Prajurit SMA

Prajurit SMA
141. Ayo traktir mereka sebotol vodka !


__ADS_3

Beberapa saat ketika Pasukan Aliansi berhasil menerobos masuk dan hampir meruntuhkan benteng Pasukan Ekspedisi. Dari luar benteng memang terlihat pemandangan pertempuran yang mengerikan, ditambah dengan ratusan ribu prajurit yang berusaha memasuki sisi dalam benteng setelah berhasil menghancurkan beberapa sisi benteng untuk dijadikan pintu masuk.


Alat-alat perang milik Aliansi terus melepaskan lemparan batu dan tombak raksasa, dan menyebabkan kerusakan tambahan di pihak Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela. Sementara itu, alat dan persenjataan milik Pasukan Ekspedisi hampir semuanya kehabisan amunisi, dan hancur.


Saat Aliansi hampir mencapai kemenangan setelah hampir berhasil menurunkan satu-satunya bendera merah putih yang dipertahankan, sebuah Gerbang tak sempurna muncul.


Gerbang tak sempurna dengan diameter 50 meter terbuka di 2 kilometer sisi barat benteng. Terbukanya Gerbang tak sempurna tersebut awalnya memang mengejutkan Pasukan Aliansi, dan mereka berharap jika Gerbang tersebut mengeluarkan tambahan pasukan bagi mereka.


Tetapi, puluhan gerobak baja dengan meriam, atau lebih mudah disebut dengan tank tempur utama melaju dengan kecepatan 50 kilometer per jam sesaat setelah keluar dari dalam Gerbang tak sempurna. Yang menandakan jika yang keluar bukanlah pasukan bantuan dari Pasukan Aliansi, tetapi pasukan bantuan bagi Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela.


Kepala komandan masing-masing tank, baik tank tempur utama maupun tank medium dan ringan keluar dari pintu palka yang terbuka dan memberi komando terus melaju dengan tanda tangan di angkat ke atas. Laras meriam yang besar mengarah langsung pada ribuan prajurit Aliansi yang masih berbondong-bondong memasuki benteng Pasukan Ekspedisi.


Setelah sekitar 50 tank keluar dari dalam Gerbang tak sempurna, puluhan kendaraan bantuan tembakan keluar dengan cepat sambil membawa 20 prajurit di dalamnya selain senjata bantuan tembakan yang berupa meriam otomatis 40mm dan peluncur mortir 81mm. Lalu, dibelakang kendaraan berat tersebut, keluar puluhan panser dan 110 kendaraan taktis dengan senjata senapan mesin berat 12,7mm.


Di atas barisan kendaraan berjenis lapis baja yang keluar dari Gerbang tak sempurna dengan tertib dan tetap mempertahankan formasi, sekaligus 40 unit helikopter serang keluar dengan cepat dari dalam Gerbang tak sempurna, dan mendahului barisan kendaraan lapis baja untuk cepat-cepat memberikan bantuan kepada prajurit Pasukan Ekspedisi yang masih tetap berjuang.


Helikopter serang melaju dengan kecepatan 500 kilometer per jam, menyebabkannya mendahului barisan senjata-senjata di bawahnya. Helikopter serang yang baru saja muncul merupakan tipe yang sama dengan seluruh helikopter serang milik Pasukan Ekspedisi yang telah hancur. Masing-masing helikopter membawa 10 roket jenis terbaru yang akan diuji coba pada pertempuran ini. Tentu saja pasukan musuh yang akan menjadi sasaran uji coba senjata baru TNI tersebut.


