Prajurit SMA

Prajurit SMA
129. Mereka, para pahlawan telah tiba


__ADS_3

Dua minggu sebelum pertempuran melawan raja naga angin.


**


Senin, mungkin waktu yang paling menyedihkan dalam satu minggu ini. Kebanyakan orang, akan menghela napas dengan berat saat harus meninggalkan hari Minggu yang singkat, tak terkecuali dengan kekasih Pembantu Letnan Satu Nio, Indah. Tapi, dia masih nampak tersenyum kecil saat berjalan kaki ke salah satu minimarket di Kota Karanganyar yang menjadi tempat kerjanya. Dia masih bisa tersenyum setelah mendapatkan swafoto dari Nio yang mengenakan seragam tempur lengkapnya.


Mereka berdua memang jarang menyemangati satu sama lain ketika hendak melakukan pekerjaan, karena tugas Nio yang sering bertugas di lapangan. Namun, Indah tetap yakin jika Nio baik-baik saja di dunia lain.


Indah melakukan yang terbaik agar Nio juga senang bersamanya, termasuk tidak terlalu sering menghubungi Nio agar pemuda itu fokus pada pekerjaannya. Tapi, sekalinya mereka bertukar pesan, isi pesan yang mereka berdua kirimkan sangatlah romantis.


Gadis ini menghidupkan ponselnya untuk memantau jam saat ini, saat melihat layar kunci ponselnya Indah nampak tersenyum sendiri. Itu karena latar belakang yang dia gunakan adalah foto Nio yang sudah dia edit sedemikian rupa, pemuda itu memang jarang mengirimkan fotonya ke Indah.


“Ah dasar, kenapa aku sudah sangat ingin segera bertemu dengannya?”


Dia melanjutkan perjalanan ke tempat kerja sambil memasukan kembali ponselnya ke saku seragam. Mengingat jika Nio adalah orang yang dia sukai, Indah berpikir dia akan berusaha untuk menjaga hubungan ini hingga takdir baik berpihak pada hubungan mereka berdua.


Memang, yang Indah bisa lakukan ketika membaca setiap berita yang memuat kegiatan Pasukan Ekspedisi adalah berharap keselamatan kekasihnya, Peltu Nio. Meski tidak terlalu sering, Indah selalu mengirimkan pesan yang berisi supaya Nio mengutamakan keselamatannya ketika menjalankan misi ke medan tempur potensial.


“Baru mau berangkat kerja?”


Seorang prajurit Tentara Pelajar, dan anggota Kompi 406 Garnisun Karanganyar, serta salah satu sahabat Nio selain Jonathan berdiri di depan Indah. Rio, dia dan bawahannya sedang melakukan kegiatan patroli rutin setelah insiden penyerangan.


Saat sebelum terjadinya perang, mereka berdua adalah teman seangkatan namun berbeda kelas. Rio bisa mengenal Indah ketika mengetahui jika sahabatnya, Nio, sering mengajari gadis itu pelajaran sejarah. Indah hanya menganggap Rio sebagai sahabat kekasihnya, tidak lebih. Sementara itu, Rio justru sebaliknya, dia tertarik dengan Indah.


“Ya. Kenapa kau juga tidak melanjutkan pekerjaanmu?”


“Ini sudah masuk waktu istirahatku. Aku sudah melakukan patroli dari jam 1 tadi.”


Seluruh pasukan yang ada di Garnisun Karanganyar melakukan patroli secara bergiliran, dan melakukannya secara menyeluruh hingga perbatasan dengan Kota Magetan yang memiliki garnisun sendiri. Bahkan, Kompi 32 kini dipindahkan ke wilayah Tawangmangu agar penyebaran pasukan merata. Sementara itu, Komandan Kompi 406 telah diganti setelah Herlina dipindahkan ke Pasukan Ekspedisi dan menjadi wakil komandan salah satu Grup Tempur di sana.


Opini publik mengenai Tentara Pelajar masih belum memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Tetapi, hampir sebanyak 80 persen warga Kota Karanganyar mempercayai Tentara Pelajar untuk menjaga Garnisun Karanganyar.


Indah menyegani seluruh prajurit Tentara Pelajar yang melayani kota ini, terutama Nio yang sudah dipindahtugaskan. Tapi, kenapa dia nampak biasa saja ketika berhadapan dengan Rio di depannya?


