Prajurit SMA

Prajurit SMA
Perang batin: pembicaraan dengan Presiden


__ADS_3

Nio berdiri di depan papan tulis hitam. Tidak ada atap dan untuk melindungi sekolah lapangan dari terik matahari dan debu. Namun keuntungannya adalah mereka tidak memerlukan kipas angin atau AC, sehingga bisa memanfaatkan energi angin gratis sebagai penyejuk. Tidak ada lantai keramik, dan hanya tanah. Lalu, di depan Nio adalah sepuluh anak-anak.


Melirik ke sebelahnya, Nio melihat seorang perwira wanita yang tenang mengenakan pakaian lapangan. Dia adalah Mayor Herlina, dan dia berdiri penuh perhatian tanpa bergerak, dan menatap satu persatu anak-anak di depannya.


Nio melihat ke depan dengan tatapan tidak bersemangat. Anak-anak di depannya memandanginya dan Herlina dengan penuh keingintahuan. Mereka duduk di tanah beralaskan tikar piknik, dan menggunakan meja panjang seperti di warung makan. Di atas meja, para anak-anak menghadap sebuah pensil, buku, dan penghapus pemberian yang dibeli dari uang sumbangan anggota Kompi 406-32.


Nio memanggil Herlina dengan lirih, “Hei!” lalu melanjutkan perkataannya setelah perempuan itu menolah padanya, “Apa yang kita lakukan hanya berdiri seperti ini?”


“Kamu bisa memulainya dengan memperkenalkan dirimu,” jawab Herlina dengan senyuman.


Meskipun dia memiliki pekerjaan yang jauh ‘menghasilkan’ daripada menjadi guru sukarelawan bagi anak-anak yatim piatu korban perang, Nio menerima perintah Herlina. Dia berjalan satu langkah ke depan, menggaruk bagian belakang kepalanya dan memandangi wajah anak-anak.


Nio lalu berkata, “Halo, namaku Nio Candranala. Bersama Mayor Herlina, aku akan menjadi pengajar kalian hari ini. Senang bertemu dengan kalian.” Nio mengangkat tangannya untuk menyapa anak-anak, dan bersikap seramah mungkin. Tetapi, anak-anak hanya memandanginya dengan datar, tanpa reaksi apapun atau mengatakan sesuatu untuk menanggapi perkenalannya.


“Hobiku berjalan-jalan, olahraga, dan banyak lagi. Aku juga suka beladiri,” Nio mengatakan segala aktivitasnya di dunia lain, dan semuanya adalah kebenaran. Dia berjalan-jalan membantu unit lain yang menghadapi pertempuran, atau berjalan-jalan menuju garis depan baru. Dia setiap hari mengangkat mortir maupun senapan mesin ringan, sehingga bisa dikatakan sebagai angkat beban. Lalu, ketika dia kehabisan peluru, Nio memanfaatkan beladiri yang dipelajari sebagai senjata.


Namun anak-anak tetap diam.


“Aku juga bisa melakukan beberapa atraksi.”


Anak-anak tetap diam.


Nio menyerah menjelaskan dirinya sendiri, lalu bertanya pada anak-anak, “Apa kalian punya pertanyaan?”


Lalu, dengan serempak dan bersemangat anak-anak menjawab“Ya!!!” , energi anak-anak memang luar biasa.


Bingung dan bertanya-tanya mengapa dia menerima ajakan Herlina, Nio menatap langit. Hanya ada beberapa awan di langit biru yang luas. Angin sepoi-sepoi yang lembut menerbangkan beberapa sampah plastik, lalu pesawat komersial meninggalkan jejak berupa asap panjang. Nio menghela napas, seharusnya dia hari ini mulai melakukan ‘tindakan’ terhadap orang-orang yang membuatnya hanya memikirkan balas dendam.


Nio dan Herlina menjadi pengajar sukarela bagi anak-anak pinggiran kota yang tidak memiliki orang tua.


“Kamu bisa bertahan ‘kan, Nio?”


Herlina bertanya seperti itu seolah ingin mempertanyakan daya tahan Nio menghadapi anak-anak yang penuh kejutan. Perempuan itu lalu menuliskan sesuatu untuk pelajaran hari ini. Nio bertanya-tanya apakah Dinas Sosial dan Lembaga Perlindungan Anak tidak menyediakan pendidikan bagi anak-anak yatim piatu dibawah perlindungan mereka.


Walau mereka sebelumnya tampak bersemangat, ada beberapa anak-anak yang tersenyum ke arahnya, atau tidur nyenyak di atas meja.


“Aku ingin kamu membantuku mengajar para anak-anak di pinggiran Garnisun Karanganyar,” kalimat tersebut dikatakan Herlina ketika dia menyadari Nio memiliki rencana untuk mengungkap sejumlah kasus besar.


