
2 Oktober 2321, pukul 20.31 WIB/ tahun 1914 Kerajaan Arevelk, malam hari.
**
Seluruh orang yang melihat sebuah daratan kecil yang melayang diatas tanah pasti memasang ekspresi kagum. Tak terkecuali bagi perwakilan Indonesia untuk menghadiri penandatanganan perjanjian perdamaian. Mereka sadar jika fenomena ini adalah bagian dari ‘sihir’, mereka tidak akan mengatakan sesuatu yang membuat mereka terlihat ‘norak’.
Beberapa prajurit memotret Istana Awan yang didirikan pada sebuah daratan yang melayang ini. Mereka yakin jika orang-orang di dunia asal akan tercengang jika ada fenomena semacam ini di dunia lain. Beberapa pihak mungkin akan menganggap foto tersebut hasil editan, namun bukan tidak mungkin Gerbang akan dibuka untuk umum dan masyarakat Indonesia dapat melihat fenomena ini dengan mata mereka sendiri.
Istana Awan melayang pada ketinggian 70 meter di atas permukaan tanah, helikopter pengangkut tentu saja bisa menjangkau ketinggian tersebut. Itu sebabnya Sucipto memerintahkan Komandan Grup Tempur 1 dan 5 untuk mengirimkan helikopter mereka. Padahal pihak tuan rumah telah menyediakan naga-naga terbaik mereka, namun ‘naga’ milik TNI jauh lebih baik.
Sucipto membawa 11 orang perwira untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian perdamaian, termasuk Nio yang akan menjadi penerjemah bagi para perwira ini, dan Gio yang menjadi rekan satu pangkat Nio pada pertemuan ini. Seluruh perwira yang dibawa berpangkat Letnan Satu hingga Kapten, sedangkan Nio dan Gio berpangkat Pembantu Letnan Satu yang sama-sama dipromosikan menjadi perwira berpangkat Letnan Satu.
“Nio, apa kau merasa akan ada banyak wanita cantik yang menanti kita di sana?”
“Bang Gio, berharap itu boleh-boleh saja, tapi jangan ketinggian.”
Gio menanggapi jawaban Nio dengan senyum kecut dan bersiap untuk turun dari helikopter pengangkut. Gio adalah prajurit yang bertugas di Garnisun Palembang.
Meski Nio dan Gio berpangkat sama, namun senioritas masih diperlukan. Apalagi usia Nio yang terpaut cukup jauh dengan Gio yang berusia 32 tahun.
Setelah mencapai halaman Istana Awan, seluruh orang turun dari helikopter pengangkut dan memandang kagum istana yang megah ini. Dari halaman istana, mereka dapat melihat kota-kota kecil yang berada di sekitar ibukota Kerajaan.
Beberapa penunggang naga dan wyvern melintas untuk melaksanakan misi pengamanan, ratusan prajurit khusus juga telah disiapkan di titik strategis istana.
**
Hin yang melihat sekumpulan orang yang mengenakan seragam dinas upacara TNI AD dengan tatapan kagum, atau lebih tepatnya ‘terpesona’.
“Sepertinya mereka benar-benar menghargai kesederhanaan.”
Hin justru kagum dengan pakaian yang dikenakan para prajurit itu, karena tidak terpasang embel-embel yang hanya menambah bobot pakaian. Karena pada seragam militer Kerajaan, para perwira tinggi pasti akan memasang banyak medali maupun hiasan lain yang membuat tidak sedap dipandang.
Hanya beberapa identitas TNI saja yang terpasang di seragam dinas upacara, termasuk lambang Kesatuan TNI AD dan tanda pangkat, serta nama dari prajurit tersebut.
Para bangsawan yang melihat perwakilan TNI dengan makna pandangan tertentu. Mereka meyakini jika TNI ditempa dengan keras, hingga melampaui batas kewajaran. Itu sebabnya mereka mampu mengalahkan dua raja naga api. Jika mereka mengetahui hal sebenarnya, para prajurit TNI dilatih ‘semanusiawi’ mungkin.
para bangsawan, baik bangsawan anggota parlemen maupun bangsawan militer sama-sama memandang para perwakilan ini dengan hormat.
