
Lisa hanya dapat berdiri mematung ketika mobil mewah yang dia tumpangi bersama Arunika berhenti di depan gerbang sebuah rumah. Dua pria yang menjemput mereka juga turun dari bangku pengemudi dan penumpang depan, lalu berdiri di belakang kedua gadis tersebut. Beberapa kali Lisa menelan ludah, dia tidak percaya jika pada saat ini dia berdiri di depan rumah salah satu orang terkaya di Indonesia. Ekspresi Lisa kini seperti campuran antara menunjukkan perasaan kagum, bingung, dan gelisah.
“Dia enggak pernah bilang kalau keluarganya sangat kaya. Jadi selama ini dia hanya berpura-pura hidup sederhana bersama Nio?” gumam Lisa di dalam hatinya dengan perasaan resah.
Rumah yang dapat disebut sebagai ‘istana’ atau kastil karena dikelilingi tembok setinggi dua meter berada di salah satu sudut wilayah Kecamatan Jumapolo, masih termasuk ke dalam wilayah Kota Karanganyar. Berdiri di atas tanah seluas dua hektare, dan merupakan bangunan berukuran cukup besar dibanding rumah-rumah disekitarnya, jelas membuat rumah tersebut terlihat sangat mencolok.
Secara khusus, petugas patroli Garnisun Karanganyar melewati wilayah tempat berdirinya rumah besar tersebut. Tapi sekarang, tidak ada petugas patroli yang berkeliling wilayah ini, dan hanya terlihat beberapa pesawat tanpa awak yang menggantikan tugas prajurit manusia dalam tugas patroli terbang di atas langit Jumapolo.
Dinding berwarna putih – seperti terbuat dari marmer menghiasi seluruh tembok rumah, termasuk bagian tembok. Pepohonan yang sengaja dipangkas dengan bentuk seragam dan tiang lampu dari besi berwarna hitam bercampur untuk menciptakan kontras yang indah dengan sinar matahari sore hari ini yang cerah.
“Kira-kira sudah berapa lama aku tidak ke rumah ini?”
“Sekitar sepuluh tahun, Non Arunika,” jawab salah satu pria gagah yang berdiri di belakangnya.
Hanya dengan melihat cara Arunika menatap rumah besar tersebut, Lisa dapat menebak jika gadis itu adalah anggota keluarga dari pemilik istana itu. Tidak heran kenapa dua pria gagah di belakang mereka berdua memanggil Arunika dengan sebutan gadis ningrat atau bangsawan, yakni ‘Nona’.
Lisa dapat menebak jika harga mobil yang dia tumpangi setara dengan gaji pokok dirinya mengajar selama enam puluh tahun, jika jumlah gaji yang dia terima tetap konsisten dalam kisaran 3 juta rupiah per bulan. Sehingga, dia tidak dapat membayangkan harga rumah alias istana tersebut, karena bisa saja dia harus menabung selama ratusan tahun untuk membeli rumah semacam itu. Jadi, hanya ada satu kata yang Lisa pikirkan tentang status Arunika, “Dia benar-benar lawan yang sangar kuat, selain dua ratu dari dunia lain! Dia benar-benar merahasiakan hal ini dariku!”
“Non Arunika, ayo kita segera menemui Ndoro Kakung. Beliau pasti sangat terkejut dengan kedatangan Anda. Selain itu, tidak sopan membuat teman Anda berdiri terlalu lama.”
“Eh, jadi kalian berdua menjemput ku tidak karena suruhan Mbah Kakung?”
Ketika mereka berdua sedang mengunjungi warung bakso yang berdiri di dekat Taman Pancasila untuk mengisi waktu luang, secara tidak sengaja mereka melihat Arunika dan Lisa duduk di taman. Selain itu, tuan mereka yang dipanggil sebagai Ndoro Kakung tersebut selalu membicarakan Arunika dan Nio yang telah sangat lama tidak menginjakkan kaki di rumahnya. Meski Nio merupakan anak tiri dari anak perempuannya yang menikah lagi dengan ayah Nio, tetap saja Nio adalah salah satu bagian keluarga tersebut.
Dengan alasan tuan mereka yang sudah sangat rindu dengan kedua cucunya, kedua pria gagah tersebut dapat dengan mudah membawa Arunika untuk bertemu kembali dengan kakeknya, meski tidak dengan Nio dan justru membawa Lisa.
“O-oy, kamu nggak pernah bilang kalau kau anggota keluarga terkaya ke-100 di dunia!”
“Heheh,” Arunika terkekeh setelah melihat ekspresi Lisa yang sangat terkejut.
“Heheh? Gundulmu!”
Jelas-jelas status sosial Arunika dengan Lisa terpaut jauh, dan Lisa merasa dirinya tidak pantas memasuki rumah mewah milik keluarga Arunika. Karena jarak pemberhentian bus hanya sekitar lima puluh meter, Lisa berencana melarikan diri demi kesehatan mentalnya.
