
Keseimbangan kekuatan akan berubah di medan perang Tanah Suci, setelah Pasukan Ekspedisi mengalami kelelahan yang luar biasa.
Sore ini, sembilan korps yang masing-masing dipimpin oleh seluruh pahlawan tiba dengan menggunakan Gerbang tak sempurna yang dibuka oleh para pahlawan. Pasukan Aliansi sangat kuat, dengan jumlah tentara di masing-masing korps berkisar antara 40.000 hingga 60.000. Tentara kebanyakan rekrutan baru yang mendapatkan pelatihan singkat yang melelahkan.
“Para pahlawan yang terhormat dan pahlawan Pasukan Aliansi! Jangan takut dengan pasukan dunia barbar tersebut! Dengan bantuan para pahlawan, kita akan bersumpah untuk menghancurkan pasukan dunia lain atas nama Dewa Perang!”
Mendengar kalimat ‘menghancurkan pasukan dunia lain’ membuat hati Indah bergetar, tepatnya hati gadis ini sangat resah. Tetapi perasaan lain dirasakan oleh Rio dan Baron, dimana keduanya terlihat tidak sabar memimpin pasukan masing-masing untuk menghadapi Pasukan Ekspedisi.
Jumlah pasukan besar ini tersisa sekitar 280.000, dan merupakan kesatuan yang utuh. Selain itu, sejumlah senjata baru disiapkan Baron dan pembuat senjata yang dibayar Pasukan Aliansi.
Korps ini akan menyerang sisi benteng yang berhasil dijebol dalam penyerangan sebelumnya, alias pasukan besar ini dikirim untuk memasuki lubang yang telah dibuka saat penyerangan sebelumnya. Dengan kata lain, pasukan sebesar ini akan melakukan serangan total,dengan bantuan kekuatan para pahlawan.
Pahlawan Nafsu, yakni Baron berkata dengan suara sangat keras, “Waktunya sudah tiba! Benteng itu hanyalah gudang busuk! Jika kita menendang pintunya, tendangan kalian akan meruntuhkan benteng dengan sekali tendangan!”
Serangan besar sebelumnya juga gagal membobol pertahanan benteng Pasukan Ekspedisi, tepatnya karena kesalahan perintah Pahlawan Amarah, alias Rio.
Dia memimpin pasukan dengan jumlah tentara sebanyak 40.000 untuk menyerang sisi benteng yang dilindungi parit dengan prajurit di dalamnya. Tetapi area tersebut terlalu kuat, akibatnya pasukan Rio tidak leluasa untuk menyerang, dan unit Pasukan Ekspedisi yang bertugas mempertahankan parit menembaki dan membunuh para prajurit Pasukan Aliansi yang dipimpin Rio. Pemuda tersebut berhasil membunuh puluhan prajurit Pasukan Ekspedisi dengan Peluru Abadinya.
Meski kehilangan cukup banyak tentara pada penyerangan hari ini, Pasukan Aliansi berhasil membunuh ratusan prajurit Pasukan Ekspedisi, dan membuat prajurit yang masih hidup sangat kelelahan. Dibelakang mereka adalah para pahlawan yang telah mengeluarkan kekuatan mereka, jadi Pasukan Ekspedisi harus berjuang jauh lebih keras.
**
Sejak penyerangan sore tadi, belum ada prajurit Pasukan Aliansi dan para pahlawan yang menembus benteng Pasukan Ekspedisi, dan tembok tersebut berhasil bertahan. Dinding yang tebal, sepertinya tidak akan goyah di depan pasukan besar yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Di ruang Komando Strategi Pasukan Ekspedisi, Jendral Sucipto dan sekitar 40 prajurit berkumpul untuk membahas perubahan situasi perang.
“Saya pikir, konsumsi amunisi kita kacau…”
Komandan Regu penjelajah 1, Pembantu Letnan Satu Nio melempar catatannya dan berkata lagi, “Korps Lapis Baja pasti sudah mengkonsumsi lebih dari 40% amunisi mereka. Mungkin mereka akan kehabisan amunisi ketika penyerangan selanjutnya, yang diperkirakan akan terjadi sebentar lagi.”
