
27 Januari 2321, pukul 00.42 WIB.
**
Nio masih menghadap smartphonenya menonton video tentang pelatihan pasukan khusus milik beberapa negara. Dia menontonnya dengan serius hingga lupa berkedip.
Serius disini berarti Nio berpikir dia akan menerima pelatihan yang mengerikan seperti yang dia lihat.
Namun bukan berarti dia akan benar-benar akan menerima pelatihan seperti pasukan khusus terkenal milik beberapa negara.
Karena Tentara Pelajar merupakan salah satu bagian dari TNI AD dengan fungsi pasukan cadangan dan pendukung bila memiliki syarat tertentu.
Sebagian besar Tentara Pelajar diisi anak muda yang tidak semuanya memiliki fisik yang baik. Selain itu menjadi pasukan khusus juga diharuskan memiliki fisik, mental dan naluri tempur tinggi demi tercapainya tugas-tugas khusus dan rahasia yang menjadi tanggung jawabnya.
Nio bisa dibilang memiliki fisik yang biasa, tidak terlalu berisi alias berotot dan memiliki tinggi badan 170 cm.
Nio mengalihkan dari menonton video ke membaca artikel mengenai latihan yang dijalani pasukan khusus milik Indonesia.
Nio bergumam saat membaca halaman pertama artikel yang berisi latihan yang dijalani korps baret merah atau lebih dikenal dengan Kopassus, “Mungkin aku bakal pingsan dulu deh.”
Nio bergidik dan tersenyum ngeri saat membaca bagian latihan terberat menjadi pasukan khusus ini, yaitu ‘minggu neraka’.
Selain itu latihan yang disebut dengan ‘minggu neraka’ itu, Nio membaca latihan lain yang cukup membuatnya tercengang, yaitu ‘dopper’.
Di latihan ini prajurit diperintahkan untuk merayap maju di lumpur dalam beberapa barisan. Beberapa orang instruktur berdiri di atas menara sambil membawa senapan serbu. Kemudian instruktur tersebut memberondong sekeliling prajurit yang sedang merayap.
Prajurit yang menjalani latihan ini harus menjaga anggota badannya agar tidak ‘liar’.
“Nggak sanggup, kayaknya aku nggak bakal sanggup kalau beneran menjalani latihan seperti itu,” ucap Nio yang segera menutup smartphonenya.
Namun bukan berarti Nio akan menjalani latihan berat seperti itu karena pihak militer juga tahu batasan fisik serta mental prajurit muda ini. Tapi siapa yang tahu.
“Apa kau takut?” kata Arunika yang membuat Nio terkejut.
Tentu saja Nio terkejut karena kakaknya yang semula tertidur sekarang sudah duduk di sampingnya dengan masih menyelimuti diri.
“Kalau beneran latihannya seperti itu, tentu saja aku takut,” jawab Nio.
Arunika semakin menempelkan dirinya pada Nio dengan maksud menenangkan adiknya.
Nio tidak dapat menolak dengan apa yang kakaknya lakukan sekarang karena pagi nanti dia harus berangkat dan berpisah selama 4 bulan.
Di sisi lain, meski Arunika mengijinkan Nio untuk mengikuti pelatihan namun dirinya merasa tidak ingin ‘ditinggalkan’ oleh Nio.
“Tidak perlu takut. Tentara Pelajar tidak mungkin menjalani latihan seberat itu. Paling berat mungkin kau harus menjalani latihan survival,” ucap Arunika.
“Ya, latihan itu palingan sama dengan kemah waktu sekolah,” jawab Nio sambil berusaha menenangkan diri.
Meski terlihat tenang dan biasa saja, Nio masih merasa takut untuk menjalani pelatihan. Dia menguatkan hatinya sendiri untuk dapat mengikuti pelatihan itu.
**
Di permukaan kota bawah tanah sudah terbit matahari, dan inilah hari yang ditunggu para prajurit dari Kompi 406 yang akan menjalani pelatihan menjadi Pasukan Pelajar Khusus.