Dari keempat puluh helikopter serang yang keluar dari Gerbang tak sempurna, 10 unit merupakan milik pasukan Korea Utara dan Rusia yang dikirimkan sebagai bantuan bagi TNI. Jumlah tersebut lebih sedikit dari rencana awal, karena Suroso menolak menerima pasukan besar dari kedua negara sekutu Indonesia tersebut. Awalnya kedua negara tersebut berencana akan mengirimkan masing-masing 30 helikopter pengangkut rudal mereka. Karena dikhawatirkan akan terjadi masalah pada keamanan ketika Rusia dan Korea Utara berangkat menuju Indonesia, dan protes yang dilakukan negara-negara lain, maka kedua negara tersebut terpaksa menuruti Indonesia yang menginginkan bantuan kecil saja.


Setelah keluar dari Gerbang tak sempurna, para penerbang helikopter serang dari Korea Utara dan Rusia adalah orang-orang pertama yang melihat medan perang dunia lain. Tepatnya mereka pihak kedua dan ketiga setelah Indonesia sebagai orang yang pernah menginjakkan kaki di dunia lain.


Menurut mereka, langit di dunia lain tidak ada bedanya dengan langit Rusia dan Korea Utara. Hanya beberapa hal saja yang membedakan dunia ini dengan dunia asal mereka.


Pasukan bantuan dari Rusia dan Korea Utara masih terkagum-kagum dengan fenomena fantasi yang disebut dengan ‘Gerbang’ yang mereka lihat sebelumnya. Selain melihat Gerbang, mereka tentu saja ingin melihat hal-hal berbau fantasi yang hanya ada di novel dan lainnya.


“Setelah memenangkan pertarungan ini, ayo kita traktir mereka (prajurit TNI, Arevelk, dan Yekirnovo) vodka!”


Prajurit yang berada di dalam helikopter serang berbicara dengan temannya menggunakan bahasa Rusia. Seluruh penumpang helikopter tertawa sebagai tanggapan ucapan yang dikatakan prajurit Rusia tersebut.


“Bukannya mereka dilarang mengkonsumsi alkohol. Tapi aku tidak tahu apa pasukan dunia lain boleh meminum vodka kita!?”


“Benar juga, betapa bodohnya aku!”


Setelah itu, tawa yang keras kembali memenuhi kabin helikopter serang pasukan bantuan Rusia. Di belakang mereka memang terdapat sebuah kotak yang berisi vodka.


Sepertinya, baik prajurit Korea Utara dan Rusia sama-sama bersemangat untuk menghadapi pertarungan nanti.


Penerbang salah satu helikopter serang yang dipenuhi dengan suara tawa prajurit Rusia menoleh kebelakang, dan memutar lagu. Suara lagu diperbesar dengan spiker yang terpasang di dalam kabin. Seluruh prajurit yang mendengar lagu tersebut langsung tenang, lalu menyanyikan lagu tersebut, yang tak lain adalah mars Angkatan Bersenjata Rusia.


Seperti tak mau kalah, barisan helikopter serang milik Korea Utara dan TNI juga memutar lagu yang serupa, dengan suara yang lebih keras. Langit kini dipenuhi suara mengerikan dari suara baling-baling capung besi, dan lagu yang diputar ketiga pasukan.


Tidak hanya helikopter serang yang melintas di medan perang, setidaknya unit laut Pasukan Ekspedisi juga melakukan serangan bantuan.


Kapal penghancur yang berada pada jarak 300 kilometer dari Tanah Suci meluncurkan 32 rudalnya, dan menargetkan pada pasukan musuh. Hanya itu, bantuan yang diberikan unit laut Pasukan Ekspedisi bagi pejuang di darat. Jika ada kendaraan yang mampu mengangkut kapal kelas penghancur, maka daya hancur akan jauh lebih besar.


Setelah memerintahkan peluncuran rudal, komandan kapal memerintahkan nahkoda untuk menuju wilayah paling dekat dengan ibukota Kekaisaran Luan untuk melakukan misi pengeboman. Itu artinya, unit laut harus mengitari wilayah perairan Kerajaan Arevelk yang jauh lebih luas dari Republik Federasi Rusia.


