
Saat ini, dua puluh ribu prajurit Aliansi dalam keadaan tegang yang kembali datang, bukan karena takut tentang fakta bahwa mereka akan menghadapi pasukan yang telah mengalahkan Aliansi di perang besar sebelumnya. Seluruh prajurit dalam kondisi terbaik mereka, terutama dua unit Peleton Khusus Aliansi – yang telah kehilangan satu senapan – serta penyihir elit yang dipercaya dapat mengimbangi kekuatan senjata baja pasukan ‘dunia lain’.
Seperti yang dijelaskan kepada mereka sebelumnya, Persekutuan – khususnya pasukan dunia lain yang bersekutu dengan Arevelk dan Yekirnovo, adalah musuh biadab yang harus dihancurkan yang telah mengalahkan Aliansi beberapa kali sejak mereka memulai penyerangan terhadap Tanah Suci.
Ini adalah kesempatan untuk membalas penghinaan itu, dan ini lebih baik daripada Aliansi terus mengulur waktu untuk mengumpulkan kekuatan penuh dan melakukan serangan besar-besaran lagi.
Sementara itu, mereka telah beberapa kilometer lagi tiba di tujuan penyerangan, yakni Benteng Kalea. Tetapi, karena musuh yang menduduki fasilitas tersebut sangat kuat, dan tidak mungkin melawan mereka secara langsung jika tanpa taktik yang sesuai, maka mereka akan mengandalkan senjata pengepungan seperti balista, ketapel raksasa, serta trebuchet. Selain itu, kurang dari tiga ribu penyihir disiapkan untuk melindungi pasukan dari hujan peluru yang mempu menembus zirah logam dengan sangat mudah. Pasukan ini mengandalkan sihir tameng untuk melindungi pasukan dari hujan timah musuh selama penyerangan.
Sementara itu, Peleton Khusus Aliansi telah diperkuat dengan adanya komandan mereka. Pahlawan Amarah telah kembali dari pelatihannya di Labirin milik Kekaisaran Duiwel, dan bergabung dengan pasukan ini bersama Pahlawan ***** dalam operasi mengambil alih kembali Benteng Kalea. Tentu saja pasukan berharap besar terhadap kedua pahlawan, dan percaya bahwa pertempuran akan berlangsung singkat dengan kekalahan musuh.
Dengan percaya diri mampu meraih kemenangan cukup masuk akal ketika menyadari mereka membawa pasukan dengan kekuatan cukup besar. Rio berencana akan melanjutkan penyerangan ke wilayah terdekat dengan Benteng Kalea, lalu mencari seseorang yang telah membuatnya merasakan penderitaan dan rasa sakit yang luar biasa dan belum pernah dia rasakan sebelumnya. Perasaan seperti itu membuat Rio memasang senyum menyeringai, dan begitu bersemangat dalam penyerangan ini.
Dan seperti biasa, ketika dalam keadaan senang akan sesuatu, seseorang akan memberi para pahlawan pria anggur. Saat ini, Rio dan Baron langsung menenggak anggur dengan kadar alkohol sedang dari gelas logam saat mereka sedang menunggangi kuda. Anggur dipercaya mampu membangkitkan semangat dan mengakibatkan prajurit tidak merasakan takut – selain mengkonsumsi narkotika racikan Pahlawan Iri Hati. Setelah mendapatkan kekuatan dan kekuasaan yang tidak mereka dapatkan sebelumnya, Rio dan Baron merasa mereka dapat melakukan hal yang mereka ingin lakukan – seperti mengkonsumsi alkohol.
“Mereka berdua sepertinya sangat rakus. Lihat cara minum mereka yang nampak seperti orang tidak beradab.”
“Dasar bajingan serakah!”
Pernyataan seperti itu terlontar dari ratusan mulut prajurit Aliansi yang menyaksikan perilaku Rio dan Baron, seakan-akan mereka berdua baru pertama kali menikmati anggur.
Meski Aliansi tidak cukup kuat dan berkembang tanpa adanya kesembilan pahlawan, para perwira Aliansi dengan terpaksa menerima terlibatnya Pahlawan Amarah dan Pahlawan ***** dalam pertempuran ini. Meski itu artinya bisa saja perbekalan mereka dan anggur untuk prajurit kemungkinan akan dialihkan hanya untuk Rio dan Baron, sayangnya mereka tidak memiliki kekuatan untuk menegur atau semacamnya jika mereka berdua mulai kelewatan.
Bahkan ketika mereka tidak dapat memenangkan peperangan dan mendapatkan apa yang diinginkan, satu-satunya harapan untuk mengembangkan kekuatan Aliansi adalah kesembilan pahlawan dengan ilmu yang mereka miliki… jika mereka bersedia membagi ilmu tersebut.
Dari jarak dua kilometer, benteng Kalea dapat terlihat oleh mata Rio. Kedua matanya menyipit untuk memastikan apa yang dia lihat benar-benar tujuan mereka atau bukan. Meski tanpa teropong, jarak pandang penglihatan Rio sedikit meningkat dan berada satu tingkat di atas manusia biasa.
Dia tetap memerintahkan pasukannya untuk bergerak, hingga seluruh senjata mencapai jarak efektif tembak. Sementara itu, jarak yang ideal akan menambah daya rusak dari infanteri dan kavaleri berat. Jika musuh hanya memiliki senapan dan meriam ringan sebagai bantuan tembakan, maka mereka akan mengimbanginya dengan menghujani musuh dengan artileri dari balista, trebuchet, dan ketapel raksasa.