Seluruh Bintara Tinggi dan Perwira merasakan perasaan yang sama dengan Nio, yakni cemas yang luar biasa jika Korps Lapis Baja Pasukan Ekspedisi kehabisan amunisi ditengah-tengah pertempuran. Itu adalah perasaan yang biasa di saat jalan peperangan ternyata berhasil dikendalikan oleh musuh.
Tujuan pasukan musuh adalah untuk menguras amunisi dan bahan bakar yang dimiliki Pasukan Ekspedisi. Tidak peduli jika Pasukan Ekspedisi memiliki senjata terbaru yang mematikan, jika amunisi dan bahan bakar habis maka prajurit akan dipaksa melakukan pertempuran jarak dekat.
Hingga pertempuran hari ini, sebanyak 407 prajurit gugur setelah bertahan dalam serangan tiga kali sehari yang dilakukan Pasukan Aliansi, dan lebih dari 1.000 tentara terluka. Jika pertempuran besar nantinya terjadi, secara bertahap itu akan meningkatkan kerusakan, dan bahkan ada kekhawatiran tentang runtuhnya moral para prajurit.
Namun, tidak mungkin untuk mengubah rencana strategi lagi. Dalam perang ini, tidak ada pilihan selain menghadapi perang secara langsung, dan akan dibayar dengan nyawa.
**
Pada waktu yang sama, laporan diterima oleh Pahlawan Amarah Rio di markas Pasukan Aliansi. Dia sendiri tidak menyangka akan sangat sulit menghadapi bagian kecil dari pasukan terkuat di kawasan ASEAN tersebut.
Bagaimanapun, dia adalah pemimpin pasukan yang bisa dibilang ‘pasukan elitnya’ Pasukan Aliansi. Dia telah diamanahi dua batalyon kavaleri lapis baja dengan daya tempur kuat, namun dia juga kehilangan lebih dari 10.000 tentara, belum termasuk jumlah korban luka dan cedera.
Kejutan yang luar biasa diberikan Pasukan Ekspedisi yang Rio perkirakan sudah melemah, dan ketakutan akan Pasukan Ekspedisi mulai muncul kembali di antara para perwira tinggi Pasukan Aliansi, tidak terkecuali Rio dan para pahlawan lainnya.
Tapi, rasa takut tidak selalu dikaitkan dengan kekalahan.
Pengecut terkadang menjadi gila karena terlalu takut, dan mencoba melarikan diri dari pertarungan yang seharusnya dia hadapi. Rio yang sudah memutuskan untuk melawan pasukan negaranya sendiri, tidak bisa mundur pada pertarungan ini.
Meski dia tidak perlu takut kehabisan peluru, dan kemampuan menembaknya yang baik, dia hanya bisa membunuh puluhan prajurit Pasukan Ekspedisi. Korps yang dia pimpin berkali-kali dipukul mundur oleh tembakan perlindungan Pasukan Ekspedisi.
**
Nio menatap jam tangan, dan melihat waktu menunjukkan pukul 21.08 saat gerombolan tentara yang tak terhitung jumlahnya bergerak dengan cepat ke arah parit yang dia dan 30 Regu penjelajah lainnya pertahankan.
Nio dan seluruh bawahannya menatap prajurit Pasukan Aliansi di depannya dengan wajah terkejut saat dia hampir akan memerintahkan Regu penjelajah 1 mundur. Meskipun berhasil memenangkan pertemuran sebelumnya, tampaknya mereka tidak diijinkan untuk mundur meski hanya untuk buang air.
Pengalaman dalam pertempuran yang melelahkan dan menyebalkan ini, membuat Nio menyadari jika situasi semakin buruk ketika hal mengejutkan terjadi di medan perang. Firasat yang buruk dirasakan Nio ketika melihat ratusan tentara Pasukan Aliansi terus bergerak dengan cepat, dan keinginan untuk mundur dibatalkan.