Dua rudal yang dilepaskan lebih dulu menghantam barisan musuh yang telah berhasil memasuki benteng, dan menerbangkan bagian tubuh yang hancur akibat daya ledak rudal. Prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela sudah pasrah jika ledakan itu serangan sihir penyihir Aliansi.


Selanjutnya, rudal-rudal secara beruntun menghantam prajurit manusia dan monster Pasukan Aliansi, dan menerbangkan jauh lebih banyak potongan tubuh manusia dan monster. Ledakan-ledakan besar rudal itu membuat Nio menatapnya dengan tatapan lemah, dan semakin memperbesar harapannya pada bantuan.


Ketika Nio melihat ke atas, ke arah 40 helikopter serang yang terbang di atasnya, meriam otomatis 40mm menyapu musuh di bawahnya. Seluruh helikopter terbang hanya pada ketinggian 15 meter, untuk mempermudah membedakan kawan dan lawan. Dari atas, semuanya tampak sama saja. Lalu, beberapa roket dan artileri ditembakkan ke arah musuh.


Meriam otomatis 40mm pada helikopter menyapu seluruh musuh yang terkena serangan tersebut, dan dengan mudahnya mengoyak bagian tubuh manusia dan monster menjadi potongan-potongan kecil, tak luput juga tubuh kuda milik pasukan kavaleri Aliansi yang turut menjadi korban keganasan senjata pada capung besi tersebut.


Nio yang masih berlutut akhirnya menundukkan kepalanya, dan merasa lega dengan bantuan yang ternyata tidak lagi hanya berupa ‘harapan’, tetapi sekarang bantuan yang diharapkan telah menjadi ‘kenyataan’. Namun, rasa sakit pada bahunya yang terluka juga nyata, dan Nio tidak bisa mengabaikan itu.


Para prajurit tetap diijinkan untuk berharap, hingga harapan itu menjadi kenyataan yang bisa mereka lihat sekarang. Prajurit yang masih hidup juga telah melaksanakan harapan rekan-rekan mereka yang telah gugur, yakni berjuang hingga bantuan yang mereka harapkan menjadi nyata.


Jika mereka bertarung hanya untuk meraih kematian yang mulia, maka itu juga tidak ada salahnya. Kecuali jika mereka memiliki kehendak untuk mati dengan cara menembak kepala sendiri dengan sisa peluru pistol, maka itu akan menjadi dosa yang tidak bisa diampuni. Karena pastinya para prajurit Pasukan Ekspedisi memiliki keyakinan dimana bunuh diri adalah dosa yang sangat besar.


Semua perjuangan yang para prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela tempuh hingga hari ini, telah mendapatkan bayarannya. Setiap sel pada tubuh bersorak pada pasukan bantuan yang telah datang, meski sangat terlambat.


Pasukan bantuan datang ketika hampir seluruh prajurit yang masih berjuang hampir jatuh dan putus asa. Untungnya, prajurit yang hampir putus asa tersebut masih bisa berjuang untuk mempertahankan Sang Merah Putih tetap berkibar di tiangnya, meski berkibar setengah tiang.


Prajurit yang masih hidup menatap Sang Merah Putih yang berkibar setengah tiang dengan bangga, karena mereka bisa membuktikan jika mereka bisa berjuang seperti pahlawan terdahulu ketika mempertahankan Indonesia. Meski mereka tidak tahu perlawanan senjata seperti apakah yang dilakukan para pahlawan terdahulu, mereka yakin jika cara mereka berjuang sama seperti para pahlawan terdahulu.


Tak terkecuali para sukarelawan, yang bisa bangga berjuang bersama para prajurit Pasukan Ekspedisi. Meski mereka sama-sama berjuang dengan pedang dan perisai, kekuatan prajurit perempuan lebih besar dari tentara bayaran pria yang berpengalaman. Itu yang membuat kekuatan antara Pasukan Ekspedisi dengan pasukan sukarela tidak sebanding.