Tujuan sudah terlihat, Rio kemudian menghentikan pasukannya dan memanggil dua orang prajurit.
“Perintahkan seluruh pemanah menyebar, lalu minta para penyihir melakukan sihir tameng untuk melindungi peleton khusus-ku dan kavaleri. Perintahkan infanteri membentuk formasi bertahan. Kita akan melakukan pengepungan terhadap Benteng Kalea.”
Setiap perintah dari Rio dilaksanakan dengan patuh oleh bawahannya, dan pasukan mulai membentuk formasi untuk mengepung benteng tersebut. Sayangnya, ekspresi Rio memperlihatkan dia tidak peduli sama sekali dengan formasi yang dikatakan olehnya tadi, mungkin karena efek dari anggur yang pria itu minum.
Sementara itu, Baron hanya menyetujui begitu saja rencana Rio untuk mengepung Benteng Kalea, dan memancing pasukan musuh untuk menyerang mereka. Namun dia ragu jika rencana Rio tidak mampu mengakhiri pertempuran lebih cepat dari yang pria itu pikirkan.
“Apa taktik yang kau gunakan mampu menekan musuh dan memberi mereka tekanan yang besar?” untuk pertama kalinya Baron mengkhawatirkan taktik yang Rio pakai pada penyerangan ini.
Para prajurit yang mereka bawa ke medan perang perlu mendapatkan kepastian yang jelas, terutama taktik yang digunakan komandan mereka, karena itu berarti komandan mempertaruhkan nyawa mereka dalam pertempuran. Selain biaya yang dikeluarkan pada perang ini – khususnya penyerangan terhadap Benteng Kalea – sangat besar, nyawa adalah harga yang tak ternilai.
Pasca penyerangan beberapa bulan lalu yang gagal, total mereka membuat setidaknya dua rencana melakukan kampanye militer untuk mempercepat Aliansi mencapai tujuan. Selain mempersiapkan pasukan besar untuk merebut ‘orang yang diramalkan’, mereka juga harus membagi pasukan untuk menyerang negara anggota Persekutuan lainnya, yakni Kerajaan Yekirnovo dan Arevelk. Itu hanyalah dua dari sekian banyak tujuan Aliansi bersatu dan berperang bersama melawan Persekutuan.
“Cara terbaik adalah terus menekan, bahkan jika mereka terus melakukan perlawanan. Kita akan memanfaatkan jumlah besar pasukan untuk menghadapi musuh. Kekuatan mereka mungkin tidak mencapai empat batalyon, jadi kemungkinan kita berhasil memukul mundur mereka cukup besar.”
Di medan perang, taktik adalah segalanya dan menentukan jalannya sebuah pertempuran. Meski dalam kondisi hampir mabuk, Rio tetap dapat mempertahankan kesadarannya, sehingga mampu menyusun rencana dalam menghadapi musuh nantinya, meski dia tahu siapa yang akan pasukannya hadapi. Para prajurit tidak dilatih dengan sia-sia hanya untuk menghadapi senjata baja Persekutuan secara langsung.
Maka, jalan yang terbaik yang dipikirkan Rio adalah menyerang pasukan Persekutuan yang menduduki Benteng Kalea dari segala arah, berusaha menekan hingga musuh keluar benteng sehingga mereka tersebar dan tidak akan terkonsentrasi pada satu titik untuk membalas serangan dari mereka, dan dengan demikian waktu untuk jumlah besar pasukan miliknya dan Baron beraksi.
Terus menekan dengan jumlah besar adalah strategi militer paling dasar Aliansi untuk melawan Persekutuan.
“Bagaimana aku bisa tenang kalau kau menyusun rencana ketika kita dalam keadaan setengah mabuk.”
“Lebih baik kau mempersiapkan diri daripada terus berbicara, Baron.”
“Aku akan melakukan itu kalau kau membuat rencana dengan benar kali ini.”
Bersama kesembilan pahlawan menghadapi kekuatan TNI sebelumnya, Baron tetap tidak menyangka jika Aliansi dapat dikalahkan setelah pertempuran tanpa henti selama satu minggu itu. Dia dulu begitu bergantung pada kekuatan pahlawan yang dia dapatkan, dan itu hampir menjadi kenangan traumatis bagi Baron, tepatnya seluruh prajurit Aliansi yang berhasil melarikan diri dari medan perang mengerikan yang mereka ciptakan sendiri.
Baron hanya membayangkan bahwa raksasa seperti Rusia dan Korea Utara baru dapat dikalahkan jika Aliansi mengirimkan lebih dari tiga juta tentara mereka dalam operasi serangan total. Lebih buruknya, Indonesia mungkin akan memanfaatkan kekuatan laut mereka di dunia ini untuk membalas mereka.
“Tapi untungnya Aliansi memberi kita pasukan yang cukup untuk merebut kembali Benteng Kalea. Apa yang akan kita lakukan adalah menempatkan pasukan yang cukup di seluruh sisi luar benteng untuk mengalihkan perhatian musuh. Itu akan cukup untuk membayar kesalahan kita di perang sebelumnya. Apakah kita berhasil mengalahkan musuh atau tidak, paling tidak kita telah membuat mereka mundur dan meninggalkan benteng. Itu sudah termasuk pencapaian yang besar.”
“Kau benar-benar percaya diri dengan rencanamu yang akan berjalan baik.”
