Prajurit SMA

Prajurit SMA
Beristirahat dengan tenang


__ADS_3

Setiap ruangan di markas besar Aliansi gelap, dan hanya diterangi beberapa lilin yang tidak memberikan penerangan yang memadai. Tetapi, hampir semua petinggi Aliansi mendatangi tempat ini untuk menghadiri upacara Pergantian Tahun, meski mereka pastinya akan membicarakan sesuatu nantinya.


“Mengenai kekalahan 5.000 pasukan di benteng dekat perbatasan, menurutku itu kekalahan yang memalukan…”


Siluet gelap yang duduk di ruangan remang-remang sangat cocok dengan pencahayaan yang minim. Seorang pria – seorang mantan prajurit ‘dunia lain’ yang membawa Senapan Serbu 20 generasi pertama di punggungnya – dan mengenakan seragam loreng yang dia ‘modifikasi’ sendiri sehingga tidak menyerupai seragam kamuflase hutan TNI. Pada bagian kiri dada pakaiannya dihiasi beberapa penghargaaan… meski dia sempat kabur dari medan perang.


Berkat pengetahuan dan kemampuan yang didapatkan ketika kesembilan orang ‘dunia lain’ menjadi pahlawan, beberapa perwira yang selamat meski kehilangan lengan atau kaki mendapatkan kaki dan tangan palsu yang diciptakan ‘Pahlawan Nafsu’. Pahlawan itu dapat menciptakan sesuatu meski masih berupa rancangan, hingga akhirnya dia memanfaatkan kemampuan pahlawannya untuk membantu perwira yang terluka. Tetapi, dia masih belum dapat menciptakan sesuatu yang sangat rumit, seperti ‘ mata bionik’ karena tidak ada satupun pahlawan yang pernah melihat teknologi tersebut secara langsung sebelumnya.


Dia sekarang menjadi komandan Batalyon ke-2 Aliansi untuk memerangi Indonesia dan sekutunya, si Pahlawan Amarah yang dikenal dengan nama ‘Rio’.


Pahlawan dan perwira Aliansi lainnya mengenakan seragam rancangan Rio – yang dia ambil dari refrensi PDU TNI. Dia melemparkan proyektil peluru 7,62mm dari senapan serbunya yang telah membunuh beberapa prajurit Indonesia pada perang sebelumnya.


“Ta-tapi, Pahlawan Amarah. Tim kecil musuh dikatakan mampu memukul mundur 400 prajurit pada serangan pertama. Lalu, pasukan bantuan musuh yang menjaga perbatasan hampir menghancurkan 5.000 pasukan kita. Prajurit yang selamat juga memberi kami informasi, mereka dipimpin oleh seseorang yang dijuluki ‘Mayat Hidup’,”


“ Si brengsek itu, dia telah mengumpulkan terlalu banyak pengalaman. Bukankah aku benar, Pahlawan Amarah?” Pahlawan Kesepian yang berasal dari Federasi Rusia, pria yang bernama Feliks berkata dengan muram bersama petinggi Aliansi lainnya yang berada di ruangan ini.


Meski kesembilan pahlawan sempat kabur dari medan perang setelah pasukan Indonesia mendapatkan bantuan yang tak terduga, tetapi mereka tetap mendapatkan lencana yang berkilau. Mereka adalah sosok yang sangat diperlukan kekuatannya atas perang dengan Indonesia dan sekutunya. Para pahlawan dan petinggi Aliansi ini melanjutkan pertemuan rahasia mereka, seolah berusaha bersembunyi dari ramainya orang-orang yang merayakan Pergantian Tahun.


“Sudah kubilang aku bukan lagi bagian dari mereka, dan orang itu sekarang telah tertulis dalam daftar orang yang paling ingin ku habisi. Mengenai kekalahan belum lama ini, kita harus segera melakukan tindakan balasan.”


