Prajurit SMA

Prajurit SMA
Mirip gembel


__ADS_3

Tidak terpikirkan bahwa manusia dapat bekerja seperti mesin, namun itulah yang para pengungsi rasakan sebelum melarikan diri dari asal mereka.


Budak biasanya didapatkan dari pedagang budak dengan cara lelang atau membeli budak yang diinginkan dengan sejumlah uang, maupun penduduk suatu wilayah yang dikalahkan dalam suatu peperangan sehingga tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Begitu pula jika seseorang menginginkan Pembunuh Senyap.


Menjadi budak itu berarti mereka terikat dengan seseorang atau suatu organisasi yang telah membeli atau membawa mereka secara paksa, sehingga mereka dapat dijadikan semacam barang yang dapat dijual kembali atau dibuang jika sudah tidak berguna. ‘Dibuang’ merupakan istilah halus untuk kata ‘dibunuh’, karena pada dasarnya para budak memang merupakan barang yang telah dibeli oleh pemiliknya.


Kebetulan, sebagian besar pengungsi yang grup 1 Tim Ke-12 temukan merupakan budak yang berhasil kabur setelah para bangsawan pemilik mereka memilih pindah dari wilayah yang berpotensi menjadi medan perang. Hanya 12 orang dari mereka yang bekerja sebagai Pembunuh Senyap untuk bangsawan militer, seperti Edera.


Mereka tidak diijinkan untuk bergerak lebih lanjut, dan diminta untuk tetap menunggu hingga Regu C Kompi Bantuan 002 yang ditugaskan menjemput mereka tiba. Sebelumnya, Nio memang telah meminta bantuan kepada Kim Baek-Ki untuk mengirimkan tim penjemput bagi empat puluh orang. Meski itu bukan untuk Tim Ke-12, komandan kompi bantuan tersebut tetap menyetujui mengirimkan sebagian pasukannya untuk mengamankan pengungsi dari medan perang potensial.


Jarak mereka dengan Benteng Girinhi sekitar 10 kilometer, sehingga bantuan tiba tanpa membutuhkan waktu singkat. Medan hutan dengan pepohonan yang lebat dan permukaan tanah tidak rata bukanlah masalah untuk APC dan kendaraan mobilitas tinggi kompi bantuan tersebut. Bahkan jika perlu, pasukan Arevelk di Benteng Girinhi akan mengirimkan ratusan prajurit mereka. Tentu saja Nio langsung menolak usulan tersebut, karena bisa saja musuh menyadari ratusan prajurit Arevelk dan menganggap mereka merencanakan pertempuran.


Sementara itu, jarak grup 1 dengan garis perbatasan Arevelk dengan Luan sekitar dua puluh kilometer lagi. Anggota grup 1 merasa yakin dapat mencapai garis perbatasan kurang dari empat hari, kemudian menyusul Regu A dan grup 2 di sana. Namun, Nio merasa mencapai garis perbatasan dalam waktu satu minggu tidaklah cukup. Dia memprediksi grup 1 yang dipimpin olehnya akan mencapai garis perbatasan delapan atau sembilan hari kemudian.


Nio merasa grup 1-nya telah tertinggal jauh dengan grup 2 dan Regu A Kompi Bantuan 002. Namun, itu bukanlah masalah, karena apapun alasan yang Nio berikan pasti akan tetap diterima. Meninggalkan pengungsi adalah hal yang tidak manusiawi, apalagi mereka dalam kondisi tidak memiliki makanan dan perbekalan memadai. Nio yakin alasan tersebut dapat diterima oleh anggotanya di grup 2 dan atasan di markas pusat.


“Letnan, berapa lama lagi mereka untuk tiba? Kita sudah menunggu selama 2 jam, loh,” gerutu Ardi.


“Ojo kakehan sambat (jangan kebanyakan mengeluh),” jawab Nio dengan santai, dia yakin prajurit Garnisun Serang tersebut tidak mengerti dengan ucapannya.


“Awak dewe wes kudu mbacutne patroli, loh, Let (kita sudah harus melanjutkan patroli, loh, Let)” ucap Ika.


“Tinggal nunggu apa susahnya coba?!” Nio mengomel hingga Ardi dan Ika langsung menegang meski dia tidak menggunakan nada bicara yang tinggi. Di lain sisi, Gita merasa dampak dari sikap sok pahlawan Nio yang memberikan seluruh bekalnya untuk pengungsi mulai terlihat.


