Prajurit SMA

Prajurit SMA
Perang batin: mengobrol dengan dokter 1


__ADS_3

Nio membuka matanya sedikit saat mendengar suara gaduh dari rumah sebelah, kediaman Nike. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar berwarna putih. Dalam mimpinya semalam dia dikejar anjing pemburu. Dia berusaha melarikan diri dengan putus asa, tapi anjing pemburu itu akan menerkamnya.


Nio bangun dengan keringat dingin mengalir di wajahnya, dia memutar kepala untuk melihat ke sekeliling kamar. Dia sendirian di kamar dan di rumah. Para gadis, termasuk Zefanya pergi ke rumah Nike ketika mereka merencanakan sesuatu pada gadis itu. Suasana sepi memenuhi rumah pada pagi hari, tentu saja Arunika sudah pergi bekerja.


Dia merasakan perutnya mual karena seharian tidak makan, dan askit kepala yang menyerangnya. Nio berjongkok di depan jendela ruang tamu.


Melihat ke luar jendela yang bening, para tetangga sedang beraktivitas seperti biasa. Dia bisa mendengar para ibu-ibu membicarakan para gadis yang tinggal di rumahnya saat berbelanja di penjual sayur keliling. Gosip para kaum ibu bisa menjadi sumber informasi penting bagi pihak lain, namun Nio membiarkan mereka selama tidak merugikannya. Dia berbalik, dan merasakan kelopak mata kirinya terasa lebih berat daripada saat dia mengantuk. Mual yang dia rasa semakin parah. Melihat waktu di ponselnya, jam menunjukkan pukul 8 pagi. Dia baru tidur setengah jam sejak kemarin.


Karena belum makan apapun sejak kemarin, kecuali cilok yang dia beli bersama Edera ketika berbelanja, Nio merasakan perutnya perih. Tapi, dia sedang tidak ingin memasak untuk hari ini. Dengan penglihatannya yang kabur dan kepalanya yang berputar-putar, Nio berjalan seperti orang mabuk ke lemari es dan menemukan sebotol air mineral penuh dan meminumnya sampai habis. Dia tersedak, dan hampir muntah setelah menghabiskan isi botol air mineral. Dia kemudian mengunyah beberapa timun dan tomat seperti orang kelaparan parah. Nio sepenuhnya sadar dengan apa yang dilakukannya saat ini seperti orang barbar.


Setelah merasa dirinya terisi energi, Nio berjalan ke kamar Arunika dan para gadis untuk mengambil pakaian yang berserakan. Tidak seperti Nio yang bahkan mengganti pakaian tiga hari sekali, para gadis memiliki banyak pakaian mode terbaru. Mereka suka memamerkan pakaian terbaik masing-masing, dan berpose di depan Nio dengan ekspresi menggoda – kecuali Arunika dan Nike – sambil berkata, “Apa aku lucu, imut?” atau “Siapa yang akan kau ajak ‘bermain’ malam ini?” Tentu saja Nio lebih memilih pergi ke angkringan terdekat daripada melihat pemandangan yang menguji imannya.


Nio mengambil kotak obat yang dia simpan di laci meja kerjanya. Di dalamnya ada pil berwarna biru. Menyadari dia belum meminum obatnya, Nio mulai gelisah. Tidak ada yang akan terjadi jika dia melewatkannya satu atau dua hari, tetapi jika dia tidak meminum obat lebih dari empat hari, tingkat kecemasan dan gelisah akibat melalui banyak pertempuran akan secara bertahap meningkat dan membuatnya menderita.


Butuh beberapa jam hingga efek pada obat bekerja. Itu sebabnya Nio tetap merasakan gelisah saat dia mengingat pertemuannya dengan Darsono.


“Brengsek!” kata Nio dan mencengkeram kepalanya dengan kuat dengan tangan kirinya.