Awalnya mereka menganggap lelucon saat pasukan yang tidak mengenakan zirah logam inilah yang telah mengalahkan raja naga api, lalu para bangsawan militer ingin menyelidikinya lebih lanjut. Orang-orang akan sangat terganggu saat memikirkan bagaimana cara pasukan hijau ini mengalahkan raja naga api yang berjumlah dua ekor tersebut.
Para bangsawan ingin mengetahui nama negara, dan kekuatan militer negara tersebut. Mereka mempercayakan tugas tersebut kepada ratu mereka, Sigiz.
**
Hin dan Sigiz mengucapkan kata-kata selamat datang kepada rombongan perwakilan TNI. Ini pada dasarnya penyambutan formal bagi kunjungan pihak asing saat mereka mengunjungi Istana Awan. Setelah itu, para prajurit mencoba berbaur dengan para bangsawan.
Sikap sopan yang diperlihatkan para prajurit ini, membuat para bangsawan militer merasa tidak yakin jika mereka bukan pasukan yang kuat. Hanya wajah mereka saja yang menunjukkan jika mereka telah melalui hal berat menjadi prajurit.
Mungkin bagi para bangsawan terdengar mengejutkan saat perwakilan pasukan kuat bersedia menghadiri upacara seperti ini. Menurut sudut pandang tertentu, pihak yang kuat tidak sudi untuk menginjakan kaki ke negara yang lemah.
Karena perjanjian mengarah pada perdamaian, tidak ada pihak yang dapat mengacaukannya. Pembicaraan akan melibatkan reputasi, tradisi, dan kebiasaan kedua negara. Hal itu membuat pembicaraan ini terdengar sangat menyusahkan.
Tugas ini seharusnya diserahkan kepada perwakilan Kementrian Luar Negeri, maupun dihadiri pemimpin negara tersebut. Namun, keadaan yang masih dalam keadaan perang tidak memungkinkan untuk melibatkan pihak penting negara dalam bahaya.
Dengan mengirimkan pihak militer untuk menandatangani perjanjian pedamaian, pemerintah pusat memiliki tujuan lain, yakni menunjukkan jika tidak boleh ada negara di dunia ini yang main-main dengan militer Indonesia. Sekalipun itu hanya sabotase ringan, pihak yang melakukan itu akan mengalami pertarungan terburuk selama hidupnya.
Selain itu, tujuan pengiriman perwakilan militer untuk mengatasi kesombongan militer Kerajaan Arevelk setelah berhasil mengalahkan pasukan Kekaisaran Luan. Mungkin saja setelah pertempuran dengan Kekaisaran, mereka akan mengatakan “Tidak ada bangsa lain yang sekuat Bangsa Arevelk, seorang kesatria Arevelk lebih baik dari kesatria negara lain”. Dengan kata lain, mengirim perwakilan TNI untuk acara ini sebagai bentuk balasan terhadap para bangsawan militer Kerajaan, mungkin saja para bangsawan yang lain terbiasa dengan sikap arogan mereka, namun TNI tidak akan membiarkan hal ini.
Kerajaan memiliki sangat sedikit prajurit wanita, dan para bangsawan merasa heran ketika terdapat lima orang perwira perempuan yang bersama para perwakilan. Untuk pengiriman perwakilan perempuan, pemerintah Indonesia memerintahkan untuk mengirimkan beberapa perwira perempuan.
Sigiz dan beberapa bangsawan mendekati rombongan perwakilan, Nio bertugas memperkenalkan Sigiz oleh para perwira yang menjadi perwakilan. Mereka terlihat kagum saat Nio menerjemahkan perkataan Sigiz, mereka menyayangkan jika prajurit seperti Nio tidak berada di Pasukan Utama.
__ADS_1
“Sepertinya para bangsawan merasa segan terhadap rekan-rekan kamu, Tuan Nio. Para perwira militer negaramu tampaknya terlalu rendah hati.”
“Meski mereka prajurit yang tangguh, rendah hati adalah identitas rakyat Indonesia.”
