
Numpang promosi bentar:
Nah, silakan melanjutkan membaca. Terimakasih.
**
Setelah pertemuan yang berakhir dengan Kerajaan Hayvan menjadi anggota baru Persekutuan secara resmi.
Presiden Republik Indonesia, Surya Roso Asmoro – yang disingkat Suroso – melakukan pertemuan diplomatik pertama dengan Raja Lobo. Mereka berada di ruang pertemuan pada sebuah bangunan yang didirikan kontingen Indonesia di pinggiran Kota Iztok. Tidak banyak orang yang tinggal di wilayah ini, dengan alasan keterbatasan akses, meski Indonesia dan sekutunya dari dunia lain sama sekali tidak mempermasalahkan jauhnya perjalanan ke pusat kota dari pinggiran kota berkat gerobak baja dan capung besi milik mereka.
Tiga pengawal yang dibawa Lobo yakni seorang Beastman berkepala singa yang penuh semangat dan pengalaman, seorang prajurit pria Demihuman bertelinga kelinci, dan pelayan perempuan dengan sayap burung di punggungnya. Mereka yakin Suroso dan para ajudannya akan terpesona dengan apa yang orang-orang dunia lain sebut dengan ‘makhluk fantasi’.
“Maaf membuat Anda tidak sempat beristirahat, Yang Mulia Raja Indonesia.”
Saat mendengar Lobo menyebutkan nama Suroso dengan pangkat ‘raja’, Nio berbicara, “Tolong panggil beliau Presiden Suroso, Yang Mulia Lobo.”
“Apa yang kamu katakan, Nio?” Suroso tidak mengerti dengan arti perkataan Nio, dia belum belajar bahasa dunia ini lebih lanjut sehingga harus memerlukan kemampuan penerjemah dari Nio.
“Saya hanya memberitahu Raja Lobo bahwa Indonesia dipimpin oleh presiden, bukan raja. Selain itu, sepertinya beliau kesulitan mengucapkan nama orang dari dunia lain, Pak.”
“Jangan buat sekutu potensial kita merasa tidak nyaman, ya?”
Teguran lemah lembut Suroso membuat Nio hanya bisa mengangguk. Dia bisa mengerti mengapa rakyat bisa begitu mengagumi Suroso meski menjadi presiden muda, walau tak sedikit pihak yang beruaha membuat namanya menjadi kotor dan mengurangi elektibilitas pada pemilihan mendatang.
“Maaf, saya sepertinya belum terbiasa dengan suasana ini.”
Yang dimaksud Lobo adalah situasi di mana dia melakukan pertemuan kenegaraan pertama dengan pemimpin dari dunia lain. Harga diri yang dimiliki orang-orang dari sebuah bangsa di dunia yang secara kebetulan terhubung dengan dunia ini. Dia sebelumnya berpikir, “Jika Indonesia memiliki angkatan bersenjata sangat brutal, sepertinya pemimpin mereka tak jauh berbeda.”
Tapi, pandangan Lobo seketika runtuh setelah melihat jika pemimpin bangsa dunia lain bernama Indonesia adalah pria muda yang seharusnya menjadi kakak dari pengawal di belakangnya.
“Senang bertemu dengan Anda, Yang Mulia Lobo. Saya Nio Candranala. Saya siap bekerja sama dengan Anda.”
Ucapan perkenalan Nio mengandung kata-kata yang elegan, tanpa basa-basi yang rumit layaknya bangsawan militer kebanyakan yang setiap memperkenalkan diri harus mengatakan kelebihan diri atau hal-hal sepele lainnya yang membuang-buang waktu.
Lobo bisa mengerti mengapa ada dua ratu yang mengaguminya – selain prajurit berpakaian hijau itu merupakan seorang Pahlawan Harapan yang diramalkan. Dia memiliki tampilan prajurit remaja yang berpengalaman, tampak dari banyaknya luka dan sikapnya.
“Kalian!” Lobo tiba-tiba mengeluarkan bentakan, yang sepertinya tidak untuk memarahi ketiga pengawalnya.
“Baik. Saya Tsov, Jenderal pasukan darat Kerajaan Hayvan,” kata Beastman berkepala singa.