Sebelum perang, dia dan Arunika setiap hari pergi dan pulang ke sekolah bersama, dan ketika pulang mereka berdua akan jajan atau memasak bersama di rumah. Meski Nio tahu gaji beserta tunjangan yang diterima Arunika tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari, dia berusaha bersikap biasa. Hingga dia akhirnya menyadari keluarga Arunika sering memberi bantuan. Arunika cukup kritis terhadap semua perbuatannya, dan selalu memotivasi untuk menjadi lebih baik.


Tapi, kehidupan itu telah hancur berkeping-keping. Seseorang mengambil keluarganya, dan hanya keberadaan kekasih serta teman-temannya saat ini yang mampu mengurangi sedikit kemarahan dan sedih yang ada pada hatinya. Dia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan hari ini. Dia dan bawahannya mendapatkan kelonggaran dalam bekerja satu bulan lebih lama, meski dia tidak bisa meninggalkan misi membantu tim jurnalis.


Kehilangan motivasi untuk bekerja, Nio menuju markas Kompi 406-32 di kota bawah tanah. Dia membuat laporan dan rencana melatih anggota kompi untuknya setiap hari, tetapi dia dengan tenang memanfaatkan waktu liburan yang benar.

__ADS_1


Ketika dia melewati berbagai proses sebelum memasuki kota bawah tanah, dia akhirnya mendapatkan ijin. Mayor Herlina pergi ke Markas Besar ketika mereka menerima berita tentang adanya penyihir yang membuka Gerbang Tak Sempurna tanpa ijin, dan menyebabkan keluarnya puluhan tentara Aliansi yang melakukan penyerangan tiba-tiba. Dokter kota bawah tanah, Dini, baru saja keluar dari ruang operasi rumah sakit kota bawah tanah. Ratu dokter bawah tanah itu tersenyum ke arah Nio, dan membuang penutup kepala serta maskernya ke tempat sampah sebelum memakai kembali jas putihnya.


“Kau baru selesai melakukan operasi?” Nio bertanya.


“Ya. Dini hari tadi, seorang anggota kompi hampir mati saat dia diserang seseorang saat melakukan patroli. Menurut pengakuannya, seorang perempuan lah yang menyerangnya. Luka yang dia terima berasal dari serangan senjata tajam, dan sangat dalam. Sepertinya ini termasuk tindakan ter*or.”


Dini menjawab dengan ekspresi tidak menyenangkan. Aromatik yang ada di penjuru ruangan hanya berfungsi untuk menenangkan pasien dan menutupi aroma darah dari ruang operasi yang Dini sebut sebagai ‘kamar’.


“Kamu terlihat tidak baik-baik saja. Tapi, kuharap kamu datang ke sini bukan karena mentalmu terganggu,” kata Dini.


Nio berdiri di depan rak buku yang ada di ruang kerja Dini. Perempuan itu seorang maniak buku, dan dia menjejalkan ratusan buku di rak, hingga beberapa buku berserakan di lantai karena tidak tertampung. Nio tidak yakin apakah Dini adalah tipe orang yang membeli buku yang telah membuatnya tertarik, dan membuat rak bukunya penuh. Tetapi, salah satu buku milik Dini yang berjudul ‘Shell Shock: menangani tentara gila’ membuat Nio memasang ekspresi takut. Bukan karena sampul buku yang menampilkan ilustrasi seorang prajurit dengan senyum gila, tapi dia takut jika sindrom penyakit mental itu dideritanya.


“Kau benar-benar menganggapku sakit mental, Dokter,” ucap Nio.


“Sulit membuat mental terjaga di pertempuran. Apalagi, banyak komandan berlomba-lomba meraih target dan banyak kemenangan meski mengorbankan bawahannya. Tentu saja demi naik pangkat dan diakui sebagai pahlawan. Stres tidak bisa dihindari.”