“In… dho…ne, apa? Kenapa nama negara mu sangat susah Tuan Nio?”
Nio hanya tersenyum dan tertawa kecil setelah Sigiz kesulitan dalam penyebutan nama Indonesia. Setelah itu, Sigiz berulang kali berusaha untuk dapat dengan benar menyebutkan nama Indonesia, namun Nio menyarankannya untuk tidak terlalu berusaha keras.
Sesuai tradisi Kerajaan, tamu kehormatan duduk di tempat duduk kehormatan yang menghadap langsung dengan singgasana yang terdapat pada aula ini.
Bangsawan perempuan memandang pakaian perwira perempuan, mereka berpikir jika cara berpakaian perempuan Indonesia cukup ‘tertutup’, itu mengejutkan mereka. Meskipun sederhana dan berwarna tidak mencolok, namun seragam dinas upacara yang dikenakan perwira perempuan terlihat ‘mewah’ dimata para perempuan bangsawan.
**
Penandatanganan perjanjian perdamaian tidak dapat disiarkan langsung melalui media masa, tidak mungkin membangun saluran komunikasi di dunia ini untuk sekarang.
Itulah mengapa, beberapa prajurit yang membawa kamera dan smartphone yang memiliki fitur kamera memotret momen paling bersejarah abad ini. Karena untuk pertama kalinya, pemerintah Indonesia dengan perantara Jendral Sucipto mengadakan sebuah perjanjian dengan salah satu negara di dunia lain. Cahaya flash dari kamera membuat orang-orang yang menghadiri acara ini merasa ketakutan dan terpesona. Mereka tidak menyangka jika dunia lain memiliki sihir cahaya juga, apalagi sihir yang dapat menyimpan potongan momen.
Satu lagi, penyihir agung yang datang terlambat juga menjadi saksi perjanjian pertama yang dilakukan Indonesia dengan Kerajaan Arevelk.
Dari sudut pandang Nio, perjanjian ini adalah awal untuk menyebarkan pengaruh Indonesia Kerajaan Arevelk dan mengakhiri perang. Meskipun Nio lelah dengan tugas penerjemahan, dia sedang memanfaatkan waktu istirahat ini untuk mengisi kembali tenaganya. Namun, tak lama kemudian dia mendengar suara yang mengejutkan, Nio meyakinkan dirinya bahwa pemilik suara itu tidak ada disini.
Kepalanya mulai terasa pusing saat Nio perlahan berbalik untuk melihat pemilik suara yang memanggilnya.
Berdiri seorang jendral pasukan infanteri Kerajaan Arevelk. Lux memasang wajah dingin, tegas dan berdada kecil. Gadis berusia 17 tahun ini memiringkan kepalanya dengan senyum nakal yang ditunjukan untuk Nio.
Nio berbalik saat Lux berjalan kearahnya, kemudian perempuan itu menarik lengan bajunya.
“Tolong jangan terlalu dingin, saya tahu kamu tidak tertarik dengan perempuan berdada kecil. Tapi mereka masih bisa tumbuh sebesar dada milik Ratu Sigiz. Aku akan bekerja keras untuk menjadi wanita yang cocok untukmu, Tuan Nio.”
Mata Lux bersinar dan bibirnya tersenyum. Lux yakin jika dia tidak akan ditolak.
Setelah itu, Nio semakin pusing.
Beberapa bangsawan militer memberikan hormat terhadap gadis yang berjuluk Si Pedang Gila ini, itu cukup untuk meyakinkan Nio jika Lux benar-benar kuat. Daripada menyukai, Nio merasa kagum terhadap Lux.
Menurut Nio, akan jauh lebih baik jika menikah dengan perempuan yang lebih muda, Lux contohnya. Tentu saja Nio tidak memiliki tipe khusus untuk dijadikan istri, namun Sigiz adalah tipe paling Nio inginkan. Namun, status Sigiz yang seorang ratu membuat Nio berpikir untuk mencari wanita lain, meski dia menyadari jika Sigiz terlalu sering didekatnya.
