
Hari pertama liburan yang damai, katanya.
**
Sebelumnya…
“Bukankah dia kakak Anda, Tuan Nio?”
Pada pemeriksaan lebih dekat, yang dikatakan Edera adalah kebenaran.
Tampaknya Arunika tidak menyadari keberadaan Nio yang sedang kebingungan dan syok. Namun, yang menjadi masalah utama adalah siapa lelaki yang sedang merangkul pinggang Arunika dan berbicara dengan wajah mulus yang bahagia.
Pulang setelah menjalani banyak pertempuran yang melelahkan fisik dan mental, Nio melihat Arunika bersama salah satu sosok paling ia ‘benci’ selama ia mengabdi pada negara sebagai Prajurit SMA. Sebelum mendekati mereka berdua, yang Nio lakukan adalah berdiri mematung dengan wajah seperti sedang mengamati.
Setidaknya, yang Nio inginkan ketika pulang adalah wajah terkejut Arunika, kemudian menangis di dekapannya karena mengharapkan kepulangan dirinya setelah ratusan hari terpisah. Layaknya kepulangan pasukan kontingen pasukan penjaga perdamaian atau pasukan penjaga perbatasan yang bertugas dalam risiko kehilangan nyawa, peristiwa penuh haru seperti itulah yang Nio bayangkan ketika mendapatkan kesempatan berlibur selama satu bulan ini.
Setelah beberapa saat, Arunika akhirnya melihat ke arah Nio, walau untuk sesaat dia belum mengenali Nio. Pria itu cukup dikenali melalui gaya rambutnya yang berantakan, atau tanda-tanda fisik seperti suara atau tatapan mata yang tajam.
Tentu saja Arunika tidak berlari lalu memeluk Nio begitu saja. Dia meminta ijin pria yang merangkulnya. Tentu saja, dia tidak akan melakukan apapun yang melibatkan pria lain tanpa seijinnya walau itu membuat perasaannya tidak karuan.
“Kamu tampak lelah, Nio…”
Melihat Arunika berjalan ke arahnya dan berkata seperti itu, Nio juga melihat wajah pria yang bersama Arunika yang menunjukkan senyuman seolah-olah mengenal dirinya.
Walau hanya beberapa bulan, Nio berada di unit yang dipimpin pria berpakaian seragam lapangan dengan tanda pangkat mayor. Pada ingatan selanjutnya, pria itulah yang memberi Nio banyak ‘pengalaman’ dalam pertempuran, terutama dalam memperlakukan prajurit musuh yang sudah menyerah. Pria itu dikenal oleh Nio melalui kata-katanya, “Musuh harus dibuat kalah dengan cara apapun.”
“Bahkan dia masih bisa tersenyum seperti tanpa dosa,” Nio terus mengingat semua perintah pria selama dia berada di bawah pimpinannya.
Musuh harus dibuat kalah dengan cara apapun, salah satunya membunuh semua prajurit musuh yang sudah menyerah… sepertinya kata-kata itu tidak akan pernah dimaafkan oleh Nio yang sekarang. Ketika dia masih berupa tamtama pengecut, Nio hanya bisa menuruti semua perintah pria itu walau mengganggu kesehatan mentalnya.
Pria itu berjalan dengan santai lalu berdiri di samping Arunika dan berkata, “Senang bertemu denganmu lagi, Nio Candranala…” pria dari TNI Angkatan Darat itu menyapa Nio, namun sama sekali tidak membuat letnan satu TRIP tersebut senang.
“Ya,” Nio menjawab dengan tatapan dan nada dingin. Bahkan, para gadis dari dunia lain merasakan aura gelap yang keluar dari diri Nio, saking dinginnya mungkin bisa membuat orang biasa pingsan.
__ADS_1
“Oh sayang,” pria itu kembali merangkul pinggang Arunika, “Dia tidak seramah yang kau bicarakan.”
Arunika menjawab tanpa rasa risih dengan rangkulan tersebut, “Aku juga tidak tahu dia berubah setelah berbulan-bulan tidak pulang.”
