
Siang hari setelah rapat antara pemerintah dan petinggi Pasukan Ekspedisi, rapat ini menurut Nio cukup membingungkan.
Berdasarkan pandangan pemerintah bahwa Indonesia memiliki wilayah di dunia lain, Pasukan Ekspedisi akhirnya memutuskan melakukan “operasi pembalasan” dengan Pasukan Aliansi sebagai lawan.
Pasukan akan membutuhkan waktu selama dua hari untuk mencapai target penyerangan, yakni ibukota Kekaisaran Luan. Seluruh prajurit melakukan tugas menurut posisi mereka masing-masing, dan membuat suasana benteng sangat sibuk dengan lalu lalang prajurit serta kendaraan tempur.
Sementara itu, seluruh persiapan telah selesai dilakukan oleh Regu penjelajah 1. Tapi, pemimpin mereka, Nio, nampak sedikit menunda bergabungnya mereka dengan Grup Tempur 1. Pemuda itu, nampak berbicara sesuatu dengan kakaknya dan Lisa.
Seluruh pengajar sukarela mendapatkan pengumuman mendadak yang sangat penting, yang isi pengumuman ini sedikit membuat mereka panik. Bagaimana mereka tidak panik, pengumuman yang mereka terima berisi tentang Pasukan Ekspedisi akan melakukan balas dendam terhadap musuh. Itu artinya, mereka semua akan dipulangkan ke Indonesia agar tidak terlibat dengan perang, dan tidak membahayakan para pengajar ini.
Nio berdiri di depan Arunika dan Lisa dengan tegap dan mengenakan seragam tempur lengkap, dimana kedua gadis itu menatap Nio dengan tatapan miris ketika melihat mata kanan Nio ditutupi dengan perban, karena mata kanan Nio yang sudah tidak ada. Sementara itu, Nio nampak tersenyum untuk mencoba menenangkan kedua gadis di depannya mengenai situasi yang semakin berbahaya ini.
Medan perang memang tempat dimana garis antara hidup dan mati hampir tidak terlihat, namun segala sesuatu dapat terjadi di medan perang, meski sebuah kebetulan sekecil apapun yang bisa merubah jalannya perang. Tidak ada kata-kata yang bisa meyakinkan seorang prajurit jika mereka akan tetap hidup setelah perang usai, tidak ada yang tahu apakah takdir baik memihak mereka atau justru takdir buruk yang dibawa musuh sebagai perantara.
“Kak Lisa, aku titip kakakku padamu. Dia memang sedikit cerewet, tapi aku yakin kakakku tidak akan terlalu merepotkan mu.”
Nio mengatakan itu sambil menyerahkan sebuah kartu pada Lisa, itu adalah kartu ATM yang berisi seluruh uang tabungan yang Nio kumpulkan selama dia menjadi prajurit Tentara Pelajar. Jumlah uang yang berhasil Nio kumpulkan mungkin bisa untuk makan dan sewa kost selama setengah tahun. Jika nasib baik berpihak pada Nio, dia bisa terus mendapatkan gaji dan mengirimkan sebagian ke Lisa atau kakaknya.
Lisa merasa ragu untuk menerima kartu ini, tapi Nio terus memaksa meski Arunika juga tidak setuju dengan hal ini. Karena Nio tahu, jika para pengajar sukarela tidak akan kembali meski operasi perang ini berakhir. Jadi, dia mencoba membantu Lisa selama gadis itu menemani Arunika ketika jauh dari Nio.
“Kak, maaf kalau kau tidak bisa terus di sini. Ini medan perang, bisa saja musuh menyerang kapan saja dengan senjata rahasia mereka. Pasukan Ekspedisi menilai jika memulangkan seluruh warga sipil di sini adalah pilihan terbaik, daripada mereka menjadi korban perang. Maaf, kalau aku tidak bisa terus bersamamu, dan belum bisa membahagiakanmu seperti kau membahagiakanku.”
