah dari para pemimpin negara berubah menjadi berwarrna merah dan terasa kaku.


Hanya pemimpin negara sekutu utama Indonesia saja yang bisa tersenyum, yakni Presiden Rusia dan Presiden Korea Utara. Namun, milter kedua negara tersebut juga harus mematuhi hukum yang ditetapkan, sama dengan negara lain yang bukan sekutu Indonesia. Jadi, hingga saat ini tidak ada pergerakan militer kedua negara tersebut di wilayah Indonesia, dan kedua negara tersebut tidak merengek ingin memasuki Gerbang demi mencari sumber daya.


Kanselir Jerman dan Perdana Menteri Inggris tetap tenang, dan mencatat poin penting yang dikatakan Suroso lalu mengadakan diskusi kecil antara mereka bertiga.


Sebenarnya, Rusia dan Korea Utara sudah tidak ingin seperti Amerika Serikat dan negara sekutunya yang terus mendesak Indonesia agar militer negara asing untuk memasuki Gerbang. Namun, kedua negara berpikir akan kesulitan yang didapatkan saat memasuki pintu kecil Gerbang. Karena itu, Rusia dan Korea Utara memberikan dukungan kepada TNI dengan imbalan yang setimpal yang didapatkan dari dunia lain.


Perdana menteri Kanada dan Italia masih berdiskusi dengan orang-orang pemerintahan mereka. Dan negara yang menjadi masalah adalah Cina, yang kejam terhadap kaum minoritas di sana, dan mengklaim wilayah mereka secara sepihak, Israel yang militan yang mungkin jika diijinkan memasuki dunia lain akan melancarkan invasi.


Sama seperti ratusan tahun yang lalu, saat mereka menghancurkan sejumlah kekuatan untuk mengamankan hak-hak koloni.


Uni Eropa ingin membantu Indonesia dengan mengirimkan bantuan, tetapi Rusia dan Korea Utara lebih dekat dengan Indonesia. Hal itu membuat jalur pasokan mereka menjadi terputus, dan Uni Eropa masih khawatir dengan jalan politik Indonesia yang unik.


Selain itu, Cina ingin menyelesaikan masalah kelebihan populasi mereka dengan ‘mengekspor’ manusia-manusia Cina ke dunia lain. Dengan begitu mereka mengirimkan penduduk ke sana, Cina mendapatkan hak kendali atas wilayah yang diklaim dengan pasukan militer dengan dalih melindungi rakyat mereka. Tentu saja Indonesia dan sekutu tidak setuju dengan langkah ini.


Lalu, Presiden Prancis berkata dengan nada protes, “Kami merasa jika menembak tentara asing yang memasuki wilayah Karanganyar terlalu biadab, harap pertimbangkan peraturan tersebut.”


Suroso membalas perkataan Presiden Prancis, “Ditolak.”


“Maaf?”


“Kami menolak permohonan anda tersebut. Secara teknis, kami saat ini masih berperang dengan beberapa negara di sana. Jadi, apakah anda ingin tentara Prancis terluka di dunia lain yang barbar?”


Setelah Suroso mengucapkan kata-kata tersebut, pertemuan virtual ini berakhir. Namun, Presiden Rusia dan Korea Utara masih ingin melakukan pembicaraan enam mata dengan Suroso.


“Ini mengenai kerjasama pengembangan anggota tubuh bionik militer, apa prajurit anda menyetujui untuk menjadi orang pertama yang mencobanya?”


Ya, Rusia dengan teknologi militernya melakukan kerjasama dengan Korea Utara dan Indonesia mengenai anggota tubuh robot, atau lebih tepatnya melakukan pertukaran teknologi antara ketiga negara tersebut.


“Kami yakin dia akan menyetujui hal ini, tidak ada prajurit yang tidak mau untuk menjadi ‘prajurit super’.


**


Di tempat lain, Nio membuka matanya dengan perlahan karena merasakan kelopak matanya yang terasa berat untuk dibuka. Pemuda ini hampir 5 hari tertidur, dan baru tersadar siang hari ini. Dia pastinya melewatkan beberapa hal di dunia lain, termasuk misi pembebasan warga Indonesia yang diculik pasukan musuh.


Hal pertama yang dia lihat adalah wajah beberapa perempuan yang sangat dia kenali, lagipula tidak ada pria yang bisa melupakan wajah gadis-gadis cantik seperti mereka. Nio merasakan kepalanya yang sedikit sakit pada bagian atas, dan pandangannya menjadi buram.


Apa yang dulunya malam hari yang mencekam, kini Nio melihat beberapa gadis di ruangan yang terang. Nio menyadari jika dia berada di rumah sakit tanpa perlu bertanya, dan beberapa alat penunjang kehidupan masih terpasang di tubuhnya, termasuk pendeteksi detak jantung.


Nio merasakan tidak ada respon pada tangan kanannya, atau tepatnya dia tidak merasakan apapun di tangan sebelah kanannya. Dia melihat lengan baju yang berkibar tertiup kipas angin, yang menandakan tangan kanannya sudah tidak ada. Anehnya, dia tidak terkejut atau semacamnya. Karena sudah pasti hal yang dia lihat tidaklah salah.


“Kenapa kalian ada disini?”


Nio berkata seperti itu dengan nada panik, meski matanya untuk melihat masih terasa buram, namun wajah para gadis yang mengerumuninya masih bisa terlihat dengan tidak jelas.