Pahlawan Kesedihan, alias Indah tidak bisa meminta Rio berhenti untuk berkata seakan-akan Nio dan Indonesia telah menjadi musuhnya setelah dia mendapatkan kekuatan luar biasa dari menjadi Pahlawan Amarah. Tetapi, dia juga tidak dapat menentang apa yang diminta Aliansi, bahkan jika itu akan menghancurkan dunia tempat Indonesia berada.


“Namun, syukurlah musuh tidak mencoba membalas serangan untuk saat ini,” Pahlawan Kecemasan, sekaligus mantan prajurit Israel yang bernama Gurion menyambung pembicaraan.


“Rupanya mereka mengatur ulang pasukan mereka, bahkan melibatkan Rusia dan Korea Utara.”


“Bahkan pasukan sekuat TNI harus memerlukan bantuan Korea Utara dan Rusia hanya setelah kehilangan sedikit prajurit mereka di perang sebelumnya.”


“Tapi, ini bisa kita manfaatkan untuk menyusun kekuatan untuk melakukan serangan balasan.”


Serangan pertama yang menyasar pasukan kecil Persekutuan di perbatasan menurut mereka harus dibalas. Sebuah pasukan pembalas yang terdiri dari pasukan sebanyak 70.000 prajurit dan senjata baru mereka tengah disiapkan. Dalam serangan pertama di perbatasan, mereka telah mendapatkan beberapa informasi, termasuk bersekutunya Indonesia dengan Korea Utara dan Rusia selain mereka diperkuat dengan senjata baru.


“Si Mayat Hidup dari Indonesia-“ sebelum Baron menyelesaikan perkataannya, Rio hampir menyemburkan anggur setelah mendengar perkataan orang itu.


“Jangan-jangan…”


“Yah, pastinya orang itu bukan Nio, dia sudah terluka parah setelah serangan Indah waktu itu.”


Wajah Indah terlihat berubah menjadi getir setelah mendengar Baron mengatakan itu dengan wajah yang sangat yakin. Namun, dia yakin jika Nio tidak akan mati dengan mudah karena serangan yang menembus bahu pemuda itu.


“Apa kalian yakin bisa mengalahkan orang itu? Bisa saja kalian akan kabur lagi setelah bertemu orang yang bernama ‘Mayat Hidup’ tersebut.”


Seluruh pahlawan nampak tidak kesal atau semacamnya setelah mendengar perkataan Kaisar Otsoa dari Kekaisaran Duiwel, wajah mereka terlihat biasa saja hingga kaisar tersebut meminum seteguk anggur untuk menyingkirkan rasa malunya.


“Apa kalian pikir pahlawan masih tidak punya tempat, meski kami pernah mencoba menyelamatkan diri dari medan perang?”


“Tapi, kemenangan dalam pertempuran tidak harus berada di pundak pahlawan.”


Lalu, terlihat seluruh pahlawan saling pandang dan Baron serta Rio yang hanya tersenyum sinis terhadap perkataan Otsoa.


“Jangan khawatir…”


Pahlawan Nafsu, Baron, mengeluarkan sesuatu yang masih dibungkus dengan lilitan kain berwarna hitam dari belakang tempat duduknya. Kemudian dia meletakkan benda yang belum diketahui bentuk aslinya tersebut di atas meja setelah Rio menyingkirkan gelas-gelas anggur.


“… Aku sudah melakukan sesuatu dengan kekuatan yang bisa menciptakan sesuatu ini. Aku yakin, benda ini bisa memperkuat Aliansi di perang selanjutnya.”


Hanya melihat dari bentuknya, seluruh pahlawan pria terlihat dapat mengenalinya dengan mudah meski kain yang membungkus belum dibuka. Sementara itu, petinggi Aliansi yang merasa jika para pahlawan yang mereka panggil hanyalah sekelompok orang yang kabur ketika perang dengan senyum mengejek. Namun, Rio mengeluarkan aura prajurit yang dingin dan diasah dengan baik.


“Berkat pengetahuan Pahlawan Amarah, aku dapat menciptakan senjata tua ini.”


