
Sudah lewat tengah malam sejak pengadilan berjalan kacau, memang tidak ada yang menyangka jika Pahlawan Amarah dan bawahannya diselamatkan ketika hukuman akan segera dijatuhkan pada mereka. Seluruh orang tentu saja terkejut dengan lenyapnya tawanan yang berhasil diselamatkan kembali, namun yang paling mengejutkan tetaplah aksi Nio yang dapat membuat sosok setingkat pahlawan tidak berdaya. Orang-orang bertanya-tanya tentang sosok Nio sebenarnya serta sekuat apa dia sebenarnya.
Sementara itu, di salah satu kamar penginapan, Jonathan duduk di tepi ranjang dengan Kambana yang dalam keadaan terlelap. Dia tenggelam dalam pikirannya mengenai apa yang dilakukan Nio pada ‘mantan’ sahabat mereka berdua.
Jonathan melihat sahabatnya, Nio, menghajar salah satu orang terkuat yang dimiliki Aliansi seperti sedang berkelahi dengan samsak tinju. Dia tetap tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan pemuda itu – yang membahayakan sang pahlawan dan Pasukan Perdamaian sendiri. Dia takut jika hal buruk menimpa Nio setelah membuat Pahlawan Amarah hampir sekarat. Jonathan merinding saat Nio tiba-tiba menendang kepala Rio dengan sangat kuat, dan bisa saja kepala si pahlawan tersebut pecah jika dia masih seorang manusia biasa. Suara kepala Rio yang membentur lantai dengan sangat kuat menggema, dan terus terdengar di pikirannya hingga malam ini. Dia tidak bisa membayangkan jika dia berada di posisi Rio, dan dia bisa merasakan apa yang Nio rasakan ketika memikirkan memperlakukan Rio seperti itu.
Dia bisa membayangkan apa yang sudah Rio lakukan ketika menyerang Kota Iztok, hingga dia dibuat babak belur dan hampir sekarat oleh Nio. Jonathan bisa merasakan kebencian yang sangat mendalam yang dimiliki Nio terhadap Rio ketika Pahlawan Amarah tersebut mulai berubah sejak berpihak pada Aliansi. Namun, dia sendiri berpikir mulai merasakan apa yang dirasakan Nio, yakni kemarahan dan kebencian terhadap Aliansi.
Tetapi, Jonathan merasa dia tidak sekuat Nio dan hingga sekarang hanyalah prajurit infanteri Tentara Pelajar biasa dengan sedikit kemampuan khusus. Menurutnya, jika peristiwa tersebut kembali, dan dia diharuskan bertarung dengan orang seperti pahlawan, dia merasa tidak akan mampu melakukan apa yang dilakukan Nio terhadap Rio – yang seorang Pahlawan Amarah. Sebenarnya itu bukanlah hal yang harus dipikirkan olehnya, tapi Jonathan merasa tetap harus memikirkan betapa lemahnya dirinya daripada Nio yang sekarang.
Jonathan merasa jika keberuntungan yang dimilikinya terlalu besar, faktanya dia dapat bertunangan dengan adik ratu Kerajaan Yekirnovo yang kini sedang tertidur di dekatnya. Sementara itu, dia merasa Nio belum memiliki pasangan hingga sekarang, tepatnya dia merasa Nio tidak peka ketika ada lusinan gadis dan wanita yang melirik ke arahnya. Jonathan merasa jika hal tentang pasangan untuk Nio bukanlah urusannya. Dia hanya berpikir posisinya sekarang, yakni sebagai salah satu personel Pasukan Ekspedisi yang dikirimkan kembali ke medan perang potensial yang disebut ‘dunia lain’. Jonathan diijinkan tinggal di Yekirnovo sebagai bukti jika Indonesia telah membangun hubungan yang terbuka dengan Yekirnovo dengan bukti seorang prajurit mereka yang bertunangan dengan adik ratu negara tersebut.
Karena hal itulah Jonathan merasa dirinya tidak akan berkembang jika terus menerus mendampingi Kambana, rapat bersama bangsawan pemerintahan Kerajaan Arevelk, sedangkan dirinya tidak memiliki waktu latihan yang banyak.
Ketika merenungkan hal itu, dia mendengar suara pekikan naga dan kepakan sayapnya yang tidak cukup keras, dan semua penghuni penginapan tidak terganggu dengan suara tersebut. Jonathan berhenti memikirkan hal yang membuat dirinya terbebani, dan tidur di samping Kambana yang tiba-tiba memeluknya sesaat setelah dia menyelimuti tubuhnya.
