Prajurit SMA

Prajurit SMA
103. Pulang 1


__ADS_3

26 November 2321, pukul 16.31 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, sore hari.


**


Jika kita berada di benteng, dan memperhatikan sungguh-sungguh ke arah utara, di salah satu wilayah yang akan melepaskan diri dari kekuasaan Kekaisaran Luan, terdapat asap yang sangat banyak dan ribuan tentara. Jaraknya cukup jauh dari Tanah Suci, jadi tidak mungkin ada salah satu Regu penjelajah di tempat ini.


Secara geografi, tempat ini berada di antara Tanah Suci dan ibukota, dan merupakan wilayah yang mengumumkan akan melepaskan diri dari kekuasaan Kekaisaran yang mulai melemah. Wilayah ini hanyalah tempat para pedagang kecil dan pertanian, dan tidak ada keistimewaan khusus selain menjadi wilayah pembelah antara ibukota dengan Tanah Suci.


Wilayah itu dipimpin oleh seorang raja, yang saat ini sangat membenci keputusan Kekaisaran untuk berperang dengan negara asal pasukan hijau. Namun, keputusannya untuk melepaskan diri dari Kekaisaran disambut dengan sebuah penyerbuan. Maka, perang antara Kekaisaran dan wilayah bawahannya pun dimulai.


Perjuangan warga wilayah ini akan sangat berat, karena melawan pasukan Kekaisaran dengan jumlah 10.000 pasukan. Mereka memiliki kekuatan terbatas, dan para pria hanya bisa bertarung dengan kemampuan seadanya.


Keamanan wilayah ini dijaga oleh 500 pasukan milik Sheyn, dan mereka jauh lebih kuat dari tentara reguler yang dikirimkan untuk menyerang wilayah ini.


Kekaisaran membuat keputusan untuk menyerang wilayah-wilayah bawahan yang memutuskan memisahkan diri, dengan artian meletuskan perang saudara. Kampanye Kekaisaran melawan dunia lain, menurut raja-raja di wilayah bawahan adalah tindakan yang lebih jauh dari kata bodoh. Jika ada kata yang jauh lebih kasar dari kata ‘bodoh’, maka kata itu yang cocok disematkan bagi si Kaisar.


Pasukan Kekaisaran menyerang pasukan yang tentaranya berasal dari petani dan pemuda setempat, yang tentu saja tanpa pelatihan intensif. Akhirnya, perang yang tidak seimbang terjadi.


Setidaknya, wilayah ini dikelilingi dengan tembok setinggi 3 meter, yang membuat pertahanan sedikit kuat. Berdiri di atas gerbang kota, Sheyn melepaskan beberapa anak panah ke arah para pasukan Kekaisaran. Gadis ini tidak peduli jika dia sedang melawan kawan sendiri atau apalah.


Prajurit yang terhuyung-huyung atau pingsan karena kehabisan darah, menyebabkan pasukan Kekaisaran mulai tidak beraturan. Anak panah ditembakkan ke dinding batu dan membuat daerah sekitarnya berantakan. Sheyn melihat beberapa warga dan pemuda memegang pedang, tombak dan alat pertanian, mereka tanpa pelindung tubuh semacam zirah besi.


Di luar tembok, mayat prajurit Kekaisaran dan bangkai kuda tersebar di seluruh tanah.


“Panglima Ragh! Mawar Kuning! Apa kalian baik baik saja?”


Di dalam gerbang yang rusak, Ragh dengan tubuh belum pulih sepenuhnya membentuk barikade bersama pengikutnya yang berjumlah 50 prajurit khususnya. Pria ini menyangga tubuhnya yang masih tertutupi perban dengan pedang, bahunya naik turun saat dia terengah-engah. Dia mengangkat jempol untuk memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja, tetapi baju besinya ditutupi dengan darah dan penyok akibat tebasan pedang.


Kondisi sekarang ini menunjukkan jika pertempuran terjadi dengan sengit, dengan mayat warga dan prajurit Kekaisaran yang berserakan di dalam dan di luar tembok.


Adapun gadis yang dijuluki Mawar Kuning oleh Sheyn terduduk di tembok, telapak tangannya menopang tubuhnya, nyaris tidak menahan diri untuk jatuh. Cengkraman tangannya pada pedangnya longgar.


“Nasib baik, hah hah, aku masih hidup….”


“Mawar Hitam, kenapa kau tidak bertanya padaku?”


Seorang prajurit wanita berambut kemerahan mengelap pedangnya yang terlumuri darah. Julukan Sheyn di pasukan ini Mawar Hitam, sesuai dengan warna rambutnya.