Dini tersenyum kecil, “Memikirkan target memang penting, salah satunya target pekerjaan. Melakukan aksi lebih baik daripada sekadar berkhayal membayangkan kemenangan tiba-tiba didapat tanpa keluar usaha. Kalau punya target hanya melaksanakan masa tugas hingga hari penarikan, tidak ada bedanya dengan orang tanpa tujuan. Tanpa target, orang akan sangat mudah kehilangan motivasi melakukan sesuatu, tapi terlalu termotivasi bukanlah hal baik. Yang paling dibutuhkan adalah dedikasi. Walaupun kamu tidak mau, walaupun kamu melakukan pekerjaan meski tanpa semangat, itulah dedikasi. Kamu tetap memaksakan diri untuk berkerja, meski kamu merasa lelah. Tapi, karena kamu punya dedikasi, kamu tetap mematuhi perintah dan mengabaikan kondisi dirimu yang tanpa motivasi atau suasana medan perang yang seperti neraka.”


“Aku nggak paham…”


“Jangan pura-pura tolol atau aku akan membedahmu tanpa anastesi.”


“Aku paham, jadi tolong jangan lakukan itu, Dok. Intinya, kalau aku tidak punya dedikasi, meski aku punya banyak motivasi, aku tetap akan mati?”

__ADS_1


“Ya, seperti itu. Jika kamu punya motivasi yang tepat, seperti ingin segera menonton bokep terbaru, itu bagus. Tidakkah itu kedengarannya memang motivasimu?”


“Jangan bicara tentang itu!” Nio memasang ekspresi jijik saat Dini membicarakan kebiasaan lamanya yang sangat sulit ditinggalkan. Mengapa orang-orang selalu berbicara dengan nada menggoda saat orang lain punya kebiasaan menonton video dewasa?


“Aku hanya bercanda, jangan dianggap serius, dasar kaku. Aku tidak mau kamu kehilangan motivasi. Omong-omong, aku dengar kamu dapat tawaran untuk jadi bagian proyek Tentara Super selanjutnya.”


“Tidak, aku tidak tahu itu. Bagaimana kau bisa tahu, Dok?”


“Ya, karena aku pernah membantu operasi pemasangan tangan bionikmu dulu, salah satu perusahaan pertahanan menghubungiku apakah target akan menerima tawaran itu.”


“Aku masih ragu-ragu menerima tawaran penuh risiko itu.”


“Kenapa kau ragu-ragu? Perusahaan yang kini menyempurnakan proyek Tentara Super secara mandiri adalah perusahaan pertahanan swasta terbesar di Indonesia, kan?”


“Ya, aku tahu. Tapi, aku hanya belum siap menerima jika setengah bagian tubuhku akan diganti dengan mesin. Jika sistem tiba-tiba eror, mungkin senjata pada tangan bionik akan menembak sendiri atau lebih buruk lagi meledak dan menghancurkan tubuhku…” Nio menghentikan perkataannya tiba-tiba.


Perusahaan swasta yang kini memegang proyek Tentara Super itu lah yang memberikan anggota TRIP sistem pakaian tempur, senjata, dan amunisi gratis.


Hal itu wajar bagi organisasi militer bekerja sama dengan perusahaan senjata untuk proyek tertentu. Misalnya, para personel TRIP memakai seragam tempur canggih, senapan terbaru buatan perusahaan yang dimaksud Dini. Dengan memasok persenjataan bagi TRIP dan meminta para anggotanya menggunakan dan menjadi penguji produk mereka, perusahaan itu dapat mengatakan “Produk kami digunakan para pahlawan remaja!” dalam iklan pemasaran. Jadi sangat wajar bagi suatu perusahaan melakukan hal seperti itu untuk menemukan pelanggan potensial. Perusahaan swasta terbesar di Indonesia ingin Nio menjadi bagian proyek Tentara Super mereka karena pria itu cukup dikenal banyak orang, hingga negara-negara sekutu.


“Menurutmu, apa alasan perusahaan itu menjadikanku bagian dari proyek itu?” tanya Nio.


“Mudah saja; kau dikenal banyak orang, kau punya wajah yang cukup tampan jika kulitmu yang rusak digenti kulit buatan berteknologi tinggi.”

__ADS_1


__ADS_2