Prajurit SMA

Prajurit SMA
86. Mengunjungi Kerajaan Arevelk 3: bertarung melawan raja naga api


__ADS_3

29 September 2321, pukul 00.31 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, tengah malam.


**


Tidak ada yang menyangka jika militer Kekaisaran Luan memiliki pasukan penunggang naga dengan dua naga yang jauh lebih besar dari milik penunggang naga pasukan Kerajaan Arevelk. Tapi ada yang aneh dengan pasukan Kekaisaran sendiri, mereka juga terlihat ketakutan saat dua ekor naga terbang memutar di atas.


Lalu, dua naga besar yang masih terbang tersebut milik pihak mana?


Baik pasukan Kekaisaran dan Kerajaan sama-sama memasang ekspresi ketakutan saat dua kadal terbang dengan ukuran besar terbang menurun ke arah mereka. Dari hal itu terlihat jika kedua pasukan tidak mengakui jika kedua naga yang terbang itu adalah milik mereka.


Kedua naga tersebut memiliki warna yang berbeda, masing-masing berwarna merah dan kehitaman. Sisik dan aura yang mereka pancarkan membuat orang memikirkan dengan salah satu hewan terkuat di dunia ini, yakni raja naga api.


“Itu raja naga api?”


“Lalu kenapa ada dua?”


“Apa raja naga api memang ada dua?”


Nio dan anggota Regu penjelajah lainnya justru memasang wajah kagum saat ada dua kadal terbang yang sangat besar terbang mendekati pasukan ini. Entah apa yang mereka pikirkan, tetapi sikap Sucipto tidak seperti kedua komandan pasukan yang memerintahkan prajurit mereka untuk menyelamatkan diri dari dua kadal terbang tersebut.


Sigiz terlihat ketakutan saat mereka hanya memandang kagum kearah langit, teriakan pasukannya agar menyelamatkan diri seperti tidak didengar oleh para TNI ini.


Jantung Nio justru terpacu saat kedua raja naga api tersebut terbang turun dan semakin rendah. Seluruh prajurit menyadari jika peluru senapan serbu dan senapan mesin tidak berefek apapun pada sisik kadal terbang. Lagipula, di masing-masing Regu setidaknya dibekali dengan 5 peluncur roket anti-tank disposable.


Pasukan Kekaisaran yang dipimpin langsung oleh salah satu bangsawan fraksi militer kabur dan meninggalkan misi setelah kemunculan dua raja naga api. Tugas mereka untuk menyerang pasukan Kerajaan harus ditunda, hingga kedua raja naga api tidak memperlihatkan diri mereka.


Ketiga pasukan dimata kedua naga hanya seperti gerombolan semut yang kacau karena penampakan mereka. Lalu kedua raja naga api terbang turun semakin cepat, mendekati ketiga pasukan yang mencoba menyelamatkan diri.


Sudah jelas jika TNI tidak tahu banyak tentang raja naga, tetapi meskipun demikian, mereka harus mengangkat senjata dan bertarung. Itulah caranya menjadi pejuang.


Sucipto berteriak sekuat tenaga untuk membangun semangat pasukannya untuk melawan raja naga api.


“Kita harus membunuh naga itu! Jika tidak, langkah pertama untuk perdamaian akan tertunda!”


Antusiasisme yang dimiliki Sucipto ternyata sangat berguna, meski pasukan Kerajaan Arevelk hanya menyaksikan mereka dari tempat yang dirasa paling aman dari keberadaan raja naga api.


Sigiz tidak ingin pasukannya mati sia-sia saat melawan salah satu sosok yang paling ditakuti. Para raja naga konon dikatakan dapat menghancurkan sebuah kota sendirian.


“Aku punya firasat buruk kalau aku kabur.”


Nio menyiapkan senapan serbunya pada mode otomatis penuh, dengan perasaan khawatir yang menegangkan.


Tidak ada kesempatan rapat strategi untuk melawan dua ekor raja naga api itu. Seluruh Regu penjelajah bertempur dengan pengalaman masing-masing saat menghadapi pasukan monster.


“Ayo tangani tugas sepele ini!”


Butuh beberapa saat bagi Nio untuk memahami perkataan Komandan Regu penjelajah 4 itu. Sementara itu, seluruh anggota Regu penjelajah 1 mendesak Nio untuk memerintahkan mereka bertarung juga.


