
Koresponden khusus Indonesian Post, Sonia, memberi tahu salah satu rekannya tentang berita tentang rumor mengenai salah satu prajurit TRIP yang dikirim ke Dunia Baru yang dijuluki oleh masyarakat sebagai ‘Penerus sang Panglima Terpayah’.
Secara khusus, rekan-rekan sang kakak dari Indah tersebut berpikir bahwa gadis itu memiliki sesuatu tentang keberadaan prajurit tersebut, mengingat dia dan keluarganya pernah menjadi tetangga prajurit tersebut dan orang tuannya. Meskipun itu bukanlah berita yang dapat menghasilkan banyak pemirsa dan pemasukan, namun masyarakat luas menginginkan sosok sebenarnya dari ‘Penerus sang Panglima terpayah’ tersebut.
Sayangnya, hingga hari ini, sudah ratusan orang yang mereka wawancarai tentang prajurit tersebut dan kedua orang tuanya menolak untuk berkomentar, bahkan masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran Kota Karanganyar, kampung halaman tentara tersebut.
Mereka merasa orang-orang menolak untuk memberi konfirmasi bahwa mereka memang mengenal keluarga prajurit tersebut, tetapi mereka memilih tidak membicarakannya sama sekali karena masyarakat pinggiran kota tahu bahwa mereka tidak akan mendapatkan apapun. Masyarakat pinggiran Kota Karanganyar hanya menganggap tentara tersebut dan keluarganya sebagai orang baik. Dan terbukti meski telah menjadi perwira, tentara tersebut tidak melupakan masyarakat pinggiran kota yang pernah membantunya.
Hal itu memang cukup mengesalkan dan rekan-rekan Sonia memilih menulis apapun yang mereka terima dari wawancara masyarakat pinggiran kota Karanganyar. Bahkan, Sonia sendiri yang menolak membicarakan topik tersebut tidak bisa melakukan apapun, demi janji dari seseorang yang harus ditepati. Ada banyak orang yang memegang janji serupa, sehingga informasi yang para wartawan dapatkan sangat sedikit.
“Apakah julukan ‘Si Panglima Terpayah’ adalah sesuatu yang membuat TNI malu?”
Pertanyaan itu berasal dari salah satu rekan Sonia yang sedang mewawancarai seorang pensiunan berpangkat akhir Letnan Kolonel. Pertemuan secara virtual tersebut dihadiri Sonia dan seorang rekan perempuannya, dan seorang pensiunan tersebut yang menjadi narasumbernya.
Namun, pria itu memukul meja sangat keras, dan membuat Sonia dan rekannya terkejut.
Pensiunan Letkol tersebut memasang wajah marah yang luar bisa, dan membuatnya tampak seperti dapat meledak kapan saja jika pria itu tidak dapat menahan amarahnya.
“Tolol! Apa yang kau tanyakan pada beliau?!” Sonia berbisik pada rekannya atas pertanyaan yang dilontarkan. Kemarahan Letnan Kolonel pensiunan tersebut tampak mengerikan. Karena wawancara virtual ini akan disimpan dan akan disiarkan pada salah satu acara berita, maka mau tidak mau tim divisi editing akan bekerja sangat keras.
“Orang-orang seperti kalian tidak bisa mengerti apapun! Beruntung Panglima payah itu mencegah kita berperang dengan FPDA. Entah apa yang terjadi pada negeri ini jika konflik itu benar-benar terjadi…” pria itu berkata dengan nada keras yang menunjukkan kemarahannya, berdiri dari kursinya seolah-olah pertanyaan yang rekan Sonia ajukan sangat menyinggung.
Bersamaan dengan kemarahan sang pensiunan Letnan Kolonel, seluruh pensiunan dan perwira aktif yang menerima undangan wawancara virtual ini juga berdiri bersamaan, dan tampak merasakan hal yang sama dengan pria itu.
Para perwira aktif dan pensiunan diam, seolah-olah menyetujui dalam diam perkataan sang pensiunan Letkol. Sehingga hal itu membuat suasana menjadi agak canggung.
“Mbak Sonia, bukannya kamu pernah diselamatkan oleh regu yang dipimpin anak beliau?” seorang Letjen aktif mengajukan pertanyaan pada Sonia yang membuat gadis itu tampak merasakan sesuatu, karena menekuk wajah dengan ekspresi sedih bercampur marah.