Namun, setelah Lisa meninggalkan tempatnya berdiri sejauh dua langkah, salah satu pria gagah tiba-tiba menghalangi langkahnya dengan berdiri di depannya. Lisa hampir menabrak tubuh besar pria tersebut, dan menatap wajah tegas pria di depannya dengan tatapan gelisah.
“Anda tetap harus menemani Non Arunika,” ucap pria yang menghalangi langkah Lisa.
“Bi-biar apa coba? Entar aku malah dikira orang mau minta sumbangan lagi.”
Lisa benar-benar tidak percaya jika Arunika tidak benar-benar seorang yatim piatu, karena dia masih memiliki keluarga, sehingga hanya Nio yang sama sekali tidak memiliki keluarga setelah kematian ayahnya. Namun, karena ayah Nio pernah menikah dengan ibu Arunika, dapat dipastikan jika Nio tetap anggota keluarga pemilik istana tersebut. Itu mengapa Lisa dapat membenarkan perkataannya yang menggambarkan perbedaan status sosialnya dengan teman dan orang yang dia sukai.
Sama seperti musuh yang tiba-tiba mundur ketika perang sebelumnya disaat mereka hampir berhasil menguasai kota-kota penting Indonesia, Lisa ingin melakukan hal yang sama. Bedanya, musuh kembali menyerang secara mendadak meski dapat dikalahkan, sehingga jika Lisa tetap melanjutkan persaingannya melawan Arunika dapat dipastikan akhirnya akan seperti musuh dari dunia lain.
Namun, Lisa mengatakan hal itu dengan nada cukup keras, hingga beberapa orang penghuni rumah tersebut keluar untuk memastikan apa yang terjadi. Kemudian, terlihat seorang pria tua yang berusia sekitar 60-an berjalan didampingi dua pembantu perempuan. Melihat hal itu, Lisa beranggapan jika pria tua tersebut adalah pemilik rumah sekaligus kakek Arunika.
Pria tua tersebut nampak tidak dapat berjalan dengan biasa, sehingga harus menggunakan bantuan tongkat dan didampingi dua orang pembantu sebagai pengawas jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
“Ndoro Kakung, kenapa Anda tidak memakai kursi roda saja?” salah satu pria yang menjemput Arunika dan Lisa mendekati pria tua tersebut, lalu membantunya berjalan sedikit lebih cepat.
“Aku mung pengin nuduhke Arunika yen aku isih kuat mlaku dhewe, (Aku hanya ingin memperlihatkan pada Arunika kalau aku masih kuat berjalan sendiri)”
Karena Lisa hanya pendatang di Kota Karanganyar, dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan pria tua tersebut. Dia berasal dari Bandung, dan pindah ke Surakarta untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi dan bertemu dengan Arunika. Karena dia belum memiliki pengalaman yang cukup di lingkungan yang mayoritas pengguna bahasa Jawa, Lisa hanya dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia.
Arunika dan kakeknya akhirnya bertatapan sambil tersenyum setelah sangat lama tidak bertemu. Memang ini adalah pertemuan yang sangat mengejutkan bagi pria tua tersebut, namun dia tahu jika Arunika pasti masih merasa canggung setelah lama tidak bertemu. Meski begitu, gadis tersebut tetap mendekati kakeknya untuk mencium punggung telapak tangan pria tua tersebut.
“Akhirnya kamu membawa teman juga ya, Arunika.”
“Ya, dia Lisa, dari Bandung.”
Mendengar perkataan dan ekspresi kakek Arunika yang nampak senang dengan kehadirannya, perasaan Lisa yang sebelumnya mencemaskan sesuatu kini mulai berubah.
**
Lisa duduk di samping Arunika dengan ekspresi canggung. Sementara itu, di depannya ada kakek Arunika yang bernama Supardi serta beberapa orang yang sepertinya adalah anggota keluarga pria tersebut selain Arunika.
“Luas banget. Padahal cuma ruang makan, tapi luasnya mungkin sama seperti rumah Nio,” Lisa berkata di dalam hati dengan kedua mata melirik ke sekeliling ruang makan mewah itu. Meski dia mengatakan hal itu, namun Lisa tetap tidak dapat membandingkan rumah milik Nio yang dia tumpangi dengan ruang makan istana ini.
Selain itu, karena jumlah asisten rumah tangga yang dipekerjakan tidak sebanding dengan luasnya rumah ini, puluhan robot pembantu dioperasikan dua puluh empat jam dan saling bergantian. Robot-robot tersebut diprogram sebagai asisten rumah tangga, sehingga mereka dapat mengerjakan semua hal yang berhubungan dengan kebutuhan suatu keluarga.
Terlihat beberapa robot bertugas membersihkan lantai bersama asisten rumah tangga manusia, beberapa robot dapat dipasangi baling-baling kecil seperti yang terdapat pada pesawat tanpa awak, sehingga dapat menjangkau tempat tinggi seperti atap dan jendela atau tempat-tempat tinggi lainnya. Para robot dapat diprogram sebagai juru masak yang andal, meski beberapa asisten rumah tangga tetap harus mengawasi pekerjaan robot-robot juru masak milik keluarga Supardi tersebut.