Namun, tugas pertempuran bisa dikatakan telah diserahkan kepada pasukan bantuan yang telah datang. Walau jumlah pasukan bantuan tetap tidak sebanding dengan Pasukan Aliansi, mereka hanya perlu terus maju, dan menyelamatkan Pasukan Ekspedisi yang telah kelelahan.


Di depan Sang Merah Putih yang berkibar setengah tiang, Nio bersama prajurit yang membela kain tersebut melihat helikopter pasukan bantuan menyapu musuh dengan meriam otomatis dan roket-roket mereka.


Prajurit yang berada di helikopter serang menembakkan peluru senapan serbu dan senapan mesin yang terpasang, dan menghujani lawan dengan timah panas. Sebisa mungkin mereka tidak mengenai kawan, dan menyapu prajurit manusia musuh dengan peluru-peluru mereka.


Nio dan prajurit lainnya menarik napas lega, sambil menyaksikan pemandangan yang bagus pada sore hari ini yang cerah. Helikopter pasukan bantuan yang menghujani musuh dengan timah panas dengan brutal, hanyalah bagian kecil dari TNI. Nio hanya bisa membayangkan jika TNI mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membalas perbuatan Pasukan Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela.

__ADS_1


Bayangan Nio mengenai TNI yang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melawan Pasukan Aliansi lebih pantas disebut dengan pembantaian daripada pembalasan.


Hujan peluru yang diberikan pasukan bantuan menggiring musuh pada keputusasaan, dan membiarkan mereka melihat kengerian dari cara berperang Indonesia dan sekutunya. Granat yang dilemparkan prajurit yang berada di helikopter ke prajurit musuh yang berusaha menyelamatkan diri membawa mereka ke kekacauan.


Saat ini, ribuan prajurit Aliansi saling mendorong satu-sama lain untuk keluar dari area dalam benteng agar dapat melarikan diri dari kegilaan ini. Namun, penerbang helikopter dan meriam otomatisnya tidak membiarkan musuh melarikan diri atas apa yang mereka perbuat dengan teman mereka, dan mengepung jalur keluar mereka dan menembaki dengan meriam otomatis serta senapan serbu dan mesin. Akibatnya, di dalam benteng tercipta tumpukan mayat manusia, monster, kuda, dan anggota badan yang saling terpisah.


Jika Chandra dan yang lainnya masih hidup, mereka pasti bisa bergabung dengan kami melihat kemenangan besar ini. Sambil mengenang teman-temannya yang gugur mendahuluinya, Nio tersenyum dan menghela napas.


Anggota Regu penjelajah 1, Ryhan yang berada di dekat Nio, bergidik melihat komandannya itu tersenyum di tengah pembantaian yang diciptakan pasukan bantuan. Pasti ada yang ingin dia sampaikan pada Nio mengenai pertempuran ini.


Nio mengepalkan tangannya dengan sisa tenaganya, dan berkata, “Apa aku hanya akan berdiri diam? Ada medan perjuangan baru yang tercipta sekarang. Dengan bantuan, rasanya aku bisa bertarung lebih keras dari sebelumnya.”


“Apa kau akan bertarung lagi, Tuan Nio?”


Edera, Zariv, dan Lux berjalan mendekati Nio setelah berkeliling hanya untuk mencari pemuda itu.


“Kenapa tidak?”


“Tapi, pedangmu…”


Lux menunjukkan telunjukkan kearah pedang Nio yang sudah patah, dan pedang pada tangan bionik Nio tidak bisa keluar karena mekanismenya sudah rusak.


Nio lalu meraih sekop di dekatnya, dan memutuskan untuk bertarung menggunakan benda itu.


“Apa kalian mendengarnya, teman-teman? Komandan kita akan bertarung lagi, apa kalian akan tetap duduk seperti itu?”


Dinda yang sebenarnya sudah sangat kelelahan mengatakan hal itu, dan menatap kagum ke arah Nio yang memegang sekop dengan niat bertarung yang sungguh-sungguh.