“Benar, hampir saya dilecehkan oleh tentara musuh, diseret paksa ke atas panggung. Tapi, secara tidak terduga, dia tenyata bersama pasukan besar. Jadi, ada puluhan warga Indonesia yang ditawan musuh diselamatkan oleh mereka dan musuh yang hendak melawan dapat dikalahkan tanpa waktu lama. Lalu, saya mendengar kabar jika dia menghajar panglima musuh hingga hampir sekarat.”
__ADS_1
“Semua orang tahu jika dia pernah menghajar panglima musuh. Tapi, kenapa kabar ini dapat dirahasiakan begitu lama? Jika benar dia adalah anak beliau, maka dia benar-benar mirip dengan beliau. Mulai dari wajah hingga sifatnya ketika memimpin bawahannya. Sebagai mantan personel Pasukan Ekspedisi yang selamat, dia benar-benar memiliki potensi untuk melampaui sang ayah,” ucap salah satu Mayor yang pernah berjuang pada penyerangan besar pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi lebih dari satu tahun yang lalu.
Tidak ada yang meragukan ucapan Mayor yang memutuskan pensiun setelah kepulangannya dari medan perang dunia lain (Dunia Baru). Sebagian perwira aktif dan pensiunan terlihat mengangguk seolah-olah menyetujui perkataannya, tapi sebagian masih meragukan atau tidak ingin berkomentar apapun.
“Jadi, ini memang berpotensi menjadi berita besar.”
Tetapi, jika mereka hanya mengandalkan apa yang telah mereka lihat dan dengar sendiri untuk berbicara tentang kebenaran berita itu, mereka tidak akan mendapatkan sesuatu yang baru. Itu sebabnya rekan Sonia ingin membahas informasi dan data yang didapatkan Sonia ketika masih di Dunia Baru dengan status warga negara yang berhasil diselamatkan.
Tapi, ketika Pasukan Ekspedisi mendapatkan ijin untuk melancarkan serangan balasan ke markas pusat musuh, seluruh warga sipil di Tanah Suci dipulangkan agar terhindar dari bahaya yang berpotensi menimpa mereka.
Sehingga, terakhir kali Sonia melihat ‘Anak si Panglima Terpayah’ adalah ketika pembekalan dan persiapan pasukan sebelum dikirim ke negara musuh. Itu juga adalah awal dari Sonia kehilangan adiknya. Gadis itu berharap jika dia dapat menemukan dan menyelamatkan Indah dari penjara musuh jika itu menimpanya.
Orang-orang selalu membicarkan rumor dan sesuatu yang dilebih-lebihkan selama itu membuat nama baik suatu pihak meningkat. Pasukan Ekspedisi yang sudah bubar memiliki dokumentasi untuk membuktikannya, termasuk foto terakhir yang diambil sebelum penyerangan besar musuh terhadap TNI yang membuat negara kehilangan ribuan prajurit. Dokumentasi tersebut telah menjadi arsip negara, sehingga mungkin saja akan disebarluaskan kepada rakyat untuk memperlihatkan kebenaran tentang perang ini. Serta membuktikan bahwa mengirimkan pasukan militer ke Dunia Baru bukan hanya untuk membalas perbuatan musuh terhadap Indonesia di perang sebelumnya, namun juga membangun hubungan dan bersekutu bersama negara-negara dunia lain demi mengakhiri perang lebih cepat.
“Apa saja yang terjadi ketika musuh berperang dengan TNI saat itu?”
Banyak wartawan dan masyarakat yang mengakatan pertanyaan seperti itu.
Rupanya, beberapa organisasi regional dan internasional lainnya telah memutuskan untuk bekerja sama dalam rencana bekerja sama mengelola Gerbang Sempurna baru yang terbuka di Indonesia. Bahkan meski Gerbang Sempurna sudah tidak ada di negeri tersebut, namun Penghubung yang akan menjadi titik terbukanya Gerbang dari dunia lain ke dunia ini, namun itu adalah target mereka. Ketika Indonesia sibuk bentrok dengan musuh dan masalah-masalah internal dan eksternal yang berpotensi membahayakan keamanan negara, beberapa negara sepakat membentuk aliansi untuk mendapatkan hak mengelola Gerbang dan Penghubung meski dengan cara yang tidak halus. Sehingga memaksa pemerintah melalui Kementerian Pertahanan untuk melakukan tindakan pengumpulan informasi untuk lebih memahami masa depan perang melawan Aliansi dan tujuan negara-negara kuat mengenai Gerbang dan Dunia Baru.