Menurut informasi, Kerajaan Hayvan sangat bergantung kepada angkatan daratnya jika terjadi pertempuran. Sedikitnya armada laut dan udara memaksa mereka memanfaatkan semua keuntungan, yakni mayoritas prajurit memiliki kemampuan dalam pertarungan jarak dekat yang senyap dan cepat. Pertempuran di hutan dan tempat terutup adalah keahlian mereka, dengan taktik utama menyerbu dengan gerakan cepat dan menutup pergerakan musuh dengan memutus jalur datangnya bantuan atau membunuh target penting milik musuh.
“Saya meminta ijin untuk memperkenalkan diri. senang bertemu dengan Anda. Saya Iuvar, komandan infanteri khusus Kerajaan Hayvan. Maaf jika kata-kata saya terdengar gugup. Ini semua karena seorang pelayan perempuan palsu yang saya temui beberapa saat lalu,” kata pria Demihuman bertelinga kelinci.
Mendengar perkataan Demihuman kelinci tersebut, tanpa sebab yang jelas Nio tampak memalingkan wajahnya seperti menghindari sesuatu. Dia sadar, ‘pelayan perempuan palsu’ yang Iuvar maksud adalah Ardi yang dia perintahkan menjadi banci untuk sementara demi misi pengawalan Presiden.
“Aku manusia ras bersayap, Mosca,” kata pelayan perempuan bersayap burung itu singkat.
Ternyata gadis bersayap itu memang hanya pelayan biasa, begitu pikir Nio dan Paspampres di sekitarnya.
__ADS_1
Dia memiliki tubuh ramping yang sempurna, mungkin demi menjaga mobilitasnya ketika terbang di langit. Meskipun mereka pernah melihat ras serupa di komik atau novel fantasi, namun para anggota Paspampres di sekitar Nio menggumamkan betapa cantiknya waja Mosca. Nio tidak menyangkalnya, gadis itu memiliki tampilan perempuan dunia fantasi yang diharapkan semua penganut agama aneh yang bernama ‘otaku’.
Namun gadis Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang yang saat ini sedang duduk di salah satu pojok ruang pertemuan tak bisa diabaikan, terutama kecantikannya yang membuat banyak pria iri terhadap Nio yang tidak terlalu sempurna untuk didekati banyak gadis cantik.
Kemudian, Lobo memulai percakapan:
“Saya ingin tahu apa yang ingin Indonesia lakukan terhadap Aliansi, Tuan Suroso.”
“Jika mereka ingin melakukan diskusi perdamaian, saya akan dengan senang hati menerimanya. Saya tidak memiliki niat untuk terus berperang dengan mereka, banyak prajurit muda kami yang rela meninggalkan kesenangan masa remaja demi bisa mengangkat senjata. Namun, angkatan bersenjata kami tidak bisa dilarang untuk tidak bertarung demi menjaga negara dan rakyatnya.”
“Sebelum perang, sepertinya negara Anda sangat damai. Namun, dunia penuh dengan ketidakstabilan. Ketika kita sedang berbicara di tempat aman ini, mungkin ada desa-desa yang dijarah dan dihancurkan oleh pasukan Aliansi, dan tidak ada yang tahu kapan kita bisa menghentikan mereka untuk selama-lamanya. Periode Perang Besar yang dijanjikan mungkin membuat Aliansi bertindak seperti itu. Aliansi aktif mencari celah untuk terus melawan dan berperang, dengan kedok bahwa Indonesia merupakan musuh dunia ini dan mengemban misi mulia berupa merebut Tanah Suci.”
“Bahkan dalam situasi seperti itu, pasukan Indonesia di dunia ini hanya bisa kami jadikan sebagai pasukan bela diri. Mempertahankan diri dan negara beserta rakyatnya dari ancaman Aliansi adalah tugas mereka, para prajurit petarung kami. Dalam keadaaan dunia yang semakin tidak stabil, hanya itu yang bisa saya berikan. Saya tidak ingin para prajurit bekerja keras tanpa henti seperti ternak, berkorban demi perang tanpa hasil. Banyak keluarga yang kehilangan kepala keluarga dan anak karena bertempur, kami tidak bisa membiarkan hal itu terjadi kembali meski perang semakin mengancam.”
