
Tahun 1914 Kerajaan Hrabro, sore hari.
**
Pertemuan pemimpin Benua Andzrev masih berlanjut. Saking lamanya, seluruh pemimpin telah menghabiskan satu teko penuh berisi anggur. Namun mereka tidak sampai mabuk hanya karena anggur yang mereka minum memiliki kadar alkohol rendah.
Mereka tidak dapat meminum anggur yang enak karena masalah dana, atau kata lainnya peperangan lebih penting daripada perut.
Selama hasil akhir belum ditemukan, pertemuan ini akan terus dilakukan, bahkan sampai puluhan tong berisi anggur habis. Mereka akan melakukan hal ini hingga memenangkan perang yang hampir menghancurkan militer mereka.
Tidak peduli dengan perkataan masyarakat mereka, sepertinya untuk demi mencapai kejayaan bagi negara di Benua Andzrev semua akan dilakukan para pemimpin negara di benua ini.
“Jika Ratu Sigiz pergi ke dunia lain untuk mengusahakan perdamaian, itu masalah yang besar bagi jalannya perang,” ucap Ban Mamaki dengan nada cemas.
Itulah keanehan pemimpin negara di Benua Andzrev, perdamaian adalah hal yang sangat dikhawatirkan daripada peperangan itu sendiri. Kecuali bagi Sigiz, namun perwakilannya di pertemuan ini sepertinya memiliki jalan pikirannya sendiri.
“Benar, sebenarnya aku juga tak tahu bagaimana pikiran milik Sigiz itu. Padahal kita sudah menyiapkan jalan untuk mencapai kejayaan benua ini, tapi dia tetap memilih untuk berdiam diri,” sambung Takobi dengan wajah seperti meremehkan Sigiz.
Perwakilan Sigiz di pertemuan ini tidak berkata apapun saat ratunya dibicarakan seperti itu. Dia hanya berpikir bagaimana caranya agar Kerajaan Arevelk bergabung di perang melawan dunia lain.
Meski diwajahnya terpampang ekspresi jika tidak menyukai saat ada orang lain yang berbicara seperti meremehkan ratunya.
“Umurnya saja yang panjang, tapi jalan pikirannya tidak,” remeh raja Kerajaan Sirds, Serca dengan nada meremehkan.
Serca tiba-tiba menyinggung tentang kutukan yang dimiliki keluarga kerajaan Arevelk, yakni berumur panjang. Namun beberapa pihak justru menilai jika umur yang panjang adalah kutukan, tidak ada yang mau memiliki umur panjang di dunia ini.
Pada masa perang seperti ini, angka harapan hidup memang sangat rendah. Apalagi bagi para pria, jika tidak dipaksa untuk menjadi prajurit mereka dapat hidup hingga angka 45-50 tahun. Bagi perempuan, mereka sedikit beruntung jika memiliki kehidupan yang baik. Para perempuan bisa hidup hingga usia 55-60 tahun.
Namun, tidak sedikit perempuan yang memilih untuk menjadi prajurit dan memiliki harapan hidup yang sangat rendah.
“Di peperangan seperti sekarang, jangan berharap memiliki umur panjang,” ucap perwakilan yang membuat seluruh pemimpin menoleh kearahnya.
“Aku justru tidak ingin memiliki umur panjang, atau aku akan lebih lama melihat kekacauan dunia ini,” sambung Bogat sambil meminum sisa anggur digelasnya.
Sesaat kemudian seluruh orang di tempat ini tertawa atas perkataan pemimpin kerajaan tetangga Arevelk tersebut.
Seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam berdiri di atas atap ruang pertemuan ini. Hebatnya, tidak ada satupun prajurit penjaga yang menyadari keberadaanya di tempat itu.
Dari bentuk fisiknya, dia adalah seorang perempuan. Namun pada bagian wajahnya terpasang penutup wajah yang juga berwarna hitam.
Dari ciri-cirinya tersebut, dia seperti pasukan rahasia kuno Jepang yang lebih umum disebut dengan ‘ninja’.
Didalam hatinya dia berkata, “Kalian hanya tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang kalian perbuat.”
Meski tidak terlihat bagaimana ekspresinya saat ini karena tertutup topeng hitam, tapi dia sepertinya menahan suatu perasaan hingga mengepal tangannya sangat erat.