Baron menunjukkan ekspresi percaya diri yang berlebihan, namun hal itu justru membuat petinggi Aliansi semakin penasaran dengan ‘senjata tua’ yang diciptakan Baron berkat pengetahuan prajurit Rio. Bogat yang merasa yakin jika senjata ini mampu menandingi ‘tongkat meriam’ milik Yekirnovo dan senapan milik pasukan Indonesia melangkah maju, dan membuka kain yang membungkus benda yang disebut senjata tersebut.


Teknologi yang mampu menandingi kekuatan senjata musuh sangat diperlukan, dan setiap hari ilmuan dan ahli senjata dari negara-negara anggota Aliansi terus bereksperimen untuk menciptakan senjata yang bisa mengalahkan musuh dengan cepat. Ambisi Aliansi untuk mengalahkan pasukan Indonesia dan sekutunya, lalu memulai perang yang berskala lebih besar agar dunia tahu jika Aliansi adalah yang terkuat adalah hasil dari kepercayaan diri mereka dari kekuatan dewa yang dimiliki pahlawan dan ketekunan dari rakyatnya.


Sebelum berdirinya Aliansi, masing-masing negara akan melakukan apa saja demi mendapatkan pengrajin senjata terbaik. Namun, setelah Aliansi terlahir mereka tidak perlu melakukan semacam ‘penculikan’ untuk mendapatkan ahli dan pengrajin senjata, dan mereka dapat bekerja sama untuk mengembangkan atau menciptakan senjata untuk membesarkan nama Aliansi di dunia ini.


Setelah membuka kain yang menutup senjata tua ini, seluruh orang di tempat ini segera melupakan bahwa para pahlawan hanya bisa kabur dari medan perang dan menatap senjata itu dengan wajah kebingungan dan kagum. Sementara itu, Bogat memegang senjata ciptaan Pahlawan Nafsu tersebut dengan ambisi mengalahkan dan menguasai Indonesia yang semakin tinggi.


Dalam hampir empat tahun perang dengan Indonesia berkecamuk, Kekaisaran Luan dan negara lain merasa pedang dan zirah logam adalah senjata yang harus ditingkatkan, dan membuat senjata baru adalah hal yang membuang-buang anggaran yang semakin menipis. Mereka mungkin sempat membenci aksi para pahlawan yang kabur dari medan perang, namun keberadaan senjata ciptaan mereka adalah hal yang membuat mereka merasa tidak bisa berbuat apa-apa tanpa para pahlawan.


Itu mungkin senjata yang mungkin bisa menandingi tongkat baja hitam panjang milik pasukan ‘dunia lain’ – namun terlihat jauh berbeda dengan senjata milik Pahlawan Amarah atau pasukan musuh – dan nampak lebih lemah. Namun, mereka hanya bisa memikirkan bagaimana caranya mengalahkan musuh yang kuat, dan akan menerima senjata ini dengan senang hati selama itu dapat mengimbangi kemampuan bertarung jarak jauh musuh.


“Militer Indonesia menyebut senjata ini dengan ‘SP-1’.”


Begitulah Baron dan Rio memperkenalkan ‘senjata baru’ hasil kerjasama kemampuan mereka. Rio menggunakan pengetahuan senjata ketika masih menjadi calon prajurit Tentara Pelajar, termasuk dengan ‘tak sengaja’ mendapatkan ilmu tentang senjata produksi perusahaan dalam negeri dari yang pertama hingga Senapan Serbu 20 miliknya. Lalu, kekuatan pahlawan yang dimiliki Baron memungkinkan baginya untuk membuat atau menciptakan sesuatu hanya dengan melihat rancangan atau bentuk komponen dari benda yang ingin dia ciptakan.


Mengapa seluruh orang menghabiskan waktu berharga ini dengan merencanakan perang selanjutnya?


**


“Sekarang giliranku…!”


Saat para gadis berlari di tempat pemandian dengan anggota tubuh muda yang indah, kaki telanjang mereka menginjak lantai yang terbuat dari material semacam marmer. Cahaya yang masuk memantulkan kulit kecoklatan dan putih mereka yang menjadi ciri khas gadis yang tinggal di negara tropis dan negara yang memiliki empat musim seperti Rusia dan Korea Utara.