Di luar penginapan, terlihat pawang naga angin milik angkatan udara Kerajaan Arevelk memerintahkan tunggangannya terbang setelah menjemput seseorang. Kerajaan ini memiliki dua ratus naga angin, jumlah itu termasuk sangat besar mengingat jenis naga angin sangat langka dan terkenal sangat kuat. Pawang naga tidak berani menoleh kebelakang demi menghormati orang yang diperintahkan ratunya untuk dijemput.
Sementara itu, Nio terlihat berpegangan erat pada pinggang pawang yang mengendalikan naga tunggangannya. Dia tidak berpikir jika hewan fantasi yang ditumpanginya dapat terbang dengan kecepatan tinggi saat udara malam sedang dingin-dinginnya. Tapi, dia hanya mengenakan hoodie dan celana seragam hariannya serta sandal jepit untuk melindunginya dari dinginnya malam. Di lain sisi dia tidak berani menolak panggilan dari seorang ratu yang menguasai negara yang bernama Arevelk itu, karena dirinya telah menerima penghargaan dari Sigiz.
Nio berpikir jika tugasnya akan semakin banyak setelah menerima penghargaan dari Kerajaan Arevelk – yang membuatnya dapat mengelilingi negara ini sesuka hati tanpa memikirkan perbatasan, Zona Hitam, atau semacamnya. Dia telah menerima penghargaan yang membuat statusnya setara dengan bangsawan tinggi, bahkan lebih tinggi dari pangkatnya saat ini. Sementara itu, dia dan anggota Tim Ke-12-nya menerima janji dari Suroso berupa kenaikan gaji lima ratus ribu rupiah. Selain kenaikan gaji yang dijanjikan, Nio dan antek-anteknya mendapatkan hadiah masing-masing sepuluh keping ‘Valiki’ bagi bawahan Nio, dan dua puluh Valiki bagi orang yang berhasil melumpuhkan Pahlawan Amarah, Rio.
Valiki adalah nilai tertinggi pada jajaran keuangan Kerajaan Arevelk, yang berupa sebuah koin emas murni dengan campuran logam mulia super langka dunia ini. Diameter uang tersebut sekitar dua puluh centimeter dengan tebal sepuluh koin lima ratus rupiah yang ditumpuk. Nilai Valiki setara seratus mata uang emas biasa yang disebut ‘Kalipti’, sehingga bisa dikatakan bawahan Nio telah mendapatkan seribu keping emas dan dia sendiri mendapatkan dua ribu keping emas hanya dengan dua puluh keping Valiki.
Kadang-kadang, setelah mendapatkan penghargaan dan hadiah mewah, prajurit dari negara yang dibayar dengan ‘kertas’ bertanya-tanya setelah mendapatkan hadiah besar seperti itu, “Bisakah kita pindah negara dan menjadi prajurit di sini?”.
Ketika Sigiz memutuskan memberikan Tim Ke-12 hadiah sebesar itu, para bangsawan tiba-tiba bertingkah panik.
“Yang Mulia… tidakkah menurutmu memberikan orang-orang dunia lain ini sepuluh dan dua puluh Valiki itu sangat berlebihan?”
Tetapi, Sigiz dengan tenang menjawab, “Tentang itu, kalau tidak ada pasukan Tuan Nio, apakah kota ini akan dapat bertahan. Musuh dikatakan memiliki senjata yang mirip dengan milik pasukan Indonesia, Korea, dan Rusia. Dengan kekuatan kita yang sekarang, bisa saja ibukota direbut musuh.”
Kebanyakan bangsawan tingkat tinggi hanya memiliki satu hingga empat Valiki, sementara bangsawan rendah kebanyakan tidak memiliki satupun Valiki namun rata-rata memiliki kekayaan antara lima ratus hingga lima ribu Kalipti.
“Bukannya jumlah itu bisa membeli sebagian dari negara ini?”
Nio yang mendengar kalimat itu tentu saja sangat terkejut hingga kedua tangannya yang memegang kantung dengan isi dua puluh Valiki gemetar hebat, dan didalam hati berkata, “Apa aku sudah membuat negara ini hampir jatuh miskin?”. Sementara itu, dia melihat para bawahannya tersenyum lebar ketika memegang kepingan emas besar tanpa rasa bersalah.
“Bukannya lima puluh Valiki setara anggaran satu tahun kita, bahkan melebihi.”