Rio telah mempelajari sebagian besar informasi dari prajurit Aliansi yang dibebaskan tanpa syarat oleh Persekutuan terkait kekuatan Persekutuan, khususnya Indonesia dan sekutunya. Dia memahami sebagian situasinya, dimana Aliansi tengah menghadapi sebagian kecil pasukan Rusia dan Korea Utara di dunia ini. Bagi Rio tampaknya Aliansi telah berhasil mengobarkan perang yang lebih besar dari yang direncanakan, dan melupakan rencana ‘hanya’ berperang melawan Indonesia. Atau tepatnya mereka tengah mempersiapkan pasukan untuk menghadapi Periode Perang Besar.
Sementara itu, tanda untuk pasukan pemanah memainkan perang mereka telah diberikan, yakni drum yang ditabuh beberapa kali. Seluruh prajurit yang membawa busur dan anak panah mengangkat senjata mereka dengan sasaran yang sama, yakni pasukan yang berada di dalam Benteng Kalea. Hujan panah tercipta di atas pasukan Aliansi, dan diharapkan dapat membuat musuh keluar dari sarangnya dan melakukan serangan balasan.
Bukannya mereka tidak memahami perbedaan kekuatan antara Aliansi dan musuh mereka. Namun, mereka masih beranggapan jumlah besar akan memenangkan segalanya.
“Tidak ada balasan?” Baron bergumam.
“Ini terlalu mencurigakan. Atau mungkin mereka memutuskan bertahan?”
Hujan panah hanyalah serangan pembuka sebelum gelombang serangan berikutnya. Kemudian lima balista ditarik maju oleh puluhan ogre dan orc hingga senjata-senjata tersebut berada di depan pasukan utama. Karena artileri balista yang berupa tombak raksasa melesat dalam lintasan lurus, maka melepaskan tembakan dari barisan belakang adalah hal yang sangat buruk. Sehingga jika ingin menyerang menggunakan senjata tersebut harus ditempatkan di depan pasukan dengan perlindungan kavaleri ringan atau infanteri berat.
Melawan pasukan yang memiliki kendaraan lapis baja atau senjata baja lainnya dengan balista, ketapel raksasa, atau trebuchet, Aliansi tetap mengharapkan dampak kerusakan besar yang dihasilkan senjata-senjata tersebut terhadap senjata monster yang dimiliki musuh. Aliansi percaya keterampilan akan mengalahkan kekuatan, atau begitulah istilah yang mereka ciptakan untuk memperkuat moral pasukan.
Selain balista, artileri trebuchet dan ketapel raksasa yang berupa puluhan batu berukuran sedang atau sebuah batu seukuran roda mobil tengah dimuat. Selesai menyiapkan tembakan, mereka tinggal menunggu perintah dari komandan senjata atau Baron.
“Bidik! Target adalah tembok tipis Benteng Kalea. Jangan pikirkan dengan balasan musuh! Tembak!”
Kemudian, setelah Baron berteriak seperti itu terlihat hujan batu dan tombak raksasa yang melesat dalam kecepatan tinggi. Setelah seluruh serangan mengenai benteng, suara gemuruh terdengar dari Benteng Kalea yang mereka hujani dengan batu dan tombak raksasa.
Hujan batu dan lesatan tombak raksasa dipercaya mampu menjebol dinding benteng, serta diharapkan merusak fasilitas musuh di dalam benteng. Itu karena Benteng Kalea tidak setebal benteng-benteng Aliansi lainnya, namun sedikit lebih tebal daripada benteng TNI yang mereka dapat runtuhkan dalam penyerangan beberapa bulan lalu.
Pada detik berikutnya setelah serangan artileri, seluruh prajurit masih menunggu musuh memperlihatkan balasan atau semacamnya.
Namun, hingga beberapa menit mereka menunggu, musuh tetap belum memperlihatkan tanggapan terhadap serangan mereka. Satu persatu prajurit mulai memperlihatkan kekhawatiran, lalu perasaan yang membuat hati tidak nyaman memenuhi diri mereka.
“Kukira itu dapat membuat musuh melakukan serangan balasan. Tapi, bahkan menghujani mereka dengan panah dan batu, itu tidak akan membuat mereka melemah.”
Rio tidak akan mengorbankan beberapa ribu prajuritnya sendiri untuk menyerang benteng yang diisi musuh dengan kekuatan yang tidak dapat dipastikan.
Di medan perang, rasa ragu yang hinggap di hati meski hanya sesaat dapat menyebabkan kematian jika dia tidak segera memutuskan tindakan selanjutnya.
__ADS_1
“Rio, mau bagaimana lagi, kita harus maju.”
“Itu berarti yang kita lakukan bukan pengepungan namanya. Yah, meski usulanmu ada benarnya juga.”
Senjata yang diharapkan mampu mengimbangi seri SS20 dan senapan milik kontingen ‘dunia lain’ telah disiapkan. Setidaknya, untuk mengimbangi senjata musuh selain senapan, mereka telah melengkapi diri dengan keterampilan yang diajarkan Rio dan Pahlawan Penyesalan alias Gurion yang berasal dari angkatan bersenjata Israel.
Peleton Khusus Aliansi mungkin tidak dapat melawan meriam atau kendaraan bantuan tembakan hanya dengan senapan. Maka dari itu penyihir telah disiapkan untuk menghujani musuh dengan panah api atau sihir pembeku untuk menghambat serangan yang dilancarkan oleh musuh, sehingga mereka dapat melakukan serangan terhadap senjata-senjata musuh.
