
5 Februari 2321, pukul 08.02 WIB.
**
Di suatu tempat, masih didalam wilayah Kecamatan Jumapolo dan tak jauh dari tempat pelatihan calon Pasukan Pelajar Khusus. Mereka berdua terlihat berada di bawah pohon beringin yang di bawahnya ada sebuah sendang.
Beberapa orang yang melalui tempat ini seketika badannya merasa merinding, seperti ada sesuatu yang tak kasat mata berada di tempat ini. Meski masa ini bisa dibilang dengan ‘masa depan’ namun masih sedikit orang yang masih mempercayai semacam ‘penunggu’ suatu tempat.
Ya itu memang tak salah kerena perempuan yang semalam ‘mengganggu’ Nio juga ada di sendang bersama atasannya.
Meski mereka terlihat nyata, tak ada satupun orang yang bisa melihat mereka berdua. Kecuali Nio yang dapat melihat perempuan yang membuatnya akhirnya mengalami salah satu bagian dari masa pubertas laki-laki.
“Apa saya harus menemuinya lagi, tuan?” tanya perempuan yang semalam mengganggu Nio.
“Ya, setidaknya cobalah untuk berbicara dengannya, Ivy,” jawab tuan dari perempuan yang bernama Ivy itu.
“Apa saya perlu menampakkan diri?”
“Jangan, biarkan dia dulu yang dapat melihatmu.”
“Jadi saya diijinkan memakai telepati?”
“Ya. Tapi jangan lupa untuk menanyakan ‘itu’ padanya.”
“Baik, tuan Ilhiya.”
Kemudian Ivy bangkit dari duduknya dan berjalan melewati seseorang yang sedang membasuh wajahnya di sendang ini.
“Apa yang dia lakukan?” gumam Ilhiya sambil menutupi wajahnya karena melihat Ivy yang menyenggol ember milik orang yang sedang membasuh wajahnya.
“Siapa!?” ucap orang yang wajahnya masih dipenuhi dengan sabun dan tak dapat membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.
Ivy yang juga terkejut langsung mengambil ember milik orang itu yang terjatuh ke sendang.
“Perasaan aku tidak menaruh emberku di sebelah sini,” gumam orang yang sudah membersihkan wajahnya dari sabun dan melihat ember miliknya sudah tidak berada di tempat awalnya.
Mata orang itu memperhatikan sekitar sendang yang hanya ada sebuah pohon beringin dan dirinya.
Dia tidak jadi mandi di sendang dan segera membereskan peralatan mandi kemudian berlari secepat yang dia bisa menjauhi sendang dan Ilhiya yang tak terlihat.
Ilhiya bangkit dan berkata, “Cari makan dimana ya?”
**
Di tempat pelatihan calon PPK, Nio terlihat sedang menjemur kasur dan selimut yang sudah dia cuci dari noda ‘cairan putih’ yang keluar jika seorang remaja laki-laki mengalami mimpi basah.
Nio tidak sendirian di tempat menjemur kasur dan selimutnya, setidaknya Rio dan Sima juga membantu untuk memperhatikannya saja.
“Kenapa kalian masih disini!?” ucap pelatih yang mendapati Rio dan Sima yang masih bersama Nio yang seharusnya mereka tinggal untuk melaksanakan tes bela diri.
“Siap. Maaf kami akan langsung ke tempat tes!” ucap Rio dan Sima dengan bersamaan dan nada tegas.
Kemudian mereka berdua berlari ke tempat dilaksanakannya tes meninggalkan Nio yang terlihat meremas selimut sekuat tenaga.
“Kau, kalau sudah selesai segera ke tempat tes!” perintah pelatih kepada Nio.
“Siap, baik!” jawab Nio dengan tegas.
Nio seketika mempercepat pekerjaannya dan setelah selesai segera berlari halaman yang merupakan tempat dilaksanakan tes bela diri.