Sekali lagi Nio berkata di dalam hati, “Gawat, aku benar-benar membuat masalah hanya dengan uang ini. Mungkin lebih baik aku mengembalikannya saja, lalu para bawahan ku saja yang mendapatkan hadiahnya.”
Semua harta milik bangsawan negara ini, jika dikumpulkan dan membuatnya menjadi Valiki, maka tidak akan terkumpul lima ratus Valiki. Dan berpikir memberikan dua puluh prajurit dunia lain masing-masing sepuluh dan dua puluh Valiki bagi komandan mereka, seluruh bangsawan bertanya-tanya, “Seberapa besar negara asal Nio dan pasukannya?”
Jika dilihat dari teknologi dunia ini, khususnya Kerajaan Arevelk, mereka mungkin masih menambang emas dan logam lainnya dengan tangan, menggunakan cangkul dan sekop tradisional. Bahkan dengan bantuan para monster dan manusia setengah monster, dan metode tambang mereka yang masih sangat tradisional, jumlah total emas dan logam mulia lainnya akan sekitar kurang dari sepuluh ribu ton per tahun.
Selain itu, bahkan Arevelk sendiri belum menemukan tambang baru dan cara baru mengelola tambang-tambang di negara tersebut.
Dengan begitu, dapat dikatakan Valiki adalah nilai uang Kerajaan Arevelk yang paling berharga. Sementara itu, Sheyn mendapatkan ilmu baru mengenai menentukan nilai mata uang di negaranya yang masih menggunakan mata uang biasa.
Jika Kerajaan sengaja memproduksi Valiki sebagai hadiah Tim Ke-12, itu akan menyebabkan inflasi dan membuat belanja negara menjadi sulit. Hal itu juga akan mempengaruhi nilai uang lainnya. Untungnya, Sigiz memberikan hadiah Nio dan bawahannya dari harta keluarganya sendiri, dan tanpa mengambil dari penyimpanan harta negara. Jadi hal yang dikhawatirkan seperti inflasi atau hal yang lebih parah dapat dicegah.
Jika Valiki yang dimiliki seluruh anggota Tim Ke-12 dibawa kembali ke Indonesia dengan nilai yang sama yakni sekitar seribu keping emas, dimana rata-rata satu keping emas di Kerajaan Arevelk memiliki berat seratus gram, lalu mereka menjualnya di sana, negara-negara penghasil emas terbesar seperti Amerika, Cina, dan Uni Eropa dan pemilik kekuatan nuklir lainnya kemungkinan besar akan meluncurkan senjata nuklir mereka ke Indonesia. Karena dua puluh prajurit Indonesia telah membuat pasar emas jatuh bebas, dan ekonomi seluruh dunia runtuh akibat mereka menjual Valiki.
Bahkan jika ada kemungkinan Aliansi menyerah, dan mereka akan mengganti rugi akibat kerusakan yang mereka perbuat, Nio berpikir bisa meminta mereka agar ganti rugi dengan nilai sama dengan satu juta Valiki – jika negara-negara anggota Aliansi memiliki nilai uang semacam dan bernilai sama dengan Valiki. Nio hanya mengikuti contoh negara tetangga dan sekutu setelah pertempuran. Jika ada kemungkinan Aliansi akan menyerah, Indonesia dapat meminta Aliansi memberikan ganti rugi sesuai dengan kerusakan yang mereka perbuat di Indonesia. Tentu saja uang ganti rugi akan digunakan dan diberikan kepada keluarga korban perang, di samping ganti rugi untuk amunisi, tenaga kerja, makanan, bahan bakar TNI ketika bertempur dengan bangsa dunia lain, dan prajurit yang gugur di medan perang ketika penyerbuan pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi.
Tetapi, Nio berpikir jika Aliansi tidak akan dengan mudah menyerah, dan itu adalah hal yang menyebalkan.
Ketika Nio membayangkan apa yang terjadi jika dia menjual satu Valiki dan dampaknya bagi dunia, pawang naga angin memberitahunya jika dia sudah tiba di halaman Istana Awan. Lalu, seorang perempuan pelayan Demihuman menghampirinya dan meminta Nio untuk mengikutinya menemui Sigiz.
**
Di lain tempat, seharusnya Sigiz sudah tertidur malam ini, namun dia belum tenggelam ke dalam alam mimpi dan duduk di balkon kamarnya yang berada di salah satu menara pada Istana Awan.
Tidak mungkin dia bisa tidur jika situasinya seperti ini, yakni terselamatkannya Pahlawan Amarah dari hukuman yang dia jatuhkan terhadap pria tersebut.