Di asrama, Nio yang belum tidur bersama Arunika terlihat baik-baik saja dan masih terlihat sibuk.
Nio memilih pakaian dan barang yang akan dibawa, Arunika membantu Nio mengemas barang yang akan dia bawa ke pelatihan.
“Apa kau gugup?” tanya Arunika.
“Tentu saja, saking gugupnya rasanya aku ingin muntah,” jawab Nio sambil membawa beberapa bungkus mi instan yang akan dia bawa.
Tidak ada larangan untuk membawa makanan saat melakukan pelatihan menjadi Pasukan Pelajar Khusus, setidaknya itu yang tertulis di bagian persyaratan. Itu sebabnya Nio terlihat membawa 15 bungkus mi instan varian goreng sebagai bekalnya.
Selain makanan, Nio tentunya harus membawa pakaian dan seragam prajurit nya yang berjumlah 2 buah. Karena masing-masing seragam memiliki fungsi yang berbeda.
Yang Nio kenakan sekarang adalah seragam yang biasa dia kenakan saat melakukan penjagaan. 2 buah lainnya adalah seragam latihan dan seragam tempur.
Peralatan yang Nio bawa adalah sebuah pedang khusus yang ia bawa di punggungnya dan dua buah pisau. Beberapa buah korek api juga dia bawa.
Tidak lupa perlengkapan wajib lainnya juga Nio bawa agar tidak mengacaukannya saat menjalani pelatihan nanti.
__ADS_1
Semua itu dia masukkan ke dalam sebuah tas yang berukuran cukup besar dan berwarna loreng seperti seragamnya.
“Sudah semua?” tanya Arunika untuk memastikan adikknya tidak melupakan satu benda apapun.
“Ya, aku sudah memeriksa tas ku 3 kali dan tidak ada yang tertinggal” jawab Nio sambil membawa tasnya di punggungnya.
Tas yang Nio bawa memang terlihat berat, mengingat isi didalamnya yang ada berbagai benda dan peralatan. Jika dikira, berat tas beserta isinya lebih dari 10 kg. Namun berkat rancangan khusus prajurit tidak akan merasa berat dan merasa membawa beban seberat 6 kg saja.
Nio memakai helm tempurnya yang terdapat kacamata 'google' khusus militer dan keluar asrama bersama Arunika yang akan mengantar keberangkatan Nio.
Arunika berjalan di belakang Nio dengan wajah senang dan sedih. Arunika merasa senang karena memiliki adik yang bisa menjaganya, dia juga sedih karena tidak akan bersama Nio selama 4 bulan.
Memang bukan waktu yang terasa lama, tapi yang dirasakan Arunika lain hal.
Di tempat berkumpul para prajurit yang akan berangkat, disana sudah ada 2 buah truk pengangkut untuk mengangkut prajurit ke tempat pelatihan.
Nio mengambil sebuah senapan dari tempat penyimpanan sebelum menuju tempat berkumpul.
Jo dan beberapa anggota Regu 2 yang tidak mengikuti pelatihan menghampiri Nio.
“Semoga sukses, Komandan,” ucap Jo sambil melakukan hormat bawahan terhadap atasan yang di lakukan anggota Regu lainnya.
“Terimakasih,” jawab Nio sambil membalas hormat angggotanya.
Nio dan anggota Regunya menyempatkan untuk berbincang-bincang mengenai segala hal yang ingin dibicarakan. Rio yang juga ikut di pelatihan berada di tengah-tengah Nio dan anggota Regunya.
Beberapa prajurit yang akan menjalani pelatihan melakukan’ritual’ masing-masing untuk menghilangkan rasa gugup dan takut.
Ada yang menghilangkan kegugupan dengan memainkan pedang, ada yang membaca buku dan berbagai kegiatan lain.
“Semua prajurit yang akan mengikuti pelatihan, segera menaiki truk!” perintah Komandan mereka, Herlina.
Mendengar perintah itu, Nio segera menghampiri kakaknya dan mencium tangannya.
“Aku berangkat dulu kak,” ucap Nio yang membuat kakaknya terharu.