Tubuhnya tiba-tiba menghilang saat puluhan burung gagak terbang di tepatnya bersembunyi tadi. Puluhan gagak yang terbang di atas tempat pertemuan disadari oleh para penjaga, namun mereka hanya menganggap mereka sekedar bertengger.
**
Hasil pertemuan ini belum juga didapatkan, hingga pengawal para pemimpin mulai jengkel dengan mereka.
Mungkin tak hanya pengawal yang terlihat jengkel, para pelayan juga terlihat seperti itu. Karena mereka harus menyediakan konsumsi bagi para pemimpin tersebut.
Untuk memenuhi konsumsi, mereka diharuskan bolak-balik dari dapur ke tempat pertemuan yang berjarak 50 meter. Untungnya, untuk menjadi pelayan istana mereka harus memiliki kesabaran ekstra, para pelayan di istana ini sudah melalui berbagai tes yang menguras kesabaran. Tetapi itu setimpal dengan pendapatan yang didapat, setidaknya mereka bisa makan enak gratis di istana.
“Akhir-akhir ini kita terlalu sering mengalami kekalahan, sebenarnya apa penyebabnya?” tanya Takobi terhadap perwakilan.
“Mungkin karena kita menyerang seluruh tempat sekaligus,” jawab perwakilan dengan nada yang kurang serius.
Bogat menyambung, “Jika menyerang seluruh negara sekaligus tidak berhasil, jadi kita harus menyerang satu persatu tempat di dunia lain, begitu?”
Perwakilan Sigiz dipertemuan ini merupakan ahli di bidang militer, karena dia menduduki pangkat Jendral Besar di kerajaan Arevelk. Jadi dia adalah orang yang tepat untuk ditanyai seperti itu.
Perwakilan mengangguk dengan maksud membenarkan perkataan itu begitu saja, karena dia sudah lelah dengan pertemuan yang sudah berjalan lama ini.
Seluruh pemimpin kemudian terlihat seperti memikirkan jawaban mereka atas pernyataan tersebut. Ada yang melakukan pose memegang dagu yang tidak ada jenggotnya, ada pula yang mengusap-usap kumis milik mereka yang ditata melengkung.
“Jadi, wilayah mana yang akan kita serang terlebih dulu?” ucap Lukav seperti menyetujui perkataan perwakilan.
Perkataan yang seperti tidak perlu basa-basi dari Lukav itu menyebabkan seluruh orang di tempat ini tersenyum, seperti merasa pertemuan ini mulai memperlihatkan hasilnya.
“Meski begitu, kita tetap memerlukan pasukan yang besar,” Serca yang setuju dengan usulan itu masih mengkhawatirkan hal lain.
“Masih saya usahakan untuk menjalankan rencana itu, bukan?” ucap perwakilan saat seluruh orang menatap kearahnya.
Seluruh orang yang menatap kearah perwakilan, seperti menjadikan Kerajaan Arevelk sebagai harapan terakhir mereka.
“Bukankah kalian masih memiliki pasukan monster?” sambung si perwakilan.
Seluruh pemimpin berkata di dalam hatinya, dengan perkataan seperti “Benar juga” “Kenapa aku tidak kepikiran?”
Monster cukup berbahaya jika dilepaskan di medan perang, apalagi jika mereka diikutsertakan pada perang melawan dunia lain yang sama sekali tidak terdapat makhluk sejenis itu.
__ADS_1
Para monster memiliki berbagai kemampuan yang membuat mereka sangat berbahaya. Tanpa zirah besi, mereka masih bisa bertempur meski puluhan anak panah menancap ditubuh. Kecuali jika anak panah menancap di kepala atau bagian vital lainnya, itu adalah bagian yang akan membuat mereka mati seketika.
Namun bukan berarti negara yang menggunakan monster sebagai pasukan tidak akan melengkapi mereka dengan perlengkapan standar pasukan manusia. Setidaknya mereka memberikan helm sebagai perlengkapan tambahan selain pedang atau belati.
“Pasukan monster pasti akan membuat kerusakan yang besar bagi pasukan musuh,” ucap Ban Mamaki yang disertai anggukan penuh keyakinan dari para pemimpin.
Kemudian mereka menentukan tempat yang akan diserang terlebih dulu di dunia lain. Salah satu prajurit membawa sebuah gulungan kertas berwarna putih.