“… Awaaaaaaaaaaaaas!”

__ADS_1


Gita menaikkan suaranya ketika bersorak semangat yang sangat berbeda dari biasanya saat dia terjun ke dalam kolam. Cipratan air hangat menyebar ke mana-mana dan sangat sulit untuk menghindarinya. Sulit untuk melihat dasar kolam yang terbuat dari batu melalui air yang beruap, tetapi kolam ini cukup dalam untuk diselami tanpa masalah.


Seakan-akan tidak lagi memiliki perasaan duka – setelah gugurnya ayahnya di perang sebelumnya, Gita dengan ekspresi senang menenggelamkan dirinya hingga hanya kepalanya yang berada di atas air. Kemudian, dia merentangkan anggota tubuhnya dan menikmati tubuhnya terapung dengan santai.


“Ini… sangat nyaman~”


Ro Ga Eun yang kebetulan terkena cipratan air yang dihasilkan Gita ketika melompat ke dalam kolam, mengerutkan alisnya dengan wajah gadis Asia Timur yang manis.


“Gita! Dewasalah sedikit di negara tuan rumah! Jika ada kapten mungkin dia akan berbicara seperti itu.”


“Tapi, Ae Ri, bukankah menakjubkan bisa mandi di pemandian dunia lain?”


Ya, mereka sedang mandi, tetapi kata ‘mandi’ bukanlah kata yang akurat untuk mereka yang sedang berenang di pemandian besar dan mewah ini. Tempat ini merupakan bagian penginapan yang dihuni tamu undangan yang menghadiri upacara Pergantian Tahun. Saking besarnya tempat ini, bisa saja kolam renang olimpiade bisa dimasukkan ke dalamnya. Lantainya nampak sudah kuno, namun tidak menghilangkan kesan mewahnya. Balok-balok batu disusun dengan cermat, dan menciptakan pola geometris di lantai.


Pemandian itu digali dengan bentuk persegi panjang dan dapat berfungsi sekaligus sebagai kolam renang (bagi pengunjung yang kurang kerjaan, seperti para gadis Tim Ke-12).


Kemudian berdiri di tengah pemandian, seolah-olah membagi tempat ini menjadi dua adalah sederet patung batu berukuran besar, dengan patung raja pertama Arevelk diletakkan di bagian tengah. Di sekelilingnya ada patung bidadari, dan kolam ditaburi kelopak bunga yang menambah aroma menenangkan pada uapnya.


Dan yang terpenting, di luar pemandian ini adalah pegunungan yang menakjubkan dan megah. Puncak pegunungan ditutupi dengan salju dan bagian kaki yang ditutupi kabut.


Jendela kaca adalah ‘teknologi terbaru’ pemandian ini, sehingga pemandangan luar bisa terlihat dari pemandian ini. Meskipun fasilitas pemandian ini berinterior desain jaman kuno yang elegan dan mewah, sedikit demi sedikit Kerajaan Arevelk mengimpor ‘kaca’ dan teknologi bangunan yang canggih dari Indonesia.


Kemakmuran Kerajaan Arevelk tidak berubah sejak berdirinya, yang terbukti dengan adanya pemandian megah dan mewah ini.


“Ini bukan bak mandi, tapi kolam renang dengan pemanas di bawahnya.”


Ika berbicara saat dia berenang di air dengan gerakan kaki panjangnya yang anggun.


“Ya, rasanya memang menyenangkan, ini suhu yang pas untuk berendam dalam waktu lama.”


“Katanya, di masa lalu, pemandian ini hanya boleh digunakan oleh raja dan keluarganya.”


Nam Ae Ri berbicara sambil membasuh wajahnya dengan air hangat di tangannya. Dia menatap kosong dengan mata sipit khas Asia Timur pada patung-patung di pemandian.


“Mungkin orang satu kompi bisa masuk ke kolam ini sekaligus.”


