
17 Agustus 2321, pukul 10.01 WIB.
**
Markas Besar TNI, pusat pemerintahan sementara, Jakarta, Indonesia….
Pada salah satu ruangan di tempat ini, sejumlah perwira tinggi berkumpul untuk mendebatkan sesuatu yang membuat resah mereka. Jika pembicaraan ini berjalan buruk, mungkin perekelahian bisa pecah.
Banyak anggota TNI di tempat ini yang menjadi gelisah sejak kemunculan Gerbang lagi di Indonesia. Saat ini, Kementrian Pertahanan sedang menata kembali penempatan pasukan, apalagi dengan adanya Kesatuan Tentara Pelajar yang merupakan kekuatan terbaru.
Namun para perwira yang sedang berdebat sebenarnya sangat ‘cemburu’ dengan Kompi 406 dan 32 yang sedang bertempur di Garnisun Karanganyar.
‘Mengalahkan naga, dan menyelamatkan warga sipil’ itulah tema perdebatan para perwira TNI berbagai angkatan. Meski beberapa saat yang lalu mereka sudah pernah melakukan pertempuran, namun itulah tugas para prajurit ini.
Namun, Kota Karanganyar adalah kota yang tidak memiliki wilayah laut. Jadi kapal perang tidak akan berguna pada pertempuran yang kebanyakan dilakukan di darat dan udara. Kecuali jika mereka mengirimkan personel sebagai kekuatan bantuan.
Nugroho memandangi para bawahannya, dan dia berpikir jika telah lama menahannya.
Keberadaan Jendral itu membuat para perwira tersebut seketika tidak dapat melanjutkan perdebatan.
Lagi pula, setelah operasi pembersihan tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan setelah itu. Beberapa Garnisun memang sedang sangat sibuk untuk melakukan patroli, namun wilayah Jakarta telah dijaga ribuan prajurit.
Tugas yang para perwira tersebut dapatkan sebagai contoh, menyempurnakan standar opersional unit, dan menyusun rencana untuk masa depan.
Jadi dalam keadaan normal, mereka menjaga keamanan negara, atau memelihara peralatan tempur milik Satuan masing-masing.
Kegelisahan para perwira telah menular pada para prajurit yang menjaga ibukota. Perasaan terpelintir mereka, dikombinasikan dengan kebosanan sejak berakhirnya operasi pembersihan, itulah yang dirasakan sebagian prajurit yang bertugas menjaga pusat pemerintahan sementara ini.
Sehingga pada akhirnya, pasukan Garnisun Karanganyar meminta bantuan pada Markas Besar. Hal itu seperti berkah yang baru turun dari surga dan masih terasa hangat karena baru diangkat dari pemanggang.
Garnisun Karanganyar telah berubah menjadi medan perang sejak kemunculan Gerbang baru. Saat itu, tepat ketika perayaan parade kemenangan dan upacara ulang tahun kemerdekaan.
Para prajurit Kompi 406 dan 32 telah mencoba yang terbaik untuk pertempuran pertahanan, tetapi jumlah musuh yang keluar lebih besar.
Dengan kata lain, inilah saat-saat yang tepat bagi TNI untuk kembali menunjukkan kekuatan mereka kepada pasukan dunia lain.
Menyelamatkan warga sipil tak berdosa atas nama keadilan, mengalahkan para penjahat, meredakan kegelisahan mereka, dan mendapatkan pengalaman tempur tambahan.
Salah satu perwira tinggi Angkatan Darat berkata dihadapan Jendral Nugroho, “Biarkan kami mengirimkan pasukan…!”
“Tidak bisa, jika kita mengambil jalur darat, itu akan memakan waktu lama. Setahuku, pangkalan pasukan terdekat berada di kota Magelang. Jendral, biarkan kami untuk mengirimkan pasukan…!” ucap salah satu perwira tinggi TNI AU.
Pangkalan udara terdekat dengan Garnisun Karanganyar berada di Kota Magetan, yang hanya dibatasi dengan Gunung Lawu saja. Sekaligus membuat Lanud Iswahjudi menjadi pangkalan pasukan terdekat dengan Garnisun Karanganyar.
Nugroho kemudian memberi perintah perwira tinggi AU tersebut untuk mengirimkan pasukan ke Garnisun Karanganyar. Dia hanya tidak memiliki pilihan selain mengirimkan bala bantuan segera. Karena itu, grup tempur yang berada di Lanud Iswahjudi adalah pilihan paling tepat.