Setelah perang, sarana pendidikan di seluruh negeri kembali dibangun bahkan mendapatkan peningkatan. Namun, bagi anak-anak korban perang yang kehilangan saudara, mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan dengan mudah. Hal itu yang mendasari Herlina mendirikan sekolah darurat setingkat Sekolah Dasar, dan disetujui seluruh anggota Kompi 406-32 dengan cara menyumbangkan sebagian kecil gaji dan lain-lain.


Pada akhirnya, Nio menerima ajakan Herlina sambil memikirkan rencana dalam pekerjaan selanjutnya. Walau pinggiran kota tampak tidak tersentuh perhatian pemerintah, anak-anak dan warga setempat tampak hidup biasa di lingkungan hancur ini. Nio bisa merasakan apa yang penduduk pinggiran kota jalani, dia pernah mengalami hidup seperti itu sebelum perang dimulai. Untuk mengurangi rendahnya tingkat pendidikan pasca perang, secara resmi Herlina mendirikan sekolah lapangan.


Setelah mendapatkan ajakan semacam itu, Nio bertanya pada Herlina, “Kenapa kau ingin aku jadi guru?”

__ADS_1


Herlina tidak kehabisan alasan untuk pertanyaan Nio, “Yah, menghadapi anak-anak yang banyak tingkah dengan beragam sifat dapat membantumu mengendalikan emosi. Aku ingin seorang rekan untuk meringankan pekerjaan. Seperti yang kamu tahu, walau dibangun dari dana sukarela anggota kompi, kami berharap banyak pada sekolah darurat itu. Jadi, kupikir akan sangat menyenangkan menunjukkan padamu hasil kerjasama kami selama kamu bertugas di dunia lain. Tenang saja, dalam seminggu sekolah hanya dibuka dua kali.”


Walau prihatin, Nio menjawab pernyataan Herlina, “Walau libur, aku juga punya pekerjaan, tahu”


“Aku tidak selalu memintamu datang. Tapi, kalau punya waktu kamu bisa datang membantuku.”


Nio kembali sadar dari lamunannya ketika mendengar suara gaduh anak-anak. Nio mendengar jawaban anak-anak saat Herlina mengajukan pertanyaan pada mereka, dan mereka menulis apa yang ada di papan tulis hitam. Sembilan anak perempuan dan sebelas anak laki-laki, mereka semua memakai pakaian kurang layak, dan tampak jarang mandi. Nio tidak yakin kapan terakhir kali anak-anak itu membersihkan tubuh dan mengganti pakaian. Tapi, hal semacam itu bisa ditebak oleh Nio, karena mereka adalah anak-anak pinggiran yatim piatu yang mudah dilupakan bahkan oleh pemerintah daerah. Dan Nio bisa mengerti mengapa anggota Kompi 406-32 sering membantu warga pinggiran.


Dia merasa gelisah, karena merasa tidak cocok menjalankan tugas penting mengajar dan memimpin orang lain. Namun, dia memilih mengambil keraguan tersebut. Tidak ada alasan untuk melarikan diri. Nio menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya pada anak-anak.


“Baiklah, Pak Guru akan menjawab pertanyaan kalian. Yang pertama adalah… kamu,” Nio menunjuk salah satu anak laki-laki.


“Pak Guru, apa kamu dan Bu Herlina berpacaran?”


Nio memasang ekspresi tercengang, namun Herlina tersenyum kaget.


“Itu pertanyaan yang tidak akan ada jawabannya. Oke, pertanyaan selanjutnya…”


Seorang anak perempuan mengangkat tangan, lalu bertanya, “Apa nama panggilan Pak Guru?”


Apa anak-anak memang suka menanyakan hal sepele? Nio bergumam di dalam hati sebelum menjawabnya, “Kamu boleh memanggilku apa saja.”


Entah mengapa anak-anak tampak sedang mendiskusikan sesuatu, tampaknya mereka ingin menentukan nama panggilan untuk Nio setelah dia menginjinkan mereka untuk memanggilnya dengan nama bebas. Setelah itu, beberapa anak mengajukan pertanyaan lagi, lalu tertawa, dan kedua hal itu terjadi beberapa kali.


Herlina maju selangkah dengan wajah tenang, dan menunggu anak-anak mengatakan sesuatu.


“Bu Herlina, kenapa kamu tidak pacaran sama Pak Nio?”


“Apa?!” Nio ingin segera menghentikan seorang anak perempuan yang bertanya seperti itu. Namun, Herlina segera mencegah Nio ikut campur dalam percakapannya dengan anak-anak.


Wajah Herlina agak memerah ketika mengatakan, “Doakan yang terbaik untuk kami, ya?”