Robot pembantu juga dapat menjadi penjaga rumah tambahan jika asisten yang bertugas mengawasi kamera pengawas tertidur, dan akan berbunyi seperti sirine yang sangat keras jika terlihat pergerakan mencurigakan.
Dua asisten rumah tangga berpakaian pelayan eropa atau pelayan kafe di Akihabara berjalan ke arah meja makan dengan dua robot pembantu sambil membawa nampan yang berisi makanan dan beberapa gelas lengkap dengan tekonya.
“Benar-benar berbeda dengan rumahnya Nio,” gumam Lisa setelah melihat dua robot pembantu meletakkan nampan bersisi makanan dengan mulus.
“Dia tidak terlalu menyukai robot-robot seperti itu, dia lebih suka menggunakan tenaga sendri,” jawab Arunika.
Mereka berdua kemudian mengambil nasi sesuai selera dan lauk yang berjumlah puluhan jenis. Alasan mengapa disajikan makanan sebanyak ini adalah untuk menyambut Arunika yang akhirnya mengunjungi rumah ini setelah sekian lama hidup terpisah. Sementara itu, Lisa hanya menatap kagum lauk-lauk yang disajikan, karena dia cukup jarang menikmati makanan yang terlihat mahal tersebut.
“Padahal kamu dan Nio dapat tinggal di sini, tapi kalian memilih berpisah dan hidup mandiri,” ucap Supardi setelah menelan makanannya.
“Apa Mbah sudah lupa keinginanku saat lulus SMA?”
“Yah… hidup mandiri memang tidak salah, tapi jarang berkomunikasi denganku tetap membuatku sedih, Arunika.”
“Kalau tentang itu, aku minta maaf, Mbah.”
Arunika sempat menghentikan makannya, dan memasang wajah canggung dan tidak berani menatap mata Supardi. Hal itu juga membuat Lisa merasakan hal yang sama, dan meletakkan sendok di tepi piring untuk menunggu Arunika bertindak.
“Ada apa, Arunika dan dik Lisa? Tidak apa-apa, aku tahu kenapa kau jarang menghubungiku dan anggota keluarga kita yang lain. Ayo, cepat makan.”
Manusia yang tinggal di Indonesia dapat dikatakan sangat beruntung, karena negeri tersebut masih memiliki sangat banyak pulau tak berpenghuni untuk dimanfaatkan dan dijadikan lahan pertanian dan peternakan tambahan, atau tempat tinggal permanen jika jumlah penduduk suatu wilayah sangat padat, karena pada masa ini sudah ada lebih dari 380 juta manusia yang tinggal di Indonesia.
Dibandingkan dengan negara maju, penduduk Indonesia masih dapat menikmati sayur, buah, dan daging asli, meski untuk beberapa hal makanan sintetis masih diperlukan, seperti ransum pada prajurit. Ketika sebuah keluarga di Indonesia memotong steak yang terbuat dari daging ayam atau sapi asli, dan berharga murah. Sementara itu keluarga di Singapura atau negara-negara Eropa tetap dapat menikmati steak daging sintetis, yang dibuat dari protein dan dibuat semirip mungkin baik rasa dan penampilan dengan daging asli. Jika ingin memakan daging atau sayuran asli, tentu saja beberapa negara harus mengimpor barang-barang tersebut dari negara pertanian, meski warga di negara tersebut harus mengeluh dengan harga yang mahal.
Baik Arunika dan Lisa tidak terlalu menikmati makanan mereka, dan teringat dengan Nio yang masih bertugas di dunia lain. Mereka berpikir jika di sana, Nio hanya memakan ransum ayam bakar maupun rendang daging yang terbuat dari daging sintetis, dan tidak senikmat daging asli. Selain itu, pekerjaan menjadi perwira pasti akan sangat sulit, sehingga mereka memaklumi jika Nio selalu mengeluh saat berkomunikasi dengan mereka berdua.
“Oh… Arunika, apa itu kamu?”
“Arunika? Mana, sudah lama kita tidak bertemu dengan dia.”
__ADS_1
Suara perempuan dan pria terdengar dari arah dekat meja makan, lalu terlihat seorang perempuan berusia 45-an, namun dalam penampilan tak terlalu jauh dengan Arunika dan Lisa. Di belakangnya, terlihat seorang pria berusia 40 tahun-an berpakaian rapi memberikan jas dan tas kerjanya kepada robot asisten untuk diletakkan di kamarnya.
“Siapa mereka berdua?” tanya Lisa.
“Paman dan bibiku,” jawab Arunika dengan senyum yang dibuat-buat demi formalitas terhadap kedua orang tersebut.
“Tapi, bibimu terlihat tidak terlalu jauh dengan kita soal umur, pasti dia tipe-nya Nio.”