Dia telah memutuskan hukuman bagi Pahlawan Amarah dan bawahannya adalah dengan dikubur setengah badan hingga hanya menyisakan dada hingga kepala, lalu orang-orang akan melempari Pahlawan Amarah dan para bawahannya dengan batu hingga mereka mati. Hukuman tersebut sama dengan metode hukuman mati yang disebut dengan ‘rajam’, sementara di dunia ini hukuman seperti itu disebut dengan ‘jiza’. Metode tersebut akan menyebabkan terpidana tersiksa karena lempatan batu yang terus menerus, dan baru berhenti hingga mereka mati. Arevelk memberikan hukuman jiza bagi orang yang terbukti membunuh lebih dari lima puluh warga sipil tanpa senjata. Sedangkan Pahlawan Amarah dan bawahannya telah membunuh tujuh puluh delapan warganya yang tak bersalah.
Selain itu, setidaknya dia telah sedikit meringankan beban di pikirannya setelah memberikan orang-orang yang terlibat dalam menghadapi musuh yang menyerang kota secara tiba-tiba hadiah yang pantas. Akibatnya, hampir seluruh wilayah kerajaan-nya meminta untuk mengundang orang-orang tersebut ke wilayah mereka. Tentu saja Sigiz menolak dengan alasan keselamatan tamu adalah hal terpenting dari segalanya. Namun, yang menjadi berita utama adalah seseorang yang mampu melukai seorang pahlawan dengan begitu berani, meski ahirnya orang itu tetap terluka juga.
__ADS_1
Sigiz frustasi ketika mengetahui Nio terluka ketika menghadapi musuh yang tiba-tiba menyerang ibukota, sehingga menurutnya memberikan penghargaan untuk pemuda itu belum cukup. Selain itu, beberapa bangsawan tingkat tinggi di pemerintahannya menyarankannya untuk tidak hanya memberikan perwira muda Indonesia tersebut penghargaan setingkat ‘Lariq Sudor’. Setidaknya mereka ingin Nio tidak meminta imbalan setelah mempertaruhkan nyawa saat menghadapi Pahlawan Amarah.
Semua orang tahu jika melawan seorang pahlawan harus dengan kekuatan yang sama dengan besar kekuatan pahlawan yang dilawan. Tetapi, Nio telah membantahkan mitos tersebut, dan berhasil melukai Pahlawan Amarah – salah satu pahlawan terkuat – dengan ‘tangan kosong’. Meski pada akhirnya dia harus menerima perawatan karena luka yang dideritanya cukup parah. Kemudian, Nio menerima penghargaan ‘Lariq Sudor’ dari Kerajaan Arevelk dan diberkan kepada sang ratu secara langsung.
Balkon kamar Sigiz cukup tinggi dari tanah daratan melayang ini, sekitar dua puluh meter, sehingga dia bisa melihat ibukota dan wilayah-wilayah terdekat. Dia meminum teh terbaik yang merupakan hadiah dari pemerintah Korea Utara dan makanan-makanan ringan yang didapatkan dari minimarket yang berdiri di Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru. Dia menyukai biskuit yang enak-enak dan kue-kue kering yang sering disajikan ketika hari raya atau semacamnya, sesekali dia juga menikmati mi instan atas saran seseorang yang merupakan maniak mi instan.
Pakaian yang dikenakan Sigiz malam ini cukup terbuka, dengan bagian paha yang terekspos dengan jelas. Paha yang ditutupi kulit putih memantulkan cahaya dua bulan milik planet dunia ini, dan membuatnya terlihat mengkilap. Bagian dada pakaian juga tidak menutupi seluruh bagian tersebut, dan belahan gunung besar miliknya terlihat dengan jelas… dan tentu saja sangat indah.
Sigiz telah mendapatkan beberapa informasi mengenai Nio – dari hasil kerja sama ‘bawah tanah’, dan tentu saja tidak semua informasi tentang Nio bisa diberikan padanya. Berkat itu, dia mengetahui jika Nio diangkat menjadi perwira dalam usia cukup muda, sekitar dua puluh tahun, ketika kebanyakan perwira muda diangkat ketika berusia berusia dua puluh tiga hingga dua puluh lima tahun. Selain itu, informasi mengenai kesukaan Nio adalah hal yang membuatnya berpakaian terbuka seperti itu, meski dia tidak tahu istilah ‘film dewasa’ yang menjadi kesukaan Nio selain mi instan dan kopi dingin. Namun, informasi pribadi lainnya adalah hal yang sangat rahasia, sehingga Sigiz hanya mendapatkan informasi ‘kurang jelas’ seperti itu.