“Nio, jangan katakan seolah-olah kau akan kalah di perang ini. Aku yakin, adikku yang suka nonton AV ini bisa mengalahkan semua musuh Indonesia. Bukannya tujuanmu menjadi prajurit adalah melindungi ku? Setelah operasi ini selesai, kau harus segera pulang dan menemui ku, oke?”
Nio mengangguk, mencium punggung tangan kakaknya dan memeluknya dengan erat, ini sebuah hal yang bahkan belum pernah dia lakukan bersama kekasihnya. Lisa memang sangat cemburu dengan pemandangan ini, tapi dia belum bisa menyatakan perasaannya jika situasi sedang darurat seperti sekarang. Melihat Nio bahagia, sudah menjadi kebahagian bagi Lisa.
Sementara itu, Sheyn, Zariv, Lux dan Sigiz melihat dari kejauhan Nio dan Arunika. Mereka semua ingin berada pada posisi kakak Nio tersebut, tapi situasi tidak mendukung mereka.
“Aku berangkat, kak…”
**
Perkiraan pasukan tiba di ibukota Kekaisaran adalah dua hari perjalanan darat, setengah hari perjalanan udara, dan satu hari dengan akses laut yang akan dilakukan tankboat. Alasan mengapa target penyerangan adalah ibukota Kekaisaran, karena menurut informan di sana berdiri markas pusat Pasukan Aliansi.
Keberangkatan pasukan dilepas setelah pidato Jendral Sucipto, “Musuh tidak hanya melibatkan warga sipil tak bersalah pada perang, tetapi melukai dan membunuh teman-teman kita. Ini jelas tindakan pelanggaran hukum perang internasional dan kemanusiaan, ini bukanlah tindakan yang bisa dimaafkan. Pemerintah Indonesia telah mencoba berbagai hal untuk mencapai kedamaian dengan musuh, tetapi musuh tidak juga menunjukkan itikad baik dan terus menyerang kita hingga hari ini!”
Dalam pidato Jendral Sucipto, dia mengatakan betapa jahatnya musuh dalam perang ini, dan upaya Indonesia untuk mencapai solusi damai. Namun, semua kerja keras itu diinjak-injak oleh musuh yang terus mengganggu Pasukan Ekspedisi yang melindungi Republik dari ancaman mereka. Dan operasi ini adalah tindakan yang harus dilakukan demi melindungi perdamaian dunia asal Pasukan Ekspedisi, khususnya Indonesia.
“Kita juga telah membebaskan warga Kekaisaran yang tertindas. Tujuan kami hanya dua, dan kami akan segera kembali ke tanah air setelah semua tujuan tercapai. Pertama, kami akan menghilangkan seluruh ancaman musuh, sekuat apapun ancaman itu. Kedua, kami akan membawa perdamaian abadi ke dunia ini dan menghilangkan perang yang musuh mulai. Hanya satu kata yang akan kami raih, yakni ‘kemenangan’!”
**
Jalanan dan bangunan dengan gaya dunia fantasi dikelilingi oleh suasana yang mencekam, semenjak kedatangan Pasukan Ekspedisi di sini.
Tamu tak diundang, tepatnya Pasukan Ekspedisi membuat orang-orang cemas dan masuk kedalam rumah masing-masing. Tank tempur utama, kendaraan pengangkut personel lapis baja, dan ratusan kendaraan taktis menghancurkan jalan batu dengan mudah.
Orang-orang menatap konvoi Pasukan Ekspedisi dengan tatapan terkejut, bingung, takut dan tidak percaya.
“Wajar kalau sambutan yang kita terima seperti ini.”
Nio bergumam seperti itu sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela penumpang depan kendaraan taktis yang Liben kemudikan, selain itu Nio juga menghela napas.
Sejak rapat rencana operasi ini, kekuatan darat Pasukan Ekspedisi terus mengalami perkembangan yang baik dan cepat dari yang diharapkan.
Seluruh kendaraan tempur darat berbaris di jalan utama menuju ibukota Kekaisaran, dan tidak ada satupun dari mereka menerima serangan balik dari musuh. Jika perjalanan terus berlanjut dengan mempertahankan kecepatan saat ini, pasukan akan tiba di tujuan malam hari dan merebut ibukota Kekaisaran saat fajar.