Sebagai komandan unit, Nio mendapatkan perangkat Pemancar untuk mengirimkan data lokasi maupun keadaan prajurit saat pertarungan kepada Staf Komando dan Kontrol terdekat. Sehingga, seharusnya regu penjemput dapat dengan mudah menemukan lokasi grup 1. Selain itu, seharusnya regu penjemput tidak perlu tersasar, karena pasukan di Benteng Girinhi telah menunjukkan jalan dan rute rahasia jika Kompi Bantuan 002 maupun Tim Ke-12 ingin berpatroli hingga ke garis perbatasan.


Bayangan buruk tersebut segera Nio singkirkan dari pikirannya, dan memerintahkan otaknya untuk tetap berpikir positif. Hingga saat ini belum terdengar suara tembakan senapan serbu grup 2 atau senapan mesin ringan dari Regu A Kompi Bantuan 002, sehingga Nio dapat beranggapan tidak ada pertarungan dan menilai kondisi aman untuk melanjutkan patroli.


Namun, seperti yang telah dikatakan oleh Nio sebelumnya, mereka tidak dapat melanjutkan patroli sebelum para pengungsi dievakuasi oleh regu penjemput.


“Tuan Nio, kenapa mereka tidak diperintahkan berjalan ke Benteng Girinhi sendiri. Bukankah itu akan meringankan tugas Anda dan bawahanmu?”


Edera menghampiri Nio yang duduk di sebuah batang pohon yang tumbang sambil mengawasi seluruh pengungsi dan bertanya seperti itu, dia duduk di samping kanan Nio.


Huvu memandangi adiknya yang mendekati prajurit hijau ‘dunia lain’ dengan santai, seakan-akan Edera memiliki hubungan dengan prajurit tersebut. Dia memang tidak melarang Edera berhubungan dengan manusia Demihuman maupun manusia biasa, namun dia tidak ingin reuni setelah tidak bertemu beberapa tahun terganggu. Dia mendengar Edera mengajukan pertanyaan seperti itu kepada prajurit hijau tersebut.


“Bukankah mereka prajurit ‘dunia lain’ yang baik.”


Ebal muncul dengan tiba-tiba dan mengejutkan Huvu. Cara terkejut Huvu mirip seperti kucing, sehingga membuat anggota pria grup 1 merasa gemas karena tingkah lucu gadis tersebut.


“Aku tidak tahu alasan mereka memberikan makanan kepada kita, bahkan orang yang duduk di dekat Edera terlihat menahan sesuatu,” Huvu membahas tentang Nio yang duduk terpisah dengan para bawahannya yang makan bersama pengungsi.


“Ya, kurasa aku juga merasakan hal yang sama. Orang itu ketika kita dan bawahannya makan bersama, dia hanya makan makanan berbentuk kotak kecil berwarna putih dan air saja,” balas Ebal.


Tatapan gadis kucing dan kelinci tersebut kemudian beralih ke para anak-anak dan lansia yang makan dengan senang, karena rasa makanan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Para anak-anak merasa minuman yang dibungkus pada wadah berwarna hijau tua memiliki rasa yang enak, meski tidak terlalu manis. Mereka telah makan beberapa bekal yang diberikan prajurit hijau kepada mereka dengan gratis.


Para prajurit hijau tersebut benar-benar membiarkan para anak-anak dan lansia makan hingga mereka benar-benar kenyang, sementara para remaja maupun orang dewasa merasa dapat makan secukupnya.


Di lain sisi, komandan puluhan prajurit hijau yang menemukan para pengungsi melihat para lansia yang secara perlahan mulai memulihkan energi mereka. Nio merasa perlu memberi para pengungsi lebih dari sekedar makanan untuk menjaga mereka tetap bertahan. Dia lalu merespon pertanyaan Edera:


“Aku tidak tahu bagaimana respon penduduk di sekitar Benteng Girinhi jika mereka mengetahui para pengungsi berasal dari Kekaisaran Luan yang sedang berperang dengan kita. Akan sangat bagus jika mereka tidak mengetahui asal para pengungsi. Tapi siapa yang tahu? Cara paling aman untuk mengevakuasi para pengungsi memang hanya mengamankan mereka ke Benteng Girinhi. Di sana telah ada beberapa prajurit medis dan makanan yang lebih banyak. Keamanan di Benteng Girinhi juga telah meningkat setelah kedatangan kami di sana. Intinya, aku merasa tidak dapat meninggalkan mereka tanpa pengawasan. Kau juga mengenal beberapa dari mereka, bukan?”