“Ya, semoga sukses,” jawab Arunika sambil mengusap air mata yang hampir mengalir.
Nio sambil menenteng senapannya dan berlari menuju truk yang akan dia tumpangi.
Setelah tempat duduk di bak truk hampir penuh, Nio segera menempati tempat terakhir dan setelah itu seorang prajurit menutup bak truk.
Nio adalah prajurit dengan pangkat tertinggi di truk ini, beserta seorang Komandan Regu 1 yang bernama Sima. Dia tersenyum ke arah Nio saat mengetahui dia juga satu teruk dengannya. Nio membalas senyum laki-laki seumurannya itu.
“Kepada Komandan Regu 2, silahkan kata-kata anda sebelum berangkat,” kata Sima yang membuat Nio cukup kebingungan.
Nio memutar matanya dan mencoba memikirkan kata-kata yang cocok, “Kepada seluruh prajurit, kita akan berangkat ke tempat pelatihan di Kecamatan Jumapolo. Semoga dengan keikutsertaan kita di pelatihan ini akan membawakan hal baik pada negeri ini!”
“Ya…!” jawab seluruh prajurit di truk ini.
Setelah itu kedua truk pengangkut melaju dan melewati gerbang masuk kota bawah tanah dan menuju Kecamatan Jumapolo. Karena kota bawah tanah berada di pusat Kota Karanganyar, yaitu Kecamatan Karanganyar perjalanan akan memakan waktu setengah jam jika menggunakan kendaraan seperti truk pengangkut ini.
Seluruh orang di truk ini tentu saja menampakan kegugupan mereka dengan wajah yang tegang setelah truk melaju di jalanan kota.
Karena pelatihan yang mungkin akan berat segera ‘menyambut’.
**
Truk sudah mulai melewati perbatasan antara Kecamatan Jumantono dengan Kecamatan Jumapolo, kegugupan seluruh prajurit bertambah.
Suasana saat memasuki Kecamatan Jumapolo tidak ada bedanya dengan di sekitar kota bawah tanah. Ada banyak bangunan rusak dan puing yang menggunung.
Itu bukanlah pemandangan yang bagus seperti Gunung Lawu yang tidak terlihat cukup jelas seperti sekarang.
Seluruh prajurit berhenti melihat ‘pemandangan’ saat seseorang menghentikan truk dengan berteriak, “Seluruh prajurit segera turun!”
Seluruh prajurit segera turun dengan cepat dan berbaris dengan membuat 2 baris memanjang ke belakang.
Di hadapan mereka ada seorang prajurit yang terlihat ‘ganas’ dengan badan yang lebih kekar dari Surya.
Nio hanya bisa meneguk ludahnya sendiri hingga jakunnya bergerak naik turun. Prajurit lainnya hanya melihat dengan perasaan takut yang semakin memuncak.
__ADS_1
Jarak mereka saat ini ke tempat pelatihan masih sekitar 1 km lagi, dan hal ini membuat Nio merasakan firasatnya memburuk.
“Seluruh calon Pasukan Khusus, segera jalan jongkok!” perintah prajurit itu lagi.
“Siap…!” jawab seluruh prajurit yang akan menjalani pelatihan.
Nio dan seluruh prajurit berjalan dengan cara berjongkok sambil menenteng senapan di atas kepala.
Jalan jongkok bukanlah masalah bagi prajurit, tapi senapan yang memiliki berat yang lumayan menambah tantangan mereka.
20 meter berjalan ada 4 orang prajurit yang akan menyambut mereka.
“Sial, kenapa mereka membawa ranting?” batin Nio dengan wajah kesal.
Ke-4 prajurit yang akan ‘menyambut’ prajurit yang akan menjalani pelatihan memang membawa ranting yang kegunaannya belum di ketahui.
“Kalian ini lambat sekali…!” ucap salah satu prajurit yang membawa ranting.
Seluruh prajurit yang mulai terkuras tenaganya terpaksa menambah kecepatan berjalan jongkok mereka.