Meski Nio belum terlalu mahir dalam melakukan jenis bela diri tertentu yang wajib di kuasai prajurit pasukan khusus, setidaknya dia sudah menguasai seni bela diri pencak silat yang sudah ‘dimodifikasi’ sehingga sesuai dengan bela diri militer.
__ADS_1
Tentu juga sedikit diubah oleh Nio sendiri yang bertipe ‘tidak mau ribet’ dengan sesuatu hal yang diharuskan banyak bergerak.
Hal lain diperlukannya bela diri dalam militer adalah karena tank tempur yang kurang efektif digunakan untuk pertempuran dalam jarak setengah meter.
**
“Tes bela diri dinyatakan selesai. Silahkan istirahatkan tubuh dan melakukan kegiatan bebas,” ucap pelatih setelah seluruh prajurit melakukan tanding bela diri yang dikuasai masing-masing.
“Sersan Nio, kemari,” perintah pelatih yang membuat Nio merinding meski dia mengatakannya dengan nada biasa.
Nio hanya menatap Rio dan Sima yang rencananya mereka bertiga akan memasak mi instan yang Nio bawa.
“Siap, “ jawab Nio dan segera berlar menghampiri pelatih yang memanggilnya.
Rio dan Sima memandang dari tempat mereka terhenti dan berkata bersamaan, “Semoga Nio tidak dipulangkan.”
Nio hanya menatap datar pelatih yang ada dihadapannya dengan wajah tegas. Yang dia bisa lakukan untuk saat ini adalah menunggu apa yang akan dilakukan pelatih padanya.
“jenis bela diri apa yang kau gunakan tadi?” tanya pelatih pada Nio.
Nio menjawab dengan tegas, “Siap, saya menggunakan bela diri pencak silat dengan sedikit perubahan agar cocok dengan saya.”
“Agar cocok dengan mu ya?. Berapa lama kau mempelajari seni bela diri ini?”
“Siap, sekitar satu tahun.”
“Tidak mungkin. Aku saja butuh waktu 3 untuk benar-benar menguasai beberapa teknik dari sekian banyak teknik dari pencak silat. Jenis latihan apa yang kau gunakan?”
“Siap, saya mempelajarinya dari video dan senior saya di Kompi 406.”
“Apa kau memiliki ingatan fotografis atau apa hingga bisa menguasai pencak silat dalam waktu sesingkat itu?”
Karena orang yang memiliki ingatan fotografis mampu mengingat dengan tepat setiap detail yang dilihat. Sederhananya, konsep ingatan fotografis punya cara kerja seperti kamera yang menangkap sebuah objek yang dipotret.
“Baiklah, maaf kalau aku mengganggu waktu bebas mu. Silahkan kembali ke barak,” ucap pelatih setelah semua hal yang ingin dia tanyakan pada Nio sudah terjawab.
“Siap, baik!” jawab Nio denga tegas dan kemudian berlari ke barak karena waktu bebas yang jarang didapatkan saat pelatihan menjadi PPK telah menanti.
**
“Hei…!” sapa seseorang yang membuat Nio mengehentikan langkahnya saat melihat orang itu.
Siapa lagi kalau orang yang memanggil Nio adalah Ivy. Tentu saja Nio belum tahu nama perempuan yang muncul saat Nio mengalami mimpi basah.
“Kau, tunggu dulu. Bukannya kuntilanak cuma keluar pas malam?” kata Nio dengan tenangnya tanpa tahu siapa sebenarnya orang yang dihadapannya.
Ivy memang terlihat seperti ‘manusia bumi’ meski Nio belum tahu kebenarannya.
“Kuntilanak itu apa?” tanya Ivy.
“Eh, kalau kau bukan kuntilanak terus apa.”
“Tentu saja aku makhluk hidup seperti mu.”
Nio memegang dagunya dan bertampang seperti mengamati Ivy. Meski sesekali ingatan mimpi yang membuatnya mimpi basah muncul di kepalanya.