Kedua orang tersebut berjalan ke arah yang sama, yakni meja makan. Bibi Arunika yang terlihat masih cukup muda berjalan dengan anggun menggunakan sepatu hak tingginya, dan membuat Arunika serta Lisa menatapnya dengan sangat kagum.
Paman Arunika yang bernama Reza dan bibinya yang bernama Novita duduk saling berhadapan di tempat duduk meja makan yang masih kosong. Mereka serentak menatap Arunika sambil tersenyum, dan membuat gadis itu semakin canggung.
“Kali ini kamu bawa teman, ya. Tapi, di mana Nio?” Novita bertanya sambil menyesap teh yang telah dituangkan oleh asisten rumah tangga.
“Novita, apa kamu belum tahu Nio sekarang menjadi tentara?” Reza kemudian menjawab dengan nada santai sambil menuangkan beberapa sendok nasi.
“Kau ternyata kalah sama bapak soal update berita ya, Novita,” Supardi berkata dengan nada mengejek hingga membuat Novita menanggung malu.
Ketika Reza dan Novita mulau memakan makanan yang mereka ambil sendiri, Supardi telah menghabiskan makanannya. Beberapa saat kemudian setelah menghabiskan air minumnya, Supardi bertanya kepada Arunika.
“Bukannya dia perwira TRIP yang cukup mencolok? Jadi, di mana Nio ditugaskan sekarang?”
Arunika dan Lisa justru saling tatap, dan sama-sama bingung untuk menjawab pertanyaan Supardi. Di lain sisi, Supardi, Reza, dan Novita sama-sama masih menunggu jawaban dari mereka dengan wajah penuh harapan.
“Di Dunia Baru. Dia salah satu prajurit yang dikirimkan kembali ke Dunia Baru setelah perang besar pertama melawan Aliansi.”
Setengah mili detik kemudian, suasana tiba-tiba menjadi hening, dan hanya terdengar suara robot asisten yang sedang membersihkan rumah. Ekspresi terkejut Supardi, Reza, dan Novita sama-sama tidak disembunyikan, dan terlihat sangat jelas jika mereka bertiga sangat kaget dengan jawaban yang diberikan Arunika atas pertanyaan yang gadis itu terima.
“Jadi… dia pernah terjebak di perang mematikan itu? Dia bersama Pasukan Ekspedisi melawan 300.000 pasukan musuh di sana?” Novita berkata dengan kedua mata membulat dan berbicara dengan nada tidak percaya.
“Bukannya Nio dapat kembali dengan selamat adalah keajaiban? Iya kan, Arunika?" Reza memasang ekspresi kagum yang berlebihan.
Ketika Reza dan Novita melemparkan pertanyaan demi pertanyaan kepada Arunika tentang karir Nio selama menjadi tentara, Supardi justru nampak hanya tersenyum dan mengingat sesuatu. Apa yang dia ingat tentang Nio adalah pria itu cukup nakal dan akan berkelahi dengan siapapun yang mengancam dirinya, serta sering mengeluh tentang sesuatu yang tidak dia sukai.
Ketika berita kembalinya Pasukan Ekspedisi dari medan perang Dunia Baru, lebih dari dua ribu prajurit TNI dibawa kembali dalam peti mati yang diselimuti oleh bendera merah putih. Perang itu merupakan yang paling mengerikan menurut Supardi, dan merasa Nio telah berjuang mati-matian untuk bertarung melawan musuh yang berpotensi membahayakan Indonesia kembali.
Supardi juga tahu jika Nio kini merupakan salah satu perwira remaja dan salah satu personel TRIP yang memiliki potensi untuk dinaikan ke perwira pertama Komando Pasukan Utama Angkatan Darat.
Namun, ada hal yang membuatnya sedikit kesal, yakni kebanyakan masyarakat yang menyebut prajurit TRIP bukan dengan sebutan yang seharusnya, melainkan menyebut mereka sebagai ‘Prajurit SMA’ hanya karena kebanyakan personelnya masih berusia antara enam belas hingga dua puluh sembilan tahun. Sehingga Supardi berharap keberadaan Nio di TRIP mampu membuat satuan tersebut lebih terkenal.
Menurut Supardi, pangkat Letnan Satu yang Nio terima adalah hadiah yang cukup adil atas dedikasinya kepada negara. Sedihnya, mereka yang berkuasa tidak bisa melihat perjuangan asli mereka ketika menghadapi serbuan tanpa henti musuh, sehingga hanya memberikan bantuan yang dirasa pantas diberikan kepada prajurit yang telah berjuang melebihi tugas utama yang diberikan negara. Mereka sebenarnya adalah pahlawan, namun banyak pihak yang tidak ingin mengakuinya.
“Betapa mengerikannya perang itu. Bahkan setelah perang berakhir, masih ada perang-perang yang membuat kita kehilangan banyak prajurit. Dan untuk Nio yang dapat bertahan hingga hari ini dan kembali dikirimkan ke medan perang Dunia Baru, dia benar-benar sesuatu. Kupikir dia dapat melampaui ayahnya.”