Ketika Rio berkata “Apa boleh aku minta nomor mu?” Indah menyerahkan ponselnya ke tangan Rio yang sudah memasang wajah memohon.


Tapi, ketika Rio melihat latar belakang yang digunakan Indah pada ponsel gadis itu, jantung Rio berdegup kencang dan merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


“Apa kau sudah selesai mencatat nomor ku?”


Indah nampak tenang ketika menanyakan hal itu kepada pemuda yang sedang ‘patah hati’ di depannya.


Indah adalah gadis pertama bukan ‘saudara’ yang Nio sukai, gadis pertama yang dia sukai tetap kakaknya. Sejak mengenal Indah dan mengajari pelajaran yang gadis itu tidak mengerti, Nio selalu ingin menyatakan perasaannya meski ada beberapa halangan yang merintangi.


Kekasih Nio merupakan salah satu gadis paling populer di sekolah, dan cukup cantik menurut banyak orang. Dia memiliki rambut hitam lurus yang kini dipotong pendek sebahu, dan mata jernih yang memikat dengan penuh kebaikan. Ketika di dekat Nio, Indah selalu memasang senyuman tulus di wajahnya, yang membuatnya mampu memikat hati Nio.


Sementara itu, selain kepintaran dan kebaikan yang Nio miliki, kekuatan tersembunyi milik pemuda itu membuat Indah penasaran. Sekali lagi, ketika dia mengetahui jika Nio sudah sering menyelesaikan misi berbahaya dan mendapatkan banyak penghargaan dari pemerintah, Indah selalu berpikir dua kali “mengapa Nio memilihku?”


Dan untuk alasan apapun, yang menyukai Indah bukan hanya Nio, tetapi pemuda bernama Rio itu juga memiliki perasaan kepadanya.


Latar belakang yang digunakan Indah pada ponselnya ternyata mampu membuat hati Rio terguncang.


“Apa kau benar-benar sudah berpacaran dengan Nio?”


“Ya, sudah cukup lama sih.”


Mendengar jawaban itu, alis Rio menurun dengan tajam, tapi bibirnya nampak gemetar.


“Sejak kapan?”


“Sejak dia pulang untuk melakukan operasi pemasangan tangan bionik nya.”


Rio mengakui jika Nio memiliki banyak kemampuan yang masih disembunyikan, dan dia masih terlalu lemah dalam segala hal di bidang pertempuran dibandingkan Nio.


Kebanyakan orang berasumsi jika memiliki kekasih seorang prajurit adalah hal yang hebat dan menakjubkan. Tetapi, Indah berbeda, dia menyukai Nio sudah sejak kelas 10 hingga sekarang, jadi predikat Nio sebagai ‘prajurit’ dikesampingkan olehnya, tepatnya Indah sama sekali tidak peduli dan cintanya tulus.


Karena itu, ketika Rio telah mengetahui sebuah fakta jika Indah benar-benar menjadi milik Nio, dia menjadi tidak tahan dengan situasi ini dan berpikir, “Kenapa harus dia, dan bukan aku!?”


Singkatnya, Rio tidak menyukai situasi ini, dan wajahnya menegang saat dia melihat ponsel Indah yang masih hidup dan memperlihatkan foto Nio pada latar belakangnya. Tetap saja, dalam perasaanya Rio tidak terima dengan hal ini.


Rio hanya tidak menyangka jika Indah dan Nio benar-benar jadian setelah berbagai hal yang mereka berdua lalui hingga sekarang. Meski begitu, Rio tidak menilai jika dirinya paling pantas bagi Indah, dan bukannya Nio.


Saat Rio dan Indah masih dalam diam setelah berada dalam situasi membingungkan seperti ini, sekelompok orang berjalan mendekati mereka. Mereka telah mengamati mereka berdua seperti penguntit, terutama adanya Baron pada kelompok ini.


Seluruh anggota Regu yang Rio pimpin sudah dia perintahkan untuk kembali ke kota bawah tanah. Mengenai kelompok ini, Rio sudah mendengar jika Nio sudah mengalahkan mereka hanya dengan satu tangan. Dengan begitu, Rio segera tahu tujuan mereka mengerumuninya dan Indah.


“Sepertinya kau sedang patah hati…”


Rio tidak ingin terlibat dengan kelompok Baron, dan segera menarik tangan Indah untuk menjauhi kelompok remaja nakal ini. Meski kata-kata yang Baron katakan sepenuhnya benar, tapi Rio berusaha untuk mengesampingkan hal itu dulu dan mencoba menjauhi masalah yang mungkin akan segera dimulai.


