
21 Oktober 2321, pukul 09.51 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, pagi hari.
**
Interior ruangan interogasi terlihat seperti yang ada pada film detektif. Ukurannya kira-kira 4x4 meter, ada sebuah meja dan dua kursi yang berhadap-hadapan. Kursi tersebut nantinya akan digunakan oleh interogator dan orang yang akan diperiksa. Ruangan ini kedap suara, dan ada sebuah jendela yang dipasangi jeruji. Jadi orang yang ada diluar ruangan hanya bisa melihat kegiatan orang yang ada didalam tanpa bisa mendengar apa yang mereka katakan.
Sheyn duduk di salah satu kursi sambil mencoba se-rileks mungkin. Dia telah berhasil membuat dirinya menahan tangis, namun itu cukup trumatis atas tuduhan yang tidak dilakukannya.
Karena interogator memperlakukannya seperti tersangka mata-mata, mereka seharusnya berbicara dengan penuh tekanan dan mengintimadasi saat menanyai Sheyn. Seorang interogator membaca buku kamus, mencoba untuk berkomunikasi terhadap Sheyn. Namun tetap saja, mereka masih membutuhkan tenaga penerjemah yang hebat.
Kemampuan interogasi militer tidak sehebat para anggota polisi, atau bisa disebut biasa-biasa saja. Namun, tidak mungkin menghadirkan pihak kepolisian sekarang hanya untuk menginterogasi satu orang saja.
“Hah, aku benar-benar tidak paham dengan yang dia katakan.”
Nada suara interogator menunjukkan ketidakmampuannya untuk menanyai dengan bahasa setempat, kemudian dia ingin memanggil orang yang benar-benar fasih berbicara bahasa lokal.
“Yah ini memang memalukan, aku tidak paham dengan yang dia jelaskan. Tolong panggil Peltu Nio ke sini.”
**
Begitu Nio masuk dan mendengarkan keluhan para interogator, dia menyelesaikan tugas mereka salam sekejap. Setelah mendengarkan penjelasan sesungguhnya dari Sheyn, diputuskan jika tuduhan jika gadis ini menjadi mata-mata itu salah. Kemudian Nio meminta maaf kepada Sheyn karena menyeretnya hingga menghadapkannya dengan masalah yang berat.
Maka, kasus yang dituduhkan terhadap Sheyn telah selesai. Agar tidak membiarkan kesempatan ini pergi, Sheyn memegang lengan baju Nio dan mengatakannya untuk mendengarkan tujuannya ke benteng.
Nio tidak bisa berpura-pura serius untuk mendengarkan penjelasan Sheyn yang menurutnya akan membuka pintu perdamaian dengan negara yang berperang dengan Indonesia. Dia yakin jika Sheyn berbicara langsung dengan menghadap Sucipto, pasti undangan ini akan diterima olehnya.
“Jadi, untuk membicarakan hal ini, anda ingin bertemu dengan pemimpin pasukan kami?”
“Iya, kami sudah mendengar kabar jika kalian sudah mendandatangani perjanjian perdamaian dengan Kerajaan Arevelk. Saya melihat jika anda adalah prajurit yang baik dan murah hati, jadi tolong ijinkan saya untuk bertemu pimpinan kalian.”
Tentu saja Nio tidak punya alasan untuk menolak permintaan Sheyn.
Setidaknya Nio sudah mengantongi identitas sebenarnya Sheyn, yakni seorang Putri Kaisar. Dengan begini, Nio yakin jika Sucipto tidak akan mengabaikan undangan penandatanganan perjanjian perdamaian dengan pihak yang terus berperang dengan Pasukan Ekspedisi.
**
__ADS_1
Sheyn menangis, karena Sucipto menerima undangan Kaisar untuk mengunjungi ibukota dengan acara pendandatanganan perjanjian perdamaian. Dia sangat bahagia, karena tidak membutuhkan pertemuan yang memakan waktu lama. Cukup menjelaskan tujuannya ke benteng dalam waktu 15 menit, setelah itu Sucipto langsung memberikan surat untuk Sheyn agar diberikan kepada Kaisar jika dia dan perwakilan Pasukan Ekspedisi akan menuju ibukota Kekaisaran.
Ya, undangan seperti ini memang tidak boleh ditolak, apalagi diabaikan. Jika perjanjian ini benar-benar terwujud, maka TNI bisa pulang ke tanah air untuk sementara sebelum kembali menjelajahi dunia lain, kata kerennya adalah para prajurit mendapatkan jatah ‘cuti’.
Namun, baik Nio maupun para perwira berpikir jika perjanjian ini ada maksud tertentu. Negara-negara kuat dunia ini mungkin akan menyerang Kekaisaran karena memutuskan untuk berdamai dengan TNI. Meskipun TNI Indonesia tak terkalahkan di dunia ini, mereka masih memiliki batas. Karena itu, untuk menjaga undangan perjanjian perdamaian ini, mereka harus memastikan jika tidak ada pihak yang mengacau.