“Ya, saya sangat bahagia bertemu kembali dengan, Huvu, kakak saya. Para remaja merupakan Pembunuh Senyap, jadi saya mengenal beberapa dari mereka.”


Edera kembali teringat ketika dirinya masih merupakan budak yang tidak pernah mendapatkan imbalan yang layak atas pekerjaannya, serta dirinya yang merupakan bagian dari Pembunuh Senyap Kekaisaran Luan yang bertugas membunuh utusan Indonesia beberapa saat lalu. Melukai Nio hingga pria tersebut kehilangan tangan kanan adalah kesalahan terburuk yang pernah Edera lakukan, itu adalah pengakuan Edera sendiri karena Nio sama bukanlah target utama.


Mendengar adiknya yang berbicara akrab dengan pemimpin prajurit hijau, Huvu berdiri sambil merencanakan sesuatu. Melihat temannya memiliki maksud tersembunyi hanya dengan melihat gerak-geriknya, Ebal mengikutu Huvu berjalan ke arah batang pohon besar yang Nio dan Edera duduki.


“Mulai lagi, deh,” Hendra bergumam dengan ekspresi gelap.

__ADS_1


“Hmmm, siapa yang kau bicarakan?” Yogi menimpali Herman yang terdengar bergumam sesuatu.


Hendra mengarahkan dagunya ke depan, tepatnya ke arah Nio yang duduk bersama Edera di samping kirinya dan dua gadis Demihuman yang sedang berjalan ke arah Nio. Sementara itu, Sigit hanya dapat menggigit kaleng T2P varian nasi rendang-nya yang sudah habis ketika melihat Nio didekati dua gadis… lagi.


Huvu memiliki rambut dan bulu telinga serta ekor kucing berwarna kepirangan, berbeda dengan Edera yang memiliki warna rambut dan bulu berwarna kecoklatan. Sehingga Nio sempat ragu apakah Huvu dan Edera benar-benar sepasang saudara kandung atau bukan. Sementara itu, Ebal memiliki warna rambut dan telinga kelinci keperakan, dengan sedikit bercak hitam pada bagian ujung telinga kelincinya. Kedua telinga kelinci gadis tersebut membuat tinggi badannya naik, namun jika tanpa telinga kelinci tinggi Huvu hanya sedada Nio. Kulit Huvu juga sedikit lebih gelap dibanding Edera dan Ebal serta Hevaz, sehingga lebih eksotis.


Kedua gadis tersebut berdiri di depan Nio dan Edera. Edera menyadari ada maksud dibalik ekspresi tenang kakaknya yang terlalu jelas.


“A-apa? Hevaz?”


Nio cukup terkejut dengan kedatangan Hevaz yang tiba-tiba lalu memeluknya dari belakang dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher Nio. Hevaz meletakkan dagunya di bahu kanan Nio, dan menatap Huvu dan Ebal dengan ekspresi menantang.


“Hevaz?” Ebal tampak memikirkan sesuatu, atau tepatnya mencoba mengingat sesuatu setelah mendengar nama Hevaz disebutkan oleh Nio beberapa detik lalu.


Budak atau Pembunuh Senyap yang berasal dari kalangan budak dan Demihuman memuja Dewi Pemelihara, Dewi Kematian, Dewa Perang, dan Dewi Harapan. Mereka hanya dapat beribadah setelah melakukan pekerjaan yang amat melelahkan dan tidak masuk akal. Biasanya, mereka membuat altar untuk memuja dewa atau dewi yang dipercaya akan membawakan kehidupan layak bagi mereka. Mempercayai dewa atau dewi itu berarti mereka juga harus mempercayai bahwa keberadaan suci tersebut memiliki Utusan.


Ada fakta ironis bahwa beberapa budak memuja Dewi Kematian agar sosok tersebut segera mengambil nyawa, sehingga mereka terbebas dari belenggu perbudakan yang telah merenggut kehidupan dan kehormatan mereka sebagai makhluk hidup yang sedikit berbeda dari manusia biasa.