Kedatangan kelompok Baron membuat Rio merasa jika Indah terancam, lima orang dari mereka nampak berlari menyusul Rio yang masih berjalan sambil menarik tangan Indah. Dia berjalan dengan cepat ke arah gang yang tersembunyi, dan merupakan jalan pintas menuju kota bawah tanah.


Salah satu dari kelimanya meraih tangan Indah, dan membuat gadis itu panik. Segera setelah itu, Rio melayangkan tendangan pada pinggul remaja itu.


Melihat teman mereka terluka karena perbuatan Rio, Baron memerintahkan semua bawahannya untuk menyerang Rio. Tapi, dia memerintahkan supaya membawa Indah padanya.


Rio sangat percaya bahwa pelatihan yang dia jalani untuk menjadi pasukan khusus dapat mengalahkan kelompok yang sebelumnya telah dikalahkan Nio sendirian dengan satu tangannya yang tersisa waktu itu. Itulah sebabnya, dia hanya menggunakan dua pisau tarung untuk menghadapi kelompok bersenjatakan balok kayu dan pipa besi ini.


Tatapan membunuh mengelilingi Rio, dan mencoba melindungi Indah di balik punggungnya. Gadis itu, merasa jika Rio akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Nio ketika terjebak dalam situasi ini.


Rio menggertakkan giginya ketika puluhan remaja ini mengelilinginya dengan tatapan yang mengisyaratkan agar tidak membiarkannya hidup setelah ini.


“Indah, ku pastikan kau membayar semua yang pacarmu lakukan padaku!”


“Hah!? Untuk apa aku menerima ajakan mu?”


Baron mendengus kesal, dan tertawa karena kemenangan atas dirinya akan segera didapatkan setelah mengalahkan Rio. Rio menghela napas dalam-dalam dan menggerutu.


“Dunia lain tempat yang sangat berbahaya bukan? Aku harap mereka dipanggil ke dunia lain!” batin Rio ketika mengingat sebuah novel fantasi yang dia baca, dan menceritakan seorang tokoh utama yang selalu sial ketika berada di dunia lain.


Sesaat setelah mengatakan itu, Rio merasa jika tubuhnya membeku, dia bahkan tidak bisa menggerakkan ujung jarinya saat situasi ini.


Ada lingkaran perak bercahaya dengan berbagai pola geometris bersinar di bawah kaki Rio, Indah, dan Baron.


Anggota kelompok Baron juga melihat lingkaran aneh ini, namun mereka lari meninggalkan pemimpin mereka yang berdiri kaku seperti Indah dan Rio. Mereka bertiga menatap pola bercahaya aneh yang membuat mereka tidak bisa bergerak, lingkaran ini tampak seperti lingkaran sihir.


Lingkaran sihir mulai bersinar semakin terang, sampai cahayanya menelan mereka bertiga. Indah hanya bisa berteriak, namun hal itu sama sekali tidak membuatnya bergerak.


Setelah beberapa detik, atau mungkin beberapa menit cahaya akhirnya memudar dan perlahan menghilang. Namun, ketiga orang tersebut tidak ada di tempat mereka berdiri.


Entah siapa yang mengeluarkan lingkaran sihir ini dan membuat Rio, Baron dan Indah menghilang.


Atau mungkin mereka bertiga dipindahkan ke dunia lain?


Cahaya dengan cepat memudar saat kegelapan menelannya. Wajah Indah dan yang lainnya berubah ketakutan saat dia menatap cahaya yang menghilang di atasnya. Dia dengan putus asa mengulurkan tangannya ke atas, mencoba menggenggam cahaya yang dia tahu tidak akan benar-benar bisa dipegang.


Indah merasa jika dia jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam dan gelap, seolah-olah dia jatuh ke lubang neraka.

__ADS_1


**


Indah menutupi matanya dengan kedua tangan dan menutupnya rapat-rapat. Perlahan dia menyadari bahwa dia tidak sendirian, dan mendengar beberapa orang menggumamkan sesuatu dengan bahasa asing. Dengan takut, Indah membuka matanya, dan dia tercengang saat melihat sekelilingnya.


