The Dark Love

The Dark Love
10. Kenangan itu Muncul Lagi


__ADS_3

Digo yang kini sudah merengkuh tubuh Sheilla, ia tampak terdiam sesaat. Lagi-lagi tanpa permisi bayang-bayang masa lalunya itu kembali mengisi ingatannya, membuat dirinya kini menggelengkan kepalanya karena tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu sakit.


Henry yang peka akan situasi yang menimpa Digo saat ini pun ia kini menepuk pundak Digo.


"Biar saya saja yang bawa dia kembali ke kamar," ujar Henry lalu mengambil alih tubuh Sheilla dari dekapan Digo kemudian ia perlahan membopong tubuh perempuan tersebut dan segara membawanya menuju ke dalam kamar yang sebelumnya di huni oleh Sheilla. Meninggalkan Digo yang masih mematung di tempatnya, sebelum tangannya kini bergerak untuk memijit pelipisnya.


"Kenapa selalu begini?" gumamnya yang terdengar begitu lelah dengan apa yang tengah ia alami selama bertahun-tahun itu dan sayangnya tak bisa ia hilangkan. Dan setelah berkata seperti tadi, Digo yang merasakan kepalanya semakin pening pun memutuskan untuk segera menuju ke kamar pribadinya.


Dan setelah ia masuk kedalam kamar pribadinya, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya dengan mata yang tertutup rapat namun tangannya terus memijit kepalanya berusaha untuk menghilangkan sakit yang tengah menimpanya.


"Ra, aku tau kamu disana sudah tenang dan damai tapi kenapa aku tidak bisa melupakan hal-hal yang berkaitan dengan kamu. Entah itu tentang kebahagiaan kamu ataupun penderita kamu yang selalu di hantui oleh orang-orang yang menginginkan nyawa kamu. Dan kamu tau Ra, aku sekarang takut jika melukai seorang perempuan karena saat aku melakukan hal itu, aku selalu teringat kamu," gumam Digo sembari memegang sebuah benda yang menggantung di lehernya. Benda yang sangat berarti baginya. Dan benda yang selalu membuat dia merasa dekat dengan seseorang.


"Ra, aku rindu," sambung Digo dengan setetes air mata yang keluar dari ujung matanya. Selalu saja dirinya lemah jika selalu mengingat seseorang yang sama sekali tidak pernah hilang dari otak maupun hatinya.


Digo kini membiarkan otaknya terus memutar semua kenangan yang tak mungkin bisa terjadi lagi, hingga sesekali sudut bibirnya tersenyum ketikan ingatannya selalu mengarah ke sebuah kebahagiaan yang membuat gadis kecilnya dulu tertawa menampilkan dua buah lesung pipi. Sangat manis dan cantik dimata seorang Alsheyres Devra Rodriguez. Dan sayangnya tawa serta rupa dari gadis kecilnya itu sudah tak bisa ia lihat lagi dan itu benar-benar sangat menyiksa hatinya saat ia mengingat kenyataan itu.


Digo terus memejamkan mata dengan tangan yang masih menggenggam benda yang berada di lehernya itu sebelum sebuah ketukan pintu di kamarnya terdengar hingga membuat dirinya kini membuka matanya lalu mendudukkan tubuhnya sebelum mengizinkan seseorang yang berada di balik pintu kamarnya itu untuk masuk.


Dan setelah pintu kamar itu terbuka, Digo langsung bisa melihat siapa orang yang mengetuk pintu itu yang ternyata adalah Henry.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Henry sembari melangkahkan kakinya masuk lebih dalam lagi ke kamar bos sekaligus temannya itu setelah pintu kamar tersebut kembali tertutup.


Digo menghela nafas sebelum ia menggelengkan kepalanya.


"Yakin?" tanya Henry memastikan sembari duduk di salah satu sofa di dalam kamar tersebut. Dan lagi-lagi pertanyaan itu hanya mendapat jawaban dengan gerakan mengangguk saja. Dan hal tersebut membuat Henry menghela nafas.


"Apa ingatan itu kembali lagi?" Kali ini pertanyaan dari Henry membuat Digo terdiam. Selain dirinya, memang Henry tau akan penyakit traumanya itu yang selalu menyiksa dirinya.