Kertas berwarna putih belum ada di dunia ini, itulah penyebab seluruh pemimpin ini terlihat keheranan.
Saat di buka, kertas itu membentang cukup luas dan memperlihatkan sebuah peta dunia lain. Tentu saja tidak ada yang mengerti dengan kata-kata yang ada di peta tersebut.
Peta itu adalah hasil rampasan saat melakukan penyerangan di salah satu wilayah dunia lain.
Perwakilan kemudian melemparkan pisau miliknya, kemudian melemparkannya kesasaran yang sudah ia tentukan.
“Kita akan menyerang wilayah itu,” ucap perwakilan setelah pisau yang ia lempar menancap di sebuah pulau di dunia lain.
Pulau tersebut adalah termasuk milik salah satu negara di dunia lain yang terdiri dari sangat banyak pulau. Atau bisa dibilang, negara itu adalah negara kepulauan terbesar di dunia lain.
“Oh, tempat pasukanku dihabisi ya?” ucap Bogat dengan senyum kecut.
“Bukankah itu bagus, kau bisa memberikan pasukanmu kesempatan balas dendam terhadap negara yang sudah menghabisi pasukanmu?” imbuh Takobi.
Itulah hasil akhir pertemuan ini, dimana mereka akan menyerang satu persatu tempat di dunia lain. Mereka akan memulainya dengan menyerang sebuah wilayah di salah satu pulau di negara kepulauan itu.
Sebagai awal rencana, mereka hanya akan menyisakan sebuah Gerbang saja dan menutup sisanya. Meski itu harus memerlukan tumbal yang tidak sedikit.
**
Sheyn berada di hadapan 500 orang berpakaian perang, dimana semuanya itu adalah perempuan. Tidak ada satupun laki-laki di pasukan ini, atau mereka memang sengaja jika pasukan ini hanya diisi para perempuan saja.
Inilah ‘Barisan para Mawar’, sebuah pasukan yang dibentuk Sheyn. Mereka segera akan melaksanakan perintah raja untuk ikut berperang dengan dunia lain setelah semua persiapan selesai.
Sheyn oleh para prajuritnya disebut dengan ‘Mawar Hitam’, karena rambutnya yang memang berwarna hitam.
Pasukan ini memiliki empat komandan, termasuk Sheyn sendiri. Para komandan itu dikenal dengan Mawar Kuning, Mawar Merah dan Mawar Putih. Mereka dipanggil sesuai dengan warna rambut yang dimiliki.
“Tuan Putri, kapan kita akan berangkat?” tanya seorang prajurit perempuan berambut pendek berwarna keperakan yang disebut dengan Mawar Putih.
“Tunggu saja hingga waktunya tiba. Selama itu, persiapkan semuanya sematang mungkin!” perintah Sheyn.
Perempuan berambut pirang yang dipanggil Mawar Kuning mendekat bersama perempuan berambut kemerahan yang dipanggil Mawar Merah. Mereka telah membagi pasukan yang akan dipimpin.
Pasukan ini tidak dilengkapi dengan zirah besi yang menutupi seluruh tubuh, seperti yang dimiliki pasukan laki-laki. Mereka memakai pelindung yang hanya melindungi bagian vital. Tentu saja pelindung itu tetap terbuat dari besi.
Beberapa saat kemudian, Bogat menghampiri Sheyn yang sedang memantau pasukannya di sore hari yang cerah ini.
“Waktunya sebentar lagi,” ucap singkat Bogat.
Sheyn membalas perkataan ayahnya hanya dengan senyuman miring, seperti tidak sabar untuk melawan pasukan dunia lain.
**
19 Juni 2321, pukul 10.42 WIB.
**
“Apa boleh aku ikut,” ucap kakak Nio yang bernama Arunika ini dengan wajah yang memelas terhadap Herlina.
Beberapa prajurit terlihat sibuk menaikkan beberapa kotak yang entah apa isinya keatas truk pengangkut. Beberapa kotak terlihat berat hingga harus diangkat oleh 4 orang, itulah kotak yang berisi amunisi untuk senapan serbu dan senapan mesin berat serta ringan.