Sigiz terus membolak-balik buku tipis yang beberapa halaman berisi informasi tentang Nio yang sudah diubah ke dalam bahasa dunia ini.
**
Sementara itu, Nio berjalan dengan seorang pelayan perempuan Demihuman bertelinga kelinci.
“(Bersin)!”
“Tuan, apa Anda kurang sehat hari ini?”
“Tidak-tida, mungkin ada orang yang membicarakan ku.”
**
Salah satu menara istana tempat Sigiz memimpin negeri ini terlihat sangat terang dan indah, meski hanya diterangi dengan ribuan lilin kecil dan besar di seluruh penjuru ruangan. Beberapa penyihir telah menerangi beberapa ruangan penting dengan sihir ‘cahaya’, tapi itu hanya bertahan beberapa jam sebelum berubah menjadi gelap kembali.
Nio bisa melihat banyak barang dan perabotan mewah yang menjadi pajangan, dan mungkin berharga mahal jika dijual di Indonesia.
Sebenarnya, pengunjung istana seperti Nio harus diinterogasi terlebih dahulu oleh penjaga istana sebelum dapat memasuki istana. Tetapi, sejak dia tiba di tempat ini, tidak ada satupun penjaga yang menghalangi langkah Nio ketika dia berjalan dengan bangga di lorong melingkar menara istana.
Sesekali dia melihat beberapa lukisan realis tergantung ketika berjalan menuju ruangan Sigiz berada, dia menebak jika lukisan-lukisan itu adalah pemimpin-pemimpin Kerajaan Arevelk terdahulu. Beberapa penjaga yang berasal dari pasukan elit Arevelk berjaga, dan lebih terorganisir daripada sebelumnya.
Nio tetap tidak tahu apa yang Sigiz rencanakan padanya ketika hari masih tengah malam seperti ini, firasatnya sangat buruk hingga perutnya mual meski suasana ruangan sangat indah. Tetapi, dia melihat pelayan yang berjalan di depannya sesekali menoleh kebelakang, dan tersenyum manis seakan-akan ada sesuatu yang akan menimpanya. Karena ini bagian penting dari etika dan sopan-santun, dia tidak mungkin menolak permintaan dari seorang ratu untuk menemuinya, bahkan ketika malam. Nio merasa tetap harus bertahan hingga hal ini berakhir, meski Sigiz akan melakukan hal yang sangat berbahaya terhadapnya.
Kemudian, ketika pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu, dengan terpaksa Nio mengikutinya. Setelah itu, Nio membiarkan si pelayan membuka pintu yang entah ruangan seperti apa di baliknya, Nio hanya membayangkan jika di balik pintu adalah ruang takhta atau semacamnya.
Meskipun dia malam ini ingin segera tidur dan tidak ingin menerima panggilan dari Sigiz, dia merasa tidak bisa marah atau santai untuk sekarang.
Biasanya, dia hanya akan terbangun ketika tengah malam saat ada sinyal serangan mendadak atau pelatihnya tiba-tiba menyiram seluruh penghuni barak dengan air es. Sebenarnya, dia ingin tidur hingga besok pagi karena itulah waktu bagi Tim Ke-12 kembali ke markas sebagai pasukan terakhir yang kembali dari Kerajaan Arevelk. Bagaimanapun, ini terlalu malam untuk melakukan pertemuan dengan seorang ratu.
Saat Nio mengangkat kepala dan melihat sekeliling, hal pertama yang dia lihat adalah dia sedang berada pada sebuah ruangan yang cukup luas meski terdapat pada sebuah menara. Kemudian, di salah satu sisi ruangan terdapat sebuah tempat tidur lengkap dengan bantal dan selimut yang berukuran sepuluh kali dari besar tempat tidur di barak, dan mungkin tempat tidur tersebut mampu menampung hingga dua puluh orang. Cukup mengejutkan di ruangan seluas ini hanya terdapat sebuah tempat tidur.
Namun, Nio bertanya-tanya mengenai keberadaan nyamuk di istana ini. Padahal di Tanah Suci keberadaan nyamuk ‘dunia lain’ dangat mengganggu, dan lebih meresahkan dari nyamuk Indonesia.
Ada tiga jendela dan sebuah pintu besar di ruangan ini yang menghubungkan satu-satunya balkon pada kamar ini, dan memungkinkan bagi pemiliknya menikmati pemandangan di liar, dan di balkon ada kursi serta meja lengkap dengan hidangan.