“Jalan lebih cepat…!” ucap salah satu prajurit lainnya lagi sambil memukul-mukulkan ranting yang ia bawa ke senapan yang prajurit bawa di atas kepala mereka.
Ke-4 prajurit yang membawa ranting juga melakukan hal yang sama. Apalagi Nio yang berada di barisan terdepan harus terkena pukulan pertama.
Nio berkata dalam hatinya, "Mi instan ku bakalan remuk nggak ya?"
Namun mereka ber-4 tidak memukul prajurit perempuan yang akan mengikuti pelatihan, hanya memukul prajurit laki-laki saja.
Mereka terus memukul hingga barisan berakhir.
Seluruh prajurit calon Pasukan Pelajar Khusus ini terus berjalan jongkok meski dilihat beberapa penduduk yang melihat mereka.
Tentu saja tujuan penduduk menonton dari pinggir jalan adalah untuk menyemangati prajurit muda ini.
“Semangat ya, mas prajurit,” salah satu ibu yang menggendong anaknya yang masih balita.
Nio yang melihat itu tersenyum kemudian mempercepat laju jalan jongkoknya.
100 meter sebelum tiba di depan gerbang lokasi pelatihan, 2 orang prajurit lagi terlihat berdiri.
Mereka tidak membawa ranting atau apapun, hanya tangan kosong.
Saat prajurit yang berjalan jongkok mulai mendekati mereka berdua salah satu prajurit berkata, “Mana yel-yel kalian!?”
Setelah itu seluruh prajurit menyanyikan yel-yel yang mereka ingat dengan bersamaan walau tidak direncanakan.
Mereka menyanyikan yel-yel dengan semangat hingga didepan gerbang tempat pelatihan.
Tempat pelatihan merupakan tanah miliki pemerintah yang diijinkan untuk dijadikan lokasi pelatihan calon Pasukan Pelatihan Khusus.
Ada banyak bangunan semi permanen didirikan. Tujuan menggunakan bahan bangunan yang dapat dibongkar dan pasang lagi adalah memperlukan biaya yang lebih sedikit daripada bahan bangunan permanen.
Karena perang melawan pasukan dunia lain membuat ekonomi begara di seluruh dunia mengalami penurunan. Hal itu membuat selurug negara yang berperang melawan pasukan dunia lain memutar otak untuk memperkuat negara dengan sumber daya seadanya.
Kembali ke prajurit yang masih berjalan jongkok setelah melewati gerbang tempat pelatihan.
Mereka ternyata disambut 10 prajurit yang masing-masing membawa sebuah ember berisi air.
Saat seluruh prajurit melewati gerbang, mereka menyiramkan air ke seluruh kepala prajurit.
Nio yang seluruh wajahnya dibasahi dengan keringat hanya bisa pasrah saat dirinya dibasahi air.
“Silahkan berdiri!” ucap seorang prajurit yang memiliki pangkat tertinggi di tempat ini.
Panggil saja dia dengan Mayor Sugeng, orang yang bertanggung jawab atas pelatihan calon PPK di Kota Karanganyar.
Seluruh prajurit berdiri kemudian Sugeng berkata, “Selamat datang di pelatihan PPK, akan kami pastikan setelah kalian semua melewati batas gerbang kalian semua tidak akan dapat keluar lagi. Kecuali saat melakukan pelatihan bertahan hidup di alam bebas.”
Setelah perkataan itu seluruh prajurit yang akan melatih calon PPK disini tersenyum ‘jahat’ yang membuat seluruh prajurit merinding dan semakin merasa takut.
“Silahkan berisitirahat di tempat yang sudah disediakan. Jangan lupa pukul 4 sore tepat nanti kalian harus berkumpul di aula, mengerti!?” ucap Sugeng.
__ADS_1
“Siap, mengerti…!” jawab seluruh prajurit dan kemudian mereka semua menuju barak yang akan menjadi asrama ke dua selain di kota bawah tanah.
(Catatan penulis: bagi pembaca yang tidak mengerti dengan beberapa istilah dapat mencari artinya di KBBI online, selamat membaca.)