Sebagai tanggapan keinginan beberapa organisasi regional dan internasional tentang hak mengelola Gerbang, Tentara Republik Indonesia Pelajar telah ditetapkan sebagai badan keamanan yang berada di bawah komando TNI, dan memiliki kepala staf sendiri dan unit-unit spesial sejenis Kopassus atau Paskhas.
Sebagian prajurit Tentara Pelajar merupakan siswa SMA berusia 17 tahun dan mahasiswa dengan batas usia maksimal 29 tahun yang tidak melanjutkan pendidikan dan tidak memiliki pilihan selain mendaftar sebagai tentara, sehingga negara lain tidak dapat menuduh bahwa Indonesia menggunakan anak muda yang tidak dilatih secara militer sebagai pasukan pertahanan utama maupun cadangan. Sebagian dari mereka mungkin sebelumnya adalah pasukan sukarelawan ketika perang melawan bangsa dunia lain masih berlangsung, namun mereka tetap memiliki tujuan meski perang tidak berlangsung di dunia ini, khususnya Indonesia.
Saat ini, seperti yang sebagian pengamat militer dunia ketahui, ada ratusan prajurit TRIP yang lolos seleksi dan ditugaskan ke Dunia Baru. Negara kuat tidak dapat melarang keinginan mereka untuk menjaga Indonesia dengan berjuang melalui Dunia Baru. Sehingga, mungkin memperlihatkan pergerakan militer adalah langkah negara-negara maju untuk menekan Indonesia agar menghentikan pergerakan mereka di dunia lain, dan menyerahkan masalah Gerbang, Penghubung, dan Dunia Baru ke dunia internasional alih-alih menggunakan alasan untuk membalas dan meminta ganti rugi atas kerusakan yang disebabkan musuh ketika perang terhadap Indonesia dengan mengirimkan ribuan pasukan militer ke sana.
Pada saat TRIP dibangkitkan dari tidur panjangnya, negara-negara lain hanya menganggap mereka sebagai pasukan sukarela yang berisi remaja yang masih dalam fase labil. Indonesia adalah negara netral, namun tetap menerima dukungan dan bantuan dari negara kuat dengan tetap melakukan pertimbangan. Kakurangan prajurit bukanlah satu-satunya alasan perekrutan anak muda berusia 17 hingga 29 tahun untuk berperang, ada banyak alasan pendukung yang menyebabkan pemerintah dan rakyat menyetujui pembentukan kembali TRIP.
Secara luas, hampir seluruh negara di dunia ini yang ingin meminta ganti rugi atas musuh dari dunia lain. Itu sebabnya mereka mengecam tindakan Federasi Rusia dan Korea Utara atas pengiriman pasukan militer ke Dunia Baru di bawah kerja sama Pasukan Perdamaian versi mereka sendri. Sebagian negara memiliki rencana masing-masing untuk meminta ganti rugi ke musuh yang menyebabkan kerusakan hampir sama pada masa Perang Dunia 2, bahkan meski itu menggunakan cara yang tidak sehat.
__ADS_1
Setelah Penghubung diciptakan di Indonesia, beberapa negara meminta diplomat Arevelk dan Yekirnovo untuk juga membangun Penghubung di negara mereka. Tentu saja jawabannya sudah jelas, namun beberapa negara mengajukan beberapa ‘hadiah’ yang tampak sangat menggiurkan jika Yekirnovo dan Arevelk membangun Penghubung di negara mereka. Tetap saja, yang dikatakan para diplomat ‘dunia lain’ itu tetap sama, dan penolakan adalah hal yang mengesalkan.
Berita hampir setiap hari menginformasikan tentang pertengkaran politik. Dan ternyata yang paling banyak dipermasalahkan adalah desas-desus bahwa Rusia, Indonesia, dan Korea Utara melakukan uji coba senjata mereka di dunia lain. Setelah mengubur lebih dari 2.000 tentara mereka yang gugur di medan dunia lain, tuduhan seperti itu terus saja dilontarkan oleh beberapa negara.
Masyarakat Indonesia, khususnya yang pernah hidup satu masa dengan ‘Si Panglima Terpayah’ dan melihat hasil pekerjaan orang itu mulai berharap kemunculan ‘Si Panglima Terpayah 2’, karena ancaman negara-negara kuat sangat nyata, dan berpotensi mengganggu persekutuan yang dibangung Indonesia dan sekutunya dengan Yekirnovo dan Arevelk.