__ADS_1
Saat dia dan seluruh prajurit yang mempertahankan parit ini melihat pasukan di depan mereka, yang terlihat bukan seperti unit Pasukan Aliansi lainnya, dan mata Nio membulat ketika melihat yang mengejutkan.
“He-hei, ini bohong kan…?”
“Komandan, apa yang kau lihat?” Liben yang penasaran juga ingin tahu apa yang Nio lihat.
Nio sama sekali bukan pengecut, dia tidak takut dengan pasukan musuh yang hampir tak terhitung jumlahnya.
Tapi, perasaan yang mendominasi hatinya sekarang adalah kengerian yang sebenarnya. Ketika Nio semakin memperhatikan, keringat dingin keluar dan seluruh tubuhnya gemetar.
Korps yang muncul di depan Nio adalah ‘Pasukan Tawanan perang Indonesia’ yang persenjatai dengan perisai dan tombak. Mereka sepertinya dipaksa untuk menghadapi pasukan asal negara mereka sendiri.
Bukan hal yang aneh dalam sejarah untuk menjadikan tawanan perang menjadi ujung tombak pasukan. Pasukan Mongol menggunakan taktik licik ini dalam skala besar, dan berhasil menjadikannya taktik licik paling efektif untuk menurunkan moral musuh.
Beban psikologis karena harus menembak warga sipil senegaranya, dan menganggap mereka sebagai musuh menyebabkan keresahan di pihak Pasukan Ekspedisi. Karena unit yang dikirimkan adalah ratusan tawanan perang, Pasukan Aliansi akan tidak mendapatkan kerugian yang berarti.
Jumlah total unit pasukan tawanan perang yang muncul di depan Nio dan yang lainnya lebih dari 600 orang. Jumlah yang jauh lebih besar dibanding jumlah yang diperkirakan oleh pemerintah sendiri. Dalam hal jumlah, unit dengan 600 tentara adalah jumlah yang kecil jika dilihat dari sudut pandang pasukan abad pertengahan. Jika seluruh pasukan yang mempertahankan parit ini menembak, mereka akan menghabisi pasukan tawanan perang dalam waktu kurang dari setengah jam, mengingat jumlah amunisi yang terbatas.
Tapi…
“Bisakah aku melawan mereka…?”
Nio merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, dan pemuda ini menggigit bibirnya.
Dalam menghadapi orang Indonesia yang memiliki bahasa dan hal lain yang sama, prajurit Pasukan Ekspedisi tidak bisa dengan mudah menembak. Memang, sangat mudah untuk membunuh mereka, tetapi jika anda melakukannya, anda akan melanggar sumpah prajurit ‘melindungi rayat Indonesia’ yang telah diukir di dalah hati anda.
“Kami akan melakukannya untuk kalian…!”
Di atas Nio, puluhan prajurit pasukan sukarela melompat di atas parit dan melewati prajurit di dalamnya dengan sorakan yang keras. Edera yang sudah memasuki ‘mode perang’ berlari dengan cepat di antara tentara bayaran.
Zariv yang sudah siap dengan belati lapis sihirnya, berdiri di atas Nio sambil menatap pasukan tawanan perang yang semakin mendekat.
“Tidak bisa!” Nio membantah usulan Zariv yang sudah siap untuk menghadapi pasukan tawanan perang. Lux yang juga sudah bersiap untuk bertarung hanya menatap datar wajah Nio.
Nio dan Pasukan Ekspedisi tidak bisa begitu saja menyerahkan pekerjaan kotor untuk menghadapi pasukan tawanan perang pada pasukan sukarela. Tapi, ini saatnya bagi semua prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela untuk bertarung bersama.
“Perintahnya tetap sama! Tembak saja semuanya yang mendekati parit dan benteng, anggap saja mereka musuh!”
Perintah Nio berlanjut, namun dia masih belum mendengar suara tembakan. Semua prajurit tampak ragu-ragu untuk menembak, dan hanya saling memandang.
“Tidak ada alasan untuk mengampuni siapapun yang bekerja sama dengan musuh Indonesia!”