“Apa mereka sangat gila perang?” gumam nugroho saat seluruh perwira dihadapannya berebut untuk mengirimkan pasukan.
Nugroho bisa menebak seperti apa yang terjadi di medan perang setelah bantuan tiba di Garnisun Karanganyar.
**
Grup Penyerang 06 yang berisi 20 helikopter berbagai jenis adalah bantuan yang akan didapatkan Kompi 406 dan 32. Mereka telah terbang dengan jalur yang ditentukan untuk menuju Garnisun Karanganyar.
(Ilustrasi helikopter tempur, sumber gambar pinterest.)
5 helikopter pengangkut rudal, dan sisanya adalah helikopter pengangkut personel adalah kekuatan Grup penyerang 06. Tidak ada kata ‘berlebihan’ atau ‘mengasihani’ dalam misi ini, karena pasukan musuh yang keluar dari Gerbang telah mengacaukan hari ulangtahun Republik Indonesia.
Kata yang tepat untuk misi ini adalah ‘menghabisi’ dan ‘membersihkan’ pasukan besar yang terus keluar dari Gerbang.
Saat memasuki wilayah dataran tinggi Kota Karanganyar, grup ini dicegat 8 naga dan 12 wyvern yang berhasil keluar dari Gerbang. Namun yang akan mereka hadapi hanyalah ‘capung besi’ dengan sayap berputar.
Meskipun tidak mungkin rudal anti pesawat yang menghantam pasukan kadal terbang itu, tetapi roket tetap dilepaskan untuk melupuhkan mereka.
20 roket melesat cepat dan tepat mengenai seluruh pasukan kadal terbang itu.
Sang Komandan Grup Penyerang 06 berkata kepada seluruh anggotanya dari saluran komunikasi, “Bagus, setelah pulang nanti kutraktir kalian semua mi ayam.”
Para kadal terbang dan pawangnya seketika mati dan terjun ketanah setelah dihantam roket. Ketika penduduk sempat melihatnya, mereka pasti gemetar ketakutan.
**
Sekarang, Kompi 406 dan 32 mati-matian mengurangi musuh yang terus menerus keluar dari gerbang. Pasukan yang dibawa Sigiz juga melakukan hal yang sama, itulah yang membuat pasukan musuh terus mengumpati mereka.
Pasukan musuh tidak ada yang menyangka jika pasukan Sigiz juga akan melawan mereka, bahkan sekalipun atas nama ‘sesama’ berasal dari dunia lain.
__ADS_1
Sigiz sudah tahu apa yang dia lakukan sangat berbahaya bagi Kerajaan Arevelk, namun demi membantu Nio tetap hidup dan agar terus berjuang dia akan melakukan hal ini.
Dari atas naganya, Sigiz melihat Nio berada didalam selokan terus menembaki prajurit musuh dengan senapan yang dia aktifkan pada mode otomatis penuh.
“Peluruku habis…!” seluruh prajurit yang kehabisan amunisi pasti akan mengatakan hal itu kepada rekan mereka.
Namun amunisi seluruh prajurit juga tersisa sedikit, tidak ada logistik yang berada di dekat medan tempur.
Tidak ada yang ingin meninggalkan posisi mereka dan mundur, seluruh prajurit terus menembakkan seluruh peluru yang tersisa. Jika peluru sudah habis, pertempuran jarak dekat adalah pilihan yang tidak buruk.
Setidaknya seluruh prajurit telah dilatih bela diri dan teknik pertempuran jarak dekat. Itulah mengapa mereka dilengkapi dengan pedang yang terpasang di punggung rompi.
Jika Kompi 406 dan 32 masih ingin melindungi kota ini, bantuan adalah sumber harapan mereka.
“Kolonel, 5 menit mendekati lokasi…!” ucap salah satu personel Grup Penyerang 06.
Dia kemudian melanjutkan laporannya.
“Menurut laporan Kompi 32, gerbang berada di tengah kota. Ada banyak bangunan yang berada di lokasi tersebut. Demi keamanan, kita harus mendekati Gerbang dan melenyapkan musuh yang keluar dari situ,”
“Bagus Letnan,” jawab Komandan Grup Penyerang 06.
Seluruh prajurit di helikopter menyiapkan magasin untuk senapan mereka.
“Dua menit mendekati lokasi!”
Salah satu prajurit yang telah memasang magasin di senapannya meletakkan helmnya di bawah bokongnya. Rekannya yang penasaran kemudian bertanya padanya:
“Kenapa kau menduduki helm mu?”