Untuk artileri lainnya belum tiba, artinya masih dalam perjalanan pengiriman. Artileri yang dimaksud adalah roket dan peluncurnya. Karena peluncur roket yang digunakan sifatnya disposable atau sekali pakai.
Selain itu, peledak seperti granat juga mulai menipis di Satuan ini. Hanya ada bahannya saja yang jika dibuat sebagai bom akan membutuhkan waktu yang lama, kecuali bagi prajurit yang mengikuti pelatihan sebagai pasukan khusus.
Herlina terlihat tidak tega dengan Arunika yang semakin memperlihatkan tatapan memelas yang memang menyayat hati itu. Sementara Lisa, dia hanya berdiri disamping Arunika dengan wajah yang menoleh kearah lain, seperti tidak ingin terlibat dengan urusan Arunika.
Namun di hatinya, Lisa juga ingin bertemu dengan adik dari Arunika. Namun pekerjaannya di kota bawah tanah membuatnya harus mengubur keinginannya itu. Bahkan dia sangat sering terlihat ‘galau’ karena memikirkan Nio.
“Ba-baiklah, kamu boleh ikut,” jawab Herlina meski dengan perasaan sedikit terpaksa.
Arunika tiba-tiba melompat dan berteriak kegirangan, seperti anak yang memenangkan hadiah uang di jajanan seribuan.
Lisa hanya bisa tersenyum kecut mendengar jawaban dari Herlina. Didalam hatinya, Lisa sangat ingin menendang Arunika sekarang.
Namun demi harga dirinya, Lisa mengurungkan niatnya untuk menendang Arunika. Karena saat ini banyak prajurit melihat Arunika yang sedang bertingkah seperti bocah itu. Sebagian mereka hanya tersenyum kecil saat melihat tingkah kakak dari Pembantu Letnan Satu Nio itu.
Beberapa saat kemudian, Arunika berlari kearah asrama dengan tujuan mengambil beberapa barang milik Nio.
Dia kembali sesaat kemudian sambil menenteng kantung plastik berwarna hitam dengan ukuran besar, belum diketahui apa isinya. Dia berlari sekencang mungkin agar tidak ditinggal rombongan Herlina yang hendak mengirimkan logistik bagi tim pengawas yang dipimpin Nio itu.
“Kapan kita berangkat?”
__ADS_1
**
Arunika duduk dibelakang Herlina dan pengemudi kendaraan bersama seorang prajurit perempuan. Kendaraan ini memang hanya bisa diduduki empat orang saja, tetapi kapasitas penumpang kendaraan ini bisa mencapai delapan orang, namun dengan posisi menggantung di kerangka besi.
Dibelakang kendaraan taktis, terdapat satu unit kendaraan lapis baja dan truk pengangkut personil yang memuat logistik bagi tim pengawas.
Arunika terlihat tidak dapat diam, seperti tidak sabar untuk bertemu seseorang. Atau lebih tepatnya Arunika merasa sudah lama tidak melihat dunia luar setelah beberapa bulan terus berada di kota bawah tanah.
Herlina terlihat hanya diam saja saat Arunika berubah sifat seperti sekarang, atau lebih tepatnya dia tidak berani untuk menegur Arunika.
Perjalanan berakhir dengan waktu kurang dari 30 menit. Semua orang turun dari tumpangan masing-masing, tidak lupa sambil menurunkan logistik.
Anggota tim pengawas menyambut mereka dan membantu menurunkan kotak yang terlihat berat.
Nio juga keluar dari tenda setelah mendengar jika pengirim logistik telah tiba. Namun hal pertama yang ia lihat bukanlah kotak-kotak yang dipenuhi dengan ransum nasi rendang.
“Kenapa nggak kasih kabar dulu kalau masih ada tugas hah…!?” tiba-tiba Arunika memukul kepala Nio dengan katung plastik yang ia bawa.
Tentu saja Nio terkejut, namun bukan dengan kantung plastik yang melayang dan mengenainya.
“Apa kau memaksa Herlina supaya bisa kesini?” tanya Nio sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.
Arunika yang semula ganas, tiba-tiba terdiam setelah pertanyaan Nio tersebut.
Sambil terbata-bata Arunika berkata, “I-iya….”
Mendengar jawaban dari kakaknya, Nio hanya mengusap wajahnya karena tingkah Arunika yang menurutnya memang memalukan.