Rio memerintahkan kavaleri bergerak maju untuk memastikan keadaan musuh, serta penyihir disiagakan sebagai pemberi bantuan serangan jika musuh memberi mereka balasan tiba-tiba. Kavaleri berat dan ringan yang berjumlah total lebih dari enam ribu tentara dan kuda maju bersama Rio, sementara Baron diminta tetap memimpin infanteri dan para operator senjata.
Benteng Kalea memiliki dua gerbang yang akan jalan masuk kavaleri untuk menyerang musuh di dalamnya, yakni gerbang barat dan utara. Kecepatan mobilitas kavaleri diharapkan mampu membuat musuh kehilangan kesempatan untuk membalas yang membuat mereka harus mempertahankan diri dari kavaleri Rio yang datang dari kedua arah. Musuh bisa saja mempertahankan diri menggunakan senjata yang mereka banggakan, namun Rio tetap percaya jumlah besar kavaleri dan penyihir yang siap melindungi pasukannya dapat meruntuhkan kepercayaan diri musuh.
Kavaleri yang dibawa pada penyerangan ini berbeda dengan pasukan berkuda yang menempati Benteng Kalea sebelum mereka berhasil dikalahkan dan menyebabkan benteng tersebut diambil alih musuh. Kavaleri berat mengenakan zirah logam yang terbuat dari Baja Magis yang ditambang dari Tanah Suci yang menjadi wilayah Kekaisaran Luan. Meski sangat tipis karena jumlah Baja Magis yang ditambang sangat terbatas, setidaknya pelindung tubuh yang menutupi bagian vital mampu menahan lesatan proyektil 7,65mm dari jarak dua ratus meter.
Saat keadaan menjadi sangat mendesak dan inovasi merasa sangat diperlukan, maka seseorang akan menjadi kreatif. Melalui uji coba beberapa kali, akhirnya kavaleri berat Aliansi dilengkapi dengan zirah pelindung yang terbuat dari Baja Magis. Selain senapan, itu adalah salah satu peningkatan Aliansi yang dilakukan tanpa memerlukan bantuan pengetahuan kesembilan pahlawan. Meski mampu menahan putaran proyektil 7,52mm, zirah logam tetap lemah terhadap senjata yang mampu menembakkan proyektil dengan kaliber lebih dari itu.
Setidaknya, kekuatan zirah Baja Magis kavaleri berat mampu membuat mereka seperti benteng berjalan, sehingga diharapkan mampu menahan tekanan musuh. Jika pasukan di baris depan terkena tembakan, maka itu akan menjadi jalan untuk pasukan di belakang agar terus bergerak maju menghadapi senjata baja musuh. Itu tidak ada bedanya menjadikan kavaleri berat untuk menjadi benteng bergerak yang ditempatkan di baris depan, lalu menjadikan mereka sasaran tembak musuh, sedangkan mereka sadar senjata musuh dapat dengan mudah menghancurkan kavaleri berat dengan zirah Baja Magis.
Rio kemudian memberikan sinyal agar kavaleri-nya membagi diri menjadi dua pasukan, mereka akan memasuki benteng dari kedua sisi dengan menggunakan kedua gerbang utama sebagai pintu masuk. Dia berharap dengan taktiknya yang membagi pasukan kavaleri menjadi dua bagian akan menambah daya gempur dan membingungkan musuh.
“Kenapa gerbangnya terbuka?”
Pertanyaan seperti itu timbul di kedua pasukan kavaleri yang telah berjarak puluhan meter dari depan gerbang.
Biasanya, ketika pengepungan benteng atau kota yang dikelilingi benteng berlangsung, pintu gerbang benteng akan selalu tertutup selama pertempuran. Itu dilakukan agar penyerang tidak dapat memasuki dalam benteng dengan mudah, sementara batas waktu pengepungan belum dapat dipastikan.
Selain itu, tujuan Rio mengepung Benteng Kalea adalah mengurangi kekuatan musuh sedikit demi sedikit, dengan titik awal mengalahkan musuh yang menduduki Benteng Kalea. Pasukan musuh yang menduduki benteng akan kehilangan jalur keluar, dan terus menerima tekanan dari pasukannya. Jika pasukannya dapat terus bertahan hingga hari terakhir pengepungan, selain merupakan pencapaian besar mereka juga telah berhasil melemahkan musuh meski hanya sedikit. Biasanya, akhir pengepungan terjadi jika pihak yang diserang kalah menyerah, lalu gerbang benteng akan terbuka untuk menyambut penyerang yang memenangkan pengepungan.
“Tuan Rio, apa kita tetap akan memasuki benteng? Menurut saya musuh yang tidak membalas dan gerbang benteng yang terbuka sangat mencurigakan,” salah satu perwira bawahan Rio bertanya dengan nada gelisah. Begitu pula perwira-perwira lainnya yang tidak tersenyum meski gerbang benteng telah terbuka.
Mereka tidak begitu senang setelah mengetahui gerbang benteng yang terbuka lebar, kemudian Rio memerintahkan pasukannya untuk tetap di tempat, sementara dirinya bergerak mendekati gerbang benteng. Dia berharap musuh tetap terus bertahan, dan dengan begitu pengepungan akan beres dalam waktu sangat singkat.