Dalam operasi ini, Sigiz, Lux, Zariv dan Sheyn tidak diijinkan menjadi bagian pasukan ini.
Lalu, setelah perjalanan yang melelahkan Nio melihat ibukota Kekaisaran, dan radio komunikasi di telinganya bergetar.
Unit Tankboat berbaris di sungai besar yang menjadi pertahanan tambahan milik ibukota. Komandan masing-masing kapal melaporkan kondisi yang mereka lihat, dan tidak terlihat tanda-tanda musuh akan menyerang.
__ADS_1
**
Dua puluh jam kemudian, Nio sangat khawatir telinganya akan rusak ketika headfree yang merupakan perangkat radio komunikasi terus mengeluarkan suara dari Komandan Grup Tempur 1, dan suara tembakan dari sisi lain mengguncang telinga.
“Unit Artileri Gerak Sendiri terus menembak! Ketika tank bergerak maju, berhati-hatilah agar tidak terjebak pada tembakan mereka!”
“Unit Tankboat telah mencapai titik tembakan! Mulai pembersihan musuh sambil mengamankan membantu Unit Tank boat merebut jembatan!”
“Gerbang selatan ibukota terlihat ada pergerakan, dan Pasukan Aliansi sedang menuju ke kota. Minta pengejaran dengan helikopter serang!”
Tembakan dan asap menghiasi bidang pandang pasukan, dan pemboman yang telah dilakukan oleh pesawat pengebom strategis merubah pemandangan kota yang sebelumnya elegan dan berkelas menjadi puing-puing.
Di pertempuran sebelah, lima helikopter serang yang dilengkapi dengan roket menciptakan lautan api seolah-olah untuk meredakan amarah setelah pertempuran mematikan di Kota Aibu.
Saat ini, tahap pertama dalam strategi Pasukan Ekspedisi untuk merebut ibukota Kekaisaran telah selesai, dengan dukungan tembakan dari Unit Artileri dan Unit Udara Pasukan Ekspedisi. Seluruh area strategis berhasil direbut dengan mudah, sungguh mencurigakan…
Unit Lapis Baja dan Unit Infanteri Mekasnis mulai memasuki kota dari tiga arah.
“Pada setiap anggota Grup Tempur! Ada laporan tentang adanya unit musuh di depan! Lakukan serangan sesegera mungkin setelah pengeboman dukungan selesai!”
“Mengerti!”
Pembantu Letnan Satu Nio, komandan Regu penjelajah 1 menanggapi perintah dari komandan Grup Tempur dengan suara datar.
“Setiap orang lakukan tembakan dukungan untuk Unit Artileri mulai sekarang! Setelah memastikan dampak pengeboman, penyerangan akan dimulai!”
Setelah Nio berteriak seperti itu, sejumlah peluru artileri anti-personel menembak dari belakang dengan suara bernada tinggi, menghempaskan Pasukan Aliansi di depan.
Beberapa detik kemudian, setelah artileri anti-personel menghentikan tembakan pembersihan, puing-puing bangunan dan tubuh ratusan prajurit Pasukan Aliansi tergeletak. Ada sangat banyak orang tewas yang dianggap sebagai warga sipil, kemungkinan mereka belum dipandu untuk melakukan pengungsian.
Aku sangat menyesali hal ini, tapi sekarang aku harus mengubah hatiku menjadi batu, Nio berkata pada dirinya sendiri, dengan jari memegang pelatuk dengan ujung jari yang berkeringat.
“Regu penjelajah 1 harus mengawasi sisi Kompi 05 yang sedang bergegas, dan lakukan dukungan sesuai kondisi.”
“Siap! Diterima!”
Atas perintah atasannya, Nio mencoba mengambil tindakan pada saat itu.
Namun, langkahnya terhenti ketika berlari kecil untuk memandu Kompi 05 menuju sasaran. Ada sebuah hal yang membuatnya merasa perlu untuk melihatnya.