Orang-orang elit politik lebih menyukai jika perjanjian perdamaian akan mengarah kepada ekonomi dan pertambangan. Itu sebabnya jika ada tawaran perdamaian dengan pihak negara dunia lain, pemerintah akan langsung menyetujuinya sebagai Pasukan Ekspedisi sebagai perantara.
Namun, pemerintah hanya menguasai area sekitar Gerbang dengan membuat benteng yang mengelilingi area seluas 10 kilometer persegi. Jadi tidak mungkin di dalam area tersebut terdapat bahan tambang, meskipun perunggu sekalipun.
Tentu saja tidak hanya perjanjian perdamaian saja yang akan ditandatangani, Sucipto bersama anggota parlemen berdiskusi untuk melakukan diplomasi terhadap pihak Kekaisaran selain melakukan perjanjian perdamaian. Salah satu isinya adalah mencantumkan beberapa hal untuk disepakati kedua pihak, contonhnya meminta seluruh pihak yang berperang dengan Indonesia untuk membayar ganti rugi dengan jumlah yang sepadan.
Jika negosiasi tidak berjalan lancar, pilihan terakhirnya memang harus menyerang Kekaisaran. Namun, demi menjaga reputasi TNI di dunia ini, pilihan tersebut diabaikan untuk sementara.
**
Sheyn menyeka air matanya yang keluar karena terlalu bahagia, sementara Nio hanya diam dan tak tahu harus melakukan apa. Tidak peduli apa tatapan orang-orang yang mengunjungi kantin terhadap Nio dan Sheyn, Nio mengaku jika dia tidak melakukan apa-apa terhadap gadis ini hingga menangis.
Sheyn sudah lama tidak menangis karena bahagia, karena selama ini dia terus menangisi hal-hal buruk yang menimpanya. Karena itu, dia tidak ada waktu untuk menyantap mi ayam dan harus segera memberitahu ayahnya tentang hal ini.
Sebenarnya Sheyn tidak keberatan memberikan apapun kepada Nio setelah membantunya mendapatkan persetujuan dari Sucpto untuk melakukan perjanjian perdamaian. Dia menerima banyak bantuan dari pria ini, dan dia lupa untuk berterimakasih.
“Terimakasih untuk segala bantuan yang anda berikan pada saya. Bagaimanapun perdamaian adalah hal yang penting untuk keberadaan Kekaisaran.”
“Ya, meminta ijin bukanlah masalah yang besar. Sebenarnya mencari cara untuk berdamai dengan Kekasaran sangat sulit, kerena mereka terus mengirimkan pasukan untuk mengusik kami.”
Lagipula, Sheyn membawa beberapa hal untuk diberikan jendral pasukan ini jika dia menolak permintaan Sheyn untuk melakukan perjanjian perdamaian dengan Kekaisaran. Namun, ternyata pasukan ini tidak menerima suap dalam bentuk apapun, bahkan dalam bentuk wanita yang menggoda. Mencoba menggoda prajurit pria pasukan ini hanya akan membuang waktu.
Melakukan perdamaian memang sangat sulit, karena perdamaian hanyalah awal untuk perang selanjutnya. Daripada membuang waktu hanya untuk melakukan hal ini, beberapa pihak lebih menykai untuk terus berperang hingga salah satu dari mereka hancur.
Jika Sucipto enggan untuk menyetujui undangan Kaisar untuk perjanjian perdamaian, Sheyn akan kembali ke Kekaisaran dalam keadaan menanggung malu yang besar.
**
Masalah yang ada adalah keberadaan Kekaisaran Luan. Negara ini harus masih terlihat kuat setelah mengalami banyak kekalahan dalam perang. Sudah sangat lama Kekaisaran mendapatkan gelar negara adidaya di Benua Andzrev, namun kedatangan TNI merubah segalanya.
__ADS_1
Memprovokasi sebuah pasukan untuk melakukan perang memang sebuah perkara yang mudah. Dan hal itu sudah dilakukan pasukan Kekaisaran untuk ‘menyambut’ pasukan hijau yang sebentar lagi akan mengunjungi ibukota untuk melakukan perjanjian perdamaian.
Sebenarnya, Kaisar yakin jika pasukan hijau tidak akan mau menerima undangan Sheyn untuk melakukan perjanjian perdamaian. Namun, tanpa diduga Bogat mengatakan jika pasukan hijau terlalu bodoh, sehingga mereka menyetujui melakukan perjanjian perdamaian palsu.
Meskipun Kekaisaran telah mengalami banyak kekalahan dalam perang melawan pasukan hijau, namun mereka ternyata masih memiliki tekad untuk berhadapan lagi dengan tongkat baja hitam panjang pasukan tersebut sekali lagi. Tak heran, fraksi perdamaian sudah bosan untuk memberitahu Kaisar jika perang ini adalah hal yang sia-sia.