Katanya, ketegangan itu melelahkan, namun justru itu menjadi bahan bakar TNI untuk bertarung.


Akhirnya, Nio memerintahkan anggotanya untuk maju. Semua orang tahu raja naga adalah hewan yang jauh lebih berbahaya dari komodo, mereka bahkan maju sambil berteriak lebih pelan saking takutnya terhadap raja naga api.


Karena hari mulai gelap, seluruh anggota Regu penjelajah telah mengenakan perlengkapan night vision dengan bantuan pencahayaan dari seluruh kendaraan tempur.


Langit malam yang berbintang, dan dihiasi dengan dua ekor raja naga api membuat suasana semakin tegang. Sebelum memulai pertarungan dengan dua ekor raja naga api tersebut, beberapa prajurit TNI berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.


Regu penjelajah 6 dan 10 mundur untuk menyiapkan bahan peledak yang tersimpan di salah satu kendaraan tempur. Mereka membongkar sebuah benda kotak, seperti keju. Total bahan peledak yang dibawa ada 95 kilogram. Sebenarnya, membawa bahan peledak adalah hal yang ‘tidak disengaja’


Karena tidak melakukan apapun, pasukan Kerajaan memutuskan untuk membantu kedua Regu ini.


Beberapa prajurit membantu menurunkan kotak-kotak yang terlihat berat. Salah satu prajurit Kerajaan yang penasaran dengan bahan peledak yang lunak, mencubitnya sepotong dan memasukannya kedalam mulut, tetapi salah satu prajurit Regu penjelajah 10 memukul tangannya untuk mencegahnya memakan bahan peledak ini.


“Benda ini beracun, jangan memakannya!”

__ADS_1


Takut dengan penyebutan racun, prajurit itu segera mengembalikan potongan bahan peledak itu.


Untuk sepenuhnya mengeluarkan kekuatan bahan peledak plastik, itu harus dicampur dengan jumlah bahan yang pas. Jika tidak dengan takaran yang pas, bahan peledak akan menghasilkan ledakan yang kecil, bahkan gagal meledak.


Akan terlalu lama untuk satu orang mencampurkan sendirian bahan peledak C4 ukuran 95kg, jadi semua anggota Regu penjelajah membantunya. Pada akhirnya mereka membentuk bahan peledak plastik ini menjadi seukuran batu bata.


Beberapa orang mengeluarkan perangkat kecil, itu disebut dengan detonator.


Bagian selanjutnya membutuhkan banyak pengetahuan khusus, hanya prajurit yang pernah mengikuti pelatihan menjadi pasukan khusus maupun elit saja yang bisa melakukannya. Mereka mengeluarkan gulungan kabel dan tang, memotong beberapa panjang gulungan kabel, dan mulai mengubahnya menjadi alat pemicu.


Mereka menanggalkan selubung kabel di ujungnya, dan kemudian menyambungkan kabel di dalam kontak detonator.


Prajurit anggota pasukan khusus ini bekerja dengan tenang, sementara beberapa prajurit lainnya memegang senter dengan tangan gemetar karena raja naga api terbang semakin rendah saja.


Biasanya, bahan peledak jenis ini banyak digunakan para insinyur pertambangan, namun ini bagiandari pelajaran dasar dalam pasukan khusus dan elit, baik pasukan khusus dari Pasukan Utama maupun Tentara Pelajar.


Nio termasuk bagian dari Pasukan Pelajar Khusus, tapi dia bukan siswa yang rajin. Namun, tugasnya bukan membuat bahan peledak, tetapi memimpin pasukan untuk melawan dua ekor raja naga api.


Membuat peledak adalah keterampilan yang harus dimiliki prajurit pasukan khusus dan elit.


Prajurit yang bertugas membuat peledak memastikan agar tidak ada alat komunikasi, karena benda itu dapat memicu detonator untuk meledakkan bom berkekuatan besar ini.


Tetapi Sucipto justru menggunakan alat komunikasi untuk menghubungi markas pusat.


**


Hawa dingin merasuki tubuh Nio, tapi beberapa orang berkata “Tidak mungkin” saat dua ekor raja naga api justru menjauhi mereka dan mendekati pasukan Kekaisaran yang kabur.


Pasukan Kekaisaran mengunci pandangan mereka dengan naga api yang mendarat di depan mereka, sayapnya membentang selebar 9 meter atau lebih.