Nio melihat ada beberapa benda, atau tepatnya hewan terbang dari arah utara ibukota. Mereka mendekat dengan cukup cepat, tapi tidak secepat laju helikopter serang. Unit Artileri anti-pesawat mengarahkan ujung meriam artileri dan peluncur roket ke arah 9 hewan terbang yang bisa menjadi musuh potensial.
Beberapa menit kemudian, kadal terbang besar yang berasal dari jenis naga terbang di atas Regu penjelajah 1. Puluhan roket meluncur dengan kecepatan 200 kilometer perjam ke arah penunggang naga di atas. Tapi, seperti sudah terlatih dengan seranga seperti ini, penunggang naga melakukan manuver seperti penerbang jet tempur ketika akan menghindari serangan roket.
Mata seluruh orang yang melihat melebar, dengan perasaan tidak percaya. Setelah melihat puluhan roket yang bisa dihindari para penunggang naga itu, Nio dan bawahannya merasa jika operasi ini akan menjadi pertempuran yang sama susahnya dengan melawan raja naga angin.
“Getaran apa ini!?”
Seluruh orang, kecuali personel yang ada di udara merasakan adanya guncangan seperti gempa kecil.
Suara peringatan bernada tinggi terdengar dari sirine, dan getaran berangsur-angsur meningkat.
“Apa yang terjadi!?”
Para gadis Regu penjelajah 1 berteriak, dan para laki-laki mencoba menenangkan mereka. Nio menerima pesan darurat dari Markas Pusat, tapi dia nampak tidak percaya dan meragukan apa yang staf Markas Pusat siarkan.
“Ini Markas Pusat Pasukan Ekspedisi Dunia Lain, kami akan menghubungi komandan setiap unit!”
Suara siaran ini berasal dari Jendral Sucipto. Dia berusaha untuk mempertahankan suaranya ahar terdengar tenang, tetapi sebaliknya, hal itu menimbulkan kecemasan bagi Nio.
“Ada hal yang sangat darurat terjadi di benteng tadi. Semua pasukan harus menghentikan operasi dan segera kembali ke pangkalan!”
__ADS_1
Nio hanya membalas pesan dengan, “Hmmm…?”
Nio tidak mengerti situasinya, dan pikirannya terus berputar untuk memproses pesan yang dia terima.
“Penarikan? Pada kondisi yang menguntungkan ini?” Nio bergumam dan disetujui oleh seluruh anggotanya.
Tapi, perintah penarikan mungkin tidak ada hubungannya dengan rencana Dewan Keamanan PBB yang merekomendasikan gencatan senjata dengan Pasukan Aliansi.
Namun, kata-kata Jendral Sucipto berikut ini membuat hati Nio terasa sesak, dan merasa tidak ingin mempercayai hal ini.
“Tiga menit yang lalu, ledakan yang tidak diketahui terjadi di sekitar Gerbang. Setelah ledakan itu, Gerbang menghilang!”
Gerbang itu menghilang…?
“Tunggu, apa yang pak tua ini katakan?” beberapa perwira menggumamkan perkataan yang sama.
“Apa dia serius!?” perkataan Nio membuat anggotanya penasaran.
“Saya ulangi, hilangnya Gerbang telah terkonfirmasi. Kerusakan pangkalan sangat besar, dan saat ini Markas Pusat sedang mencari cara untuk kembali ke Indonesia. Namun, penyebab hilangnya Gerbang masih belum diketahui…”
Jika Gerbang menghilang, mungkin seluruh prajurit Pasukan Ekspedisi akan sangat terguncang dan putus asa.
Nio masih tidak percaya, namun sebelum memastikan kebenaran masalah itu, Nio harus memberi perintah anggotanya sebagai komandan.
Setelah mengambil napas dalam-dalam, Nio berteriak agar semua orang bisa mendengarnya.
“Markas Pusat memerintahkan penghentian operasi dan seluruh serangan. Aku ulangi, operasi ini dihentikan!”