Lalu, di kursi tersebut ada seseorang.
Dia mendengar suara renyah dari biskuit yang dimakan orang itu, serta cairan berwarna kecoklatan yang menandakan minuman tersebut adalah teh. Seorang perempuan sedang berendam di bawah sinar bulan, dan menikmati pemandangan di luar.
“Kenapa dia belum datang juga?~”
Orang itu berbicara dengan nada yang sensual, dan terdengar sangat menggoda.
Pipi orang itu memerah, kaki begitu ramping dan halus sehingga tampak seperti mendapatkan perawatan mahal di salon terbaik.
Orang yang duduk di sana adalah orang yang memanggil Nio ke menara ini, Sigiz.
Dia tidak mengenakan pakaian kenegaraan atau pakaian biasa yang dia kenakan untuk pertemuan, tetapi Sigiz mengenakan pakaian yang sangat terbuka. Tetapi Nio meyakini jika pakaian itu adalah pakaian biasa negara ini, dan tidak ada hubungannya dengan hal-hal lain. Rambut panjang berwarna kecoklatan gadis itu bergoyang tertiup angin, dan seluruh kulit di tubuhnya bersih. Ketika Nio memperhatikan Sigiz, dia merasa bahwa dia sedang memata-matai seorang gadis muda yang bersenang-senang sendirian. Namun, karena dia adalah remaja yang memimpikan dapat melihat tubuh bagus gadis sempurna, dia memperhatikan Sigiz dengan begitu semangat. Dengan begitu, perhatian Nio seperti telah disita, dan tidak pernah dilepaskan.
Tetapi, begitu Sigiz menyadari keberadaan Nio di kamarnya, pupil matanya seketika berubah menjadi cabul. Dia mengerang pelan dan manis, dan matanya yang tajam menatap dengan tatapan dewasa ke arah mata Nio. Dia sudah menunggu kesempatan ini, dan menggunakan kedok ‘melakukan pertemuan penting dengan Nio’ untuk melakukannya mendahului gadis-gadis yang lain.
Tidak ada orang yang mampu menolak keinginan Sigiz meski dia akan memberikan tubuhnya kepada seorang manusia biasa sekaligus perwira muda. Karena Sigiz merasa gugup, dia merasa erangannya tidak mampu membuat Nio terang’ang.
“Yah, aku akan melakukannya,” bagi Sigiz itu dapat digunakan sebagai pembuktian jika dia bersungguh-sungguh dengan perasaanya terhadap Nio, bahkan jika hal itu hanya digunakan sebagai hadiah semata.
Tetapi, dia tidak tahu pilihan yang pantas selain melakukan hal itu dan sesuatu yang dapat membuat Nio tidak menyesal sudah membantu Arevelk dalam menangani musuh hingga tubuhnya terluka. Sebagai ratu, dia telah mendapatkan banyak tekanan dari ayah dan beberapa orang untuk segera mencari pria dan memiliki penerus. Tetapi dia telah menolak ratusan lamaran dari pemimpin negara lain atau bangsawan tingkat tinggi negara tetangga, dia tidak ingin menikah karena alasan politik.
Menurutnya, menyerahkan dirinya kepada orang yang dia cintai bukanlah hal yang hina, tetapi hal itu menunjukkan betapa bersungguh-sungguhnya mencintai orang yang dia cintai. Meski Nio bukan seorang bangsawan atau ksatria berzirah besi yang diimpikan kebanyakan gadis, tetapi kelebihan-kelebihan pemuda itu telah dicatat dengan rapi di pikiran Sigiz sehingga membuatnya jatuh cinta seakan-akan surga telah menurunkan jodoh untuknya. Terutama dia adalah orang yang ditunjuk sebagai ‘orang yang diramalkan’ oleh ramalan yang diturunkan para dewa dunia ini. Dengan bukti turunnya seorang Utusan dan menyatakan diri sebagai pelayan pribadi, hal itu sudah menguatkan jika Nio adalah ‘orang yang diramalkan’ yang akan membantu salah satu golongan dua golongan dunia ini di masa depan.
__ADS_1
Sigiz berencana akan menggoda Nio dengan tubuhnya yang ‘lezat’ dan menumpulkan indera pemuda itu dengan aroma tubuhnya. Setiap gerakannya seakan-akan berkata, “Apa kamu menginginkanku? Apa kamu ingin memilikiku? Aku akan memberikan tubuhku kepadamu, tapi jika kamu menginginkannya, kamu harus memberikan dirimu kepadaku…” dan lain-lain. Dia akan menggoda Nio sampai pria itu menyerah lalu terjatuh dalam pelukannya, dan kemudian mereka berdua akan melakukan hal-hal hangat dan nikmat di ranjang yang harum.