Ratna berbicara sambil menyandarkan punggungnya ke tepi kolam yang terukir dengan bentuk seperti bunga mawar – yang berfungsi agar pengunjung tidak terpeleset. Mata hitamnya mengamati sekitar, memperhatikan gadis-gadis perwakilan Rusia dan Korea Utara lain yang sedang mandi atau bermain air di pemandian.


Para gadis yang menjadi tamu undangan yang mewakili kontingen Indonesia, Rusia, dan Korea Utara terdiri dari 25 orang, termasuk anggota perempuan Tim Ke-12 yang berjumlah enam orang. Dan mereka adalah gadis-gadis yang sangat beruntung bisa menikmati pemandian dunia lain seindah ini.


“Zefanyaaaa…! Jangan hanya duduk di sana! Masuklah!”


Zefanya tersentak dan terlihat sangat terkejut saat mendengar namanya dipanggil Ika. Dia segera bersembunyi di balik salah satu patung, sambil membenarkan kembali perban yang melilit sebagian tubuhnya.


“Ta-tapi…”


“Mu-mungkin kalian bisa bersenang-senang tanpa aku. Aku tidak terbiasa mandi bersama dengan terbuka seperti ini.”


Sejak menempuh pendidikan Angkatan Bersenjata Rusia dan berperang dengan pasukan dunia lain, Zefanya hampir tidak pernah mandi bersama prajurit perempuan pada unit yang sama dengannya karena suatu alasan. Dia merasa orang-orang tidak akan nyaman dengan tubuhnya yang sebagian tertutupi perban, sehingga dia memilih mandi di bilik yang terpisah. Bahkan ketika melaksanakan tugas menjaga perbatasan bersama tim barunya, Zefanya selalu mandi paling akhir agar tidak bersama anggota perempuan lainnya.


Zefanya belum pernah menunjukkan dirinya dengan tubuh terbuka seperti ini – dan tentu saja tidak terbuka hingga seluruh bagian tubuhnya terlihat. Dalam kegugupannya, Zefanya mencoba keluar dari pemandian daripada perban yang melilit sebagian tubuhnya lepas tanpa dia ketahui, dan akan memperlihatkan hal yang tidak diharapkan… dan mungkin akan membuat anggota yang telah dia anggap teman menjauhinya. Ika sangat ingin menghentikan langkah Zefanya yang telah membuka pintu keluar pemandian.


Kemudian, seluruh anggota perempuan Tim Ke-12 bergerak cepat agar dapat mencegah Zefanya keluar dari area pemandian.


“Kenapa dirimu, Zefanya? Aku tidak akan memaafkan mu jika kau menyembunyikan rahasia kecil pada kami.”


Ucapan Gita justru terdengar seperti ancaman bagi Zefanya. Lalu, tatapan gadis tertinggi di Tim Ke-12, Ika, hampir sama dengan tatapan orang-orang yang pernah melihat kondisi tubuhnya dulu.


“Apa karena perban yang melilit tubuhmu yang membuatmu merasa kami akan terganggu dengan itu?”


Zefanya mencoba menyangkal perkataan Ratna dengan gugup, “Ti-tidak-“


“Ayolah, Zefanya. Kita sekarang adalah keluarga. Kami tidak akan masalah dengan semua kondisimu, seburuk apapun itu.”


Zefanya tidak berhasil untuk membuatnya terus menyembunyikan rahasianya, bahkan dia merasa sangat kagum dengan anggota tim asal Indonesia yang berkulit lebih coklat darinya dapat dengan percaya diri berendam bersama meski mereka memiliki satu atau dia bekas luka di tubuhnya. Tapi, luka pada tubuhnya adalah hal yang mengerikan, bahkan bagi dirinya sendiri – dan itulah yang menyebabkan dia menjauh dan menyendiri ketika masih berjuang di unit asalnya.