Arunika tersenyum setelah mendengar Supardi membanggakan Nio, begitu pula dengan orang-orang yang duduk di kursi meja makan sekarang.
Novita terlihat cukup terkejut setelah Arunika menunjukkan Nio mengenakan pakaian tempur lengkap baru untuk Pasukan Perdamaian. Menurut perempuan yang belum menikah hingga sekarang itu, Nio terlihat sangat gagah untuk remaja usia 20 tahun. Dia benar-benar terpesona dengan aura prajurit sejati yang dimiliki Nio meski hanya melihatnya melalui foto.
Melihat bibinya yang nampak menunjukkan ancaman, Arunika segera memasukkan kembali ponselnya ke saku pakaiannya, meski perbuatannya membuat Novita terlihat sangat kesal.
“Nio, bolehkan untukku saja?,” ucap Novita dengan senyum penuh ancaman, itu menurut Lisa dan Arunika.
“Tante, mending cari berondong lain aja, deh,” ucap Lisa dengan nada sarkas karena dia menyadari jika Novita adalah perempuan berumur yang menyukai pria lebih muda darinya.
Melihat perilaku adik dan anaknya, Reza dan Supardi hanya dapat menghela napas kali ini. Mereka berdua telah menyerah untuk menyuruh Novita agar cepat menikah, namun perempuan itu lebih memilih bekerja di perusahaan keluarga. Selera perempuan itu terhadap pria muda memang tidak normal di dalam lingkungan sosial, namun memang tidak ada yang dapat memaksakan kehendak pribadi terhadap orang lain.
Menjadi prajurit itu berarti setiap hari berlatih di luar ruangan dengan berbagai jenis latihan. Jika mereka melakukannya secara rutin, otot tubuh prajurit akan terbentuk dan membuat mereka nampak gagah. Kulit mereka juga akan menjadi lebih gelap daripada ketika masih menjadi warga sipil. Itulah yang membuat Novita tertarik dengan Nio, dan dia percaya diri dengan penampilannya yang seperti remaja berusia 25 tahun-an.
**
Total, mereka ada sekitar empat puluh orang, termasuk lima anak-anak yang tatapan polos mereka membuat para gadis menjadi gemas. Namun, Nio memerintahkan para gadis bawahannya agar tidak menyentuh anak-anak bertelinga kucing dan kelinci tersebut secara sembarangan, atau para anak-anak akan menganggap apa yang mereka lakukan merupakan sebuah ancaman.
Para pengungsi yang keselurahan berasal dari ras Demihuman dalam keadaan yang memprihatinkan. Mereka hanya membawa apa yang dapat dibawa dan tidak membebani tubuh untuk bergerak cepat jika dikejar-kejar tentara Aliansi, bahkan beberapa dari mereka mungkin tidak membawa apapun kecuali pakaian yang dikenakan sejak pelarian.
Nio tidak dapat mengijinkan seluruh pengungsi ini untuk keluar dari hutan ini begitu saja, karena dia akan menggali beberapa informasi dari mereka. Informasi yang dia dapatkan tetap sama dengan yang dia bayangkan, yakni mereka merupakan sekelompok orang yang melarikan diri dari Kekaisaran karena negara tersebut sedang bermasalah.
“Pertama-tama, siapa namamu? Apa kamu tahu apa yang terjadi dengan Kekaisaran? Apa di sana terjadi hal yang buruk?”
Nio sekarang menginterogasi seorang remaja perempuan Demihuman bertelinga rakun. Meski Nio bertanya dengan nada santai, tapi tidak dengan orang yang dia interogasi.
“Aku Ebal. Mereka… mengirimkan pasukan untuk menyerang tempat tinggal kami,” akhirnya remaja perempuan bernama Ebal tersebut menjawab pertanyaan Nio. Namun, Nio tidak puas dengan satu jawaban saja.
“Apa Kekaisaran atau Aliansi sedang terjadi sesuatu?”
“Kudengar mereka menginginkan pasukan tambahan, yang akan dijadikan unit pembunuh cepat. Aliansi menyerang, membakar rumah, lalu mengambil paksa beberapa pria dan perempuan muda.”
Apa yang pernah Nio dengar dari Edera adalah para ras Demihuman di Kekaisaran Luan maupun negara-negara anggota Aliansi diperlakukan layaknya ternak. Mereka dibiarkan untuk berkembang biak, lalu para anak-anak yang dilahirkan akan ditunggu hingga usia mereka matang, kemudian mengambil anak-anak atau orang yang dirasa mampu untuk bertarung sebagai prajurit tambahan maupun bagian pasukan khusus. Manusia biasa negara-negara anggota Aliansi mengaggap Demihuman sebagai sekelompok manusia setengah binatang yang barbar, dan tidak terlalu jauh dengan hewan. Maka, mereka menganggap membatasi dan mengatur hidup para ras Demihuman bukanlah hal yang melanggar hukum.