Saat Indah memeriksa sekelilingnya, dia dengan cepat menyadari bahwa dirinya, Rio, dan Baron berada di ruangan yang luas. Seluruh ruangan terbuat dari batu putih berkilau yang tampak halus jika disentuh. Pilar besar dengan pahatan yang terukir menjulang ke langit-langit, dan membuat ruangan ini menyerupai istana.


Indah, Rio, dan Baron berdiri di atas sejenis karpet yang nampak mewah. Di tempat ini tidak hanya ada mereka bertiga, ada beberapa orang yang nampak berasal dari luar Indonesia. Mereka memiliki fisik seperti orang Barat, Timur Tengah, dan Asia, dan mereka berbicara menggunakan bahasa masing-masing asal mereka.


Sementara itu, Rio berbalik untuk melihat apa yang ada di belakangnya. Seperti yang dia duga, Indah nampak kebingungan sama seperti dirinya dan sembilan orang yang ada di ruangan besar ini. Gadis itu sepertinya tidak menderita luka apapun, jadi Rio menarik napas lega.


Setelah memantau keselamatannya, Rio mengembalikan pandangannya ke kerumunan orang-orang asing di sekitarnya, yang dia harapkan akan memberikan penjelasan untuk situasi ini.


Sekitar 9 orang yang ada di ruangan ini hampir memiliki perasaan yang sama, yakni kebingungan. Tapi, selain Rio, ada satu orang lagi yang mengenakan seragam militer. Dan jika dilihat dari lambang yang terpasang pada lengan kiri seragam loreng gurun khas negara Timur Tengah, dan lambang segi enam yang khas, dapat dipastikan jika prajurit itu berasal dari Israel Defense Force (IDF).


Pria tentara itu berbicara menggunakan bahasa ibrani modern yang memiliki arti jika dia ingin tahu tempat apa ini. Ketika matanya bertemu dengan seorang tentara muda yang mengenakan seragam loreng hijau khas TNI, matanya melebar dan semakin cemas.


Rio juga terkejut dengan keberadaan seorang tentara Israel tersebut, namun dia tidak menganggap jika pria itu dapat memberikan penjelasan padanya atas situasi membingungkan ini.


Sekitar empat puluh orang berdiri mengelilingi kesembilan orang yang kebingungan ini. Mereka terdengar berbicara sesuatu, dengan membawa sebuah buku yang tebal di depan dada mereka.


Puluhan orang yang mengelilingi mereka berpakaian jubah hitam berhias sulaman emas. Masing-masing dari mereka memegang sebuah tongkat, seperti tongkat sihir yang ada pada film dan novel.


Akhirnya, salah satu dari mereka melangkah maju, sepertinya pria tua itu adalah pemimpin mereka. Dia berpakaian paling mewah daripada yang lain, dengan penutup kepala berbentuk kerucut dan memiliki simbol mata.


Tongkat yang pria tua itu pegang dihiasi dengan rantai emas, dan menimbulkan suara gemerincing ketika dia berjalan.


“Selamat di Kekaisaran Luan, para pahlawan yang pemberani. Dengan senang hati, kami menyambut anda sekalian di sini. Saya adalah pemimpin dari Penyihir Suci Kekaisaran, Salul. Merupakan suatu kehormatan bagi kami bertemu dengan kalian, pahlawan yang terpanggil…” pria tua yang menyebut dirinya Salul tersenyum ramah kepada kesembilan orang yang dia sebut ‘pahlawan’.


Dia kemudian memimpin kesembilan orang yang masih bingung itu ke ruangan lain yang dilengkapi banyak kursi dan meja panjang, yang mengisyaratkan akan diadakan pembicaraan di sini.


Setelah semua memilih tempat duduk masing-masing, beberapa gerobak yang didorong oleh rombongan pelayang memasuki ruang pertemuan ini. Ini pelayan dunia fantasi yang sebenarnya! Salah satu orang yang mirip dengan orang Asia Timur itu berteriak seperti itu. Puluhan pelayan itu memiliki kecantikan seperti bidadari, bukan pelayan yang sering ditemukan pada ilustrasi novel ringan maupun pelayan tua yang ditemukan di Eropa. Mereka memiliki kecantikan yang diimpikan seluruh pria di sini.


Bahkan dalam situasi yang membingungkan ini, hampir seluruh laki-laki dari kesembilan orang itu memilki libido yang mendorong mereka ketika melihat pelayan cantik.