“Hevaz yang menjadi Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang? Salah satu Utusan terkuat yang hanya akan muncul ketika Periode Perang Besar terjadi?! Sosok yang akan – ,”


“Ya, ya, berhentilah berbicara terlalu banyak. Ternyata kau tahu banyak tentang diriku, ya?”


Terlepas dari wajahnya yang sama sekali tidak menyembunyikan ekspresi terkejut, Huvu mengalihkan pandangannya ke arah Edera yang terlihat tenang-tenang saja. Dia merasa Edera sedang mengejek dirinya.


Tak lama kemudian, sebanyak lima belas pengungsi berjalan ke arah mereka berdua berada.


“Apa kau tadi berbicara tentang si Pelahap Jiwa? Huvu?” salah satu lansia bertelinga kucing bertanya dengan nada antusias meski untuk berjalan beberapa remaja harus membantunya.


“Jika Utusan Dewa Perang dan Dewi Kematian turun ke dunia, itu artinya dia sedang melayani ‘orang yang diramalkan’,” ucap lansia yang lain.


Seperti peribahasa lokal yang menyatakan semakin lama kamu hidup, maka kamu akan mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman. Seluruh lansia pengungsi berusia sekitar delapan puluh tahun hingga sembilan puluh tahun, sehingga mereka memiliki kehidupan normal lebih lama daripada lainnya. ‘Normal’ berarti para lansia menikmati masa muda tidak sebagai budak atau Pembunuh Senyap.


“Rasanya dia benar-benar setara dewa. Atau mungkin aku harus berkata ‘dewi sudah turun’? Kupikir tatanan dunia ini lebih rumit dari Sunda Empire,” Nio bergumam di hatinya untuk menanggapi perkataan Hevaz yang terdengar seperti bersabda di depan pengikutnya.


Seluruh pengungsi tiba-tiba berlutut, seakan-akan tunduk terhadap sosok Hevaz yang mereka percayai akan membantu ‘orang yang diramalkan’ berjuang merubah kedua dunia setelah memasuki Periode Perang Besar.


Hevaz hanya menyeringai saat melihat wajah bingung yang Nio dan sembilan bawahannya pasang setelah melihat seluruh pengungsi berlutut dengan tiba-tiba. Tapi, dia tetap senang jika di dunia ini masih terdapat sekelompok orang yang masih memiliki perasaan takut terhadap sosok pemelihara dunia ini, yakni para dewa dan dewi yang melayani Sang Pencipta. Selain itu, dia dapat merasakan gelapnya perasaan putus asa para pengungsi, sehingga memuja sosok penguasa kematian, Dewi Perang.


“Edera, menyembunyikan fakta kalau dirimu bersama Yang Mulia Hevaz menandakan kau benar-benar telah melupakanku, kakakmu sendiri,” Huvu benar-benar berkata dengan ekspresi sedih, namun dengan nada yang dibuat-buat sehingga Edera dapat menyadari jika itu hanyalah akting kakaknya saja.


“Ya Tuhan, kakak, jangan berbicara seakan-akan aku benar-benar telah melupakanmu. Salahkan saja pencipta kita yang lupa memperlihatkan tokoh yang bernama Huvu dicerita ini. Dia benar-benar melupakan kalau aku masih punya keluarga yang masih hidup.”


“Brengsek, dia benar-benar pencipta yang terburuk!”


(olog note: ada yang bicarain gw? Jika ada masalah, silahkan chat pribadi, Mbak)


Nio tetap duduk dengan wajah bingung ketika melihat pembicaraan Edera dan Huvu. Dia mengenakan seragam lapangan yang tidak terawat karena dia tidak menggantinya sejak tiga hari lalu, dan itu memperburuk penampilannya yang berantakan sehingga memancarkan kesan tidak terurus. Namun, rambut hitam yang berantakan yang melengkapi wajah agak tegasnya membuat Nio memiliki kesan liar selain tatapannya yang tajam meski mata panda di sekitar matanya telah memasuki tingkatan cukup parah.


Dihadapan pengungsi yang berlutut untuk menghormati Hevaz, Nio sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan di tengah situasi rumit seperti ini. Dia merasa tidak sopan dan enak hati karena ada beberapa orang tua yang berlutut di depannya.


