
16 April 2321, pukul 14.11 WIB.
**
10 anggota Regu 3 melakukan penjagaan di sekitar desa sesuai yang diperintahkan Nio. Mereka sebelumnya mendatangi warung tempat para warga berkumpul tadi dan tidak menemukan satupun warga di situ hingga membiarkan warung tetap terbuka tanpa penjagaan.
Mereka kemudian memutuskan untuk berkeliling Desa Kwangsan.
Suasana desa menjadi sepi, kecuali terdengar suara hewan ternak yang belum diberi makan. Tetapi seluruh warga desa belum diketahui bersembunyi dimana.
Mereka akhirnya menemui sebuah bangunan yang lebih umum disebut dengan Kantor Kepala Desa. Terlihat juga ratusan warga Desa Kwangsan berada di dalam bangunan itu.
Namun bukan berarti tempat ini bisa menampung seluruh warga, sebagian warga kemungkinan masih bertahan di rumah masing-masing.
Mereka kemudian membagi menjadi dua kelompok. 5 orang menjaga kantor kepala desa dan sisanya berpatroli berkeliling desa.
**
Sementara itu, kelompok Nio yang bertugas mengejar ke-3 prajurit dunia lain yang melarikan diri di dalam hutan jati masih mencoba untuk mencari jejak.
“Kita harus menyebar, tapi jangan terlalu jauh. Paling tidak dalam jarak aku masih bisa melihat kalian,” ucap Nio dengan lirih namun tetap dapat didengar seluruh anggotanya.
Seluruh anggotanya mengangguk serempak. Setelah itu mengeluarkan sebuah wadah kecil yang berisi cat. Kemudian mewarnai wajah masing-masing dengan warna loreng hijau dan hitam sesuai keadaan hutan ini.
Kelompok ini belum segera memulai operasi yang Nio namakan ‘menangkap monyet dunia lain yang lepas’. Karena mengecat wajah berwarna loreng adalah hal yang dilakukan untuk penyamaran. Karena menyatu dengan suasana sekitarnya, pasukan yang mengecat wajah dan memakai seragam loreng sekilas tidak akan terlihat. Serta mengurangi kemungkinan untuk diketahui musuh.
Seluruh anggota sudah selesai melakukan semua persiapan, termasuk mengecat wajah dan memasang pisau di ujung laras senapan serta memasangkan rerumputan di helm mereka sebagai bahan kamuflase tambahan.
Nio memberi perintah untuk maju menggunakan bahasa isyarat militer. Jika menggunakan suara mungkin musuh dapat mendengarnya. Seluruh anggota maju menyebar dengan jarak satu sama lain sekitar 6 meter.
Hutan jati ini memang cukup luas dan mencangkup 2 kecamatan dan 2 desa. Jadi melakukan pencarian dengan orang terbatas akan memakan waktu sedikit lama.
Apalagi kelompok ini bisa dikatakan sebagai ‘pemula’ dalam hal pengejaran. Karena saat pelatihan belum diajarkan mengenai pengejaran dan mencari jejak musuh.
Apalagi dalam hal ini orang yang paling diandalkan adalah Nio yang hanya mempelajari dasar mencari jejak keberadaan musuh.
Tapi itulah kemampuan yang harus dimiliki prajurit pasukan khusus yang diharuskan dapat mengetahui keberadaan musuh dengan petunjuk sangat minim sekalipun. Selain itu mereka harus dapat menyusun strategi dalam waktu sangat singkat dan dalam kondisi paling berbahaya.
Kelompok ini terus maju dan masih dalam keadaan menyebar untuk mencari jejak sekecil apapun.
“Komandan, kemari!” ucap Arista yang berhenti melangkah dan menatap menunduk seperti menemukan sesuatu.
Seluruh anggota kelompok pencari berkumpul disekitar Arista dan Nio bertanya, “Ada apa?, apa kau menemukan sesuatu.”
“Ini, sepertinya ini jejak kaki sepatu musuh,” jawab Arista sambil penampakan sebuah jejak kaki.
__ADS_1
Karena baju besi yang dikenakan pasukan dunia lain pastinya berat, sehingga saat menginjak tanah yang lunak pasti akan meninggalkan jejak.
Jejak tersebut mengarah searah dengan arah kelompok ini berjalan jadi sedikit mudah untuk mencari keberadaan musuh.
Selain itu jejak kaki yang ditinggalkan tidak hanya satu, tapi beberapa buah. Bukan hanya jejak kaki saja yang ditemukan, tapi juga tetesan darah.
“Kita lanjut,” perintah Nio dengan suara lirih dengan jawaban anggukan seluruh anggota kelompok pencari.
Mereka kemudian mengikuti jejak tetesan darah yang belum diketahui sumbernya dan beberapa jejak kaki yang terlihat.
Beberapa anggota kelompok melihat rumput dengan keadaan sehabis diinjak kaki, hal itu membuat seluruh orang semakin yakin untuk dapat menemukan keberadaan musuh.
Seluruh anggota kembali melanjutkan pencarian dengan langkah yang pelan dan mencoba sesenyap mungkin.
**
Hari mulai sedikit gelap, Nio melihat jam tangan untuk memeriksa waktu.
“Ternyata sudah sore,” batin Nio saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 3 lebih.
Itu artinya kelompok pencari sudah melakukan pencarian hampir selama 3 jam. Pencarian keberadaan musuh memang memerlukan kesabaran dan keberanian lebih.