Rio juga hampir bernafsu untuk memandangi pelayan yang menyajikan minuman untuknya, tapi dia mengalihkan pandangannya ke depan untuk melihat Indah yang tetap tenang dalam situasi membingungkan ini.


Salul akhirnya mulai berbicara setelah semua orang disuguhi minuman masing-masing.


“Saya yakin anda semua pasti merasa bingung dengan situasi ini. Saya akan menjelaskan semuanya dari awal. Yang saya minta adalah anda semua mendengarkan saya sampai akhir,” perkataan Salul tidak terlalu umum, dan terkesan sangat misterius.


Singkatnya, yang dikatakan Salul adalah ini adalah ‘dunia lain’ yang membutuhkan para pahlawan untuk mengalahkan ‘penjajah’.


Pasukan Aliansi yang dipimpin oleh Kekaisaran Luan mengalami kekalahan telak setelah sering berperang dengan penjajah tersebut. Salul mengatakan jika kemampuan persenjataan penjajah mereka jauh melampaui kebanyakan pasukan dunia ini.


Rio dengan cepat mengingat nama ‘Kekaisaran Luan’. “Bukankah itu nama negara yang berperang dengan Pasukan Ekspedisi?” begitu kata Rio yang mengejutkan Indah.


Sampai saat ini, Pasukan Aliansi masih mencari cara untuk membuat para penjajah mundur ke dunia mereka.


Pasukan khusus dituntut untuk berpikir dengan cepat, begitu juga yang dilakukan oleh Rio.


Tangan Rio nampak gemetar ketika menemukan fakta jika ini adalah dunia lain tempat Pasukan Ekspedisi berada, dan wajah Indah masih menunjukan rasa penasaran yang besar.


“Orang yang memanggil kalian semua kesini adalah kami, atas ijin Dewa Perang yang Maha Besar. Saya merasa Dewa Perang menyadari bahwa penjajah biadab seperti mereka harus dimusnahkan, jadi beliau mengijinkan kami untuk memanggil kalian semua ke sini untuk mengalahkan penjajah. Kalian adalah para pahlawan dari dunia yang lebih besar dari kami, dan karena itu kalian semua diberkati dengan kekuatan yang melampaui manusia di dunia ini.”


Keringat dingin yang Rio keluarkan semakin deras ketika mengetahui jika dia harus melawan Pasukan Ekspedisi di dunia ini.


Lalu, Salul melanjutkan perkataannya, “Saya memohon para pahlawan yang terhormat untuk melakukan apa yang Dewa Perang inginkan. Tolong, kalahkan penjajah biadab dan selamatkan dunia ini dari kehancuran.” Dia tampak hampir kesurupan saat mengatakan itu.


Saat Rio merenungkan dunia sinting ini, beberapa orang justru nampak bersemangat untuk mengalahkan ‘penjajah’ yang dimaksud Salul.


“Kau serius?! Menyuruh kami untuk bertarung melawan salah satu pasukan terkuat di dunia ku!? Kembalikan aku dan Indah sekarang juga!”


“Tentara Indonesia, apa yang anda barusan katakan? Apa kami disini diperintahkan untuk melawan Pasukan Indonesia yang dikirimkan ke dunia ini?”


Rio dengan cepat menoleh ke arah tentara Israel, dia hanya sementara tercengang dengan pria itu yang dengan cakap nya berbicara dengan bahasa Indonesia.


“Ya. Meski saya membutuhkan waktu untuk memahaminya, ini adalah dunia yang berperang dengan dunia kita!”


Wajah Indah seketika berubah menjadi pucat, dan matanya membulat. Ketika mendengar kata ‘pasukan Indonesia di dunia ini’, yang gadis itu pikirkan adalah Nio.


“Saya mengerti perasaan anda. Tapi, saya tidak dapat mengembalikan anda ke duniamu saat ini.”


Keheningan memenuhi ruangan, suasana yang menyesakkan merasakan setiap orang yang hadir. Mereka semua menatap Salul dengan tatapan kosong, tidak mampu memproses apa yang baru saja dia katakan.


Rio kembali mengangkat suaranya dengan nada sangat keras, hingga tangannya mengenai gelas kaca hingga jatuh ke lantai dan pecah.


“Apa maksudmu! Kau tidak bisa mengembalikan ku dan Indah? Jika kau bisa memanggil kami ke sini, seharusnya kau juga bisa mengirim kami kembali kan!?”