“Brengsek, apa dia tidak punya rasa lelah? Apa hormon adrenalinnya sudah rusak?”


Sidik mendengus kesal sambil mengatakan itu.


“Diamlah… bukannya kau sudah terlalu lama istirahat?”


Kekasih Sidik, Fariz justru mendukung keputusan Nio untuk melanjutkan pertarungan.


Memang, pasukan bantuan terlalu mendominasi perang sejak kedatangan mereka, dan memaksa para pejuang sedikit beristirahat. Daerah sekitar mata Nio yang menghitam, dan mata yang menunjukkan rasa lelah, namun Nio tidak merasa lelah dan sakit sedikitpun.


“Mungkin hormon adrenalinku memang sudah rusak…”


“Kan, sudah kuduga begitu.”


“Sialan, bukan hormon adrenalinnya yang rusak tolol, tapi semangat juang Nio yang terlalu besar!”


Suara tadi… yang mengatakan hal itu adalah Herlina yang ternyata masih hidup. Tangan kirinya menderita luka sayatan yang cukup panjang, dan terlalu lemah untuk menggenggam pisau. Tapi, tangan kanan Herlina masih dengan kuat menggenggam pedang milik musuh yang dia bunuh.


Seolah terlalu banyak gadis yang mengelilingi Nio, Herlina menggigit bibirnya dengan frustasi setelah melihat Lux, Zariv, dan Edera di dekat Nio. Urat muncul di dahinya sebagai lambang kekesalannya setelah melihat Lux dengan sengaja menempelkan tubuhnya di tubuh Nio. Saking kesalnya, Herlina bisa merasakan giginya bergetar.


“Meski kita melanjutkan pertarungan dan menang, mungkin gaji kita tidak akan naik!”


Tidak ada yang bisa membatantah hal itu, atau mungkin gaji mereka yang tidak akan naik adalah kebenaran. Prajurit yang masih bertahan menyadari jika mereka benar-benar kelelahan, tapi mereka juga berpikir tidak bisa diam ketika keadaan sudah berbalik.


Meski samar-samar, prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela bisa mendengar suara mesin dari kendaraan dalam jumlah besar.


Karena itu, tidak ada alasan lain untuk mereka menahan diri melanjutkan perjuangan sambil menahan rasa lelah dan sakit dalam diri mereka.


Rio dan Indah yang merasa kemenangan sudah hampir diraih, membuka Gerbang tak sempurna bagi mereka berdua, dan menyelamatkan diri dari hujan misil pasukan bantuan. Para pahlawan juga ingin nyawa mereka aman, dengan cara meninggalkan medan perang.


Dengan kuat, Nio menghantamkan sekopnya ke kepala goblin kecil yang berusaha menyelamatkan diri hingga tersungkur. Setelah itu, Lux menghabisi goblin yang telah dilumpuhkan Nio dengan tusukan pedangnya.


Seperti tak mau kalah, seluruh prajurit yang memutuskan melanjutkan pertarungan melawan musuh yang sudah sangat tidak karuan keadaanya. Banyak raungan menyedihkan yang disuarakan para monster, dan teriakan kesakitan para prajurit manusia yang sekarat.


Tidak ada satu pun orang yang bisa menahan Nio yang sedang menghajar musuh-musuh di hadapannya dengan mata sekop yang tebal dan kuat. Itulah masalahnya, Nio yang benar-benar sudah muak dengan perang ini akan menghabisi musuh yang mencoba menyelamatkan diri tanpa pandang bulu, baik itu prajurit manusia dan monster yang dua kali besar tubunhnya Nio hantam dengan sekopnya hingga tersungkur, dan membiarkan ketiga gadis dunia lain itu untuk melakukan serangan terakhir terhadap musuh yang dia lumpuhkan.