Namun wajah Ivy seperti dapat melihat apa yang ada di otak Nio.
“Apa kau memikirkan hal cabul lagi?” tanya Ivy yang membuat Nio terkejut.
“Ti-tidak,” jawab Nio dengan panik.
__ADS_1
Sementara itu di dalam barak, Rio dan Sima serta beberapa orang prajurit laki-laki dari Kompi 406 menglhawatirkan Nio yang belum kembali.
Mereka terlihat cemas dan tak bisa berhenti untuk memikirkan hal buruk yang menimpa Nio.
“Aku akan mencari dia,” kata Rio setelah berdiri dari tempat tidurnya.
“Aku ikut,” jawab Sima dan yang lain juga bermaksud yang sama.
Mereka yang ingin melihat keadaan Nio kemudian keluar dari barak dan berjalan menuju halaman tempat Nio dipanggil pelatih.
Namun saat baru beberapa meter berjalan mereka melihat Nio seperti sedang berbincang-bincang dengan seseorang, namun orang itu sama sekali tak terlihat.
“Dia sedang berbicara dengan siapa?” tanya Rio yang kebingungan.
Bukan hanya Rio yang kebingungan dengan hal ini, semuanya bahkan ketakutan melihat Nio yang terlihat sedang berbicara sendiri.
Rio kemudian memberanikan diri untuk mendekati Nio.
“K-kau sedang berbicara dengan siapa?” tanya Rio dengan gugup.
“Eh, apa kau tidak lihat ada seseorang didepanku?” jawab Nio sambil menunjukkan Ivy yang ada didepannya.
Melihat Rio dan rekan-rekan Nio yang lain tak dapat melihatnya, akhirnya Ivy memberi tahu yang sebenarnya.
“Untuk saat ini hanya kau yang bisa melihatku,” ucap Ivy yang mulai berbicara menggunakan kemampuan telepatinya.
Nio terlihat terkejut dengan seseorang yang berbicara langsung di kepalanya. Tantu saja Ivy harus menjelaskan pada Nio jika mereka berdua dapat berkomunikasi dengan pikiran tanpa harus membuka mulut dan besuara.
“Apa maksudmu?, hanya aku yang bisa melihatmu?” jawab Nio yang berhasil berkomunikasi dengan bertukar pikiran bersama Ivy.
Tentu saja hal itu membuat Rio dan yang lainnya semakin ketakutan.
Meski mereka berdua sudah dapat berkomunikasi dengan bertukar pikiran, namun reaksi Nio seperti sedang berbicara biasa.
Tentu saja Ivy hanya bisa menepuk jidatnya.
Seperti yang terlihat, Rio dan yang lainnya memang merasa heran dan takut dengan Nio yang masih terlihat berbicara sendiri.
“Cukup untuk hari ini, besok aku akan bertemu denganmu lagi,” ucap Ivy.
“Tunggu dulu, setidaknya beri aku tahu namamu,” cegah Nio.
“Ivy, namaku Ivy. Sudah ya, sampai jumpa.”
Nio kemudian melihat Ivy yang hanya bisa dilihat olehnya berjalan menjauh dengan langkah kecilnya.
Rio yang khawatir dengan Nio segera menempelkan punggung tangannya di dahi Nio.
“Apa yang kau lakukan hah?” tanya Nio dengan wajah siap menghajar Rio.
“Kupikir mimpi yang membuatmu mimpi basah masih teringat. Memang sih mimpi itu terlalu ‘nikmat’ kan?” jawab Rio sambil sedikit menjauh dari Nio yang bertampang seram.
“Se-sepertinya begitu.”
Kemudian mereka berdua berjalan kembali ke barak, namun Nio lebih dulu ke tempatnya menjemur kasur dan selimut.
**
Ilustrasi si tokoh utama, Nio yang saya gambar sendiri. Silahkan untuk memberi saran dan pendapat anda para pembaca cerita ini.
__ADS_1