“Satu-satunya alasan kami di sini hanyalah menyambut kalian, para pahlawan, dan mempersembahkan pada Dewa Perang bahwa para pahlawan sudah datang. Kami, Pasukan Aliansi tidak memilki kekuatan untuk melawan penjajah, jadi apakah kalian dapat kembali atau tidak tergantung pada kehendak Dewa Perang.”


“Jangan bercanda!”


Seluruh orang yang tiba-tiba memahami perkataan Salul berteriak, dan Indah hanya bisa meratap nasibnya di dunia ini.


“Perang!? Jangan bercanda dengan yang namanya perang! Bawa kami kembali sekarang juga!”


“Aku tidak mau melawan pasukan Indonesia! Jangan mengada-ada!”


“Ini tidak mungkin terjadi, ini tidak mungkin terjadi, ini tidak mungkin terjadi, ini tidak mungkin terjadi, ini tidak mungkin terjadi…”


Seluruh orang menjadi panik, Indah juga terguncang dengan fakta ini. Namun, hanya ada dua orang yang nampak tenang dan tersenyum miring ketika semua orang panik, salah satunya Baron.


“Oi, orang Thailand, apa kau juga tidak menyukai TNI?”


“Dasar, aku tidak menyangka kalau kau bisa bahasa Thailand. Seperti yang kau katakan orang Indonesia, aku tidak menyukai TNI karena mereka terlalu kuat di kawasan Asia Tenggara.”


“Kalau aku, sih. Aku hanya tidak suka salah satu prajurit mereka.”


Salul tidak mengatakan apa-apa ketika Baron dan orang Thailand yang dia maksud berbicara seakan mendukung perang ini.


Baron dan orang Thailand tersebut berdiri dan membanting tinjunya ke meja dengan keras. Itu berhasil menarik perhatian seluruh orang. Setelah memastikan bahwa seluruh mata semua orang tertuju padanya, Baron mulai berbicara.


“Semuanya, tidak ada gunanya mengeluh pada Salul, lagipula kita sekarang tidak bisa apa-apa kan? Aku berdiri di sini, bersama orang Thailand ini, memutuskan untuk bertarung dan membalaskan dendam ku pada prajurit bernama Nio. Mengetahui hal ini, bagaimana bisa aku membiarkan mereka mengalami nasib yang begitu tragis? TNI melawan dunia fantasi yang lemah? Jangan bercanda! Kita dipanggil untuk menyelamatkan kelangsungan hidup mereka! Nah, Salul, apa yang aku katakan benar?”


“Seperti yang anda katakan, Tuan Baron. Sebagai pahlawan, anda semua akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa, dan hanya kalian semua yang bisa mengendalikannya.”


Baron dan orang Thailand menyeringai ketika mendengar kata ‘kekuatan yang luar biasa’. Tetapi, ketujuh orang berbanding terbalik, mereka hanya ingin pulang dan tidak ingin terlibat pada perang ini.


“Kau…! Apa kau akan menjadi penghianat!?” Rio menggenggam erat tinjunya setelah mendengar kata-kata Baron.


“Hah, sudah kuduga kau akan mengatakan itu,” jawaban yang diberikan oleh Baron disertai dengan tatapan sinis kepada Rio.


Indah menangis saat menyadari situasi ini, dia menyadari jika dia akan dipaksa untuk bertarung dengan Nio jika kebetulan itu terjadi.


Mereka, para pahlawan telah datang…


**

__ADS_1


Kembali ke pertempuran dengan raja naga angin…


“Kadal itu, kenapa dia masih hidup…?”


Keputusasaan mengalir dalam suara seluruh anggota Regu penjelajah 1, Sheyn dan Zariv. Musuh, raja naga angin masih bisa berdiri, dan hanya kehilangan sedikit dari kekuatan sebenarnya. Regu penjelajah 1 dan Zariv sudah mati-matian mengeluarkan kemampuan terhebat mereka untuk operasi ini. Nio menatap raja naga angin yang bangkit di depannya dengan tatapan putus asa.


Tidak ada rencana cadangan lagi di pikiran Nio, dan semua orang di Regu hanya memiliki sedikit amunisi dan peluru.


“Apa semua hanya sampai di sini? Apa kami akan kalah sekarang?”


Semua langkah telah habis, setelah Nio berpikir seperti itu.


“Jangan menyerah! Terus bertempur!”