Setengah detik kemudian setelah mengatakan hal itu, Nio menarik pelatuk Senapan Serbu 20 generasi pertama. Peluru 7.62mm yang melesat dengan kecepatan 900 meter per menit mengenai dahi dan dada mantan warga negara Indonesia.
Di antara dari pasuka tawanan perang, ada beberapa mantan perwira TNI yang ditangkap dan dipaksa menghadapi Pasukan Ekspedisi. Kepala prajurit pasukan tawanan perang yang tidak terlindungi dengan helm baja hancur seperti semangka ketika peluru 7.62mm menghantam kepalanya.
Nio terus menarik pelatuknya---dengan mata berkaca-kaca dan hati yang mendung. Seluruh prajurit yang bertanggung jawab atas parit ini menembakan satu persatu peluru saat senapan pada mode semi otomatis.
“Tidak berguna mengasihani mereka! Tembak! Bunuh! Habisi semua musuh!”
Seiring dengan perintah Nio, serangan sengit melawan pasukan tawanan perang dimulai. Saat menembaki pasukan tawanan perang, sebagian prajurit memasang wajah kasihan, bahkan prajurit perempuan sampai mengalirkan air mata di pipi mereka.
Tapi, mereka terus melakukan tembakan untuk menghadapi pasukan tawanan perang, dan melakukan tembakan perlindungan untuk pasukan sukarela yang membantu mereka menghadapi mantan warga senegara mereka.
Sementara itu, Edera dengan gigi taring dan cakar panjang khas kucing dengan gesit menebas leher prajurit pasukan tawanan perang. Sesekali dia menggigit leher belakang prajurit pasukan tawanan perang dengan gigi-gigi tajamnya. Di dalam hatinya, Edera merasa kasihan dengan Nio dan prajurit Pasukan Ekspedisi lainnya yang harus melawan kawan sendiri.
Lux dan Zariv saling bekerja sama dengan prajurit pasukan sukarela untuk menghadapi pasukan tawanan perang yang di dominasi oleh mantan warga negara Indonesia. Kedua gadis tersebut paham dengan perasaan Nio yang harus membunuh warga senegaranya sendiri.
Ketiga gadis tersebut bertarung sambil mengeluarkan seluruh kemampuan mereka, dengan tujuan mengakhiri perang dan mengambil hati Nio.
__ADS_1
**
Setelah pasukan tawanan perang dihabisi hingga tanpa sisa, Pasukan Ekspedisi tidak diberi waktu istirahat, bahkan hanya untuk buang air kecil sekalipun.
Pasukan selanjutnya yang dikirim adalah pasukan yang telah dicekoki narkotika.
Prajurit yang menerima narkotika menjadi tidak gelisah dan suka berperang, dan mereka tidak memiliki rasa takut dan sakit. Tidak hanya prajurit manusia, pasukan monster juga dijejali dengan narkotika. Mata prajurit pasukan manusia dan monster melotot dan disertai dengan raungan mengerikan.
Pasukan dengan jumlah sekitar 80.000 menginjak-injak mayat kawan mereka yang membanjiri Tanah Suci ini. Ketika anak panah dan peluru mengenai tubuh mereka, pasukan yang sudah mengkonsumsi narkotika ini menjadi lebih bersemangat.
Nio tidak punya pilihan selain terpana oleh kengerian ini. Beberapa prajurit manusia Pasukan Aliansi berlari dengan anak panah dan meluru menembus tubuh mereka, seperti zombie atau semacamnya.
“Tembakan menjadi tidak berarti…!” Liben menjadi sangat resah.
Prajurit Pasukan Aliansi yang telah tertusuk anak panah dan tubuh yang berlubang akibat peluru, masih tidak berhenti maju. Tidak ada buku pedoman mengenai cara menyerang musuh, mereka akan menyerang secara membabi buta seperti monster berwujud manusia.
Mereka tampaknya tidak takut dengan tembakan Pasukan Ekspedisi, bahkan prajurit yang mati digunakan oleh kawan mereka sebagai tameng tambahan untuk menahan peluru. Beberapa prajurit Pasukan Ekspedisi secara naluriah tentu saja takut, dan menjadi panik dengan pemandangan mengerikan ini.