“Untuk melindungi bola ku agar tidak meledak…!”
**
Pasukan yang tidak berhenti keluar dari Gerbang, hanya menjadikan mereka sebagai media latihan tembak nyata pasukan Kompi 406 dan 32.
Ada teriakan orang-orang yang menghadapi kematian, dan teriakan pahit penderitaan. Orang-orang saling menekan untuk keluar dari Gerbang.
Tidak ada yang bisa memikirkan situasi sekarang, semua perhatian pasukan Kompi 406 dan 32 terfokus pada musuh di depan mereka.
Tentu saja beberapa prajurit musuh merangkak di atas jalan aspal, mencoba untuk menyelamatkan dirim tetapi mereka diinjak-injak oleh kaki besar makhluk berkepala banteng yang juga panik.
Itu sebabnya mereka tidak mendengar suara gemuruh di udara.
Saat itu juga, semuanya berhenti. Baik Pasukan Kompi 406 dan 32, serta pasukan yang baru keluar dari Gerbang.
Semua suara senyap dan gemuruh pertempuran memudar. Sebagai gantinya, mereka mendengar suara lonceng.
Nio mendapati jika alat komunikasinya bergetar, dia segera memegangnya jika itu berasal dari panggilan pasukan bantuan.
“2 menit lagi kita akan tiba di lokasi, ganti…!”
“Baik, namun jangan tembak pasukan naga dengan pakaian tempur putih. Mereka adalah kawan. Selesai!,” jawab Nio.
Namun jawaban Nio seketika membuat operator komunikasi mematung, dia merasa tidak percaya dengan yang Nio katakan. Tetapi Nio sudah memutus sambungan, jadi dia tidak bisa membantah permintaan Nio tersebut.
Mata semua orang terpusat pada benda hitam besar yang muncul diatas mereka.
Formasi memusat menyapu pasukan musuh di luar Gerbang dengan tembakan senapan mesin berat.
Ketika helikopter terbang, para prajurit melemparkan granat, seperti sedang memberi hadiah. Itu menunjukan jika TNI masih bisa bercanda di berbagai situasi.
Serangan seperti itu terus datang dari beberapa sisi, dalam beberapa gelombang serangan tentunya. Agar pasukan musuh tidak terbantai begitu saja.
Hujan tembakan tak berujung menyembur di pusat kota, dan membunuh semua yang bergerak di depan Gerbang.
Pasukan dunia lain tersebar, seperti gerobolan semut ketika melarikan diri dari kaki orang yang menginjak kawan mereka.
Tetapi, baik pasukan manusia maupun monster, tidak ada yang bisa melarikan diri jika mereka keluar dari Gerbang.
Pasukan Sigiz tentunya menjadi pengecualian, karena mereka adalah kawan.
Pasukan musuh itu terperangkap didalam kekacauan, pembunuhan dan kematian mereka dan membuat mereka jatuh ke jalan aspal yang panas setelah terkena peluru.
Bahu kanan seluruh pasukan yang menembak dari atas helikopter menyerap recoil dari senapan, kemudian melepaskan peluru dengan santai.
Biasanya, operator senapan mesin akan beradah di perintah untuk melihat semua selongsong peluru terjatuh. Tetapi sekarang selongsong kosong jatuh ke lantai helikopter, dan akhirnya jatuh ke jalanan.
__ADS_1
Karena hari sudah mulai gelap, ujung laras senapan bersinar, seperti kembang api.
Tubuh prajurit dunia lain menjadi pengorbanan untuk nyala api perang, di langit sore yang cerah ini.
Prajurit yang memiliki zirah besi yang kuat, dicabik-cabik dengan panah kecil dari senapan mesin berat.
Suara sayap kematian bukan berasal dari dewa kematian mereka. Itu adalah suara yang jauh lebih ganas.
Hujan peluru sebagian jatuh ke jalanan dan tembok bangunan, meninggalkan bekas lubang.
Nio yang juga masih melakukan perlawanan, mendongak keatas untuk menyaksikan heliopter tempur beraksi.
Bagi pasukan dunia lain, hal pertama yang dipikirkan ketika seseorang menyebutkan pasukan udara jelas adalah pasukan penunggang naga.
Tetapi yang mereka lihat bukanlah makhluk hidup, tetapi makhluk mati yang jauh lebih mengerikan. Penunggang naga seharusnya menyerang jauh lebih mematikan, namun makhluk lawan mereka membawa kebrutlan yang besar.