“Sial, bukannya kamu yang berubah, Arunika?” ucap Nio namun di dalam hati. Nio membuat ekspresi rumit, dan sepertinya sebentar lagi akan menangis.
Bukan penyambutan seorang pahlawan seperti yang Nio dapatkan. Hatinya merasakan sesak, hampa, dan marah saat Arunika tanpa ekspresi bahagia dan haru menyapa dirinya.
“Nio, kenapa kamu pulang membawa wanita-wanita dunia lain lagi?” tanya Arunika.
“Terserah aku.”
“Kenapa kau dingin seperti ini?”
“Terserah aku.”
Arunika benar-benar merasa sifat Nio berubah 180 derajat ketika pacarnya menyapa dirinya. Dari tetapan senang ketika melihat dirinya, Nio tiba-tiba berdiri tegak dengan ekspresi datar sepertinya. Dia tidak tahu emosi macam apa yang Nio tunjukkan karena masker buff-nya, namun sikap aneh Nio membuat Arunika kebingungan.
“Aku mau pulang, sebaiknya kamu juga pulang cepat setelah bersenang-senang bersama dia. Aku lelah, dan harus belajar menjadi instruktur yang baik,” ucap Nio.
Arunika mengangguk sebagai tanggapan, namun pria di sampingnya justru tersenyum dan berkata seolah-olah ingin melihat Nio lebih menderita. Dia maju satu langkah ke depan, dan memasang wajah mengejek yang disembunyikan dengan sempurna oleh senyumannya. Wajah putih bersih tanpa bekas jerawat, luka akibat benda tajam, atau luka bakar akibat terpanggang semburan api Wyvern benar-benar membuat Nio iri.
Pria itu berkata, “Kenapa kamu menyembunyikannya? Bukannya kamu ingin bersenang-senang dengan Arunika setelah bertugas di dunia lain? Oh iya, aku lupa, kamu tidak berani menyentuhnya karena sudah menjadi milikku, ya?”
“Ngomong opo koe?! (ngomong apa kamu?!)”
“Kalau cemburu jangan diperlihatin jelas-jelas, dong. Kupikir kamu bakal menerima keadaan ini dengan ikhlas. Jika kamu membiarkan hubungan kami, aku jamin kamu tidak akan menyesal.”
“Mayor, sekarang aku tidak seperti dulu, tahu.”
“Apa? Kenapa kamu berbicara dengan nada menantang seperti itu dengan orang berpangkat di atasmu? Seharusnya, kelakuanmu berubah setelah pulang dari penugasan, bukannya malah bawa banyak gadis dari sana. Kalau bukan kelakuanmu seperti itu, jangan cemburu kalau Arunika lebih memilihku. Jujur saja, kamu di dunia lain tidak melakukan tugas tapi bermain-main dengan wanita di sana, kan? Itu semua kesalahanmu, Nio.”
Nio tidak bereaksi sekecil apa pun, dan justru gadis-gadis dunia lain dan Zefanya yang tampak ingin mengeroyok pria yang jelas-jelas sedang mempermalukan Nio.
__ADS_1
Nio tidak melihat ke arah wajah pria di depannya, tapi pada Arunika. Sayangnya, tidak tampak tanda-tanda Arunika akan berusaha menghentikan tindakan ‘pacarnya’ atau semacamnya yang membuat kesabarannya berangsur-angsur berkurang. Nio tidak bisa membaca ekspresi apakah Arunika marah atau senang saat pria itu mengompori dirinya. Ya, Arunika lebih memilih menjadi pihak netral dan berusaha tidak terlibat masalah di antara mereka berdua.
Ingatan bahwa pria di depannya tidak pernah bertarung di garis depan kembali di otaknya. Namun, semua ucapan pria itu tentang semua kemenangan yang diraih unitnya sebagian besar merupakan usahanya dipercaya banyak orang, bahkan panglima pada masa itu. Memaksa bawahan untuk bertarung menghadapi monster dan tentara musuh dari dunia lain, sementara dirinya menulis laporan bahwa bawahannya tidak melakukan tindakan sesuai perintah di markas yang aman membuat Nio ingin muntah di wajah pria itu saat ini juga. Ketika pria itu mendapatkan penghargaan dan kenaikan pangkat setelah memenangkan sejumlah pertempuran, di baliknya adalah pengorbanan tentara bawahan dan pembunuhan sepihak terhadap musuh yang telah dibuat menyerah.