Pandangan Arunika kemudian beralih ke perkemahan pasukan milik Sigiz dengan tatapan heran. Nio memaklumi kakaknya yang baru pertama kali melihat pasukan dunia lain.
Nio kemudian melihat Ivy dan Sigiz keluar dari kemah, tetapi tidak dengan Ilhiya. Ilhiya sepertinya tidak dapat berhenti bermain-main dengan kucing yang ia temukan. Jarang-jarang ia mendapatkan kucing dunia lain seperti sekarang.
Ivy dan Sigiz juga melihat Nio yang sedang bersama seorang perempuan, dan juga terlihat masih muda.
Nio tiba-tiba teringat dengan perkataan Ivy waktu itu, yang meragukan jika Arunika bukanlah kakak kandungnya. Ivy berasal dari dunia lain, dan mungkin saja dia memiliki sihir untuk meilhat hal seperti itu, dimikian yang dipikirkan Nio.
“Eh…!?”
Arunika terkejut karena Nio tiba-tiba menarik tangannya dan berjalan mendekati perkemahan pasukan Sigiz. Dia mencoba untuk melepaskan diri, namun Nio sudah berkembang menjadi lebih kuat.
Ivy dan Sigiz kemudian menemui Nio yang memang bertujuan seperti itu, mereka berdua kemudian menatap perempuan yang dibawa Nio.
Arunika melihat kedua perempuan dihadapannya dengan tatapan terkejut. Karena ada dua perempuan paling cantik yang pernah ia temui selama ini. Tentu saja dia berpikir jika dirinya kalah cantik dengan Ivy dan Sigiz.
Arunika melihat Sigiz seperti perempuan seumurannya, sementara Ivy seperti anak SMA kelas 10.
“Apa dia kakak mu?” tanya Ivy dengan tatapan ragu-ragu.
“Ya…, dia kakak 'ku,” jawab Nio sambil mendekatkan kakaknya di sampingnya.
Arunika terkejut saat ada seseorang dari dunia lain yang bisa berbahasa Indonesia. Sementara para ahli bahasa asing Indonesia cukup kesulitan untuk menerjemahkan bahasa dunia lain.
“Nio, dia bisa bahasa Indonesia?” tanya Arunika yang benar-benar terkejut.
Tapi, Arunika jauh lebih terkejut dengan keberadaan kadal terbang milik pasukan Sigiz.
“Ya, karena dia berasal dari dunia fantasi. Jadi hal seperti itu anggap saja seperti kejadian biasa,” jawab Nio dengan santai.
Nio melihat Ivy dan Sigiz seperti sedang mengamati dia dan Arunika. Ivy dan Sigiz berulang kali melihat wajah mereka berdua, seperti sedang mengamati sesuatu.
Ivy dan Sigiz kemudian mendiskusikan sesuatu dengan bahasa yang tidak dimegerti oleh Nio dan Arunika.
“Tidak mirip,” ucap Ivy dengan santainya.
Tentu saja itu membuat Arunika terlihat sangat marah.
“Hah, apa maksudmu, orang dunia lain…!?” ucap Arunika dengan nada keras yang didengar kedua pasukan.
“Tapi, kalian sama-sama memiliki tatapan yang tajam. Ya, hanya itu kemiripan kalian,” sambung Ivy setelah menerjemahkan pendapat Sigiz.
Wajah Nio tiba-tiba berubah menjadi murung, dia berjalan perlahan ke kemah sambil menggandeng tangan Arunika lagi.
Di dalam hatinya Arunika berkata, “Mungkinkah dia tahu….?”
"Aku percaya dengan mu, kak," ucap Nio.
**
Informasi dari author: untuk sementara update akan dilakukan malam hari. Karena hari Senin saya mulai PTS, serta masih melakukan persiapan untuk Ujian Praktik (ujian praktek anak SMK berat bro…).
Masih ada satu pesan lagi dari saya….
Jika pembaca menyukai cerita ini, silahkan ditambahkan kedaftar favorit kalian. Jika ‘belum’ bisa menyukai, kalian dapat menekan tombol jempol dan mengetik sesuatu di kolom komentar. Lakukan kedua hal itu selama itu gratis.
__ADS_1
(Ilustrasi Arunika dengan seragam guru, sumber gambar pinterest)