Dengan pandangan yang buram, Nio menatap wajah seorang perempuan dengan wajah seperti kakaknya. Pandangannya yang buram saat melihat wajah perempuan itu, kemudian menjadi jelas saat perempuan itu mendekatkan wajahnya ke wajah Nio, hingga keduanya bisa merasakan napas satu sama lain.


“Kakak, jangan terlalu dekat dengan Nio!”


Suara seseorang yang berkata seperti itu terdengar tidak asing bagi Nio. Dia khawatir dengan keadaan seseorang yang memanggil kakaknya dengan sebutan seperti itu.


“Kenapa Ratu Sigiz memanggil kakakku dengan sebutan seperti itu?”


Nio berkata seperti itu di dalam hatinya, dan mencoba mencari-cari wajah kakaknya dengan pandangan yang buram ini.

__ADS_1


Lalu, pandangannya menjadi jernih kembali saat sesorang memakaikannya kacamata. Nio melihat jumlah perempuan yang berada di ruangan ini lebih banyak yang dia perkirakan tadi. Sementara itu, Nio melihat beberapa prajurit laki-laki menunggu di luar dengan wajah kesal terhadapnya.


“Nio…! Kukira ku kira kau tidak akan bangun….”


“Kalau aku mati, siapa yang mau melindungi mu, kak?”


Nio hanya bisa pasrah saat Arunika memeluknya sambil kedua bagian lembutnya menyentuh tubuh Nio, tepatnya dia menikmati kedua benda lembut tersebut meski ukurannya tidak terlalu besar. Pemuda ini punya firasat buruk tentang ini.


Ada dua orang yang menatapnya dengan tatapan kosong, yang berarti mereka berdua tidak terima jika Arunika memeluk Nio terlebih dulu dan mereka hanya mendapatkan sisanya.


Tapi, Nio merasa ada dinding besar yang membatasi dirinya dengan kedua perempuan anggun tersebut. Pastinya sangat sulit mendapatkan seorang ratu seperti Sigiz, dan jendral seperti Lux.


Nio menghormati Arunika sebagai kakak, dan dia masih ragu untuk melangkah untuk melewati hubungan itu. Jika dia menerima perasaan Arunika, orang-orang akan menganggap hal itu sebagai perbuatan yang tabu.


Tapi, yang paling Nio pikirkan adalah, “Siapa yang mau menerima orang cacat seperti ku?”


“Jika itu kamu, aku tidak membutuhkan siapa-siapa lagi Tuan Nio.”


Yang berkata seperti itu tadi adalah Sigiz, seakan akan tahu apa yang dipikirkan Nio. Perkataannya membuat Nio dengan cepat menoleh ke arahnya hingga kacamatanya miring. Lalu, orang yang berkata selanjutnya adalah Lux.


“Benar! Aku tidak akan melepaskan orang yang mengalahkanku begitu saja.”


Nio tampak terluka, sementara tatapannya masih begitu lemah meski perkataan seperti itu seharusnya membuatnya bahagia.


Namun, diruangan ini masih ada Herlina, Lisa, Nike, Tania dan Dina yang memasang ekspresi kebingungan. Sejak kedatangan Sigiz ke Indonesia, tidak ada perempuan yang tidak iri dengan kesempurnaan yang dimiliki gadis itu, termasuk mereka berempat.


Melihat si Ratu, si Jendral, dan si Kakak terlalu dekat dengan Nio, membuat mereka kehilangan ‘semangat’.


“Ah…, rasanya aku sudah mati saat itu juga. Lalu, dimana Edera?”


“Kamu!? Kenapa kau tahu kalau yang melukaimu adalah Edera?” tiba-tiba Lux terlihat panik.


Nio mengingat suara gadis kucing yang tiba-tiba muncul di depannya dan Radit, karena suaranya yang begitu mirip dengan milik Edera jadi Nio mengambil kesimpulan seperti itu.


Tapi, yang membuat semua orang heran adalah Nio yang begitu tenang meski salah satu gadis di yang paling dekat dengannya adalah pihak yang membuatnya kehilangan salah satu bagian tubuh.


Nio menggelengkan kepalanya, dan berusaha untuk menghilangkan ingatan gelap tersebut. Jika dia terus memikirkan hal itu, Nio merasa dirinya akan mengalami depresi kemudian menjadi gila.


Nio melihat Arunika yang duduk disebelahnya dalam kondisi kurang tidur, yang juga dialami semua gadis di ruangan ini. Arunika nampak menahan air matanya, dan tersenyum saat Nio melihat ke arahnya/


“Sudah kubilang, Nio tidak akan mati semudah itu.”


Dina adalah salah satu perawat yang membantu operasi hingga Nio sadar seperti sekarang, dan dia takjub dengan keberuntungan yang dimiliki Nio.


Nio merasa hatinya tertusuk dan berkata, “Aku ini bukan orang abadi loh.”


“Tapi, orang yang diramalkan wajib hidup lama!”


Mata seluruh orang di ruangan ini tertuju ke arah Lux dengan tatapan tajam, yang membuat suasana semakin tidak nyaman.


“Kenapa? Apa maksudnya kalau aku adalah orang yang diramalkan di dunia kalian?”


**


Tulis di kolom komentar mengenai “Apa yang terjadi jika Cina dengan rencananya yang ingin mengirimkan setengah penduduknya ke dunia lain?”

__ADS_1


#PrayforKRINanggala


__ADS_2