Nio berteriak dengan keras setiap kali menghantamkan mata sekopnya ke kepala lawannya. Dia berteriak dengan keras untuk memerintahkan seluruh bawahannya untuk terus bertarung sampai pingsan. Yah… dibilang memerintahkan juga tidak tepat, karena Nio kebanyakan mengomel dan berteriak sambil menghajar musuh-musuhnya. Nio bisa merasakan bawahannya tersenyum kesal padanya sebagai tanggapan atas perintahnya.


Kebebasan berarti anda tidak terbatas untuk melakukan sesuatu, itu juga terkait dengan kebebasan di medan perang. Di perang, anda bisa mengeluarkah hasrat bertarung yang tertidur di tubuh anda, dan membalas semua perbuatan musuh anda, selama anda tidak melanggar hukum perang internasional.


Nio terlihat jelas melotot sambil tersenyum saat bertarung dengan lawan-lawannya yang berupa monster besar. Itu adalah pemandangan yang mengerikan bagi orang-orang yang baru melihat Nio seperti itu. Tapi, bagi Herlina ini adalah kesekian kalinya melihat aksi Nio seperti itu.


Kekuatan Nio yang tampak tak terbatas membuat Zariv menemukan sebuah alasan mengapa Nio menjadi ‘orang yang diramalkan’. Meski dia sendiri tidak tahu Nio diramalkan untuk apa, dan kejadian apa yang akan terjadi di masa depan hingga Nio menjadi orang yang diramalkan.


Setiap musuh yang Nio hajar menggunakan sekopnya, pemuda itu mengutuk satu per satu lawan-lawannya. Dia tidak mendengar rintihan musuh yang memohon ampun padanya, dia hanya mempedulikan kemenangan dan kenaikan gaji.


Selama musuh yang masih memegang senjatanya memohon ampun kepada Nio, pemuda itu tetap tidak peduli dan menghajar wajah musuh-musuhnya dengan sekop.


“Rio! Indah! Baron! Dan para pahlawan bajingan lainnya! Apa kalian serius akan melawan Tentara Pelajar, TNI, dan sekutu Indonesia hah!?”

__ADS_1


Liben bergidik ngeri ketika Nio meneriakkan hal itu.


“Mari ucapkan selamat tinggal pada kewarasan komandan…” ucap Liben di dalam hatinya.


Terlepas dari kata-katanya yang menantang para pahlawan, Nio terdengar agak kesakitan ketika terlalu keras menghajar lawan-lawannya dengan sekop.


Mendengar teriakan Nio, Zariv, Lux, dan Edera tertawa terkekeh-kekeh sambil menghabisi lawan yang melawan mereka bertiga.


Nio memperbarui sumpah prajuritnya, dan menambah sebuah sumpah prajurit buatannya sendiri yang berbunyi, “Tentara Pelajar siap melayani setiap perlawanan musuh dengan senang hati!”


Nio sudah seperti prajurit yang gila, terihat dengan ekspresinya ketika melawan musuh. Ketidaksabarannya untuk meraih kemenangan, membuat Nio terlihat seperti penuh nafsu yang membara.


Meski hanya bersenjatakan sekop, Nio terlihat sudah jauh lebih kuat dari para pahlawan.


Terlebih lagi Nio masih terlihat muda di mata beberapa orang. Meski beberapa orang memandangnya sebagai seorang remaja berusia 20 tahun, tetap saja kemungkinan besar bahwa kemampuannya akan meningkat pesat seiring berjalannya waktu.


Kemampuan bertempur yang telah ia tunjukkan selama ini sudah menunjukkan dengan sangat jelas bahwa dia punya masa depan yang cemerlang di dunia militer. Dia sendiri tidak ragu untuk bertarung dengan satu mata dan bersenjatakan sebuah sekop.


**


Di sisi luar benteng, Gerbang tak sempurna kembali mengeluarkan puluhan kendaraan lapis baja pengangkut personel dan truk-truk pengakut logistik dan prajurit. Para prajurit yang tiba paling akhir ini berteriak untuk memerintahkan satu sama lain cepat turun dari kendaraan, agar bisa segera menghadapi pertarungan.