Apalagi jejak yang ditemukan semakin sedikit, hal itu membuat beberapa orang menjadi sedikit kesal.
Tapi tidak ada istirahat, kelompok pencari ini harus menemukan musuh sebelum waktu jam tidur atau sekitar pukul 11 malam.
Semakin ditelusuri jejak darah bukan lagi berupa tetesan, melainkan seperti cipratan yang memanjang.
“Kenapa tidak ada lagi?” gumam Nio yang berhenti saat jejak darah tidak ada lagi.
Beberapa anggota masih melangkah maju, namun sebuah hal mengejutkan mereka hingga membuat ekspresi ketakutan yang teramat.
“Ada apa?” tanya Nio yang dengan cepat menghampiri anggotanya yang masih ketakutan.
Mereka menunjuk ke arah sebuah pohon, namun pohon itu terdapat cipratan darah yang jauh lebih banyak daripada yang di tanah.
Nio bersama beberapa anggota yang lain mencoba memeriksa dengan hati-hati apa yang ada di belakang pohon.
Nio segera menutup mulutnya dan anggotanya yang memeriksa melompat kebelakang karena terkejut hingga napas mereka tidak beraturan.
Kaki, tangan, jari, daun telinga, kepala, lidah, sepasang bola mata, dan ********. Semua itu terlihat terpisah dari tubuh utama yang masih mengeluarkan darah dengan deras. Hal itu lebih umum disebut dengan tindakan ‘mutilasi’.
Dari ukurannya, bagian tubuh yang saling terpisah milik seorang anak laki-laki. Termasuk ******** yang belum disunat. Namun di desa tadi tidak ada seorang pun warga yang mengatakan jika kehilangan anaknya.
Apalagi kepala dengan mata yang masih terbuka dan mengeluarkan air mata menambah kengerian suasana.
__ADS_1
“Apa ini ulah mereka?” gumam Nio ambil menutup wajahnya dengan helm karena tidak tahan dengan yang dia lihat.
Beberapa anggota yang lain tidak berani untuk mendekati potongan tubuh tersebut, terutama bagi prajurit perempuan.
“Kalau tidak tahan, jangan dilihat!” perintah Nio yang dijawab anggukan oleh anggota yang lain.
“Bagaimana, apa kita harus menghubungi pelatih lagi?” usul Rio yang semakin cemas dengan keadaan.
“Tidak, mereka sudah mempercayakan tugas ini pada kita. Kita harus menyelesaikannya sebelum jam tidur.”
“Lalu, bagaimana dengan itu, kita tidak membawa kantong jenazah.”
Nio melirik melirik kesekitar yang hanya ada tumbuhan pohon jati dan belukar.
“Untuk sementara kita kumpulkan bagian tubuh itu dan menutupnya dengan daun jati,” ucap Nio yang semakin membawa masalah bagi anggotanya yang tidak tahan melihat hal mengerikan itu.
“Bagi yang berani, ikut aku untuk mengumpulkan bagian tubuh. Sisanya menunggu hingga selesai,” sambung Nio.
Hanya ada 4 orang yang mengangkat tangannya untuk membantu Nio mengumpulkan bagian tubuh anak kecil yang terpotong itu.
Sima, Ika, dan 2 anggota laki-laki lainnya. Tentu saja yang lain terkejut saat Ika ikut mengajukan diri untuk membantu Nio berhadapan dengan hal negerikan itu.
“Apa kau serius?, mungkin saja hal ini akan terus kau ingat,” ucap Nio pada Ika dengan nada lirih lagi.
“Tentu saja, saat menjadi pasukan khusus hal semacam ini bukankah hal biasa?” jawab Ika dengan wajah santai namun dengan bibir bergetar.
Jawaban Nio bukan ekspresi senang atau semacamnya, justru wajah datar yang Ika dapatkan dari Nio.
Nio bisa melihat ketakutan Ika dari bibirnya yang bergetar.
“Oke, tapi jangan paksakan dirimu. Kalau ingin muntah, muntah saja,” tegas Nio pada Ika.
“Siap!” balas Ika dengan tegas namun dengan suara tetap lirih.
Kemudian mereka ber-4 mendekati potongan tubuh milik bocah korban mutilasi. Mereka masih menunjukkan wajah takut dan ngeri saat menyentuh bagian tubuh, tak terkecuali bagi Nio.
Nio bahkan bergetar saat memegang potongan tangan yang masih bisa mengeluarkan darah dan mengumpulkannya pada satu tempat.
Beberapa saat kemudian, seluruh bagian tubuh sudah terkumpul pada satu tempat dan menutupnya dengan daun jati dan semak. Hal itu membutuhkan keberanian yang lebih dari menghadapi pelatih saat melakukan latihan.
Mereka sudah mengambil pakaian yang masih ada di sekitar ditemukannya potongan tubuh itu dengan kemungkinan jika pakaian ini milik bocah korban mutilasi ini.
Namun mereka masih memiliki sebuah masalah, yaitu kepala yang belum ada seseorang menyentuhnya.
Anggota yang membantu Nio mengumpulkan bagian tubuh hanya saling tatap seakan tidak ada yang mau menyentuh kepala bocah itu.
__ADS_1
Sima terlihat geram karena tidak ada satupun yang mau menyentuh kepala itu.