Sigiz meletakkan kedua telapak tangannya pada dada Nio, lalu menggosoknya secara lembut. Wajah Nio yang kebingungan menambah hasrat Sigiz untuk segera mendorong pria itu ke ranjang, tubuhnya semakin panas meski di luar udara malam cukup dingin jika memakai pakaian tipis seperti yang Sigiz kenakan sekarang. Lalu, jari telunjuknya yang halus membelai bekas luka pada sisi kiri leher Nio, dan merasakan Nio sedikit menegang karena itu. Nio sadar dia tengah dalam bahaya, namun kakinya menolak perintahnya untuk bergerak melarikan diri dari monster berbahaya yang disebut ‘perempuan’.
Dalam fisik maupun kepribadian, Sigiz benar-benar perempuan idaman Nio, bahkan melebihi bayangannya. Tapi, pikiran pemuda itu berkata lain, karena ada seorang perempuan yang telah mengisi hatinya. Namun, matanya berkata lain, dia tidak bisa melepaskan pandangan dari tubuh indah perempuan di depannya. Lalu, kakinya mengkhianati dirinya, dan tidak mau menerima perintah mundur dari pikirannya. Tak jarang, tindakan tidak seperti apa yang dipikirkan, bahkan sangat banyak orang yang mengabaikan perasaan dan memilih tindakan langsung tanpa pikir panjang.
“Maaf, Ratu-,” kata-kata Nio terhenti ketika jari telunjuk pada tangan kanan Sigiz menyentuh mulutnya, seakan-akan memerintahkan dirinya untuk menutup mulut.
“Aku tahu, kau sudah memiliki Nona Arunika, bukan?”
“Kenapa kau tahu, apa kau punya sihir pembaca perasaan atau pikiran? Apa kau punya agen khusus yang memata-matai ku setiap hari?”
Mendengar jawaban Nio Sigiz hanya tersenyum tipis, namun tetap menggoda.
“Itu semua salah, Tuan Nio. Aku tahu, yang utama di hatimu adalah Nona Arunika. Kau tahu, aku tidak sembarangan untuk memilih pasangan, dan kau melebihi syarat untuk menjadi pasanganku. Bahkan jika kau akan menjadikanku kedua, ketiga, atau berapapun itu aku tidak masalah. Asalkan kau mau menerimaku juga, aku akan sangat bahagia, jadi…”
Pikiran Nio sebagian terpusat pada Sigiz yang berbicara seakan-akan ingin melamarnya, tetapi pikirannya yang lain teringat pada adegan pada novel dan komik fantasi Jepang yang pernah dia baca, dengan akhir yang dapat ditebak. Yah, dia tidak akan terkejut dengan apa yang akan dikatakan Sigiz setelah ini, karena Nio berpikir Sigiz akan memintanya untuk menjadi kekasih.
Selain itu, dia merasa gairah pada bintang film dewasa yang pernah ia tonton tidak ada apa-apanya dengan gairah yang dimiliki Sigiz yang sangat panas dan menggoda.
“… ayo kita menikah dan memiliki keturunan –.”
Tepat ketika Sigiz yakin dia sudah memenangkan pertempuran dengan hati dan rasa malunya saat mengatakan kalimat itu, dering HT dan getaran keras mengganggunya.
Itu mungkin yang disebut dengan istilah ‘plot twist’. Itu seperti menuangkan ember berisi penuh air dingin ke atas kepalanya, dan semua usaha Sigiz sia-sia.
“Apa itu?” tanya Sigiz dengan wajah datar namun pipinya tetap memerah karena menahan hasrat pada dirinya dan rasa malu yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Setelah itu, Nio menjelaskan pada Sigiz apa itu HT.
“Dasar benda tidak berguna yang tidak tahu bagaimana memilih waktu dan tempat yang tepat.”
Sigiz yang marah dan kesal menjauh dari Nio dan duduk di tepi ranjangnya, namun Nio ternyata memilih keluar dari kamarnya sambil berbicara dengan seseorang melalui benda kecil berwarna hitam tersebut. Dia menggigit bantal hingga isinya hampir keluar, lalu berguling-guling di kasur seperti anak kecil sambil menggerutu dan mengutuk semua teknologi yang membuatnya gagal mendapatkan hati Nio.