Suara yang terdengar dengan tiba-tiba terdengar di seluruh radio personel. Sesaat kemudian banyak truk lapis baja dan kendaraan lapis baja pengangkut personel muncul. Dan seluruh kendaraan mengeluarkan dua Kompi pasukan, sekitar 220 tentara.


“Suara ini. Bukankah ini suara Kapten Herlina dari Grup Tempur 1?” batin Liben ketika mendengar suara gadis ‘mantan’ atasan Nio di Kompi 406.


“Raja naga angin telah kehilangan mobilitasnya! Kompi 2 dan 4 terus menembak ke sasaran hingga waktu pengeboman tiba!”


“Siap! Dimengert!”


Nio menatap Herlina memimpin ratusan prajurit pria dan wanita, remaja dan dewasa dengan anggunnya. Mereka adalah pasukan yang sebelumnya diperintahkan untuk berjaga di benteng. Herlina yang berlari, menatap Nio yang dalam keadaan penuh luka, dan mengedipkan salah satu matanya yang seakan-akan mengatakan, “Mulai dari sini, serahkan pada ku!”


Nio kemudian menatap ke langit, di mana Sigiz yang sudah mencincang seluruh naga milik Zelev sedang bertarung dengan gadis naga itu.


Nio secara refleks berteriak pada Sigiz yang mencoba mengejar Zelev yang mendekati Unit Artileri.


“Ratu Sigiz! Jangan kejar!”


“Tuan Nio, apa yang kau katakan…?”


Melihat kebawah setelah teriakan Nio, Sigiz melihat puluhan meriam dan peluncur roket mengarah padanya, tepatnya raja naga angin yang terluka parah. Raja naga angin sudah melemah, itu adalah kesempatan besar untuk mengalahkannya.


Sigiz mencoba yang terbaik untuk mengalahkan Zelev sebelum menyaksikan Unit Artileri mengalahkan raja naga angin. Dia mencoba menjauhi zona penembakan, jika tidak dia akan terkena peluru artileri dan mati.


Sigiz adalah ratu yang memuja Dewa Perang dan Dewa Wanita Suci, dan bertarung seperti wanita yang anggun dan pemberani di tengah kegilaan medan perang.


Beberapa prajurit kawan yang tidak beruntung dibunuh oleh Zelev, tapi kematian mereka tidak sia-sia, mereka mati dan menjadi pahlawan.


Dua buah roket meluncur ke arah Zelev yang terbang secepat jet tempur, dengan sabit besarnya Zelev membelah roket dan terbang dengan cepat untuk menghindari serpihan akibat ledakan roket. Dan akhirnya, dia tinggal berhadapan dengan Sigiz tanpa hambatan apapun. Dalam pertarungan satu lawan satu, Sigiz yakin bisa membunuh lawannya.


Sigiz berteriak dan mengayunkan tombaknya, dan menggores sayap kanan Zelev. Darah merah kehitaman menetes dari sayap yang tersayat, dan menetes ke tanah yang terbakar.


“Lanjut!”


Sigiz mendarat di tanah, karena kemampuan melayang nya yang terbatas. Dia melompat lagi dengan cepat ke arah Zelev yang terbang dengan mengibaskan sayapnya.


Menanggapi serangan Sigiz, Zelev menebas cepat sabitnya dan mengenai Sigiz yang membuatnya terbanting ke tanah.


Namun, saat terhempas karena serangan Zelev, Sigiz melemparkan tombaknya ke arah tubuh Zelev. Tujuannya adalah jika lemparan tombaknya yang sudah disertai dengan sihir percepatan mengenai tubuh Zelev, kemampuan bertarung musuh akan berkurang.


Tombak yang dilemparkan Sigiz menembus sayap kiri Zelev hingga terbakar oleh sihir yang melapisi mata tombak. Keseimbangan terbang Zelev terganggu, dan dia jatuh dengan keras ke tanah dengan kepala yang membentur tanah terlebih dulu.


Kemudian, Sigiz menangkap kembali tombak milikinya yang bisa terbang kembali ke pemiliknya seperti bumerang.


“Ini akhirnya!”


Sigiz berlari dengan kecepatan penuh dengan tombak yang bagian matanya menyala berwarna merah. Zelev mengerang kesakitan dengan kepala berdarah, namun bahu kirinya tertusuk oleh tombak sihir milik Sigiz, serangan tersebut membuat Ratu Sigiz tertawa bahagia.