Henry yang melihat keterdiaman dari Digo pun ia sudah bisa menyimpulkan jika tebakannya itu memang benar adanya.


"Saya temani ke psikolog biar semua trauma kamu itu hilang," ajak Henry yang tak tega dengan sahabatnya itu.


"Percuma ke psikolog karena ingatan itu tidak akan pernah hilang," sambungnya. Henry yang mendengar hal tersebut menghela nafas berat, ia tau Digo juga sudah mencoba beberapa kali ke psikolog bahkan sudah berbagai terapi ia lakukan hingga mengeluarkan banyak biaya namun bukannya ingatannya dan juga traumanya itu menghilang, justru semakin kuat dan melekat di otaknya.


"Di coba lagi. Siapa tau kali ini berhasil," ujar Henry tak mau menyerah untuk membujuk sahabatnya itu.


"Tidak akan pernah bisa berhasil. Dan mungkin ingatan juga trauma saya akan hilang saat saya hilang ingatan atau mati," ucap Digo yang membuat Henry terkesiap.


"Kamu tau Ry? Saya sebenarnya sudah capek dengan semua ini. Saya ingin sekali menghapus semuanya tentang dia. Saya benar-benar sudah ikhlas melepas dia, Ry. Tapi kenapa dia selalu menghantui saya dengan bayang-bayang itu yang justru menyiksa saya terus-menerus. Saya tau mungkin niat dia untuk tetap berada di otak saya karena dia mau saya tidak melukai seorang perempuan. Saya tau akan hal itu tapi yakinlah ini sangat menyiksa," ujar Digo diakhiri dengan mengusap wajahnya.

__ADS_1


Henry yang melihat raut wajah frustasi dari Digo pun ia segera mendekati sahabatnya itu. Ia ingin sekali membantu Digo melawan masa lalunya sendiri tapi ia juga tidak tau dirinya harus membantu sang sahabat dengan cara seperti apa? Dirinya saja bukan seorang psikolog yang mampu menyembuhkan seseorang yang tengah dilanda trauma mendalam seperti Digo ini. Toh psikolog juga tidak mampu menghilangkan trauma itu. Dan satu hal yang hanya bisa ia lakukan untuk sang sahabat yaitu dengan memberikan dukungan dan semangat untuknya.


Henry yang sudah berada di samping Digo, ia kini menepuk-nepuk punggung laki-laki itu.


"Saya tau hal itu sangat berat untuk kamu. Tapi saya yakin semua itu perlahan akan hilang dengan sendirinya," ujar Henry.


"Apa kamu tau cara menghilangkan semua ini?" tanya Digo dengan menolehkan kepalanya kearah Henry yang tampak tengah berpikir sebelum dirinya melebarkan matanya dan kembali bersuara.


"Saya tau. Untuk menghilangkan trauma dan bayang-bayang tentang dia, kamu hanya perlu mencari penggantinya saja. Selama ini kamu belum mencoba cara ini kan? siapa tau cara ini akan membuat semua itu hilang dari otak kamu," ujar Henry memberikan ide.


Digo yang mendengar ide konyol dari temannya itu pun hanya bisa memutar bola matanya malas. Ia salah memang meminta solusi kepada sahabatnya itu.


"Jangan ngaco kamu," ujar Digo dengan mengalihkan pandangannya kembali lurus kedepan.


"Ck, siapa juga yang ngaco Al. Lagian selama ini kamu juga belum mencoba trik dan tips dari saya tadi. Kamu juga setelah kepergian dia, aku sama sekali tidak pernah melihat kamu dekat dengan seorang perempuan. Jadi apa salahnya untuk mencoba dulu. Kalau kamu sulit cari perempuan, saya akan bantu carikan untuk kamu," ujar Henry antusias. Tapi ucapannya itu justru mendapat decakan sebal dari Digo.


"Ck, ide kamu itu benar-benar gak mutu banget. Sudahlah lupakan saja," ucap Digo. Dan saat Henry ingin menimpali ucapannya, Digo lebih dulu angkat suara kembali.


"Jangan bicara yang membuat kepala saya semakin pusing Henry. Dan lebih baik kamu kasih tau saya tentang kondisi perempuan itu," ujar Digo yang membuat Henry mencebikkan bibirnya sebal.

__ADS_1


__ADS_2