Mengingat situasinya sangat mencurigakan, Rio memberi sinyal terhadap penyihir agar melakukan sihir tameng untuk melindungi kavaleri yang mengepung benteng dari dua arah. Sementara dirinya juga tetap mendapatkan perlindungan dari sihir tameng dari para penyihir meski dirinya telah melindungi diri dengan sihir tameng miliknya.
Pada akhirnya, Rio merasa benteng begitu sepi tanpa terdengar suara prajurit yang saling berbicara atau senjata yang tengah dipersiapkan. Selain itu, terdapat beberapa jejak roda kendaraan dan roda rantai pada tank yang dilihat oleh Rio. Jejak-jejak kendaraan lapis baja tersebut mengarah ke arah selatan, tepatnya ke arah Tanah Suci yang dikuasai Indonesia.
Intinya, pasukan musuh yang menduduki benteng telah mengetahui pergerakan pasukannya dan mereka telah mundur bahkan sebelum mereka mencapai tempat ini.
“Kenapa bajingan seperti mereka mengetahui pergerakan rahasia kami!”
Ketika Rio sibuk mengutuk pasukan Indonesia dan sekutunya, sebuah benda terbang dengan empat baling-baling terbang beberapa puluh meter di atas Rio.
“Drone pengintai?!”
Jika Rio mendapatkan kesempatan lagi untuk mengamati lebih lanjut benda terbang tersebut, maka dia akan mendapatkan waktu selama beberapa menit lagi. Hingga apa yang dia lihat bukanlah pesawat tanpa awak yang berfungsi sebagai pengintai.
“Babi! Mereka benar-benar brengsek sialan!”
Yang Rio inginkan hanyalah mengirimkan berita besar kepada Aliansi, yakni kemenangan pertama mereka setelah menjadi organisasi militer besar.
Rio merasa dirinya terlalu sering terlibat masalah (perang yang berat sebelah), dan semua taktik yang dia buat seakan sama sekali tidak membantu dan memberikan Aliansi kemenangan.
Rio tidak memiliki pilihan selain memerintahkan pasukannya untuk mundur setelah menyadari pesawat tanpa awak yang dia lihat adalah UAV Elang Hitam G-201 V-DB, yang membawa Rudal Petir V-L dengan daya rusak seluas sepuluh meter persegi.
(note: G-201 pada belakang nama Elang Hitam berarti senjata tersebut dalam generasi ke 201 sejak produksi pertama, sedangkan V-DB berarti Varian-Dunia Baru yang memang dikembangkan untuk misi khusus selama penugasan Pasukan Perdamaian di dunia lain. Sedangkan kode V-L pada belakang nama Rudal Petir berarti Version-Light, yang khusus diproduksi sebagai senjata dengan daya ledak sedang yang dapat diangkut dengan UAV)
Lagipula Rio telah mengetahui beberapa tipe senjata produksi nasional yang digunakan TNI dalam perang melawan bangsa dunia lain pada peperangan sebelumnya. Itu berarti, dia tahu betul dampak yang dihasilkan kedua senjata tersebut terhadap pasukannya yang sama sekali tidak memiliki pengalaman menghadapi senjata seperti itu.
Selain itu, meski kedua pasukan kavaleri yang dia perintahkan mengepung benteng telah bersatu kembali dan mundur, lesatan peluru kendali dapat mencapai mach-1 (lebih dari 1.200 kilometer perjam). Itu artinya, mustahil bagi mereka untuk melarikan diri dari senjata monster tersebut.
“Jangan bergerak dalam barisan rapat! Seluruh prajurit menyebar!”
Sekeras apapun Rio dan para perwira berteriak, yang para prajurit bawahan dengar dan lihat hanyalah benda terbang berekor panjang yang terbang sangat cepat ke arah mereka. Mereka tidak memiliki pilihan selain menyelamatkan diri, meski itu berarti harus memacu kuda melebihi batasnya serta meninggalkan teman yang tertinggal di belakang.
Sensasi kemenangan yang pasukan bayangkan ketika perjalanan menuju Benteng Kalea seketika runtuh setelah suara menderu dari Rudal Petir V-L meruntuhkan moral mereka terlebih dahulu. Para penyihir langsung mengeluarkan sihir tameng untuk melindungi pasukan dari sebuah benda panjang dengan ekor asap berwarna abu-abu yang terus mengejar – dan nampak sangat berbahaya meski jauh lebih kecil dari raja naga api.
Pelindung berbentuk parabola melindungi dan bergerak dalam kecepatan yang sama dengan pergerakan kuda yang ditunggangi prajurit kavaleri. Sementara itu, sebagian penyihir telah membuat lingkaran sihir, lalu panah-panah api keluar dari puluhan lingkaran sihir yang mereka buat. Itu semua dilakukan untuk menangkis dan membuat senjata tersebut tidak membunuh ribuan pasukan kavaleri yang sedang bergerak mundur.
Satu persatu panah api yang melesat tidak satupun yang berhasil menghentikan laju peluru kendali tersebut. Tepatnya, para penyihir tidak dapat membidik sasaran yang bergerak jauh lebih cepat dari makhluk terbang apapun yang pernah mereka lihat.
“Panah api mereka bahkan tidak mampu menghentikan rudal itu?!”
Rudal Petir V-L terus melesat tanpa memperlambat lajunya, hingga langsung menghantam kubah pelindung sihir yang diharapkan mengurangi jumlah korban dari pasukan kavaleri. Kubah dengan tinggi sepuluh meter mengalami retak setelah ujung senjata tersebut menghantam pelindung tersebut, dan rudal langsung menembus tameng sihir dan menghantam tanah.