Nio menggunakan berbagai alasan untuk menolak ajakan Lux untuk bertamu ke kediamannya.
“Aku merasa kalau kamu sedang murung, lalu kenapa tidak bertamu ke rumahku?”
“Yah, saya harus mengutamakan pekerjaan, saya harap anda mengerti.”
“Apa menjadi penerjemah itu pekerjaan, kalau iya berarti kamu sangat menganggumkan. Tapi jika kamu mengadakan pertemuan pribadi dengan saya, saya akan sangat senang.”
“Tidak, tidak, tidak, bukan itu maksudku….”
Nio mencoba mencegah Lux menarik tangannya, tetapi wajah senang yang gadis ini tunjukkan membuat Nio harus pasrah, alias tidak ada jalan keluar bagi Nio.
“Apa kamu benar-benar tidak tertarik denganku? Beberapa rekan saya memberitahu jika saya telah menginjak usia 17 tahun, kita bisa melakukan ‘itu’. Tapi karena dada saya yang kecil, kamu mencoba menolaknya kan?”
Nio menunjukkan wajah panik, karena perempuan seperti Lux dapat berkata seperti itu saat situasi di tengah keramaian orang-orang.
“Nih cewek gigih banget sih?”
Nio berteriak didalam hatinya agar seseorang menolongnya keluar dari situasi seperti ini. Namun, tiba-tiba hal yang membuat kepala Nio semakin pusing adalah kemunculan Sigiz. Itu membuat Lux tak bisa melakukan apapun, yang bisa dia lakukan hanya memberi hormat kepada ratunya.
“Sekarang, karena perjanjian perdamaian telah ditandatangani, saya ingin anda memperkenalkan saya terhadap para perwira perempuan itu.”
Nio merasa lega jika dia dapat melanjutkan pekerjaan, namun Lux tidak langsung menyerah begitu saja. Lux berkata jika dia berusaha untuk menjadi calon istri yang cocok untuk Nio dengan nada keras. Itu membuat Sigiz langsung menarik tangan Nio dan berjalan ke arah para perwira perempuan sedang berkumpul.
__ADS_1
“Bagaimana saya harus mulai?”
“Tolong lihat ke sana.”
Sigiz menunjuk ke arah para perwira perempuan yang tidak diajak berbicara oleh para bangsawan. Nio paham alasannya, karena kekurangan kemampuan berbahasa adalah alasan utama.
Para perempuan bangsawan tidak ada keinginan untuk berbicara dengan perwira perempuan.
“Mungkin karena keterbatasan bahasa kan?”
“Tidak hanya itu Tuan Nio. bagi kami, orang-orang Kerajaan Arevelk, negara anda adalah keberadaan yang belum diketahui. Bahkan seorang ratu seperti saya paham jika negara anda memiliki kebudayaan yang luar biasa dan kekuatan militer yang menakutkan. Namun, seberapa banyak mereka dan saya sendiri tentang orang-orang negara anda? Saya tahu betul jika anda adalah prajurit yang baik. Selain itu, saya mendengar beberapa kabar jika prajurit perempuan negara anda jauh lebih kejam dan kuat. Saya percaya mereka takut untuk mendekati mereka karena paham seperti itu, mereka mungkin akan takut jika mendekati para perwira perempuan itu mungkin akan mengundang perkelahian yang brutal dengan tinju atau tendangan.”
Nio mengingat saat dia baru bergabung dengan pasukan Garnisun Karanganyar dan pertemuan pertama kali dengan Herlina. Waktu itu dia dan prajurit yang baru lulus lainnya langsung dicambuk dengan kayu oleh Herlina pada bokong mereka. Dia mengingat kejadian itu dengan sangat jelas, sampai-sampai saat teringat kembali dia akan tersenyum.
“Sepertinya berita kematian dua raja naga api menyebar dengan cepat. Orang-orang mungkin masih khawatir jika kejadian seperti itu akan terjadi lagi. Mereka mungkin akan berpikir hingga kapan perdamaian ini akan bertahan. Apakah anda sudah memikirkan hal itu, Ratu Sigiz?”