Jadi, pikir Zefanya kepercayaan diri bukanlah hal yang utama untuknya memperlihatkan kondisi tubuhnya pada teman-temannya sekarang. Dia hanya khawatir apa yang dilakukan anggota perempuan Tim Ke-12 setelah dirinya memperlihatkan kondisi tubuhnya akan sama dengan yang dilakukan rekan-rekannya dulu. Sehingga dia memilih untuk tidak ikut berendam bersama, dan menutup tubuhnya dengan handuk sambil mengencangkan lilitan perban di tubuhnya.


“Aaaah!”


Itu jeritan kecil dari Zefanya yang terkejut setelah tangan Ika memeluk tubuhnya, diikuti seluruh anggota tim perempuan.


**


“…. Kalian tahu, teman-teman…”


Mendengar suara gadis di pemandian sebelah yang dibatasi tembok setebal 20 centimeter dan setinggi tiga meter, Arif menggerutu sambil menghela napas. Pikirannya hanya tertuju pada suara gadis dan percikan air di pemandian sebelah, tapi dia memaksa dirinya untuk tidak berbuat nekat… seperti mengintip.


“… Ini serius, aku sudah pada batasnya. Tidak bisakah mereka tidak mengeluarkan jeritan atau kata-kata yang terdengar menggoda?”


“Bukannya mereka bisa begitu karena tidak melihat kita?” Hassan bergumam dengan letih sambil menatap langit-langit, dan jawabannya hanya membuat Arif semakin menggerutu.


Seluruh tubuh Ferdi dan Hendra telah merah padam meski baru beberapa menit yang lalu berendam, dan Yogi, Herman, dan Kaikoa sama-sama menutup mata dengan tangan mereka untuk bertahan di pemandian yang bersuhu sedikit lebih tinggi dari milik para perempuan. Yandi, Ardi, dan Sigit menyanyikan lagu berbaris Tentara Pelajar untuk mereka sendiri dengan suara gemetar, dan dengan putus asa menenggelamkan suara-suara gadis itu.


Keberadaan para laki-laki mungkin disadari para perempuan. Lalu dinding pembatas bisa dengan mudah dilompati para laki-laki yang sudah mencapai batasnya… itu pun jika ada laki-laki yang memiliki keberanian yang cukup untuk mengintip para perempuan.

__ADS_1


Kebetulan, penginapan yang mereka gunakan menawarkan pemandian campuran dengan pakaian da*am. Dengan demikian, para perempuan menguasai sisi kanan pemandian, tetapi laki-laki dipaksa menempati sisi kiri… karena ketakutan.


Perwakilan kontingen Indonesia, Korea Utara, dan Rusia yang menjadi tamu undangan lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Tetapi, dengan pemandian yang cukup besar untuk menampung sebuah pesawat pengebom, entah mengapa para laki-laki merasa tempat mereka lebih sempit dari wilayah yang digunakan para perempuan. Suasana di wilayah laki-laki sangat canggung, dan semua anggota laki-laki Tim Ke-12 memasang ekspresi rumit.


Mengesampingkan Bima, yang memiliki emosi tak terkendali sewaktu-waktu, bahkan Nio yang memiliki reaksi cepat jika ada kesempatan, dan Agus, serta Bayu yang sama sekali tidak bisa membaca situasi, mereka semua benar-benar diam.


Suasananya seperti tak tertahankan.


“Ingat kawan, kita saat ini sedang bertugas,” ucap Bayu.


“Maafkan aku, mungkin sebaiknya tadi aku menyusun jadwal mandi tim kita.”


Tetapi, mengganti jam mandi dengan gadis-gadis itu bukanlah solusi yang tepat. Nio merasa bahwa mendiskusikannya dengan para perempuan, hanya akan mengakibatkan perdebatan yang tak diinginkan.


Saat itulah ‘tunangan’ Kambana dan kekasih Ivy, Jonathan dan Liben memandang Nio dengan senyum nakal layaknya cabe-cabean.


“Kau masih hidup Nio? Kukira kau sudah matang di sini. Katakan, apa yang ada dipikiranmu, kawan?”


“Diamlah.”