Hulu ledak lima puluh kilogram menghasilkan dampak ledakan yang membunuh lebih dari dua puluh persen pasukan kavaleri yang telah dilindungi sihir tameng. Bagi prajurit dan kuda yang tidak terkena ledakan, hampir seluruh dari pasukan kavaleri yang tidak terkena ledakan besar terhempas akibat gelombang kejut. Mereka terbang seperti daun kering yang tertiup angin dan menyebar ke segala arah dengan kepercayaan diri yang runtuh hingga tingkat paling dasar.
Cipratan tanah yang yang basah akibat hujan serta potongan daging manusia dan kuda menghujani tanah setelah ledakan kuat dari rudal.
Apakah musuh memiliki senjata yang dapat terbang jauh lebih cepat dari makhluk hidup dunia ini?
Meskipun firasat mereka mengatakan dunia lain sangat lemah – karena tidak memiliki sihir, namun kesembilan pahlawan pernah mengatakan istilah yang disebut ‘teknologi’.
Baron yang menyaksikan ledakan besar membunuh sebagian pasukan kavaleri yang bahkan tidak mampu melawan senjata monster ‘dunia lain’ tersebut. Gelombang kejut yang menghempaskan kuda-kuda dan prajurit kavaleri seperti daun kering membuat rambut Baron yang dipotong bowl cut menjadi berantakan.
Infanteri dan pemanah tidak dapat bergerak setelah ledakan besar yang dapat membunuh dengan cepat dan mudah mereka saksikan dari jarak kurang dari satu kilometer di depan mata mereka. Rasa gentar dan takut mulai memenuhi jiwa dan pikiran mereka, hingga beberapa prajurit mulai tak sadarkan diri dan memasang wajah seperti orang yang menderita tekanan mental parah.
Rio – yang melindungi dirinya dengan sihir tameng terhempas puluhan meter, dan baru berhenti setelah menghantam tubuh puluhan bawahannya yang tertumpuk. Dia hanya mengalami luka ringan, dan mendengar rintihan dari para prajurit yang terkena gelombang kejut yang menambah daya rusak.
Sementara itu, hanya sebagian kecil pasukan kavaleri Rio yang tidak terkena dampak apapun karena mereka berada di barisan paling belakang ketika mundur.
Sesaat kemudian, suara rentetan tembakan terdengar dari baris belakang yang diisi kurang lebih sembilan ratus pemanah dan dua unit Peleton Khusus Aliansi. Rio dan Baron yang mendengar suara ledakan yang terus terjadi tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejut mereka. Dalam hitungan menit setelah rentetan tembakan terjadi, puluhan pemanah telah menjadi mayat tanpa nyawa yang tergeletak di tengah genangan darah mereka sendiri.
Jelas-jelas yang mengakibatkan puluhan pemanah mati tanpa perlawanan adalah meriam otomatis dan senapan mesin berat otomatis – yang hanya dimiliki pasukan ‘dunia lain’.
Sesuatu yang melakukan serangan dan menyebabkan kerusakan seperti itu baru terlihat setelah beberapa prajurit terpental karena ditabrak sebuah kendaraan lapis baja berukuran sedang.
__ADS_1
Sebuah panser menghantam dan melindas siapapun yang menghalangi lajunya, kemudian dua kendaraan yang sedikit lebih kecil melaju tak jauh dari panser tersebut. Meriam otomatis 20mm menyapu Peleton Khusus Aliansi yang menembak dalam posisi tengkurap.
“Mereka tidak ada bedanya dengan sasaran tembak nyata.”
Seorang operator meriam otomatis pada panser berkata seperti itu pada temannya. Itu memang bukanlah pernyataan yang penuh kebohongan, bahkan tembakan musuh tidak satupun yang menggores pelat armor baja 15mm pada panser. Hanya cat yang mengelupas dan beberapa bagian yang penyok akibat menabrak puluhan musuh yang tidak mau menepi ketika panser melaju dalam kecepatan enam puluh kilometer perjam di medan tanah tidak rata ini.
“Yogi, aku tahu kau itu mantan pembalap. Tapi kau harus sadar kita ada dimana!”
Salah satu penumpang pada panser yang dikemudikan Yogi, Agus mengatakan hal itu sambil memukul kepala Yogi yang mengenakan helm.
“Ngutek sitik iso po ora?! Koe nyetir udu neng dalan aspal, su! Neng ngarep mu kui yo menungso, ojo ditabrak sak senengmu! (ngotak sedikit bisa apa tidak?! Kamu nyetir bukan di jalanan aspal, su! Di depanmu itu juga manusia, jangan ditabrak sesukamu!).”
“Maaf Letnan, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Asalku bukan dari Jawa.”
Yogi menanggapi perkataan Nio yang tidak dia mengerti dengan sangat santai, dan kembali menabrakkan panser yang dia kemudikan secara ugal-ugalan pada seorang prajurit infanteri musuh bertubuh besar yang dengan wajah percaya diri berencana menghentikan laju panser. Pada akhirnya, panser menghantam tubuh prajurit besar tersebut dan membuatnya terpental sejauh enam meter.
Operator meriam otomatis pada panser, yakni Kaikoa tidak dapat membidik sasaran dengan benar jika Yogi tidak mengembalikan kewarasannya dalam berkendara. Dia berkendara seperti orang dalam gangguan jiwa, namun dengan kewarasan tetap dimiliki olehnya. Kaikoa hanya dapat menembak secara menyebar selama sasaran yang berupa prajurit musuh masih terlihat dari layar remote kendali meriam.