“Bidik kepalanya! Seperti menembak kepala mayat hidup di film!”
Dengan putus asa, Nio mencoba menenangkan pasukannya di tengah kekacauan ini.
“Tidak… mereka akan menembus kami…” Nio menyadari hal buruk dan mencoba berteriak untuk memerintahkan bawahannya mundur.
Tapi, suara ledakan yang keras mengguncang medan perang, disertai dengan lesatan peluru tank meriam railgun.
Sesaat kemudian, suara tembakan tank meriam biasa dan meriam railgun dengan daya yang tersisa sedikit terdengar bersahutan. Kemudian, 200 tentara musuh di depan Regu penjelajah yang mempertahankan parit baris terdepan terhempas, dan sepotong daging manusia yang hangat menempel di wajah Nio.
Ketika Nio berbalik, dia melihat seluruh tank yang hampir kehabisan bahan bakar dan daya listrik bagi meriam railgun melaju dengan pelan. Asap yang muncul dari ujung meriam, dan percikan listrik dari meriam railgun menghiasi seluruh meriam Korps Lapis Baja Pasukan Ekspedisi.
Komandan tank memberikan intruksi lagi dari palka, dan seluruh senapan mesin berat dan ringan menembakan peluru dan menghancurkan pasukan musuh di depan mereka.
Sorak-sorai terdengar, baik dari pasukan di dalam parit maupun di dalam benteng.
Tank menyala lagi. Peluru berikutnya akan dilepaskan meriam railgun yang berbaris di barisan paling belakang Korps Lapis Baja Pasukan Ekspedisi. Dengan kecepatan suara, peluru tank menghempaskan 600 prajurit Pasukan Aliansi ke udara, dengan anggota tubuh yang terpotong, dan membuat sorak-sorai dari Pasukan Ekspedisi semakin keras.
Seluruh kendaraan lapis melaju dengan perlahan demi menghemat bahan bakar. Seluruh kendaraan lapis baja mengarahkan senjata utama mereka ke pasukan musuh sambil mempertahankan ketenangan.
Musuh memang tidak merasakan sakit, lebih tepatnya mereka merasakan sakit meski hanya sesaat. Lalu setelah peluru meriam dilepaskan, itu akan menimbulkan rasa sakit sesaat, kemudian tubuh prajurit musuh akan hancur dan menjadi gumpalan daging.
Tidak peduli seberapa tinggi dosis narkotika yang musuh konsumsi, batas fisik manusia tidak bisa dilampaui. Jika peluru meriam dan mortir menghantam tubuh mereka, itu akan merubah mereka menjadi potongan daging.
“Bagus! Tembak, tembak! Bunuh orang-orang Aliansi bajingan itu!” tanpa diduga, Sucipto memberi komando dari dalam salah satu kendaraan lapis baja.
Kemudian, artileri gerak sendiri maju dari belakang barisan tank Korps Lapis Baja Pasukan Ekspedisi. Yang muncul adalah senjata pertahanan udara self-propelled yang telah dimodifikasi menjadi artileri medan, dan itu berhasil!
“Gila…!!!”
Kehancuran yang disebabkan oleh peluru timah besar yang ditembakan dari senjata pertahanan udara sangat mengerikan. Saat peluru yang khusus dirancang untuk melawan pesawat tempur melesat dengan kecepatan 2.000 meter per menit mengenai tubuh prajurit Pasukan Aliansi, itu membuat tubuh mereka berlubang dengan diameter 60 cm, dan menyebabkan daging dan organ terbang ke segala arah.
“Apa ini bisa disebut dengan perang?”
“Bukankah peradaban mereka terpaut ribuan tahun dengan kita?”
Nio akhirnya tertawa ketika mendengar ocehan bawahannya yang sudah pulih semangat juangnya, dan membuat beberapa lelucon. Akhirnya satu persatu kendaraan bantuan tembakan tiba di medan perang, dan membuat pasukan yang menyerang pada malam ini dimusnahkan.
**
Kata kunci untuk episode selanjutnya: “Sampai jumpa”
__ADS_1