Ketika perang, Aliansi tentu saja membutuhkan tentara dalam jumlah besar, tapi mereka tidak dapat merekrut prajurit manusia biasa yang jumlahnya terbatas. Mereka tetap membatasi usia seorang prajurit atas saran dua pahlawan yang sebelumnya merupakan prajurit Israel dan Indonesia. Saat mengetahui jika ras Demihuman memiliki kemampuan bertarung khusus, maka Aliansi merekrut mereka secara paksa.
Ada ratusan suku Demihuman yang tersebar di negara-negara anggota Aliansi. Ketika mendengar bahwa kehidupan ras Demihuman dan manusia setengah monster di Kerajaan Arevelk sangat dihargai, maka mereka berencana pindah ke negeri tersebut.
“Jadi itu sebabnya desa-desa kalian dihancurkan dan para pria dan perempuan yang mampu bertarung direkrut secara paksa? Kupikir mereka hanya organisasi yang hanya menganggap jumlah adalah segalanya.”
Nio berkata dengan nada mengejek. Namun, Ebal tentu saja tidak tahu apa yang Nio katakan, karena pria itu bergumam menggunakan bahasa Indonesia.
“Anda prajurit dunia lain, bukan?” tanya Ebal dengan nada gemetar, dan kedua tangannya tak berhenti bergerak untuk mengurangi rasa gugupnya ketika menerima beberapa pertanyaan dari Nio.
“Aku prajurit kontingen Indonesia, salah satu sekutu Kerajaan Arevelk dari dunia lain.”
“Apa di dunia Anda ada sekelompok orang yang bernasib sama seperti kami? Maksudku, apa di dunia asal Anda juga terjadi perang?”
Jika Nio menjawab pertanyaan Ebal dengan ‘iya’, tentu saja Ebal tidak tahu perang seperti apa yang terjadi di dunia asalnya. Gadis itu hanya tahu jika perang menyebabkan sangat banyak orang kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarga karena dipaksa berperang atau dibunuh musuh. Bahkan dia tahu jika mengungsi bukanlah pilihan yang baik, karena bukan berarti Kerajaan Arevelk akan memperlakukan pendatang seperti warga negara asli mereka.
Selain itu, Nio tidak tahu apakah perang saudara di negara-negara Afrika dan Timur Tengah, atau konfilk bersenjata di Timur Tengah melawan teror*is maupun perang melawan organisasi ra*dikal dapat disamakan dengan perang yang dia jalani di dunia ini.
Sehingga, yang Nio rasa perlu katakan adalah:
“Kami dikirimkan ke dunia ini untuk membuat perang melawan Aliansi sebagai perang terakhir dari semua peperangan yang akan atau sedang terjadi, baik di dunia ini maupun di dunia asal kami. Apa yang ingin kau lakukan untuk mengakhiri perang ini?”
“Berjuang bersama, tentu saja.”
Ras bertelinga kelinci dikenal memiliki kemampuan bertarung cepat seperti ras bertelinga kucing. Ebal merupakan salah satu petarung dari salah satu ras kelinci yang tinggal di Kekaisaran Luan. Beberapa suku dihuni dua atau lebih ras, meski beberapa suku hanya dihuni oleh satu ras saja.
__ADS_1
“Apa kau seperti Edera?”
Ebal terkejut dengan perkataan Nio yang seakan-akan dapat melihat identitas sebenarnya dari dirinya, lalu berkata, “Apa Anda memiliki kemampuan untuk melihat identitas seseorang hanya dengan menatap target?”
Sayangnya, yang Nio tatap ketika mengatakan hal tersebut bukanlah kedua mata Ebal, melainkan wajah dan bagian tubuh gadis itu yang mencolok di beberapa bagian. Insting pria dan otak Nio sepakat jika ras Demihuman dan wanita dewasa yang cantik adalah hal sempurna. Sehingga pertanyaannya beberapa saat lalu hanyalah tebakan yang kebetulan hampir tepat.
“Eh, ya, anu… jadi kau memiliki kemampuan bertarung cepat seperti Edera?”
“Benar. Meski kami mampu untuk bertarung, Aliansi terus menyerang menggunakan pasukan besar, dan menggunakan senjata aneh yang dapat meledak dan membunuh dengan cepat.”
Bahkan Aliansi melakukan hal yang mengerikan terhadap sekumpulan orang menggunakan senjata hasil ciptaan Pahlawan Naf*su. Sedihnya, Nio hanya dapat membayangkan semua perlakuan Aliansi terhadap ras Demihuman. Bisa saja insiden seperti itu tidak hanya terjadi di Kekaisaran Luan, namun di seluruh negara anggota Aliansi.
Melihat gadis dan wanita Demihuman yang berparas menawan, Nio dapat menebak apa yang para tentara pria Aliansi jika hasrat mereka tak dapat terbendung setelah penyerangan.
Namun, Nio tidak dapat menyimpulkan argumen ciptaannya sendiri. Dia akan tahu begitu Ebal menjawab pertanyaannya.
“Apa tentara Aliansi melakukan hal buruk selain menyerang dan membawa orang-orang secara paksa?”