Seluruh jalanan ibukota dihiasi dengan pernak-pernik yang berfungsi sebagai penyambutan. Dan juga telah dibangun sebuah panggung yang akan digunakan sebagai ‘pergelaran’ yang akan di saksikan perwakilan pasukan hijau yang mengunjungi ibukota.
Sebuah kurungan besi yang diangkut menggunakan gerobak kuda berhenti di depan panggung, kurungan tersebut di tutupi kain yang berhias bercak darah. Jika dilihat dari ukurannya, kurungan tersebut difungsikan sebagai kurungan para budak yang hendak dijual.
Pengemudi gerobak kuda terpaksa melakukan hal ini, meski para budak yang dia bawa terus meneriakan kata-kata dari bahasa yang asing. Sebagai orang baru, dia terpaksa melakukan pekerjaan ini demi mempermulus jalannya rencana Kaisar dan bangsawan fraksi militer.
Melihat jika Kekaisaran adalah sebuah bangsa yang sangat suka menantang negara lemah untuk berperang, itulah mengapa mereka tidak akan berhenti berperang hingga menang.
Kekuatan mereka tidak hanya dari pasukan yang tersisa dan beberapa suku monster. Pasukan sekutu mereka juga telah didatangkan. Raja Lukav dari Kerajaan Hrabro juga datang di Kekaisaran setelah mendapatkan berita mengenai rencana yang Bogat buat. Lukav datang dengan dalih sebagai ‘tamu undangan’.
Terdapat 10.000 prajurit Kerajaan Hrabro dan 50.000 prajurit campuran Kekaisaran Luan yang disiagakan di seluruh sudut ibukota Kekaisaran. Lagipula, hanya kedua negara tersebutlah yang masih ingin berperang untuk merebut kembali Gerbang.
Sementara Kerajaan Sirds, Biez, dan Salodki memilih untuk mempersiapkan perjanjian perdamaian ‘asli’ dengan pasukan penguasa Gerbang. Mereka ingin mengikuti jejak Kerajaan Arevelk yang sukses melaksanakan perjanjian tersebut.
Sebenarnya, hampir setengah negara di dunia ini telah mengetahui kedatangan pasukan dunia lain setelah terbukanya Gerbang sempurna. Namun, seluruh negara tersebut memilih untuk diam, agar mereka tidak merasakan apa yang dirasakan Kekaisaran Luan.
Keputusan Raja ketiga kerajaan tersebut telah bulat, dan tidak ingin lagi terlibat dalam perang melawan pasukan hijau itu.
Dalam melaksanakan rencana Bogat dan bangsawan fraksi militer, Raja Lukav memiliki kepercayaan diri mendapatkan kemenangan untuk membalas dendam terhadap pasukan hijau yang hampir menghancurkan pasukan gabungan lima negara. Dengan bertempur di wilayah ibukota Kekaisaran, mereka memiliki keuntungan, yakni medan yang mereka rasa pasukan hijau tidak kuasai.
Dengan memanfaatkan benteng alam, dan sungai besar yang dapat digunakan sebagai parit raksasa, beberapa hari lagi kapal perang pasukan Kekaisaran akan melintas dan akan digunakan sebagai kapal bantuan tembakan.
Jika aliansi Luan dan Hrabro tak mampu menerima kekalahan, para sejarawan mereka siap untuk menuliskan nama mereka sebagai negara dengan pembuat keputusan militer terburuk di dunia.
Sebagai Kaisar, Bogat berusaha menjaga agar Luan masih tetap utuh di Benua Andzrev. Harus diakui, keputusannya bertempur di ibukota Kekaisaran adalah pilihan yang tolol.
Lagipula, tidak ada pelatihan yang diterima para pasukan di ibukota untuk melakukan pertempuran di tengah kota. Semuanya berharap jika seluruh pasukan bisa bertempur dengan berani hingga meraih kemenangan atas pasukan hijau tersebut. Ya, mayoritas jendral pasukan ingin pasukannya bertempur di tengah kota dengan teriakan penuh keberanian.
Tanpa perlu dijelaskan lagi, kini pasukan yang disiapkan di ibukota telah tersusun rapi sesuai rapat strategi kedua negara. Semua orang tahu jika pasukan hijau terlalu kuat untuk dikalahkan, bahkan konon mereka tidak dapat disentuh.
__ADS_1
Namun, rencana ini telah selesai dibuat. Para budak yang berasal dari negara asal pasukan hijau telah disiapkan untuk dibunuh di atas panggung. Para pasukan hijau direncanakan akan menyaksikan pertunjukan ini dari tempat duduk mereka. Dengan ini, aliansi Luan dan Hrabro berharap moral mereka jatuh dan daya tempur mereka turun.