Nio melihat bawahan terdekatnya, Fariz dan Sidik dan mereka berdua tidak bisa berkata-kata. Liben mewaspadai sekitar dengan memasang ekspresi gusar.
“Aku mendapatkan perintah sebelumnya! Markas Pusat mengeluarkan perintah penarikan! Tunggu sampai kalian diintruksikan tentang waktu pergerakan, tetap waspada seperti yang diperintahkan!”
Setelah itu, tidak ada yang keberatan tentang keputusan itu. Tidak ada realitas mengenai hilangnya Gerbang yang para komandan unit katakan pada bawahannya. Dampak menghilangnya Gerbang begitu besar hingga Nio tida tahu harus berkata apa.
“Apa yang pasukan musuh lakukan!?”
Sosok pertama yang muncul di benak Nio saat situasi ini adalah Kaisar Bogat. Keyakinan yang Nio tetapkan tidak ada keraguan sama sekali didalamnya. Dia tidak akan bertaruh jika situasi tidak terlalu gawat.
Karena Pasukan Aliansi merasa segera meraih kemenangan, mereka memutuskan untuk melawan Pasukan Ekspedisi.
Tapi, jika hilangnya Gerbang itu benar, pasukan tidak akan dapat menerima pasokan tambahan, dan kemudian Pasukan Ekspedisi tidak akan kuat seperti sebelumnya.
Itu membuat senapan serbu yang tidak menembakan peluru menjadi lebih rendah dari pedang, dan tank tanpa bahan bakar lebih rendah dari kuda. Masih bagus mereka masih memiliki amunisi dan bahan bakar, tapi jika semua telah habis, pasrah adalah pilihan terakhir.
Setelah ini, Nio memimpin Regu penjelajah 1 untuk kembali ke pangkalan secepat mungkin, kemudian membuat laporan. Dia menaiki kendaraan taktis dan kembali bersama pasukan yang menjalankan operasi yang dilakukan setengah jalan ini.
**
Kaisar Bogat melihat dari naga yang dia tunggangi bersama Pahlawan Nafsu, Baron. Dia dan seluruh pahlawan akan memantau pertempuran yang dilakukan Pasukan Ekspedisi di ibukota Kekaisaran.
Sambil menyeringai, Bogat berkata, “Sesuai rencana.”
Menurut para perwira Pasukan Aliansi, Pasukan Ekspedisi pasti akan melakukan serangan balasan dalam waktu dekat, dengan sasaran tentu saja ibukota Kekaisaran. Menurut mereka, tujuan Pasukan Ekspedisi menyerang dan berusaha merebut ibukota adalah untuk melemahkan Kekaisaran dan Pasukan Aliansi.
Sementara itu, para pahlawan yang kini secara resmi menggunakan nama perasaan manusia, melihat dari tunggangan mereka yang berupa naga angin dengan tatapan kagum. Mereka benar-benar telah berpihak pada Pasukan Aliansi, dan memutuskan untuk membantu mereka mengalahkan Pasukan Ekspedisi yang pastinya sangat kebingungan setelah Gerbang hilang dengan tiba-tiba.
Pahlawan Kesedihan, tepatnya Indah, melihat dari ketinggian 5 kilometer ke arah sebuah Regu yang seorang pemuda pimpin. Dengan lambang mata yang mengeluarkan air mata, Pahlawan Kesedihan mampu melihat dari jarak sangat jauh ke target. Jadi, Indah bisa dengan mudah melihat Nio yang nampak bergegas untuk kembali ke pangkalan.
Dadanya terasa sesak ketika membiarkan Pasukan Aliansi menjalankan rencana mereka untuk melemahkan Pasukan Ekspedisi.
Tapi, dia harus tidak menyesal dengan keputusannya untuk menjadi pahlawan dan membantu Pasukan Aliansi meraih kemenangan atas musuh mereka. Ini semua Indah lakukan demi bisa tetap hidup, dan mengakhiri perang agar bisa kembali ke dunia asal.
__ADS_1