“Mawar Merah, aku tahu kau masih hidup. Pertempuran ini hanya pertarungan kecil menurutmu kan?”


“Haruskan aku bahagia? Atau sedih?”


Seorang wanita yang berusia sekitar 25-an dengan zirah sedikit ‘terbuka’ tidak menunjukkan sedikitpun kelelahan saat dia meletakkan pedangnya di pundaknya. Gadis ini berposisi menjadi wakil komandan Sheyn di pasukan Barisan para Mawar.


Dalam keanggotaan pasukan Sheyn, sebagian besar prajurit adalah warga biasa. Jalan menuju ksatria sangat kecil bagi warga biasa. Itu mengapa mereka memilih bergabung dengan pasukan bentukan Sheyn ini.


Mawar Kuning berkata dengan nada mengeluh, “Mawar Hitam, kenapa kita bertarung dengan rekan kita sekarang?”


Itu agak kasar, tapi dia harus mengatakannya dengan lantang.


“Mau bagaimana lagi, kupikir Kekaisaran akan membiarkan saja wilayah bawahan untuk melepaskan diri.”

__ADS_1


Mengambil keputusan besar, itu artinya siap menanggung masalah besar pada kemudian hari. Bagi Sheyn, melawan pasukan kawan tidak masalah, selama dia bukan yang memulai pertarungan itu terlebih dulu. Sisa pasukan Sheyn yang masih dalam perjalanan kesini, membuat pertempuran tidak seimbang.


Tidak peduli pertempuran macam apa ini, tapi pasukan Kekaisaran sangat terbatas. Kemungkinan terjadi pertempuran lagi dalam waktu dekat menjadi sangat kecil. itu akan memberi waktu kedatangan sisa pasukan Sheyn yang sedang dalam perjalanan.


Sheyn sebenarnya berkecil hati untuk melawan pasukan Kekaisaran, tapi dia tidak bisa berdiri dan menonton kota dirusak. Semangat tempur pasukan sedang dalam titik terendah setelah penyerangan ibukota, itu bisa dimanfaatkan baik-baik oleh pasukan pimpinan Ragh.


“Jika kita bisa bertahan beberapa hari, kesatria saya akan membantu.”


Namun, Ragh ragu jika sisa pasukan Sheyn bisa datang dalam waktu cepat. Musuh mungkin kawan yang kalah berperang dengan pasukan hijau, tetapi mereka adalah prajurit yang mahir menyerang benteng. Pasukan kecil penjaga wilayah ini harus bertarung dengan semua yang mereka miliki.


Wilayah ini tidak jatuh, tetapi gerbang yang seharusnya kuat, berhasil dihacurkan dan memberi jalan masuk bagi musuh. Dengan bantuan warga dan kombatan yang bertarung dengan alat seadanya, mereka selamat pada penyerangan pertama, tetapi rasanya seperti kekalahan.


Jumlah pasukan sedikit berkurang, yang tersisa adalah korban dan warga yang kelelahan. Hanya satu hari sudah cukup untuk menjatuhkan moral para warga. Baik Sheyn dan Ragh tidak bisa memikirkan apapun untuk membangkitkan semangat mereka.


**


Gerak-gerik para Demihuman kembali seperti biasanya, seperti saat akan terjadi gempa beberapa saat yang lalu. Mereka terlihat panik, dan terlihat terburu-buru untuk memasuki rumah. Ekspresi mereka juga terlihat sangat mencemaskan sesuatu.


Masih tidak ada yang tahu apa yang membuat mereka seperti ini. Para peneliti mengungkapkan jika indera manusia setengah hewan jauh lebih baik dibanding dengan manusia biasa.


Misalnya, para Demihuman bisa mendengarkan suara tembakan dari jarak 5 kilometer, melihat sebuah objek dari jarak 2 kilometer, dan mencium aroma sesuatu dari jarak 3 kilometer. Jika gerak-gerik mereka seperti ini, pasti sedang terjadi sesuatu di tempat yang cukup jauh dari benteng.


Namun, tanpa bantuan indera para Demihuman, pasukan bisa mengetahui kondisi sekitar Tanah Suci dengan menerbangkan pesawat tanpa awak untuk misi patroli.


“Pesawat tanpa awak patroli kita melihat ada pertempuran di sebuah wilayah yang berbatasan dengan ibukota Kekaisaran.”


Komandan Grup Tempur 4 memimpin rapat para Komandan, dan memutar rekaman on time dari tempat kejadian. Memang benar-benar terjadi pertempuran di wilayah yang menghubungkan ibukota dengan Tanah Suci.