Tanpa pikir panjang, Suroso membiarkan mulutnya membicarakan perasaannya. Sejak diberi tugas memimpin negara, Suroso telah mati-matian untuk menghindari kerugian besar karena perang, menyelamatkan negeri yang dia pimpin dari krisis.
Lobo tampak bingung dengan Suroso yang berbicara seolah-olah menyanyangi rakyat adalah perbuatan yang wajib dilakukan sebuah negara. Tetapi itu adalah hal yang wajar menurutnya setelah beberapa saat berpikir. Itu adalah hal yang membuatnya bertanya-tanya, tapi dia tidak memiliki pemikiran tentang menjaga harga diri warga negara.
“Itu, keputusan yang Anda ambil, kan?” tanya Lobo.
“Ya. Namun, itu keputusan para pendiri negara kami.”
Ajudan Suroso memandang Lobo dengan tatapan mengintimidasi, namun dia yakin ketiga pengawalnya melakukan hal yang sama. Jika dia kembali mengajukan pertanyaan bodoh lainnya, dia hanya akan menunjukkan sisi menyedihkan darinya.
“Tuan Suroso,” kata Lobo. “Aku tidak tahu apa tujuan sebenarnya Indonesia dari peristiwa ini. Pada akhirnya, tujuan utama pasukan Anda di sini adalah untuk melindungi negara dan rakyatnya, bukan?”
Setelah Lobo mengucapkan hal itu, sejumlah prajurit Demihuman melompat dari jendela, padahal ada beberapa tim dari Grup 1 yang menjaga sekitar tempat pertemuan ini. Apakah Kerajaan Hayvan merencakan sesuatu dari pertemuan ini, karena tampak seorang prajurit Demihuman menenteng sebuah karung di pundaknya.
(olog note: Paspampres memiliki empat Grup. Salah satunya Grup 1 yang berfungsi mengawal Presiden dan keluarganya. Masing-masing Grup memiliki sekitar 4 detasemen)
“Saya tidak yakin Anda akan mengampuni Aliansi setelah melihat ini,” ucap Lobo dengan nada gelisah, takut jika para pengawal Suroso akan menyerang pengawal-pengawalnya.
Seorang prajurir Kerajaan Hayvan membuka karung yang tampak berisi sesuatu yang berat. Sejumlah anggota Paspampres di dalam ruang pertemuan menyiapkan senjata masing-masing yang disembunyikan di balik jas hitam. Seorang anggota Paspampres menghubungi tim-tim di luar ruang pertemuan untuk memperketat penjagaan, bahkan tidak mengijinkan pihak Arevelk untuk ikut campur.
Nio terkejut tanpa kata saat melihat isi di dalam karung. Namun, seluruh anggota Paspampres di ruang pertemuan langsung mengarahkan pistol dan pistol mitraliur masing-masing ke seluruh perwakilan Kerajaan Hayvan setelah mengetahui bahwa di dalam karung merupakan orang.
“Tahan!” Nio meminta semua Paspampres tidak menembak siapapun di ruangan ini.
Orang di dalam karung masih bernapas, menandakan dia masih bernyawa. Ketika melihat pria berusia sekitar 25 tahun-an tersebut memiliki ciri-ciri orang Indonesia pada umumnya, Nio mencoba menyadarkannya.
“Kamu masih hidup?”
Dia menepuk pipi pria tersebut, lalu pria berambut hitam itu mengangkat kepalanya dengan wajah agak terkejut. Tak lama kemudian, Mosca berjalan mendekati pria yang sudah dikeluarkan dari dalam karung, lalu mengusap kepalanya seperti sedang melakukan sesuatu padanya. Hal itu membuat Nio dan semua anggota Grup 1 Paspampres di dalam ruang pertemuan bersiaga.
“Saya dari TNI. Apa Anda orang Indonesia?”