Pertemuan tak terduga dengan raja naga api membekukan pasukan Kekaisaran. Raja naga api tidak menyangka jika ada ratusan ribu manusia di wilayahnya, kedua raja naga memandang aneh tamu tak diundang yang berasal dari Kekaisaran ini.


Rasanya, napas panas raja naga api dapat mereka rasakan. Tapi kedua belah pihak berjarak tidak begitu dekat satu sama lain, itu adalah efek psikologis.


Prajurit Kekaisaran yang terkena dampak ledakan hanya bisa terpental. Tiba-tiba, raja naga api yang berwarna kehitaman muncul dari balik asap. Dia menyapukan cakar kanannya ke gerombolan pasukan Kekaisaran yang tidak melepaskan ledakan itu.


Apa yang berhamburan di udara bukan hanya asap dan percikan api, tetapi prajurit Kekaisaran yang bernasib kurang beruntung.


Kedua raja naga api meraung, mengguncang seluruh Regu penjelajah dan pasukan Kerajaan.


Regu penjelajah 1 dan 5 memanggul 10 peluncur roket mereka. Mereka tidak mempedulikan dua raja naga api itu yang sedang mencabik-cabik pasukan Kekaisaran dengan kejam.


Kedua raja naga api menyemburkan api dengan temperatur sangat tinggi ke pasukan Kekaisaran yang mati-matian melarikan diri, mereka berdua seperti berencana memusnahkan mereka.


Sepuluh roket melesat dengan kecepatan ratusan km/jam, tentu saja raja naga api tidak terluka. Ledakan roket menyebabkan kedua raja naga kesakitan, tetapi sayangnya hanya itu efek yang dihasilkan.


Alasan mengapa serangan roket tidak bisa memberikan pukulan mematikan ke kedua raja naga api bukan hanya karena sisiknya kuat dan tangguh, tetapi karena sisik mereka yang keras dan berlapis-lapis, seperti lapisan baja tank tempur utama yang meredam semua serangan.


Serangan pasukan Regu penjelajah hanya berlangsung selama beberapa menit, dan kemudian kedua raja naga menentukan jika mereka bukan ancaman. Yang ingin dilakukannya adalah mengusir belatung yang mengusik wilayahnya.


**


“Baiklah, aku akan bantu!”


Gelombang ledakan roket yang tidak memberi efek apapun terhadap kedua raja naga, membuat tekad Sigiz terpacu untuk bergabung dalam pertempuran ini.


“Tetapi, kita tidak bisa mengalahkannya, atau mungkin pasukan hijau itu bisa?”


“Ya, mungkin saja mereka bisa mengalahkan dua raja naga itu. Tetapi, mereka juga pasukan biasa seperti kita yang memerlukan bantuan. Kita tidak hanya melampiaskan amarah terhadap Kekaisaran saja, raja naga adalah musuh kita juga!”


Saat Sigiz berteriak, serpihan sisik keras raja naga api yang berwarna merah berterbangan. Lima buah roket ternyata menghantam paha kirinya dan menyebabkan efek yang sedikit besar.


Pasukan Kekaisaran yang hanya bisa melawan dengan asal-asalan, tubuh mereka berlumuran darah segar milik kawan mereka yang mati dicabik-cabik kedua raja naga api.

__ADS_1


Sigiz mengangkat kepalanya yang terluka setelah terkena serpihan sisik raja naga.


“Aku akan membantu, kalian hanya perlu melihat saja.”


Sigiz mengarahkan ujung tombaknya yang telah bercahaya dengan warna merah darah. Dia mulai mengatakan sesuatu yang dikenal sebagai ‘mantra’.


Ketika melihat sebuah jalur cahaya berwarna merah, Nio menyadari jika itu sihir, dan bukanlah serangan artileri.


Sigiz menyerang dengan serangan yang serupa terhadap kedua raja naga berkali-kali, dan itu hanya cukup untuk melemahkan sisik mereka berdua.


Sigiz berpikir bagaimana sihirnya dapat melukai raja naga, meski sedikit saja. Bagi raja naga, terkena serangan sihir seperti yang dilepaskan Sigiz hanya seperti tertusuk duri, itu tidak sakit.