Jika sewaktu-waktu terdeteksi bahaya yang mendekati pengungsian maupun benteng, misalnya pasukan Kekaisaran, pesawat tanpa awak sudah dilengkapi dengan rudal dan beberapa roket kendali serta meriam 20mm tipe gatling dengan 50 tembakan per-detik. Pertempuran yang terekam bukan urusan Pasukan Ekspedisi, meski jaraknya cukup dekat dengan markas.


Namun, yang menyerang bukanlah negara lain, melainkan pasukan Kekaisaran itu sendiri. Itulah keanehan pertempuran ini, dan membuat para Komandan Regu dan Grup Tempur bertanya-tanya.


Saat mengamati dengan serius rekaman yang sangat jernih itu, beberapa pasukan wanita juga ikut serta. Itu bukanlah hal yang aneh dalam dunia militer, bahkan jangan pernah meremehkan prajurit wanita. Nio melihat seorang perempuan yang berdiri di tembok, dan terlihat memimpin pasukan pembela. Dia kemudian meminta ijin untuk berbicara.


“Tuan Putri Sheyn juga ada di tempat itu.”


“Apa maksudmu Peltu Nio? Apa beliau bergabung dengan penyerang atau pembela?”


“Sepertinya dia bergabung dengan pasukan pembela.”


Belum ada orang yang menyimpulkan sesuatu dari pertempuran ini, dan mereka melanjutkan menonton pertempuran dari rekaman langsung. Ini bukanlah hiburan, karena yang mereka lihat adalah sekelompok pembela yang mempertahankan diri dari serangan dengan bertaruh nyawa.


“Sepertinya Kekaisaran dilanda perang saudara.”


Entah harus khawatir atau bersikap selain itu, para perwira melihat jika perang saudara ini akan mempengaruhi peperangan di masa depan. Atau mungkin membuat perang lebih cepat berakhir? ... Tidak ada yang tahu.


Bakat Nio untuk membuat keputusan setelah melihat situasi berkembang di rapat ini. Meskipun beberapa orang harus membutuhkan beberapa waktu untuk memahami perkataan Nio. Para perwira berharap jika prajurit yang memiliki kemampuan semacam itu berjumlah besar.


Karena semakin banyak pemuda yang bergabung dengan Tentara Pelajar, Kesatuan ini tumbuh lebih besar karena pencapaian beberapa Satuan dari Tentara Pelajar yang membuat prestasi di medan perang. Prestasi mereka menarik perhatian perwira, beberapa prajurit memiliki keunggulan masing-masing memang.


Beberapa pihak dulunya mungkin melihat jika prajurit Tentara Pelajar hanyalah sekumpulan anak muda yang sedang bermain perang-perangan. Setelah melihat prestasi mereka, seketika lidah orang yang merendahkan menjadi kelu.

__ADS_1


Remaja memang sulit untuk diatur, tetapi mereka memiliki semangat yang terpendam untuk diperlihatkan di pertempuran.


**


“Itu salah satu wilayah yang akan melepaskan diri dari Kekaisaran, dan akan bergabung dengan negara baru.”


Akhirnya, jawaban yang selama berjam-jam belum ditemukan dikatakan oleh Sigiz. Sepertinya dia mengetahui sesuatu mengenai pembentukan negara baru ini.


Nio dan Sigiz duduk bersebelahan di kursi panjang sambil melihat anak-anak pengungsi yang sedang bermain dengan anggota Nio. Meski beberapa pengungsi remaja mendekati Nio, namun ratu ini masih bisa menahan diri dan membiarkan Nio berbicara dengan para gadis.


Sesekali Sigiz menggerutu, karena kesempatannya untuk bersama Nio hampir sangat jarang. Mengingat pekerjaannya sebagai pemimpin negara, dan harus membangun hubungan yang baik dengan negara asal TNI. Dia masih mencari berbagai cara untuk bertemu pemimpin negara asal TNI, namun sepertinya hal itu hampir mustahil.


Sigiz hanya menjadikan mengunjungi pengungsi sebagai alasannya untuk menemui Nio. Meskipun Nio bersikap seakan-akan hanya ada perempuan ‘biasa’ di dekatnya.


Tidak ada dalam sejarah dunia ini seorang kesatria membangun hubungan dengan seorang ratu atau semacamnya. Kesatria adalah pelayan negara dan orang yang memimpinnya, jika si pemimpin memiliki perasaan dengan kesatrianya, dia harus bersiap memasang ekspresi kosong saat melihat kesatiranya bertaruh nyawa di medan perang. Itu sebabnya tidak ada seorang pemimpin memiliki hubungan dengan kesatrianya.