Ekspresi Ebal berubah seketika setelah Nio mengajukan pertanyaan tersebut, kedua matanya melirik ke arah samping dengan kedua tangan yang terus bergerak. Bibir gadis itu juga nampak gemetar, sehingga Nio tahu jawaban dari pertanyaannya meski gadis itu tidak menjawabnya.
“Letnan, kami menemukan ini saat memeriksa beberapa dari mereka.”
Nio melirik ke arah Hendra yang membawa sebuah busur panah, beberapa belati, dan sebuah pedang pendek.
“Tunggu, kapan aku memerintahkan kalian melakukan penggeledahan? Aku hanya memerintahkan kalian untuk memeriksa saja, kan? Biar Edera dan Hevaz yang menilai apakah mereka memiliki maksud tersembunyi atau tidak.”
“Yah, jadi yang kami lakukan salah?”
Sudut mata kanan Nio berkedut setelah menerima pertanyaan Hendra dengan wajah polosnya. Dengan begitu, Nio berpendapat jika orang pendiam akan menjadi menyebalkan pada waktunya.
“Edera, kenapa mereka membawa berbagai jenis senjata?”
“Karena mereka pernah bekerja seperti saya, yakni pembunuh senyap. Senjata-senjata itu mereka bawa untuk membela diri atau ada seseorang yang membutuhkan jasa mereka.”
Kehilangan tangan kanan yang Nio derita dapat menjadi bukti bahwa Edera memang seorang pembunuh senyap. Nio mengakui cara bertarung Edera sangat menyebalkan, karena pergerakannya yang jauh lebih cepat dari lesatan proyektil 9mm yang ditembakkan dari pistol. Dia tidak dapat membayangkan jika harus menghadapi puluhan orang yang memiliki cara bertarung cepat seperti Edera.
“Tuan, mereka benar-benar memiliki masalah lain,” ucap Hevaz yang membuat Nio mulai gelisah.
“Apa pasukan musuh mengejar mereka hingga ke hutan ini?” Nio bertanya dengan ekspresi pahit.
“Bukan…”
Nio dan Hevaz sama-sama melihat ke sekeliling, dan hanya melihat empat puluh pengungsi yang sedang duduk. Mereka tidak memiliki rumah, kehilangan anggota keluarga, dan menyedihkan. Namun, Nio memang tidak melihat tanda-tanda pergerakan yang mencurigakan dari para pengungsi maupun musuh.
“… Mereka kelaparan.”
“Yah, kalau itu aku juga tahu.”
Prajurit TNI menyukai keadilan, kesetaraan, dan persaudaraan. Nio mengumpulkan anggota grup 1-nya, lalu memerintahkan mereka untuk mengeluarkan seluruh bekal yang dibawa. Perbekalan khusus makanan yang mereka bawa cukup untuk empat hari, sehingga Nio memiliki beberapa rencana. Puluhan paket ransum dikeluarkan oleh mereka, dan menciptakan bukit bungkus plastik berwarna hijau.
“Satu T2P dapat dibagi dua orang, kalau belum cukup kita dapat memberi mereka TB1. Aku masih memiliki puluhan imukal, jadi mereka dapat bertahan untuk hari ini,” ucap Ika.
“Kita juga masih memiliki banyak persediaan untuk dua hari ke depan, jika tugas patroli tidak diperpanjang,” sambung Bima.
Nio kemudian mengeluarkan sepuluh bungkus imukal varian coklat rendah gula dan enam paket T2P dari ranselnya, “ Ini masih kurang, berikan semua milikku untuk mereka. Aku tidak ingin para anak-anak dan lansia kelaparan.”
“Apa yang kau lakukan, Letnan? Kau tidak bisa memberikan jatah bekalmu begitu saja.”
“Ardi, manusia dapat hidup selama seminggu tanpa makanan, tapi mereka tidak dapat hidup kurang dari tiga hari tanpa minum. Selama kita dapat menemukan sumber air yang dapat diminum, aku tidak masalah. Omong-omong, ada yang punya minyak angin atau balsem?”
“Yah, kalau yang kau masukan ke dalam perut air doang, itu juga sama saja berbahaya untuk tubuhmu, Let. Lagipula, untuk apa kau meminta minyak angin? Sedang masuk angin?” jawab Gita dengan nada bercanda.
“Udahlah, kalian semua hangatkan makanan untuk semua pengungsi. Seperti yang kukatakan tadi, berikan semua jatahku untuk anak-anak dan lansia. Mana balsem atau minyak angin yang kuminta tadi?”
Mereka semua kemudian melaksanakan perintah Nio dengan wajah heran, kemudian Gita memberikan balsem yang dibungkus di tabung kaca berukuran kecil kepada Nio seperti yang pria itu minta. Sebagai prajurit medis, dia tidak dapat membiarkan anggota Tim Ke-12 menderita masalah kesehatan meski itu hanya masuk angin biasa.