Di sisi lain, Nio yang duduk di samping pengemudi panser terlihat tidak bergerak lagi setelah mengomel dengan perkataan kasar terhadap Yogi. Penderitaannya seperti belum cukup selain bawahannya yang mengemudi tanpa aturan, yakni perutnya yang kini mulai mual. Dia sangat ingin pindah kendaraan, namun mereka terlihat sibuk mengurangi jumlah prajurit musuh. Sementara itu, Nio merasa menyuruh keempat gadis Penjelajah untuk menumpangi kendaraan taktis – yang dikemudikan oleh pengemudi waras merupakan ide yang sangat tepat.
Beberapa saat kemudian, Nio merasa perutnya sebentar lagi akan mengeluarkan isi makan siangnya. Meski dia menyumpal mulut dengan kepalan tangan kiri, namun isi perut Nio tetap bergejolak hingga mencapai ujungnya.
“Yogi asu! Mandek'o saiki! (Yogi asu! Berhenti sekarang!).”
Nio sekali lagi mengomel dengan kalimat kasar, namun Yogi tidak mengerti ucapannya dan terus menginjak pedal gas. Seperti sudah kehilangan kesabaran, Nio menginjak pedal rem hingga panser berhenti mendadak dan seluruh penumpang terpental ke depan.
Setelah kendaraan berhenti, Nio segera membuka pintu penumpang, lalu melompat kemudian berjongkok.
“Letnan, kau lemah sekali.”
Yogi berkata dengan ekspresi tanpa rasa bersalah, dan menyaksikan Nio berjongkok di tengah peperangan sambil muntah dan mengacungkan jari tengahnya kepada Yogi.
Rencana merebut kembali Benteng Kalea benar-benar seperti mimpi buruk yang terulang kembali. Tidak ada cara untuk menggambarkannya kecuali serangan menyapu yang menghabisi puluhan nyawa sekaligus, serta sebuah benda misterius yang turun dari langit dan menyebabkan ledakan besar.
Meski Nio masih melanjutkan aktivitas mengeluarkan makan siangnya yang disebut ‘muntah’, firasatnya mengatakan sesuatu yang besar akan tiba.
Sesaat kemudian, ketika suara rentetan tembakan yang belum berhenti dari senapan mesin berat otomatis yang menembakkan seribu proyektil 12,7mm dalam setengah menit dan meriam pada panser menyapu pasukan infanteri musuh yang berusaha mendekati Nio yang belum selesai muntah, hujan proyektil artileri menghujani musuh.
“Bajingan, padahal mereka sudah ku peringatkan jangan menembak sebelum kita selesai melakukan serangan bantuan!”
Hujan artileri membuat medan perang benar-benar seperti neraka dengan hujan potongan tubuh dan lumpur, dan Tim Ke-12 menyaksikan sendiri puluhan peluru artileri menghantam tanah dan membunuh puluhan prajurit musuh sekaligus. Suara rentetan artileri yang tak ada henti-hentinya di dekat Benteng Hitam seperti guntur yang menggetarkan tanah.
Puluhan proyektil artileri dengan daya rusak luar biasa mengubah tanah menjadi kawah kecil seperti permukaan bulan. Meski mereka berada di tengah bahaya, anggota Tim Ke-12 melihat musuh yang meneriakkan rasa sakit dan kutukan mereka terhadap Persekutuan dengan eskpresi kagum.
**
Setelah Nio mendengar situasi dari Arif, perasaan yang dia miliki adalah keresahan yang luar biasa. Setelah menghadapi pasukan berjumlah lima ribu beberapa bulan lalu, setelah itu dia ditugaskan memimpin Tim Ke-12 menyusup ke Kota Tanoe, tetapi dirinya justru bertarung bersama Pahlawan Empati di Labirin milik Kekaisaran Duiwel, dan sekarang dia dan bawahannya terjebak dalam pertempuran.
Sementara itu, empat gadis yang ikut kembali dari penjemputan Nio yang dilakukan Hevaz dan Hassan membuat beberapa orang menatap mereka berempat dengan tatapan penuh tanda tanya. Sementara itu, bagi Edera bukan hanya pertempuran yang mungkin akan melibatkan dirinya dan Tim Ke-12 yang membuat dirinya gelisah, namun juga keberadaan empat gadis baru yang bersama Nio kembali. Itu memang hal yang tidak diharapkan Edera juga beberapa gadis lainnya, namun pasti Nio memiliki maksud lain membawa keempat gadis Kekaisaran Duiwel tersebut ke sini.
“Jumlah mereka sangat banyak Letnan, sekitar lima belas ribu.”
Hendra mengira-ngira jumlah musuh lalu memberi tahukannya pada Nio, namun Nio tetap memasang ekspresi ragu mengenai jumlah musuh. Sayangnya, Nio bukanlah komandan kompi, Batalyon, atau bahkan komandan resimen. Dia hanyalah kapten dari sebuah tim dengan anggota kecil berjumlah dua puluh orang ditambah dua gadis yang menjadi anggota tidak resmi dan tidak terdaftar sebagai personel Korps Pengintaian dan Pertempuran.
Jika pasukan teman yang akan menghadapi musuh memerlukan bantuan Tim Ke-12, maka yang dapat Nio perintahkan terhadap bawahannya adalah melakukan taktik yang telah mereka pelajari dari pertempuran sebelumnya. Nio hanya ingin mengeluarkan amunisi seminim mungkin, namun tetap dapat menghasilkan daya rusak luar biasa.