Tetapi, tidak ada yang bisa merubah jalannya masa depan, meskipun kemungkinan untuk Sigiz dan Nio bersama masih cukup kecil. Masih belum diketahui motif Sigiz jatuh cinta dengan Nio.


Jika seseorang harus mengambil langkah mundur untuk sebuah hubungan, maka Nio-lah yang harus melakukan itu. Selama Nio menyukai seseorang, dia selalu berhenti di tengah jalan karena beberapa alasan.


Nio kembali duduk di sebelah Sigiz sambil tersenyum kecil, saat gadis ini membayangkan sesuatu jika dia bisa memiliki pemuda ini. Nio memiliki keyakinan pada kemampuannya membaca orang, tapi beberapa kali pula dia melakukan kesalahan, jadi dia tidak akan menggunakan kemampuan ini lagi.


“Tuan Nio, apa kau memiliki tipe wanita yang disukai?”


“Hmmm…, aku penyuka mbak-mbak berdada besar.”


Memang, Nio tidak terlalu memperhatikan dengan wanita disekitarnya, tapi dia memiliki tipe wanita yang disukai. Teman-temannya saat SMA bahkan mengejek Nio karena lebih menyukai wanita yang lebih tua. Jika ditekan, Nio akan mengatakan bahwa ukuran dada itu tidak relevan, itu hanya bagian tubuh.


Dengan kata lain, Sigiz termasuk kedalam tipe wanita yang disukai Nio. Untuk tindakan selanjutnya, gadis ini hanya perlu untuk terus ‘menyerang’ hingga mendapatkan Nio.


Orang-orang mungkin akan salah mengira jika Sigiz adalah gadis remaja, dia memang tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Tetapi Nio menyukai Sigiz jika dimasukan ke dalam tipe wanita yang disukai. Untuk beberapa hal, Nio harus mempertimbangkan lagi jika harus mendekati Sigiz, mengingat perempuan di sampingnya adalah seorang ratu.


Kemudian Nio merasakan jika ponselnya berdering terus menerus. Seperti dugaanya, Arunika mengiriminya ribuan pesan pendek.


“Kapan kau akan pulang?”, “Bukankah kau harus menghadiri pertemuan penting?”, “Jangan lupa mengajakku ke Jakarta!”


Nio merasa jika kakaknya jauh lebih tegas dari atasannya, dan terlalu banyak memerintah. Dibanding keinginan, Arunika nampakknya memiliki kisah tragedi, karena terlalu lama ditinggal Nio bertugas di dunia lain. “Kapan dia akan pulang…?” itu adalah kata yang setiap hari Arunika gumamkan jika melihat prajurit Kompi 406-32 berlatih.


Arunika, pada dasarnya memperlakukan Nio ‘bukan’ seperti adik. Sebagai pelayan negara, pastinya Nio tidak memiliki banyak waktu bersama dengan Arunika. Nio hampir lupa jika kakaknya pernah menyatakan perasaan padanya.


Tapi, Nio ternyata menerima pesan dari Presiden, yang bersisi jika Nio harus mengajak beberapa panduduk lokal untuk menghadiri Pertemuan Nasional yang akan membahas pertempuran yang dilakukan TNI di dunia lain.


Meskipun dia dipanggil untuk kembali ke Indonesia, prioritas utamanya ternyata ingin menemui kakaknya.


Sigiz mengintip pesan di layar ponsel milik Nio, dia sudah belajar sangat keras bersama Ivy agar bisa mempelajari beberapa kalimat bahasa Indonesia. Dia memahami beberapa kata yang ada di pesan yang di terima Nio, dan inilah kesempatannya.


“Apa aku boleh ikut dengan mu?, aku bisa menjadi saksi di hadapan pemimpin negara mu.”


Ah, sudah terlambat bagi Nio, karena mengajak Sigiz ke Indonesia tidak ada dalam rencananya. Karena tidak bisa mengelak, Nio menjawabnya dengan anggukan pelan.


**

__ADS_1


Funfact#1: Jika Gerbang tidak muncul, maka Tentara Pelajar tidak akan terbentuk. Itu berarti Nio tidak menjadi prajurit. Jika itu terjadi, Nio akan menjadi tentara kontrak selama beberapa tahun bertugas. Lalu dia akan menggunakan uang gajinya sebagai biaya kuliah dan membantu kakaknya.


__ADS_2