Manusia adalah makhluk yang berusaha mengusir ketakutan dengan kekuatan. Dorongan seperti inilah yang dapat melahirkan benih konflik di masa depan, seperti peperangan yang tidak terduga dengan pihak TNI.
“Karena itu, aku, Sigiz, akan memberikan contoh yang baik. Dengan cara ini, negara kita akan mengambil langkah menuju rasa saling pengertian, dan ini akan meringankan tugasmu, Tuan Nio.”
Sigiz berjalan ke arah para perwira perempuan sedang bercengkrama, namun dia tiba-tiba diam karena tidak tahu bahasa Indonesia yang harus ia ucapkan jika ingin menyapa.
“Dia benar-benar seorang ratu.”
Nio mendekati Sigiz dan para perwira perempuan, dia memulainya dengan memperkenalkan Sigiz.
Saat melihat Nio menerjemahkan perkataan para perwira perempuan, Sigiz di dalam hatinya berkata, “Aku berharap dapat belajar banyak hal denganmu di masa depan nanti.”
Ketika melihat Sigiz menatap Nio dengan wajah kemerahan, Lux menatap ratunya dengan tatapan iri atau semacam itu. Tampaknya, Lux lebih suka jika dirinya-lah yang harus lebih lama dengan Nio.
Sikap rendah hati Sigiz, membuat para perwira perempuan menjadi terkesan dan ingin mengetahui kehidupan seorang gadis di dunia ini.
Berkat Sigiz yang dibantu Nio berinteraksi dengan perwira perempuan memungkinkan untuk mengurangi kecemasan perempuan bangsawan terhadap mereka.
Seperti yang diprediksi oleh Sigiz sebelumnya, para perempuan bangsawan mulai berbondong-bondong mendekati perwira perempuan dan Nio. Kemudian, seolah-olah tertarik dengan hal ini, para bangsawan yang lain bergabung dengan mereka.
Beginilah pembicaraan antara perwakilan Indonesia dan para bangsawan Kerajaan, yang merupakan langkah pertama untuk berdamai dengan pihak yang berperang.
Saat ini, suasana aula terasa damai dan harmonis.
**
“Kekaisaran masih bisa bertarung!”
Tetapi Bogat tidak mendengarkan apa yang dikatakan salah satu bangsawan militer, meski dirinya masih ingin mengalahkan TNI.
Siapapun pasti menyadari jika terlalu mustahil untuk mengalahkan pasukan penguasa Gerbang. Namun, Sheyn dengan mudah memiliki keinginan untuk berdamai dengan mereka. Tindakannya ini hanyalah membuatnya mendapatkan kata-kata kotor dari bangsawan fraksi militer.
“Apa yang terjadi dengan kebanggaan Kekaisaran jika kita tidak bisa memukul mundur mereka ke dunia asalnya!?”
Seorang bangsawan militer tidak menahan suaranya, sehingga suara kerasnya menggema di ruangan ini.
Setelah mengambil beberapa tarikan napas, Sheyn mendekati ayahnya setelah diperintah. Dia mungkin merasa curiga, tetapi dia harus menurutinya.
Alis Sheyn menurun dengan tajam setelah ayahnya membisikkan sesuatu, itu membuat Sheyn berpikir jika Bogat memiliki jalan pikiran yang sama dengannya.
“Saya mengerti, saya akan melaksanakan perintah ini.”
“Seperti yang kukatakan, kita harus mengundang pasukan itu ke istana untuk melakukan perjanjian perdamaian juga dengan kita.”
Wajah Sheyn yang cerah hanya bertahan untuk sementara, karena bengsawan fraksi militer tidak setuju dengan keputusan Bogat yang juga menginginkan perdamaian dengan TNI.
__ADS_1
Beberapa dari mereka bahkan mengatakan, “Kaisar terlalu pengecut!”
Namun, tanpa Sheyn sadari jika permintaan ayahnya untuk mengundang pasukan hijau tersebut ke Kekaisaran hanyalah bagian rencana yang disusun fraksi militer. Tentu saja dalam rencana ini mereka melibatkan budak yang didapatkan dari Indonesia.