“Anda harus tetap berdiri untuk menerima penghormatan dari mereka,” itulah ucapan Hevaz yang membuat Nio merinding, karena mendekati ungkapan ancaman daripada permintaan.


“Anu, bukannya mereka berlutut untuk menghormatimu, Hevaz?”


Nio yang canggung itu semakin tertekan setelah Hevaz menunjukkan senyum manis dengan mata terpejam, dan dia menganggap itu sebuah ancaman. Sementara itu, sembilan bawahannya di grup 1 juga memasang ekspresi yang sama dengan dirinya, dengan sedikit kombinasi ekspresi iri dan kesal kepada Nio.


“Aku, Utusan Dewa Perang dan Dewi Kematian melayani ‘orang yang diramalkan’ bernama Nio – ,” Hevaz berhenti melanjutkan perkataannya untuk sementara karena dirinya hanya tahu nama panggilan Nio, tapi tidak dengan nama lengkap pria tersebut. Dia menoleh ke arah Nio sambil berbisik, “Maaf, tapi saya belum tahu nama lengkap Anda.”


“Nio Candranala,” Nio langsung menjawabnya tanpa perkataan tambahan.

__ADS_1


“Ya, dialah ‘orang yang diramalkan,” Hevaz mengucapkan kata tersebut dengan wajah dan nada membanggakan seorang manusia remaja fase akhir yang bernama Nio.


Namun, respon seluruh pengungsi memenuhi ekspetasi Nio, dan itu membuatnya lega.


Seluruh pengungsi menatap dirinya dengan tatapan datar dan dingin, seolah-olah tatapan mereka mengatakan, “Siapa orang yang berpenampilan mirip gembel ini?”


Namun, itu sama sekali tidak membuat Nio keberatan, karena dia beranggapan semakin sedikit orang yang mengenal dirinya maka itu akan jauh lebih baik. Tapi, Hevaz menunjukkan ekspresi bingung yang tercampur dengan perasaan kesal. Alasannya sudah jelas, karena seluruh pengungsi menatap Nio seolah-olah tuannya merupakan orang kurang terkenal.


Setelah terjebak di suasana hening ini, akhirnya ada sesuatu yang memecah keheningan canggung ini. Ada bunyi ‘biiip~’ yang disertai lampu kecil berwarna biru yang berkedip dari helm Nio yang menandakan ada panggilan dari suatu tempat.


“… -Ulangi, Barista kepada Mayat Hidup, apa kau menerima panggilan kami?”


Nio meraih handsfree lalu memasangnya ke telinga kanannya. Melihat hal itu, seluruh anggota grup 1 berjalan mendekati Nio tanpa mempedulikan tatapan keheranan para pengungsi.


“Letnan, apa itu dari grup 2?” tanya Yogi.


Dari suaranya, jelas itu milik Sersan Hassan, seolah-olah grup 2 yang dipimpinnya telah bergerak jauh dan mendahului grup 1 yang harus menangani pengungsi. Panggilan hanya ditunjukan pada Nio saja, sehingga dia menganggap itu adalah panggilan yang penting.


“Mayat Hidup di sini. Aku mendengarmu. Apa yang kau dapatkan?”


“Kami melihat ada unit musuh memasuki hutan setelah melewati perbatasan. Mereka terlihat sama dengan unit Aliansi yang bertempur dengan kita menggunakan SP1. Jumlah mereka ada ratusan. Grup 2 masih bersembunyi sambil mengawas pergerakan musuh tersebut.”


Mata Nio menyipit dengan eskpresi muram. Dia memang merasakan hatinya mulai tidak tenang beberapa menit lalu, namun Nio tidak ingin menganggap itu merupakan kemampuan khusus ‘orang yang diramalkan’, yakni mendeteksi bahaya dari jarak jauh.


Sebagai prajurit elit, seluruh anggota Korps Pengintaian dan Pertempuran memang dilatih untuk menghadapi puluhan musuh yang bertempur menggunakan senapan juga belum lama ini.


Di atas kertas, menghadapi gerombolan unit musuh yang berjumlah ratusan dan bersenjatakan senapan akan menjadi sebuah pertarungan yang berat sebelah. Sayangnya, baik Nio dan anggotanya sering terlibat dalam pertempuran yang mengharuskan mereka menghadapi musuh dengan jumlah jauh di atas mereka.