“Kau merasa sakit? Kalau begitu akan ku buat semakin sakit!”


Sigiz menarik tombaknya yang menancap pada bahu Zelev, dan kembali menusukkan mata tombaknya ke dada Zelev. Saat tombak itu menancap, noda darah mengenai pakaian perang Sigiz.


Sigiz tertawa bahagia, setelah berhasil mengalahkan Zelev. Kemenangan ini dia persembahkan untuk Nio dan Kerajaan Arevelk, serta Pasukan Ekspedisi.


**


Sementara itu, Korps Lapis Baja yang sedang bersiap untuk bombardir masih belum mengetahui situasi terkini. Lalu, Regu penjelajah 1 memberitahu situasi terkini melalui saluran radio.


“Makhluk yang disebut dengan raja naga api sudah melemah, dan pengendali makhluk itu sudah terbunuh!”


“Dimengerti!”


“Tidak ada perubahan rencana, percepat pengeboman sesuai rencana!” Herlina memerintah dengan tegasnya hingga urat menonjol di dahinya.


Terakhir kali Herlina berteriak sekeras itu ketika penyambutan anggota baru Kompi 406. Saat itu dia dengan senangnya mencambuk Nio dan prajurit muda yang akan bergabung dengan pasukan ini.


“Berkat Ratu Sigiz, pengendali raja naga angin sudah terbunuh. Selanjutnya, kita memberi waktu teman kita untuk mengalahkan setiap musuh!”


“Tapi kita mungkin akan dikalahkan…”


“Tidak apa-apa, jika pasukan kawan bisa selamat, dan membalaskan dendam kawan kita yang gugur.”


Kata-kata Herlina langsung menenangkan prajurit yang mendengarnya, terutama Regu penjelajah 1.


“Kesempatan untuk mengalahkan raja naga angin sudah terbuka lebar! Ada banyak nyawa yang harus dilindungi!”


Prajurit yang mendengar langsung menjadi pucat, tapi kata-kata Herlina memang benar.


“Kapten Herlina, persiapan pengeboman telah selesai!”


Herlina berdiam diri sejenak sebelum mengatakan, “Tembak…!”


10 tank tempur utama dengan meriam railgun menembakkan peluru 105mm dengan kecepatan suara. Lima rudal dengan daya ledak sama juga diluncurkan, dan akan menyebabkan kehancuran yang sangat besar pada raja naga api.


“Tembak sebanyak yang kalian bisa! Beritahu seluruh orang dunia lain kalau membunuh monster adalah tugas TNI!”


Suara tembakan terdengar terus menerus, semua kendaraan dan peralatan tempur terus menembakkan semua senjata. Puluhan peluru tank terbang ke arah raja naga angin, dan menciptakan ledakan besar setelah rudal juga mengenai tubuh kadal raksasa itu.


Raja naga angin dengan putus asa menerima semua serangan cepat yang mengenainya, dia tidak menyemburkan api panasnya ketika diserang seperti ini.


Tidak peduli seberapa kuat semburan api raja naga angin itu, tetap saja mustahil untuk menahan laju rudal dan peluru tank yang ditembakkan dari meriam railgun dengan kecepatan suara. Seluruh senjata menghancurkan sisik raja naga angin, dan daging meledak satu demi satu setelah tembakan kedua dan ketiga.


Bagi Nio, ini adalah pemandangan yang tak terbayangkan. Meskipun beberapa tembakan meleset, tapi seluruh peluru tank dan rudal yang mengenai raja naga api membuat ledakan besar dan membuat daging raja naga angin tercecer ke tanah.


Beberapa menit kemudian, sebagian besar peluru ditembakkan, dan raja naga angin yang terkena rentetan tembakan peluru tank dan rudal mati. Setengah tubuh raja naga angin telah hilang, dan telah diubah menjadi gumpalan daging yang menjijikan.


“Akhirnya, kita menang. Benar ‘kan, Tuan Nio?”


Sigiz yang berjalan mendekati Nio hingga bahu mereka bersentuhan bergumam. Satu tank tempur utama menembakan satu lagi peluru sebagai serangan antisipasi. Tidak ada reaksi, yang menandakan raja naga angin mati.


“Akhirnya…”


Segera setelah itu, sorak-sorai menggema dari seluruh prajurit yang masih hidup.


**

__ADS_1


Funfact#9: rokok yang dikonsumsi oleh Nio



__ADS_2