Di luar ruangan yang sempat membuatnya tersiksa, Nio berkata dalam hatinya, “Aku selamat”. Dia tidak mendengar apa yang dikatakan Sigiz di akhir kalimatnya, sehingga dia tidak tahu apa tujuan Sigiz mengajaknya bertemu di kamar gadis itu. Setelah napasnya terkendali, dia mengambil HT di saku hoodie-nya, dan berbicara pada orang yang menghubunginya, yakni Hassan. Dia diberitahu jika helikopter penjemput sudah siap berangkat, dan dia meminta Nio untuk segera kembali dan berangkat menuju markas besar tepat waktu.
**
Arunika sama sekali tidak berencana beristirahat meski dia baru kembali dari dunia lain, dan menyaksikan mantan adiknya yang kini menjadi kekasihnya – Nio, bertempur dengan musuh yang menyerang Kota Iztok dengan mendadak. Yah… dia sendiri tidak terkejut dengan serangan mendadak yang dilakukan musuh, tetapi melihat pertempuran dari dunia lain adalah hal yang baru bagi Arunika, Lisa, dan Nike.
Setelah pertempuran selesai, dia melihat Nio terluka namun tidak membahayakan pria tersebut. Dia sudah berkali-kali melihat Nio terluka, baik ketika berlatih maupun bertempur. Dia sebenarnya tidak menyukai akhir yang buruk, dan dia berharap hubungannya dengan Nio berakhir seperti itu hanya karena pria itu bertugas di medan perang potensial yang disebut ‘dunia lain’.
Satu-satunya teman Arunika selama Nio bertugas hanyalah Lisa, yang diminta oleh Nio untuk tinggal bersamanya. Tentu saja dia dengan senang hati tinggal bersama Lisa, meski itu tidak mengobati rasa sepi di hatinya. Dia tahu jika seorang tentara hanya akan mendapatkan jatah cuti sangat singkat, dan tidak sebanding dengan masa penugasan yang berbulan-bulan atau lebih buruk dari bertahun-tahun.
Dia tidak bisa tidak merasa sedih dan kesepian, dan hanya foto saat Nio berfoto bersamanya ketika upacara kenaikan pangkat seluruh prajurit Pasukan Ekspedisi beberapa waktu lalu pada latar belakang ponselnya yang menjadi pengurang rasa rindu akan keberadaan Nio. Tetapi, keberadaan lusinan perempuan yang menurutnya tertarik dengan Nio adalah rintangan yang tidak bisa dia abaikan.
Sayangnya, keberadaan dua ratu dari dunia lain yang dia ketahui bernama Sigiz dan Sheyn adalah rintangan yang mustahil untuk dia lewati. Status antara dia dan kedua perempuan itu terlalu jauh, dan kemungkinan guru kalah dengan ratu sangat besar mengingat rata-rata perempuan dunia lain cukup cantik dan menarik menurutnya. Bahkan, jika harus melawan mereka berdua agar tidak merebut Nio darinya, bagi Arunika rasanya bersujud dan mencium kaki saja tidak cukup untuk mencegah direbut darinya. Bayang-bayang seperti itu terus menghantuinya, tetapi dia sadar Nio masih menganggapnya seperti kakak dan bukan kekasih meski pria itu sudah menerima perasaannya.
“Kenapa kamu tidak segera menghabiskan sarapan mu? Apa yang kamu pikirkan?” tanya Lisa yang duduk bersama di meja makan.
“Ti-tidak. Aku hanya khawatir dengan dua ratu yang sepertinya sangat tertarik dengan Nio.”
“Yah, kurasa mereka berdua adalah saingan yang mustahil dilalui sih. Aku sendiri merasa mustahil mendapatkan Nio dari mereka berdua.”
Arunika hampir menyemburkan makanannya ketika Lisa mengatakannya hal itu, dan tentu saja Lisa sangat terkejut dengan sikap terkejut Arunika yang sangat berlebihan.
“K-k-k-ka-kau suka Nio?”
“Aku tahu dia sudah menjadi milikmu, tapi hubungan kalian masih sebatas pasangan kekasih. Jadi, tidak ada salahnya aku mencoba merebutnya darimu, kan?”
“Jadi ini pernyataan perang, nih?”
“Tentu saja, aku harap kau mempersiapkan diri.”
Bagaimanapun, yang Arunika bisa lakukan dari dunia ini adalah mendoakan keselamatan Nio agar dia dapat kembali hidup-hidup, meski hubungan mereka kurang jelas.
**
__ADS_1
Ini gambar asli.