“Diterima. Kita akan melakukan taktik ‘dua sisi’. Barista (Hassan), tetap jaga jarak anggotamu pada musuh tidak lebih dari lima puluh meter.”


“Siap, diterima.”


Selesai melakukan panggilan bersama wakil kapten, Nio menatap para pengungsi yang tampak mengucapkan sesuatu dengan Hevaz masih berdiri di depan mereka.


“Sial, jadi kita harus melindungi mereka sampai regu penjemput tiba? Apa yang menyebabkan mereka terlambat?” Nio hampir membanting helm-nya untuk melampiaskan kekesalannya atas regu penjemput yang sangat terlambat, bahkan mereka belum sampai hingga Nio mendapatkan panggilan dari anggotanya.


Bisa saja unit senapan musuh hanyalah pengalihan, lalu unit utama mereka akan melancarkan serangan terhadap pengungsi. Itu adalah pikiran terburuk yang dapat Nio bayangkan dari pertempuran yang akan dia hadapi nanti. Dia percaya musuh tidak sebodoh yang dikira kebanyakan orang.


Nio sama sekali tidak tersenyum, karena dia sadar bahwa pertempuran ini tidak akan berpengaruh apapun terhadap gajinya. Selain itu, meninggalkan pengungsi untuk bertempur merupakan langkah yang sangat berisiko, karena mereka akan menghadapi dua situasi sekaligus, yakni meladeni perlawanan musuh dan mengawasi pengungsi.


Saat ini belum terlihat tanda-tanda musuh mendekat ke tempat mereka berada. Namun, Nio sudah dapat menggambarkan situasi seolah dia telah melihat pertarungan di depan mata.


“Perhatian! Aku akan menjelaskan situasinya.”


Wajah sembilan anggota grup 1 terlihat di jangkauan penglihatan Nio, yang menyandang kode nama ‘Mayat Hidup’ yang entah makna dibalik pemberian julukan tersebut.


Pertarungan yang akan mereka hadapi bukan berarti pertarungan yang mudah meski mereka prajurit terlatih. Nio tidak tahu apakah unit khusus musuh tersebut dipimpin seorang pahlawan atau tidak, dia akan tahu jika pertarungan dimulai. Mereka akan menggunakan kemampuan asli sebagai prajurit elit, dan bertarung tanpa mengandalkan roket anti-personel maupun senapan mesin.


Nio yang mengandalkan fleksibelitas pergerakan ketika bertarung tidak mengenakan pelindung tubuh lengkap, atau pergerakannya akan terhambat. Dia tidak melarang bawahannya untuk mengenakan pelindung tubuh lengkap, karena masing-masing prajurit pasti memiliki cara berjuang masing-masing.


Wajah komandan mereka begitu tenang namun penuh harga diri, sehingga mereka menegakkan punggung untuk bersiap mendengarkan penjelasan dari Nio.


Nio sadar mereka belum menyelesaikan mempersiapkan diri, sehingga dia mengijinkan mereka mendengarkan penjelasan darinya sambil melengkapi diri dengan rompi pelindung atau menghitung jumlah granat yang masih dimiliki. Nio menjelaskan secara singkat namun sangat jelas, termasuk segala sesuatu seperti perkiraan jumlah musuh, tugas anggota, hingga taktik yang akan mereka gunakan.


Hingga yang menjadi masalah adalah keamanan para pengungsi, sehingga Nio berkata, “Hevaz dan Edera, kalian tetap bersama para pengungsi. Aku minta kepada kalian untuk melindungi para pengungsi, jangan ada satupun dari mereka melarikan diri sebelum regu penjemput tiba.”


“Kami paham. Semoga Anda dan bawahan Anda memenangkan pertarungan ini,” ucap Hevaz dan Edera bersamaan.


Melakukan persiapan terakhir, seperti memastikan jumlah peluru pada magasin tidak dalam kondisi kosong, lalu memuat pada senapan dan mengaktifkan senapan pada mode semi otomatis. Setelah seluruh anggota grup 1 memakai helm, itu berarti mereka siap mengikuti Nio ke arah yang telah diperkirakan akan menjadi titik pertemuan mereka dengan musuh. Khusus untuk Zefanya, dia tidak hanya membawa senapan serbu, namun juga senapan penembak jitu di punggung.

__ADS_1


__ADS_2