“Kesalahan? Jika aku melakukan kesalahan, itu adalah saat aku tidak berkata tentang fakta sebenarnya pada petinggi militer terhadap tindakanmu, Mayor Darsono,” Nio berbicara dengan nada pelan, namun kata-katanya sangat jelas berkat nada yang tegas.
“Kamu bisa berbicara seperti itu karena iri denganku yang bisa naik pangkat dengan cepat, kan? Kalau kamu bisa memanfaatkan semua yang bisa dimanfaatkan, untuk apa harus bekerja terlalu keras? Untungnya, dulu aku punya bawahan seperti dirimu, Nio.”
Nio menatap Darsono, dan Darsono membalas tatapan Nio. Nio tidak tahu berapa lama dia harus menahan kesabaran. Nio sudah mengepal tangan kanannya terlalu lama hingga mungkin bisa mengeluarkan darah.
Darsono menepuk bahu Nio dengan wajah tersenyum, namun Nio merasa jijik dengan senyuman pria tersebut.
“Kita akan bertemu lagi nanti, Nio. Aku tidak ingin membuat keluargaku menunggu. Kamu harus melihat kenyataan, dan mulai mencari yang baru,” ucap Darsono, kemudian menarik tangan Arunika dan berjalan melewati Nio dan para gadis begitu saja.
Ketika Darsono dan Arunika belum jauh dari tempat mereka sebelumnya bertemu Nio, Tania muncul setelah keluar dari minimarket sepulang bekerja. Dia memanggil Arunika, namun diabaikan dan terus berjalan hingga sebuah mobil mewah berhenti untuk menjemput mereka berdua.
Nio berbalik, mengawasi Darsono yang membawa pergi Arunika seolah-olah dia satu-satunya orang yang pantas untuk perempuan itu. Dia tidak membiarkan pandangannya turun. Dia berhasil menahan diri, dan menghindari perkelahian yang akan menimbulkan korban. Setelah melepaskan kepalan tangan yang membuat bekas lecet pada telapak tangannya, Tania berhenti berjalan dan menatap wajahnya sebentar.
Begitu juga dengan Nio, dia melihat wajah Tania yang berdiri di sampingnya dengan eskpresi sedang mengamati. Karena masih dalam kondisi hati yang tidak stabil, Nio harus menenangkan diri sekejap sebelum menyapa Tania dengan benar.
Nio mengira dirinya benar-benar akan menangis.
“Habis pulang, Kak Tania?” kata-kata Nio agak gemetar.
“Oh!” Tania menunjukkan ekspresi terkejut hingga hampir menjatuhkan barang belanjaannya ke trotoar, “Jadi beneran Nio! Maskermu membuatku hampir tidak mengenalmu kecuali gaya rambut acak-acakanmu.”
Ketika Nio kembali memandang ke arah mobil mewah yang ditumpangi Darsono dan Arunika, Tania mengerti kenapa Nio terdengar bicara dengan gemetar. Dia bisa merasakan hati Nio ketika melihat pemandangan semacam itu, walau di sisi lain dia memiliki sedikit kesempatan untuk bersaing mendapatkan seseorang.
“Bisakah aku merebut kembali dia?”
Beban kata-kata terakhir Darsono kepadanya sebelum berpisah membebani pikiran Nio, dia tidak bisa menghapus semua ingatan tentang pria itu dan segala perintahnya kepadanya.
“Anu… mereka siapa, Nio?” tanya Tania saat dia melihat wajah-wajah baru yang mengelilingi Nio seperti pengawalnya, walau pada saat yang bersamaan dia merasa curiga terhadap gadis-gadis cantik di dekat Nio.
__ADS_1