Seluruh anggota grup 1 membuat tungku sederhana dari batu, kemudian meletakkan panci sedang di atas api yang telah menyala. sebelumnya, mereka telah menuangkan air secukupnya ke dalam panci, gunanya untuk merebus T2P varian nasi rendang dan nasi ayam asam manis yang terbungkus di dalam plastik hijau agar hangat dan melunakkan nasi yang keras jika tida dihangatkan.
Saat menunggu air mendidih, Arif, Herman, dan Ga-Eun membagikan imukal kepada satu persatu pengungsi dengan adil. Melihat anggotanya terlihat sibuk, Nio memerintahkan Hassan yang memimpin grup 2 untuk melanjutkan patroli bersama Regu A Kompi Bantuan 002.
Nio membuka ranselnya untuk memeriksa sisa bekal miliknya selain sebotol air minum. Seluruh imukal dan T2P miliknya telah diberikan untuk dibagi-bagikan kepada pengungsi, dan yang tersisa sepuluh TB1. Nio sangat malas jika harus menggigit biskuit keras tersebut meski rasanya tidak berbeda jauh dengan biskuit kebanyakan. Namun, satu biskuit alias TB1 dapat membuat seseorang kenyang dari pagi hingga sore, jadi cocok bagi prajurit perempuan yang sedang dalam program diet.
Sementara itu, patroli akan berakhir lebih dari satu minggu lagi. Sehingga Nio merasa bekal miliknya sangat cukup untuk dirinya sendiri.
“Yah, aku hanya mencoba menjadi atasan yang baik,” Nio bergumam untuk dirinya sendiri.
Dia melepas rompi angkut dan rompi pelindung lalu meletakkannya ke di dekat ranselnya di atas tanah. Mengurusi pengungsi dapat dimanfaatkan sebagai waktu istirahat tambahan, meski itu bukan tugas utama mereka.
Nio berjalan ke arah belakang sebuah pohon, dan menurunkan resleting pada pakaian kamuflase hutan-nya. Dia menaikkan kaos hingga memperlihatkan sebagian perutnya yang berotot dengan beberapa bekas luka sayatan benda tajam.
Dia mencolek balsem dengan jari tengah dan telunjuk pada tangan kirinya, lalu meratakannya ke perutnya. Nio menghargai kehidupan para pengungsi tersebut, sehingga dia memberikan seluruh bekal miliknya untuk mereka. Jika itu artinya dia hanya akan mengkonsumsi air dan biskuit super keras tersebut, maka mengoles balsem di perut adalah pilihan yang tidak buruk.
“Dasar, padahal dia ayah yang buruk menurutku. Tapi dia mengajariku banyak hal secara tidak langsung,” ucap Nio dengan senyum menyedihkan.
Ketika dia masih kecil, Nio pernah melihat ayahnya mengoleskan minyak angin ke perutnya, sementara itu persediaan makanan di rumah hanya cukup untuk satu orang. Meski mereka hanya dapat memasak nasi untuk satu orang dan satu butir telur untuk makan malam, ayah Nio memberikan semuanya untuk dirinya. Saat makan dengan lahap, Nio melihat ayahnya berdiri di kamar dan mengoleskan sesuatu di perutnya.
Karena penasaran, Nio ingin mencoba apa yang ayahnya lakukan, yakni mengoleskan minyak angin ke perutnya meski sudah makan dengan kenyang. Hasilnya, selain merasakan perutnya terasa hangat, Nio tidak dapat merasakan lapar hingga besok siang. Atau tepatnya, dia tidak merasakan apapun meski tidak sarapan hingga makan siang tiba.
Selesai mengoleskan balsem di perutnya, Nio menurunkan kembali kaosnya. Namun, saat hendak kembali ke tempatnya, Hevaz dan Edera berdiri di depannya dan menghalangi langkahnya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Tuan? Apa kau tidak ikut makan bersama yang lain?” tanya Hevaz sambil membawa satu T2P varian nasi ayam asam manis.
“Apa yang Anda oleskan ke perutmu? Apa perut Anda bermasalah?” giliran Edera yang bertanya.
Mereka berdua memberikan tatapan yang membuat Nio sama sekali tidak dapat menghindarinya.
“Tidak ada apa-apa. Kalian boleh makan duluan. Nasi ayam asam manis dan rendang sangat enak, loh,” jawab Nio dengan senyum yang dibuat-buat.
Sementara itu, di balik pohon tempat Nio, Hevaz, dan Edera berbincang-bincang, Gita mendengar semuanya, termasuk Nio yang mengoleskan balsem di perutnya. Ketika perut kosong.
Ketika lapar dan belum makan apapun dalam waktu lama, asam lambung dapat menumpuk di dalam perut. Asam lambung yang menumpuk dapat naik ke kerongkongan dan menyebabkan refluks asam, efeknya adalah akan terasa mual. Menghangatkan perut cukup ampuh untuk mengurangi rasa mual.
“Apa yang dilakukan Letnan bodoh itu,” gumam Gita di dalam hati.
__ADS_1