Mata Jonathan dan Liben tertuju pada Nio, yang tetap diam tanpa melihat ke arah mereka berdua. Ruang ganti di pemandian ini semuanya berupa bilik. Dan karena ini pemandian yang hampir berjenis campuran, pintu keluar dari ruang ganti mengarah langsung ke pemandian. Karena itu, hanya da satu jalan keluar. Dan jika tidak pada waktu yang tepat, bisa saja para laki-laki dan perempuan akan bertemu secara tak sengaja… dan itu merupakan suatu bencana.


“Sial, ternyata semuanya memakai pakaian renang.”


“Siapa yang peduli?”


“Apakah punya ratu Sigiz benar-benar sangat besar?”


Dalam waktu kurang dari sedetik, mata tajam Nio menjadi begitu intens dan menatap tajam Arif dan Yogi. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Nio mencengkram kepala keduanya yang gagal menghindari genggamannya, dan dia dengan paksa mencelupkannya ke dalam air. Mata Nio menurut anggotanya memang tergolong tajam dari orang-orang Indonesia pada umumnya.


Gadis-gadis di sebelah tiba-tiba mendengar suara minta tolong dari wilayah laki-laki, tempat Nio dan lainnya berada.


“Letnan! Maafkan aku, aku tahu aku salah, tapi berhentilah menenggelamkan kepala kami!”


“Oh, tanganku tergelincir.


”Setidaknya gunakan alasan yang masuk akal dan dipercaya! Aku hampir mati tahu!”


Liben dan Jonathan kemudian berkata:


“Hei, kalian lebih baik jangan mencoba menggoda gadis yang dia sukai. Dia akan berubah ke mode lain jika harus berurusan dengan hal-hal seperti itu.”


“Yah… setidaknya kalian sudah berkorban untuk mencoba mencapai tujuan.”


“Sepertinya aku punya ide,” ucap Sigit.


Semua anggota laki-laki Tim Ke-12, termasuk Liben dan Jonathan berpaling untuk menatapnya dengan penuh tanda tanya.


“Aku ingin membandingkan ukuran.”


Liben kemudian menjawab, “Lebih baik jangan, karena sudah jelas siapa pemilik yang paling besar. Aku khawatir kalian akan patah hati setelah melihat ukuran milik orang itu.”


Kemudian hening sejenak.


Setelah itu semua anggota laki-laki berdiri dan mulai membandingkan ukuran anu mereka yang ditutupi celana renang seragam berwarna hitam.


“Hah, punyaku lebih besar dari Sersan Hassan!”


“Tapi punyaku lebih besar dari milik Hendra!”


Hendra hanya diam.


“Dan punyaku lebih besar dari Yogi!” ucap Sigit


“Tapi punyamu lebih kecil dari punya Kaikoa!”


Kaikoa hanya diam.


“Lebih baik kalian punyanya Letnan.”


“Heh, memangnya ukuran kapten berapa?” ucap Arif dengan senyum sinis.


Nio hanya diam.


Namun, dia kemudian berdiri sambil menjawab tantangan bawahannya untuk memperlihatkan anunya agar bisa diukur siapa pemilik anu terbesar. Dia memperlihatkan miliknya dengan senyum kebanggan, dan semakin tersenyum lebar setelah melihat wajah patah hati dari bawahannya setelah melihat miliknya.


“Ayo, teman-teman, di mana sorakan untukku? Atau apalah setelah melihat punyaku-“


Sebelum Nio menyelesaikan kalimatnya, Bima mengambil ember dan melemparkannya ke arahnya, dan mengenai anunya. Fakta bahwa dia dengan tepat mengenai anu milik Nio sangat mengesankan, sebenarnya dia juga merasa iri seperti laki-laki yang lain setelah melihat milik Nio.


Semua yang melihat aksi Bima hanya bisa berharap Nio beristirahat dengan tenang.


**


__ADS_1


(ilustrasi SP 1 Pindad, sumber gambar google. Mengenai spesifikasi akan dibahas episode selanjutnya)


__ADS_2