Prajurit pasukan bantuan bergerak cepat ke arah prajurit Pasukan Aliansi yang memutuskan maju melawan mereka. Sebagian besar musuh yang maju dapat dimusnahkan dengan mudah oleh peluru tank dari meriam railgunnya.


Dengan tenang, puluhan tank melaju ke arah lawan-lawan mereka yang berupa pasukan monster dan manusia. Tank-tank yang melaju dengan armor baja kuat mereka bagaikan benteng berjalan yang mematikan. Sebagai perbandingan, meriam 155mm dan senjata yang terpasang pada tank tempur utama bukanlah tandingan meriam milik Aliansi.


Barisan musuh yang bergerak cepat ke arah barisan tank terlihat seperti menantang senjata-senjata tersebut. Mereka memang sengaja maju dengan tujuan melawan barisan tank dan kendaraan lapis baja pasukan bantuan.


Suara yang telah di tunggu akhirnya terdengar juga, saat peluru tank ditembakkan, seluruh tubuh musuh yang menghalangi lajunya berlubang, hancur dan terbang ke segala arah.


Tank dan barisan kendaraan bantuan tembakan tidak mengehentikan lajunya, diikuti dengan truk pengangkut dan kendaraan taktis di belakang mereka. Meriam otomatis 40mm pada kendaraan bantuan tembakan menyapu pasukan kavaleri, dan menyebabkan kerusakan yang sangat besar pada pasukan tersebut.


Tank-tank dan kendaraan lapis baja tidak memelankan lajunya, akibatnya banyak monster dan prajurit manusia terlindas roda rantai hingga suara tulang yang remuk bisa didengar ditengah teriakan putus asa prajurit yang terlindas roda dan tubuh berat kendaraan tempur tersebut.


Saat ada musuh yang berhasil melewati barisan tank dan kendaraan bantuan tembakan, penembak pada kendaraan taktis dan panser menyapu musuh yang terlihat berusaha menghancurkan tank dengan pedang dan pentungan mereka.


Namun, perlawanan mereka pada armor tebal tank dan kendaraan bantuan tembakan sama sekali tidak berguna, dan hanya membuat body kendaraan lecet. Supaya lecet pada tubuh kendaraan tidak meluas, penembak pada kendaraan taktis menembaki musuh dengan peluru 12,7mm pada senapan mesin berat.


Selanjutnya, barisan kendaraan tempur tidak lagi menanggapi atas serangan yang diberikan musuh. Tetapi pengemudi kendaraan tempur terus melajukan kendaraan mereka, dan menggilas musuh yang malang tanpa ampun sama sekali.


Suara keras dari artileri-gerak sendiri yang ditembakkan dari belakang barisan kendaraan tempur menjadi sinyal jika pertempuran sudah diambil alih oleh pasukan bantuan.


Prajurit-prajurit TNI yang dikirimkan untuk menjadi pasukan bantuan menerobos maju musuh yang dilapisi zirah kuat, dan monster bertubuh besar, seperti binatang buas menerjang mangsanya.


“Kompi 406-32, aku tidak ingin rekan-rekan kita mati di sini! Terus lawan!”


Surya yang memimpin kompinya turun dari truk pengangkut, dan menembaki musuh yang menghalangi dengan peluru 7,62mm pada senapan serbu mereka. Selain menembak, anggota kompi juga melawan dengan beladiri yang dikuasai, ini dilakukan demi menghemat amunisi juga.


Saat mengatakan hal itu, Surya juga tidak ingin Nio mati sebelum dia menyelamatkan pemuda tersebut. Dia memastikan jika ‘surat’ yang dia tulis masih aman di tempatnya, dan akan diserahkan pada Nio setelah pertempuran usai.