Ketika pria itu mendengar kata-kata Nio – yang tidak bisa menyebutkan dirinya berasal dari Korps TRIP karena tidak terlalu terkenal – pria tersebut langsung berdiri dan memeluk Nio. Dia pasti sangat menderita, begitulah pikir Nio, dan pikiran itu memenuhi dirinya dengan kekuatan. Dia menenangkan pria yang mengatakan banyak kata “Terimakasih, terimakasih Tuhan!” dan “Apa kamu datang untuk menyelamatkan aku?”, kemudian berjalan mendekati Lobo dengan karambit siap di tangan kirinya.
Sebenarnya Nio dan semua orang kontingen Indonesia di dunia tidak mendapatkan perintah penyelamatan warga negara yang diculik musuh ketika perang masih terjadi di dunia asal. Namun, begitu dia tahu ada warga Indonesia yang menderita di sini – untuk kesekian kalinya – Nio yakin pasukan akan segera bertindak. Nio dan seluruh Paspampres di ruangan ini memiliki satu pemikiran yang sama, yakni bersiap untuk bertempur. Jika ada seseorang yang mencoba menghalangi Nio mendekati Lobo, mereka yakin akan melihat sesuatu yang tidak diharapkan.
Sehingga, Nio berjalan mendekati Lobo tanpa hambatan, dan membiarkan Detasamen Kesehatan Grup 1 merawat pria Indonesia.
__ADS_1
“Saya tidak tahu kenapa Anda bisa mendapatkan seorang warga negara kami. Saya harap Anda menceritakan semuanya, dengan detail,” Nio sengaja menekan bagian akhir perkataannya.
Di sisi lain, Suroso menghela napas ketika melihat para pengawalnya bersikap berlebihan hingga menakut-nakuti prajurit Kerajaan Hayvan di dalam ruang pertemuan. Tetapi, ketika dua melihat bahwa warganya telah diculik dan menderita di dunia ini, dia tidak bisa menghentikan mereka. dia tersenyum pahit saat Nio tiba-tiba bertindak tanpa perintahnya, dan kemudian mengajukan pertanyaan yang terdengar sopan, namun dipenuhi ancaman.
“Apa ini rencana Anda sehingga membuat saya berbicara tentang ‘rakyat’?”
“Tidak. Tujuan saya adalah memberitahu Anda bahwa kami menemukan orang yang berbicara menggunakan bahasa aneh yang ternyata digunakan oleh Anda ketika berbicara dengan para pengawal Anda.”
“Menemukan?” tanya Suroso dengan penuh tanda tanya.
Meski begitu, Suroso tidak ingin kepercayaan yang baru saja dia bangun terhadap Kerajaan Hayvan runtuh hanya karena satu orang. Kedua pemimpin tersebut seharusnya bisa memisahkan perasaan pribadi dengan kepentingan bangsa.
“Ya. Prajurit penjaga perbatasan kami menemukan seorang pria, sepertinya dia kabur dari arah Kekaisaran Duiwel. Namun ketika para prajurit kami mengajukan pertanyaan, pria itu berbicara menggunakan bahasa aneh. Dia selalu berbicara “Indonesia, rumahku da di Indonesia” menggunakan bahasa negara Anda, begitu.”
“Jadi dia berusaha kabur dari Kekaisaran Duiwel, salah satu negara anggota Aliansi, hingga akhirnya tanpa sengaja memasuki wilayah Kerajaan Hayvan?”
“Benar.”
Ketiga pengawal utama Lobo berdiri membeku, di hadapan mereka adalah sekumpulan prajurit yang tampak sangat kuat mengawal seorang warga biasa.
Di sisi lain, Lobo telah mengatakan semua hal dengan jujur. Dia sepenuhnya sadar bahwa melawan Indonesia hanya akan membuat Kerajaan Hayvan menghilang dari peta, dan mengubur dalam-dalam keinginannya berjuang bersama Persekutuan untuk melawan penindas bernama Aliansi.
“Mungkin tidak hanya ada satu korban penculikan yang disebabkan Aliansi. Tapi, mengapa Anda tidak merelakan sebagian warga demi mencegah konflik yang tidak diperlukan?”
Pertanyaan prajurit Beastman berkepala singa, alias Tsov membuat Nio memelototinya.