Makhluk berkepala banteng, makhluk kecil berwarna hijau, makhluk berkepala babi dan monster lainnya diledakkan menjadi berkeping-keping. Dan prajurit manusia yang terjebak dalam ledakan berbaring dan mati.
Lagu kematian diputar dari baling-baling helikopter dan senapan seluruh prajurit. Pengemudi helikopter tidak ikut andil pada paduan suara ini, namun mereka juga ikut membawa kematian kepada pasukan yang keluar dari Gerbang.
Sigiz bergidik, seolah-olah dia berada di posisi pasukan yang ia lawan juga. Dalam sekejap, semuanya telah dihancurkan oleh kebrutalan, dan tidak ada yang bisa melawan.
Semua perasaan tercampur didalam hati Sigiz, Ivy dan Ilhiya yang masih menggendong kucing di pelukannya sambil sesekali melepaskan sihir api.
Pikiran Sigiz terfokus pada pembantaian di segala sisi.
Dia mengambil kesimpulan, “Manusia sangat lemah, tidak berharga dan tidak berdaya.”
Sampai sekarang, lawan yang Sigiz pernah hadapi memang makhluk dengan ukuran besar, seperti minotaur.
Tapi yang dia lihat lebih ganas dari seekor naga api.
Sigiz tidak berani menatap para capung besi, namun dia tidak bisa melepaskan pandangannya.
Kebanggaannya sebagai Ratu, segala sesuatu tentang dirinya yang berharga serasa runtuh dalam sekejap.
“Manusia itu sangat kecil. Manusia yang tragis dan tidak berdaya…,” seluruh perkataan Sigiz didalam hati hanya dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan seperti itu.
Sigiz merasa jijik terhadap pasukan musuh, tapi pada saat yang sama dia jauh lebih menjijikan daripada pasukan yang melawan pasukan yang keluar dari Gerbang.
‘Makhluk yang kuat’
‘Makhluk yang terbang dan bercahaya’
Apa yang muncul dihatinya adalah rasa hormat dan takut.
Ternyata pasukan yang keluar dari Gerbang telah melihat apa yang mereka panggil dengan ‘keputus-asaan’.
**
Nio mengagumi api yang disemburkan para kadal terbang milik pasukan Sigiz. Apalagi ketiga perempuan yang menunggangi kadal terbang itu juga mengeluarkan berbagai sihir yang belum pernah pasukan ini lihat.
Kemudian helikopter tempur muncul dari kepulan asap hitam yang menutupi pandangan.
Senapan mesin berat dengan tipe gatling enam laras 20 mm berputar untuk membidik pasukan musuh yang telah ditekan oleh pasukan Kompi 406 dan 32.
Tiba-tiba, seluruh pasukan Kompi 406 dan 32 mundur tanpa aba-aba.
Sebuah lesatan cepat keluar dari helkopter pengangkut rudal, ekor yang menyala indah menyembur dari benda panjang itu.
Sebuah rudal melesat masuk kedalam Gerbang, gelombang kejut yang besar hampir merobohkan pohon yang tumbuh di pinggir jalan.
Tali menggantung dari helikopter, dan pasukan TNI meluncur melalui tali tersebut. Dengan gerakan cepat, mereka seketika bergabung dengan pasukan Kompi 406 dan 32 yang sudah bisa bernapas lega.
Tidak ada korban dari pasukan Kompi 406 dan 32. Tetapi dari warga sipil, terdapat ratusan korban.
**
Sigiz, Ivy dan Ilhiya berdiri di depan Nio tanpa tahu apa yang harus ia katakan.
Baru beberapa bulan mereka bertemu dengan Nio, dia meminta untuk membantu pasukan ini tanpa tahu jika TNI memiliki pasukan yang jauh lebih.
Tapi statusnya yang sebagai ‘orang dunia lain’ adalah sebuah masalah. Roket hampir melesat kearah pasukannya, namun berhasil dicegah. D
Sigiz juga merasakan apa yang dirasakan pasukan yang dibantai oleh TNI.
Membangun ulang pusat kota yang sebagian fasiliasnya hancur, akan menjadi masalah selain korban dari pihak warga sipil yang merupakan masalah yang lebih besar.
__ADS_1
Namun kemenangan ini juga hasil kerja keras dari TNI yang memepertaruhkan nyawa, jadi itu harus dirayakan. Berkabung saja tidak cukup bagi keluarga yang ditinggalkan.
Kemenangan TNI pada pertempuran ini, mungkin bisa dianggap sebagai hadiah ulangtahun kemerdekaan Indonesia.