Peluru tank ditembakkan lagi dengan tanpa ampun dan berturut-turut. Peluru yang melaju cepat jatuh tepat di depan barisan musuh yang memutuskan melarikan diri. Peluru tank yang menghantam tanah menyebabkan efek eksplosif, dan serpihan logam dari peluru menghantam tubuh musuh. Sebuah peluru tank yang menyebabkan efek ledakan ketika menghantam target, akan memusnahkan 1 kompi pasukan monster.


Asap panas keluar dari ujung meriam, namun penembak tank terus mengejek musuh dengan peluru tank yang sangat merusak. Beberapa musuh mungkin berhasil menghindari tembakan peluru tank, tapi prajurit infanteri tidak membiarkan satu pun musuh merasa lega. Mereka menembaki musuh yang melawan dan mencoba melarikan diri, dan memberikan kematian instan ketika peluru 7,62mm menembus kepala musuh yang dilindungi helm logam.


**


Infanteri akhirnya memasuki area dalam benteng, dan melepaskan rentetan tembakan ke arah musuh yang melawan maupun melarikan diri. Bahkan jika musuh memiliki perisai yang mampu menahan laju peluru 7,62mm, senapan mesin yang melepaskan peluru 12,7mm akan membalas kekesalan infanteri yang kesal karena peluru yang tak mampu menembus perisai kuat musuh.


Di saat barisan terakhir pasukan bantuan keluar dari dalam Gerbang tak sempurna, angkatan udara musuh tiba. Jumlah mereka sama ketika penyerangan sebelumnya, sekitar 900 naga dan wyvern. Tapi, kendaraan yang muncul paling akhir adalah kendaraan peluncur roket besar.


Seluruh peluncur di arahkan ke atas, mengarah pada ratusan pasukan penunggang kadal terbang yang menyebabkan pemandangan baru. Setiap prajurit yang melihat ratusan naga dan wyvern terbang ke arah mereka, merasa kagum dan merinding.


Setiap roket pada peluncur kemudian ditembakkan, dan mengarah lurus ke arah ratusan kadal terbang yang semakin dekat dengan pasukan bantuan.


Pasukan angkatan udara Aliansi yang belum mempelajari cara menghindari misil yang menargetkan mereka, akhirnya harus rela terbunuh dengan ledakan besar dari roket-roket yang dilepaskan. Bagi penunggang naga yang tidak terkena hantaman roket, mereka mati dengan serpihan roket yang menyebar karena ledakan.


Ratusan potongan tubuh manusia dan kadal terbang turun ke darat seperti hujan, dan membuat Pasukan Aliansi putus asa ketika sisa penunggang naga memilih mundur.


“Setelah pertempuran usai, aku akan mengajukan proposal kenaikan pangkat dan gaji seluruh Pasukan Ekspedisi!”


Nugroho yang berada di dalam kendaraan komando berteriak di dalam hati seperti itu, sambil turun dari kendaraan ketika pintu belakang terbuka dan memperlihatkan dunia baru, dan medan perang.


Sebagai panglima TNI, Nugroho tentunya harus dikawal oleh prajurit terbaik TNI. Meski dia juga telah mengenakan perlengkapan tempur lengkap, dan menenteng senapan, tetap saja tugas Nugroho adalah mengkomandoi pasukan dan memastikan kemenangan dapat diraih.


Kedatangan pasukan bantuan mengembalikan tujuan para prajurit Pasukan Ekspedisi yang hampir putus asa. Tujuan untuk melindungi tanah air dari musuh dunia lain kembali ke dada prajurit, dan menyebabkan mereka bisa berjuang mati-matian.


**

__ADS_1


Terus menunggu bukanlah hal yang buruk bukan? Seperti prajurit Pasukan Ekspedisi yang hanya bisa berjuang sambil mengharapkan bantuan, hingga akhirnya bantuan benar-benar tiba.


Jadi, teruslah menunggu meski hal yang di tunggu tidak datang-datang, seperti jodoh:v


__ADS_2