Jadi, orang-orang mulai bertanya-tanya: “Apakah ada sesuatu yang membuat orang itu dijuluki ‘Si Panglima Terpayah’?” lalu “Apakah orang itu benar-benar anak dari ‘Si Panglima Terpayah?”
Pandangan kebanyakan orang terlalu sederhana, sehingga mereka hanya melihat apa dari yang mereka lihat atau dengar saja. Dengan julukan semacam itu bukan berarti orang yang menyandangnya benar-benar payah dalam banyak hal. Itu adalah cara modern untuk menutupi pencapaian besar orang yang menyandang julukan tersebut, atau akan ada banyak kekacauan dan rumor yang ditimbulkan jika apa yang telah dilakukan orang itu tersebar secara luas, sehingga negara lain akan memanfaatkannya. Hal itu memang membuat TNI malu, kemudian bisa saja pihak keluarga akan menuntut orang yang telah membuat julukan seperti itu.
Sayangnya, Si Panglima Terpayah sudah mati sekitar sepuluh tahun lalu. Namun, tidak diketahui siapa keluarga dari orang itu, sehingga orang-orang akan membuat berbagai kesimpulan, dari yang masuk akal hingga kesimpulan gila yang melenceng jauh dari topik utama. Bagaimanapun, ada banyak situasi bagi beberapa pihak untuk merahasiakan hal besar, sehingga akan sangat berbahaya jika rahasia itu sampai terbongkar.
“Singkatnya, apa kamu pernah bertemu dengan Si Panglima Terpayah, Mbak Sonia?” tanya salah satu perwira aktif berpangkat Marsekal Pertama.
“Jujur, saya tidak bisa mengatakannya. Bisa saja ingatan saya salah, dan saya bisa saja tidak pernah bertemu dengan orang yang memiliki julukan itu. Dan dari apa yang saya lihat, ada banyak orang yang tidak mengenal orang itu.”
“Tidak, dia sangat terkenal. Masalah bergesernya patok perbatasan Indonesia dengan Malaysia dan tidak sengajanya kapal permukaan tak berawak Singapura lewat di perairan Kepulauan Riau dapat memicu konfilk besar, namun orang itu dapat mencegahnya tanpa waktu lama. Dan dari apa yang aku ingat, dia menggunakan cara sepele untuk menyelesaikan masalah itu sebelum Singapura dan Malaysia mendapatkan bantuan dari sekutu mereka di FPDA.”
Kemenangan militer membawa suatu negara ke dalam fase yang disebut ‘masa kejayaan’ alih-alih masa keemasan. Karena itu, ketika suatu negara tengah dilanda mabuk kemenangan, mereka hanya berpikir untuk mendapatkan lebih banyak kemenangan. Hubungan antara pemerintahan dengan militer adalah romantisme yang memiliki dampak buruk yang berupa potensi terlukanya salah satu pihak.
Itu sebabnya tidak ada prajurit yang suka disebut pragmatis. Tapi mereka beruntung tidak disebut dengan ‘pengecut’, atau mungkin beberapa prajurit lebih memilih disebut sebagai pengecut daripada pragmatis namun tidak dapat membuktikan bahwa mereka sebagai pihak yang benar dan memiliki pemikiran yang sempit dan praktis. Sehingga, Si Panglima Terpayah hanya melakukan apa yang menurutnya akan mencegah timbulnya kerugian minimal yang sangat diperlukan meski itu membuatnya mendapatkan julukan yang memalukan.
Tidak ada pihak yang menang pada masa itu, namun baik Indonesia, Malaysia, dan Singapura sama-sama mengklam bahwa mereka adalah si pemenang dari hasil akhir penyelesaian masalah tersebut.
**
Funfact#19: Karena novel ini belum mencapai konflik utama, bahkan belum menampilkan rahasia-rahasia yang lain, kemungkinan baru akan tamat setelah lebih dari 300 episode.
Funfact#20: Jika pembaca menyuruhku untuk menulis kurang dari 2.000 kata per bab, itu mungkin itu hal yang mustahil. Itu belum mencakup seluruh konflik di masing-masing bab.
__ADS_1
Dan aku sangat menikmati proses pembuatan satu persatu bab dari novel ini meski tidak mendapatkan banyak perhatian...!
Salam dari penulis dan penggemar militer abal-abal. Semoga hari kalian menyenangkan...