Ekspresi Herlina dipenuhi rasa kemenangan saat Nio menderita luka serius di hatinya.


“Nio…” Herlina memanggil Nio yang sedang murung dengan ekspresi tegasnya.


“Ya?” Nio menjawabnya dengan gugup.


“Nio, kesini sebentar!” setelah dia mengatakan itu, Herlina menarik lengan Nio dan menyeretnya ke reruntuhan di mana para anak-anak tidak bisa melihat mereka. Nio berpikir apakah dia telah mengatakan sesuatu yang membuat hati atasannya terluka. Berpikir dia akan menerima hukuman, Nio mempersiapkan diri sebaik mungkin.


Namun, di saat berikutnya, Herlina membuat ekspresi bahagia, “Nio, kau dengar? Mereka bilang kenapa kita tidak berpacaran saja! Mereka ingin kita berpacaran!” Herlina mengatakannya dengan begitu semangat, wajah memerah, dan hampir memeluk Nio jika pria itu tidak berhasil menghindar.


“Mereka hanya anak-anak, kenapa harus kita turuti?” Nio bertanya dengan ekspresi gelisah.

__ADS_1


Herlina dengan wajah tegas meletakkan tangan di pinggangnya, “Yah, kamu bisa berkata seperti itu karena dikelilingi banyak gadis cantik. Kamu juga harus mengerti keinginan mereka, walau kita menganggapnya mereka sedang main-main.”


“Anak-anak sepertinya tidak menyukaiku,” kata Nio dengan nada sedih.


“Kenapa kamu berpikir seperti itu?”


“Kau tidak menyadarinya? Sekarang bayangkan aku adalah rusa, dan mereka sekawanan singa betina. Saat itu, aku menjadi mangsa yang lemah dan diserang sekawanan singa betina. Anak-anak itu menganggapku lebih lemah darimu, dan menyerangku sebagai kawanan. Intinya, mereka tidak menyukaiku.”


“Apa benar seperti itu?” Herlina terlihat tidak puas setelah mendengar perkataan Nio.


Dengan tatapan tajam Herlina menarik Nio kembali menghadap anak-anak, “Kita harus kembali.”


Dengan ekspresi sedikit berbeda dari sebelumnya, Herlina bertanya pada anak-anak, “Apa ada lagi yang ingin bertanya?”


“Saya! Apakah menjadi tentara itu sulit?” salah satu anak laki-laki bertanya seperti itu setelah mengangkat tangannya.


“Oh, ya ampun, kamu ingin jadi tentara? Apa kalian tahu kalau Pak Nio juga tentara?” Herlina menanggapi pertanyaan itu dengan ekspresi senang.


Selain Herlina, tidak ada yang tahu pria suram dengan wajah ditutupi masker adalah tentara. Mereka semua menggelengkan kepala.


“Nio yang kami kenal dia cukup ganteng, tidak seperti Pak Nio yang sedang kami lihat!”


“Ya, dia sangat terkenal. Aku sering melihatnya di TV sedang berdiri di samping Pak Suroso!”


“Apa Pak Nio benar Nio yang itu?”


Anak-anak berkata seperti itu tanpa ampun, mengakibatkan Nio menerima serangan beruntun tak terduga tanpa bisa membalasnya.


“Siapa Pak Suroso?” salah satu anak perempuan bertanya seperti itu setelah mengangkat tangan dan minta maaf.


“Itu Pak Suroso!” salah satu anak laki-laki berdiri, dan menunjuk dengan semangat.


Nio memandang tak percaya ke arah yang di tunjuk bocah tersebut, dan kemudian hampir melompat ke udara. Sekitar dua puluh meter dari tempat Nio berdiri, Suroso turun dari limusin yang berhenti, lalu berjalan lurus ke arahnya.


Dengan aura pemipimpinnya yang sangat besar, Suroso mengenakan setelan rapi. Tidak salah lagi, dia Suroso yang asli, tapi mengapa dia ada di pinggiran kota Garnisun Karanganyar?


Suroso lalu mengarahkan pandangannya ke anak-anak setelah menyapa Nio dan Herlina yang memberinya hormat. Pria yang belum lama merayakan ulang tahun ke-32 menunjukkan senyumnya dan berkata dengan lembut pada anak-anak, “Selamat sore anak-anak. Apa kalian senang belajar bersama dua kakak ini?”


Para anak-anak membeku dengan mulut sedikit terbuka.


“Hah?” satu-satunya anak yang tertidur baru saja bangun dan berkata seperti itu dengan terkejut.


Suroso lalu berbalik, dan berdiri di depan Nio dengan tatapan serius.

__ADS_1


“Letnan Satu Nio Candranala, aku ingin berbicara denganmu empat mata.”


__ADS_2