“Kau pikir terlalu menyanyangi rakyat adalah kelemahan yang menyedihkan?!” Nio bertanya dengan nada keras, disertai ekspresi marah yang mengerikan hingga membuat Tsov, Iuvar, dan Mosca gentar.
“Negaramu, Indonesia, mungkin terlalu mencintai rakyatnya. Kepercayaan yang begitu tinggi terhadap satu atau dua orang yang berpotensi berkhianat adalah hal yang buruk, dan menyebabkan kerugian besar. Jika diibaratkan, rakyat adalah mata pedang yang tajam, sementara pemerintah dan militer hanya gagang pedang yang lemah. Yang perlu dilakukan untuk menghancurkan suatu kekuatan hanya dengan mematahkan mata pedang yang tajam tersebut. Bahkan, pasukan yang tak terkalahkan tidak bisa melarikan diri tanpa cedera ketika mata pedang hancur, meski mereka telah berlari hingga kelelahan demi hidup tercinta. Setelah kekuatan suatu negara habis, tidak peduli seberapa kuat mereka, kekuatan itu akan dihancurkan oleh orang-orang yang berhasil mematahkan mata pedang. Itu adalah fakta tak tergoyahkan sejak masa lalu.”
Suroso kemudian menjawab ketika Lobo dan orang-orangnya diancam oleh tatapan Nio dan Paspampres-nya, “Memang, negara kami memang memiliki kelemahan mengerikan itu. TNI dilatih untuk membela negara kami dari segala bentuk ancaman. Apa perlu saya perlihatkan kemampuan mereka?”
“Apa Anda berniat berjuang hingga akhir,” Lobo bertanya kepada Nio.
“Tentu saja, karena saya adalah bagian dari alat negara yang disebut ‘prajurit’. Negaraku berhasil bertahan dari sejarah penuh pertumpahan darah, kepemimpinan yang buruk dan tidak adil, masa-masa damai yang tenteram, hingga masa perang yang kembali datang seperti sekarang. Sayap harap, peran TNI pada perang ini tidak melenyapkan satu atau dua negara di dunia ini. Perjanjian perdamaian bukanlah alasan untuk berhenti berperang, itu hanyalah awal untuk perang baru.”
Nio menjawab, karena dia menyadari bahwa Lobo ingin tahu kekuatan sebenarnya dari tanah airnya.
“Tidak ada yang bisa melawan Indonesia”, begitulah pikir Lobo tentang salah satu anggota Persekutuan tersebut.
Meskipun Indonesia tidak pernah ingin berperang, namun keadaan memaksa TNI melakukan tugasnya. Jika Indonesia ingin melakukannya, TNI telah bergerak sejak awal ke seluruh dunia ini untuk menghancurkan musuh Indonesia satu persatu, menyebarkan permusuhan yang jauh lebih besar dari sekedar berperang melawan Aliansi. dan jika hal itu terjadi, Periode Perang Besar datang lebih awal, dengan medan perang adalah dunia ini dengan musuh utama Indonesia dan semua sekutunya.
“Jika kamu bisa berkata seperti itu, bukankah kamu menolak pembicaraan damai jika Aliansi menginginkannya?”
“Memang. Jadi, mohon mempersiapkan diri untuk konsekuensi yang mengerikan jika Kerajaan Hayvan mengkhianati Persekutuan,” jawab Nio dengan tatapan penuh rasa haus darah.
“Baiklah, aku mempercayai Indonesia sebagai sekutu kami, dan semua anggota Persekutuan. Wajar untukmu berusaha mengancam kami. Apakah kau pikir Kerajaan Hayvan berani melakukan perbuatan menjijikan itu?”
Nio menjawab, “Saya harap Anda telah mengetahui jawabannya.”
Semua orang kemudian diam.
__ADS_1
Nio memaksa otaknya menebak isi pikiran Suroso tentang tindakan selanjutnya bagi TNI di dunia ini. Nio mulai khawatir jika dia tidak akan mendapatkan jatah liburan lagi karena perintah Presiden-nya setelah tahu terdapat begitu banyak warga Indonesia yang diculik musuh.
Intinya, Nio khawatir dengan isi kepala Suroso yang sulit ditebak.