“Jumlah mereka mungkin lebih banyak dari itu. Intinya musuh berjumlah lebih dari lima belas ribu.”
“Jumlah yang mendekati adalah dua puluh ribu, atau bisa kurang dan lebih dari itu,” sambung Hevaz.
Nio menatap jejak kaki manusia dan kuda, serta jejak yang dihasilkan roda yang menggerakkan senjata-senjata musuh seperti balista dan ketapel raksasa. Jejak yang musuh tinggalkan menghasilkan cekungan yang dapat menampung genangan air dalam jumlah kecil, seperti genangan air pada jalan rusak. Itu yang menjadi cara Nio membayangkan jumlah musuh, lalu memperkirakannya.
“Letnan, ada saluran yang terhubung dengan sinyal kita. Mereka mengaku dari Baterai 001 dan Kompi Bantuan 006, serta salah satu dari tiga batalyon yang menduduki Benteng Hitam yang telah mundur ke zona oranye.”
Bima memperlihatkan kepalanya dari jendela panser yang memang difungsikan untuk membawa alat komunikasi Tim Ke-12.
Nio menerima handsfree yang diberikan Bima, lalu mulai berbicara dengan lawan bicaranya yang merupakan salah satu komandan batalyon yang ditugaskan menduduki Benteng Hitam.
Nio sama sekali tidak bisa lengah meski dalam kondisi tubuh mulai merasakan lelah meski tidak terlalu berat. Dia mendengar dari salah satu komandan batalyon tersebut jika mereka melaksanakan taktik yang dia buat, yakni mundur ke zona oranye. Saat mereka melakukan hal tersebut, bantuan datang lebih cepat dari harapan mereka, dengan tambahan bantuan salah satu UAV milik skuadron 001 Pasukan Perdamaian yang merupakan satu-satunya skuadron pesawat tanpa awak di dunia ini.
Selain mengandalkan kompi bantuan, mereka juga menginginkan Tim Ke-12 untuk ikut membantu menghadapi musuh yang berjumlah sekitar dua puluh ribu tersebut. Itulah yang membuat Nio hampir berteriak terhadap lawan bicaranya, karena dia sama sekali tidak mendapatkan waktu istirahat setelah berjuang selama satu minggu di Labirin milik Kekaisaran Duiwel.
Meski Nio hanya meluapkan emosinya melalui ekspresinya yang tiba-tiba berubah, Bima – sebagai orang yang berada di dekat Nio merinding dengan ekspresi atasannya.
“Baiklah, kami akan turut memberikan serangan bantuan. Namun, untuk apa UAV dikirimkan, bukannya dua batalyon artileri saja sudah cukup?”
Meskipun batalyon artileri mampu memberikan dampak besar terhadap barisan rapat musuh, namun mereka juga menginginkan waktu pertempuran yang sesingkat mungkin. Sementara itu, Rudal Petir V-L yang diangkut pada Elang Hitam G-201 V-DB mampu bergerak lebih cepat dan menghasilkan daya rusak sangat besar terhadap musuh.
Kemudian, komandan batalyon infanteri tersebut memberi tahu Nio jika mereka akan maju perlahan selama batalyon artileri menghujani musuh dengan proyektil artileri mereka.
“Itu bagus jika kompi bantuan turut membantu. Setidaknya mereka dapat memberikan dampak rusak yang lebih terhadap musuh.”
Musuh selalu berperang dalam barisan rapat dan formasi yang teratur, namun tetap mengandalkan pertempuran langsung meski mengetahui musuh mereka memiliki berbagai senjata jarak jauh yang mampu menghadapi mereka tanpa berkeringat – kecuali operator senjata.
“Membantu kami dengan serangan bantuan tidak terlalu buruk, tapi itu juga terlalu berbahaya bagi kami.”
Kini komandan salah satu batalyon artileri yang berkomunikasi dengan Nio, dan dia mencoba melindungi Tim Ke-12 selama mereka membantu dalam upaya melakukan tembakan bantuan dengan melakukan beberapa tembakan artileri.
Namun, dampak yang dihasilkan proyektil artileri cukup untuk merobohkan sebuah kapal induk helikopter kelas 200 meter, dan Nio tidak ingin bawahannya dalam bahaya meski tujuan memberi mereka tembakan bantuan adalah hal yang bagus.
“Ya, kami akan segera bergerak. Semoga Tuhan menyertai kita dalam setiap pertarungan.”
Nio mengakhiri komunikasi dari lawan bicaranya, lalu kembali memasang wajah lesu setelah melepas handsfree lalu menggenggamnya dengan kuat. Bima mencoba mencegah Nio menggenggam alat tersebut lebih kuat, namun ekspresi Nio yang terlihat tegang membuatnya mengurungkan niatnya.
Nio hampir membanting alat tersebut ke tanah, namun segera membatalkannya setelah menyadari jika handsfree tersebut dibeli menggunakan uang pajak. Kekesalannya terhadap permintaan melakukan tembakan dukungan membuat Nio harus menunda istirahatnya, dan mengakibatkan Nio hampir kehilangan akal sehat.
__ADS_1
**
Funfact#17: musik rekomendasi kali ini adalah lagu-lagu (instrumen) dari 'Two Steps From Hell'. Walau hanya instrumen, tapi tetep asik.