Sigiz melepaskan sihir ‘artileri’ dengan kecepatan tinggi, dia mempelajarinya dari roket yang melesat kearah tubuh kedua raja naga api. Ini adalah pukulan tak tertahankan bagi kedua raja naga, sisiknya terkelupas dan memperlihatkan daging yang beraroma busuk.


Sisik tebal sampai sekarang tidak lagi menjadi pertahanan mutlak kedua raja naga. Raja naga api yang berwarna merah mengalihkan pandangannya ke Sigiz. Raungan yang terdengar seperti ratapan didengar oleh seluruh orang yang berada di tampat ini.


“Hahahahahahah, menjauh dari Nio ku, kau kadal busuk!”


Sigiz tersenyum puas, lalu melepaskan sihir artileri dengan jumlah yang semakin banyak, sekitar puluhan jalur cahaya mengarah ke raja naga api berwarna merah.


Ratusan prajurit berpakaian hijau memutuskan untuk menantang raja naga api. Kedua raja naga mengepakkan sayap mereka, naik ke udara lalu mengejar ratusan pasukan hijau.


Dan sekarang, suara gemuruh yang terdiri dari banyak mesin terdengar.


**


Lalu, dua buah roket dengan daya ledak yang jauh lebih besar menabrak kepala raja naga api berwarna merah.


Dua jet tempur terlihat terbang melewati dua raja naga api tersebut dengan kecepatan sedang. Kedua penerbang, sebelum melepaskan serangan memastikan jika seluruh Regu penjelajah tidak ada di dekat kedua kadal terbang raksasa tersebut.


Meriam dengan tipe gatling menembakkan amunisi 40mm dengan 1.000 peluru per menit. Badai timah yang mengarah ke kedua raja naga api menyebabkan mereka berdua terbang tak terkendali.


Kedua raja naga api kehilangan keseimbangan dan kemampuan untuk tetap di udara, kemudian mereka jatuh ke tanah menimpa pasukan Kekaisaran.


Kedua raja naga api kemudian melebarkan sayap mereka untuk lepas landas lagi. Meskipun mereka raja udara di dunia ini, reputasi mereka telah digeser oleh TNI AU yang mengirimkan penerbang muda mereka ke dunia ini.


Lalu, puluhan peluru yang ditembakkan dari meriam tank railgun menghantam kepala kedua raja naga api dengan kakuatan setara 90 kilo bom tipe C4.


Ledakan demi ledakan tidak berhenti, menyabkan tanah terguncang.


Hujan timah dari lima helikopter serang menjadi serangan bantuan.


Tanah lapang ini ditutupi oleh asap dengan aroma mesiu yang disebabkan oleh rentetan serangan artileri.


“Tidak salah membuat perjanjian perdamaian dengan pasukan brutal ini.”


Suara bising dari mesin jet tempur menyamarkan suara gumaman Sigiz. Dia melihat dua raja naga api ditumbuk dan dikelilingi oleh serangan artileri.


Dua buah rudal dilepaskan dari dua helikopter serang, operator rudal mengendalikan joystick mereka untuk mengendalikan rudal. Dengan cara ini, peluru kendali akan mengenai sasaran dengan tepat.


Rudal-rudal ini dirancang untuk menghancurkan tank tempur utama. Ketika rudal menghantam kulit keras kedua raja kadal terbang ini, serangannya merobek daging busuk mereka.


Sisik raja naga api yang tiada tandingannya, dihancurkan dengan mudah. Darah dan daging busuk menyembur kesegala arah, namun dua peluru tank dan dua rudal menghantam mereka lagi.


Seluruh helikopter menurunkan personel menggunakan tali. Pasukan Grup Tempur 4 bertugas untuk memverifikasi kematian kedua raja naga api.


Demikianlah berakhirnya pertempuran di tanah lapang ini, dan menyebabkan peledak C4 yang telah selesai menjadi sia-sia.


TNI yang dapat digunakan sebagai bantuan bencana, dengan hormat mengangkut mayat pasukan Kekaisaran. Selain itu, mereka mengangkut kedua mayat raja naga api, untuk tujuan penelitian. Mereka mengangkut mayat kedua raja naga api menggunakan helikopter dengan cara digantung.


Nio dan anggotanya berbaring di atas rumput setelah menyaksikan tontonan ini.


__ADS_1


(Ilustrasi raja naga api, sumber gambar pinterest.)


__ADS_2